Title : What Should I Do?
Author : dita-cHun
Type : Multichapter
Part : 2
Genre : Romance, Friendship
Rating : PG+15
Music : I Sing A Song For You by Kuraki Mai
Cast :
#Shida Mirai as Shida Mirai
#Yamada Ryosuke as Yamada Ryosuke/ Kamiki Ryosuke
#Kamiki Ryunosuke as Kamiki Ryunosuke
#Others~
Disclaimer : Seluruh cast adalah milik Tuhan, sedangkan plot adalah milik author. So, no bashing. Mau bash? Silahkan, author tidak peduli dengan bash-bash-an macam apapun.
Warning : gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~
NB : yang belum baca atau lupa part I nya, ini linknya
Aku tahu… Ya, aku tahu bahwa kakiku sudah sampai di rumah sakit. Tapi, dadaku sesak sekali—mungkin karena terlalu lama berlari. Dengan langkah gontai kulewati lorong-lorong panjang rumah sakit. Aku harap kesehatan Ryosuke membayar semua ini. Kuharap begitu…
[405]
Kulihat sebuah kayu pahatan membentuk deretan angka terpajang apik pada salah satu sisi pintu salah satu kamar pasien. Memastikan itu benar, aku menyegerakan langkahku masuk. Kuputar knop pintu yang terasa dingin—akibat hembusan udara dari AC yang berjajar diluar kamar pasien.
Kosong…
Tak kujumpai siapapun di dalam kamar tersebut, kosong. Aku hanya melihat ranjang yang masih rapi serta beberapa peralatan medis tak tersentuh di atas meja. Apa aku salah masuk kamar?
Kurogoh saku minidress yang kukenakan saat ini, mencari satu-satunya kertas yang pernah kumasukkan kesana—selain uang tentunya. Ya, ini dia. “Kamar 405…” Kamar ini benar, tapi kenapa—
“Sumimasen, anda Nona Shida Mirai?” seorang pria berkemeja tiba-tiba menghampiriku. Aku mengangguk mengiyakan. “Aku Hokuto Ichiyama dari pihak kepolisian,” ia mengeluarkan kartu identitasnya dan menunjukkannya padaku. “Ah, kau polisi yang tadi meneleponku?” tanyaku balik.
“Benar, memang aku yang menghubungimu,” jawabnya.
“Lalu, dimana Ryosuke sekarang?” tanyaku memburunya.
“Mari,” ia menggiringku ke ruangan lain, melewati lorong-lorong yang lebih panjang daripada yang sempat kujangkau tadi. Aku terus mengamati keadaan sekitar, daritadi beberapa orang suster berlalu lalang, tapi tidak sebanyak di lorong sebelumnya. Makin dalam kami masuk ke dalam lorong, hanya beberapa suster yang kutemui.
“Silahkan…”
Kamar mayat?
“Dimana Ryosuke?” tanyaku sekali lagi.
“Ada di dalam,” jawab Hokuto-san. “Eh?”
“Karena lukanya sudah sangat parah… Pria itu tidak dapat diselamatkan,” jawab pria itu lagi.
“A-apa?”
Kurasakan sekitarku semakin bising, sampai rasanya gendang telingaku akan pecah. Aku mencoba menjaga pandanganku agar tetap stabil, tapi aku tak sekuat itu. Hanya gelap yang kujumpai setelah itu.
©©©©© Ryunosuke’s POV ©©©©©
Sudah lebih dari empat kali aku menghubungi ponsel Mirai, tapi tak ada jawaban sama sekali darinya ataupun siapapun. Aku menengok ke arah kalender yang tergantung rapi di salah satu sudut kamarku.
Hari Minggu~
Padahal hari ini hari libur, tapi kenapa ia meninggalkan ponselnya seandainya ia pergi? Apa coba kutanya pada Oji-san atau Oba-san?
“Ryun, kau mau kemana?” Okaa-san tampak begitu sibuk di dapur. Aku segera mencomot seiris roti di atas meja. “Aku akan ke rumah Mirai,” jawabku singkat. “Ittekimasu,” segera kulangkahkan kakiku keluar rumah menuju satu-satunya tempat yang ingin kutuju saat ini—rumah Mirai.
“Eh? Terkunci?” kulihat pagar rumah Mirai terkunci rapat. Apa mereka pergi bertiga?
“Ryun, kah?” sebuah suara sedikit mengejutkanku. Aku menengok, seorang Oba-san yang sangat kukenal tengah tersenyum mengamatiku. “Eh, Oba-san? Tahu kemana mereka pergi?”
“Maksudmu keluarga Shida?” tanyanya mengulang. “Un,” jawabku ringkas. “Kudengar mereka baru saja ke rumah sakit,” jawabnya. “Rumah sakit? Untuk apa mereka kesana?” tanyaku lagi. “Entahlah.”
©©©©©©©©©©©©
“Oji-san, Oba-san,” kusapa Oji-san dan Oba-san begitu kulihat mereka di dalam kamar pasien bersama Mirai yang berbaring tak sadarkan diri di atas ranjang dengan cairan infus mengalir pada tubuhnya. “Ryun,” Oba-san segera bangkit dan menghampiriku yang masih di ambang pintu.
“Apa yang terjadi?” tanyaku pada Oba-san. Ia hanya mengisyaratkan padaku untuk keluar dari kamar tersebut. “Seseorang menelepon kami, dia bilang Mirai-chan pingsan tiba-tiba setelah melihat jenazah Yamada Ryosuke.”
“Eh?”
“Yamada mengalami kecelakaan sampai akhirnya dia meninggal. Mungkin Mirai shock sekali karena kekasihnya meninggal tiba-tiba…” ucap Oba-san berusaha menyimpulkan. “Lalu apa kata dokter?” tanyaku memburu.
“Dokter belum bicara banyak, ia bilang Mirai hanya shock, selebihnya ia baik-baik saja. Mungkin nanti Oba-san akan bertanya lagi pada dokter itu…”
“Eh, chotto matte kudasai, Oba-san!” aku meraih tangan Oba-san yang hendak pergi. “Biar aku yang menanyakannya pada dokter, hm?”
“Tapi, dokter sudah di depan.” Oba-san menunjuk seorang pria berjas putih yang sedang berbicara pada Oji-san. Melihatnya benar-benar membuatku menelan ludah lebih berat dari biasanya.
©©©©© Mirai’s POV ©©©©©
Begitu membuka mata, yang kurasakan adalah berat—kepalaku begitu berat. Aku mencoba mengambil nafas dalam, berusaha mengingat apa yang terjadi meskipun sedikit.
“Ryosuke…” gumamku.
Ah, benar. Aku melihat kain putih itu menutup tubuh Ryosuke. Pria itu bilang, Ryosuke telah meninggal. Apa itu cuma mimpi? Kuharap begitu… Tapi, kenyataannya itu bukan. Itu kenyataan.
“Apa?” kudengar suara pria yang begitu familiar menelusup telingaku. Aku mencoba bangkit dari ranjang, meski kurasakan kepalaku masih sedikit pusing. Aku mencoba melangkahkan kaki keluar, memutar knop pintu kamar sambil membawa infus yang masih mengalir ke dalam tubuhku. “Otoo-san…”
“Mirai-chan,” kulihat sosok Ryun yang berdiri di samping Okaa-san, sedangkan Otoo-san masih mendengarkan seorang pria berjas putih—yang kusimpulkan itu dokter—berbicara.
“Ya, apa anda tidak tahu kalau putri anda tengah mengandung?” tanya dokter itu akhirnya.
‘TIDAK.’
Apa ia mengatakan itu aku?
Aku menengok kembali ke arah perutku yang sudah lebih membuncit daripada beberapa bulan silam. Belum terlalu besar memang. Tapi, ada nyawa yang hidup di dalam sini. Bersamaku.
Aku kembali menengok pada Otoo-san yang rupanya tengah menatapku tajam. Aku hanya diam, kembali mengalihkan pandanganku pada dokter itu yang mulai pergi dari hadapan kami.
PLAK!
“Kurang ajar! Rupanya kau hamil?! Bersama siapa?! Katakan siapa ayahnya?!”
PLAK!
“Kenapa kau bisa ceroboh sekali di usiamu yang masih 16 tahun, Mirai?!” sekali lagi Otoo-san berteriak setelah dua kali menamparku. Aku hanya menangis tanpa suara. Lidahku kelu, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Melakukan pembelaan? Tapi, aku memang salah. Marah? Apa yang membuatku marah? Ryosuke sudah tidak ada… Bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa ayahnya itu—
“Sumimasen,” kudengar suara Ryun memecah keheningan. Seketika seluruh pandangan tertuju padanya. “Aku ayah dari bayi itu… Maafkan aku, Oji-san.”
‘Eh?’
Kulihat Ryun tengah berdiri menghalangi aku dan Otoo-san. Ia masih bertahan membungkukkan badannya kurang lebih 90 derajat sejak beberapa detik yang lalu, sebelum tamparan Otoo-san ganti mendarat pada pipinya.
‘Ryun…’
“Kurang ajar!” sekali lagi Otoo-san hendak melayangkan tamparannya pada Ryun, namun kedua tangan Okaa-san menggenggam kuat-kuat tangan Otoo-san. “Otoo-san, tenanglah!” ucap Okaa-san setengah berteriak. Kali ini ucapan Okaa-san berhasil meredam amarah Otoo-san yang tengah memuncak.
“A-Aku akan bertanggung jawab, Oji-san…” ucap Ryun. “Ryun?” aku menatap Ryun yang masih berusaha menghapus darah segar yang mengalir dari celah ujung bibirnya akibat tamparan Otoo-san tadi. “Daijoubu…” bisik Ryun.
“Kemari kau!” Otoo-san menarik kasar lenganku menuju sudut ruangan. “Bagaimana mungkin kau melakukan hal yang memalukan seperti ini, Mirai!”
“Aku—”
“Ryun memang sudah kuanggap seperti anakku sendiri! Tapi, usiamu! Sadarlah, Mirai! Kau itu masih 16 tahun!!”
“Otoo-san… Otoo-san tidak perlu bicara jika Otoo-san tidak tahu apa-apa!!” jeritku lalu masuk ke dalam kamar. Airmata yang sudah jatuh sejak tadi kian deras mengalir di pipiku. Apa aku salah? Aku hanya mencintai Ryosuke! Kenapa tidak ada yang mengerti aku?!
©©©©© Ryunosuke’s POV ©©©©©
“Mirai-chan…” kuketuk pintu kamar Mirai yang tampak terkunci dari dalam. Kudengar isakannya meski samar-samar. Kualihkan pandanganku ke arah Oba-san dan Oji-san bergantian. Mereka masih tertunduk lesu sejak Mirai masuk ke dalam kamarnya. Aku pun kali ini jadi bingung harus bagaimana.
“Bagaimana bisa kau melakukannya, Ryun?” kudengar suara Oji-san meski samar-samar. Ia duduk di sofa, bertanya tanpa menatapku sama sekali. “Apalagi kau tahu kalau Mirai sudah punya kekasih. Apa yang kalian lakukan di belakang Yamada?” Oji-san tampak menggerutu. Namun, sepertinya ia butuh jawaban, ya, jawabanku.
“Aku…” kuberanikan diri angkat bicara. “…menyukai Mirai-chan.”
Entah bagaimana ekspresi Oji-san saat itu, aku tidak begitu memperhatikannya. Ah, bukan, lebih tepatnya aku tidak melihatnya. Aku takut kalau-kalau aku sudah salah bicara.
“Kau… menyukai Mirai?” tanya Oji-san.
Kuangkat perlahan kepalaku yang semula tertunduk menatap lantai. Aku ragu mengatakannya, tapi akhirnya, “…Ya.” Itulah jawabanku.
.What Should I Do?
.to be continued~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar