Senin, 17 Desember 2012

In The Dark [Chapter 1]


Title                            : In The Dark [Dalam Kegelapan]

 

Author                       : dita-cHun © 2012

 

Length                       : Multichapter

 

Chapter                     : 1

 

Sub-title                    : Sepucuk Surat dari Takaki

 

Rating                        : PG [Parents Guidance]

 

Genre                         : Hurt/Comfort, Romance

 

Theme Song              : YUI—Rain

 

Main Cast                 :

 

*Rena [JKT48]

 

*Takaki Yuya [HSJ]

 

*Inoo Kei [HSJ]

 

POV                           : Author

 

Language                  : Indonesian

 

Disclaimer                : Rena, Yuya, dan Kei adalah punya Tuhan. Saya cuma pinjam! So, don’t bash me! ^^V

 

Warning                    : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya

 

Note                                       : FF ini terinspirasi dari ‘Lampu Mati’. Baiklah, gak jelas? Baca saja part selanjutnya, nanti pasti jelas *author dibekep* Yang pasti dari ide itu saya muncul ide dengan, “Bagaimana jika…?” Nah, dari situlah akhirnya saya putuskan untuk bikin ini FF gaje dan abal-abal. Untuk pertama kalinya saya posting FF tentang member Jikitifortieikh (baca : JKT48) Rena-chaaan! ^^ Dan entah kenapa saya suka banget kalo pairing Takaki Yuya x Rena x Inoo Kei *cinta segitiga*. Padahal rencananya saya mau posting FF berjudul “Dollars”, pairingnya Rena x Yuya, tapi batal. Karena saya lupa sama kelanjutan ceritanya *Plak xD Ok, happy reading! ^^ Jangan lupa komen yaaah! ^^V

 

 

 

 

 

 

 

 

      Sebuah ketukan dari arah luar sukses membangunkan sosok gadis yang tengah terlelap dalam tidurnya. Dengan keadaan masih di antara sadar dan tidak gadis itu melangkahkan kaki malas menuju pintu kamar kosnya. Begitu pintu terbuka sepertiga dijumpainya sebuah ampol merah maroon tergolek manis di atas lantai di bawah pintu kamarnya. Sekilas pandangannya bergulir kesana kemari mencari pemilik amplop mungil itu. Namun, nihil. Tak ada siapapun yang dijumpainya kala itu. Aneh.

Perlahan jemari lentik gadis itu meraih amplop itu, dibolak-baliknya amplop itu—berharap menemukan sebuah petunjuk akan pengirimnya. Namun, amplop itu bersih tanpa coretan tinta apapun di sekelilingnya. Penasaran, ia lekas masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat. Dibukanya amplop itu sembari mencari tempat duduk yang nyaman untuknya melihat isi benda misterius itu.

 

      Amplop itu terbuka sempurna. Nampak di dalamnya secarik kertas yang dilipat tiga kali sehingga ukurannya pas untuk amplop semungil itu. Tanpa ragu lagi gadis itu menyambar kertas putih itu, dibukanya setiap lipatan kertas itu kemudian dibacanya tulisan yang tergores di atasnya.

 

      Untuk Rena,

 

      Halo, Rena. Maaf, malam-malam mengejutkanmu. Aku sama sekali tidak berniat jahat padamu, lho, dengan memberikan surat kaleng ini. Aku hanya tidak bisa mengatakan sesatu yang akan kusampaikan disini padamu saat kita bertemu. Lagipula aku tidak punya nomor ponselmu, jadi aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya padamu selain dengan surat ini.

 

      Ah, maaf. Mungkin aku belum mengatakan siapa aku. Ini aku, Takaki Yuya. Aku ini teman sekelasmu di kampus, kau ingat? Kita sering bertemu, tapi jarang sekali mengobrol.

 

 

      Aku ingat, pertama kali kita mengobrol adalah hari saat kita ada jadwal kuliah malam. Baiklah, akan kuperjelas kalau kau lupa. Aku ini orang yang kau peluk tiba-tiba saat mati lampu malam itu. Malam itu, kurang lebih pukul tujuh saat dosen menyampaikan materi, tiba-tiba listrik padam. Kau menjerit dan reflek memelukku yang ada di sampingmu. Aku bertanya ‘apa kau baik-baik saja?’ kemudian kau menjawab dengan, ‘maaf, aku takut gelap’. Kau tahu? Saat itu aku senang sekali bisa mengobrol denganmu meskipun hanya satu kali dan mungkin sedikit tidak nyambung.

 

      Sebenarnya, inti surat ini hanya satu. Aku ingin bilang, “Aku menyukai Rena”. Itu saja.

 

      Baiklah, terima kasih sudah membaca dan maaf mengganggumu.

 

 

 

Takaki Yuya.

 

      Rena tersenyum geli membaca surat itu. “Takaki Yuya, ya?” Pikiran Rena mengawang, mencari ingatan tentang pria bernama Takaki Yuya itu. Ia sama sekali tidak ingat, mungkin karena kejadian itu berlangsung cepat. Apalagi Rena tidak sempat melihat wajah pemuda yang dipeluknya saat itu, mana mungkin ia ingat yang mana pria itu.

 

**

 

      Pagi-pagi Rena sudah bangun, menyiapkan makanan untuk sarapan kemudian berangkat menuju kampus. Sejak tadi malam ia mengukuhkan niatnya untuk mencari pria berlabel Takaki Yuya—si pengirim surat cinta itu.

 

      Sejujurnya, Rena tidak terlalu peduli dengan isi surat itu. Entah itu surat cinta, surat lamaran kerja, atau apalah itu. Ia hanya mengikuti kata hatinya yang tengah penasaran saat ini.

 

      Begitu sampai di pintu kelas, Rena mengitarkan pandangannya ke seisi kelas. Tiba-tiba sesosok pemuda jangkung berdiri dari kursi kemudian menghampiri Rena yang masih terpaku di tempatnya.

 

      ‘Ah, mungkin itu dia!’

 

      “Rena,” pria itu menyapa Rena. Dilepasnya kacamata hitam yang semula bertengger rapi di depan matanya. “Kenapa tidak masuk?” sambung pria itu.

 

      “Ah, iya. Oh ya, maaf. Siapa namamu?” tanya Rena pada pria itu sembari mengekor di belakangnya.

 

      “Nama? Kau tidak mengenalku?” pria itu berhenti sejenak.

 

      “Maaf, tapi aku ini sulit mengingat nama orang…” ucap Rena beralasan.

 

      Pria itu tersenyum sembari kepalanya mengangguk paham. “Begitu? Kalau begitu tolong kau ingat, ya. Namaku Yabu Kouta, mahasiswa paling keren, baik hati, dan tidak sombong.”

 

      ‘Cih, apanya yang tidak sombong? Melihat gayanya saja membuatku ingin muntah.’

 

      “Oh, baiklah, Kouta-san.”

 

      Merasa pria itu bukanlah sosok yang dicarinya, pandangannya kembali mengedar. Kali ini pandangannya tertuju pada seorang pria dengan kaos abu-abu yang tempat duduknya berbeda dua baris dari pria tadi—Yabu Kouta.

 

      Rena melangkah mantap ke arah pria itu, kemudian mengambil tempat duduk di samping pria itu. “Halo,” sapa Rena. Pria itu menoleh, “Eh, Rena. Ada apa?”

 

      “Maaf, boleh aku tanya sesuatu?”

 

      “Hm? Apa itu?” pria itu tersenyum manis.

 

      “Siapa namamu?”

 

      Baiklah, kali ini respon yang muncul cukup berbeda dari respon pria tadi. Kali ini pria itu langsung menjawab dengan wajah tetap tenang dan dengan senyuman khas di wajahnya. “Namaku Inoo Kei,” jawab pria itu.

 

      ‘Ah, bukan, ya? Kupikir yang ini. Padahal aku bisa mempertimbangkannya kalau pria ini adalah pengirim surat itu. Sayang sekali.’

 

      “Ah, begitu. Oh ya, Kei-san, boleh aku bertanya lagi?”

 

      “Silahkan saja,” jawab Kei mantap.

 

      “Kau tahu mahasiswa bernama Takaki Yuya?” tanya Rena to the point.

 

      Pria itu memiringkan kepalanya sejenak, mungkin berpikir. “Maksudmu Bakaki?”

 

      “Eh? Bakaki?” kali ini Rena yang tampak berpikir. Seingatnya, tulisan kanji itu menunjukkan kata Takaki bukannya Bakaki, meskipun itu kedengaran mirip, sih.

 

      “Dia mahasiswa kelas ini juga, namanya Takaki Yuya. Karena dia sedikit…” Kei mengetuk pelan kepalanya, kemudian melanjutkan. “…bodoh, maka dari itu dia dipanggil Bakaki.”

 

      Rena mengangguk ragu, antara paham dan tidak. “Souka, kalau begitu dimana dia sekarang?”

 

      Kei menunjuk sosok pria yang tengah duduk tepat di depan Rena. “Itu orangnya.”

Rena menoleh ke arah pria yang dimaksud. Ia melongo, “Dia? Takaki?”

 

      Kei mengangguk kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.

 

      “Kelihatannya benar-benar…” Rena menggantung sedikit kalimatnya, kemudian melanjutkan. “…baka.”

 

**

 

      Materi kuliah untuk hari ini telah berakhir. Untuk kesekian kalinya Rena melongok ke arah pria bernama Takaki Yuya itu. Ia benar-benar tidak menduga kalau orang yang menyukainya adalah seorang pria penggila game yang tidak pernah bertemu pandang dengannya sama sekali.

 

      “Kei-san…” pandangan Rena bergulir pada pria yang duduk di belakang Takaki Yuya. “…dia jauh lebih bisa diidamkan.”

 

      Rena tersenyum kecut, “Sayang sekali…”

 

      Rena kembali membenarkan posisi duduknya seperti sedia kala. Sesekali ia menghela nafas malas. Nampaknya, ia tengah tertarik dengan seorang Inoo Kei dan sayangnya pria itu sama sekali bukan orang yang mengirim surat itu.

 

      Ano…” sebuah suara sukses membuat Rena menoleh—berharap itu Inoo Kei.

 

      “Ah?” sayang sekali pemilik suara itu bukanlah sosok yang diharapkannya. Itu Takaki Yuya.

 

      Gomen ne,” Yuya tampak memijat tenguknya dengan raut wajah yang cukup sulit diartikan. Hal ini tentu saja memunculkan tanda tanya pada benak Rena. “Mungkin mengejutkanmu, tapi apakah kau sudah membaca surat dariku?”

 

      “Ah, itu… Begitulah,” jawab Rena kikuk.

 

      “Kalau begitu kau menyukaiku tidak?” tanya Yuya lagi.

 

      “Ee, itu… Bisakah kita tidak membicarakannya terlalu cepat? Lagipula, kurasa kita harus saling mengenal lebih jauh untuk—kau mengertilah maksudku,” ucap Rena, bingung hendak menjawab bagaimana.

 

      Pria itu mengangguk, tampaknya ia paham. “Kalau begitu aku perkenalkan, namaku Takaki Yuya, sembilan belas tahun, mahasiswa jurusan administrasi bisnis, tepatnya satu kelas denganmu. Aku berasal dari Osaka, saat ini aku tinggal di Jalan Himawari nomor 15. Golongan darahku O, hobiku menyanyi dan bermain game. Binatang yang kusukai adalah anjing, buah yang kusukai adalah jeruk. E, bagaimana?”

 

      Rena melongo. Ia menoleh ke sekeliling. Didapati teman-temannya sedang menatap mereka berdua dengan tatapan mengejek. “Ee, maksudku lebih dari ini…” Rena diam sejenak, kemudian melanjutkan. “…dan bukankah tindakanmu barusan bodoh sekali. Mana ada berkenalan seperti itu,” Rena menunduk sembari mengecilkan volume suaranya.

 

      “Rena tidak suka, ya?” pria itu tetap menatap Rena dengan innocence.

 

      “Mana ada yang menyukai pria sepertimu—?!” dengan volume suara yang masih sangat minim tersebut Rena menekan nada bicaranya. “Jujur saja, kau bukan tipeku. Maaf.”

 

      Rena bangkit dari kursinya, meninggalkan Yuya yang masih terpaku—tidak paham. Rena paling tidak suka dipermalukan dan seorang pria berlabel Takaki Yuya baru saja mempermalukannya di hadapan teman-temannya.

 

      ‘Mana ada yang bangga diperlakukan seperti itu! Bodoh—!’

 

      “Rena, chotto matte!” suara itu tak membuat Rena menghentikan langkahnya, ia justru mempercepat langkahnya.

 

      Chotto matte, Rena!” kali ini sebuah tangan meraih lengan Rena. Rena berbalik, berontak. “Lepaskan aku!”

 

      “Apa yang salah sebenarnya?” tanya Yuya masih menatap Rena.

Rena meraih kertas di saku celana jeans-nya. Itu surat dari Yuya yang tadi malam diterimanya. Dengan kasar ia melemparkan surat itu ke arah Yuya. “Aku tidak suka dipermalukan!” Rena menarik lengannya dari genggaman Yuya yang mulai melonggar.

 

      Bugh!

 

      “Ittai—” suara itu mengejutkan Rena. Ia menoleh, didapatinya pria yang cukup dikenalinya tengah mengusap ujung bibirnya. Merasa tidak enak karena menjadi pelaku pemukulan tidak sengaja oleh lengannya itu, Rena lekas minta maaf. Melupakan Yuya yang sibuk dengan surat digenggamannya.

 

      “Kei-san, gomen ne…” ucap Rena tidak enak. Pria itu malah tersenyum,

 

      Daijoubu, tidak terlalu sakit, kok.”

 

      “Aa, aku jadi tidak enak padamu. Bagaimana kalau aku melakukan sesuatu untukmu?” tawar Rena.

 

      Kei kembali mengukir segaris senyum. “Baiklah, bagaimana dengan makan siang di kedai dekat sini?”

 

      “Ok!” seru Rena girang.

 

      ‘Baguslah, dengan begini aku bisa dekat dengan Kei-san…’

 

      Mereka lekas melenggang pergi meninggalkan Yuya yang masih bingung. Sedetik kemudian Yuya memanggil Rena kembali, “Rena!”

 

      Rena menoleh.

 

      “Apa maksudmu kau menyukai Inoo Kei?”

 

      Seketika wajah Rena merah padam. Rasa malu dan kesal beraduk menjadi satu. “Pikir saja sendiri!” Rena menarik lengan Kei menjauh dari pria bodoh bernama Takaki Yuya itu. Atau lebih tepatnya Bakaki Yuya. Ia tidak ingin dipermalukan lebih jauh oleh Yuya.

 

 

 

 

 

 

 

 

.In The Dark. . .

 

 

 

.to be continue~

 

 

 

Glossarium :

 

*Souka : jadi begitu

*Baka : bodoh

*Gomen : maaf

*Ittai : sakit!

*Chotto matte : tunggu sebentar

*Daijoubu : tidak apa-apa

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar