Kamis, 29 November 2012

ママ—Mama


Title            : Mama

 

Author        : dita-cHun

 

Length        : Oneshot

 

Genre          : Family, Slice of Life, Hurt/Comfort

 

Rating         : PG [Parents Guidance]

 

Theme Song          : YUI—Remember You

 

Main Cast    :

 

*Kawashima Umika

 

*Mrs. Kawashima/Mama [OC]

 

Language    : Indonesian

 

POV             : Kawashima Umika

 

Disclaimer  : Umika adalah saingan saya *Plak, maaf, salah skenario*. Maksudnya, Umika adalah punya Tuhan, OC adalah punya saya dan plot juga punya saya! No bash, ok?

 

Warning      : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya

 

Note            : Aaaah~ minna~! Saya kangen banget bikin FF! Padahal FF ini udah ada konsepnya loh sejak lama, tapi karena nggak cepat dibikin akhirnya lupa. Alhasil, saya harus merombak dari awal dan bikin cerita dengan konsep yang agak berbeda sama konsep awal, kayaknya. Yang pasti saya lagi naksir sama genre Family, terutama yang ada Hurt/Comfort –nya! xD Ah, sudahlah. Happy reading! ^^ Jangan lupa komen, ok?! ^^V

 

 

 

 

 

 

 

 

.

 

     Mama…

 

    Kenapa kau membuat hidupku gelap, seperti awan kelabu yang menghitam kala malam menjelang?

 

.

 

     “Umika,” suara itu memanggilku. Terdengar agak parau dengan volume minimum.

 

     Aku menyadarinya, tapi aku enggan beranjak dari tempatku berdiam. Aku mendengarnya, tapi aku mencoba mengabaikannya. Aku diam dengan jutaan rasa takut merayapi batinku.

 

     “Umika,” suara itu kembali menyergap indra pendengaranku. Aku masih bergeming, mencoba mengabaikannya.

 

     “Umika, cepatlah kemari!” suara itu terdengar tidak sabar bahkan lebih keras dari sebelumnya.

 

     Perlahan aku bangkit dari tempatku duduk. Yang pertama terdengar saat aku keluar dari kamar adalah suara derik pintu. Tubuhku gemetar, luka lebam pada tubuhku masih tampak basah dan rasanya begitu menyakitkan saat aku mencoba menggerakkan tubuhku. Sisa obat luka semalam kupaksa menutup luka lebam yang tampaknya paling parah. Meski begitu, itu semua tak mengobati lukaku terlalu jauh. Hanya membuat sebagian kecil di antaranya terasa lebih baik.

 

    Prang!

 

     Aku terjerembab ke  lantai begitu kulihat sebuah botol bir melayang kasar ke arahku. Nyaris, andai aku tidak menghindar, mungkin botol itu sudah menghancurkan isi kepalaku saat itu. Aku mengalihkan perhatianku pada botol berwarna cokelat bening yang sudah hancur berkeping-keping setelah sukses menghantam salah satu sisi lemari di belakangku.

 

     “Apa kau tuli, hah?!” suara itu membuat perhatianku kembali teralih, kali ini pada objek yang berbeda. Seorang wanita berusia tiga puluh lima tahun yang kali ini menatapku bengis.

 

     Prang!

    

     “Akh,” kali ini botol lainnya melayang ke arahku tanpa sempat kuhindari atau kutangkis. Botol itu menghantam lenganku kasar kemudian menghantam lantai.

 

     “Aku sedang mengajakmu berbicara, bodoh! Jangan diam saja!” ia kembali membentak, kali ini dengan volume lebih keras dari sebelumnya.

 

     Sumimasen…” ucapku pelan, begitu pelan. Aku menundukkan pandangan, air mataku jatuh satu-satu ke atas lantai. Aku takut jika kedua pandanganku beradu dengannya, ia akan melakukan lebih dari ini.

 

     “Ambilkan aku bir,” suaranya kembali mengajakku berinteraksi.

 

     Kali ini aku bangkit, menahan perih yang masih terus merajam tubuhku—terutama lengan dan kepalaku. Cepat-cepat aku beranjak menuju dapur. Kubuka lemari es mencoba menemukan bir di dalam sana. Namun, sejauh mataku memandang, aku tak kunjung menemukan apa yang kucari. Aku mulai was-was. Dadaku berguncang hebat. Ini buruk.

 

     Aku tidak menemukan satu botol bir pun.

 

     Aku kembali ke ruang tamu dengan perasaan berkecamuk. Kupandangi kedua tangan penuh lebam milikku. Kosong, aku tak membawa apapun. Aku sudah membongkar seisi dapur, namun tak kujumpai sebotol bir pun di sana. Kalau begini bisa jadi kedua tanganku akan menjadi sasaran pukulannya. Aku takut.

 

     Wanita itu masih tergolek di samping meja dengan posisi duduk tidak sempurna. Kepalanya bersandar di atas meja dengan kedua tangannya masih menggenggam botol bir yang kusimpulkan isinya tinggal seperempat.

 

     “Maaf…” tampaknya suaraku mengusik aktivitasnya barusan. Ia menoleh ke arahku, masih dengan tatapan yang sama. “Aku tidak menemukan sebotol bir pun di dapur.”

 

     Kulihat wanita itu bergeming untuk waktu yang cukup lama. Aku turut diam, tak berani membuka pembicaraan.

 

     “Umika,” suara itu membuyarkan lamunan singkatku.

 

     “Ah, hai’.” Aku menyahut cepat.

 

     “Kemari,” suara itu terdengar setengah memerintah. Aku menurut, meskipun dengan perasaan yang masih sangat was-was. “Letakkan kedua tanganmu di atas meja.”

 

     Kuletakkan kedua tanganku di atas meja dengan posisi masing-masing punggung tanganku bersandar pada muka meja, sedangkan  kedua telapak tanganku terbuka menghadap atas. Sejenak ia diam, kemudian ia kembali meminum bir di dalam botol di genggamannya, kali ini hingga benar-benar habis. Kemudian dengan sekali hempas, ia menghentakkan botol itu ke arah kedua tanganku dengan kasar.

 

     Prang!

 

     Ittai!” jeritku spontan. Botol itu berubah menjadi kepingan, sementara cairan kental berwarna merah pekat mulai mengalir dari celah pori-pori kulit telapak tanganku. Aku enggan menggerakkan telapak tanganku, rasanya begitu perih. Bahkan ketika aku menyadari sebagian kecil kepingan itu menancap pada kedua tanganku. Aku menangis memohon pengampunan wanita itu, “Mama, gomen ne…”

 

     Wanita itu adalah ibuku.

 

**

 

.

 

    Mama…

 

    Kenapa kau seperti petir yang menyakitiku dengan suara dan tindakanmu?

 

.

 

     Hari ini hari Senin, ramalan cuaca mengatakan bahwa hari ini berawan dan itu terbukti. Aku mengepak payung ke dalam tas sekolahku kemudian berangkat. Begitu sampai di ruang tamu, kulihat mama masih tertidur pulas di antara botol bir yang semalam dikonsumsinya.

 

     Pelan-pelan aku memungut satu-persatu botol bir itu kemudian memindahkannya ke atas meja. Kubersihkan sedikit karpet tempat mama tertidur kemudian kuambil bantal dari kamar mama dan meletakkannya tepat di bawah kepala mama saat itu.

 

     Aku mengalihkan pandanganku pada jam dinding di sudut ruangan. Jarum panjangnya menunjuk pada angka tujuh sementara jarum yang jauh lebih pendek menunjuk antara angka enam dan tujuh. Sebelum bangkit, kukecup singkat kening mama. “Mama, aku berangkat. Do’akan aku, ya?”

 

     Aku melenggang meninggalkan ruang tamu menuju beranda rumah. Kupasang kedua sepatu berwarna hitam pekat pada kedua kakiku kemudian berangkat menuju sekolah.

 

     Belum sempat kakiku menapak ke dalam sekolah, sebuah tangan menarik rambutku kasar dari arah belakang. Aku menoleh, kujumpai sosok wanita menatapku tak suka dengan tangan kanannya menggenggam erat rambut bagian belakangku.

 

     “Mama?” aku meringis menahan perih. Namun, ia mengabaikanku.

 

     “Pulang sekarang juga, Umika!” bentaknya keras-keras.

 

     Seketika itu pula seluruh teman-temanku yang sempat berlalu lalang turut diam. Mereka memandangku risih. Sesekali kudengar samar-samar bisikan mereka mengolokku dengan teman seperjalanan mereka. Aku malu, kenapa mama harus menyiksaku seperti ini?

 

     Mama menarikku kasar kembali ke rumah. Aku tak kuasa melawan tenaga mama yang jauh lebih besar dalam keadaan masih setengah mabuk itu. Alhasil, aku batal menjejak sekolah dan harus berakhir kembali di rumah. Padahal, seharusnya aku bisa melarikan diri sejenak dari tekanan mama dengan pergi ke sekolah. Tapi, rupanya kali ini mama tak membiarkanku melarikan diri. Ia menarikku kembali ke dalam lingkaran hitam, dunia mama.

 

     Sejujurnya, aku tidak suka. Aku tidak suka kehidupan seperti ini.

 

**

 

.

 

    Dan Mama, kenapa saat ini kau bagai hujan badai yang tidak akan berakhir?

 

    Padahal dulu Mama berbeda, mulanya tidak segelap ini…

 

.

 

     Kuambil sebuah botol bir di samping meja kemudian menuangkannya ke dalam gelas di genggaman mama. Setelah itu mama akan meminumnya dalam sekali teguk. Kejadian ini terus berulang lebih dari sepuluh menit. Sambil menuangkan bir ke dalam gelas, sesekali aku mencuri pandang ke arah mama. Mama tampak begitu menyedihkan dengan keadaan seperti saat ini. Seingatku, dulu mama tidak begini. Mama terlalu berbeda dengan dunia gelapnya saat ini, bersama minuman keras dan rokok, sangat berbeda.

 

     Aku masih ingat meski samar-samar bahwa mama dulu adalah sosok ibu yang sangat baik bagi keluarga kami—papa, mama, dan aku. Dulu, setiap pagi-pagi sekali mama sudah bangun kemudian cepat-cepat menyiapkan sarapan untuk aku dan papa. Setelah itu mama akan memberiku kecupan singkat, salam perpisahan kami saat aku akan berangkat ke sekolah besama papa. Mama tidak pernah lupa mengucapkan “Iterasshai, Umi-chan!” saat aku berangkat terburu-buru ke sekolah, saat papa sudah tidak seluang dulu mengantarku sekolah.

 

     Mama akan selalu menyambutku di beranda saat aku tiba di rumah. Kemudian mama akan mengomel saat aku menghabiskan waktu di depan televisi atau saat bermain game sebelum aku mengerjakan PR. Mama akan mengucapkan “Oyasumi, Umi-chan…” sebelum aku masuk ke dalam kamar saat malam hari. Tapi, aku ingat bahwa ada satu malam yang berbeda. Satu malam yang membuat keadaan kami menjadi seperti sekarang ini, yakni malam dimana mama tidak mengucapkan sepatah ucapan selamat tidur pun.

 

     Malam itu mereka berdua—mama dan papa—bertengkar. Keduanya memperdebatkan sesuatu yang saat itu masih belum kumengerti. Mama membicarakan tentang seorang wanita bernama Ayumi dengan nada begitu marah, sedangkan papa, ia juga tidak mau mengalah. Mama dan papa berdebat sepanjang malam dengan aku sebagai saksinya. Aku menangis di belakang lemari tempat aku mengintip kegiatan  mereka. Entah kenapa, meski aku tidak paham apa yang mereka bicarakan saat itu, aku merasa saat itu kondisi keluarga kami sedang tidak baik.

 

     Kemudian setelah malam itu, mama dan papa berpisah untuk waktu yang lama hingga saat ini.

 

     Kehidupan kami berubah 180 derajat dari sebelumnya. Tatapan lemah lembut mama berubah menjadi tatapan bengis. Mama yang dulu selalu menjaga dan merawatku mulai sering menyakitiku. Mama yang dulu selalu menjaga kesehatan mulai mengenal rokok dan alcohol. Kemudian mama menjadi seorang wanita yang begitu menakutkan.

 

     Hari-hari ceria kami sudah berakhir, seperti inilah mama mencoba menjelaskan keadaan itu.

 

**

 

.

 

    Tapi, Mama…

 

    Bukankah setelah langit gelap, petir, dan hujan badai akan ada sesuatu yang indah?

 

.

 

     “Mama…” aku menuang cairan terakhir ke dalam gelas akrilik itu. Seperti dugaanku, ia mengabaikan panggilanku dan melanjutkan aktivitasnya, yakni meminum bir itu.

 

     Aku memindahkan botol itu ke samping meja.

 

     “Aku ingin Mama berhenti,” lanjutku. Kali ini ada respon, tampak jelas dari raut wajah mama yang berubah.

 

     Kulihat mama mengambil sebuah botol bir, bersiap untuk menghantamkannya ke kepalaku. Aku bergeming. Kutatap tajam kedua bola mata milik mama yang menatapku tak suka. Lama aku tak melihat raut wajah mama. Ternyata, mama sudah jauh lebih menyedihkan dibanding satu bulan yang lalu.

 

    Prang!

 

     Air mataku mengalir satu-satu. Bibirku mengatup erat, menahan perih yang menjalar di sepanjang kepala bagian belakangku. Aku masih bertahan menatap kedua bola mata itu dengan tatapan yang tak mau kalah tajam dengan tatapan mama.

 

     Prang!

 

     Botol lainnya menyusul. Kurasakan cairan lain, selain keringatku mulai menetes dari atas, mungkin baru keluar dari pori-poriku. Rasanya lebih perih dari sebelumnya. Namun, aku mencoba menahannya.

 

     Botol ketiga, keempat, kelima terus menyusul. Kepalaku sakit luar biasa, namun bibirku terus bertahan—terkatup erat. Entah akan seremuk apa kepalaku nantinya, aku tidak peduli. Setelah mama puas aku akan melanjutkan pembicaraanku.

 

     Lama tak kurasakan lagi botol lain menghantam kepalaku. Aku menengok ke arah tangan mama berada. Ia mencari botol di bawah meja, namun di sana sudah tak ada apapun. Ia mendesis sebal sambil menatapku jengkel.

 

     “Seberat inikah luka mama saat itu?” suaraku kembali muncul dalam volume cukup pelan, namun jelas.

 

     Mama diam.

 

     “Kenapa mama ingin menghancurkan hidupku? Apakah dalam diriku mama melihat papa? Maka dari itu, mama ingin hidupku segera berakhir, begitu?”

 

     Entah darimana aku mendapatkan kalimat itu. Yang pasti aku sudah mengucapkannya saat ini.

 

     “Aku bukan papa. Aku Umika, anakmu. Apa kau ingin menghancurkan sebagian dirimu? Aku? Umika?”

 

     Mama kembali diam.

 

     “Bukankah mama menyayangiku? Mama pernah berkata ‘Mama begitu menyayangi Umika bahkan lebih besar dari sayang Umika kepada Mama’, bukan?”

 

     Kulihat raut wajah mama mulai berubah, sedikit demi sedikit.

 

     “Apa mama tahu sebesar apa sayang Umika pada mama?” aku terdiam sejenak, kemudian melanjutkan. “Sebesar nyawaku.”

 

     Setetes buliran bening mengalir dari kelopak mata milik mama. Ia menangis. Aku merangkak ke arah mama, memeluknya erat tanpa penolakan sedikit pun darinya. Mungkin, dari sinilah kami bisa memulai lembaran baru kami. Sesuatu yang baik sedang pada prosesnya. Yang bisa kami lakukan adalah berusaha dan menunggu hingga saat itu tiba. Saat sesuatu yang baik itu berkumpul menjadi satu dan mengembalikan kebahagiaan kami yang sempat menghilang.

 

.

 

    Sesuatu yang kusebut dengan pelangi…

 

.

 

 

 

 

 

 

.the end.

 

 

Glossarium :

 

*Sumimasen          : Maaf

*Gomen       : Maaf

*Iterasshai! : Selamat jalan!

*Ittai!          : Sakit!

*Hai’           : Ya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar