Title
: Zhu Ni Sheng Ri Kuai Le, Chun! #gatau mau kasih judul apa—Special for Wu
Chun’s Birthday#
Author
: Dita d’Chapbi ‘cHun’ Meii a.k.a ditachun
Type
: Oneshot
Genre
: Angst
Rating
: PG+12
Music
: Goodbye Days by YUI
POV
: Author
Main
Cast :
#Wu Chun
#Li Zhao Xiu (OC)
Sesosok pria
tegap melangkahkan kakinya perlahan namun pasti. Menjejakkan kaki untuk
kesekian kalinya di tanah yang sama. Tanah yang sama sekitar empat belas
tahun silam. Lama kakinya terus melangkah, menaiki undakan—tanjakan. Undakan
menyerupai ribuan anak tangga itu seolah tak habis dijejaknya. Betapa tiap
sekon terasa begitu berarti baginya, tiap sekon sejak empat belas tahun yang
lalu. Sembari menggendong sebucket bunga matahari, ia terus menaiki undakan
itu.
“Xiu…” gumamnya
pelan namun mantap. “Aku datang,” lanjutnya begitu ia melihat sebuah rumah
minimalis di puncak undakan itu.
Pria itu
tersenyum sekilas melihat sebuah ayunan kecil di sisi rumah itu. Ia lekas
berjalan ke arah sana dan membenarkan posisinya agar ia duduk dengan nyaman di
atas bangku ayunan kayu itu.
.
Krieet… Krieet…
.
Betapa, meski
orang tuli sekalipun mampu mendengar—merasakan—suara kayu dan besi yang sudah
mulai lapuk itu. Miris. Ya, dulu suara itu tak sekeras ini ketika ia dan Xiu
duduk bersama. Suara itu dulu begitu merdu. Ya… Dulu…
Pria yang
notabene adalah Wu Chun—yang pernah tumbuh di antara ratusan penyandang cacat.
Dulu pernah… Ketika warna siang dan malam adalah hitam. Ketika matahari belum
mampu dibayangkannya. Ia pernah mendengar bahwa warna matahari itu kuning
keemasan, menyilaukan, dan indah. Tapi, tak satupun makna yang dimengertinya.
Karena baginya, matahari tidak adil. Ia hanya bisa menunjukkan dirinya pada
orang yang bisa melihat siang dan malam, pada orang yang matanya masih
berfungsi dengan baik. Tapi, itu hanyalah hipotesisnya di masa lalu.
“Kalau kau tidak
bisa melihat matahari dengan matamu, mari lihat matahari dengan hatimu, rasakan
kehangatannya di kulitmu. Bukankah sudah cukup adil?” Chun pernah mendengar
untaian kalimat itu—ia tak pernah melupakannya, meskipun sedikit.
Ia masih ingat
sekali kejadian empat belas tahun silam, meski ia tak melihatnya. Pagi itu
terasa sama seperti pagi-pagi sebelumnya, Chun pergi ke sekolah dengan sebuah
tongkat yang menuntun jalannya. Pria berusia enam belas tahun itu sudah hafal
benar jalan menuju sekolahnya. Dari rumah, hanya perlu waktu kurang lebih lima
belas menit tempuh dengan jalan kaki menuju tempat belajarnya. Tempat dimana
tak sedikit ia menjumpai teman-teman yang bernasib sama dengannya—buta.
“Ren shi ni hen
gao xing, wo jiao Li Zhao Xiu (Senang bertemu dengan kalian, namaku Li Zhao Xiu).
Aku adalah guru baru yang akan mengajar kalian semua. Mohon bantuannya,”
seorang gadis berusia dua puluh tahunan itu menyapa murid-muridnya. Meski ia
tahu bahwa, seluruh kelas itu tak mungkin melihat kecantikan parasnya, ia tetap
mengukir segaris senyum di wajahnya.
Chun masih
mengingat suara lembut yang pernah menyusup ke telinganya itu. Ia masih ingat
nada kebahagiaan yang pernah dilontarkan guru barunya itu. Ingat sekali.
“Li Laoshi (Guru
Li), usiamu masih sangat muda ya?” tanya Chun. Kala itu mereka berdua sedang
duduk di kelas yang sudah sepi. Mayoritas murid-murid sudah bergegas pulang ke
rumah mereka masing-masing. Hanya ada Chun dan Xiu.
Xiu tersenyum
sekilas sebelum mulai menjawab, “Bagaimana kau tahu?”
“Suaramu masih sangat
lembut, seperti suara anak-anak,” jawab Chun singkat. Xiu tertawa mendengarnya.
“Kenapa kau
tertawa? Orang sepertiku hanya bisa mengenali orang lain dari suara,” protes
Chun. Xiu menghentikan tawanya, “Dui bu qi, aku tidak menertawakanmu, kok.”
“Berapa usiamu?”
tanya Chun.
“Aku dua puluh,”
jawab Xiu. Chun mengangguk mengerti.
.
Pertanyaan yang tidak mungkin, mungkinkah
mampu terjawab?
.
“Li Laoshi…”
“Hm? Kau boleh
memanggilku Xiu di luar jam sekolah,” ucap Xiu sambil membereskan
barang-barangnya—bersiap pulang.
“Mungkinkah aku
melukis? Aku ingin melukis dunia. Bukankah kau pernah bercerita bahwa dunia itu
indah?”
Xiu tertegun
mendengarnya. Ia tak tahu apa yang harus dikatakannya pada murid di hadapannya
itu. Orang buta… Mungkinkah baginya untuk melukis? Kalaupun itu mungkin, tentu
sangat kecil kemungkinannya. Melukis adalah kegiatan dengan mata… Akankah?
Akankah siswanya yang belum pernah sama sekali melihat warna dan dunia itu
mampu melakukannya? Ia sangsi. Kalaupun seandainya dulu Chun pernah melihat
dunia meski sejenak, mungkin ia bisa melakukannya. Tapi, Chun tidak mungkin. Ia
sudah buta sejak lahir—kecuali matanya berfungsi kembali.
“Xiu… Apa aku
bisa? Kenapa kau diam saja? Aku ingin menjadi pelukis… Suatu saat…” ucap Chun
dengan senyum mengembang di wajahnya.
Betapa Xiu tidak
ingin menghancurkan harapan siswa di hadapannya itu. Cita-cita yang begitu
rumit untuk terlaksana. Xiu meringsek dari tempatnya, ia menepuk pundak Chun. Akankah
ia bicara tentang kenyataan?
“Kurasa…
Kemungkinan itu ada. Tapi, sangat kecil…” Xiu meneteskan air matanya. Ia
benar-benar tak tega.
“Ehh? Zhen de
ma? (Sungguh, kah?) Kalau begitu, kau harus membantuku!” seru Chun semangat.
“Eh?”
“Hm! Bukankah
aku buta sejak lahir? Tentu aku harus tahu lebih banyak tentang dunia! Bukankah
dunia itu adalah warna-warni? Bukan hitam seperti yang kulihat…” ucap Chun.
“Kau harus memberitahuku, Xiu. Pertama-tama, bagaimana dengan matahari?”
“Matahari?”
“Shi a! (ya) Kau
pernah bilang bahwa matahari itu indah, bukan? Lalu bagaimana matahari itu?
Bentuknya? Warnanya?”
“Matahari itu
lingkaran—kurasa—dengan warna kuning keemasan yang menyilaukan,” ucap Xiu
menerangkan.
“Xiu… Aku tidak
mengerti… Aku tidak pernah melihat warna kuning keemasan atau merasakan silau.
Bisakah kau menjelaskan dengan sesuatu yang aku mengerti?” tanya Chun.
Xiu berjalan ke
arah laci dekat tempat mereka berdiri. Ia mengambil sebuah cat minyak dari
dalam sana.
“Apa kau merasa
mereka berbeda?” tanya Xiu sambil menggenggamkan beberapa warna cat ke tangan
Chun. Chun mencoba mencerna perbedaan di antara semua cat.
“Aku tidak
tahu…”
Xiu menangis. Ia
miris mendengar ucapan muridnya itu. “Kalau begitu kau cium aromanya? Mungkin
berbeda?” ucap Xiu mencoba cara lain. Ia bingung, bagaimana jika tidak berhasil
lagi?
Chun mengikuti
apa yang dikatakan Xiu. Ia merasa memang ada beberapa aroma khas yang cukup
kental dari tiap-tiap warna cat itu. “Aku tahu,” Chun tersenyum.
“Lalu? Mana
warna matahari?” tanya Chun lagi. Xiu menyerahkan cat berwarna kuning dan
orange. “Campur kedua warna itu, kau akan mendapatkannya,” ucap Xiu.
“Ahh~ jadi
begitu…” Chun mengangguk kecil.
“Lalu bagaimana
dengan warna hujan?” tanya Chun.
“Hujan? Kurasa…
Kau perlu warna ini untuk membuatnya,” Xiu menyerahkan dua warna lagi ke arah
Chun. “Ah… Begitu. Kalau begitu aku pulang dulu ya, Xiu! Kalau lukisanku sudah
jadi, aku akan menunjukkannya padamu! Wo da ying ni! (aku janji padamu) Bai
bai! (bye)”
.
Lalu serpihan penyesalan dan kebahagiaan itu
masihkah ada disana?
.
“Xiu, makin
sering aku melukis dan mendengar ceritamu… Aku jadi ingin benar-benar melihat
dunia,” ucap Chun. Suatu kali mereka duduk di ayunan di sisi rumah Xiu.
“Melihat dunia?”
tanya Xiu.
“Hm! Meski aku
tahu itu tidak mungkin… Kecuali Tuhan mengabulkan do’aku dan membuatku bisa
melihat,” ucap Chun tetap mempertahankan senyumnya.
“Semoga, ya…”
ucap Xiu lalu tersenyum.
Setelah hari
itu, Chun tidak pernah bertemu Xiu kembali. Chun hanya tahu satu hal ketika
matanya sudah berfungsi—beberapa hari setelah perban bekas operasinya dibuka.
Ketika warna-warni sudah mampu dilihatnya. Ia tahu satu hal…
“祝 你生日快乐,尊!对不起 我不能陪你看世界. 请让我的眼睛. 因为我在那里…
李兆秀…(Zhu ni
sheng ri kuai le, Chun! Dui bu qi wo bu neng pei ni kan shi jie. Qing rang wo
de yan jing. Yin wei wo zai na li—Selamat ulang tahun, Chun! Maaf aku tidak
bisa menemanimu melihat dunia. Tolong jaga mataku. Karena aku ada disana… Li
Zhao Xiu…)”
Xiu pergi
meninggalkan sebuah surat ucapan selamat ulang tahun. Dan mata yang
mengajarinya melihat warna dunia itu, adalah milik Xiu—guru yang sudah
dianggapnya seperti kakak baginya. Dalam hati ia tak henti-hentinya mengucapkan
ribuan terima kasih. Sekelumit penyesalan atas permohonannya itu muncul ketika
ia mendengar bahwa Xiu meninggal kemudian dalam kecelakaan.
“Xiu, wo da ying
ni (aku janji padamu). Aku akan menjaga mata ini… Meski aku belum pernah sama
sekali melihatmu, aku akan selalu mengenangmu, Xiu… Zhen de xie xie ni, Xiu…
(sungguh terima kasih, Xiu)” Chun meletakkan bucket bunga matahari itu di atas
sebuah makam. Itu makam Xiu…
___the end___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar