Title : Meet You~
Author : dita-cHun © 2011
Genre : Friendship, Comedy
Length :
Multichaptered
Chapter :
1
Rating : PG [Parents Guidance]
Music : Memories by Hey! Say! JUMP
Cast : All Member of Hey! Say! JUMP
(Chinen Yuuri, Yamada Ryosuke, Nakajima
Yuto, Okamoto Keito, Morimoto Ryutaro, Inoo Kei, Arioka Daiki, Yaotome Hikaru,
Yabu Kota, Takaki Yuya)
Disclaimer : Member Hey! Say! JUMP! adalah milik Tuhan
semata, Chinen dan Yamada adalah calon milik author *plak*. Seluruh setting
disini adalah milik author semata, so no bashing. Mau bash? Ok, author tidak
takut dengan bash-bash-an atau drum-drum-an (?) Terserah anda. Haha. XD Satu
lagi! Peraturan Opa Jojon (Johnny) gak berlaku disini. Yang ada hanya peraturan
author. Titik! XD
Warning : ~gaje binti abal~ segala
kekurangan adalah punya saya
Note : Hoaahh~
author dah lama banget gak pake freetalk gaje-an macam nie… ish, ish, ish~
#upin-ipin.com# Dah lama juga author pengen buat cerita tentang memba HSJ dalam
kehidupannya mereka (artis) #apadeh# XD Sekarang baru terwujud~ Naahh~
Douzo!
Matahari yang terus merangkak
naik seakan membakar kulit, merasuk melalui pori-pori dan menusuk tulang dan
daging, begitu menyakitkan. Sebulir demi sebulir keringat sebesar biji jagung
dihapus oleh punggung tangan nan halus itu. Digenggaman kedua tangan bocah
kelas 3 SMP itu penuh dengan barang-barang belanjaan yang entah apa isinya.
“Ck!” gerutunya. Singkat namun
bermakna penuh amarah. Ia kembali melanjutkan langkahnya usai menghapus
keringatnya yang bercucuran.
.
CIIIIIITTT!!!
.
BRAKKH!
.
“Oi, kau itu menyetir atau
balap kuda sih?!” bentak bocah itu lantang. Namun, hal itu tak begitu
dihiraukan oleh si pemilik mobil.
“Gomen… Aku tak sengaja…” ucap pria yang sedikit lebih tua dari
bocah itu. Ia membantu bocah itu membereskan barang-barang belanjaan yang sudah
tak pada tempatnya (?).
“Gara-gara kau seluruh barang
belanjaanku jadi berantakan! Tanggung jawab!” teriak bocah itu.
“Baiklah… Aku akan bertanggung
jawab, Nona.”
“Apaaaa?!!” seketika bocah itu
membelalak usai si pria menyelesaikan kalimatnya barusan.
.
BUGH!
.
Baiklah readers sekalian~ Bagian itu di
skip saja… Kali ini author akan membicarakan satu hal yang panjang dan lebar.
Yang akan cukup banyak memakan waktu kalian dalam membaca. Maka dari itu,
siapkan popcorn dan segelas susu (karena rata-rata kita masih di bawah umur)
sambil membaca penjelasan author berikut *author dibantai readers sekampung*
Asal para readers tahu bahwa tokoh utama
dalam cerita kali ini adalah seorang anak dari atlet lompat-melompat (?) yang
cukup terkenal di Jepang. Sayangnya, yang terkenal selama ini bapaknya, so
bocah ini belum begitu booming di
kalangan masyarakat. *author digiles* Akibat dari hal itu dia tidak begitu
dipedulikan oleh masyarakat biasa. Dia hanya dianggap segelintir orang awam
yang sedang lewat. Kalau saja para masyarakat itu tahu bahwa bocah yang
sekarang masih duduk di kelas 3 SMP itu adalah anak atlet terkemuka, pastilah
tanggapannya akan berbeda, seperti jika author yang tahu segalanya ini *plak*
bertemu dengan bocah itu, pastilah author akan langsung minta tanda tangannya
atau membungkus (?) bocah itu ke Indonesia *LOL*
Nah, singkat cerita, bocah ini bernama
Chinen Yuuri. Nama yang mengagumkan, bukan? Author saja tidak pernah
berpikir untuk memberi nama anak laki-laki dengan nama itu *plak*. Author
sangat kagum dengan kedua orang tuanya yang sangat kreatif (?) dalam memberi
nama, kalau bertemu author akan bertanya apa nama yang bagus untuk anak author
nanti *dibuang ke laut*.
Baiklah, sepertinya kita terlalu lama
bermain-main dalam alam imajinasi author. Saatnya kembali ke cerita~ Douzo…
“Hoi, nani? (ada apa?) Kenapa kau menamparku,
huh?!” tanya pria itu, singkat cerita namanya Takaki Yuya. Seorang model
langganan majalah yang entah apa namanya.
“Kau itu buta, ya?! Wajah
setampan ini kau sebut ‘nona’?!” ucap Chinen sambil menunjuk ke wajahnya yang
masih mulus tanpa jerawat itu.
“Eehhh?!” Yuya seketika
membelalakkan matanya. Perlahan ia melangkah mundur lalu masuk ke dalam
mobilnya dan segera pergi dari sana dengan wajah semerah tomat.
“Wow! Cowok cantik!” gumam
Yuya dalam hati.
“Oi! Mau kemana kau?!” Chinen
hendak menyusul mobil itu, namun ia sadar itu tak mungkin karena ia kini hanya
bersama dua kakinya. Ia pun membereskan barang belanjaannya sendirian, usai itu
ia segera berjalan menuju tempat mobilnya di parkir. Disana telah menunggu
seorang supir yang tak jelas siapa nama sebenarnya, sebut saja dia Crish (ini
yang mana nama supir, yang mana nama majikan = =”).
“Crish, cepat buka bagasi!”
seru Chinen yang masih berlumur amarah gara-gara peristiwa tadi.
“Chinen-sama, kau tampak tidak baik hari ini. Doushita no? (ada apa?)” tanya Crish yang melihat muka Chinen yang
semakin lama semakin menggembung (?) karena kesal.
“Jangan tanya itu! Aku sedang
tidak ingin membicarakannya! Kau tahu, hari ini aku nyaris ditabrak, barang
belanjaanku jatuh, dan orang yang (nyaris) menabrakku itu pergi tak mau bertanggung
jawab! Sial!” gerutu Chinen panjang lebar.
“Hai’. (baik) Aku paham.” Ucap Crish sambil menyalakan mesin mobil.
“Eh?” kali ini Chinen yang tak
mengerti.
“Meski kau bilang kau tak mau
membicarakannya, kenyataannya semuanya sudah kudengar. Sudah, biarkan saja.
Anggap saja dia angin semilir yang akan pergi,” ucap Crish berusaha menghibur
Chinen.
“Wakaranai! (entahlah!)” gumam Chinen sambil menatap ke luar jendela
mobil.
**
“Tadaima! (aku pulang!)” ucap Chinen sambil masuk ke dalam rumah.
“Okaeri (selamat datang)” balas sebuah suara tak asing dari dalam
rumah. Disusul munculnya sesosok wanita berambut pirang dari balik pintu.
“Okaa-san, jangan tanya apapun padaku! Aku sedang lelah!” ucap
Chinen lalu meneguk segelas air dingin.
“Chinen…!!”
“Ahh~ dia lagi…” gerutu Chinen
begitu sosok yang tak pernah diinginkannnya itu muncul.
“Konnichiwa, Oba-chan!
(selamat siang, bibi)” sapanya pada Ibu Chinen sambil senyam-senyum tak jelas
apa maksudnya. Jangan heran, dia memang begitu dari sananya *dibantai*.
“Chinen, kon-ni-CHUU~ (chuu=kiss) wa!” ucap bocah yang tak tampak seumuran dengan Chinen itu, namun
kenyataannya usia mereka hanya terpaut 3 bulan. Sebut saja dia, Nakajima Yuto.
Tetangga sebelah rumah yang sangat ramah! Saking ramahnya, ia sering kecopetan
(?). Tapi, ia tak pernah menyesal. Ia selalu berprinsip, bahwa kebaikan itu
meski akan mendapat banyak penindasan, pasti akhirnya bahagia juga (teori
gila). Hidupnya tanpa beban, itulah Yuto!
“Yuto, kau tidak sibuk hari
ini? Biasanya kau selalu mengerjakan PR siang bolong begini,” ucap Chinen lalu
duduk di sofa.
“Ahh~ itu. Semua PR-ku sudah
tuntas! Kau tenang saja! Aku akan tetap ranking 2 di kelas!” ucap Yuto dengan
PeDe-nya.
“Kamawanai~ (aku tidak peduli) Ada apa kau kemari? To the point saja! Perasaanku sedang
buruk hari ini, jadi jangan menggodaku!” ucap Chinen.
“Humm~ Begini, aku tidak akan
membahas PR, drum, ataupun hal-hal yang akan membuatmu pusing dengan
kalimat-kalimat rumit bermajas (?) dan lain-lain… Aku juga tidak akan
mengatakan hal-hal yang akan kau benci… Bla… bla… bla…” sepanjang cerita
berdurasi 15 menit terus membakar telinga Chinen.
“STOP! Hentikan! Kau to the
point pun sama saja membakar telingaku! Pulanglah! Aku sedang tidak ingin
bicara hari ini!” teriak Chinen kesal. Wajahnya sudah sangat merah karena
terlalu marah. Ia bergegas bangkit dari duduknya.
“Eeeh, chotto! (tunggu) Chotto matte
(tunggu sebentar), Chinen!” seru Yuto ikut berdiri. Ia segera mengambil sesuatu
dibalik saku celananya. Sebuah kertas berlipat-lipat yang kemudian di bukanya.
“Lihat ini! Aku ingin
menunjukkan ini padamu!” ucap Yuto menunjukkan brosur itu pada Chinen.
“Eh? Ajang pencarian bakat
untuk boyband?” tanya Chinen usai membaca brosur itu.
“Hm! Bukankah kau suka
menyanyi? Permainan gitarmu juga lumayan! Dan kau bisa melompat!” seru Yuto
dengan girang.
“Apa menurutmu ini menyenangkan?”
tanya Chinen ragu.
“Pasti! Kalau kita ada dalam
satu boyband, aku akan menebarkan kebaikan disana! Pasti sangat menyenangkan!”
“Denganmu? Malas sekali satu
group dengan makhluk (?) sepertimu…”
“Eh? Doushite? (kenapa?) Lagipula, pasti akan banyak teman baru! Lihat
ini! Disana tertulis… Hanya 10 orang yang akan terpilih! Salah satunya pasti
kau dan aku!” seru Yuto sambil bertepuk tangan tak jelas.
“Hmm~ mungkin menarik… Tidak
ada salahnya aku mencoba!” gumam Chinen dalam hati.
**
“Ohayou, boku no namae wa Nakajima Yuto desu (selamat pagi, namaku
adalah Nakajima Yuto) Yoroshiku ne~!”
seru Yuto pada seorang bocah chubby yang tengah duduk dengan sekotak strawberry di genggamannya.
“Ahh~ souka. (ahh~ begitu) Yamada
Ryosuke desu (aku Yamada Ryosuke), kau bisa memanggilku Yama-chan!” ucap bocah itu, senyumnya
membuat pipinya semakin chubby. Author jadi pengen cubit sampe melar *diuber
fansu yama*
“Eh? Kau siapa?” tanya Yama
sambil menunjuk-nunjuk pada Chinen yang berada di belakang Yuto.
“Aku?” tanya Chinen sambil
menunjuk dirinya sendiri. Yama mengangguk mantap.
“Ahh~ Chinen Yuuri desu. Kau bisa memanggilku Chinen.”
“Kawaii ne~ (imutnya~)” gumam Yama sambil senyam-senyum tak jelas.
“Apa dia pacarmu, Yuto?” tanya
Yama dengan tampang polosnya.
“Iie… (tidak)” jawab Yuto singkat.
“Kyaa, baguslah!” seru Yama
lalu melahap sebuah strawberry.
“Eh?” tanya Chinen tak jelas.
“Jadi, aku bisa mendekatinya…”
bisik Yama pada Yuto.
“Ahh~ souka! Demo (tapi), dia
laki-laki, kau tahu itu?” tanya Yuto balik.
“Ehhh?!!” kali ini Yama yang
shock berat atas penjelasan singkat dari Yuto.
“Kalian gila, ya?” ucap Chinen
kemudian berlalu dari hadapan mereka.
“Chinen, chotto! (tunggu)” teriak Yuto kemudian segera mengikuti Chinen.
“Yama-chan, jaa ne! (bye)”
seru Yuto dari kejauhan.
“Ini mustahil… Dia terlalu
imut untuk ukuran seorang laki-laki…” gerutu Yama. Ia masih terpaku di
tempatnya dengan wajah yang sudah tak dapat di tebak ekspresi apa itu (?).
**
“Ehh? Ya ampun…! Aduhh!
Dimana? Dimana?” Chinen masih sibuk mengutak-atik isi tasnya. Ia tampak sangat
gelisah.
“Doushita no (ada apa), Chinen? Ada masalah?” tanya Yuto yang
melihat kecemasan Chinen.
“Formulirku…! Formulirku
tertinggal di rumah!! Aku tidak mungkin ikut audisi tanpa itu…! Ahh~ Kami-sama… (Ya, Tuhan)” ucap Chinen
panik.
“Ahh~ kau bisa ambil milikku!”
ucap Yuto sambil menyerahkan kertas formulir yang masih kosong.
“Lalu kau?” tanya Chinen
bingung.
“Aku akan pesan lagi dan
kembali lagi besok! Yang penting hari ini kau tidak boleh bersedih…” ucap Yuto
dengan senyum tanpa bebannya.
“Demo (tapi), Yuto…”
“Bukankah masih ada hari esok?
Kau tahu kan tidak ada beban selama kebaikan itu terus berjalan! Naah, hari ini
kau harus berjuang! Kau harus lolos seleksi! Sebagai gantinya, besok kau harus
mengantarku lagi kemari! Aku akan berjuang! Hm?” ucap Yuto.
“Yuto… Hontou ni arigatou! (sungguh terima kasih)” ucap Chinen.
“Douitashimashite! (sama-sama)”
.TO BE CONTINUE...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar