Senin, 27 Februari 2012

Bye Bye Love [Part I]

Title            : Bye Bye Love
Author        : dita-cHun
Part            : 1
Genre         : Romance
Rating        : PG+13
Music        : Calling Out by Luna and Krystal
Cast           :
Han Ah-Ram (OC)
Wu Zun as Kim Jin-Hoon




.
.
  “Sampai kapan?”
  “Mwo? (apa?)”
  “Sampai kapan kita akan bersama?”
  “Tentu saja sampai mati.”
  “Anhi (tidak). Aku tidak bisa.”
  “Wae geurae? (kenapa?)”
  “Aku hanya mau kau menyebutkan waktunya. Bukan sampai mati. Satu tahun? Dua tahun?”
  “Ah, kau saja yang memutuskan.”
  “Baiklah~ Kuputuskan. Saat karirku berhenti, maka saat itu pula kita berpisah.”
  “Eh?”

  “Kau bilang aku yang putuskan. Aku sudah putuskan. Bye.”
.
.
  “Ahh!” pekik Ah-Ram. Tanpa sengaja salah satu jarinya terkena setrika yang masih panas. Ia menggigit pelan jarinya berharap rasa panas dan sakit itu sedikit demi sedikit menghilang. Ia segera mencuci jarinya dengan air dingin.
  “Aishh~ kenapa aku begitu ceroboh…?” gumam Ah-Ram. Ia segera merapikan setumpuk pakaian yang sudah disetrikanya dan memasukkannya ke lemari. Tinggal di sebuah apartemen sendirian bukan hal yang mudah bagi Ah-Ram. Segala pekerjaan harus dilakoninya sendirian, tanpa bantuan. Dihitung-hitung, sudah dua tahun lebih ia menempati apartemen kecil ini. Ini semua karena keterpaksaan perihal kuliahnya. Kampung halamannya yang berada di daerah Incheon cukup jauh dari kampusnya yang berada di pusat kota Seoul.
.
BRUKH!
.
Ah-Ram sesegera mungkin merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah akibat aktivitas hari ini yang tiada henti memburunya. Dipejamkan matanya rapat-rapat, ia ingin menyandarkan segala beban yang menumpuk di kepalanya, meski sebentar saja. Rasanya, tidak ada tempat bersandar yang baik selain ranjangnya ini. Bukannya karena tiada teman atau kekasih dalam hidupnya, melainkan luka dan beban yang membebaninya itu berasal dari kawan-kawan dan kekasihnya.
.
.
  “Apa kau pernah mencintaiku meski sedikit saja?”
  “Kumohon~ kau yang memintaku dalam permainan ini, apa kau pernah dengar aku berkata bahwa aku mencintaimu? Sadarlah~”
  “Padahal… Aku berharap kau mengatakan ‘iya’. Meskipun itu cuma sekali…”
  “Jangan terlalu banyak berharap. Karena bagaimana pun, suatu hari kita akan berpisah~”
  “Apa kau tidak bisa bilang kau cinta padaku meskipun bohong?”
  “Anhi~ (tidak)”
  “Wae? (kenapa?)”
  “Karena kenyataannya aku tidak punya rasa itu terhadapmu.”
.
.
TES!
.
Setetes air mata jatuh. Begitu perih perasaan Ah-Ram. Tidak ada yang tahu sudah seperih apa perasaan itu sekarang. Membayangkan sekalipun pasti miris. Bagaimana tidak? Memiliki kekasih yang tidak pernah mencintainya sama sekali. Hanya Ah-Ram yang mencintainya, sedangkan lelaki itu tidak. Tidak sama sekali. Tidak ada setitik pun rasa cinta bagi Ah-Ram. Tidak ada.
  “Eomma… (ibu)” isaknya. Ah-Ram hanya bisa mengisak di kamarnya. Menangis sepuasnya, bersama perasaan yang sudah dirajam keadaan. Sakit… Perih…
******
  “Oppa (kakak), bisa kau jemput aku di depan apartemen? Ada yang ingin kubicarakan,” ucap Ah-Ram melalui ponselnya.
  “Baiklah~ setengah jam lagi aku tiba disana,” ucap suara dari seberang, datar. Ah-Ram segera mematikan ponselnya. Ia  merias dirinya sedikit lalu bergegas turun ke lantai bawah. Tak lama setelah itu sebuah mobil hitam metallic berhenti di depan apartemen. Ah-Ram yang paham akan siapa yang datang itu bergegas naik ke mobil tersebut.
  “Annyeonghaseyo, Oppa… (selamat pagi, kak)” sapa Ah-Ram sambil memasuki mobil tersebut. Senyum merekah tergaris di wajah mulusnya.
  “Annyeong (pagi),” balas pria yang di panggil ‘Oppa’ itu.
  “Kemana?” lanjutnya. Sejenak Ah-Ram menatap lekat-lekat pria di sampingnya itu. Pria berkemeja abu-abu dengan dasi hitam melingkar di lehernya. Serta kacamata mengkilat yang menutupi matanya. Kim Jin-Hoon. Nama yang sederhana, tapi tidak begitu dengan kepribadiannya. Dialah kekasih Ah-Ram yang sudah berkali-kali meremukkan hatinya. Ia masih menatap Jin-Hoon dengan senyum, namun miris. Ia seperti berkaca pada dirinya sendiri dan mengatakan, “Bagaimana bisa kau mencintai pria seperti ini?”
  “Mworago? (ada apa?)” tanya Jin-Hoon yang merasa aneh pada sikap Ah-Ram. Seketika Ah-Ram tersadar dari lamunannya.
  “Ah? Anhi (tidak). Anhiyo~ (tidak apa) Aku ingin kita bicara di rumahmu. Satu-satunya tempat yang paling aman dari fans dan media, bukan?” ucap Ah-Ram.
  “Ne? (apa?)”
  “Jalan saja~” ucap Ah-Ram seolah ingin pembicaraan itu berhenti begitu saja. Tanpa banyak bicara, Jin-Hoon  segera memacu mobilnya menuju rumahnya.
******
.
CKLEK!
.
  “Ahh~ sudah lama rasanya tidak ke rumah ini. Terakhir kali ke rumah ini pun hanya sebentar. Rasanya aku ingin menghabiskan waktu seharian di rumah ini!” seru Ah-Ram sambil duduk di salah satu sofa putih di ruang tamu.
  “Aku tidak akan lama… Aku hanya punya waktu sejam untuk menunggumu berbicara,” ucap Jin-Hoon seolah protes akan kalimat Ah-Ram barusan.
  “Syuting film? Atau syuting serial? Iklan? Atau ada jumpa pers hari ini? Kau pasti makin sibuk, Oppa… Arasseo (aku mengerti). Tapi, aku ingin hari ini menghabiskan waktu seharian di rumah ini, meski tanpamu sekalipun,” ucap Ah-Ram.
  “Ne? (apa?)”
  “Apa salah? Bukankah aku kekasihmu? Bukankah kau yang menerimaku waktu itu?” ucap Ah-Ram. Jin-Hoon tampak merasakan keganjilan pada sikap Ah-Ram hari ini.
  “Ya! (hei) Sebenarnya ada apa denganmu hari ini?” tanya Jin-Hoon to the point. Ah-Ram menoleh.
  “Anhiyo~ (tidak apa) bukankah aku tampak seperti biasanya? Sehat dan cantik?” ucap Ah-Ram ringan.
  “Kau bukan orang yang suka memuji diri… Kau bukan seperti Ah-Ram yang kukenal sebelumnya~” ucap Jin-Hoon dengan pandangan menyelidik.
  “Ne? (apa?) Aku Ah-Ram, Oppa…. Sadarlah… Aku Han Ah-Ram, kekasihmu,” ucap Ah-Ram dengan penekanan pada beberapa kata.
  “Anhi… (tidak) Ah-Ram tidak pernah begitu…”
  “Lalu, bagaimana Ah-Ram yang kau maksud itu? Ah-Ram yang bagaimana, huh?”




.TO BE CONTINUED+++++++>>>>>



.COMMENT PLEASE!! ^o^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar