Title : Come Back . . .
Author : dita-cHun
Type : Multichapter
Part : 4
Rating : PG+12
Genre : Romance
Music : Beat Line by Hey! Say! JUMP
Cast :
Kanazawa Yuuri (OC)
Mizuhara Karin (OC)
Yamada Ryosuke
Chinen Yuuri
Arioka Daiki
Nakajima Yuto
Disclaimer : Seluruh tokoh milik Tuhan, kecuali plot adalah milik saya XD, no bashing. Mau bash? Silahkan, saya tidak peduli bash-bash-an macam apapun
Warning : Gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~
Summary : Yuuri dan Yamada akhirnya tahu bahwa mereka sudah pernah bertemu dan menjalin hubungan di masa lalu. Ingatan yang sempat hilang dari pikiran mereka akhirnya kembali—setelah Mizuhara menceritakan semuanya pada Yamada. Chinen yang juga mengetahui hal ini memutuskan mundur dari cinta Yuuri. Ia merasa, cinta terbaik bagi Yuuri mungkin bukan dirinya. *Summary-nya ancur banget -___-‘ *
©©©©©© Yamada’s POV ©©©©©©©
“Yama-chan, ini!” seperti hari-hari biasanya Karin menghampiriku tiap sore, memberikan beberapa butir suplemen yang biasa kuminum sejak kecil. Kata Okaa-san daya tahan tubuhku cukup lemah, karena itu aku membutuhkan semua ini. Dengan sekali teguk aku menelan semua kapsul yang berada di tanganku.
“Aku sudah menceritakan semuanya pada Yuuri…” ucapku membuka pembicaraan. Karin bangkit dari posisinya semula, ia berpindah duduk ke samping tirai dekat jendela. “Aku tahu…” Matanya menatap lekat-lekat keluar jendela, mengamati tiap titik-titik airmata langit yang jatuh.
“Aku tetap ingin Yuuri menjadi milikku…” ucapku.
“Hmm… kurasa tidak akan mudah selama ada Chinen di sampingnya…” jawab Karin ringan.
“Kupastikan Yuuri akan segera meninggalkan laki-laki itu…”
©©©©©© Yuuri’s POV ©©©©©©©
.
Tuuutt… Tuuutt…
.
“Nomor yang anda hubungi sedang sibuk, silahkan tinggalkan pesan atau menelpon kembali nanti…”
.
“Ne, Chii, kau dimana? Tadi aku pergi ke rumahmu, tapi bibi bilang kau tidak di rumah… Chii, apa kau sedang menghindariku?”
.
Klik!
.
Kurang lebih sudah dua hari aku tidak bertemu dengan Chinen—sama sekali. Ia belum tampak sedikitpun sejak hari itu. Aku sudah berusaha meneleponnya dan datang ke rumahnya. Tapi, bibi bilang, ia tidak sedang di rumah. Ponselnya juga tidak pernah aktif. Apa ia berniat menghindariku? Tapi, kenapa? Apa karena masalah itu?
Aku menarik nafas panjang, berpikir kembali bahwa hari ini adalah… Hari ke-365 sejak kami resmi jadian hari itu—tepatnya setahun. Nyaris tiap bulan aku dan Chinen pergi kencan ketika hari seperti ini. Tapi, hari ini? Chinen tidak ada disini… Dan aku tidak tahu kemana harus melangkah mencarinya…
“Yuuri-chan…” kudengar sebuah suara memanggilku.
“Chii?!” kuhampiri pemilik suara yang kupastikan adalah orang yang paling ingin kutemui saat ini. “Chii, kau habis darimana, huh?” air mataku berlinang—sembari aku mendekap tubuhnya erat. “Ponselmu juga mati. Aku sangat khawatir, baka! (bodoh)”
“Daijoubu… (tidak apa-apa) Kau tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja,” ucapnya tanpa membalas pelukanku sedikitpun. Tangannya yang biasanya mendekapku hangat, kali ini hanya diam menangkup di samping tubuhnya. “Dan lagi…” ia melanjutkan kalimatnya. “Kau bisa kembali pada Yamada kalau kau ingin. Aku tidak akan menahanmu…”
“Eh?” aku melepaskan rengkuhanku.
“Kelak, jangan menangis lagi…” ia menyeka airmata yang sedari tadi turun dari kedua kelopak mataku. “Mizuhara menceritakan semuanya padaku… Kejadian beberapa tahun silam, jangan sampai terulang. Kurasa, bahkan sebuah benang telah mengikat cinta kalian—tak memberiku ruang sedikitpun. Kalau itu yang terbaik…” tangan Chinen terus turun hingga ke bahuku, lenganku, ia menggenggam kedua tanganku erat. “Aku tidak akan menahanmu…” genggamannya merenggang sampai ia melepaskan kedua tanganku. Ia pergi, meninggalkan aku yang masih terpaku. Aku tidak tahu apa yang harusnya kukatakan. Bahkan aku hampir lupa kalau aku ingin mengucapkan ‘selamat 365 hari’. Aku lupa… Sampai semuanya menyesak dalam dadaku. Sangat menyakitkan…
©©©©©©©©©©©©©
.
Graaak~!
.
“Tadaima… (Aku pulang)” aku lekas melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah.
“Okaeri (Selamat datang)” kudengar suara Okaa-san mendekat ke arahku. “Kau darimana saja? Kau tidak tahu Okaa-san begitu cemas memikirkanmu yang tidak pulang sampai selarut ini?!”
“Gomen ne (maaf),” ucapku pelan lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Tanpa sadar Okaa-san sedari tadi mengekorku, “Ada masalah dengan Chinen?” kulihat Okaa-san membawa setumpuk roti tawar dan selai strawberry di atas nampannya. Ia meletakkan roti itu tepat di atas meja tempatku menghadap saat ini. “Makanlah~”
“Okaa-san, apa kau ingat tentang Yamada Ryosuke?”
“Eh?”
“Sebelum aku hilang ingatan, apakah aku punya teman bernama Yamada Ryosuke?” tanyaku mengulang. Kulihat Okaa-san diam sejenak. Ia memutar matanya sekilas, kurasa ia sedang berpikir, “Maksudmu anak kecil bernama ‘Ryo-chan’?”
“Un,” aku mengangguk membenarkan.
“Ah, benar. Dia kecelakaan saat pergi bersamamu. Tapi, kau pulang duluan dari rumah sakit. Kurasa lukanya lebih parah daripada lukamu,” jawab Okaa-san.
“Souka… (begitu…)”
©©©©©©©©©©©©©
“Yuuri-chan…”
“Yamada Ryosuke…”
“Panggil aku Ryo-chan seperti dulu… Hm?” ia mengembangkan segaris senyum di wajahnya.
“Karena kita berdua sudah sama-sama tahu apa yang terjadi sebelumnya… Ayo, kita mulai lagi dari awal, Yuuri-chan…” ucapnya lembut.
“Tapi, Chinen? Aku sama sekali tidak ingin melukainya…” ucapku mengelak. “Yuuri-chan, bukankah aku sudah mengatakannya kemarin? Kalau kau ingin… Pergilah,” kudengar sebuah suara tak jauh dari tempatku berdiri. “Demo, Chinen— (tapi, Chinen—)”
“Daijoubu… (tidak apa)” Chinen mengukir segaris senyum. “Yamada Ryosuke, kalau kau menyakitinya… Kubunuh kau!” kali ini pandangan Chinen beralih pada Yamada. “Aku akan menjaga Yuuri-chan. Kau tidak perlu khawatir,” Yamada mengukir segaris senyum lalu menarikku pergi. Berlalu dari Chinen.
Jadi, semuanya telah berakhir?
.
“Yuuri-chan, aku bahagia sekali hari ini…!” Yamada menarikku dalam dekapannya yang erat dan… hangat. Apakah kehangatan ini yang aku cari selama ini?
“Berjanjilah kita akan selalu bersama selamanya…” Yamada menelungkupkan kepalanya di atas bahuku.
“Mungkin, ini yang aku inginkan selama ini… Ryo-chan…” aku membalas pelukan Yamada erat.
©©©©©© Chinen’s POV ©©©©©©©
Aku mengekor di belakang Yuuri dan Yamada. Mereka pergi ke salah satu sisi taman sekolah. Aku hanya terus berjalan mengikuti mereka dengan diam. Entah apa yang mereka perbincangkan disana, yang pasti aku melihat mereka berpelukan…
“Yuuri-chan… Sayonara…”
“Chinen-kun,” kudengar sebuah suara dari belakangku.
“Keputusan yang baik membiarkan mereka bersama…” Kulihat gadis bernama Mizuhara Karin itu sudah berdiri di belakangku. Ia menepuk pundakku pelan. “Tapi, jangan pernah lupakan bahwa kau pernah mencintai Yuuri-chan,” ucapnya lagi.
“Maksudmu?”
“Suatu hari kau harus tetap mencintainya… Si keras kepala itu, cepat atau lambat pasti akan meninggalkan Yuuri. Menyebalkan sekali!” seru Mizuhara sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Huh?”
“Aku akan menceritakan semuanya tentang si keras kepala itu!” ucap Mizuhara.
“Siapa si keras kepala?”
“Haaah~ Selain pintar kau ini kadang bodoh ya? Baka! Maksudku Yamada Ryosuke!” teriaknya.
“Ahh~ begitu…”
.Come Back . . .
.TO BE CONTINUED~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar