Pagi ini hujan deras mengguyur kota Seoul. Bersamaan
dengan itu kulihat seseorang berlari kencang melewati koridor. Padahal ini, kan
koridor, harusnya tidak boleh berlari… Huh… Tiba-tiba sebuah suara yang tak
asing sedikit mengagetkanku. Terbukti dengan sedikit bergetarnya tubuhku karena
suara itu.
“Yu-Ri,
kenapa kau belum pulang?”, tanya suara tersebut. Seketika aku menoleh dan
membalikkan badanku untuk memastikannya. Benar. Dia Park Hyung-Min,
“Ah, kau
rupanya. Mengagetkanku saja. Emm. Kau sendiri masih ada di sini malah berani
tanya begitu. Hm?”, balasku dengan senyum simpul.
“Hahaha…
Kau selalu membalikkan pertanyaan orang. Eh, sudahlah. Emm. Bukankah hari ini
masih pertengahan musim panas, kenapa tiba-tiba hujan sederas ini ya?”, tanya Hyung-Min
lagi.
“Mana
kutahu. Oh ya, apa kabar Geum-Nim?”, tanyaku.
“Emm.
Baik. Oh ya, dia juga titip salam untukmu beberapa hari yang lalu, tapi maaf
aku benar-benar lupa. Hahaha…”, lagi-lagi ia tertawa. Karena di koridor,
tawanya sedikit menggema. Entah kenapa pikiranku sedikit risau dengan tawanya.
“Eh, kau
ada waktu tidak?”, tanyanya.
“Ada apa?
Mau mengajakku jalan-jalan? Hm?”, tanyaku langsung.
“Hm.
Kudengar dari teman sekelasku dekat sini ada kedai kopi yang baru buka.
Letaknya tidak jauh dari sini, mau kesana tidak?”, tawarnya.
“Baiklah.
Kali ini aku yang traktir ya?”, ucapku.
“Eh?
Benarkah? Kalau mahal bagaimana?”, tanyanya.
“Apakah
benar-benar mahal?”, tanyaku balik. Ia hanya tersenyum simpul. Kubuka payung
hijau yang sedang kugenggam. Kami pun pergi ke kedai kopi yang dimaksud
Hyung-Min.
Setelah
beberapa menit berjalan kaki, kami mendapati sebuah kedai kopi yang cukup besar.
Kami pun segera masuk ke dalamnya. Dan disana benar-benar ramai pengunjung.
Mungkin karena lokasinya yang cukup strategis.
“Aku akan
beli kopinya.”, ucapku.
“Hm.
Kutunggu disini. Eh, setelah ini kita naik Cable Car (kereta gantung) yang ada
di sini ya?”, ajaknya.
“Ada?”
“Hm.
Tempatnya mirip dengan yang ada di Namsan Seoul Tower ya?”, ucapnya.
“Hm.”, aku
mengangguk, lalu berlalu dari hadapannya.
“Terima
kasih.”, ucapnya selepas aku memberikan padanya kopi yang kubeli.
“Eh ya,
berapa harga disini?”, tanya Hyung-Min.
“Emm. 3000
won.”, jawabku.
“Ayo.”,
kami pun melihat-lihat pemandangan indah di bawah kami. Seoul tampak sangat
indah dari atas sini. Sayang sekali cuacanya sedikit buruk, jadi keindahan kota
Seoul sedikit tertutup oleh kabut. Tapi, tetap saja sangat indah…
Park
Hyung-Min yang ada di sampingku sekarang ini adalah murid pindahan dari
Myeongdong. 2 tahun lalu kami bertemu di awal musim semi. Ketika aku dihukum
karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah dan aku mengerjainya habis-habisan
bersama teman-temanku. Awalnya kami sekelas, tapi setelah kami memasuki kelas 3,
kelas pun diacak dan kami pun berpisah. Sesingkat itu pertemuan dan perpisahan
kami. Meski singkat, tapi dia benar-benar orang yang memberikan kesan yang
sangat mendalam. Seiring berjalannya waktu kami jarang sekali berbicara banyak,
hanya sesekali saling menyapa. Hari ini kami berbicara cukup banyak. Aku
senang. Itulah yang ada di pikiranku sekarang.
“Eh,
kenapa diam?”, tanya Hyung-Min tiba-tiba.
“Apa
itu?”, tanyanya antusias.
“Awal
musim semi 2 tahun yang lalu, saat pertama kali kita bertemu.”, jawabku ringan.
“Ah, iya.
Aku ingat. Kalian selalu mengerjaiku habis-habisan. Tapi, aku sangat gembira.
Sekarang… Sudah tidak lagi… Kan?”, tanyanya dengan nada agak aneh.
“Hm.”, aku
mengangguk.
“Eh, beberapa
hari yang lalu aku melihatmu… Emm, Menangis di UKS. Apa kau baik-baik saja?”,
tanyanya.
“Mungkin,
sudah baik-baik saja…”, jawabku.
“Apa ada
seseorang yang telah membuatmu bersedih?”, tanyanya. Aku terdiam. Pintu cable
car terbuka, aku pun keluar dari dalamnya.
“Ayo.”,
ajakku.
“Kemana?”,
tanyanya.
“Kita
makan Bulgogi? Dakgogi? Emm. Kimchi? Samkyeobsal? Mana yang paling kau suka?
Kau tidak suka semuanya ya…”, ucapku rendah.
“Aku ingin
makan Mul Narngmyeon. Apa kau lupa? Aku kan alergi makanan pedas…”, ucapnya.
“Maaf.
Sudah lama tidak berbicara banyak, aku jadi sedikit melupakannya.”, aku
tersenyum.
“Tidak
apa-apa. Apa kau sedang ingin makan makanan pedas?”, tanyanya.
“Hm! Siang
ini dingin sekali sih…”, jawabku.
“Kita
makan di restaurant di ujung jalan itu, bagaimana?”, tanyanya sembari menunjuk
tempat yang dimaksud.
“Baiklah.”
Maaf
ya Hyung-Min. Sudah agak lama kita tidak berbincang… Aku banyak melupakan
sesuatu. Padahal… Baru beberapa bulan jarang bertemu, tapi aku seolah
menganggapmu tidak pernah ada dalam kehidupanku. Hyung-Min… Maafkan aku…
Batinku sembari menuju restaurant itu.
“Bibi, apa
ada Bulgogi atau Mul Narngmyeon?”, tanyaku.
“Semua
yang kau maksud ada. Mau pesan apa?”, tanya Bibi itu ramah.
“Emm. Aku
ingin seporsi Mul Narngmyeon, seporsi Bulgogi dan 2 jus jeruk ya?”, ucapku.
“Baiklah.
Kau tunggu saja di mejamu, aku akan mengantarnya untuk kalian berdua nanti.”.
ucap Bibi itu.
“Terima
kasih.”, aku mengembangkan senyumku dan kembali duduk di tempatku.
“Sepertinya
sebentar lagi hujan reda. Lihat.”, ia menunjuk pemandangan dibalik kaca
restaurant.
“Ah, iya.
Syukurlah. Hyung-Min, kau akan pulang naik apa?”, tanyaku.
“Naik bis.
Apa kau juga?”, tanyanya.
“Tentu
saja. Sejak dulu Ibuku belum mengizinkanku mengendarai mobil. Membosankan ah…”,
keluhku.
“Bagaimana
bisa Bibi akan membiarkanmu mengendarai mobil kalau kasus kecelakaanmu sudah
mencapai 4 kali 2 tahun terakhir. Sejak itu Bibi makin tidak percaya padamu,
kan?”, ia diam sejenak lalu melanjutkan kalimatnya.
“Kalau aku
jadi Ibumu juga, aku akan melarangmu mengendarai mobil. Sebagai anak
satu-satunya tentu saja kau sangat dikhawatirkan. Bagaimana kalau kau meninggal
karena kecelakaan?”, ucapnya.
“Tapi, ini
tetap saja tidak adil bagiku. Teman-temanku sudah mengendarai mobil untuk ke
sekolah, hanya aku yang tertinggal… Huh, malangnya diriku.”, ucapku.
“Dasar
mendramastisir!”, Hyung-Min melemparkan tissue yang barusan di pakainya untuk
mengusap mukanya padaku.
“Kau yang
tidak mengerti perasaanku.”, ucapku ngotot.
“Aku
mengerti. Lihat saja aku sekarang. Aku tetap naik bis kan baik berangkat maupun
pulang sekolah. Lagipula naik bis menyenangkan juga. Kau tidak berpikir seperti
itu?”, tanyanya.
“Tidak.
Pokoknya aku mau mengendarai mobil.”, ucapku ngotot.
“Hmh…”, ia
menghela nafas.
“Benar-benar
kukuh ya? Lain kali aku janji kita akan jalan-jalan naik mobil dan kau yang
mengendarainya. Tapi, itu suatu saat…”, ucapnya.
“Tidak
apa-apa. Akan kutunggu janjimu ini.”, ucapku serius. Ia tersenyum.
******
Beberapa
hari setelah hari itu, kami bertemu kembali di sebuah tanah lapang milik
keluarga Hyung-Min. Ia bilang mau mengajariku menyetir dengan baik.
“Kau
siap?”, tanyanya.
“Hm.”,
jawabku antusias. Jantungku berdegup kencang. Aku sedikit takut.
“Ingat.
Injak dengan perlahan dan pasti. Jangan melakukannya mendadak. Kau mengerti?”,
tanyanya.
“Hm!”,
jawabku.
“Baik kita
mulai. Go.”, ucapnya.
Aku melakukannya dengan tegang. Benar-benar tegang
hingga aku bagaikan sedang melatih adrenalinku. Benar-benar menyenangkan! Kami
banyak tertawa setelah itu. Meski ada sedikit kesalahan yang kulakukan, tapi
aku yakin kalau sudah terbiasa pasti bisa.
Setiap detik, setiap menit, setiap jam, dan setiap
hari berlalu dengan cepat. Tanpa sadar sudah 3 bulan aku kursus gratis pada
Hyung-Min. Akhirnya, aku mengikuti beberapa tes untuk mendapatkan SIM-ku. Dan
aku benar-benar mendapatkannya. SIM yang benar-benar kuidamkan sejak lama.
Akhirnya! Aku pun pulang dengan wajah berbinar.
“Yu-Ri?
Apa yang terjadi padamu?”, tanya Ibu curiga.
“Coba Ibu
tebak.”, ucapku sambil tersenyum manis.
“Emm. Kau
dapat lotre?”, tanya Ibu sembarangan.
“Ah, bukan
itu…”
“Kau dapat
undian berhadiah? Dapat pacar baru? Dapat juara olimpiade? Juara lomba?”, tanya
Ibu.
“Salah,
salah, salah.”, ucapku sambil menggelengkan kepalaku. Tanda bukan itu yang
kumaksud.
“Lalu apa?
Kau katakan sajalah… Apa begitu susah? Menyuruh Ibu menebak-nebak.”, Ibu
mengomel.
“Tara!”,
aku memperlihatkan dengan jelas SIM-ku pada Ibu.
“Eh? Apa
ini SIM?”, tanya Ibu sambil menyahut kartu itu.
“Memangnya
Ibu kira itu KTP atau Kartu Pelajar…?”, ucapku.
“Hei,
dimana kau menemukan ini? Cepat kembalikan pada pemiliknya!”, ucap Ibu. Aku
mengulurkan tangan. Dan Ibu memberikan SIM itu padaku lagi.
“Sudah
kembali.”, ucapku.
“Apa?”,
tanya Ibu bingung.
“Ini
milikku, Bu… Lihat tertulis dengan jelas disini namaku… Han Yu-Ri… Ini
benar-benar milikku.”, ucapku.
“Apa? Tapi
bagaimana bisa? Kau kan tidak bisa menyetir? Kasus kecelakaan 4 kali dalam 2
tahun terakhir. Pernah juga mengendarai mobil-mobilan masih payah, bagaimana bisa….”,
kalimat Ibu terpotong.
“Selama
ini aku berlatih.”, potongku.
“Selama 3
bulan aku berlatih bersama Hyung-Min, temanku. Dia sangat baik. Sekarang aku
sudah bisa menyetir. Ibu… Izinkan aku mengendarai mobil ke sekolah… Ya?”,
pintaku memohon.
“Hmh…”,
Ibu menghela nafas.
“Tekadmu
benar-benar bulat ya… Baiklah. Tapi, kau harus selalu hati-hati. Mengerti?”,
ucap Ibu. Aku mengangguk yakin.
Beberapa
hari setelah hari itu, Hyung-Min mengajakku jalan-jalan ke Myeongdong. Kampung
halamannya. Katanya ini adalah cara untuk menepati janjinya di restaurant itu.
Selain kami berdua, ada Jang-Yeon, Kyu-Ah, dan Dae-Sung yang ikut bersama kami.
Perjalanan ini agak lama karena harus melewati beberapa ruas jalan yang sedang
dalam perbaikan. Letak rumah Hyung-Min adalah di sebuah desa kecil yang
terpencil di kaki bukit. Sungguh sudah terbayangkan olehku pemandangan alam
yang masih alami. Wah, pasti akan jadi momen paling menyenangkan!
“Emm.
Hyung-Min?”, panggilku.
“Hm?”, ia
menoleh padaku.
“Bagaimana
tepatnya suasana di desamu itu?”, tanyaku.
“Emm.
Bagaimana ya? Emm. Sangat terpencil, udaranya masih sejuk karena masih jarang
ada orang yang pakai AC atau mengendarai mobil. Di samping rumah ada kebun
bunga milik Nenekku. Sangat sederhana. Tidak semewah kota Seoul yang
gemerlapnya begitu mencolok mata. Oh ya, barang-barang di desa ini masih
sedikit pakai tradisional, dan… tidak sedikit juga penduduk yang memakai Hanbok
sebagai pakaian sehari-hari mereka. Termasuk Nenekku.”. ucapnya.
“Hahaha…”,
kami pun tertawa bersama.
Begitu masuk ke desa yang dimaksud, Suasana yang
benar-benar alami langsung menyambut kami. Ternyata benar. Kujumpai banyak
orang tua bahkan sesekali anak-anak yang berlalu lalang memakai Hanbok. Padahal
aku memakai Hanbok hanya saat ada perayaan-perayaan tertentu.
“Nenek,
apa kabar?”, kulihat Hyung-Min sedang menyapa seseorang yang agak jauh dari
tempat kami berdiri. Ia menghampiri wanita tersebut. Kami berempat pun
mengikutinya.
“Apa
kabar?”, aku sedikit membungkukkan tubuhku tanda menghormatinya.
“Apa
kabar?”, Kyu-Ah, Jang-Yeon, dan Dae-Sung melakukan hal yang sama seperti yang
kulakukan.
Wanita yang sudah cukup tua tersebut menganggukkan
kepala dan tersenyum simpul.
“Oh ya,
mereka ini teman-temanku di sekolah. Ini Yu-Ri, Jang-Yeon, Kyu-Ah, dan Dae-Sung.
Mereka penasaran sekali dengan desa ini, jadi aku mengajaknya kemari. Apa Nenek
keberatan?”, tanya Hyung-Min manja sambil menggandeng tangan yang sudah mulai
mengerut tersebut.
“Baiklah…
Apa Ibu dan Ayahmu ikut? Bagaimana dengan Geum-Nim?”, tanya Nenek tersebut yang
kalau tidak salah dengar namanya Kim Ae-Ja, Nenek Hyung-Min.
“Mereka
tidak ikut bersama kami. Katanya akan menyusul beberapa hari lagi. Mungkin
malah saat kami kembali mereka baru kemari. Apa kamar kosong di rumah masih
ada?”, tanyanya.
“Tentu
saja. Sejak kalian pindah dari Myeongdong kamar-kamar itu tidak ada yang
menempati. Yang tidur bersamaku juga hanya Soon-Ah, Bibimu.”, ucap Nenek Ae-Ja.
“Ahahaha…”,
Hyung-Min lagi-lagi tertawa untuk yang kesekian kalinya.
“Yu-Ri,
Kyu Ah, Jang-Yeon. Siapa diantara kalian yang tidak keberatan memakai Hanbok
selama berada disini?”, tanya Nenek Ae-Ja.
“Saya…
Saya sudah bawa banyak pakaian kemari. Jadi, tidak perlu.”, Jang-Yeon mencoba
menolak dengan halus.
“Saya
juga. Maaf sekali, ya.”, timpal Kyu-Ah.
“Kau
sendiri?”, tanya Nenek Ae-Ja.
“Saya
tidak keberatan. Tapi, saya sedikit tidak terbiasa jalan-jalan memakai Hanbok…
Tapi, saya akan coba.”, ucapku.
“Baiklah.
Ikut aku.”, aku pun mengikuti langkah kaki yang sedikit tertatih-tatih tersebut
masuk ke sebuah ruangan.
“Pakai
ini. Ini Hanbok milikku saat masih muda.”, ucap Nenek Ae-Ja sambil memberikan
sebuah Hanbok dengan perpaduan warna
hijau dan pink di setiap potongannya, V-neck yang sangat khas dan sebuah pita
coklat tepat dibawahnya. Tali pita yang begitu panjang benar-benar membuatnya
terurai ke bawah. Nenek Ae-Ja juga membantuku menyanggulkan rambutku dengan
rapi. Dan diberinya miniatur bunga pada sisi kanan dan kiri sanggul. Bagaikan
pengantin wanita pada zaman kuno…
“Kau cukup
cantik untuk ukuran gadis modern…”, puji Nenek Ae-Ja.
“Ah,
benarkah? Tapi, saya merasa biasa saja… Ahahaha…”, aku tersenyum kecut padanya.
“Benar. Oh
ya, berapa hari akan menginap disini?”, tanya Nenek Ae-Ja lagi.
“Emm.
Kira-kira seminggu. Karena kan sekolah sedang libur.”, jawabku.
******
Seminggu
berlalu begitu cepat. Banyak sekali kenangan-kenangan manis yang kualami di
desa kecil ini… Meski hanya sebentar, terasa begitu menyenangkan. Hari ini kami
pulang ke Seoul. Kami harus bersekolah 2 hari lagi. Liburan sekolah sudah
berakhir, saatnya menjalani hari-hari seperti biasanya lagi di kota Seoul yang
padat dan menyilaukan. Kota Seoul yang begitu sibuk. Saat aku mengendarai
mobilku di sebuah tikungan, sebuah truk dari arah berlawanan melaju kencang.
Membuat mobil yang kukendarai… Yang berisi aku dan teman-temanku terhempas agak
jauh dari lokasi. Truk itu rusak setelah menabrak mobilku dan juga batu koral
yang cukup besar di depannya. Berita kecelakaan ini pun sampai ke Seoul dengan
cepatnya. Masuk ke setiap media yang mendatangi lokasi. Benar-benar ekstrim.
“Mmmhh…”,
aku mencoba membuka mataku. Samar-samar dan akhirnya semakin jelas. Aku melihat
wajah-wajah yang tidak asing. Ada Ibu, Ayah, dan teman-temanku… Aku ingat akan
sesuatu. Kejadian kecelakaan itu… Sebelum aku tak sadarkan diri, aku melihat
Hyung-Min terluka parah. Kyu-Ah, Dae-Sung, dan Jang-Yeon… Entah bagaimana nasib
mereka saat itu… Aku hanya tertuju pada Hyung-Min yang tepat berada di
sampingku. Sedangkan ketiga temanku yang lain berada di bangku belakang. Ku
lihat kepalanya berdarah dan darah itu benar-benar mengalir tanpa henti. Aku
berusaha mengguncang tubuhnya sekuat tenaga sembari memanggil namanya pelan.
Dia tak menyahut sama sekali. Aku sampai menangis di dalam mobil lalu aku tak
sadarkan diri setelah itu…
“Ibu…Ayah…”,
panggilku.
“Bagaimana…
keadaan te…man-temanku?”, tanyaku terbata-bata. Ibu malah membelai rambutku
dengan diam. Ayah juga, malah keluar dari ruangan rumah sakit.
2 hari lamanya aku tidak mendapat kabar apapun dari
teman-temanku. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada mereka.
Hingga saat aku keluar dari rumah sakit, tepatnya 3
hari setelah hari itu…
“Kyu-Ah,
Jang-Yeon, dan Dae-Sung hanya luka ringan… Tapi, Hyung-Min… Dia…”, Ibu malah
menitikkan air mata.
“Ada apa,
Bu?”, tanyaku.
“Hyung-Min…
Meninggal di lokasi kejadian. Dia sudah meninggal, Yu-Ri… Tidak ada lagi yang
bernama Hyung-Min dalam hidupmu… Dia sudah tidak ada…”, jawab Ibu sambil
menangis. Air mataku pun tumpah saat itu juga…
“Ibu…
Katakan ini tidak benar… Kumohon…”, pintaku. Ibu hanya menangis. Aku pun
terduduk dari tempatku berdiri sambil menangis.
“Hyung-Min…
Padahal aku belum mengucapkan terima kasihku padamu… Atas semua yang sudah kau
lakukan padaku… Kenapa kau pergi sebelum aku mengucapkan terima kasih…”,
batinku.
“Hyung…Hyung-Min…”,
aku menangis.
Hari
ini aku pergi ke makam Hyung-Min bersama Ibu. Hyung-Min yang pernah membuatku
tertawa… Hyung-Min yang pernah membuatku kesal, dan Hyung-Min yang amat
kusayangi… Dia adalah sahabat terbaik… Sahabat sejatiku… Kami berpisah karena
takdir menginginkannya… Kematian itu memisahkan kami begitu jauh…
“Hyung-Min…
Park Hyung-Min. Hei, meski sudah benar-benar terlambat. Tapi, aku… Aku akan
tetap mengatakannya. Aku… Sangat berterima kasih… Atas semuanya… Terima kasih…
Terima kasih sudah menepati janji terakhirmu…”, ucapku.
Terbayang kembali di pikiranku kejadian di
restaurant itu…
“Benar-benar
kukuh ya? Lain kali aku janji kita akan jalan-jalan naik mobil dan kau yang
mengendarainya. Tapi, itu suatu saat…”, ucapnya.
“Tidak
apa-apa. Akan kutunggu janjimu ini.”, ucapku serius. Ia tersenyum.
******
TAMAT
Oleh :
Dita Megah S. Sari
IX-3/09/2010-2011


Oleh
:
Dita
Megah S. Sari
Kelas
:
IX-3
No.
Absen :
09
SMP
Negeri 2 Sidoarjo
Tahun
Ajaran 2010-2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar