Title : What Should I Do?
Author : Dita d’Chapbi ‘cHun’ Meii
Type : Multichapter
Part : 1
Genre : Romance, Friendship
Rating : PG+15
Cast :
#Shida Mirai as Shida Mirai
#Yamada Ryosuke as Yamada Ryosuke/ Kamiki Ryosuke
#Kamiki Ryunosuke as Kamiki Ryunosuke
#Others~
Disclaimer : Seluruh cast adalah milik Tuhan, sedangkan plot adalah milik author. So, no bashing. Mau bash? Silahkan, author tidak peduli dengan bash-bash-an macam apapun.
Warning : gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~
.
“Aku janji… Aku akan bertanggung jawab atas anak kita nanti…”
“Sungguh?”
“Un.”
“Aku takut Ryosuke. Aku takut…”
“Tenanglah… Percayalah padaku, Mirai-chan…”
.
“Mirai-chan, daijoubu desu ka?” sebuah suara sukses mengejutkan lamunanku. Aku menoleh menuju pusat suara yang memanggilku barusan.
“Ah, Ryun.” Aku memastikan pria yang kini berusaha duduk di sampingku. Tak lain dan tak bukan adalah sahabatku, Kamiki Ryunosuke—yang biasa kupanggil Ryun.
“Apa yang sedang kau pikirkan, hm?” tanya Ryun.
Apa aku harus mengatakannya pada Ryun? Bagaimanapun aku dan Ryun adalah teman baik sejak kecil, mana mampu aku menyembunyikan hal ini darinya? Tapi, apa akan baik kalau aku menceritakan hal ini padanya? Ah, sudahlah.
“Iie, nande mo nai,” dustaku singkat. Ia tersenyum tipis, khas perangainya. “Wakatta, suatu saat kau pasti akan menceritakannya padaku. Sekarang bukan waktu yang tepat, begitu bukan?” Aku tak menanggapi ucapannya—hanya menatap mata Ryun dalam-dalam, mata yang selalu bisa menebak pikiranku meski tidak detail.
“Yo,” aku mendengar seseorang menyapa dari arah luar. “Yo, Ryosuke!” seru Ryun sembari menghampiri pria yang tadinya hanya berdiri di depan pagar rumahku.
“Mirai-chan, genki desu ka?”
®®®®®®®® What Should I Do? ®®®®®®®®®
Jika kau menghilang, meninggalkan diriku dan dirinya tiba-tiba… Aku harus bagaimana? Bagaimana, huh? Dapatkah kau memberikan penyelesaian bagi diriku dan dirinya yang kau tinggalkan ini?
®®®®®®®® What Should I Do? ®®®®®®®®®
“Eh?”
“Ya, Ryosuke… Aku hamil,” jawabku mengulang. Tampak wajah Ryosuke penuh tanda tanya. “Maksudmu, dia adalah anak kita? Kau dan aku?” tanya Ryosuke lagi. Pria ini benar-benar lamban. Tapi, aku mengangguk—memberikan jawaban langsung agar ia cepat mengerti.
“Bagaimana ini?” tanyaku. “Kau bilang kau akan bertanggung jawab, kan?” serbuku. Sejenak ia terdiam, kemudian senyumnya mengembang perlahan-lahan. “Tenanglah, Mirai-chan… Aku pasti akan menepati janjiku,” Ryosuke menggenggam kedua pundakku sembari kedua matanya yang indah itu menatapku. Aku hanya terpaku melihat kedua mata indah itu. Tak berkutik sedikitpun.
“Kita akan segera menikah… Sebentar lagi… Tunggu aku sebentar lagi, Mirai-chan…” perlahan ia jatuh dan mendekapku erat. “Aishiteru, Mirai-chan…” bisiknya.
“A-Aishiteru mo, Ryosuke…” jawabku spontan.
©©©©©©©©©©©©
“Apa?! Kau dan Ryosuke—“ ucapan Ryun tertahan, tidak, ia berusaha keras menahannya—mengingat ruangan ini adalah kamarku. “Mirai-chan, bagaimana bisa kau berpikir sependek itu tentang hal ini, huh?” Ryun menekan tiap baris kalimatnya, namun berusaha dipelankan volume suaranya.
“Ryun, aku sudah memikirkannya. Dan lagi, Ryosuke sudah berjanji akan bertanggung jawab atas anak ini nantinya…” ucapku bersikukuh. Tampak Ryun menatap miris ke arah perutku yang kian hari kian membuncit seiring pertumbuhan janin di rahimku. “Aku sangat mencintainya, Ryun. Apa salah aku melakukan hal ini?” aku menatap kosong ke arah jendela kamarku.
“Janji? Cinta? Aku tidak mungkin berpikir bahwa kalian masih bocah berusia tujuh tahun, tapi, sikap kalian ini—“ sekali lagi Ryun benar-benar menekan kalimatnya. Kusimpulkan, ini adalah puncak emosinya. “Sesederhana itu pikiran kalian, seperti anak usia tujuh tahun! Dewasalah~”
“Ryun!” bentakku akhirnya. “Aku menceritakan hal ini bukan berarti aku meminta pendapatmu tentang kehamilanku! Aku hanya ingin berbagi sebagai sahabat! Kau tidak berhak menentukan aku harus bagaimana, Ryun. Aku tahu apa yang terbaik bagiku, Ryun… Hargai, aku…”
“Kurang menghargai bagaimana aku ini? Aku sudah membiarkanmu melangkah sesukamu… Tapi, lihat! Kau sudah begini, apa aku masih harus membiarkanmu lebih jauh tertipu? Kata ‘cinta’? ‘janji’? Tidak sesederhana itu, Mirai-chan—“
“Cukup! Kau itu cuma seorang sahabat, Ryun… Berhentilah sok menasehatiku…” potongku kasar.
“Mirai-chan—“
“Pergilah, Ryun… Kurasa bukan hal yang baik aku menceritakan hal ini padamu…” aku mengalihkan pandanganku dari Ryun. Aku benar-benar muak dengan pendapatnya yang terlalu memojokkan aku dan Ryosuke. Apa salahku? Aku dan Ryosuke saling mencintai… Tahu apa dia tentang cinta kami? Aku yakin, aku percaya pada Ryosuke…
©©©©©©©©©©©©
“Ryosuke, kapan kita menikah? Perutku sudah makin membuncit. Aku tidak mau gaun pengantinku nantinya tidak muat padaku…” tuntutku halus pada Ryosuke yang masih asyik dengan tugas-tugas sekolahnya. Ia menoleh sembari membenarkan letak kacamata bacanya. “Sebentar lagi… Setidaknya sampai kita selesai ujian…” ucapnya lembut.
Aku membuka kalender, “Itu artinya bulan depan?” tanyaku. Ryosuke mengangguk sambil terus menggoreskan tinta penanya ke atas buku matematika. “Sudah kubilang aku pasti bertanggung jawab, kan? Jadi, kau tidak perlu khawatir…” kali ini jemari Ryosuke menari-nari di atas keypad ponselnya, membuka kalkulator yang lengkap dengan deretan angka di dalamnya.
“Demo, Ryosuke…”
“Hm? Nande?”
“Saat aku mengatakan hal ini pada Ryun, dia kelihatannya marah sekali… Dia bilang ini dan itu salah. Aku jadi pusing,” aku membuka acak lembaran halaman tugas Ryosuke yang tergeletak di atas meja.
“Sudahlah, jangan terlalu memikirkannya…” Ryosuke mengusap pelan kepalaku. “Oh ya, kau masih pergi ke sekolah?”
“Un, nanti kalau kita sudah tetapkan hari pernikahan, baru aku akan mengundurkan diri dari sekolah…” jawabku. Ryosuke mengangguk, tanda mengerti.
“Anoo… Kau sudah cerita masalah ini pada orang tuamu?” tanya Ryosuke, lagi-lagi ia menghentikan pekerjaannya.
“E… Belum, kurasa nanti saja…” jawabku.
“Kau yakin?” tanya Ryosuke. Aku mengangguk.
©©©©©©©©©©©©
.
Kriiiiinggg~
.
Kriiiiiinggg~
.
“Moshi moshi…” sapaku begitu kuangkat telepon rumahku. Terdengar suara lelaki yang agak berat berdehem sejenak sebelum memulai bicaranya. “Apa ini kediaman Shida Mirai?”
“Iya, benar. Aku Shida Mirai, ada apa?”
“Beberapa jam yang lalu sekitar pukul empat, seorang pria bernama Yamada Ryosuke mengalami kecelakaan. Apa anda salah satu keluarganya?”
.
DEG!
.
“Eh?”
©©©©©©©©©©©©
Aku terus berlari, tidak tahu lagi apa yang harus kupikirkan. Saat ini yang ada di kepalaku adalah keadaan Ryosuke. Wajah Ryosuke beberapa hari yang lalu terus berputar di kepalaku. Kurasa, meski aku terus melangkahkan kakiku lebih cepat, tak membuat jarak langkahku kian melebar—justru semakin menipis. Nafas yang sedari tadi terus memburu dadaku, semakin lama semakin kuat. Tangisku pecah seketika…
“Ryosuke… hiks… Ryosuke…”
.What Should I Do?
.To Be Continued~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar