Kamis, 29 November 2012

Happy Birthday


Title                : Happy Birthday

 

Author           : dita-cHun

 

Length            : Oneshot

 

Rating            : T [Teenager]

 

Genre             : AU, Romance, Hurt/Comfort, Horror—karena ada hantunya[?]

 

Theme Song   : YUI—I Remember You

 

Main Cast      :

 

*Wu Ying Jie as Gui Gui

 

*Aaron Yan as Yan Ya Lun

 

POV               : Author

 

Language       : Indonesian

 

Disclaimer      : Semua cast milik Tuhan! Saya cuma minjem, deh! ^^V

 

Warning         : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya

 

A/N                 : Akhirnya, fic ini selesai juga! *tebar bunga sakura* Dalam waktu yang cukup panjang saya mencoba menyelesaikan ini fic abal-abal. Hasilnya benar-benar berantakan. Dui bu qi atas segala typo(s) yang akan terjadi di fanfic ini! *bow* >/\< Ceritanya terinspirasi dari halte bus (?) Baiklah, gak nyambung. Awalnya mau kasih judul ‘Strawberry Shortcake’, tapi karena ceritanya terlalu menyimpang dari Strawberry Shortcake kesukaan saya *Plak* maka judul itu batal digunakan, akhirnya harus pakai judul pasaran ‘Happy Birthday’. Jujur, saya bingung mau bikin tema anniversary kayak gimana, maka dari itu saya bikin yang beginian. Semoga semuanya suka, ya! ^^ Happy reading and comment please~ ^^V

 

 

 

 

 

 

 

 

 

     Angin musim gugur berhembus pelan menerpa daun-daun rapuh yang siap lepas dari rantingnya. Di sisi barat matahari tampak malu-malu kembali ke tempat peraduannya. Bercak gradasi antara kuning dan merah menyembul, menelan birunya langit dalam hitungan menit. Begitu matahari terbenam sempurna, maka yang tersisa adalah kegelapan malam yang akan menyergap untuk waktu yang cukup panjang.

 

     Suara derap langkah mengalun dalam tempo beraturan. Sesekali suara itu bergema di sepanjang lorong bercahaya temaram itu. Setelah kurang lebih tiga menit menyusuri lorong, akhirnya sang pemilik kaki-kaki jenjang tersebut tampak menyembul dari kegelapan. Seorang gadis mungil dengan wajah chubby yang notabene adalah mahasiswa kampus tempatnya tengah berpijak saat ini. Ia baru saja meninggalkan kelas dan kali ini ia tengah berjalan menuju halte bus dua ratus meter dari kampusnya.

 

     Sambil terus menjaga langkahnya agar tetap stabil, ia melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Jarum panjangnya menunjuk pada angka sembilan, sedangkan jarum yang lebih pendek hampir menyentuh angka tujuh. Baiklah, ia ingat akan satu hal, bahwa dirinya tengah lapar. Terang saja, sejak tadi pagi ia hanya makan satu kali sebelum berangkat kerja part-time dan saat ini adalah lima belas menit sebelum jam makan malam.

 

     Gadis itu memutar arah perjalanannya. Ia tahu tempat mana yang paling tepat untuk makan dengan uang minim di dalam dompetnya seperti saat ini. Uang kiriman dari orang tuanya baru akan tiba seminggu lagi, maka dari itu ia bekerja part-time untuk tetap hidup di saat-saat seperti ini, yakni saat dompetnya kembali menipis gara-gara sifat borosnya.

 

     Begitu pintu restaurant  terbuka, tampak jajaran cake dan makanan ringan memenuhi etalase di ujung ruangan. Dengan semangat ia lekas memesan satu porsi strawberry cake dan segelas milk tea. Baiklah, ia tidak sabar menunggu pengganjal perutnya tiba dan masuk ke dalam perutnya yang sudah bergejolak sejak tadi.

 

     Lima menit kemudian tampak seorang pelayan pria membawa sebuah nampan ke arah gadis itu. Sebuah papan nama tampak bertengger di atas saku kemejanya. Entah karena rasa lapar atau bagaimana, gadis itu mengabaikannya. Ia sibuk pada cake di hadapannya dan mengunyahnya dengan pelan. Namun, sebuah suara tiba-tiba membuatnya berhenti mengunyah.

 

     “Maaf, bisakah anda tidak mengabaikan saya?”

 

     Suara itu sukses membuat perhatian gadis itu buyar akan cake dan rasa laparnya. Ia makin terkejut mendapati siapa pemilik suara tersebut. “Ya Lun?”

 

**

 

     Angin musim gugur berdesau lembut, menyibak dedaunan kering yang berserakan di atas tanah. Gumpalan kapas-kapas langit itu berkumpul, membuat langit menggelap dalam hitungan menit. Menurut ramalan cuaca, hari ini akan turun hujan lebat. Namun, siapa peduli? Masih ada hal lain yang membuat mayoritas orang melupakan sejenak ramalan tersebut. Sekolah, bekerja, atau bahkan sekedar berkencan di taman.

 

     Termasuk gadis itu, ia mengabaikan ramalan cuaca pagi ini. Tanpa persiapan apapun, titik-titik air langit membasahi tubuhnya bergantian. Ia berlari dengan kedua tangannya mengangkat tas selempang di atas kepalanya, mencari tempat berteduh agar jangan sampai ia tiba di kampus dengan keadaan basah kuyup.

 

     Begitu menemukan sebuah halte, ia lekas berlindung di bawah sana. Ia tak peduli meski harus berdesakan dengan orang-orang di sekelilingnya yang turut berlari. Yang pasti saat ini ia membutuhkan tempat yang hangat.

 

     Beruntung ia mendapat tempat duduk di sana. Tubuhnya tampak kedinginan dengan baju yang sudah basah sebagian. Kedua tangannya mulai saling menggosok, saling menghangatkan satu sama lain. Namun, itu tak banyak berguna bagi tubuhnya saat ini. Ia memerlukan sesuatu yang lain, jaket misalnya, untuk menghangatkan tubuhnya yang terus menggigil. Sayang sekali, di saat seperti ini ia tak mungkin mendapatkan benda seperti itu.

 

     Tiba-tiba sebuah tangan meraih kedua lengan gadis itu dari belakang, kemudian dengan lancang genggaman itu menjalar lebih dalam menjadi sebuah dekapan. Menjadi dekapan yang begitu hangat dan memabukkan. Sepertinya, ia mengenal kehangatan ini, ia mengenal aroma olive fragrance yang memabukkan ini, dan sepertinya ia benar-benar mengenal pemilik tangan-tangan nakal ini.

 

     “Ya Lun, kau ‘kah itu?” gadis itu menggumam. Setelah itu ia merasakan seseorang menyandarkan dagunya pada pundak kirinya dengan manja. Ia menoleh, tampak pria itu tersenyum dengan mata terpejam sempurna. Masih dengan wajah yang sama, ia bergumam, “Aku sangat merindukanmu, Gui.”

 

     “Aku juga,” jawab gadis berlabel Gui Gui itu pelan.

 

**

 

     Mungkin kejadian yang terjadi belakangan terakhir adalah hal-hal di luar nalar. Tapi,  kali ini Gui Gui—yang biasanya akan selalu mengunggulkan nalarnya di atas apapun—mengenyahkan masalah nalar dari kepalanya mengenai hal itu. Ia tidak peduli apakah yang terjadi belakangan adalah sekedar khayalannya atau bukan. Yang pasti, ia hanya ingin kekasihnya ada di sisinya kembali.

 

     Di dalam kepalanya, Gui Gui masih mengingat benar apa yang membuatnya berpisah dengan kekasihnya kala itu. Sebuah kecelakaan di hari ulang tahunnya merenggut nyawa kekasihnya—Yan Ya Lun—dengan begitu tragis. Hari itu Ya Lun meneleponnya, memberi kabar bahwa ia akan datang membawa lagu barunya pada Gui Gui di hari ulang tahunnya. Namun, di tengah perjalanan menuju rumahnya sebuah kecelakaan beruntun terjadi dalam waktu yang sangat singkat dan sukses menewaskan kekasihnya itu di tempat.

 

     Mungkin luka itu membuat Gui Gui menghapus angka kelahirannya dari kalender sejak hari itu. Ia tak ingin mengingat hal mengerikan itu lagi. Namun, sekeras apapun usaha Gui Gui menghapus memori itu, tak terlalu berguna—memori itu kian melekat kuat dalam ingatannya.

 

     Pagi ini Gui Gui kembali menengok ke arah kalender di kamarnya. Ia berdesis melihat sebuah angka tertutup coretan spidol di antara hari kemarin dan besok. Kepalanya berdenyut teringat hari itu. Mungkin sebaiknya ia bolos kuliah untuk hari ini.

 

     “Ukh, Ya Lun…”

 

**

 

     “Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you… Bagaimana? Suaraku semakin bagus, kan? Aku berlatih menyanyi setiap hari untuk ulang tahunmu, lho…”

 

     “Xie xie, Ya Lun…”

 

     “Hei, jangan menangis, dong! Ayo, kemari peluk suamimu~”

 

     “Tidak mau!”

 

     “Kubilang kemari! Di sini tempatmu menangis, Gui…”

 

     “Hiks, tubuhmu bau kue!”

 

     “Eits, begini juga kan kuenya untukmu! Jangan menangis lagi, ya, Gui. Wo ai ni…”

 

     “Wo ye ai ni…”

 

**

 

     Kenangan masa lalu berkelebat dalam ingatan Gui Gui, seolah mengejeknya habis-habisan, mengingatkannya akan peristiwa menyenangkan yang menjadi begitu menyakitkan saat ia sadar bahwa itu tak akan pernah terulang lagi. Ia terpaku di atas ranjang dengan air mata yang mulai membanjir di sudut matanya. Genangan cairan bening itu membuat batinnya makin perih lebih dari perih di matanya. Ia terbaring lemah layaknya mayat hidup yang tak mampu lagi beringsut dari posisinya atau sekedar berbicara. Lidahnya terlalu kelu untuk melakukannya.

 

     Waktu terus berjalan, detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam berlalu. Gadis itu belum beringsut dari posisinya semula. Ia masih menangis tanpa suara. Air matanya terus mengalir membasahi bantal tempat kepalanya kini bersandar. Kedua kelopak matanya tampak sembab kebiru-biruan karena terlalu lama menangis.

 

     Apartemen tempatnya menginap saat ini tampak sunyi, gelap gulita tanpa penerangan cahaya lampu apapun—mengingat hari sudah menjelang petang. Sesekali bayang-bayang samar eksistensi di dalamnya tampak memanjang, bersamaan dengan bulan yang kian membulat bentuknya di langit sana.

 

**

 

     “Gui, seharusnya kita cepat menikah kemudian memiliki banyak anak saat ini.”

 

     “Eh? Kau ini bicara apa? Kita ini kan masih SMA?”

 

     “Ya, aku hanya merasa… kadang, hidup itu rasanya tidak lama lagi, begitu singkat. Bagaimana, ya? Suatu hari manusia pasti akan mati, baik aku maupun kau. Aku hanya tidak ingin terlambat bahagia. Menikah denganmu, mungkin itu salah satu kebahagiaanku.”

 

     “Aish, kau tidak perlu bicara sembarangan! Aku tidak mau kau merayuku agar aku berhenti sekolah. Aku masih ingin kuliah, ingin bekerja, baru setelah itu kita menikah. Nah, bukankah kau bilang waktu itu begitu singkat? Pasti menunggu saatnya kelak adalah sesuatu yang tidak lama lagi…”

 

     “Bayangkan kalau kita punya banyak anak. Err, lima? Enam? Pasti rumah kita akan sangat ramai.”

 

     “Aaah, apa itu tidak terlalu banyak? Bagiku dua saja sudah cukup!”

 

     “Tidak bisa! Aku mau lima! Aku akan membentuk tim basket untuk mereka!”

 

     “Sembarangan! Memangnya siapa yang mau melahirkan sebanyak itu?!”

 

     “Tentu saja, kau! Mana mungkin aku yang melahirkan mereka?”

 

     “Aku tidak mau!”

 

     “Harus mau!”

 

     “Tidak!”

 

     “Harus!”

 

     “Tidak…”

 

**

 

     Malam makin larut. Gadis itu masih belum beringsut, namun air matanya sudah lebih jarang mengalir dibandingkan sebelumnya. Butiran-butiran masa lalu tak henti-hentinya bergulir di kepala Gui Gui, mengusik batinnya yang sudah tergoncang.

 

     Jam di dinding terus berdetik, jarum panjangnya menyentuh tepat pada kepala angka dua belas, sedangkan jarum yang lebih pendek lainnya menunjuk pada punggung angka sembilan. Artinya, tiga jam lagi hari ini akan berakhir. Hari ini akan berganti menjadi besok dan seharusnya perasaannya akan menjadi lebih baik.

 

     Menunggu waktu tiga jam itu bukanlah singkat. Rasanya lama sekali. Menunggu dan terus menunggu hari berganti. Detik jam kembali bergerak setelah terdiam kurang dari satu sekon sebelumnya. Bersamaan dengan itu Gui Gui merasakan matanya kembali perih. Aneh, udara jadi lebih dingin dari sebelumnya. Padahal AC di rumah ini mati total.

 

     Angin berdesau lebih cepat dari sebelumnya. Udara dingin masuk lewat celah-celah jendela dan ventilasi yang belum tertutup. Gui Gui memutar mata kemudian beringsut dari posisinya semula. Tampaknya suhu yang tiba-tiba turun drastis itu sukses membuat Gui Gui kembali dalam akalnya. Ia kedinginan, tapi tubuhnya tak butuh selimut. Yang ia butuhkan adalah Yan Ya Lun. Ia ingin mendengar suara Ya Lun yang selalu membuat darahnya berdesir hebat. Suara Ya Lun yang membuat tubuhnya menghangat. Tapi, di mana Ya Lun?

 

     Ia yakin Ya Lun pasti ada di sekitarnya saat ini. Ya, pasti.

 

     “Ya Lun…” suara itu terdengar parau dengan volume cukup rendah. Ia berusaha mengeluarkan suaranya lebih keras, namun selalu gagal. Bibirnya terasa membeku, kaku.

 

     Gui Gui beranjak turun dari ranjang. Pelan-pelan ia mencoba berjalan menggapai besi pembatas balkon. Sesekali pandangannya menyisir baris dan deret rumah juga pepohonan di sekitarnya.

 

     “Ya Lun… Kau di mana?” suara itu kembali berkumandang dengan nada yang sama, namun dengan volume yang lebih tinggi.

 

     Ting~

 

     Itu suara petikan gitar.

 

     Ting~ Ting~ Ting~ Ting~ Ting~ Ting

 

     Happy birthday to you…” suara itu terdengar lembut berbaur bersama desau angin. Nadanya sederhana, namun ada kesan tersendiri akan lagu itu. Lembut dan hangat.

 

     Gui Gui mencari dari mana suara itu berasal. Tiba-tiba seorang pria setinggi kurang dari dua meter muncul di lantai bawah. Kedua bola mata onyx miliknya fokus menatap Gui Gui. Sedangkan kedua tangannya berkutat dengan gitar akustik di pelukannya.

 

     Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you…” lantunan lirik demi lirik lagu yang tidak terlalu istimewa itu terdengar sangat nyaman di telinga Gui Gui. Ia sangat merindukan suara ini. Suara kekasihnya, Yan Ya Lun.

 

     “Gui, jangan menangis. Maaf, ini semua salahku. Aku tidak bisa menjagamu lagi seperti dulu. Tapi, kau tahu ini bukan kuasaku…”

 

     “...” Gui Gui diam, namun air matanya kembali berlinang, sesekali ia terisak. Rasa haru dan rindu beraduk dalam batinnya, membaur, kemudian meluap menjadi buliran bening  yang kala ini terjun dari kedua kelopak matanya.

 

     Ya Lun menghilang untuk sejenak, kemudian ia kembali muncul dengan keadaan tanpa gitar di tangannya. Ia muncul tepat di hadapan Gui Gui dan dengan sigap menghapus tiap buliran bening yang melesat turun dari kedua mata gadis itu.

 

     Dui bu qi o, bao bei…” Ya Lun terus menghapus buliran demi buliran yang terus melesat membasahi pipi gadis di hadapannya. “Maaf, aku tidak bisa di sampingmu lagi. Tapi, aku ingin kau tetap hidup bahagia, meskipun tanpaku. Kau bisa memulai hidup baru yang lebih baik, Gui. Kau boleh mengenangku, tapi kenanglah aku dengan cara yang baik. Tersenyumlah. Kelak, akan ada hari di mana kita akan berjumpa kembali di tempat yang lain. Percayalah…”

 

     “Ya Lun…” kali ini suara Gui Gui kembali berkumandang, lengkap dengan isakannya yang membaur. “…Xie xie ni.”

 

     Segaris senyum terukir pada wajah putih pucat Ya Lun.

 

     “Aku… Aku selalu ingat saat-saat bahagia kita di masa lalu. Kencan, pesta ulang tahun, dan menunggu bus berdua saat hujan hari itu. Entah kenapa semua itu membuat dadaku nyeri, rasanya sangat menyakitkan. Aku ingin berhenti menangis, tapi… Aku hanya tidak bisa. Entah kenapa itu semua menjadi menyakitkan dalam waktu yang singkat. Setiap tahun aku tidak tahu lagi bagaimana caraku melewatkan hari ulang tahunku tanpa seorang seperti dirimu lagi. Aku merasa semuanya berubah, jadi begitu berbeda. Dan aku takut… Bahwa sampai kelak pun kita tidak akan bertemu kembali.” Tangis gadis itu kembali pecah, namun dengan volume yang diusahakan sangat minim.

 

     Ya Lun bergerak lebih dekat ke arah Gui Gui, menutup jarak di antara keduanya. Dingin tiba-tiba menjalar pada tiap inchi kulit gadis itu. Ya Lun memang tengah memeluknya kala ini, tapi perbedaan alam yang begitu kontras membuat mereka merasakan sensasi yang lain dalam dekapan masing-masing. Dingin, begitu dingin hingga mereka nyaris melepaskan pelukannya.

 

     “Aku merindukan ini. Tapi, kenapa rasanya begitu dingin, hiks?” gumam Gui Gui sambil sesekali masih terisak.

 

     “Karena dunia kita sudah berbeda, Gui…” jawab Ya Lun pelan, tepat di telinga gadis itu.

 

     Gui Gui mempererat pelukannya. Berselang kemudian suara Ya Lun kembali berkumandang, “Dui bu qi, ini untuk terakhir kalinya…”

 

     “Aku harus kembali,” lanjutnya sembari berusaha melepaskan pelukannya dari Gui Gui.

 

     “Kemana?” Gui Gui tampak belum rela pelukannya dilepaskan begitu saja oleh Ya Lun.

 

     “Ke tempat di mana kita akan bertemu lagi,” Ya Lun mengukir segaris senyum. “Zhu ni sheng ri kuai le, Gui…” Sebuah ciuman singkat mendarat pada bibir Gui Gui, tentu saja Ya Lun yang melakukannya. Gui Gui tertegun sejenak.

 

     Wo ai ni, Ya Lun…”

 

     Wo ye ai ni, Gui…”

 

     Pandangan mereka bertemu, cukup lama. Hingga akhirnya, kepingan tubuh Ya Lun mulai saling memisahkan diri, menjadi partikel-partikel sejenis debu. Kemudian menghilang. Yang tertinggal hanya Gui Gui yang masih terpaku di balkon. Ia diam, membiarkan angin menghempas tubuhnya yang kian melemah, hening seketika. Semuanya meremang, kemudian gelap.

 

 

 

 

 

 

 

 

.the end.

 

 

 

 

 

Silahkan terdiam—ceritanya terlalu aneh, kan?

 

 

 

Glossarium :

 

*Xie xie          : terima kasih

*Wo ai ni        : aku mencintaimu

*Wo ye ai ni   : aku juga mencintaimu

*Dui bu qi      : maaf

*Baobei          : sayang

*Zhu ni sheng ri kuai le : selamat ulang tahun

1 komentar:

  1. keren ffnya, bikin mewek krna hmpir mirip ama crta realku xD 4 jempol dh buat ff nya jie :D jarang bgt bisa dapat ff indo yg cast nya yalun :( btw, keep going :)

    BalasHapus