Kamis, 15 Maret 2012

Come Back. . . [Part I]

Title         : Come Back . . .

Author      : dita-cHun

Type         : Multichapter

Part          : 1

Rating      : PG+12

Genre       : Romance

Music       : Beat Line by Hey! Say! JUMP

Cast         :

Kanazawa Yuuri (OC)

Mizuhara Karin (OC)

Yamada Ryosuke

Chinen Yuuri

Arioka Daiki

POV          : Kanazawa Yuuri

Disclaimer        : Seluruh tokoh milik Tuhan, kecuali plot adalah milik saya XD, no bashing. Mau bash? Silahkan, saya tidak peduli bash-bash-an  macam apapun

Warning    : Gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~






     “Aish, ittai! (sakit)” teriakku merasakan seseorang mencubit pipiku. Aku menoleh. Seorang pria berseragam rapi duduk tepat di sampingku.

     “Dasar manja!” serunya sembari tertawa kecil—menunjukkan deretan giginya.

     “Sakit, baka! (bodoh)” protesku sembari memukul lengannya keras. Ia mengaduh pelan. “Rasakan.”


     “Aku kan cuma bercanda, ah!” protesnya balik. Aku hanya menjulurkan lidahku tanda mengejek padanya.

     Pria yang notabene adalah kekasihku ini memang sangat suka menggodaku. Hal yang paling menarik antara kami berdua adalah nama kami. Kami memiliki nama kecil yang sama persis. Aku—Kanazawa Yuuri—dan dia—Chinen Yuuri. Maka dari itu, aku memanggilnya dengan sebutan ‘Chii’.

     “Strawberry, hm?” ia menyodorkan sekotak kecil strawberry ranum padaku.

     “Wah, kapan kau membelinya? Ini masih kelihatan segar,” ucapku melihat kilauan buah favoritku tersebut. Aku segera mencomotnya sebuah.

     “Tadi pagi,” jawabnya singkat, lalu ikut mencomot sebuah. “Kata pedagangnya, buah ini baru datang pagi-pagi tadi, makanya masih segar.”

     “Souka? Arigatou (begitu? Thanks),” ucapku—mengukir segaris senyum.

     “Eh, Yuuri-chan, kau mau berjanji satu hal tidak?” tanya Chinen. Kurasa ia mulai serius. “Hm? Nani? (apa?)” tanyaku.

     “Berjanjilah, kita akan selalu bersama-sama selamanya…” ucap Chinen. Sejenak aku tersentak. Aku merasa ada sesuatu yang mengganggu batinku saat kalimat itu terucap dari bibirnya. Tapi, aku tidak tahu apa itu…

     “Yuuri-chan? Kau kenapa?”

     “Eh? Tidak… Aku…” aku menggigit bibir, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Entah kenapa tiba-tiba aku bingung.

     “Yuuri-chan, apa kau… menganggap hubungan kita main-main?” tanya Chinen—nada bicaranya turun seperempat oktaf.

     “Iie! Aku tidak pernah menganggap seperti itu!” bantahku. “Aku hanya merasa… Tidak enak badan. Gomen ne (maaf),” aku segera pergi dari hadapan Chinen.

     Ada apa dengan diriku? Ada apa? Aku tiba-tiba merasa diriku bukan seperti aku yang biasanya. Aneh…

     ‘Berjanjilah, kita akan selalu bersama-sama selamanya…’ kalimat yang terus-menerus terngiang di telingaku itu terasa begitu aneh. Kenapa begitu sesak saat mendengarnya? Ini benar-benar tidak biasa…

                                    ©©©©©©©©©©©©©

     Aku masih menyendiri di atas ranjang UKS. Entah kenapa kepalaku terasa begitu pusing—sakit sekali rasanya. Kutatap langit-langit UKS yang warnanya sudah mulai pudar dimakan usia. Aku terus mengerjap-ngerjapkan mataku sambil terus-menerus berpikir, apa yang terjadi denganku?

.

CKLEK!

.

     Kudengar samar-samar suara pintu dibuka, tirai yang menutup sisi kanan ranjangku perlahan bergerak—terbuka. Kulihat Chinen tengah berdiri di samping ranjangku dengan tatapan sayu.

     “Gomen (maaf), aku tidak tahu kau seterkejut ini,” ucapnya pelan.

     “Iie, daijoubu… (tidak, tidak apa)” jawabku pelan. Sesekali pusing di kepalaku kembali menyerang. Chinen membantu mengompres kepalaku. Aku tahu dia sangat mencintaiku, aku sangat mengerti. Ia sudah melakukan sejauh ini, rasanya aku sangat kejam membuatnya sedih seperti sekarang.

     “Chii, tersenyumlah…” ucapku mencoba mengukir segaris senyum.

.

CKLEK!

.

     Aku mendengar untuk kesekian kalinya pintu UKS dibuka, disusul berikutnya suara tirai yang terbuka. Tidak, itu bukan tirai di sekitar ranjangku, itu pasti dari tirai di sisi ranjang sebelah. Chinen menyingkap tirai di belakangnya sedikit sehingga aku bisa melihat siapa gerangan yang baru saja masuk. Itu… Siapa dia? Aku tidak mengenalnya. Seorang pria berseragam selaras dengan sekolahku, tapi aku tidak pernah melihatnya sebelumnya, kurasa.

     Seorang gadis yang kupikir sedikit lebih tinggi dariku membantu pria itu membaringkan tubuh. Kurasa aku tahu siapa gadis itu. Itu Mizu-chan—gadis kelas D. Aku mengenalnya—Mizuhara Karin.

     “Mizu-chan…” panggilku sekilas. Gadis itu menoleh. Ia tampak berpikir sejenak—tak butuh waktu lama—sampai sebuah senyum terukir di wajah manisnya. “Yuuri-chan, kan?” ia menunjuk padaku, memastikan bahwa yang dikatakannya adalah benar. Aku mengangguk.

     “Dia siapa, Mizu-chan? Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya…” tanyaku.

     “Dia? Dia Yamada Ryosuke, sepupuku. Kebetulan kami sekelas, dia baru saja masuk sekolah.” Jelas Mizuhara.

     “Yamada Ryosuke?” tanyaku mengulang. Mizuhara mengangguk membenarkan.

.

Yamada Ryosuke~

.

     Aku merasa pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi, aku belum pernah melihatnya atau berkenalan dengannya. Ini aneh…

                                    ©©©©©©©©©©©©©

     “Chii, kau tidak mau masuk kelas? Bukankah sudah bel masuk?” aku mencoba mengingatkan Chinen yang sedari tadi mengobrol denganku.

     “Tidak, ah… Aku malas ikut pelajaran matematika…” ucap Chinen.

     “Aish, sudahlah, pergi saja. Kau mau kena hajar Riiko sensei?” ucapku mengingatkan bahwa minggu lalu ia sempat dihukum Riiko sensei gara-gara tidak mengerjakan PR.

     “Hai’, hai’… Aku akan pergi. Tapi, ingat, kalau ada apa-apa kau harus segera telepon aku, mengerti?!” ucap Chinen bangkit dari duduknya. Aku mengangguk mengiyakan. Tak lama setelah itu, ia segera pergi ke kelas.

.

Kreek… Kreek…

.

     Aku mendengar suara yang agak asing di telingaku, pasti sesuatu tengah dilakukan pria berlabel Yamada Ryosuke yang kini tengah ada di samping sana. Dengan iseng aku menyingkap sedikit sisi tiraiku, rasa penasaran membuatku melakukannya. Apa sih yang dilakukannya disana?

     “Hei, kau…” panggilku padanya. Ia menghentikan aktivitasnya kemudian menoleh.

     “Sedang apa?” tanyaku lagi.

     “Menggambar, ada yang aneh?” tanyanya balik.

     “Ah, iie…(tidak) Suara pensilmu terlalu berisik,” jawabku. “Oh, ya, boleh aku melihat gambarmu?”

     “Tidak,” tolaknya telak.

     “Memangnya kenapa? Aku tidak akan merusaknya, kok!” protesku.

     “Ini belum selesai, aku tidak akan menunjukkan gambar yang belum selesai pada siapapun.” Ia menutup bukunya, menyelipkan pensil ke dalam saku kemejanya.

     “Lalu? Ini apa?” pandanganku teralih pada sebuah kertas buram yang ada di dalam tempat sampah yang kuyakin semula kosong. Kuraih kertas itu, perlahan mencoba mencerna makna goresan tinta di sana.

     “Itu gambar gagal,” jawabnya singkat.

     “Eh?” aku masih berusaha mencerna gambar abstrak tersebut. “Kenapa begitu jelek?!”

     Ia bangkit dari ranjangnya kemudian meraih kertas itu dan memutar bagian kertas itu. “Kau yang terlalu bodoh. Tidak tahu seni,” telaknya.

     “Eh? Ini serigala ya?” tanyaku. Ia mengangguk.

     “Sugoii~ (keren)” ucapku kagum.

     “Dasar plin-plan! Sudah, buang itu!” ia kembali meremas kertas tersebut lalu melemparkannya ke dalam tempat sampah.

     “Oh ya, ngomong-ngomong, kenapa kau kesini tadi? Kau sakit?” tanyaku.

     “Kau tidak perlu tahu. Aku akan ke kelas… Jaa…” ucapnya hendak meninggalkan UKS.

     “Eh, chotto matte, Ryo-chan! (tunggu sebentar, Ryo-chan!)”

     Entah kenapa kalimat itu terlontar begitu saja dari bibirku. Seolah-olah kalimat itu adalah kalimat yang biasa kuucapkan. Tapi, ‘Ryo-chan’… Apa itu? Nama kecil apa itu? Kenapa aku memanggilnya demikian? Aku seperti terbiasa… Seperti sudah lama sekali memanggilnya begitu…

     “Kau… memanggilku Ryo-chan?” tanyanya balik.

     “Ah, gomen… Anoo… (maaf, emm…)”

     “Aku suka kau memanggil nama kecilku… Entah kenapa… Aku suka…” ucapnya.

     “Eh?”







.Come Back . . .




.TO BE CONTINUED~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar