Senin, 04 Maret 2013

Gomennasai... [Part I]


Title           : Gomennasai…
 
Author       : dita-cHun © 2011
 
Length       : Multichapter
 
Chapter     : 1
 
Genre        : Romance, Action
 
Cast           :
 
*Kazuki Mao [OC]
 
*Chinen Yuuri (Hey! Say! Jump!) as Chinen Yuuri/Chii
 
*Wu Chun (Fahrenheit) as Kyozou Yama
 
*Nakajima Yuto (Hey! Say! Jump!) as Nakajima Yuto
 
POV           : Author
 
Disclaimer : Chinen Yuuri, Wu Chun, and Nakajima Yuto are belong to themselves. I’m own nothing but plot. So, no bash, ok?
 
Warning    : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya
 
Note           : -
 
 
 
 
 
 
 
   Plakk!
 
   Suara itu menggema di salah satu sudut SMA Heisei. Siswa-siswi yang menyaksikan hal itu bergidik ngeri dan bergegas menjauh dari asal suara tersebut. Kini, tinggal seorang siswi dan siswa yang berada di tempat itu. Tangan kiri gadis itu mencengkeram kuat kerah baju siswa laki-laki bernama Nakajima Yuto dan mengangkatnya agak sedikit lebih tinggi. Sedangkan tangan sebelah kanannya terasa sedikit ngilu akibat menampar Nakajima barusan. Dirasa belum puas, tangannya kembali menghempas pada pipi kiri Nakajima yang tadinya menganggur. Nakajima terus-menerus meringis menahan perih dari darah yang mengalir di bibirnya. Ia mengaduh dan memohon ampun, namun gadis itu tak menghentikan aksinya.

   “Kau tahu konsekuensinya, kan, jika kau bermain-main denganku?” ucap gadis itu dengan seringaian tajam. Nafas Nakajima terus memburu, tersengal-sengal tak  mampu menjawab.
 
   GoGomennasai… Kazu-chan,” sebisa mungkin mulut Nakajima berbicara.
 
   Plakk!
 
   Sekali lagi tamparan mendarat di pipi Nakajima, membuatnya makin kesakitan.
 
   Bugh!
 
    Perut kurus itu ditinjunya keras, sampai melengking bunyinya.
 
   “Kuharap ini yang terakhir…” gadis itu melepaskan tangan kirinya dari kerah baju Nakajima dan meninggalkan Nakajima yang tergeletak lemas di lantai.
 
******
 
   Kazuki Mao.
 
   Mendengar nama itu saja membuat penghuni SMA Heisei bergidik ngeri. Gadis brutal bernama Kazuki Mao itu terkenal di seluruh SMA Heisei dan berandalan-berandalan SMA di Tokyo. Gadis berpostur tinggi-kurus itu tampak mengecohkan mata dengan penampilannnya. Meski dari luar seperti gadis manis dan lembut, namun sebenarnya ia adalah gadis brutal di sekolahnya.
 
   “Pssst… Kau tahu tidak? Hari ini korbannya Nakajima!” bisik salah seorang siswi pada temannya.
 
   “Hah? Nakajima? Nakajima Yuto yang keren itu?” tanya siswi satu lagi merasa tak percaya.
 
   “Pssst… Dia datang! Kazu-chan!” bisik salah satu dari mereka.
 
   Seketika, kelas yang semula sangat berisik menjadi tenang. Bagaikan pasar yang berubah menjadi pemakaman. Tak ada yang berani berbicara di antara mereka. Sesekali mereka melirik Kazuki yang duduk di bangkunya.
 
   “Hhh… Gara-gara dia tanganku sekarang jadi ngilu begini… Ck!” omel Kazuki dalam hati sambil memijat-mijat tangan kanannya yang terasa ngilu itu.
 
   Tak lama setelah itu Taamo Sensei masuk lalu mengajar kelas yang sangat tenang itu. Kazuki hanya diam mengikuti pelajaran meski sedikit malas.
 
   “Baiklah. Kita ulang pelajaran minggu lalu sedikit. Emm, Kazuki-san, tolong kerjakan soal ini,” ucap Taamo Sensei sambil mengulurkan sebuah kapur berwarna hijau ke hadapan Kazuki. Kazuki menatap kapur itu sejenak lalu menengadahkan pandangannya pada Taamo Sensei. Tanpa menjawab ataupun menerima kapur itu Kazuki berdiri dari tempat duduknya dan menuju ke meja guru. Ia mengambil salah satu kapur berwarna biru di antara deretan kapur di atas meja dan segera menyelesaikan soal di atas blackboard.
 
   Perasaan Taamo Sensei remuk redam. Kebaikannya untuk pertama kali ditolak oleh muridnya. Ia dengan susah payah mengantarkan kapur dari meja guru ke arah Kazuki, Kazuki justru menampiknya mentah-mentah. Meski begitu ia mencoba untuk tetap menetralkan hatinya, tak ingin membuat keributan di kelas nan damai ini.
 
******
 
   “Dari gang mana siswi sok itu?” tanya Kyozou Yama, seorang bos gank sekolah Fahrenheit.
 
   “Namanya Kazuki Mao dari SMA Heisei Menurut penyelidikan dia tidak berpihak pada gang manapun. Dia hanya berjalan sendiri tanpa campur tangan gang manapun,” ucap Chinen Yuuri, yang akrab dipanggil Chii, asisten Kyozou.
 
   “Aku rasa, aku sendiri saja cukup untuk melawannya,” Kyozou menaikkan sedikit lengan kemejanya.
 
   “Tapi, Kyozou-kun…” cegah Chii.
 
   “Ada apa?”
 
   “SMA Domei, kalah telak sekali serang olehnya. Sekitar 20 siswa laki-laki yang datang, tak satu pun dari mereka yang pulang dengan sehat. Kau tahu, kan, seberapa kuat pasukan SMA Domei, Kyozou-kun?” ucap Chii.
 
   “SMA Domei? Aku semakin tertarik dengan kemampuannya,” Kyozou tersenyum evil, sedangkan raut wajah Chii nampak berubah seketika. Nampak kekhawatiran mendalam di matanya.
 
   “Apakah kami bisa mengalahkan Kazuki Mao? Aku benar-benar ragu,” batin Chii.
 
   “Hei, Chii! Kau jangan melamun! Ayo kembali!” ajak Kyozou.
 
   Hai’!” Chii mengikuti langkah Kyozou.
 
******
 
   “... Yorokobi kanashimi uke irete ikiru. Arinomama tachi mukae, itami kanjite mo. Dare demo minna ga, kodoku na zenshi. Kagiri aru kono toki wo, kimi ni kiseki ima todoketai…” lantunan lagu Ultra Music Power dari Hey! Say! Jump! menggema ke telinga Chii yang masih asyik memeluk guling di atas ranjangnya. Tangannya mulai meraba-raba mencari ponselnya yang berteriak-teriak itu. Ia mencoba membuka sedikit matanya yang semula terpejam. Tertulis apik dengan huruf kanji nama Kyozou Yama di balik lampu LCD yang sedari tadi berkedap-kedip.
 
   Moshi-moshi, Kyozou-kun…” salam Chii dengan malas.
 
   “Hei, Chii! Jangan bilang sekarang kau masih tidur di ranjangmu!” teriak Kyozou dari seberang.
 
   “Aissh, Kyozou-kun… Hari ini kan hari Minggu… Tidak perlu pergi ke sekolah, kan?” ucap Chii.
 
   Baka! Hari ini hari Kamis!” bentak Kyozou. Seketika Chii menengok pada jam di atas mejanya, dihentakkan tubuhnya menuruni ranjang.
 
   Gomennasai, Kyozou-kun…! Aku mau mandi!!” teriak Chii sejenak pada ponselnya sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi. Ia segera memakai kemeja, rompi, serta jasnya dan berangkat ke sekolah.
 
   Brakh!
 
   Tak sengaja ia menabrak seorang gadis dan karena terlalu terburu-buru ia tak sempat meminta maaf. Hingga dirasakannya ada yang mencengkeram kuat tas di tangannya.
 
   “Hei, mau kemana kau?!” teriak gadis itu.
 
   Gomennasai, aku sedang terburu-buru!” seru Chii tanpa menatap gadis itu. Ia mencoba menarik tasnya dan hendak pergi.
 
   Bugh!
 
   Ia merasa ada yang meninju perutnya keras. Ia buru-buru menengadahkan pandangannya dan ia amat terkejut dengan apa yang ada di hadapannya.
 
   “Kazuki Mao…” gumamnya pelan.
 
 
 
 
 
.TO BE CONTINUE…
 
 
Glosarium :
 
*Gomenasai    : Maaf
*Sensei            : Guru
*Hai’               : Ya
*Moshi-moshi : Halo
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar