Title : In The Dark [Dalam
Kegelapan]
Author :
dita-cHun © 2012
Length : Multichapter
Chapter : 1
Sub-title : Sepucuk Surat dari
Takaki
Rating : PG [Parents Guidance]
Genre : Hurt/Comfort, Romance
Theme Song : YUI—Rain
Main Cast :
*Rena [JKT48]
*Takaki Yuya [HSJ]
*Inoo Kei [HSJ]
POV : Author
Language : Indonesian
Disclaimer : Rena, Yuya, dan Kei
adalah punya Tuhan. Saya cuma pinjam! So, don’t bash me! ^^V
Warning : ~gaje binti abal~
segala kekurangan adalah punya saya
Note : FF ini terinspirasi
dari ‘Lampu Mati’. Baiklah, gak jelas? Baca saja part selanjutnya, nanti pasti
jelas *author dibekep* Yang pasti dari ide itu saya muncul ide dengan,
“Bagaimana jika…?” Nah, dari situlah akhirnya saya putuskan untuk bikin ini FF
gaje dan abal-abal. Untuk pertama kalinya saya posting FF tentang member
Jikitifortieikh (baca : JKT48) Rena-chaaan! ^^ Dan entah kenapa saya suka
banget kalo pairing Takaki Yuya x Rena x Inoo Kei *cinta segitiga*. Padahal
rencananya saya mau posting FF berjudul “Dollars”, pairingnya Rena x Yuya, tapi
batal. Karena saya lupa sama kelanjutan ceritanya *Plak xD Ok, happy reading!
^^ Jangan lupa komen yaaah! ^^V
Sebuah
ketukan dari arah luar sukses membangunkan sosok gadis yang tengah terlelap
dalam tidurnya. Dengan keadaan masih di antara sadar dan tidak gadis itu
melangkahkan kaki malas menuju pintu kamar kosnya. Begitu pintu terbuka
sepertiga dijumpainya sebuah ampol merah maroon tergolek manis di atas lantai
di bawah pintu kamarnya. Sekilas pandangannya bergulir kesana kemari mencari
pemilik amplop mungil itu. Namun, nihil. Tak ada siapapun yang dijumpainya kala
itu. Aneh.
Perlahan jemari lentik gadis
itu meraih amplop itu, dibolak-baliknya amplop itu—berharap menemukan sebuah
petunjuk akan pengirimnya. Namun, amplop itu bersih tanpa coretan tinta apapun
di sekelilingnya. Penasaran, ia lekas masuk ke dalam kamarnya dan mengunci
pintu rapat-rapat. Dibukanya amplop itu sembari mencari tempat duduk yang
nyaman untuknya melihat isi benda misterius itu.
Amplop itu
terbuka sempurna. Nampak di dalamnya secarik kertas yang dilipat tiga kali
sehingga ukurannya pas untuk amplop semungil itu. Tanpa ragu lagi gadis itu
menyambar kertas putih itu, dibukanya setiap lipatan kertas itu kemudian
dibacanya tulisan yang tergores di atasnya.
Untuk Rena,
Halo, Rena. Maaf, malam-malam
mengejutkanmu. Aku sama sekali tidak berniat jahat padamu, lho, dengan
memberikan surat kaleng ini. Aku hanya tidak bisa mengatakan sesatu yang akan
kusampaikan disini padamu saat kita bertemu. Lagipula aku tidak punya nomor
ponselmu, jadi aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya padamu selain dengan
surat ini.
Ah, maaf. Mungkin aku belum mengatakan
siapa aku. Ini aku, Takaki Yuya. Aku ini teman sekelasmu di kampus, kau ingat?
Kita sering bertemu, tapi jarang sekali mengobrol.
Aku ingat, pertama kali kita
mengobrol adalah hari saat kita ada jadwal kuliah malam. Baiklah, akan
kuperjelas kalau kau lupa. Aku ini orang yang kau peluk tiba-tiba saat mati
lampu malam itu. Malam itu, kurang lebih pukul tujuh saat dosen menyampaikan
materi, tiba-tiba listrik padam. Kau menjerit dan reflek memelukku yang ada di
sampingmu. Aku bertanya ‘apa kau baik-baik saja?’ kemudian kau menjawab dengan,
‘maaf, aku takut gelap’. Kau tahu? Saat itu aku senang sekali bisa mengobrol
denganmu meskipun hanya satu kali dan mungkin sedikit tidak nyambung.
Sebenarnya, inti surat ini hanya satu. Aku ingin
bilang, “Aku menyukai Rena”. Itu saja.
Baiklah, terima kasih sudah
membaca dan maaf mengganggumu.
Takaki Yuya.
Rena
tersenyum geli membaca surat itu. “Takaki Yuya, ya?” Pikiran Rena mengawang,
mencari ingatan tentang pria bernama Takaki Yuya itu. Ia sama sekali tidak
ingat, mungkin karena kejadian itu berlangsung cepat. Apalagi Rena tidak sempat
melihat wajah pemuda yang dipeluknya saat itu, mana mungkin ia ingat yang mana
pria itu.
**
Pagi-pagi
Rena sudah bangun, menyiapkan makanan untuk sarapan kemudian berangkat menuju
kampus. Sejak tadi malam ia mengukuhkan niatnya untuk mencari pria berlabel
Takaki Yuya—si pengirim surat cinta itu.
Sejujurnya,
Rena tidak terlalu peduli dengan isi surat itu. Entah itu surat cinta, surat
lamaran kerja, atau apalah itu. Ia hanya mengikuti kata hatinya yang tengah
penasaran saat ini.
Begitu
sampai di pintu kelas, Rena mengitarkan pandangannya ke seisi kelas. Tiba-tiba
sesosok pemuda jangkung berdiri dari kursi kemudian menghampiri Rena yang masih
terpaku di tempatnya.
‘Ah, mungkin itu dia!’
“Rena,” pria
itu menyapa Rena. Dilepasnya kacamata hitam yang semula bertengger rapi di
depan matanya. “Kenapa tidak masuk?” sambung pria itu.
“Ah, iya. Oh
ya, maaf. Siapa namamu?” tanya Rena pada pria itu sembari mengekor di
belakangnya.
“Nama? Kau
tidak mengenalku?” pria itu berhenti sejenak.
“Maaf, tapi
aku ini sulit mengingat nama orang…” ucap Rena beralasan.
Pria itu
tersenyum sembari kepalanya mengangguk paham. “Begitu? Kalau begitu tolong kau
ingat, ya. Namaku Yabu Kouta, mahasiswa paling keren, baik hati, dan tidak
sombong.”
‘Cih, apanya yang tidak sombong?
Melihat gayanya saja membuatku ingin muntah.’
“Oh,
baiklah, Kouta-san.”
Merasa pria
itu bukanlah sosok yang dicarinya, pandangannya kembali mengedar. Kali ini
pandangannya tertuju pada seorang pria dengan kaos abu-abu yang tempat duduknya
berbeda dua baris dari pria tadi—Yabu Kouta.
Rena
melangkah mantap ke arah pria itu, kemudian mengambil tempat duduk di samping
pria itu. “Halo,” sapa Rena. Pria itu menoleh, “Eh, Rena. Ada apa?”
“Maaf, boleh
aku tanya sesuatu?”
“Hm? Apa
itu?” pria itu tersenyum manis.
“Siapa
namamu?”
Baiklah,
kali ini respon yang muncul cukup berbeda dari respon pria tadi. Kali ini pria
itu langsung menjawab dengan wajah tetap tenang dan dengan senyuman khas di
wajahnya. “Namaku Inoo Kei,” jawab pria itu.
‘Ah, bukan, ya? Kupikir yang ini.
Padahal aku bisa mempertimbangkannya kalau pria ini adalah pengirim surat itu.
Sayang sekali.’
“Ah, begitu.
Oh ya, Kei-san, boleh aku bertanya lagi?”
“Silahkan
saja,” jawab Kei mantap.
“Kau tahu
mahasiswa bernama Takaki Yuya?” tanya Rena to the point.
Pria itu
memiringkan kepalanya sejenak, mungkin berpikir. “Maksudmu Bakaki?”
“Eh?
Bakaki?” kali ini Rena yang tampak berpikir. Seingatnya, tulisan kanji itu
menunjukkan kata Takaki bukannya Bakaki, meskipun itu kedengaran mirip, sih.
“Dia
mahasiswa kelas ini juga, namanya Takaki Yuya. Karena dia sedikit…” Kei
mengetuk pelan kepalanya, kemudian melanjutkan. “…bodoh, maka dari itu dia
dipanggil Bakaki.”
Rena
mengangguk ragu, antara paham dan tidak. “Souka, kalau begitu dimana
dia sekarang?”
Kei menunjuk
sosok pria yang tengah duduk tepat di depan Rena. “Itu orangnya.”
Rena menoleh ke arah pria yang
dimaksud. Ia melongo, “Dia? Takaki?”
Kei
mengangguk kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.
“Kelihatannya
benar-benar…” Rena menggantung sedikit kalimatnya, kemudian melanjutkan. “…baka.”
**
Materi
kuliah untuk hari ini telah berakhir. Untuk kesekian kalinya Rena melongok ke
arah pria bernama Takaki Yuya itu. Ia benar-benar tidak menduga kalau orang
yang menyukainya adalah seorang pria penggila game yang tidak pernah
bertemu pandang dengannya sama sekali.
“Kei-san…”
pandangan Rena bergulir pada pria yang duduk di belakang Takaki Yuya. “…dia
jauh lebih bisa diidamkan.”
Rena
tersenyum kecut, “Sayang sekali…”
Rena kembali
membenarkan posisi duduknya seperti sedia kala. Sesekali ia menghela nafas malas.
Nampaknya, ia tengah tertarik dengan seorang Inoo Kei dan sayangnya pria itu
sama sekali bukan orang yang mengirim surat itu.
“Ano…”
sebuah suara sukses membuat Rena menoleh—berharap itu Inoo Kei.
“Ah?” sayang
sekali pemilik suara itu bukanlah sosok yang diharapkannya. Itu Takaki Yuya.
“Gomen
ne,” Yuya tampak memijat tenguknya dengan raut wajah yang cukup sulit
diartikan. Hal ini tentu saja memunculkan tanda tanya pada benak Rena. “Mungkin
mengejutkanmu, tapi apakah kau sudah membaca surat dariku?”
“Ah, itu…
Begitulah,” jawab Rena kikuk.
“Kalau
begitu kau menyukaiku tidak?” tanya Yuya lagi.
“Ee, itu…
Bisakah kita tidak membicarakannya terlalu cepat? Lagipula, kurasa kita harus
saling mengenal lebih jauh untuk—kau mengertilah maksudku,” ucap Rena, bingung
hendak menjawab bagaimana.
Pria itu
mengangguk, tampaknya ia paham. “Kalau begitu aku perkenalkan, namaku Takaki
Yuya, sembilan belas tahun, mahasiswa jurusan administrasi bisnis, tepatnya
satu kelas denganmu. Aku berasal dari Osaka, saat ini aku tinggal di Jalan
Himawari nomor 15. Golongan darahku O, hobiku menyanyi dan bermain game.
Binatang yang kusukai adalah anjing, buah yang kusukai adalah jeruk. E,
bagaimana?”
Rena
melongo. Ia menoleh ke sekeliling. Didapati teman-temannya sedang menatap
mereka berdua dengan tatapan mengejek. “Ee, maksudku lebih dari ini…” Rena diam
sejenak, kemudian melanjutkan. “…dan bukankah tindakanmu barusan bodoh sekali.
Mana ada berkenalan seperti itu,” Rena menunduk sembari mengecilkan volume
suaranya.
“Rena tidak
suka, ya?” pria itu tetap menatap Rena dengan innocence.
“Mana ada
yang menyukai pria sepertimu—?!” dengan volume suara yang masih sangat minim
tersebut Rena menekan nada bicaranya. “Jujur saja, kau bukan tipeku. Maaf.”
Rena bangkit
dari kursinya, meninggalkan Yuya yang masih terpaku—tidak paham. Rena paling
tidak suka dipermalukan dan seorang pria berlabel Takaki Yuya baru saja
mempermalukannya di hadapan teman-temannya.
‘Mana ada yang bangga
diperlakukan seperti itu! Bodoh—!’
“Rena, chotto
matte!” suara itu tak membuat Rena menghentikan langkahnya, ia justru
mempercepat langkahnya.
“Chotto
matte, Rena!” kali ini sebuah tangan meraih lengan Rena. Rena berbalik,
berontak. “Lepaskan aku!”
“Apa yang
salah sebenarnya?” tanya Yuya masih menatap Rena.
Rena meraih kertas di saku
celana jeans-nya. Itu surat dari Yuya yang tadi malam diterimanya.
Dengan kasar ia melemparkan surat itu ke arah Yuya. “Aku tidak suka
dipermalukan!” Rena menarik lengannya dari genggaman Yuya yang mulai melonggar.
Bugh!
“Ittai—” suara
itu mengejutkan Rena. Ia menoleh, didapatinya pria yang cukup dikenalinya
tengah mengusap ujung bibirnya. Merasa tidak enak karena menjadi pelaku
pemukulan tidak sengaja oleh lengannya itu, Rena lekas minta maaf. Melupakan
Yuya yang sibuk dengan surat digenggamannya.
“Kei-san,
gomen ne…” ucap Rena tidak enak. Pria itu malah tersenyum,
“Daijoubu,
tidak terlalu sakit, kok.”
“Aa, aku
jadi tidak enak padamu. Bagaimana kalau aku melakukan sesuatu untukmu?” tawar
Rena.
Kei kembali
mengukir segaris senyum. “Baiklah, bagaimana dengan makan siang di kedai dekat
sini?”
“Ok!” seru
Rena girang.
‘Baguslah,
dengan begini aku bisa dekat dengan Kei-san…’
Mereka lekas
melenggang pergi meninggalkan Yuya yang masih bingung. Sedetik kemudian Yuya
memanggil Rena kembali, “Rena!”
Rena
menoleh.
“Apa
maksudmu kau menyukai Inoo Kei?”
Seketika
wajah Rena merah padam. Rasa malu dan kesal beraduk menjadi satu. “Pikir saja
sendiri!” Rena menarik lengan Kei menjauh dari pria bodoh bernama Takaki Yuya
itu. Atau lebih tepatnya Bakaki Yuya. Ia tidak ingin dipermalukan lebih jauh
oleh Yuya.
.In The Dark. . .
.to be continue~
Glossarium :
*Souka : jadi begitu
*Baka : bodoh
*Gomen : maaf
*Ittai : sakit!
*Chotto matte : tunggu sebentar
*Daijoubu : tidak apa-apa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar