Kamis, 15 Maret 2012

Ketika Aku Sedekat Bintang


Title     : Ketika Aku Sedekat Bintang

Author    : dita-cHun

Genre     : Romance, Drama

Music     : Shou Hu Xing (Guardian Star)- Fahrenheit

Cast :

Dita [OC]

Wu Chun

Jiro Wang

Aaron Yan

Calvin Chen

Disclaimer    : Anggota FLH hanya milik tuhan semata, sementara segala setting dan alur di cerita ini adalah sepenuhnya milik author. So, no bashing, ok? ^^

Warning       : gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~ XD


.dui bu qi, karena nama saya mungkin akan membuat cerita ini jadi terlalu personal~
.saya lagi malas mengubah nama #plak#
.jadi, ubah saja nama “Dita” menjadi nama kalian masing-masing~







Langit sore ini adalah langit yang sama seperti langit sore tiga tahun yang lalu. Dimana aku pun berjalan ke arah yang sama. Kulangkahkan kakiku penuh kemantapan, meninggalkan segala beban profesi yang aku jalani. Hari ini aku libur dari pekerjaanku. Karenanya, aku tak mungkin menyianyiakan kesempatan ini. Kulihat pintu masuk gedung masih tertutup rapat. Tentu saja. Itu karena aku datang lebih awal dari acara yang seharusnya.
Aku ingin melihat mereka sebelum mereka naik ke panggung. Kuharap mereka masih mengingatku. Aku yang tiga tahun lalu pernah kemari. Setidaknya, aku ingin satu orang menyadari keberadaanku, mengingatku, atau paling tidak menyapaku dengan senyuman tipis. Meski kutahu, itu hanyalah harapan yang sangat kecil mampu terwujud. Aku duduk di salah satu kursi di dekatku. Kualihkan pandanganku menuju rerimbunan pohon di luar sana. Sejuk sekali. Tanpa sadar, aku kembali mengenang masa laluku.

.

TAP! TAP! TAP!

.

Aku melangkahkan kakiku penuh keyakinan berharap akulah orang pertama yang akan masuk ke dalam gedung itu. Namun, sesampaiku di sana, sudah banyak sekali orang-orang yang telah menunggu dengan duduk-duduk sambil berkipas-kipas ria. Panasnya udara sore ini tak menggoyahkan semangat sama sekali untuk datang ke gedung ini. Lama kami menunggu. Pintu gedung tak kunjung dibuka. Sudah dua jam lebih aku duduk sambil menggenggam stick lamp di tangan kiriku dan kipas besar bergambar boyband favoritku dari Taiwan, FAHRENHEIT. Aku terus berkipas ria sambil sesekali menggerutu kesal. Karena kekesalanku yang telah memuncak, aku iseng-iseng mencoba mengintip sedikit ke dalam gedung. Aku naik ke tangga samping, tak ada yang tahu aku di sana. Ada jendela tepat di sisi kiriku. Karena jendela itu agak gelap, kubuka saja jendelanya dan aku memberanikan diri melompat masuk. Meski aku akan disangka orang jahat jika ada yang mengetahui keberadaanku, aku tak peduli. Mataku berpencar ke sekeliling dan akhirnya tertuju pada salah satu objek. Aku terkejut dibuatnya.

“Aaaargghhh…!! Aaaargghhh…!!” aku melihat Wu Chun, salah satu personel mereka tengah berteriak kesakitan. Di sekelilingnya ada ketiga personel lainnya, Aaron Yan, Calvin Chen, dan Jiro Wang, serta kru-kru yang lain. Wu Chun terus mencengkeram lantai panggung. Seorang kru memijat kakinya. Bukannya mereda, teriakannya malah semakin menjadi-jadi.

“Sebaiknya dia dibawa ke ruang ganti saja. Lukanya tampak parah. Kami akan menelepon dokter,” ucap salah seorang kru dengan bahasa mandarin yang cukup kumengerti. Mereka segera membawa Chun ke ruang ganti. Aku memandang sekeliling. Tak ada orang. Aku segera berjalan mengendap-endap mengikuti mereka. Aku bersembunyi di balik barisan pakaian. Kulihat Chun terus mengaduh kesakitan.

“Tenanglah, Chun… Dokter akan segera tiba…” ucap Aaron mencoba menenangkan Chun.

“Kalian bertiga tolong jaga dia. Kami akan meredam penonton terlebih dahulu, ucap salah satu dari mereka. Kru-kru berpakaian hitam itu meninggalkan Fahrenheit di dalam ruang ganti. Aku menatap Chun pilu. Kutundukkan kepalaku lemas. Tiba-tiba aku melihat seekor kecoa ada di dekatku. Aku yang sangat alergi dengan binatang bernama kecoa itu seketika menutup mulut rapat-rapat. Tak kusangka kecoa itu terus mendekat dan akhirnya meraba kakiku.

“Kyaaaa…!!!” aku berusaha menghindar, tapi ternyata itu membuatku terjatuh bersama tumpukan baju yang menimpa tubuhku. Kecoa itu telah pergi, namun suasana ruang ganti menjadi hening seketika selain suara Chun yang masih terus mengaduh.

“Eh?” Jiro segera bereaksi dan menghampiriku.

“Miss, are you ok? (Nona, kau baik-baik saja?)” tanya Jiro dengan bahasa Inggris. Aku muncul dari tumpukan pakaian.

“Yeah…” jawabku agak ketakutan, aku takut mereka membawaku ke kantor polisi. Jiro membantuku bangun.

“I’m sorry! (Maafkan aku!)” aku merendahkan badanku pada mereka.

“Who are you? (Siapa kau) ” tanya Aaron.

“I…I…I’m Dita. Emm… (Aku… Aku… Aku Dita. Emm…)” aku jadi salah tingkah sendiri disini.

“Apa maksudmu dengan menyelinap ke ruang ganti kami?” tanya Calvin dengan bahasa Inggris.

“Aku… Sungguh, tidak ada niat buruk apapun terhadap kalian. Aku hanya ingin melihat apa yang terjadi!” jawabku dengan bahasa Inggris yang kikuk. Aaron dan Calvin menghampiriku. Mereka malah dengan lancang membuka jaket yang melekat di tubuhku.

“Hei! Apa yang kalian lakukan?” seruku terkejut. Mereka merogoh tiap saku pakaianku.

“Tidak ada kamera, ponsel, atau apapun disini,” ucap Aaron yang barusan memeriksa jaketku.

“Dia tidak membawa apapun selain uang seratus ribu rupiah di dalam saku celananya,” ucap Calvin. Aku melotot dibuatnya. Dia bahkan tahu uangku seratus ribu, padahal ia tak melihatnya sama sekali.

“Berarti dia bukan paparazzi,” timpal Jiro diikuti anggukan kedua temannya.

“Aarrghh…” suara Chun memecah suasana. Aku segera menghampirinya. Kulihat darah mengucur dari kaki sebelah kirinya.

“Kenapa kalian hanya diam melihat teman kalian terluka?!” aku mulai emosi. Aku mengobrak-abrik pakaian yang tadi menimpaku, kuambil tas pink milikku.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Jiro.

“Aku dokter… Ah, bukan. Tepatnya calon dokter. Tapi, kalau hanya luka seperti ini aku sudah tahu!” ucapku sambil mencari perban yang biasa kubawa di tasku. Tiba-tiba Aaron menggenggam lenganku keras.

“Tak akan kubiarkan kau melukainya! Kau masih calon dokter dan bukan dokter yang sesungguhnya!” teriak Aaron emosi.

“Tahun depan aku akan lulus! Aku sudah mempelajari hal ini di kampusku! Kau yang tidak tahu sebaiknya diamlah! Aku tidak ingin dia mati kehabisan darah!” bentakku balik.

“Mungkin dia tidak bermaksud buruk,” ucap Calvin. Aaron melepaskan genggamannya dariku. Aku segera beraksi, mengutak-atik kaki kiri Chun yang terluka.

“Aaaargghh…!! Aaaarghh…!!” teriak Chun saat kutekan salah satu bagian kakinya.

“Kau melukainya!!” teriak Aaron namun Calvin meredamnya. Aku tak berkomentar.

“Chun, maafkan aku, ini akan sakit… Tapi, ini hanya sebentar. Tahanlah…” ucapku. Chun mengangguk menyiapkan mentalnya. Kutekan bagian luka itu keras.

“Aaaarrghhh….!!” Chun berteriak semakin kencang.

“Baiklah. Ini sudah cukup,” aku membalut lukanya dengan perban.

“Maafkan aku, Chun… Maaf sudah menyakitimu,” ucapku.

“Tidak, terima kasih… Emm…”

“Dita. Namaku Dita,” ucapku.

“Ya, terima kasih, Dita,” ucap Chun.

“Chun, dokter sudah…” seorang kru memasuki ruangan.

“Eh? Siapa kau?” tanya kru itu terkejut melihat keberadaanku.

“Aku adalah seorang fans!” seruku.

“APA?!”

“Tenanglah, dia tidak menyakitiku. Dia yang telah menolongku,” ucap Chun meredam emosi kru tersebut. Seorang dokter memasuki ruang ganti. Ia memeriksa kaki kiri Chun.

“Antisipasi yang bagus, Nak!” seru dokter itu.

“Tentu saja. Aku kan (calon) dokter!” ucapku.

“Baiklah, Chun… Kau masih bisa tampil, tapi dengan tongkat. Bagaimana?” tanya dokter. Chun mengangguk.

“Tidak apa. Demi fans-ku,” ucap Chun tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya tipis.

“Baiklah, aku akan menyuruh seseorang mengambil tongkat yang pas untukmu,” ucap dokter. Chun mengangguk.

“Bisakah kalian tinggalkan kami berdua?” tanya Chun. Mereka semua meninggalkan kami berdua di dalam ruang ganti.

“ Duduklah di sampingku,” ucap Chun bergeser dari tempatnya semula. Aku hanya menurut.

“Sebutkan permohonanmu!” ucap Chun. Aku mengerutkan dahi bingung.

“Kau ingin makan malam dengan kami? Dengan salah satu dari kami? Tanda tangan? Hadiah? Atau…” Chun menggantungkan kalimatnya.

“Aku ingin kau menjabat tanganku, kita berkenalan seperti orang-orang dan aku ingin kau terus menyanyi demi kami semua, fansmu. Aku dan mereka…” ucapku. Air mataku mengalir menahan haru.

“Ni hao? Ren shi ni hen gao xing! Wo jiao Wu Chun. Ni? (Apa kabar? Senang bertemu dengan anda! Namaku Wu Chun. Kau?)” Chun mengulurkan tangannya padaku dengan senyum semanis itu. Aku menjabat tangannya.

“Wo? Wo jiao Dita. Ren shi ni hen gao xing… (Aku? Namaku Dita. Senang bertemu denganmu…)” ucapku berlinang air mata. Wu Chun menghapus butiran yang baru saja jatuh dari mataku kemudian ia memelukku.

“Xie xie… (Terima kasih…) Terima kasih kau sudah menjadi fansku… Terima kasih atas dorongan kalian semua…” ucap Chun. Meski awalnya terkejut aku membalas pelukannya. Saat itulah… Aku sedekat bintang… Bintang yang selama ini hanya mampu kulihat dari jauh. Chun melepaskan pelukannya. Ia merogoh tasku lancang dan mengambil ponselku.

“Ingatlah… Bahwa kita pernah bertemu sedekat ini…” ucap Chun.

“Say cheese!” seru Chun.

“Cheese…!” seru kami berdua. Chun memotret kami. Chun yang sedang ada dekat sekali di sampingku.

“Simpanlah,” Chun mengembalikan ponselku. Ia kemudian meraih gulungan perban yang tersisa. Dipotongnya persegi perban itu lalu ia membubuhkan tanda tangannya di atas sana.

“Aku pasti akan datang lagi. Kalau kau datang kemari, bawa ini. Aku akan mengingatmu,” ucap Chun.

“Chun… Acara akan dimulai lima menit lagi,” ucap Calvin mengingatkan. Chun mengangguk.

“Eh, Nona! Kau tidak ingin masuk ke dalam?” tanya salah seorang diantara fans. Aku tersadar dari lamunanku. Suara jeritan membahana ke sekeliling. Kulihat sebuah mobil van telah berdiri di depan gedung. Aku ikut berdiri di antara orang-orang. Akankah mereka masih mengenaliku? Mengingatku? Aku tersenyum sambil menatap Chun. Chun menoleh sejenak padaku lalu berlalu tanpa sama sekali senyuman atau salam. Ia hanya berlalu dengan wajah dingin. Lupa. Ya. Mereka lupa padaku. Waktu telah mengubah segalanya. Ingatan dan kenangan. Mungkin, hanya aku yang mampu mengenang kenangan itu…

Selepas pintu masuk dibuka aku dan para fans lainnya memasuki arena. Aku tak menyurutkan senyumku. Aku terus menatap mereka semua dari kejauhan. Mereka memang bintang-bintang berkilauan yang hanya mampu kulihat dari jauh.

“Wu Chun….!!!!” teriakku mengikuti sorak sorai penonton lainnya.

“Wu Chun….!!!!” teriakku lagi lebih keras. Aku terus mengulang kata itu. Aku mengulangnya meski kutahu Chun tak akan mendengarnya. Aku bahagia meneriakkan kata-kata itu.

“Baiklah… Kali ini adalah lagu yang paling spektakuler yang Fahrenheit persembahkan untuk kalian! Shou Hu Xing…!!” seru pembawa acara. Fahrenheit naik ke atas panggung.

~Now Playing :: SHOU HU XING (GUARDIAN STAR)-FAHRENHEIT~

Aku masih merasakan kenormalan suasana di atas panggung dengan background fans Fahrenheit yang muncul sesuai hasil edit video. Sampai akhirnya lagu Shou Hu Xing berakhir.

“Kami memiliki sebuah video yang cukup menarik bagi kami. Video yang terekam kamera CCTV tiga tahun lalu di gedung ini,” ucap Jiro mengawali pembicaraan dengan bahasa Inggris.

“Aku yang paling tertarik dengan video ini. Video yang mengingatkanku pada seorang fans. Maaf kalau kalian akan bosan menyaksikan ini,” timpal Chun.

“Aku masih mengingatnya~” ucap Aaron singkat.

“Dan kuharap, kau ada disini~” ucap Calvin. Semua penonton diam terpaku. Video itu terputar.

~KAMI DAN DIA~

Itulah judul yang muncul di awal video. Bagaikan film drama, aku mencoba memusatkan mataku. Dan aku terbelalak melihat diriku di dalam sana. Itu adalah… Kenangan kami tiga tahun yang lalu…!

“Kyaaaa…!!!”

“Eh?”

“Miss, are you ok? (Nona, kau baik-baik saja?)”

“Yeah…”

“I’m sorry! (Maafkan aku!)”

“Who are you? (Siapa kau)”

“I…I…I’m Dita. Emm… (Aku… Aku… Aku Dita. Emm…)”

“Apa maksudmu dengan menyelinap ke ruang ganti kami?”

“Aku… Sungguh, tidak ada niat buruk apapun terhadap kalian. Aku hanya ingin melihat apa yang terjadi!”

“Hei! Apa yang kalian lakukan?”

“Tidak ada kamera, ponsel, atau apapun disini”

“Dia tidak membawa apapun selain uang seratus ribu rupiah di dalam saku celananya”

“Berarti dia bukan paparazzi”

“Aarrghh…”

“Kenapa kalian hanya diam melihat teman kalian terluka?!”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku dokter… Ah, bukan. Tepatnya calon dokter. Tapi, kalau hanya luka seperti ini aku sudah tahu!”

“Tak akan kubiarkan kau melukainya! Kau masih calon dokter dan bukan dokter yang sesungguhnya!”

“Tahun depan aku akan lulus! Aku sudah mempelajari hal ini di kampusku! Kau yang tidak tahu sebaiknya diamlah! Aku tidak ingin dia mati kehabisan darah!”

“Mungkin dia tidak bermaksud buruk”

“Aaaargghh…!! Aaaarghh…!!”

“Kau melukainya!!”

“Chun, maafkan aku, ini akan sakit… Tapi, ini hanya sebentar. Tahanlah…”

“Aaaarrghhh….!!”

“Baiklah. Ini sudah cukup”

“Maafkan aku, Chun… Maaf sudah menyakitimu”

“Tidak, terima kasih… Emm…”

“Dita. Namaku Dita”

“Ya, terima kasih, Dita”

“Chun, dokter sudah…”

“Eh? Siapa kau?”

“Aku adalah seorang fans!”

“APA?!”

“Tenanglah, dia tidak menyakitiku. Dia yang telah menolongku”

“Antisipasi yang bagus, Nak!”

“Tentu saja. Aku kan (calon) dokter!”

“Baiklah, Chun… Kau masih bisa tampil, tapi dengan tongkat. Bagaimana?”

“Tidak apa. Demi fans-ku,”

“Baiklah, aku akan menyuruh seseorang mengambil tongkat yang pas untukmu”

“Bisakah kalian tinggalkan kami berdua?”

“ Duduklah di sampingku”

“Sebutkan permohonanmu!”

“Kau ingin makan malam dengan kami? Dengan salah satu dari kami? Tanda tangan? Hadiah? Atau…”

“Aku ingin kau menjabat tanganku, kita berkenalan seperti orang-orang dan aku ingin kau terus menyanyi demi kami semua, fansmu. Aku dan mereka…”

“Ni hao? Ren shi ni hen gao xing! Wo jiao Wu Chun. Ni? (Apa kabar? Senang bertemu dengan anda! Namaku Wu Chun. Kau?)”

“Wo? Wo jiao Dita. Ren shi ni hen gao xing… (Aku? Namaku Dita. Senang bertemu denganmu…)”

“Xie xie… (Terima kasih…) Terima kasih kau sudah menjadi fansku… Terima kasih atas dorongan kalian semua…”

“Ingatlah… Bahwa kita pernah bertemu sedekat ini…”

“Say cheese!”

“Cheese…!”

“Simpanlah”

“Aku pasti akan datang lagi. Kalau kau datang kemari, bawa ini. Aku akan mengingatmu”

“Chun… Acara akan dimulai lima menit lagi”

Semuanya terekam jelas di video itu. Aku hanya menganga melihatnya. Video itu berakhir setelah itu ganti background bubbles yang menghiasi layar. Fahrenheit yang semula turun dari panggung naik kembali.

“Aku melihatmu disana… Dan aku masih sangat mengingatmu… Dita~” ucap Chun. Ia memandang ke arahku, Lampu penonton mengarah padaku.

“Kemarilah~” ucap Chun. Aku hanya menurut. Aku menaiki panggung yang tidak terlalu besar itu. Seorang kru memberiku microphone. Wu Chun tersenyum ke arahku.

“Terima kasih kau sudah datang… Terima kasih kau menepati janjimu… Terima kasih kau masih mengingatku… Dan… Terima kasih kau sudah mau tersenyum padaku,” ucapku dengan linangan air mata. Wu Chun memelukku.

“Dokter, aku tidak akan mengingkari janji!” ucap Chun seperti anak-anak. Aku melepaskan pelukannya.

“Hmh~ Tidak seru kalau Chun memiliki fans di atas panggung tapi kami tidak. Nah, kami akan memilih fans yang beruntung untuk naik ke atas panggung dan bermain games bersama kami!” seru Jiro. Mereka bertiga turun dari panggung dan menggandeng fans masing masing untuk naik ke atas panggung. Kami pun bermain games dengan gembira. Lagu Shou Hu Xing terus melantun sepanjang acara games ini.

“Chun… Aku berjanji akan selalu menyimpan kenangan itu dan ini… Aku akan menyimpannya dalam hatiku yang paling dalam… Bintangku… Wu Chun…” batinku.




_____the end_____





Tidak ada komentar:

Posting Komentar