Jumat, 02 Agustus 2013

Nggak Diajak



Title         : Nggak Diajak [Spesial Wali Kelas—pake telur]

Author     : Dita Chun © 2013

Type        : Apa, ya? Oneshoot aja, deh!

Genre      : Kehidupan sehari-hari, kalo ngakak berarti ada komedinya

Rating     : BB [Bisa Baca], yang buta huruf dilarang baca Xd

Language  : Indonesia aja. Ntar kalo pake Bahasa Ibrani, situ bingung bacanya. Bingung, kan? Author yang ketik aja juga bakalan bingung!

Main Cast :

*Pak Junaedi

*Member XI-IPS 1 yang nista *coret dua kata terakhir*

*Author

POV         : Author, kalo ga percaya baca aja!

Disclaimer         : Semua karakter yang ada dalam cerita ini adalah produksi Allah SWT, jadi all of main characters here are belong to Allah SWT. I’m own nothing but the plot. *artinya cari di gugel translate <- -="" dihajar="" minta="" span="">

Warning  : Bagi yang mudah mual menyaksikan adegan brutal dan berdarah-darah. Silahkan tetap bertahan disini. Baca cerita ini dengan waspada, jika tidak anda bisa mati keracunan *coret* ketawa. Jika terjadi efek samping yang lebih parah, silahkan lapor author sarap setempat.

Note        : Diangkat dari kisah nyata—yang dicampur adukkan dengan karangan author. Lebih dari ¾ cerita adalah bohong. Sedang ¼ nya lagi patut untuk dipertimbangkan keaslian pada TKP, tapi mungkin masih ternoda fitnah-fitnah dari author nista ini. Namanya juga RPF (Real Person Fitnah) *Plak* Selamat membaca! Jangan pelit komen! *author-dilempar-ke-laut*







   Bel jam pelajaran ketiga baru saja berdering di sekolah menengah atas berlabel MAN Sidoarjo. Suaranya terdengar nyaring di seluruh penjuru telinga para siswa-siswi dan guru serta staf karyawan/karyawati di dalam sekolah tersebut.


   Hari ini hari Kamis. Hari yang tidak pernah dinanti-nantikan kehadirannya oleh siswa-siswi sejenis author. Bayangkan saja—jika kamu memang memiliki pemikiran seperti author—pagi-pagi sekali pelajaran dimulai dengan mata pelajaran yang cukup menguras otak dan mental, seperti Akuntansi misalnya. Ah, tolong digaris bawahi. Akuntansi!

   Yah, bagi sebagian orang yang memiliki otak penuh air *baca : otak encer* pelajaran sedemikian rupa bukanlah momok di pagi yang cerah seperti hari ini. Bagi mereka—bukan author tentunya—pagi yang cerah adalah ketika matahari bersinar di langit dengan sedikit awan. Ya, pada kenyataannya memang demikian. Tapi, bagi kami pemilik otak beku, hari yang cerah adalah hari ketika hujan turun cukup lebat dengan sedikit angin sepoi-sepoi yang bisa dijadikan alasan untuk bolos sekolah. Catat, bolos sekolah. Atau setidaknya, jika kurang beruntung, pastilah masih ada keberuntungan lain semisal menjadi alasan untuk berangkat sekolah lebih siang. Serta adanya jam kosong secara berlebih karena para guru kehujanan sehingga tidak masuk kelas (~^3^)~

   Ah, sudahlah. Sepertinya bahasan kita mulai menyeleweng. Lagipula tidak penting membicarakan otak encer atau otak beku. Kita kembali ke topik semula. Baiklah, karena bel pelajaran jam ketiga telah berbunyi, itu artinya pelajaran akuntansi sudah berakhir! Yay! \(^A^)/

   Tapi, tetap saja, Kamis adalah Kamis. Hari dimana segala pelajaran—yang bagi author—sulit, menumpuk. Jika digambarkan, kurang lebih seperti ini :

Masuknya pagi, jam setengah 7 à 2 jam pertama Akuntansi à 2 jam berikutnya Matematika à 2 jam berikutnya TIK à 2 jam berikutnya Bahasa Arab à Pulangnya siang, jam setengah 2

   Dan kali ini author akan membahas tentang Matematika. Ah, maaf tolong dicatat ulang. Bukan Matematika, tapi Guru Matematika. Tolong di bold, Guru Matematika. Ya, guru matematika yang kali ini tengah mengajar di kelas XI-IPS 1. Sebut saja beliau Pak Junaedi—nama asli. Baiklah, kita mulai pembahasan ini dari...

   “Perhatikan.”

   Baiklah, dari sini saja.

   “Untuk mengetahui di interval mana fungsi itu naik atau turun, kita harus menggunakan cara turunan...,” penjelasan Pak Junaedi berlangsung. Sesekali tangannya tampak bergerak, menuliskan ini-itu dengan spidol papan tulis. Seabrek rumus yang yah... begitulah—susah untuk dijelaskan—hampir memenuhi papan tulis yang belum pernah author ukur kelilingnya.

   Dengan ekspresi pura-pura mengerti, author terus memperhatikan guru sekaligus wali kelas XI-IPS 1 itu. Sesekali author mengangguk-angguk tanda (pura-pura) paham dengan materi yang dijelaskan. Kepala author tiba-tiba panas. Uap-uap halus sedikitnya mendominasi sekitar tempurung. Baiklah, anggap saja seperti itu. Tandanya, author sudah tidak betah di dalam kelas dan ingin refreshing sejenak dari apa yang sedang diterangkan. Ah, maksudnya melupakan sejenak apa yang sedang diterangkan Pak Junaedi.

   Jam pelajaran belum berganti. Pelajaran matematika terasa begitu lama berlalu. Yang saat ini terpikir di dalam otak author adalah bagaimana caranya agar guru-guru tiba-tiba rapat atau ada workshop dan sebagainya yang bisa membuat jam pelajaran berkurang dan bertambahnya jam kosong sehingga keadaan tidak menjadi begitu membosankan dan ternyata author lupa meletakkan titik dan koma untuk menghentikan kalimat ini yang mungkin kalian sendiri membacanya berhenti bernafas. *Plak* Satu tamparan untuk author.

   Baik-baik, kita lanjutkan ceritanya.

    Pip pip pip!

   Sesuatu berbunyi dari arah depan. Author yang mulai kehilangan konsentrasi, kini kembali berkonsentrasi. Sepertinya angin surga akan bertiup. Oh~! (*/\*)

   Ponsel Pak Junaedi berbunyi. Dengan sigap beliau mengangkat ponsel yang samar-samar author kira Nokia 3310 itu (?), “Hallo, ini telepon atau SMS, ya?”

   Mendengar hal itu, tampaknya emoticon sama dengan underskors sama dengan with cherry on the top paling cocok untuk menggambarkan ekspresi author saat itu. (=_=)’ Mana ada SMS diangkat?! Bitch, please...

   Rasa-rasanya ke absurd-an guru manapun tidak dapat menyaingi guru satu ini. *ditendang Pak Jun* Dia terlalu luar biasa *** ß maaf disensor, author tidak sanggup mengucapkannya. Meskipun sesungguhnya itu bukan kata-kata kotor atau jorok atau menjijikkan atau *Plak, apa-bedanya?* seperti apa yang ada di dalam pikiran kalian.

   Kembali ke topik sebelumnya. Pak Junaedi menerima telepon dari seseorang yang author pun tak tahu siapa itu. Entah istrinya, anaknya, keponakannya, atau seabrek terdakwa yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya jika author yang menyebutkan. Wajah Pak Jun agak murung setelah telepon berakhir. Author menyimpulkan bahwa beliau baru saja diputuskan oleh salah satu mantannya (?)—yang tentu saja pendapat ini 100% tidak benar.

   Suasana kembali hening setelah sejenak ruang kelas dipenuhi keributan  karena hal sepele yang entah apa. Yang pasti alasan paling tepat adalah jeda pelajaran saat Pak Junaedi mengangkat telepon.

   Pelajaran matematika berlanjut. Atmosfer kelas yang semula berwarna merah muda kembali menjadi abu-abu. Author hanya berharap sesuatu akan terjadi dan menghentikan pelajaran ini.

   Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sebenarnya tidak terlalu ada hubungannya antara peribahasa tersebut dengan kejadian berikutnya. Tapi, anggap saja berkaitan. Author melihat Pak Junaedi tiba-tiba menghentikan penjelasan. Wajahnya yang tirus menoleh ke arah luar kelas. Angin sepoi-sepoi berhembus, menyibak sebagian rambut guru usia 50-an ini. Ada yang berbeda. Konsentrasi Pak Jun yang hampir tidak pernah buyar saat pelajaran berlangsung kali ini benar-benar terenggut. Sejenak waktu bagaikan berhenti saat melihat Pak Junaedi berdiri mematung di samping papan tulis dengan spidol yang siap menyentuh papan tulis dan wajah Pak Junaedi yang menatap lurus keluar kelas.

   Ada apa, sih?

   Seluruh pasang mata tiba-tiba menoleh ke arah Pak Jun menatap. Ah, sepertinya sesuatu yang mengharukan sedang terjadi. Cerita yang seharusnya bergenre komedi ini tiba-tiba dipaksakan menjadi angst (cerita bergenre menyedihkan). Air mata Pak Jun mungkin akan bercucuran seandainya tidak ada kami di dalam ruang kelas ini sekarang. Bisa juga tidak, sih.

   Di halaman sekolah di luar kelas, sebuah elf bison sudah keluar dari tempatnya terparkir semula. Guru-guru berhamburan keluar dari ruang guru dan berbondong-bondong masuk ke dalam elf. Mereka tampak bahagia masuk ke dalam elf abu-abu tersebut.

   Author melihat ke arah luar dan Pak Jun bergantian. Ini seperti melodrama author yang batal rilis berjudul “Do You Wanna Invite Me?” yang menguras bak mandi *coret dua kata terakhir* air mata. Dengan inisiatif setan, author yang saat ini sedang menikmati drama babak satu di kelas XI-IPS 1 menyenggol lengan rekan sebangku author. Dengan aura merah muda bercampur hijau, ungu, biru, kuning, abu-abu, merah, dan hitam (?) author membisikkan sesuatu di telinga manusia di sampingnya itu.

   “Psst, lihat Pak Jun, deh. Kayaknya dia lagi galau banget gak diajakin guru-guru.”

   Manusia yang labelnya tidak perlu disebutkan itu pun ngakak dalam hati. Keadaan seperti itu benar-benar menggambarkan suasana yang sempurna dengan apa yang dikatakan author. Yah, mungkin saja kebetulan atas keisengan author, kan?

   Tapi, tunggu dulu! Ceritanya belum berakhir!

   Pip pip pip!

   Ponsel Pak Junaedi kembali berdering. Seseorang dari seberang tengah menelepon beliau. Begitu menatap layar LCD ponselnya, wajah Pak Jun tiba-tiba sumringah! Apa yang tengah dibicarakan dengan lawan bicaranya author pun tidak tahu menahu. Yang pasti, setelah pembicaraan berakhir, Pak Jun lekas mengakhiri pelajaran lebih awal dan segera menuju ruang guru sesegera mungkin.

   Author sih menyimpulkannya...

   “Diajakin, tuh! Seneng kan dia sekarang! Buahahahaha!”

   Teman-teman yang duduk di sekeliling author tertawa. Mungkin karena kebetulan itu terasa semakin nyata dengan terbuktinya hasil olah pikir author. Pelajaran matematika pun berakhir dan masih ada banyak waktu luang menanti sebelum jam istirahat tiba.

   Yosh! V(^^)V







Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar