Title : Wish
Author : Dita Chun ©
2011
Genre : Romance, Friendship,
Angst
Rating : PG+13
Type : Oneshot
Music : Ni Yao De Ai by
Penny Tai
POV : Author
Main
Cast :
#Jiro
Wang as Wang Da Dong
#Rainie
Yang as Yang Cheng Lin
#Aaron
Yan as Yan Ya Lun
#Wu
Ying Jie as Gui Gui
Disclaimer : Da Dong, Cheng Lin, Gui Gui,
dan Ya Lun adalah milik Tuhan! ^^ Sementara seluruh karakter yang mereka
mainkan adalah milik author. Setting dan bla bla nya juga punya author. So, no
bashing, ok? Mau bash? Silahkan, author gak peduli sama bash-bash-an macam
apapun XD #author dibuang ke jurang#
Warning : gaje binti abal XD
.
.
“Kapan
kita akan menikah?” Cheng Lin bertanya dengan nada manja pada pria kekar di
sampingnya. Ia sandarkan kepalanya di bahu sang pria sambil menggandeng erat
lengannya.
“Suatu
saat…” ucap pria itu sembari mengukir segaris senyum di wajahnya.
“Wei
shen me? (kenapa?) Kenapa saat aku bertanya kau selalu menjawab demikian? Aku
sudah menunggumu sedemikian lamanya~ Menunggu kau melamarku, kita bersanding di
pelaminan, dan…” kalimat Cheng Lin terpotong.
“Percayalah…
Suatu saat pasti…” potong pria itu.
“Kau
bisa berjanji?” Cheng Lin mengulurkan jemari kelingkingnya.
“Aku
janji,” jawab pria itu seraya melingkarkan jemari kelingkingnya.
.
.
“Da
dong ge…” ucap Cheng Lin yang masih asyik dengan ponsel di genggamannya. Ia
sedang berbicara dengan pria yang sangat dicintainya saat ini, Wang Da Dong.
“Hm?”
tanya Da Dong simple.
“Bagaimana
rencana pernikahan kita nanti?” tanya Cheng Lin. Ia tampak tak sabar menunggu
Da Dong menjawab pertanyaannya itu.
“Hmm…
Bagaimana menurutmu? Kau ingin yang bagaimana?” Da Dong balik bertanya. Hal itu
tak diduga Cheng Lin sebelumnya, pria itu akan mau berbicara tentang
pernikahan.
“Wo
a? (aku?) Aku ingin pernikahan kita di sebuah taman, taman yang indah dan di
dekatnya ada kolam ikan yang jernih. Kue pernikahan yang berlapis empat, serta
hiasan buah kiwi di sekeliling kue, tak lupa pernikahan kita harus diwarnai
dengan nuansa biru, karena biru itu tenang. Bagaimana?” ucap Cheng Lin
mengakhiri penjelasannya.
“Hmm…
menarik. Kalau aku… ingin pernikahan yang sederhana saja~ Yang terpenting
adalah, aku menikah dengan orang yang benar-benar aku cintai,” ucap Da Dong
dari seberang telepon. Kali ini senyum terukir di wajah Cheng Lin. Bagaimana
tidak? Pria bernama Wang Da Dong yang berstatus sebagai kekasihnya ini, sama
sekali belum pernah membahas tentang pernikahan sebelumnya. Selalu dan selalu
Cheng Lin yang mendesaknya, tapi yang diucapkannya adalah dua kata, “Suatu
saat…”
“Tapi,
Da Dong ge, pernikahan kita bukannya hanya sekali? Menurutku itu harus sangat
meriah dan istimewa. Supaya kita bisa mengingat itu sampai mati nanti!” tutur
Cheng Lin. Kali ini ia mencoba berargumen.
“Ada
juga orang menikah dengan pernikahan sederhana dan mereka bertahan sampai mati.
Ada pula orang yang menikah besar-besaran dan berakhir dengan perceraian.
Menurutku, semuanya itu tidak masalah selama hati kita hanya untuk orang yang
kita cintai.”
“Kyaa…
Kenapa aku tidak tahu kau bisa semanis ini, Da Dong ge?” Cheng Lin jadi
histeris sendiri mendengar argumen kekasihnya itu. Ia jadi sangat tersipu.
“Baiklah~
Sudah dulu ya. Aku masih ada pekerjaan. Lain kali kita bahas lagi, hm?” ucap Da
Dong.
“Baik~
Bai bai…” ucap Cheng Lin mengakhiri pembicaraannya.
“Kyaaa~
Da Dong ge bilang akan bahas lagi!!” Cheng Lin melompat-lompat di atas
ranjangnya seperti anak-anak karena terlalu bahagia.
**************************************************************************************
“Da
Dong, kau baik-baik saja?” tanya Ya Lun panik, rekan kerja Da Dong yang tak
sengaja melihat Da Dong tampak sedikit kacau.
“Ah,
Ya Lun. Aku… Aku tidak apa-apa. Cuma sedikit sakit kepala~” ucap Da Dong sambil
sebisa mungkin mengukir segaris senyum di wajahnya, meski ia tahu bahwa
keadaannya tak mungkin lagi bisa membohongi waktu. Ia sangat tidak baik-baik
saja.
“Aku
tidak percaya padamu. Da Dong, kurasa sebaiknya kau istirahat~” ucap Ya Lun
sambil menggulung kertas karton berisi coretan sketsa gedung di hadapan Da
Dong. Ia segera membereskan peralatan di atas meja. Bisa dibilang, pria satu
ini sangat care dengan Da Dong sejak bekerja di perusahaan ini.
“Ya
Lun, kau berlebihan…” ucap Da Dong.
“Aku
tidak mungkin membiarkanmu mati di dalam ruangan ini. Kau masih bisa berjalan?”
tanya Ya Lun dengan nada yang cukup dingin, namun Da Dong mengerti, ada celah
kehangatan dalam tutur kata yang dingin itu.
“Hm.
Aku baik-baik saja,” ucap Da Dong. Ia segera bangkit dari kursinya dan berjalan
keluar bersama Ya Lun.
“Aku
sempat melihat sedikit, kau sangat berbakat merancang gedung, Ya Lun,” ucap Da
Dong.
“Tapi,
tidak pernah lebih baik darimu…” ucap Ya Lun.
“Suatu
saat kau yang akan menggantikan posisiku,” ucap Da Dong.
“Maksudmu?”
“Bagaimana
pun suatu saat aku harus pergi dari perusahaan~ Aku tidak mungkin terus
tinggal…” ucap Da Dong, sejenak ia menghirup udara panjang lalu
menghembuskannya perlahan.
“Jangan
hanya karena menikah dengan Cheng Lin lalu kau pergi dari perusahaan… Itu
sangat tidak adil.” Mendengar hal itu Da Dong tersenyum.
“Aku
dan Cheng Lin memang akan segera menikah~ Dia sudah tidak sabar ingin menikah…”
“Baguslah~
Setidaknya hubungan kalian akan lebih jelas. Tidak seperti hubunganku dengan
Gui Gui yang tidak begitu jelas…” kali ini Ya Lun terdengar sedikit frustasi.
“Kau
terlalu berlebihan. Gui Gui itu gadis yang manis, coba kau sedikit bersikap
lunak padanya. Kurasa kau terlalu
dingin…” ucap Da Dong sambil menepuk bahu Ya Lun.
“Aku
tidak akan bisa!” kali ini Ya Lun berjalan lebih cepat dari sebelumnya,
mendahului Da Dong.
“Ya
Lun, tunggu!” seru Da Dong.
“Ya Lun… Akh!”
*************************************************************************************
Matahari
mulai merangkak naik ke atas ubun-ubun—membakar kepala dan kulit rasannya.
Namun, hal itu tak mengurangi sedikitpun niat Cheng Lin yang sudah sangat
semangatnya ingin bertemu Da Dong. Beberapa menit yang lalu, ponselnya
berdering—telepon dari Da Dong.
“Aku
ingin bertemu denganmu~ Ada yang ingin kubicarakan… Kau ada waktu?” bahkan
suara Da Dong yang lembut itu masih terngiang jelas di telinga Cheng Lin.
“Kutunggu
di danau…”
Cheng Lin mempercepat langkahnya,
semakin cepat dan semakin cepat—berlari kecil. Segaris senyum menghias
wajahnya.
‘Da
Dong ge, apakah hari ini? Apa kau akan melamarku hari ini? Aku sangat tidak
sabar…!’ batin Cheng Lin.
“Da
Dong ge! Aku datang! A… ku… da… tang…” Cheng Lin berteriak ke arah Da Dong, ia
tampak sangat terengah-engah. Namun, senyuman Da Dong telah membayar
semuanya—impas.
“Wu
an~ (selamat siang)” sapa Da Dong, namun tak merubah posisi duduknya. Cheng Lin
segera duduk di samping Da Dong—di atas rerumputan di pinggir danau.
“Wu
an! (selamat siang) Eh, ada apa kau tiba-tiba?” tanya Cheng Lin tak sabar.
“Dui
bu qi (maaf), siang-siang begini aku mengganggumu… Tapi, ada yang ingin aku
tanyakan padamu. Satu hal…” wajah Da Dong kembali serius seperti biasanya.
“Eh?
Shen me? (apa?)” tanya Cheng Lin. Ia berpura-pura tenang meski ia tahu bahwa
jantungnya sudah berdetang kencang sekali.
“Itu…
Apa keinginanmu saat ini?” tanya Da Dong.
“Eh?
Keinginan?” tanya Cheng Lin balik.
‘Ahh~
kupikir dia akan benar benar melamarku… Aku terlalu semangat… Huh!’ batin Cheng
Lin.
“Jadi?”
ucapan Da Dong merusak alam khayalan Cheng Lin.
‘Ah,
atau kupancing saja ya~ Hmm~’ batin Cheng Lin.
“Aku
ingin menikah~” ucap Cheng Lin.
“Menikah?
Hanya itu?” tanya Da Dong.
“Untuk
saat ini… Cuma itu keinginanku…” jawab Cheng Lin.
“Apa
kau sangat ingin? Apa kau akan bahagia?” tanya Da Dong lagi.
“Hm.
Kurasa aku akan bahagia…” jawab Cheng Lin.
“Ah,
Cheng Lin, lihat!” tiba-tiba Da Dong berteriak sambil menunjuk satu objek di
depan matanya. Seekor burung merpati putih yang entah dari mana dan kapan
tiba-tiba muncul dan terbang di atas danau.
“Eh?
Itukan hanya burung merpati biasa? Kenapa heboh begitu?” tanya Cheng Lin. Ia
tak menganggap burung yang tengah terbang itu sebagai hal yang istimewa.
“Tidak.
Dia istimewa~ Dia… memanggil teman-temannya…” ucap Da Dong tersenyum.
“Eh?
Maksudmu?” tanya Cheng Lin tak mengerti.
“Dia
sedang menari dan bernyanyi, mengundang teman-temannya ke danau ini. Pasti~”
“Tapi,
dimana yang lainnya? Aku tidak melihat seekor— Ahh! Benar! Itu mereka!” seru
Cheng Lin begitu dilihatnya beberapa ekor merpati putih lain yang datang dari
arah yang berlawanan.
“Wah,
ke ai le! (cantiknya!)” seru Cheng Lin begitu melihat burung-burung merpati itu
sudah memenuhi angkasa di atas danau.
“Kau
senang?” tanya Da Dong.
“Hm!”
Cheng Lin mengangguk mantap.
********************************************************************************
“Ahhh!
Aku capek kalau kau seperti ini terus! Lama-lama aku tidak tahan!” terdengar
suara gadis berteriak. Itu terdengar dari ruangan Ya Lun. Da Dong yang
penasaran pun segera meletakkan pensil yang semula digenggamnya dan beranjak
menuju ruangan Ya Lun.
“Gui
Gui, Ya Lun, kalian baik-baik saja?” tanya Da Dong. Ruangan hening selama
beberapa detik. Hanya terdengar nafas Gui Gui yang masih tersengal-sengal
akibat terlalu banyak berbicara.
“Kita
lanjutkan ini lain kali!” seru Gui Gui lalu keluar dari ruangan Ya Lun—tentunya
dengan amarah yang masih bergulat di hatinya.
Ya Lun menghela nafas panjang lalu
menelungkupkan wajahnya ke dalam bekapan kedua telapak tangannya.
“Apa
lagi…?” tanya Da Dong sembari duduk di salah satu kursi di depan meja Ya Lun.
“Dia
ingin aku meluangkan banyak waktu untuknya~ Tapi, kau tahu, kan, kalau hidupku
bukan hanya untuk mengurusnya? Dia pikir aku baby sitter-nya apa?” gerutu Ya
Lun.
“Hahaha…
Jadi, hanya karena itu?” Da Dong terkekeh mendengar penjelasan Ya Lun barusan.
Dalam pikirannya, ia merasa bahwa pikiran Ya Lun dan Gui Gui itu masih
sama-sama kekanakannya.
“Kau
pikir ini hal yang lucu apa?” kali ini Ya Lun mengetukkan pulpen di tangannya
ke atas meja kaca di hadapannya sambil melemparkan tatapan evil pada Da Dong.
“Wei,
berhentilah menatapku seperti itu~” Da Dong meraih pulpen biru di
genggaman Ya Lun itu da merobek secarik
kertas notes di sampingnya.
“Kalian
itu~ seperti… ini!” Da Dong menunjukkan gambar yang baru saja dibuatnya. Ia
membuat sketsa chibi Ya Lun dan Gui Gui dengan sebuah gambar hati di tengah
mereka.
“Kalian
terlalu kekanakan. Mau tidak mau salah satu dari kalian harus mengalah~” ucap
Da Dong lalu kembali mencorat-coret kertas yang kini telah berada di tangannya.
“Aku
tidak mau~ Itu bukan image-ku!” ucap Ya Lun keras kepala.
“Kalau
begitu kalian putus saja!” ucap Da Dong sambil menyodorkan gambar hati yang
sudah dibagi menjadi dua bagian.
“Tapi,
aku mencintainya…” gumam Ya Lun lirih. Namun, Da Dong bisa mendengarnya dengan
jelas.
“Kalau
begitu pertahankan! Bukankah yang paling penting dalam menjalani sebuah
hubungan adalah bagaimana cara kita mempertahankannya? Hm?” ucap Da Dong.
“Kalahkan
sedikit keegoisanmu… Berikan sedikit toleransi bagi Gui Gui. Dia memang lebih
muda darimu, jadi kau harus mengerti bahwa dia ingin sekali kau memanjakannya
seperti gadis yang lainnya,” lanjutnya. Sejenak Ya Lun tampak
berpikir—bermain-main dengan alam pikirannya. Ia merasa ucapan Da Dong ada benarnya
juga.
.
TOK
TOK
TOK
.
“Da
Dong, kau disana?” tanya sebuah suara dari sisi pintu.
“Ah,
Yi Ru. Ada apa?” Da Dong bangkit dari duduknya dan bergegas menghampiri Yi Ru.
“Bos
mencarimu. Ia menunggumu di ruangannya,” jawab Yi Ru singkat.
“Ah,
begitu. Aku akan kesana,” ucap Da Dong tersenyum sekilas. Ia mengalihkan
pandangannya pada Ya Lun yang masih terpaku di tempatnya.
“Ya
Lun, pikirkan baik-baik!” ucap Da Dong sejenak sebelum pintu ruangan Ya Lun
tertutup kembali.
***************************************************************************************
“Ah,
Da Dong ge! Kenapa tiba-tiba kau datang ke rumah?” tanya Cheng Lin yang
terkejut melihat kedatangan Da Dong di rumahnya.
“Ada
yang ingin kubicarakan. Ke yi ma? (Boleh?)” tanya Da Dong.
“Hao
la (baiklah). Masuklah.”
.
“Da
Dong ge, apa yang membawamu kemari?” tanya Cheng Lin sambil meletakkan segelas
orange juice di atas meja.
“Aku
akan bertanya sekali lagi,” ucap Da Dong.
“Eh?
Tentang apa?” tanya Cheng Lin.
“Kau
sungguh ingin menikah? Denganku, kah?” tanya Da Dong.
“Eh?
Tentu saja. Memangnya mau menikah dengan siapa lagi?” ucap Cheng Lin sambil
tertawa kecil.
“Kau
akan bahagia, kan? Kau akan bahagia, kan, setelah menikah denganku?” tanya Da
Dong lagi.
“Hm!”
Cheng Lin mengangguk.
“Baiklah…
Kita akan menikah. Kapan kau ingin kita menikah? Bulan depan? Tahun depan?”
tanya Da Dong. Kali ini Cheng Lin melihat ketidakwajaran pada sikap Da Dong
hari ini.
“Da
Dong ge, kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?” tanya Cheng Lin menyelidik.
“Aku
merasa ucapanmu selama ini benar. Lebih baik kita segera menikah. Apa kau tidak
senang aku bertanya begini?”
“Ah!
Tidak! Bukan begitu! Aku senang, kok! Aku cuma heran saja… Tiba-tiba kau
mengajukan hal ini mendadak. Aku kan jadi kaget…” ucap Cheng Lin.
“Ahahaha…
Jadi itu, ya? Dui bu qi (maaf)… Nah, jadi, kau ingin kita menikah kapan?
Bukankah orang tuamu sudah mendesak kita menikah?” ucap Da Dong.
“Iya,
mereka juga mendesak agar kita segera menikah…” jawab Cheng Lin.
“Tapi,
Cheng Lin… Aku ingin kau berjanji dua hal padaku sebelum kita menikah,” ucap Da
Dong.
“Shen
me? (apa?)” tanya Cheng Lin.
“Pertama,
berjanjilah untuk bahagia apapun yang terjadi…”
“Eh?
Memangnya kenapa?” potong Cheng Lin.
“Berjanjilah
padaku,” ucap Da Dong.
“Baiklah~
Terserah kau saja.”
“Berjanjilah
dari lubuk hatimu yang terdalam, Cheng Lin.”
“Eh?
Baiklah~ Aku berjanji akan bahagia apapun yang terjadi. Lalu yang kedua?”
“Menangislah
karena bahagia~ Aku memberimu kesempatan menangisi hal menyedihkan sekali!
Janji?” Da Dong mengulurkan kelingkingnya.
“Dasar,
aneh! Baiklah~ Aku janji,” Cheng Lin melingkarkan jari kelingkingnya pada Da
Dong.
*************************************************************************************
Hari
ini adalah hari paling bahagia dalam hidup Cheng Lin. Hari yang sudah
dinantinya sejak lama, dengan konsep yang sudah disusunnya dalam goresan tinta
diatas kertas-kertas putih buku diary-nya. Pernikahan bernuansa putih dan biru
itu menghias tiap inchi taman di samping danau. Tak lupa ratusan bunga mawar
ditebarkan di permukaan air danau. Kue tart dilapisi buah kiwi dan blueberry di
bagian puncaknya menghias meja paling ujung.
“Mama,
aku deg-deg-an sekali~ Aiyoo~” gerutu Cheng Lin saat mereka berjalan menuju
tempat pernikahan.
“Tenanglah~
Semuanya akan baik-baik saja…” ucap Mama.
“Astaga~
Bagaimana bisa calon suamiku jadi begitu tampaaan…!” gumam Cheng Lin dalam hati
begitu dilihatnya Da Dong yang sudah berdiri di tempat pernikahan lebih dulu.
Sejenak, ia melukis segaris senyum pada Cheng Lin. Hal itu justru membuat Cheng
Lin jadi salah tingkah.
***********************************************************************************
“Baiklah~
pengantin pria boleh mencium mempelainya…”
Kali ini Da Dong tanpa ragu mencium lembut
Cheng Lin. Namun, Cheng Lin merasakan ketidak beresan pada ciuman Da Dong kali
ini. Terasa dingin… Ya… Dingin sekali—sampai rasanya akan membekukan bibirnya
sendiri.
“Cheng
Lin… Aku mencintaimu… Wo ai ni~ Yong yuan ai ni~ (aku mencintaimu~ selamanya mencintaimu~)”
ucap Da Dong lalu memeluk Cheng Lin dalam sekali. Ia bersandar pada bahu Cheng
Lin.
.
TES!
.
Setetes air mata jatuh dari mata bening
Da Dong. Sakit teramat sangat sudah menyerang kepalanya sejak tadi. Namun,
sebisa mungkin ia menahannya. Sakit yang sudah merajamnya selama kurang lebih
setengah jam lamanya—sakit yang luar biasa. Ia mendekap Cheng Lin lebih dalam
dan lebih dalam lagi, berharap rasa sakitnya itu berkurang.
“Da
Dong ge, wei shen me o? (kenapa?)” tanya Cheng Lin yang merasa dirinya sudah
nyaris kehabisan nafas dalam pelukan Da Dong. Tak ada jawaban apapun dari bibir
Da Dong.
“Da
Dong ge, Da Dong ge, wei shen me o?” Cheng Lin mengulang kalimatnya. Tetap
sama. Tak ada sedikitpun kata terlontar
dari bibir Da Dong.
“Da
Dong ge, bangkit…lah. Aku tidak bisa… bernafas…” Cheng Lin mendorong tubuh Da
Dong yang semula mendekapnya.
.
BRUKH!
.
Tubuh Da Dong jatuh ke tanah begitu saja.
“Da
Dong ge!” teriak Cheng Lin. Serempak beberapa tamu, termasuk Ya Lun dan Gui Gui
berkerumun di tempat Da Dong terjatuh.
“Da
Dong! Wei, Wang Da Dong! Bangunlah! Da Dong, apa yang terjadi?” Ya Lun yang
panik segera mengguncang pelan tubuh Da Dong. Namun, tak ada respon sama sekali
dari Da Dong. Ya Lun segera menelepon rumah sakit, sedangkan Cheng Lin semakin
histeris melihat pengantin prianya yang tak merespon sama sekali itu. Ia
semakin kalut.
“Da
Dong ge!! Da Dong ge, bangunlah! Bangunlah dan jelaskan apa yang terjadi!
Bangunlah, Da Dong ge!!” Cheng Lin menangis sambil terus mengguncang-guncang
tubuh Da Dong.
“Da
Dong ge, bangunlaaahhh!! Katakan apa maksudmu dengan ini semua!!
Bangunlaahhh!!!” Cheng Lin semakin tidak terkontrol. Bahkan Gui Gui dan Mamanya
sudah berusaha menenangkannya. Namun, tak berhasil sama sekali. Ia semakin
histeris dan semakin histeris.
.
.
“Itu… Apa
keinginanmu saat ini?”
“Eh?
Keinginan?”
“Aku
ingin menikah~”
“Menikah?
Hanya itu?”
“Untuk
saat ini… Cuma itu keinginanku…”
“Apa kau
sangat ingin? Apa kau akan bahagia?”
“Hm.
Kurasa aku akan bahagia…”
.
.
“Cheng
Lin, apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Ya Lun yang melihat Cheng Lin melamun
di teras.
“Ah,
kau. Aku sedang memikirkan sesuatu~”
“Eh?
Apa itu?”
“Sampai
sekarang aku tak habis pikir, kenapa saat itu ia malah bertanya ‘Apa
keinginanmu saat ini?’ Sementara harusnya akulah yang melontarkan kalimat itu
padanya saat itu. Harusnya aku yang bertanya apa keinginan terakhirnya~” Cheng
Lin tampak sangat berusaha menahan air mata yang sudah nyaris menetes itu.
“Cheng
Lin, menangislah kalau—“ kalimat Ya Lun terpotong.
“Aku
sudah berjanji padanya untuk tidak menangis! Aku pasti bisa menepati janjiku!
Janji terakhirku padanya~” ucap Cheng Lin. Ya Lun tertegun sejenak.
“Mungkin
aku tahu kenapa ia bertanya tentang keinginanmy saat itu~” ucap Ya Lun.
“Eh?”
“Satu-satunya
keinginannya adalah… Melihatmu bahagia. Maka dari itu, dia bertanya, apa yang
paling kau inginkan, itu adalah hal yang pasti akan membuatmu bahagia… Dia
sangat mencintaimu, Cheng Lin… Aku tahu itu,” ucap Ya Lun sembari tersenyum.
“Ah~
begitu… Dasar, bodoh~ Malah memikirkan kebahagiaanku~” ucap Cheng Lin sambil
menghapus air mata yang sudah tak tertahankan lagi. Tapi, kali ini yang terukir
setelah itu bukanlah kesedihan, tapi senyuman manis dari wajah Cheng Lin.
“Ah,
iya. Ya Lun, kenapa kau ada disini?”
“Oh,
itu… Aku hanya ingin mengajakmu keluar bersama Gui Gui juga, kau ada waktu?”
“Baiklah~”
_____________the end________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar