Senin, 16 April 2012

Daisuki ~ I Love You~ [Part IV]


Title    : Daisuki ~I Love You~

Author   : dita-cHun

Type     : Multichapter

Part     : 4 of 7

Genre    : Romance

Rating   : PG+12

Music    : Hikari by Elisa

Cast     :

#Shida Mirai

#Yamada Ryosuke

#Ohgo Suzuka

#Chinen Yuuri

POV      : Yamada Ryosuke

Disclaimer    : all cast milik Tuhan! Suer! xD

Warning  : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya





“Gomen kudasai…! (permisi)”

Kudengar suara teriakan dari luar pagar rumah. Aku segera menghentikan aktivitasku dan bergegas keluar. Seorang gadis tampak masuk begitu saja lewat pintu pagar yang tidak ditutup oleh Chinen.

“Mirai-chan?”

“Gomen kudas…” ia menghentikan kalimatnya begitu bertemu pandang denganku.

“Ehh?? Sedang apa kau disini?” tanyanya.

“Ini rumahku,” jawabku singkat.

“Eh? Bukankah ini rumah Chinen Yuuri?”

“Hm. Masuklah dulu,” aku mempersilahkannya masuk. Segera kubuatkan segelas minuman dingin untuknya.

“Arigatou (terima kasih)”

“Kenapa kalian bisa tinggal di rumah yang sama?” ia menyeruput sedikit minumannya.

“Tiga tahun lalu Okaa-san ku dan Otoo-san Chinen menikah. Kami jadi saudara sekarang,” jawabku. Ia mengangguk tanda mengerti.

“Lalu, dimana Chii-kun?” tanyanya sambil matanya berkeliling ke sekitar mencari keberadaan Chinen.

“Dia sedang keluar.”

“Ah, begitu. Kalau begitu tolong kau berikan ini padanya,” ia menyerahkan sebuah kotak berwarna hijau padaku.

“Apa ini?” aku menimang-nimang kotak itu sejenak.

“Itu kue kiwi kesukaan Chii-kun. Dulu dia bilang sangat ingin makan kue kiwi buatanku, makanya aku membuatkan untuknya.”

“Untuk Chinen?” tanyaku mengulang.

“Hm,” ia mengangguk pasti. Ia meminum kembali sebagian dari minuman di hadapannya.

“Kalau begitu aku pulang dulu. Terima kasih minumannya,” ucapnya sembari berdiri dari sofa.

“Mirai-chan,” panggilku, Ia berbalik menghadapku. Melihat wajahnya itu, aku ingin sekali bisa memeluknya seperti dulu. Tapi, segera kuurungkan niatku begitu sadar akan kenyataan.

“Mari berteman dengan damai,” aku mengulurkan tangan padanya.

“Eh?”

“Kalau semua memori itu sudah terhapus, maka aku ingin mengenal Shida Mirai yang baru. Mari mula berteman dari nol,” ucapku. Ia menjabat tanganku.

“Yamada-kun… Kalau begitu jangan pernah menggangguku lagi…” ucapnya pelan.

“Tidak bisakah kau memanggilku ‘Ryo-chan’?” tanyaku. Ia melepaskan jabatannya dari tanganku.

“Kau yang bilang sendiri akan mulai dari nol. Gomen (maaf), aku tidak mungkin memanggilmu seakrab itu sedangkan kita baru saja berkenalan. Gomennasai… (maaf)” ia segera memberi salam lalu pergi begitu saja. Aku mengalihkan pandanganku pada kotak itu.

“Dia bilang ‘kue kiwi untuk Chii-kun’… Haaah~ kapan kau akan bilang ‘ini kue strawberry untuk Ryo-chan’…?” gumamku sembarangan sambil membawa kotak itu ke dapur.

******

Pagi-pagi sekali aku bangun, tapi tak kulihat sama sekali Chinen sampai aku hendak pergi ke sekolah. Pasti dia sudah berangkat ke sekolah lebih awal hari ini.

“Ohaeyou~ (pagi)” sapaku pada Suzuka yang sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Ia tersenyum.

“Kau melihat Chinen?” tanyaku. Ia menggeleng.

“Doushite? (kenapa?)” tanyanya. Mustahil!

“Matteru… (tunggu sebentar)” ucapku padanya. Aku segera berlari.

“Ryo-chan, nani?! (ada apa)” tanya Suzuka.

“Gomennasai (maaf), aku akan segera kembali!” teriakku dari kejauhan.

“Pasti ada di sekitar sini…” aku mengitarkan pandanganku. Aku melihat Chinen bersandar di pagar pembatas sungai. Matanya tampak sayu menatap dalam-dalam sungai yang airnya tak berhenti mengalir.

“Chinen…” aku menghampirinya. Ia menoleh.

“Kenapa tidak pergi ke sekolah?” tanyaku.

“Bukan urusanmu,” jawabnya ketus lalu mengalihkan pandangan.

“Aku sudah bilang pada Okaa-san.”

“Eh?” ia kembali menoleh padaku.

“Mungkin dia akan datang ke sekolah. Dia bilang ‘Chinen juga anak Otoo-san. Mana mungkin menyakitinya?’ Saat aku bilang kau terlibat perkelahian, Okaa-san tampak begitu cemas. Meski tidak bilang, aku tahu,” jelasku.

“Kamawanai~ (aku tidak peduli) Jadi, katakan padanya tidak usah mempedulikanku juga,” ucapnya tajam.

“Tidak peduli seberapa banyak kau membuang tiap kasih sayangnya. Okaa-san akan terus memberikannya sebanyak ia mampu,” ucapku menegaskan.

“Chii-kun!”

Kami berdua sontak menoleh ke asal suara tersebut.

“Mirai-chan? Nani? (ada apa?)” tanya Chinen.

“Aku tidak melihatmu di kelas. Makanya… Makanya, aku mencarimu….” Mirai tampak terengah-engah, sepertinya dia baru saja berlari.

“Bagaimana kau tahu aku…” Chinen tak melanjutkan kalimatnya.

“Kau bilang sejak kecil suka main di sekitar jembatan ini… Kau bilang kau suka jembatan di Osaka ini… Apa kau tidak tahu aku begitu mencemaskanmu?!” Mirai segera berlari ke arah Chinen dan memeluknya erat-erat. Aku hanya bisa terpaku melihat pemandangan di hadapanku. Aku yang sekarang hanya bisa terpaku melihat Mirai memeluk pria lain… Tanganku rasanya nyeri, ingin sekali menghajar Chinen dan memisahkan mereka berdua. Tapi, itu tidak mungkin. Aku segera menenangkan batinku.

“Mungkin, Mirai-chan yang bisa membawamu ke sekolah…” ucapku sejenak lalu melangkahkan kaki ke sekolah.

“Suzu-chan?” aku terkejut melihat Suzuka yang masih berdiri di depan gerbang. Di tempat yang sama. Aku segera menghampirinya.

“Kenapa kau masih disini?” tanyaku.

“Matteru… (tunggu sebentar)” ucapnya tak jelas.

“Eh?”

“Kau bilang ‘tunggu sebentar’, makanya aku menunggumu… Daijobou desu ka, Ryo-chan? (kau baik-baik saja, Ryo-chan?)” tanyanya.

“Daijobou…” aku tersenyum.

“Arigatou. Gomen, membuatmu menunggu,” ucapku lalu mengajaknya ke kelas.

******

“Ryo-chan, kita akan naik ferris wheel besok, kan?” tanya Suzuka dari seberang telepon.

“Hai’ (ya)” jawabku singkat.

“Besok aku akan datang tepat waktu, kau juga jangan terlambat ya…” ucapnya begitu semangat.

“Hm, jaa (bye)” ucapku.

“Matta ne (sampai jumpa)” ucapnya lalu menutup telepon.

Usai pembicaraan kami berakhir, aku memutuskan untuk keluar mencari udara segar.

“Ahh~akhirnya masalah Chinen dengan sekolah berakhir…” aku menyandarkan tubuhku di salah satu bangku taman.

“Chii-kun, apa aku mengganggumu?” aku mendengar sebuah suara tak asing di belakangku. Aku menengok dan memutuskan untuk melihat sedikit pembicaraan mereka. Aku berdiri di belakang pohon dekat tempat mereka berdua bicara. Mirai dan Chinen.

“Eh, Mirai-chan? Nani? (ada apa?)” kudengar suara Chinen berbicara.

“Aku…”






.TO BE CONTINUED+++++++>>>>>


.COMMENT PLEASE!! ^o^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar