Title :
Nggak Diajak [Spesial Wali Kelas—pake telur]
Author : Dita
Chun © 2013
Type : Apa,
ya? Oneshoot aja, deh!
Genre :
Kehidupan sehari-hari, kalo ngakak berarti ada komedinya
Rating : BB [Bisa
Baca], yang buta huruf dilarang baca Xd
Language : Indonesia
aja. Ntar kalo pake Bahasa Ibrani, situ bingung bacanya. Bingung, kan? Author
yang ketik aja juga bakalan bingung!
Main Cast :
*Pak Junaedi
*Member XI-IPS 1 yang nista *coret dua kata
terakhir*
*Author
POV :
Author, kalo ga percaya baca aja!
Disclaimer :
Semua karakter yang ada dalam cerita ini adalah produksi Allah SWT, jadi all of
main characters here are belong to Allah SWT. I’m own nothing but the plot.
*artinya cari di gugel translate <- -="" dihajar="" minta="" span="">->
Warning : Bagi
yang mudah mual menyaksikan adegan brutal dan berdarah-darah. Silahkan tetap
bertahan disini. Baca cerita ini dengan waspada, jika tidak anda bisa mati keracunan
*coret* ketawa. Jika terjadi efek samping yang lebih parah, silahkan lapor author
sarap setempat.
Note :
Diangkat dari kisah nyata—yang dicampur adukkan dengan karangan author. Lebih
dari ¾ cerita adalah bohong. Sedang ¼ nya lagi patut untuk dipertimbangkan
keaslian pada TKP, tapi mungkin masih ternoda fitnah-fitnah dari author
nista ini. Namanya juga RPF (Real Person Fitnah) *Plak* Selamat membaca!
Jangan pelit komen! *author-dilempar-ke-laut*
Bel jam pelajaran ketiga baru saja berdering
di sekolah menengah atas berlabel MAN Sidoarjo. Suaranya terdengar nyaring di
seluruh penjuru telinga para siswa-siswi dan guru serta staf karyawan/karyawati
di dalam sekolah tersebut.
Hari ini hari Kamis. Hari yang tidak pernah dinanti-nantikan kehadirannya oleh siswa-siswi sejenis author. Bayangkan saja—jika kamu memang memiliki pemikiran seperti author—pagi-pagi sekali pelajaran dimulai dengan mata pelajaran yang cukup menguras otak dan mental, seperti Akuntansi misalnya. Ah, tolong digaris bawahi. Akuntansi!
Yah, bagi sebagian orang yang memiliki otak
penuh air *baca : otak encer* pelajaran sedemikian rupa bukanlah momok di pagi
yang cerah seperti hari ini. Bagi mereka—bukan author tentunya—pagi yang cerah
adalah ketika matahari bersinar di langit dengan sedikit awan. Ya, pada
kenyataannya memang demikian. Tapi, bagi kami pemilik otak beku, hari yang
cerah adalah hari ketika hujan turun cukup lebat dengan sedikit angin
sepoi-sepoi yang bisa dijadikan alasan untuk bolos sekolah. Catat, bolos sekolah. Atau setidaknya, jika
kurang beruntung, pastilah masih ada keberuntungan lain semisal menjadi alasan untuk berangkat sekolah
lebih siang. Serta adanya jam kosong secara berlebih karena para guru
kehujanan sehingga tidak masuk kelas (~^3^)~
Ah, sudahlah. Sepertinya bahasan kita mulai
menyeleweng. Lagipula tidak penting membicarakan otak encer atau otak beku.
Kita kembali ke topik semula. Baiklah, karena bel pelajaran jam ketiga telah
berbunyi, itu artinya pelajaran akuntansi sudah berakhir! Yay! \(^A^)/
Tapi, tetap saja, Kamis adalah Kamis. Hari
dimana segala pelajaran—yang bagi author—sulit, menumpuk. Jika digambarkan, kurang lebih seperti ini :
Masuknya
pagi, jam setengah 7 à
2 jam pertama Akuntansi à
2 jam berikutnya Matematika à 2 jam berikutnya TIK à 2 jam berikutnya
Bahasa Arab à
Pulangnya siang, jam setengah 2
Dan kali ini author akan membahas tentang
Matematika. Ah, maaf tolong dicatat ulang. Bukan Matematika, tapi Guru
Matematika. Tolong di bold, Guru Matematika. Ya, guru matematika
yang kali ini tengah mengajar di kelas XI-IPS 1. Sebut saja beliau Pak
Junaedi—nama asli. Baiklah, kita mulai pembahasan ini dari...
“Perhatikan.”
Baiklah, dari sini saja.
“Untuk mengetahui di interval mana fungsi itu
naik atau turun, kita harus menggunakan cara turunan...,” penjelasan Pak
Junaedi berlangsung. Sesekali tangannya tampak bergerak, menuliskan ini-itu
dengan spidol papan tulis. Seabrek rumus yang yah... begitulah—susah untuk
dijelaskan—hampir memenuhi papan tulis yang belum pernah author ukur
kelilingnya.
Dengan ekspresi pura-pura mengerti, author
terus memperhatikan guru sekaligus wali kelas XI-IPS 1 itu. Sesekali author
mengangguk-angguk tanda (pura-pura) paham dengan materi yang dijelaskan. Kepala
author tiba-tiba panas. Uap-uap halus sedikitnya mendominasi sekitar tempurung.
Baiklah, anggap saja seperti itu. Tandanya, author sudah tidak betah di dalam
kelas dan ingin refreshing sejenak
dari apa yang sedang diterangkan. Ah, maksudnya melupakan sejenak apa yang
sedang diterangkan Pak Junaedi.
Jam pelajaran belum berganti. Pelajaran
matematika terasa begitu lama berlalu. Yang saat ini terpikir di dalam otak
author adalah bagaimana caranya agar guru-guru tiba-tiba rapat atau ada workshop dan sebagainya yang bisa
membuat jam pelajaran berkurang dan bertambahnya jam kosong sehingga keadaan
tidak menjadi begitu membosankan dan ternyata author lupa meletakkan titik dan
koma untuk menghentikan kalimat ini yang mungkin kalian sendiri membacanya
berhenti bernafas. *Plak* Satu tamparan untuk author.
Baik-baik, kita lanjutkan ceritanya.
Pip pip pip!
Sesuatu berbunyi dari arah depan. Author yang
mulai kehilangan konsentrasi, kini kembali berkonsentrasi. Sepertinya angin
surga akan bertiup. Oh~! (*/\*)
Ponsel Pak Junaedi berbunyi. Dengan sigap
beliau mengangkat ponsel yang samar-samar author kira Nokia 3310 itu (?),
“Hallo, ini telepon atau SMS, ya?”
Mendengar hal itu, tampaknya emoticon sama
dengan underskors sama dengan with cherry on the top paling cocok
untuk menggambarkan ekspresi author saat itu. (=_=)’ Mana ada SMS diangkat?!
Bitch, please...
Rasa-rasanya ke absurd-an guru manapun tidak dapat menyaingi guru satu ini.
*ditendang Pak Jun* Dia terlalu luar biasa *** ß maaf disensor,
author tidak sanggup mengucapkannya. Meskipun sesungguhnya itu bukan kata-kata
kotor atau jorok atau menjijikkan atau *Plak, apa-bedanya?* seperti apa yang
ada di dalam pikiran kalian.
Kembali ke topik sebelumnya. Pak Junaedi
menerima telepon dari seseorang yang author pun tak tahu siapa itu. Entah
istrinya, anaknya, keponakannya, atau seabrek terdakwa yang tidak dapat
dibuktikan kebenarannya jika author yang menyebutkan. Wajah Pak Jun agak murung
setelah telepon berakhir. Author menyimpulkan bahwa beliau baru saja diputuskan
oleh salah satu mantannya (?)—yang tentu saja pendapat ini 100% tidak benar.
Suasana kembali hening setelah sejenak ruang
kelas dipenuhi keributan karena hal sepele
yang entah apa. Yang pasti alasan paling tepat adalah jeda pelajaran saat Pak
Junaedi mengangkat telepon.
Pelajaran matematika berlanjut. Atmosfer
kelas yang semula berwarna merah muda kembali menjadi abu-abu. Author hanya
berharap sesuatu akan terjadi dan menghentikan pelajaran ini.
Pucuk
dicinta ulam pun tiba. Sebenarnya tidak terlalu ada hubungannya antara
peribahasa tersebut dengan kejadian berikutnya. Tapi, anggap saja berkaitan.
Author melihat Pak Junaedi tiba-tiba menghentikan penjelasan. Wajahnya yang
tirus menoleh ke arah luar kelas. Angin sepoi-sepoi berhembus, menyibak
sebagian rambut guru usia 50-an ini. Ada yang berbeda. Konsentrasi Pak Jun yang
hampir tidak pernah buyar saat pelajaran berlangsung kali ini benar-benar
terenggut. Sejenak waktu bagaikan berhenti saat melihat Pak Junaedi berdiri
mematung di samping papan tulis dengan spidol yang siap menyentuh papan tulis
dan wajah Pak Junaedi yang menatap lurus keluar kelas.
Ada apa, sih?
Seluruh pasang mata tiba-tiba menoleh ke arah
Pak Jun menatap. Ah, sepertinya sesuatu yang mengharukan sedang terjadi. Cerita
yang seharusnya bergenre komedi ini tiba-tiba dipaksakan menjadi angst (cerita bergenre menyedihkan). Air
mata Pak Jun mungkin akan bercucuran seandainya tidak ada kami di dalam ruang
kelas ini sekarang. Bisa juga tidak, sih.
Di halaman sekolah di luar kelas, sebuah elf bison sudah keluar dari tempatnya
terparkir semula. Guru-guru berhamburan keluar dari ruang guru dan
berbondong-bondong masuk ke dalam elf.
Mereka tampak bahagia masuk ke dalam elf abu-abu
tersebut.
Author melihat ke arah luar dan Pak Jun
bergantian. Ini seperti melodrama author yang batal rilis berjudul “Do You Wanna Invite Me?” yang menguras bak
mandi *coret dua kata terakhir* air mata. Dengan inisiatif setan, author
yang saat ini sedang menikmati drama babak satu di kelas XI-IPS 1 menyenggol
lengan rekan sebangku author. Dengan aura merah muda bercampur hijau, ungu,
biru, kuning, abu-abu, merah, dan hitam (?) author membisikkan sesuatu di
telinga manusia di sampingnya itu.
“Psst, lihat Pak Jun, deh. Kayaknya dia lagi
galau banget gak diajakin guru-guru.”
Manusia yang labelnya tidak perlu disebutkan
itu pun ngakak dalam hati. Keadaan seperti itu benar-benar menggambarkan suasana
yang sempurna dengan apa yang dikatakan author. Yah, mungkin saja kebetulan
atas keisengan author, kan?
Tapi, tunggu dulu! Ceritanya belum berakhir!
Pip
pip pip!
Ponsel Pak Junaedi kembali berdering.
Seseorang dari seberang tengah menelepon beliau. Begitu menatap layar LCD ponselnya,
wajah Pak Jun tiba-tiba sumringah! Apa yang tengah dibicarakan dengan lawan
bicaranya author pun tidak tahu menahu. Yang pasti, setelah pembicaraan
berakhir, Pak Jun lekas mengakhiri pelajaran lebih awal dan segera menuju ruang
guru sesegera mungkin.
Author sih menyimpulkannya...
“Diajakin, tuh! Seneng kan dia sekarang!
Buahahahaha!”
Teman-teman yang duduk di sekeliling author
tertawa. Mungkin karena kebetulan itu terasa semakin nyata dengan terbuktinya
hasil olah pikir author. Pelajaran matematika pun berakhir dan masih ada banyak
waktu luang menanti sebelum jam istirahat tiba.
Yosh! V(^^)V
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar