Jumat, 02 Agustus 2013

That Because I Love You



Title                  : That Because I Love You

Author              : dita-cHun

Length              : Oneshot

Rating              : G [General, All Age]

Genre               : AU, Romance, Friendship

Theme Song    : Lee Seung Gi – Will Give You All

Cast                  :

*Lee Taemin as Lee Taemin

*Suzy Miss A as Suzy

*Yamada Ryosuke as Yamada Ryosuke

Disclaimer    : Suzy belongs to JYP Entertainment, Yamada Ryosuke belongs to Johnny’s Entertainment, and Lee Taemin belongs to SM Entertainment. This story is from my own feeling ^^ Enjoy!



.    

    Cinta.

    Apa itu?

.

    Jingga senja baru saja lenyap ditelan kegelapan. Seingatku, baru-beberapa menit yang lalu matahari dan bulan bertengger bersamaan di puncak cakrawala. Namun, detik ini yang mampu kulihat tinggal bulan dan beberapa bintang di sekelilingnya. Kualihkan pandanganku pada jam yang masih melekat di pergelangan tangan kiriku. Jarum pendeknya sudah menunjuk ke arah angka enam.

    “Sudah malam, ya… Ck,” gumamku sambil mengacak sebagian rambutku.

    Aku lekas membereskan buku-buku dan beberapa alat tulis milikku yang masih berserakan di meja. Kumasukkan ke dalam tas dan bergegas meninggalkan ruang temaram itu. Aku harus segera sampai di rumah sebelum jam tujuh, karena jika aku pulang setelah itu, tentu ibuku akan sangan murka.

    “Eomma, tunggu anakmu, ne!” celetukku sembari mempercepat langkah kakiku menuju halte.

    Setelah kurang lebih sepuluh menit aku menunggu, bis yang akan mengantarku sampai ke halte berikutnya akhirnya tiba. Sesegera mungkin aku masuk ke dalam sana, mencari tempat yang pas untuk istirahat dua puluh sampai dua puluh lima menit ke depan. Kulihat sebuah bangku nomor empat dari depan masih tampak kosong. Aku bergegas duduk disana, sebelum orang lain mendapatkannya.

    “Aigo, hari ini capek!” gerutuku. Kuraih ponsel dark-blue milikku yang sejak tadi berada dalam sakuku. Aku lekas mengetik beberapa kalimat dan mengirimkan pesan itu pada sahabatku, Suzy.

    Lama, ia belum menjawab pesanku. Sudah sekitar dua puluh menit aku menunggu balasannya, tapi belum kujumpai sama sekali balasan pesan darinya. Tidak biasanya. Suzy selalu stand-by di dekat ponselnya setiap saat. Biasanya, paling lama ia menjawab pesanku adalah lima menit. Aneh…

**

.

    Cinta itu sesuatu yang sedikitnya harus pernah diungkapkan. . .

.

    “Annyeong!” sapaku pada Suzy yang baru saja melintas di hadapanku.

    “Kyaaa…!” pekiknya tiba-tiba. “Aish, kau mengagetkanku!” ia memukul keras lenganku.

    “Ya, jangan memukul, dong!” protesku. “Lagipula aku kan cuma menyapa.”

    Ia menghela nafas singkat, “Iya, iya… Mian… Kau sih tiba-tiba muncul! Kan aku kaget!”

    “Ah, sudahlah. Ayo ke kelas,” ajakku padanya. Ia hanya mengangguk sekilas sembari mengekor di belakangku.

    Ya, seperti yang sebelumnya kukatakan. Gadis di sampingku ini adalah Suzy, sahabatku sejak aku menginjak bangku sekolah menengah.  Dihitung-hitung, sejak hari perkenalan kami berarti aku sudah berteman dengannya kurang lebih lima tahun.

    Oh ya, sejak setahun lalu aku mulai menyukai Suzy. Hubungan kami sangat dekat layaknya sepasang kekasih. Teman-teman sekelasku pun mengatakan kalau kami berdua sangat cocok. Mendengar itu, tentu saja aku sangat senang. Tapi, sampai sekarang… Aku belum pernah sampai mengungkapkan perasaanku pada Suzy.

    Aku takut ditolak…

    “Ya, Taemin-ah! Kalau kau diam begitu suasana jadi tidak asyik, ah! Kau melamun sendiri,” ucapan Suzy barusan sukses mengejutkanku dari lamunan panjangku. Aku tertawa kecil mendengarnya dan lagi wajahnya itu tampak begitu imut saat ia tengah kesal seperti ini.

    “Ne, ne. Aku tidak tahu harus membuka topik apa. Kalau begitu kau ceritakan sesuatu padaku, hm?” ucapku padanya.

    “Aish, tidak asyik! Kau saja yang cerita! Terserah apa saja…! Fashion, talk show, serial, atau apapunlah…!” ucapnya dengan oktaf naik dan turun beriringan.

    “Hmm, ayo kita lihat. Bagaimana kalau aku cerita tentang dorama Jepang yang kutonton kemarin lusa?” tawarku. Ia mengangguk setuju.

**

.

    …Dengan spesifik, bukan hanya isyarat tak berarti.

.

    “Ya, Suzy-ah… Kau ke atap sekarang ya? Ada yang ingin kubicarakan,” ucapku berselang kemudian ku dengar suara Suzy dari seberang telepon berdehem mengiyakan. Setelah itu pembicaraan kami berakhir. Aku lekas menutup ponsel flip di genggamanku dan lekas menuju ke atap rumah. Kulihat dari atas Suzy tengah berjalan keluar rumahnya menuju rumahku.

    “Ne, dia datang… Dia datang, ya ampun! Apa yang sudah kulakukan?! Aish, babo!” aku menggerutu sambil menepuk kepalaku. Aku baru sadar kalau aku sempat merencanakan pernyataan cintaku pada Suzy malam ini. Sialan! Aku belum siap, hei!

    Cklek!

    “Aish, dia datang!” gumamku panik.

    “Ne, jadi, kau mau bilang apa?” ucap Suzy yang kini sudah berdiri di hadapanku.

    Lidahku kelu. Bagaimana ini? Keringat dingin sudah menjalar hingga ke leherku. Kurasakan tubuhku semakin panas. Apa aku baik-baik saja? Aish, kurasa tidak!

    “Ya, Taemin-ah… Kau mau bilang apa?” Suzy mendesakku.

    Sebenarnya, aku bisa saja mengatakan, ‘Ah, Suzy sebenarnya… Sudah lama aku menyukaimu. Maukah kau jadi kekasihku?’ Itu tak lebih dari tiga kalimat! Harusnya aku bisa mengucapkannya. Tapi, kali ini aku hanya bisa mematung, menatapnya dalam-dalam tanpa mampu mengucapkan satu huruf sekalipun itu hanya lantunan vokal, ‘A’.

    Suzy terus menerus mendesakku, tapi aku masih terdiam. Aku tidak bergeser satu inchi pun dari tempatku berada. Sama sekali tidak dan ini gila! Kenapa tubuhku tiba-tiba kaku?! Hei!

    ‘Mungkin, aku takut ditolak…’

    Hanya karena alasan bodoh itu tubuhku membeku. Nah, sekarang apa yang harus kukatakan?

    “Kalau kau tidak menjawab juga aku akan pulang saja!” ancam Suzy. Ia hendak angkat kaki dari rumahku andai saja aku tidak menggenggam lengannya.

    “Aku… su-suka…” aku kembali mengatur nafasku. Suaraku baru saja kembali bersama kepingan keberanian yang baru saja menghilang dari tubuhku.

    “Suka?”

    “…Anime,” pada akhirnya yang terucap dari bibirku hanyalah ucapan tidak penting. Tentu saja, karena Suzy sudah lama tahu bahwa aku adalah maniak anime. Pada akhirnya, aku masih belum mampu melontarkan ‘I Love You’ pada Suzy. Mungkin, sedikit waktu lagi. Mungkin, aku masih perlu waktu… untuk mengungkapkannya pada Suzy.

**

.

    Dan itu harus cepat…

    Tanpa keraguan sedikitpun.

.

    Sudah sekitar dua bulan lamanya aku dan Suzy pisah kelas. Sejak kami kelas tiga, kontak di antara kami mulai merenggang. Ia lebih fokus ke arah tugas-tugas sekolahnya dan kesibukan lain dibanding harus bermain berdua lagi bersamaku. Aku tahu ini tuntutan, tapi, kenapa begitu menyakitkan?

    “Ya, Suzy-ah… Sore ini kita main ke game center?” tanyaku ketika kami tengah bertelepon.

    “Mian, aku sibuk. Lain kali saja, ya…” ucap Suzy dari seberang.

    Ya, dia selalu sibuk dengan tugas-tugasnya. Itu yang kutahu. Mungkin, aku harus memberinya ruang lebih longgar agar ia tidak merasa aku terlalu menuntut padanya. Aku sadar, ia punya privasi dan juga cita-cita. Jadi, aku tidak akan memaksa, seandainya ia tidak mau.

    “Taemin-kun!” sebuah suara cukup familiar menelusup ke dalam indera pendengaranku. Aku menoleh ke sumber suara. Kulihat seorang pria berkaos putih dengan balutan jaket beraksen klasik tengah berdiri tak jauh dari tempatku. Aku kenal dia!

    “Ryosuke!” aku lekas berlari kecil ke arahnya. Pria ini bukan lain adalah sepupuku. Sudah cukup lama kami berpisah sejak Ryosuke pindah ke Jepang. “Hei, kau sudah lancar bahasa Korea?”

    “Annyeonghaseyo!” ucapnya berusaha melafalkan bahasa Korea. Meski terdengar agak kaku, setidaknya itu sudah lebih baik dibanding sepuluh tahun yang lalu. Selama di Korea ia sulit sekali beradaptasi karena bahasa Koreanya yang kacau. Aku masih ingat bahwa selama tujuh tahun ia sering menangis ke arahku karena tidak bisa bergaul dengan teman-temannya. Ia terus saja berbahasa Jepang karena memang ayahnya berasal dari negara itu.

    “Ohisashiburi ne!” ucapku padanya. Ia mengangguk mengiyakan. “Oh ya, dalam rangka apa kau tiba-tiba ke Korea?”

    “Emm… Apa ya? Tidak ada yang special, sih. Aku hanya rindu pada Korea… Just it.” Ucapnya sambil tertawa kecil.

**

.

    Jika tidak,

    Maka. . .

.

    Selama Ryosuke berada di rumah, aku jadi sedikit ada kegiatan lain yang membuatku lupa sedikit tentang cintaku. Toh, lagipula Suzy sedang sibuk. Jadi, ini cukup bagus bagiku. Apalagi kudengar Ryosuke masuk ke sekolah di tempat dimana aku juga bersekolah. Usia kami hanya terpaut satu tahun. Ia hanya satu tahun lebih muda dariku. Tapi, sebagai pria penampilannya lumayan mencolok juga di sekolah. Karena wajahnya bahkan lebih imut dari gadis manapun di sekolah ini.

    “Bagaimana? Kau sudah dapat teman baru?” tanyaku saat kami tengah makan di kantin.

    “Err… Tidak  secepat itulah. Tapi, mereka kejam sekali mengataiku ‘cantik’. Jangan-jangan hari selanjutnya akan ada acara pem-bully-an bagiku,” ucap Ryosuke kemudian melahap makan siangnya.

    “Tenang saja, sekolah ini aman, kok! Kalau ada yang macam-macam padamu, katakana saja padaku!” ucapku.

    “Jangan-jangan kau juga berpikir aku lemah seperti perempuan, ya?” tuding Ryosuke.

    “Maybe,” godaku memanas-manasinya. Ucapanku barusan itu sukses membuat Ryosuke meninju bahuku.

**

.

    Itu adalah kesempatan bagi yang lain…

    Yang kau ciptakan sendiri.

.

    “Ne, Ryosuke…” aku membuka pembicaraan di antara kami. “Kau kemana saja belakangan ini? Bahkan kemarin lusa kau malah tidak pulang.”

    Ryosuke meminum sedikit jusnya sebelum akhirnya menjawab, “Ada beberapa urusan belakangan ini. Gomen membuatmu khawatir…”

    “Souka… Baiklah, tapi kalau ada apa-apa kau harus beritahu aku, ok? Aku tidak ingin kau terlibat masalah apapun…” ucapku menepuk bahunya pelan. Ia mengangguk ringan.

**

    Ya, aku sudah mantap! Hari ini aku akan menyatakan cintaku pada Suzy! Aku sudah siap! Eh, tidak! Aku harus siap! Lagipula, Suzy sedang ada waktu luang, jadi aku harus memanfaatkan ini baik-baik. Aku tidak ingin menunda-nunda ini lagi! Ini sudah terlalu lama dan sesak di dadaku!

    “Suzy, I love you… Saranghae…” ucapku berlatih di depan cermin.

    Aku rapikan sedikit kemeja yang membalut tubuhku. Kusemprot sedikit perfume di sekitar tubuhku. Aku ingin tampil sempurna hari ini. Dan aku tidak peduli meskipun Suzy menolakku! Yang pasti, aku harus yakin! Fighting!

    Kulihat dari jauh Suzy sudah menungguku di taman. Jantungku berdetak tak beraturan. Aku benar-benar berdebar-debar. Apa ya jawaban Suzy?

    “Suzy-ah!” sapaku. “Sudah lama menunggu?”

    Aku mencoba berbasa-basi sedikit agar tidak terdengar to the point. Lagipula, ini sopan santun, kan? Setidaknya agar suasana tidak tiba-tiba kaku saat aku mengucapkan kalimat itu. Aku ingin masing-masing dari kami merasa relax.

    “Suzy-ah, sebenarnya… Sarang—” kalimatku terpotong.

    “Suzy-chan! Mian membuatmu menunggu. Tadi aku baru dari toko buku disana,” ucap seseorang yang sempat memotong kalimatku barusan. Aku menoleh. Itu… Ryosuke?

    “Ya, Ryosuke! Aku mau mengenalkanmu pada dia!” ucap Suzy menudingku.

    “Taemin-kun?”

    “Ah, kalian sudah saling kenal ya? Oh ya, Taemin, dia ini… kekasihku, Yamada Ryosuke…” ucap Suzy sembari menarik Ryosuke ke arahnya.

    “Ya, dia sepupuku…” ucapku pelan.

    “Ehh? Sungguh? Ryosuke, kau tidak pernah cerita kalau Taemin ini sepupumu!” ucap Suzy kesal pada Ryosuke.

    “Mianhae, bukan begitu. Hanya… itu perlu waktu. Tapi, ternyata kita bertiga sudah ada disini, kan?” ucap Ryosuke. Kuturunkan pandanganku, kulihat tangan mereka berpaut mesra. Bagaimana mungkin?

    “Sudah berapa lama kalian…?”

    “Dua bulan…” jawab Ryosuke.

    Astaga… Itu dua bulan dan aku sama sekali tidak tahu? Ini benar-benar…

    Penolakan yang menyakitkan.

    Bahkan sebelum aku sempat mengutarakan perasaanku, Suzy sudah menolakku dengan sikapnya barusan. Apalagi pria itu sepupuku sendiri. Ini benar-benar… menyakitkan.

    “Err, kalau begitu aku pergi dulu, ya? Ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan!”

**

.

    Tapi, kadang ada kalanya…

    Saat kau terlambat,

    Kau tahu bahwa…

.

    Hubungan Ryosuke dan Suzy tampak semakin dekat. Mereka terus saja bermesraan di sekelilingku. Meski berkali-kali aku mencoba membuang perasaanku pada Suzy, tapi tetap saja aku masih menyukainya. Dan perasaan ini benar-benar tidak baik untukku. Bahkan aku sempat berpikir, alangkah baiknya jika Ryosuke tidak pernah datang ke Korea. Sehingga Suzy tidak perlu bertemu dan menjadi kekasihnya. Tapi, itu benar-benar pikiran yang tidak berperasaan. Ya, seharusnya aku membiarkanya bahagia bersama Suzy… Harusnya aku bisa begitu…

    ‘Tapi kenapa terlampau menyakitkan?’

    BRAKH!

    “Taemin-ah...! Kumohon antarkan aku!” kulihat Suzy berlari ke arahku. Wajahnya tampak begitu panik. Perlahan tapi pasti airmatanya membasahi kedua pipinya. Ia tampak begitu kalut saat ini.

    “Apa yang terjadi?” tanyaku mencoba menenangkannya.

    “Hiks… Ryosuke… Hiks…” ia terus menangis sambil menyebut nama Ryosuke. Ada apa ini?!

**

    “Kami menemukan pria ini dalam keadaan kritis, tapi kami tidak sempat menyelamatkannya… Kami sudah berusaha, tapi ia tidak berhasil di selamatkan…” terang dokter yang baru saja menangani Ryosuke. Tampak jasad Ryosuke yang sudah terbalut kain putih di sekujur tubuhnya. Itu benar-benar Ryosuke…

    Harapanku benar-benar terkabul…

    Ya, Ryosuke sudah tiada. Ia tidak akan lagi bersama Suzy. Mungkin lebih baik bagiku, tapi tidak bagi Suzy. Ia terus menangis sepanjang hari sambil terus menyebut nama Ryosuke. Aku tidak tahu apa yang memukulnya terlalu dalam hingga ia menangisi sepupuku selama itu. Aku tidak mengerti, kenapa?

    “Suzy-ah, gwaenchanhayo?” tanyaku begitu tangisannya mereda.

    “Ryosuke… hiks…” ia kembali terisak. Dengan lembut kudekap tubuh mungilnya. Kuharap ini bisa membuatnya merasa lebih baik. Ia terus mengisak dalam pelukanku.

    “Tenanglah, Suzy-ah… Ada aku disini… Ryosuke pasti sudah pergi ke tempat yang indah…” ucapku.

.

    …Kau benar-benar mencintainya.

    Dan kau sadar bahwa…

    Cinta itu tidak mengharapkan jawaban…

.

    “Suzy-ah, mungkin ini waktu yang tidak tepat… Tapi, aku hanya ingin kau tahu… Kalau aku…” aku terdiam sejenak. “…Selalu mencintaimu.”

    “Eh?”

    “Ya, mungkin kau terkejut… Tapi, aku sangat-sangat mencintaimu. Sekalipun kau bersama Ryosuke, aku masih terus mencintaimu…”

    “Mianhae…” ucap Suzy. Aku merenggangkan pelukanku.

    “Aku hanya ingin tahu, apa kau pernah mencintaiku, Suzy-ah? Meskipun sedikit?” kutatap matanya dalam-dalam, mencoba merongrong pikirannya. Suzy diam sejenak, “Apa masih pantas aku menjawab cintamu?”

    “Jadi, kau pernah?”

    “Ya, sampai sebelum Ryosuke menyatakan cintanya padaku… Aku juga terus menyukaimu. Tapi, kupikir kau sama sekali tidak menyukaiku… Jadi, aku memilih bersama Ryosuke…” ucap Suzy. Aku tertegun mendengarnya.

    “Kalau saat ini, apa kau mau mencobanya denganku?” tanyaku.

    “Aku tidak bisa lagi…” ia menggeleng, airmatanya tumpah kembali. Suaranya sudah serak menangis seharian ini.

    “Wae?”

    “Aku hamil, anak Ryosuke…” tangisnya kembali pecah saat itu juga.

    “Eehh?”

    “Aku takut sekali, Taemin… Tanpa Ryosuke, aku bersama siapa membesarkan anak ini?” Suzy terduduk tepat di hadapanku. Jadi, itu yang membuatnya menangis lebih dalam… Dia hamil.

    “Menikahlah denganku!!” teriakku cepat.

    “Eh?”

    “Menikahlah denganku! Ayo, kita tanggung semuanya bersama, Suzy-ah…” ucapku lagi.

    “Tapi, kenapa?”

    “Itu… Karena aku mencintaimu… Aku terus menerus mencintaimu… Terserah itu anak Ryosuke atau anak siapapun. Yang pasti, aku mencintaimu, Suzy-ah. Jadi, menikahlah denganku…”

    “Gomawoh… hiks… Gomawoh…”

.

    Karena cinta itu memberi… Bukan meminta…

.




.the end.


Glosarium :

*Eomma    : Ibu
*Ne    : Ya (korea)/Hei (jepang)
*Aigo    : aduh
*Annyeong    : Hai/Hello
*Aish    : (semacam logat)
*Ya    : Hei (korea)
*Mian    : Maaf
*-ah    : (sebutan untuk orang yang sudah dekat)
*Dorama    : (drama Jepang)
*Babo    : bodoh!
*-kun    : (sebutan untuk pria yang sudah dikenal dekat)
*Annyeonghaseyo : Hello/Hai
*Ohisashiburi     : Sudah lama tidak bertemu, ya!
*Souka    : Oh, begitu…
*Saranghae    : Aku cinta kamu
*Mianhae    : Maaf
*Gwaenchanhayo?    : Baik-baik saja?/Tidak apa-apa?
*Wae?    : Kenapa?

1 komentar:

  1. yaampun baru nemu ff yg castnya yamachan sama suzy. kasian jg ayam disini :(
    aku pendukung mereka, mereka cocok.. sama2 gembul^^ kkk tp kasian si taem XD

    BalasHapus