Jumat, 02 Agustus 2013

Wish



Title                            : Wish

Author                        : Dita Chun © 2011

Genre                         : Romance, Friendship, Angst

Rating                         : PG+13

Type                           : Oneshot

Music                          : Ni Yao De Ai by Penny Tai

POV                            : Author

Main Cast                  :

#Jiro Wang as Wang Da Dong

#Rainie Yang as Yang Cheng Lin

#Aaron Yan as Yan Ya Lun

#Wu Ying Jie as Gui Gui

Disclaimer                  : Da Dong, Cheng Lin, Gui Gui, dan Ya Lun adalah milik Tuhan! ^^ Sementara seluruh karakter yang mereka mainkan adalah milik author. Setting dan bla bla nya juga punya author. So, no bashing, ok? Mau bash? Silahkan, author gak peduli sama bash-bash-an macam apapun  XD #author dibuang ke jurang#

Warning                     : gaje binti abal XD





.

.

      “Kapan kita akan menikah?” Cheng Lin bertanya dengan nada manja pada pria kekar di sampingnya. Ia sandarkan kepalanya di bahu sang pria sambil menggandeng erat lengannya.

      “Suatu saat…” ucap pria itu sembari mengukir segaris senyum di wajahnya.

      “Wei shen me? (kenapa?) Kenapa saat aku bertanya kau selalu menjawab demikian? Aku sudah menunggumu sedemikian lamanya~ Menunggu kau melamarku, kita bersanding di pelaminan, dan…” kalimat Cheng Lin terpotong.

      “Percayalah… Suatu saat pasti…” potong pria itu.

      “Kau bisa berjanji?” Cheng Lin mengulurkan jemari kelingkingnya.

      “Aku janji,” jawab pria itu seraya melingkarkan jemari kelingkingnya.

.

.

      “Da dong ge…” ucap Cheng Lin yang masih asyik dengan ponsel di genggamannya. Ia sedang berbicara dengan pria yang sangat dicintainya saat ini, Wang Da Dong.

      “Hm?” tanya Da Dong simple.

      “Bagaimana rencana pernikahan kita nanti?” tanya Cheng Lin. Ia tampak tak sabar menunggu Da Dong menjawab pertanyaannya itu.

      “Hmm… Bagaimana menurutmu? Kau ingin yang bagaimana?” Da Dong balik bertanya. Hal itu tak diduga Cheng Lin sebelumnya, pria itu akan mau berbicara tentang pernikahan.

      “Wo a? (aku?) Aku ingin pernikahan kita di sebuah taman, taman yang indah dan di dekatnya ada kolam ikan yang jernih. Kue pernikahan yang berlapis empat, serta hiasan buah kiwi di sekeliling kue, tak lupa pernikahan kita harus diwarnai dengan nuansa biru, karena biru itu tenang. Bagaimana?” ucap Cheng Lin mengakhiri penjelasannya.

      “Hmm… menarik. Kalau aku… ingin pernikahan yang sederhana saja~ Yang terpenting adalah, aku menikah dengan orang yang benar-benar aku cintai,” ucap Da Dong dari seberang telepon. Kali ini senyum terukir di wajah Cheng Lin. Bagaimana tidak? Pria bernama Wang Da Dong yang berstatus sebagai kekasihnya ini, sama sekali belum pernah membahas tentang pernikahan sebelumnya. Selalu dan selalu Cheng Lin yang mendesaknya, tapi yang diucapkannya adalah dua kata, “Suatu saat…”

      “Tapi, Da Dong ge, pernikahan kita bukannya hanya sekali? Menurutku itu harus sangat meriah dan istimewa. Supaya kita bisa mengingat itu sampai mati nanti!” tutur Cheng Lin. Kali ini ia mencoba berargumen.

      “Ada juga orang menikah dengan pernikahan sederhana dan mereka bertahan sampai mati. Ada pula orang yang menikah besar-besaran dan berakhir dengan perceraian. Menurutku, semuanya itu tidak masalah selama hati kita hanya untuk orang yang kita cintai.”

      “Kyaa… Kenapa aku tidak tahu kau bisa semanis ini, Da Dong ge?” Cheng Lin jadi histeris sendiri mendengar argumen kekasihnya itu. Ia jadi sangat tersipu.

      “Baiklah~ Sudah dulu ya. Aku masih ada pekerjaan. Lain kali kita bahas lagi, hm?” ucap Da Dong.

      “Baik~ Bai bai…” ucap Cheng Lin mengakhiri pembicaraannya.

      “Kyaaa~ Da Dong ge bilang akan bahas lagi!!” Cheng Lin melompat-lompat di atas ranjangnya seperti anak-anak karena terlalu bahagia.

**************************************************************************************

      “Da Dong, kau baik-baik saja?” tanya Ya Lun panik, rekan kerja Da Dong yang tak sengaja melihat Da Dong tampak sedikit kacau.

      “Ah, Ya Lun. Aku… Aku tidak apa-apa. Cuma sedikit sakit kepala~” ucap Da Dong sambil sebisa mungkin mengukir segaris senyum di wajahnya, meski ia tahu bahwa keadaannya tak mungkin lagi bisa membohongi waktu. Ia sangat tidak baik-baik saja.

      “Aku tidak percaya padamu. Da Dong, kurasa sebaiknya kau istirahat~” ucap Ya Lun sambil menggulung kertas karton berisi coretan sketsa gedung di hadapan Da Dong. Ia segera membereskan peralatan di atas meja. Bisa dibilang, pria satu ini sangat care dengan Da Dong sejak bekerja di perusahaan ini.

      “Ya Lun, kau berlebihan…” ucap Da Dong.

      “Aku tidak mungkin membiarkanmu mati di dalam ruangan ini. Kau masih bisa berjalan?” tanya Ya Lun dengan nada yang cukup dingin, namun Da Dong mengerti, ada celah kehangatan dalam tutur kata yang dingin itu.

      “Hm. Aku baik-baik saja,” ucap Da Dong. Ia segera bangkit dari kursinya dan berjalan keluar bersama Ya Lun.

      “Aku sempat melihat sedikit, kau sangat berbakat merancang gedung, Ya Lun,” ucap Da Dong.

      “Tapi, tidak pernah lebih baik darimu…” ucap Ya Lun.

      “Suatu saat kau yang akan menggantikan posisiku,” ucap Da Dong.

      “Maksudmu?”

      “Bagaimana pun suatu saat aku harus pergi dari perusahaan~ Aku tidak mungkin terus tinggal…” ucap Da Dong, sejenak ia menghirup udara panjang lalu menghembuskannya perlahan.

      “Jangan hanya karena menikah dengan Cheng Lin lalu kau pergi dari perusahaan… Itu sangat tidak adil.” Mendengar hal itu Da Dong tersenyum.

      “Aku dan Cheng Lin memang akan segera menikah~ Dia sudah tidak sabar ingin menikah…”

      “Baguslah~ Setidaknya hubungan kalian akan lebih jelas. Tidak seperti hubunganku dengan Gui Gui yang tidak begitu jelas…” kali ini Ya Lun terdengar sedikit frustasi.

      “Kau terlalu berlebihan. Gui Gui itu gadis yang manis, coba kau sedikit bersikap lunak padanya. Kurasa  kau terlalu dingin…” ucap Da Dong sambil menepuk bahu Ya Lun.

      “Aku tidak akan bisa!” kali ini Ya Lun berjalan lebih cepat dari sebelumnya, mendahului Da Dong.

      “Ya Lun, tunggu!” seru Da Dong.

      “Ya  Lun… Akh!”

*************************************************************************************

      Matahari mulai merangkak naik ke atas ubun-ubun—membakar kepala dan kulit rasannya. Namun, hal itu tak mengurangi sedikitpun niat Cheng Lin yang sudah sangat semangatnya ingin bertemu Da Dong. Beberapa menit yang lalu, ponselnya berdering—telepon dari Da Dong.

      “Aku ingin bertemu denganmu~ Ada yang ingin kubicarakan… Kau ada waktu?” bahkan suara Da Dong yang lembut itu masih terngiang jelas di telinga Cheng Lin.

      “Kutunggu di danau…”

Cheng Lin mempercepat langkahnya, semakin cepat dan semakin cepat—berlari kecil. Segaris senyum menghias wajahnya.

      ‘Da Dong ge, apakah hari ini? Apa kau akan melamarku hari ini? Aku sangat tidak sabar…!’ batin Cheng Lin.

      “Da Dong ge! Aku datang! A… ku… da… tang…” Cheng Lin berteriak ke arah Da Dong, ia tampak sangat terengah-engah. Namun, senyuman Da Dong telah membayar semuanya—impas.

      “Wu an~ (selamat siang)” sapa Da Dong, namun tak merubah posisi duduknya. Cheng Lin segera duduk di samping Da Dong—di atas rerumputan di pinggir danau.

      “Wu an! (selamat siang) Eh, ada apa kau tiba-tiba?” tanya Cheng Lin tak sabar.

      “Dui bu qi (maaf), siang-siang begini aku mengganggumu… Tapi, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Satu hal…” wajah Da Dong kembali serius seperti biasanya.

      “Eh? Shen me? (apa?)” tanya Cheng Lin. Ia berpura-pura tenang meski ia tahu bahwa jantungnya sudah berdetang kencang sekali.

      “Itu… Apa keinginanmu saat ini?” tanya Da Dong.

      “Eh? Keinginan?” tanya Cheng Lin balik.

      ‘Ahh~ kupikir dia akan benar benar melamarku… Aku terlalu semangat… Huh!’ batin Cheng Lin.

      “Jadi?” ucapan Da Dong merusak alam khayalan Cheng Lin.

      ‘Ah, atau kupancing saja ya~ Hmm~’ batin Cheng Lin.

      “Aku ingin menikah~” ucap Cheng Lin.

      “Menikah? Hanya itu?” tanya Da Dong.

      “Untuk saat ini… Cuma itu keinginanku…” jawab Cheng Lin.

      “Apa kau sangat ingin? Apa kau akan bahagia?” tanya Da Dong lagi.

      “Hm. Kurasa aku akan bahagia…” jawab Cheng Lin.

      “Ah, Cheng Lin, lihat!” tiba-tiba Da Dong berteriak sambil menunjuk satu objek di depan matanya. Seekor burung merpati putih yang entah dari mana dan kapan tiba-tiba muncul dan terbang di atas danau.

      “Eh? Itukan hanya burung merpati biasa? Kenapa heboh begitu?” tanya Cheng Lin. Ia tak menganggap burung yang tengah terbang itu sebagai hal yang istimewa.

      “Tidak. Dia istimewa~ Dia… memanggil teman-temannya…” ucap Da Dong tersenyum.

      “Eh? Maksudmu?” tanya Cheng Lin tak mengerti.

      “Dia sedang menari dan bernyanyi, mengundang teman-temannya ke danau ini. Pasti~”

      “Tapi, dimana yang lainnya? Aku tidak melihat seekor— Ahh! Benar! Itu mereka!” seru Cheng Lin begitu dilihatnya beberapa ekor merpati putih lain yang datang dari arah yang berlawanan.

      “Wah, ke ai le! (cantiknya!)” seru Cheng Lin begitu melihat burung-burung merpati itu sudah memenuhi angkasa di atas danau.

      “Kau senang?” tanya Da Dong.

      “Hm!” Cheng Lin mengangguk mantap.

********************************************************************************

      “Ahhh! Aku capek kalau kau seperti ini terus! Lama-lama aku tidak tahan!” terdengar suara gadis berteriak. Itu terdengar dari ruangan Ya Lun. Da Dong yang penasaran pun segera meletakkan pensil yang semula digenggamnya dan beranjak menuju ruangan Ya Lun.

      “Gui Gui, Ya Lun, kalian baik-baik saja?” tanya Da Dong. Ruangan hening selama beberapa detik. Hanya terdengar nafas Gui Gui yang masih tersengal-sengal akibat terlalu banyak berbicara.

      “Kita lanjutkan ini lain kali!” seru Gui Gui lalu keluar dari ruangan Ya Lun—tentunya dengan amarah yang masih bergulat di hatinya.
Ya Lun menghela nafas panjang lalu menelungkupkan wajahnya ke dalam bekapan kedua telapak tangannya.

      “Apa lagi…?” tanya Da Dong sembari duduk di salah satu kursi di depan meja Ya Lun.

      “Dia ingin aku meluangkan banyak waktu untuknya~ Tapi, kau tahu, kan, kalau hidupku bukan hanya untuk mengurusnya? Dia pikir aku baby sitter-nya apa?” gerutu Ya Lun.

      “Hahaha… Jadi, hanya karena itu?” Da Dong terkekeh mendengar penjelasan Ya Lun barusan. Dalam pikirannya, ia merasa bahwa pikiran Ya Lun dan Gui Gui itu masih sama-sama kekanakannya.

      “Kau pikir ini hal yang lucu apa?” kali ini Ya Lun mengetukkan pulpen di tangannya ke atas meja kaca di hadapannya sambil melemparkan tatapan evil pada Da Dong.

      “Wei, berhentilah menatapku seperti itu~” Da Dong meraih pulpen biru di genggaman  Ya Lun itu da merobek secarik kertas notes di sampingnya.

      “Kalian itu~ seperti… ini!” Da Dong menunjukkan gambar yang baru saja dibuatnya. Ia membuat sketsa chibi Ya Lun dan Gui Gui dengan sebuah gambar hati di tengah mereka.

      “Kalian terlalu kekanakan. Mau tidak mau salah satu dari kalian harus mengalah~” ucap Da Dong lalu kembali mencorat-coret kertas yang kini telah berada di tangannya.

      “Aku tidak mau~ Itu bukan image-ku!” ucap Ya Lun keras kepala.

      “Kalau begitu kalian putus saja!” ucap Da Dong sambil menyodorkan gambar hati yang sudah dibagi menjadi dua bagian.

      “Tapi, aku mencintainya…” gumam Ya Lun lirih. Namun, Da Dong bisa mendengarnya dengan jelas.

      “Kalau begitu pertahankan! Bukankah yang paling penting dalam menjalani sebuah hubungan adalah bagaimana cara kita mempertahankannya? Hm?” ucap Da Dong.

      “Kalahkan sedikit keegoisanmu… Berikan sedikit toleransi bagi Gui Gui. Dia memang lebih muda darimu, jadi kau harus mengerti bahwa dia ingin sekali kau memanjakannya seperti gadis yang lainnya,” lanjutnya. Sejenak Ya Lun tampak berpikir—bermain-main dengan alam pikirannya. Ia merasa ucapan Da Dong ada benarnya juga.

.

TOK

TOK

TOK

.

      “Da Dong, kau disana?” tanya sebuah suara dari sisi pintu.

      “Ah, Yi Ru. Ada apa?” Da Dong bangkit dari duduknya dan bergegas menghampiri Yi Ru.

      “Bos mencarimu. Ia menunggumu di ruangannya,” jawab Yi Ru singkat.

      “Ah, begitu. Aku akan kesana,” ucap Da Dong tersenyum sekilas. Ia mengalihkan pandangannya pada Ya Lun yang masih terpaku di tempatnya.

      “Ya Lun, pikirkan baik-baik!” ucap Da Dong sejenak sebelum pintu ruangan Ya Lun tertutup kembali.

***************************************************************************************

      “Ah, Da Dong ge! Kenapa tiba-tiba kau datang ke rumah?” tanya Cheng Lin yang terkejut melihat kedatangan Da Dong di rumahnya.

      “Ada yang ingin kubicarakan. Ke yi ma? (Boleh?)” tanya Da Dong.

      “Hao la (baiklah). Masuklah.”

.

      “Da Dong ge, apa yang membawamu kemari?” tanya Cheng Lin sambil meletakkan segelas orange juice di atas meja.

      “Aku akan bertanya sekali lagi,” ucap Da Dong.

      “Eh? Tentang apa?” tanya Cheng Lin.

      “Kau sungguh ingin menikah? Denganku, kah?” tanya Da Dong.

      “Eh? Tentu saja. Memangnya mau menikah dengan siapa lagi?” ucap Cheng Lin sambil tertawa kecil.

      “Kau akan bahagia, kan? Kau akan bahagia, kan, setelah menikah denganku?” tanya Da Dong lagi.

      “Hm!” Cheng Lin mengangguk.

      “Baiklah… Kita akan menikah. Kapan kau ingin kita menikah? Bulan depan? Tahun depan?” tanya Da Dong. Kali ini Cheng Lin melihat ketidakwajaran pada sikap Da Dong hari ini.

      “Da Dong ge, kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?” tanya Cheng Lin menyelidik.

      “Aku merasa ucapanmu selama ini benar. Lebih baik kita segera menikah. Apa kau tidak senang aku bertanya begini?”

      “Ah! Tidak! Bukan begitu! Aku senang, kok! Aku cuma heran saja… Tiba-tiba kau mengajukan hal ini mendadak. Aku kan jadi kaget…” ucap Cheng Lin.

      “Ahahaha… Jadi itu, ya? Dui bu qi (maaf)… Nah, jadi, kau ingin kita menikah kapan? Bukankah orang tuamu sudah mendesak kita menikah?” ucap Da Dong.

      “Iya, mereka juga mendesak agar kita segera menikah…” jawab Cheng Lin.

      “Tapi, Cheng Lin… Aku ingin kau berjanji dua hal padaku sebelum kita menikah,” ucap Da Dong.

      “Shen me? (apa?)” tanya Cheng Lin.

      “Pertama, berjanjilah untuk bahagia apapun yang terjadi…”

      “Eh? Memangnya kenapa?” potong Cheng Lin.

      “Berjanjilah padaku,” ucap Da Dong.

      “Baiklah~ Terserah kau saja.”

      “Berjanjilah dari lubuk hatimu yang terdalam, Cheng Lin.”

      “Eh? Baiklah~ Aku berjanji akan bahagia apapun yang terjadi. Lalu yang kedua?”

      “Menangislah karena bahagia~ Aku memberimu kesempatan menangisi hal menyedihkan sekali! Janji?” Da Dong mengulurkan kelingkingnya.

      “Dasar, aneh! Baiklah~ Aku janji,” Cheng Lin melingkarkan jari kelingkingnya pada Da Dong.

*************************************************************************************

      Hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidup Cheng Lin. Hari yang sudah dinantinya sejak lama, dengan konsep yang sudah disusunnya dalam goresan tinta diatas kertas-kertas putih buku diary-nya. Pernikahan bernuansa putih dan biru itu menghias tiap inchi taman di samping danau. Tak lupa ratusan bunga mawar ditebarkan di permukaan air danau. Kue tart dilapisi buah kiwi dan blueberry di bagian puncaknya menghias meja paling ujung.

      “Mama, aku deg-deg-an sekali~ Aiyoo~” gerutu Cheng Lin saat mereka berjalan menuju tempat pernikahan.

      “Tenanglah~ Semuanya akan baik-baik saja…” ucap Mama.

      “Astaga~ Bagaimana bisa calon suamiku jadi begitu tampaaan…!” gumam Cheng Lin dalam hati begitu dilihatnya Da Dong yang sudah berdiri di tempat pernikahan lebih dulu. Sejenak, ia melukis segaris senyum pada Cheng Lin. Hal itu justru membuat Cheng Lin jadi salah tingkah.

***********************************************************************************

      “Baiklah~ pengantin pria boleh mencium mempelainya…”
Kali ini Da Dong tanpa ragu mencium lembut Cheng Lin. Namun, Cheng Lin merasakan ketidak beresan pada ciuman Da Dong kali ini. Terasa dingin… Ya… Dingin sekali—sampai rasanya akan membekukan bibirnya sendiri.

      “Cheng Lin… Aku mencintaimu… Wo ai ni~ Yong yuan ai ni~ (aku mencintaimu~ selamanya mencintaimu~)” ucap Da Dong lalu memeluk Cheng Lin dalam sekali. Ia bersandar pada bahu Cheng Lin.

.

TES!

.

Setetes air mata jatuh dari mata bening Da Dong. Sakit teramat sangat sudah menyerang kepalanya sejak tadi. Namun, sebisa mungkin ia menahannya. Sakit yang sudah merajamnya selama kurang lebih setengah jam lamanya—sakit yang luar biasa. Ia mendekap Cheng Lin lebih dalam dan lebih dalam lagi, berharap rasa sakitnya itu berkurang.

      “Da Dong ge, wei shen me o? (kenapa?)” tanya Cheng Lin yang merasa dirinya sudah nyaris kehabisan nafas dalam pelukan Da Dong. Tak ada jawaban apapun dari bibir Da Dong.

      “Da Dong ge, Da Dong ge, wei shen me o?” Cheng Lin mengulang kalimatnya. Tetap sama. Tak ada sedikitpun kata terlontar  dari bibir Da Dong.

      “Da Dong ge, bangkit…lah. Aku tidak bisa… bernafas…” Cheng Lin mendorong tubuh Da Dong yang semula mendekapnya.

.

BRUKH!

.

Tubuh Da Dong jatuh ke tanah begitu saja.

      “Da Dong ge!” teriak Cheng Lin. Serempak beberapa tamu, termasuk Ya Lun dan Gui Gui berkerumun di tempat Da Dong terjatuh.

      “Da Dong! Wei, Wang Da Dong! Bangunlah! Da Dong, apa yang terjadi?” Ya Lun yang panik segera mengguncang pelan tubuh Da Dong. Namun, tak ada respon sama sekali dari Da Dong. Ya Lun segera menelepon rumah sakit, sedangkan Cheng Lin semakin histeris melihat pengantin prianya yang tak merespon sama sekali itu. Ia semakin kalut.

      “Da Dong ge!! Da Dong ge, bangunlah! Bangunlah dan jelaskan apa yang terjadi! Bangunlah, Da Dong ge!!” Cheng Lin menangis sambil terus mengguncang-guncang tubuh Da Dong.

      “Da Dong ge, bangunlaaahhh!! Katakan apa maksudmu dengan ini semua!! Bangunlaahhh!!!” Cheng Lin semakin tidak terkontrol. Bahkan Gui Gui dan Mamanya sudah berusaha menenangkannya. Namun, tak berhasil sama sekali. Ia semakin histeris dan  semakin histeris.

.

.

      “Itu… Apa keinginanmu saat ini?”

      “Eh? Keinginan?”

      “Aku ingin menikah~”

      “Menikah? Hanya itu?”

      “Untuk saat ini… Cuma itu keinginanku…”

      “Apa kau sangat ingin? Apa kau akan bahagia?”

      “Hm. Kurasa aku akan bahagia…”

.

.

      “Cheng Lin, apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Ya Lun yang melihat Cheng Lin melamun di teras.

      “Ah, kau. Aku sedang memikirkan sesuatu~”

      “Eh? Apa itu?”

      “Sampai sekarang aku tak habis pikir, kenapa saat itu ia malah bertanya ‘Apa keinginanmu saat ini?’ Sementara harusnya akulah yang melontarkan kalimat itu padanya saat itu. Harusnya aku yang bertanya apa keinginan terakhirnya~” Cheng Lin tampak sangat berusaha menahan air mata yang sudah nyaris menetes itu.

      “Cheng Lin, menangislah kalau—“ kalimat Ya Lun terpotong.

      “Aku sudah berjanji padanya untuk tidak menangis! Aku pasti bisa menepati janjiku! Janji terakhirku padanya~” ucap Cheng Lin. Ya Lun tertegun sejenak.

      “Mungkin aku tahu kenapa ia bertanya tentang keinginanmy saat itu~” ucap Ya Lun.

      “Eh?”

      “Satu-satunya keinginannya adalah… Melihatmu bahagia. Maka dari itu, dia bertanya, apa yang paling kau inginkan, itu adalah hal yang pasti akan membuatmu bahagia… Dia sangat mencintaimu, Cheng Lin… Aku tahu itu,” ucap Ya Lun sembari tersenyum.

      “Ah~ begitu… Dasar, bodoh~ Malah memikirkan kebahagiaanku~” ucap Cheng Lin sambil menghapus air mata yang sudah tak tertahankan lagi. Tapi, kali ini yang terukir setelah itu bukanlah kesedihan, tapi senyuman manis dari wajah Cheng Lin.

      “Ah, iya. Ya Lun, kenapa kau ada disini?”

      “Oh, itu… Aku hanya ingin mengajakmu keluar bersama Gui Gui juga, kau ada waktu?”

      “Baiklah~”




_____________the end________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar