Senin, 04 Maret 2013

Meet You~ [Chapter I]

Title          : Meet You~
 
Author      : dita-cHun © 2011
 
Genre        : Friendship, Comedy
 
Length      : Multichaptered
 
Chapter    : 1
 
Rating       : PG [Parents Guidance]
 
Music        : Memories by Hey! Say! JUMP
 
Cast           : All Member of Hey! Say! JUMP
(Chinen Yuuri, Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Okamoto Keito, Morimoto Ryutaro, Inoo Kei, Arioka Daiki, Yaotome Hikaru, Yabu Kota, Takaki Yuya)
 
Disclaimer    : Member Hey! Say! JUMP! adalah milik Tuhan semata, Chinen dan Yamada adalah calon milik author *plak*. Seluruh setting disini adalah milik author semata, so no bashing. Mau bash? Ok, author tidak takut dengan bash-bash-an atau drum-drum-an (?) Terserah anda. Haha. XD Satu lagi! Peraturan Opa Jojon (Johnny) gak berlaku disini. Yang ada hanya peraturan author. Titik! XD
 
Warning   : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya
 
Note          : Hoaahh~ author dah lama banget gak pake freetalk gaje-an macam nie… ish, ish, ish~ #upin-ipin.com# Dah lama juga author pengen buat cerita tentang memba HSJ dalam kehidupannya mereka (artis) #apadeh# XD Sekarang baru terwujud~ Naahh~
Douzo!
 
 
 
 
 
   Matahari yang terus merangkak naik seakan membakar kulit, merasuk melalui pori-pori dan menusuk tulang dan daging, begitu menyakitkan. Sebulir demi sebulir keringat sebesar biji jagung dihapus oleh punggung tangan nan halus itu. Digenggaman kedua tangan bocah kelas 3 SMP itu penuh dengan barang-barang belanjaan yang entah apa isinya.
 
   “Ck!” gerutunya. Singkat namun bermakna penuh amarah. Ia kembali melanjutkan langkahnya usai menghapus keringatnya yang bercucuran.
 
.
 
CIIIIIITTT!!!
 
.
 
BRAKKH!
 
.
 
   “Oi, kau itu menyetir atau balap kuda sih?!” bentak bocah itu lantang. Namun, hal itu tak begitu dihiraukan oleh si pemilik mobil.
 
   “Gomen… Aku tak sengaja…” ucap pria yang sedikit lebih tua dari bocah itu. Ia membantu bocah itu membereskan barang-barang belanjaan yang sudah tak pada tempatnya (?).
 
   “Gara-gara kau seluruh barang belanjaanku jadi berantakan! Tanggung jawab!” teriak bocah itu.
 
   “Baiklah… Aku akan bertanggung jawab, Nona.”
 
   “Apaaaa?!!” seketika bocah itu membelalak usai si pria menyelesaikan kalimatnya barusan.
 
.
 
BUGH!
 
.
 
     Baiklah readers sekalian~ Bagian itu di skip saja… Kali ini author akan membicarakan satu hal yang panjang dan lebar. Yang akan cukup banyak memakan waktu kalian dalam membaca. Maka dari itu, siapkan popcorn dan segelas susu (karena rata-rata kita masih di bawah umur) sambil membaca penjelasan author berikut *author dibantai readers sekampung*
 
     Asal para readers tahu bahwa tokoh utama dalam cerita kali ini adalah seorang anak dari atlet lompat-melompat (?) yang cukup terkenal di Jepang. Sayangnya, yang terkenal selama ini bapaknya, so bocah ini belum begitu booming di kalangan masyarakat. *author digiles* Akibat dari hal itu dia tidak begitu dipedulikan oleh masyarakat biasa. Dia hanya dianggap segelintir orang awam yang sedang lewat. Kalau saja para masyarakat itu tahu bahwa bocah yang sekarang masih duduk di kelas 3 SMP itu adalah anak atlet terkemuka, pastilah tanggapannya akan berbeda, seperti jika author yang tahu segalanya ini *plak* bertemu dengan bocah itu, pastilah author akan langsung minta tanda tangannya atau membungkus (?) bocah itu ke Indonesia *LOL*
 
     Nah, singkat cerita, bocah ini bernama Chinen Yuuri. Nama yang mengagumkan, bukan? Author saja  tidak pernah berpikir untuk memberi nama anak laki-laki dengan nama itu *plak*. Author sangat kagum dengan kedua orang tuanya yang sangat kreatif (?) dalam memberi nama, kalau bertemu author akan bertanya apa nama yang bagus untuk anak author nanti *dibuang ke laut*.
 
     Baiklah, sepertinya kita terlalu lama bermain-main dalam alam imajinasi author. Saatnya kembali ke cerita~ Douzo…
 
    “Hoi, nani? (ada apa?) Kenapa kau menamparku, huh?!” tanya pria itu, singkat cerita namanya Takaki Yuya. Seorang model langganan majalah yang entah apa namanya.
 
   “Kau itu buta, ya?! Wajah setampan ini kau sebut ‘nona’?!” ucap Chinen sambil menunjuk ke wajahnya yang masih mulus tanpa jerawat itu.
 
  “Eehhh?!” Yuya seketika membelalakkan matanya. Perlahan ia melangkah mundur lalu masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi dari sana dengan wajah semerah tomat.
 
   “Wow! Cowok cantik!” gumam Yuya dalam hati.
 
   “Oi! Mau kemana kau?!” Chinen hendak menyusul mobil itu, namun ia sadar itu tak mungkin karena ia kini hanya bersama dua kakinya. Ia pun membereskan barang belanjaannya sendirian, usai itu ia segera berjalan menuju tempat mobilnya di parkir. Disana telah menunggu seorang supir yang tak jelas siapa nama sebenarnya, sebut saja dia Crish (ini yang mana nama supir, yang mana nama majikan = =”).
 
   “Crish, cepat buka bagasi!” seru Chinen yang masih berlumur amarah gara-gara peristiwa tadi.
 
   “Chinen-sama, kau tampak tidak baik hari ini. Doushita no? (ada apa?)” tanya Crish yang melihat muka Chinen yang semakin lama semakin menggembung (?) karena kesal.
 
   “Jangan tanya itu! Aku sedang tidak ingin membicarakannya! Kau tahu, hari ini aku nyaris ditabrak, barang belanjaanku jatuh, dan orang yang (nyaris) menabrakku itu pergi tak mau bertanggung jawab! Sial!” gerutu Chinen panjang lebar.
 
   “Hai’. (baik) Aku paham.” Ucap Crish sambil menyalakan mesin mobil.
 
   “Eh?” kali ini Chinen yang tak mengerti.
 
   “Meski kau bilang kau tak mau membicarakannya, kenyataannya semuanya sudah kudengar. Sudah, biarkan saja. Anggap saja dia angin semilir yang akan pergi,” ucap Crish berusaha menghibur Chinen.
 
   “Wakaranai! (entahlah!)” gumam Chinen sambil menatap ke luar jendela mobil.
 
**
 
   “Tadaima! (aku pulang!)” ucap Chinen sambil masuk ke dalam rumah.
 
   “Okaeri (selamat datang)” balas sebuah suara tak asing dari dalam rumah. Disusul munculnya sesosok wanita berambut pirang dari balik pintu.
 
   “Okaa-san, jangan tanya apapun padaku! Aku sedang lelah!” ucap Chinen lalu meneguk segelas air dingin.
 
   “Chinen…!!”
 
   “Ahh~ dia lagi…” gerutu Chinen begitu sosok yang tak pernah diinginkannnya itu muncul.
 
   “Konnichiwa, Oba-chan! (selamat siang, bibi)” sapanya pada Ibu Chinen sambil senyam-senyum tak jelas apa maksudnya. Jangan heran, dia memang begitu dari sananya *dibantai*.
 
   “Chinen, kon-ni-CHUU~ (chuu=kiss) wa!” ucap bocah yang tak tampak seumuran dengan Chinen itu, namun kenyataannya usia mereka hanya terpaut 3 bulan. Sebut saja dia, Nakajima Yuto. Tetangga sebelah rumah yang sangat ramah! Saking ramahnya, ia sering kecopetan (?). Tapi, ia tak pernah menyesal. Ia selalu berprinsip, bahwa kebaikan itu meski akan mendapat banyak penindasan, pasti akhirnya bahagia juga (teori gila). Hidupnya tanpa beban, itulah Yuto!
 
   “Yuto, kau tidak sibuk hari ini? Biasanya kau selalu mengerjakan PR siang bolong begini,” ucap Chinen lalu duduk di sofa.
 
   “Ahh~ itu. Semua PR-ku sudah tuntas! Kau tenang saja! Aku akan tetap ranking 2 di kelas!” ucap Yuto dengan PeDe-nya.
 
   “Kamawanai~ (aku tidak peduli) Ada apa kau kemari? To the point saja! Perasaanku sedang buruk hari ini, jadi jangan menggodaku!” ucap Chinen.
 
   “Humm~ Begini, aku tidak akan membahas PR, drum, ataupun hal-hal yang akan membuatmu pusing dengan kalimat-kalimat rumit bermajas (?) dan lain-lain… Aku juga tidak akan mengatakan hal-hal yang akan kau benci… Bla… bla… bla…” sepanjang cerita berdurasi 15 menit terus membakar telinga Chinen.
 
   “STOP! Hentikan! Kau to the point pun sama saja membakar telingaku! Pulanglah! Aku sedang tidak ingin bicara hari ini!” teriak Chinen kesal. Wajahnya sudah sangat merah karena terlalu marah. Ia bergegas bangkit dari duduknya.
 
   “Eeeh, chotto! (tunggu) Chotto matte (tunggu sebentar), Chinen!” seru Yuto ikut berdiri. Ia segera mengambil sesuatu dibalik saku celananya. Sebuah kertas berlipat-lipat yang kemudian di bukanya.
 
   “Lihat ini! Aku ingin menunjukkan ini padamu!” ucap Yuto menunjukkan brosur itu pada Chinen.
 
   “Eh? Ajang pencarian bakat untuk boyband?” tanya Chinen usai membaca brosur itu.
 
   “Hm! Bukankah kau suka menyanyi? Permainan gitarmu juga lumayan! Dan kau bisa melompat!” seru Yuto dengan girang.
 
   “Apa menurutmu ini menyenangkan?” tanya Chinen ragu.
 
   “Pasti! Kalau kita ada dalam satu boyband, aku akan menebarkan kebaikan disana! Pasti sangat menyenangkan!”
 
   “Denganmu? Malas sekali satu group dengan makhluk (?) sepertimu…”
 
   “Eh? Doushite? (kenapa?) Lagipula, pasti akan banyak teman baru! Lihat ini! Disana tertulis… Hanya 10 orang yang akan terpilih! Salah satunya pasti kau dan aku!” seru Yuto sambil bertepuk tangan tak jelas.
 
   “Hmm~ mungkin menarik… Tidak ada salahnya aku mencoba!” gumam Chinen dalam hati.
 
**
 
   “Ohayou, boku no namae wa Nakajima Yuto desu (selamat pagi, namaku adalah Nakajima Yuto) Yoroshiku ne~!” seru Yuto pada seorang bocah chubby yang tengah duduk dengan sekotak strawberry di genggamannya.
 
   “Ahh~ souka. (ahh~ begitu) Yamada Ryosuke desu (aku Yamada Ryosuke), kau bisa memanggilku Yama-chan!” ucap bocah itu, senyumnya membuat pipinya semakin chubby. Author jadi pengen cubit sampe melar *diuber fansu yama*
 
   “Eh? Kau siapa?” tanya Yama sambil menunjuk-nunjuk pada Chinen yang berada di belakang Yuto.
 
   “Aku?” tanya Chinen sambil menunjuk dirinya sendiri. Yama mengangguk mantap.
 
   “Ahh~ Chinen Yuuri desu. Kau bisa memanggilku Chinen.”
 
   “Kawaii ne~ (imutnya~)” gumam Yama sambil senyam-senyum tak jelas.
 
   “Apa dia pacarmu, Yuto?” tanya Yama dengan tampang polosnya.
 
   “Iie… (tidak)” jawab Yuto singkat.
 
   “Kyaa, baguslah!” seru Yama lalu melahap sebuah strawberry.
 
   “Eh?” tanya Chinen tak jelas.
 
   “Jadi, aku bisa mendekatinya…” bisik Yama pada Yuto.
 
   “Ahh~ souka! Demo (tapi), dia laki-laki, kau tahu itu?” tanya Yuto balik.
 
   “Ehhh?!!” kali ini Yama yang shock berat atas penjelasan singkat dari Yuto.
 
   “Kalian gila, ya?” ucap Chinen kemudian berlalu dari hadapan mereka.
 
   “Chinen, chotto! (tunggu)” teriak Yuto kemudian segera mengikuti Chinen.
 
   “Yama-chan, jaa ne! (bye)” seru Yuto dari kejauhan.
 
   “Ini mustahil… Dia terlalu imut untuk ukuran seorang laki-laki…” gerutu Yama. Ia masih  terpaku di tempatnya dengan wajah yang sudah tak dapat di tebak ekspresi apa itu (?).
 
**
 
   “Ehh? Ya ampun…! Aduhh! Dimana? Dimana?” Chinen masih sibuk mengutak-atik isi tasnya. Ia tampak sangat gelisah.
 
   “Doushita no (ada apa), Chinen? Ada masalah?” tanya Yuto yang melihat kecemasan Chinen.
 
   “Formulirku…! Formulirku tertinggal di rumah!! Aku tidak mungkin ikut audisi tanpa itu…! Ahh~ Kami-sama… (Ya, Tuhan)” ucap Chinen panik.
 
   “Ahh~ kau bisa ambil milikku!” ucap Yuto sambil menyerahkan kertas formulir yang masih kosong.
 
   “Lalu kau?” tanya Chinen bingung.
 
   “Aku akan pesan lagi dan kembali lagi besok! Yang penting hari ini kau tidak boleh bersedih…” ucap Yuto dengan senyum tanpa bebannya.
 
   “Demo (tapi), Yuto…”
 
   “Bukankah masih ada hari esok? Kau tahu kan tidak ada beban selama kebaikan itu terus berjalan! Naah, hari ini kau harus berjuang! Kau harus lolos seleksi! Sebagai gantinya, besok kau harus mengantarku lagi kemari! Aku akan berjuang! Hm?” ucap Yuto.
 
   “Yuto… Hontou ni arigatou! (sungguh terima kasih)” ucap Chinen.
 
   “Douitashimashite! (sama-sama)”
 
 
 
.TO BE CONTINUE...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar