Title : Come Back . . .
Author : dita-cHun
Type : Multichapter
Part : 2
Rating : PG+12
Genre : Romance
Music : Beat Line by Hey! Say! JUMP
Cast :
Kanazawa Yuuri (OC)
Mizuhara Karin (OC)
Yamada Ryosuke
Chinen Yuuri
Arioka Daiki
Disclaimer : Seluruh tokoh milik Tuhan, kecuali plot adalah milik saya XD, no bashing. Mau bash? Silahkan, saya tidak peduli bash-bash-an macam apapun
Warning : Gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~
©©©©©©Yuuri’s POV©©©©©©©
Sejak beberapa hari yang lalu—hari dimana aku bertemu dengan Yamada Ryosuke—aku masih memikirkan ucapannya itu. Aku merasa itu bukan pertemuan kami yang pertama, namun kenyataannya? Aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya. Tapi, kenapa aku merasa berdebar ketika aku berbicara dengannya.
Apa ini cinta? Lalu bagaimana dengan Chinen? Itu cinta juga, kan? Hubungan kami selama ini apa kalau bukan karena cinta? Aku memang selalu berdebar-debar saat bertemu atau mengobrol dengan Chinen. Namun, ketika aku mengobrol dengan Yamada siang itu… Debaran itu terasa lebih hebat, bersamaan dengan perasaan-perasaan aneh yang tiba-tiba muncul—yang akupun tak tahu apa itu.
Sore ini aku melihatnya lagi—Yamada Ryosuke. Seperti sore-sore sebelumnya, ia akan meluangkan waktu sepulang sekolah dengan melukis. Menggoreskan cat minyak tiada henti pada kanvas yang tak pernah kujumpai masih putih. Aku suka melihatnya melukis… Bukankah ini perasaan biasa? Aku kagum. Ini pasti bukan cinta… Ya, aku harus berhati-hati dengan perasaanku.
“Yuuri-chan, sedang apa?” tanya sebuah suara dibelakangku, disusul kemudian sebuah tepukan pelan menghujam pundakku. Aku menoleh.
“Eh? Chii? Anoo… Tidak apa. Kau belum pulang?” tanyaku balik.
“Aku berniat mengajakmu keluar. Kita kencan, hm? Sudah lama sekali, bukan?” ucapnya dengan wajah sumringah. Tak butuh waktu lama setelah anggukan kecil dariku, ia meraih tangan kiriku—menggandengku—untuk berjalan bersamanya. Sesekali aku menoleh ke arah Yamada—ia masih melukis tanpa mempedulikan sekitar.
©©©©©©Yamada’s POV©©©©©©©
Ia pergi bersama pria itu lagi, pria yang sama—yang menemani gadis itu di UKS beberapa waktu lalu. Kusimpulkan, pria itu adalah kekasih gadis itu. Aku tahu gadis itu selalu memperhatikanku dari sana dan pergi ketika aku merapikan peralatanku. Mungkin pemikiranku ini terkesan berlebihan, tapi kurasa, dia menyukaiku. Meski aku tak pernah menanggapinya secara personal, tapi diam-diam aku sangat memperhatikannya. Entah kenapa gadis itu memiliki daya tarik tersendiri. Kanazawa Yuuri.
“Yama-chan, kau masih disini?” kudengar sebuah suara tak asing di telingaku. Aku menoleh. Seorang gadis yang sangat kukenal tengah berdiri tak jauh dari hadapanku—kedua tangannya menenteng sebuah tas berukuran agak besar. Mizuhara Karin, sepupuku.
“Karin-chan…”
“Yama-chan, aku tidak akan basa-basi. Aku akan tanya satu hal padamu,” Karin mengalihkan pandangan ke arah koridor. “Kau menyukai Yuuri-chan, bukan?”
“Eh?”
“Ingatlah, Yama-chan… Jangan merebut orang yang mempunyai kekasih… Untuk kesekian kalinya kembali…” ucap Karin.
“Maksudmu?”
“Bukankah aku pernah bercerita padamu, kau juga pernah bercerita padaku? Semuanya… Segala hal… Beberapa tahun lalu?” ucap Karin. “Ingatlah, Yama-chan… Kau pasti ingat.”
Perlahan aku mencoba menggali memoriku kembali. Tidak ada. Aku tidak mengerti. Tapi, apa maksud Karin? ‘merebut orang yang mempunyai kekasih untuk kesekian kalinya kembali’. Apakah itu artinya ‘dulu pernah’? Tapi, aku sama sekali tidak mengingatnya…
“Aku tidak pernah begitu, Karin-chan… Aku yakin,” ucapku. “Kalau aku pernah, pasti semuanya sudah kuingat.”
“Yama-chan…”
©©©©©©Yuuri’s POV©©©©©©©
.
“Yuuri-chan, ikut aku!”
“Eh? Kita mau kemana?”
“Ke tempat yang jauh dimana tidak ada orang-orang seperti mereka! Ayo!”
“Eh! Chotto matte! (tunggu sebentar)”
.
“Ahh!” aku mencoba menstabilkan nafasku. Apa itu tadi? Mimpi apa itu? Lalu… siapa pria itu? Chinen? Atau siapa?
“Yuuri-chan, kau di dalam?” sebuah ketukan pintu kamarku membuyarkan lamunanku seketika disusul suara yang cukup familiar di telingaku. Aku bangkit dan membuka pintu.
“Eh? Chii?” aku agak terkejut melihat pria di hadapanku. Sepagi ini pria ini sudah berseragam rapi, mau apa dia? Kenapa ada di rumahku?
“Ohaeyou! (selamat pagi) Mhh~ Kau bau. Cepat mandi! Kita harus cepat ke sekolah!” ucap Chinen lalu mendorongku masuk ke kamar mandi. “Apa, sih? Kenapa kau aneh begini, coba?”
“Kita harus pergi ke sekolah sebelum terlambat!” seru Chinen dari luar kamar mandi. “Aku tunggu di bawah, ya!”
©©©©©©©©©©©©©
“Kita mau kemana, sih? Ini kan masih sangat sangat sangat pagi!” seruku yang baru sadar di luar masih cukup gelap. Matahari belum bersinar sama sekali.
“Oba-san, kami pergi dulu, ya! Ittekimasu! (kami berangkat)” seru Chinen lalu menarikku keluar rumah tanpa perintah. “Baka, aku belum sarapan!”
“Nanti saja sarapan di kereta!” seru Chinen.
“Huh?”
“Ah, sudahlah, pokoknya kita harus melihat matahari terbit! Aku ingin meskipun cuma bisa sekali seumur hidup melihat matahari bersama kekasihku…” ucap Chinen—genggamannya makin erat. “Wakatta (aku tahu),” ucapku mengukir segaris senyum.
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, akhirnya kami sampai di stasiun. Selama perjalanan tadi Chinen sama sekali tidak melepas genggamannya dari tanganku. Ia terus membawaku bersamanya sampai ke balkon stasiun. Perlahan matahari mulai tampak. Indah… dan hangat… Tapi, kenapa aku merasa genggaman Chinen begitu menyakitkan dan semakin menyakitkan. Ada apa ini?
“Chii? Daijoubu? (kau baik-baik saja?)” tanyaku cemas. Chinen menoleh ke arahku, “Daijoubu desu. (aku baik-baik saja)” Ia tersenyum.
“Baiklah, kau mau sarapan disini? Aku akan membeli tiket dulu, hm?” Chinen melepaskan genggamannya. Ia mengeluarkan sekotak bekal dan menyodorkannya padaku. Tak lama setelah itu ia segera turun—membeli tiket.
Aku menatap tanganku yang sedari tadi tak lepas dari genggaman Chinen. Benar-benar sudah memerah. Aku tahu ada yang aneh pada Chinen hari ini. Ia tidak biasanya menggenggam tanganku begitu kuat. Aku tahu bahwa dia ingin kekasihnya selalu nyaman bersamanya—mustahil ia menggenggamku sekuat itu. Ada apa, Chii?
©©©©©©©©©©©©©
“Ikou (ayo),” kembali Chinen menggenggamku seperti sebelumnya. Ia menuntunku masuk ke dalam kereta. “Kita duduk disana?”
“Chii, sebenarnya ada apa?” meski ragu aku mencoba memberanikan diri bertanya pada Chinen.
“Eh? Apanya?” tanya Chinen balik.
“Kau datang pagi-pagi, melihat matahari, menggenggamku erat, dan naik kereta bersama. Bukan seperti kau yang biasanya…” aku menatapnya dalam-dalam.
“Yuuri-chan, aku sudah tahu semuanya…”
“Eh?”
.Come Back . . .
.To be continued. . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar