Title :
ママ—Mama
Author :
dita-cHun
Length :
Oneshot
Genre :
Family, Slice of Life, Hurt/Comfort
Rating :
PG [Parents Guidance]
Theme Song :
YUI—Remember You
Main Cast :
*Kawashima Umika
*Mrs. Kawashima/Mama [OC]
Language :
Indonesian
POV :
Kawashima Umika
Disclaimer :
Umika adalah saingan saya *Plak, maaf, salah skenario*. Maksudnya, Umika adalah
punya Tuhan, OC adalah punya saya dan plot juga punya saya! No bash, ok?
Warning :
~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya
Note :
Aaaah~ minna~! Saya kangen banget bikin FF! Padahal FF ini udah ada konsepnya
loh sejak lama, tapi karena nggak cepat dibikin akhirnya lupa. Alhasil, saya
harus merombak dari awal dan bikin cerita dengan konsep yang agak berbeda sama
konsep awal, kayaknya. Yang pasti saya lagi naksir sama genre Family, terutama
yang ada Hurt/Comfort –nya! xD Ah, sudahlah. Happy reading! ^^ Jangan lupa
komen, ok?! ^^V
.
Mama…
Kenapa kau
membuat hidupku gelap, seperti awan kelabu yang menghitam kala malam menjelang?
.
“Umika,” suara itu memanggilku. Terdengar
agak parau dengan volume minimum.
Aku menyadarinya, tapi aku enggan beranjak
dari tempatku berdiam. Aku mendengarnya, tapi aku mencoba mengabaikannya. Aku
diam dengan jutaan rasa takut merayapi batinku.
“Umika,” suara itu kembali menyergap indra
pendengaranku. Aku masih bergeming, mencoba mengabaikannya.
“Umika, cepatlah kemari!” suara itu
terdengar tidak sabar bahkan lebih keras dari sebelumnya.
Perlahan aku bangkit dari tempatku duduk.
Yang pertama terdengar saat aku keluar dari kamar adalah suara derik pintu.
Tubuhku gemetar, luka lebam pada tubuhku masih tampak basah dan rasanya begitu
menyakitkan saat aku mencoba menggerakkan tubuhku. Sisa obat luka semalam
kupaksa menutup luka lebam yang tampaknya paling parah. Meski begitu, itu semua
tak mengobati lukaku terlalu jauh. Hanya membuat sebagian kecil di antaranya
terasa lebih baik.
Prang!
Aku terjerembab ke lantai begitu kulihat sebuah botol bir
melayang kasar ke arahku. Nyaris, andai aku tidak menghindar, mungkin botol itu
sudah menghancurkan isi kepalaku saat itu. Aku mengalihkan perhatianku pada
botol berwarna cokelat bening yang sudah hancur berkeping-keping setelah sukses
menghantam salah satu sisi lemari di belakangku.
“Apa kau tuli, hah?!” suara itu membuat
perhatianku kembali teralih, kali ini pada objek yang berbeda. Seorang wanita
berusia tiga puluh lima tahun yang kali ini menatapku bengis.
Prang!
“Akh,” kali ini botol lainnya melayang ke
arahku tanpa sempat kuhindari atau kutangkis. Botol itu menghantam lenganku
kasar kemudian menghantam lantai.
“Aku sedang mengajakmu berbicara, bodoh!
Jangan diam saja!” ia kembali membentak, kali ini dengan volume lebih keras
dari sebelumnya.
“Sumimasen…” ucapku pelan, begitu
pelan. Aku menundukkan pandangan, air mataku jatuh satu-satu ke atas lantai.
Aku takut jika kedua pandanganku beradu dengannya, ia akan melakukan lebih dari
ini.
“Ambilkan aku bir,” suaranya kembali
mengajakku berinteraksi.
Kali ini aku bangkit, menahan perih yang
masih terus merajam tubuhku—terutama lengan dan kepalaku. Cepat-cepat aku
beranjak menuju dapur. Kubuka lemari es mencoba menemukan bir di dalam sana.
Namun, sejauh mataku memandang, aku tak kunjung menemukan apa yang kucari. Aku
mulai was-was. Dadaku berguncang hebat. Ini buruk.
Aku
tidak menemukan satu botol bir pun.
Aku kembali ke ruang tamu dengan perasaan
berkecamuk. Kupandangi kedua tangan penuh lebam milikku. Kosong, aku tak
membawa apapun. Aku sudah membongkar seisi dapur, namun tak kujumpai sebotol bir
pun di sana. Kalau begini bisa jadi kedua tanganku akan menjadi sasaran
pukulannya. Aku takut.
Wanita itu masih tergolek di samping meja
dengan posisi duduk tidak sempurna. Kepalanya bersandar di atas meja dengan
kedua tangannya masih menggenggam botol bir yang kusimpulkan isinya tinggal
seperempat.
“Maaf…” tampaknya suaraku mengusik
aktivitasnya barusan. Ia menoleh ke arahku, masih dengan tatapan yang sama.
“Aku tidak menemukan sebotol bir pun di dapur.”
Kulihat wanita itu bergeming untuk waktu yang
cukup lama. Aku turut diam, tak berani membuka pembicaraan.
“Umika,” suara itu membuyarkan lamunan
singkatku.
“Ah, hai’.” Aku menyahut cepat.
“Kemari,” suara itu terdengar setengah
memerintah. Aku menurut, meskipun dengan perasaan yang masih sangat was-was.
“Letakkan kedua tanganmu di atas meja.”
Kuletakkan kedua tanganku di atas meja
dengan posisi masing-masing punggung tanganku bersandar pada muka meja,
sedangkan kedua telapak tanganku terbuka
menghadap atas. Sejenak ia diam, kemudian ia kembali meminum bir di dalam botol
di genggamannya, kali ini hingga benar-benar habis. Kemudian dengan sekali
hempas, ia menghentakkan botol itu ke arah kedua tanganku dengan kasar.
Prang!
“Ittai!” jeritku spontan. Botol itu
berubah menjadi kepingan, sementara cairan kental berwarna merah pekat mulai
mengalir dari celah pori-pori kulit telapak tanganku. Aku enggan menggerakkan
telapak tanganku, rasanya begitu perih. Bahkan ketika aku menyadari sebagian
kecil kepingan itu menancap pada kedua tanganku. Aku menangis memohon
pengampunan wanita itu, “Mama, gomen ne…”
Wanita itu adalah ibuku.
**
.
Mama…
Kenapa kau
seperti petir yang menyakitiku dengan suara dan tindakanmu?
.
Hari ini hari Senin, ramalan cuaca
mengatakan bahwa hari ini berawan dan itu terbukti. Aku mengepak payung ke
dalam tas sekolahku kemudian berangkat. Begitu sampai di ruang tamu, kulihat
mama masih tertidur pulas di antara botol bir yang semalam dikonsumsinya.
Pelan-pelan aku memungut satu-persatu botol
bir itu kemudian memindahkannya ke atas meja. Kubersihkan sedikit karpet tempat
mama tertidur kemudian kuambil bantal dari kamar mama dan meletakkannya tepat
di bawah kepala mama saat itu.
Aku mengalihkan pandanganku pada jam
dinding di sudut ruangan. Jarum panjangnya menunjuk pada angka tujuh sementara
jarum yang jauh lebih pendek menunjuk antara angka enam dan tujuh. Sebelum
bangkit, kukecup singkat kening mama. “Mama, aku berangkat. Do’akan aku, ya?”
Aku melenggang meninggalkan ruang tamu
menuju beranda rumah. Kupasang kedua sepatu berwarna hitam pekat pada kedua
kakiku kemudian berangkat menuju sekolah.
Belum sempat kakiku menapak ke dalam
sekolah, sebuah tangan menarik rambutku kasar dari arah belakang. Aku menoleh,
kujumpai sosok wanita menatapku tak suka dengan tangan kanannya menggenggam
erat rambut bagian belakangku.
“Mama?” aku meringis menahan perih. Namun,
ia mengabaikanku.
“Pulang sekarang juga, Umika!” bentaknya
keras-keras.
Seketika itu pula seluruh teman-temanku
yang sempat berlalu lalang turut diam. Mereka memandangku risih. Sesekali
kudengar samar-samar bisikan mereka mengolokku dengan teman seperjalanan
mereka. Aku malu, kenapa mama harus menyiksaku seperti ini?
Mama menarikku kasar kembali ke rumah. Aku
tak kuasa melawan tenaga mama yang jauh lebih besar dalam keadaan masih
setengah mabuk itu. Alhasil, aku batal menjejak sekolah dan harus berakhir
kembali di rumah. Padahal, seharusnya aku bisa melarikan diri sejenak dari
tekanan mama dengan pergi ke sekolah. Tapi, rupanya kali ini mama tak
membiarkanku melarikan diri. Ia menarikku kembali ke dalam lingkaran hitam,
dunia mama.
Sejujurnya, aku tidak suka. Aku tidak suka
kehidupan seperti ini.
**
.
Dan Mama, kenapa
saat ini kau bagai hujan badai yang tidak akan berakhir?
Padahal dulu
Mama berbeda, mulanya tidak segelap ini…
.
Kuambil sebuah botol bir di samping meja
kemudian menuangkannya ke dalam gelas di genggaman mama. Setelah itu mama akan
meminumnya dalam sekali teguk. Kejadian ini terus berulang lebih dari sepuluh
menit. Sambil menuangkan bir ke dalam gelas, sesekali aku mencuri pandang ke
arah mama. Mama tampak begitu menyedihkan dengan keadaan seperti saat ini.
Seingatku, dulu mama tidak begini. Mama terlalu berbeda dengan dunia gelapnya
saat ini, bersama minuman keras dan rokok, sangat berbeda.
Aku masih ingat meski samar-samar bahwa
mama dulu adalah sosok ibu yang sangat baik bagi keluarga kami—papa, mama, dan
aku. Dulu, setiap pagi-pagi sekali mama sudah bangun kemudian cepat-cepat
menyiapkan sarapan untuk aku dan papa. Setelah itu mama akan memberiku kecupan
singkat, salam perpisahan kami saat aku akan berangkat ke sekolah besama papa.
Mama tidak pernah lupa mengucapkan “Iterasshai, Umi-chan!” saat
aku berangkat terburu-buru ke sekolah, saat papa sudah tidak seluang dulu
mengantarku sekolah.
Mama akan selalu menyambutku di beranda
saat aku tiba di rumah. Kemudian mama akan mengomel saat aku menghabiskan waktu
di depan televisi atau saat bermain game sebelum aku mengerjakan PR.
Mama akan mengucapkan “Oyasumi, Umi-chan…” sebelum aku masuk ke
dalam kamar saat malam hari. Tapi, aku ingat bahwa ada satu malam yang berbeda.
Satu malam yang membuat keadaan kami menjadi seperti sekarang ini, yakni malam
dimana mama tidak mengucapkan sepatah ucapan selamat tidur pun.
Malam itu mereka berdua—mama dan
papa—bertengkar. Keduanya memperdebatkan sesuatu yang saat itu masih belum
kumengerti. Mama membicarakan tentang seorang wanita bernama Ayumi dengan nada
begitu marah, sedangkan papa, ia juga tidak mau mengalah. Mama dan papa
berdebat sepanjang malam dengan aku sebagai saksinya. Aku menangis di belakang
lemari tempat aku mengintip kegiatan
mereka. Entah kenapa, meski aku tidak paham apa yang mereka bicarakan
saat itu, aku merasa saat itu kondisi keluarga kami sedang tidak baik.
Kemudian setelah malam itu, mama dan papa
berpisah untuk waktu yang lama hingga saat ini.
Kehidupan kami berubah 180 derajat dari
sebelumnya. Tatapan lemah lembut mama berubah menjadi tatapan bengis. Mama yang
dulu selalu menjaga dan merawatku mulai sering menyakitiku. Mama yang dulu
selalu menjaga kesehatan mulai mengenal rokok dan alcohol. Kemudian mama
menjadi seorang wanita yang begitu menakutkan.
Hari-hari ceria kami sudah berakhir,
seperti inilah mama mencoba menjelaskan keadaan itu.
**
.
Tapi,
Mama…
Bukankah setelah
langit gelap, petir, dan hujan badai akan ada sesuatu yang indah?
.
“Mama…” aku menuang cairan terakhir ke
dalam gelas akrilik itu. Seperti dugaanku, ia mengabaikan panggilanku dan
melanjutkan aktivitasnya, yakni meminum bir itu.
Aku memindahkan botol itu ke samping meja.
“Aku ingin Mama berhenti,” lanjutku. Kali
ini ada respon, tampak jelas dari raut wajah mama yang berubah.
Kulihat mama mengambil sebuah botol bir,
bersiap untuk menghantamkannya ke kepalaku. Aku bergeming. Kutatap tajam kedua
bola mata milik mama yang menatapku tak suka. Lama aku tak melihat raut wajah
mama. Ternyata, mama sudah jauh lebih menyedihkan dibanding satu bulan yang
lalu.
Prang!
Air mataku mengalir satu-satu. Bibirku
mengatup erat, menahan perih yang menjalar di sepanjang kepala bagian
belakangku. Aku masih bertahan menatap kedua bola mata itu dengan tatapan yang
tak mau kalah tajam dengan tatapan mama.
Prang!
Botol lainnya menyusul. Kurasakan cairan
lain, selain keringatku mulai menetes dari atas, mungkin baru keluar dari
pori-poriku. Rasanya lebih perih dari sebelumnya. Namun, aku mencoba
menahannya.
Botol ketiga, keempat, kelima terus
menyusul. Kepalaku sakit luar biasa, namun bibirku terus bertahan—terkatup
erat. Entah akan seremuk apa kepalaku nantinya, aku tidak peduli. Setelah mama
puas aku akan melanjutkan pembicaraanku.
Lama tak kurasakan lagi botol lain
menghantam kepalaku. Aku menengok ke arah tangan mama berada. Ia mencari botol
di bawah meja, namun di sana sudah tak ada apapun. Ia mendesis sebal sambil
menatapku jengkel.
“Seberat inikah luka mama saat itu?”
suaraku kembali muncul dalam volume cukup pelan, namun jelas.
Mama diam.
“Kenapa mama ingin menghancurkan hidupku?
Apakah dalam diriku mama melihat papa? Maka dari itu, mama ingin hidupku segera
berakhir, begitu?”
Entah darimana aku mendapatkan kalimat itu.
Yang pasti aku sudah mengucapkannya saat ini.
“Aku bukan papa. Aku Umika, anakmu. Apa kau
ingin menghancurkan sebagian dirimu? Aku? Umika?”
Mama kembali diam.
“Bukankah mama menyayangiku? Mama pernah
berkata ‘Mama begitu menyayangi Umika bahkan lebih besar dari sayang Umika
kepada Mama’, bukan?”
Kulihat raut wajah mama mulai berubah,
sedikit demi sedikit.
“Apa mama tahu sebesar apa sayang Umika
pada mama?” aku terdiam sejenak, kemudian melanjutkan. “Sebesar nyawaku.”
Setetes buliran bening mengalir dari
kelopak mata milik mama. Ia menangis. Aku merangkak ke arah mama, memeluknya
erat tanpa penolakan sedikit pun darinya. Mungkin, dari sinilah kami bisa
memulai lembaran baru kami. Sesuatu yang baik sedang pada prosesnya. Yang bisa
kami lakukan adalah berusaha dan menunggu hingga saat itu tiba. Saat sesuatu
yang baik itu berkumpul menjadi satu dan mengembalikan kebahagiaan kami yang
sempat menghilang.
.
Sesuatu yang
kusebut dengan pelangi…
.
.the end.
Glossarium :
*Sumimasen :
Maaf
*Gomen :
Maaf
*Iterasshai! :
Selamat jalan!
*Ittai! :
Sakit!
*Hai’ :
Ya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar