Title :
Happy Birthday
Author :
dita-cHun
Length :
Oneshot
Rating :
T [Teenager]
Genre :
AU, Romance, Hurt/Comfort, Horror—karena ada hantunya[?]
Theme Song : YUI—I
Remember You
*Wu Ying Jie as Gui Gui
*Aaron Yan as Yan Ya Lun
POV :
Author
Language :
Indonesian
Disclaimer :
Semua cast milik Tuhan! Saya cuma minjem, deh! ^^V
Warning :
~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya
A/N :
Akhirnya, fic ini selesai juga! *tebar bunga sakura* Dalam waktu yang cukup
panjang saya mencoba menyelesaikan ini fic abal-abal. Hasilnya benar-benar
berantakan. Dui bu qi atas segala typo(s) yang akan terjadi di fanfic
ini! *bow* >/\< Ceritanya terinspirasi dari halte bus (?) Baiklah, gak
nyambung. Awalnya mau kasih judul ‘Strawberry Shortcake’, tapi karena ceritanya
terlalu menyimpang dari Strawberry Shortcake kesukaan saya *Plak* maka judul
itu batal digunakan, akhirnya harus pakai judul pasaran ‘Happy Birthday’.
Jujur, saya bingung mau bikin tema anniversary kayak gimana, maka dari itu saya
bikin yang beginian. Semoga semuanya suka, ya! ^^ Happy reading and comment
please~ ^^V
Angin musim gugur berhembus pelan menerpa
daun-daun rapuh yang siap lepas dari rantingnya. Di sisi barat matahari tampak
malu-malu kembali ke tempat peraduannya. Bercak gradasi antara kuning dan merah
menyembul, menelan birunya langit dalam hitungan menit. Begitu matahari
terbenam sempurna, maka yang tersisa adalah kegelapan malam yang akan menyergap
untuk waktu yang cukup panjang.
Suara derap langkah mengalun dalam tempo beraturan.
Sesekali suara itu bergema di sepanjang lorong bercahaya temaram itu. Setelah
kurang lebih tiga menit menyusuri lorong, akhirnya sang pemilik kaki-kaki
jenjang tersebut tampak menyembul dari kegelapan. Seorang gadis mungil dengan wajah
chubby yang notabene adalah mahasiswa kampus tempatnya tengah berpijak
saat ini. Ia baru saja meninggalkan kelas dan kali ini ia tengah berjalan
menuju halte bus dua ratus meter dari kampusnya.
Sambil terus menjaga langkahnya agar tetap
stabil, ia melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Jarum
panjangnya menunjuk pada angka sembilan, sedangkan jarum yang lebih pendek
hampir menyentuh angka tujuh. Baiklah, ia ingat akan satu hal, bahwa dirinya
tengah lapar. Terang saja, sejak tadi pagi ia hanya makan satu kali sebelum
berangkat kerja part-time dan saat ini adalah lima belas menit sebelum jam makan malam.
Gadis itu memutar arah perjalanannya. Ia
tahu tempat mana yang paling tepat untuk makan dengan uang minim di dalam
dompetnya seperti saat ini. Uang kiriman dari orang tuanya baru akan tiba
seminggu lagi, maka dari itu ia bekerja part-time untuk tetap hidup di
saat-saat seperti ini, yakni saat dompetnya kembali menipis gara-gara sifat
borosnya.
Begitu pintu restaurant terbuka, tampak jajaran cake dan
makanan ringan memenuhi etalase di ujung ruangan. Dengan semangat ia lekas
memesan satu porsi strawberry cake dan segelas milk tea. Baiklah,
ia tidak sabar menunggu pengganjal perutnya tiba dan masuk ke dalam perutnya
yang sudah bergejolak sejak tadi.
“Maaf, bisakah anda tidak mengabaikan saya?”
Suara itu sukses membuat perhatian gadis
itu buyar akan cake dan rasa laparnya. Ia makin terkejut mendapati siapa
pemilik suara tersebut. “Ya Lun?”
**
Angin musim gugur berdesau lembut, menyibak
dedaunan kering yang berserakan di atas tanah. Gumpalan kapas-kapas langit itu
berkumpul, membuat langit menggelap dalam hitungan menit. Menurut ramalan
cuaca, hari ini akan turun hujan lebat. Namun, siapa peduli? Masih ada hal lain
yang membuat mayoritas orang melupakan sejenak ramalan tersebut. Sekolah,
bekerja, atau bahkan sekedar berkencan di taman.
Termasuk gadis itu, ia mengabaikan ramalan
cuaca pagi ini. Tanpa persiapan apapun, titik-titik air langit membasahi
tubuhnya bergantian. Ia berlari dengan kedua tangannya mengangkat tas selempang
di atas kepalanya, mencari tempat berteduh agar jangan sampai ia tiba di kampus
dengan keadaan basah kuyup.
Begitu menemukan sebuah halte, ia lekas
berlindung di bawah sana .
Ia tak peduli meski harus berdesakan dengan orang-orang di sekelilingnya yang
turut berlari. Yang pasti saat ini ia membutuhkan tempat yang hangat.
Beruntung ia mendapat tempat duduk di sana . Tubuhnya tampak
kedinginan dengan baju yang sudah basah sebagian. Kedua tangannya mulai saling
menggosok, saling menghangatkan satu sama lain. Namun, itu tak banyak berguna
bagi tubuhnya saat ini. Ia memerlukan sesuatu yang lain, jaket misalnya, untuk
menghangatkan tubuhnya yang terus menggigil. Sayang sekali, di saat seperti ini
ia tak mungkin mendapatkan benda seperti itu.
Tiba-tiba sebuah tangan meraih kedua lengan
gadis itu dari belakang, kemudian dengan lancang genggaman itu menjalar lebih
dalam menjadi sebuah dekapan. Menjadi dekapan yang begitu hangat dan
memabukkan. Sepertinya, ia mengenal kehangatan ini, ia mengenal aroma olive
fragrance yang memabukkan ini, dan sepertinya ia benar-benar mengenal
pemilik tangan-tangan nakal ini.
“Ya Lun, kau ‘kah itu?” gadis itu
menggumam. Setelah itu ia merasakan seseorang menyandarkan dagunya pada pundak
kirinya dengan manja. Ia menoleh, tampak pria itu tersenyum dengan mata
terpejam sempurna. Masih dengan wajah yang sama, ia bergumam, “Aku sangat
merindukanmu, Gui.”
“Aku juga,” jawab gadis berlabel Gui Gui
itu pelan.
**
Mungkin kejadian yang terjadi belakangan
terakhir adalah hal-hal di luar nalar. Tapi,
kali ini Gui Gui—yang biasanya akan selalu mengunggulkan nalarnya di
atas apapun—mengenyahkan masalah nalar dari kepalanya mengenai hal itu. Ia
tidak peduli apakah yang terjadi belakangan adalah sekedar khayalannya atau
bukan. Yang pasti, ia hanya ingin kekasihnya ada di sisinya kembali.
Di dalam kepalanya, Gui Gui masih mengingat
benar apa yang membuatnya berpisah dengan kekasihnya kala itu. Sebuah
kecelakaan di hari ulang tahunnya merenggut nyawa kekasihnya—Yan Ya Lun—dengan
begitu tragis. Hari itu Ya Lun meneleponnya, memberi kabar bahwa ia akan datang
membawa lagu barunya pada Gui Gui di hari ulang tahunnya. Namun, di tengah
perjalanan menuju rumahnya sebuah kecelakaan beruntun terjadi dalam waktu yang
sangat singkat dan sukses menewaskan kekasihnya itu di tempat.
Mungkin luka itu membuat Gui Gui menghapus
angka kelahirannya dari kalender sejak hari itu. Ia tak ingin mengingat hal
mengerikan itu lagi. Namun, sekeras apapun usaha Gui Gui menghapus memori itu,
tak terlalu berguna—memori itu kian melekat kuat dalam ingatannya.
Pagi ini Gui Gui kembali menengok ke arah
kalender di kamarnya. Ia berdesis melihat sebuah angka tertutup coretan spidol
di antara hari kemarin dan besok. Kepalanya berdenyut teringat hari itu.
Mungkin sebaiknya ia bolos kuliah untuk hari ini.
“Ukh, Ya Lun…”
**
“Happy birthday to you, happy birthday
to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you… Bagaimana?
Suaraku semakin bagus, kan ?
Aku berlatih menyanyi setiap hari untuk ulang tahunmu, lho…”
“Xie xie,
Ya Lun…”
“Hei,
jangan menangis, dong! Ayo, kemari peluk suamimu~”
“Tidak
mau!”
“Kubilang
kemari! Di sini tempatmu menangis, Gui…”
“Hiks,
tubuhmu bau kue!”
“Eits,
begini juga kan
kuenya untukmu! Jangan menangis lagi, ya, Gui. Wo ai ni…”
“Wo ye ai
ni…”
**
Kenangan masa lalu berkelebat dalam ingatan
Gui Gui, seolah mengejeknya habis-habisan, mengingatkannya akan peristiwa
menyenangkan yang menjadi begitu menyakitkan saat ia sadar bahwa itu tak akan
pernah terulang lagi. Ia terpaku di atas ranjang dengan air mata yang mulai
membanjir di sudut matanya. Genangan cairan bening itu membuat batinnya makin
perih lebih dari perih di matanya. Ia terbaring lemah layaknya mayat hidup yang
tak mampu lagi beringsut dari posisinya atau sekedar berbicara. Lidahnya
terlalu kelu untuk melakukannya.
Waktu terus berjalan, detik demi detik,
menit demi menit, dan jam demi jam berlalu. Gadis itu belum beringsut dari
posisinya semula. Ia masih menangis tanpa suara. Air matanya terus mengalir
membasahi bantal tempat kepalanya kini bersandar. Kedua kelopak matanya tampak
sembab kebiru-biruan karena terlalu lama menangis.
Apartemen tempatnya menginap saat ini
tampak sunyi, gelap gulita tanpa penerangan cahaya lampu apapun—mengingat hari
sudah menjelang petang. Sesekali bayang-bayang samar eksistensi di dalamnya
tampak memanjang, bersamaan dengan bulan yang kian membulat bentuknya di langit
sana .
**
“Gui,
seharusnya kita cepat menikah kemudian memiliki banyak anak saat ini.”
“Eh? Kau
ini bicara apa? Kita ini kan
masih SMA?”
“Ya, aku
hanya merasa… kadang, hidup itu rasanya tidak lama lagi, begitu singkat.
Bagaimana, ya? Suatu hari manusia pasti akan mati, baik aku maupun kau. Aku
hanya tidak ingin terlambat bahagia. Menikah denganmu, mungkin itu salah satu
kebahagiaanku.”
“Aish, kau
tidak perlu bicara sembarangan! Aku tidak mau kau merayuku agar aku berhenti
sekolah. Aku masih ingin kuliah, ingin bekerja, baru setelah itu kita menikah.
Nah, bukankah kau bilang waktu itu begitu singkat? Pasti menunggu saatnya kelak
adalah sesuatu yang tidak lama lagi…”
“Bayangkan
kalau kita punya banyak anak. Err, lima ?
Enam? Pasti rumah kita akan sangat ramai.”
“Aaah, apa
itu tidak terlalu banyak? Bagiku dua saja sudah cukup!”
“Tidak
bisa! Aku mau lima !
Aku akan membentuk tim basket untuk mereka!”
“Sembarangan!
Memangnya siapa yang mau melahirkan sebanyak itu?!”
“Tentu
saja, kau! Mana mungkin aku yang melahirkan mereka?”
“Aku tidak
mau!”
“Harus
mau!”
“Tidak!”
“Harus!”
“Tidak…”
**
Malam makin larut. Gadis itu masih belum
beringsut, namun air matanya sudah lebih jarang mengalir dibandingkan
sebelumnya. Butiran-butiran masa lalu tak henti-hentinya bergulir di kepala Gui
Gui, mengusik batinnya yang sudah tergoncang.
Jam di dinding terus berdetik, jarum
panjangnya menyentuh tepat pada kepala angka dua belas, sedangkan jarum yang
lebih pendek lainnya menunjuk pada punggung angka sembilan. Artinya, tiga jam
lagi hari ini akan berakhir. Hari ini akan berganti menjadi besok dan
seharusnya perasaannya akan menjadi lebih baik.
Menunggu waktu tiga jam itu bukanlah
singkat. Rasanya lama sekali. Menunggu dan terus menunggu hari berganti. Detik
jam kembali bergerak setelah terdiam kurang dari satu sekon sebelumnya.
Bersamaan dengan itu Gui Gui merasakan matanya kembali perih. Aneh, udara jadi
lebih dingin dari sebelumnya. Padahal AC di rumah ini mati total.
Angin berdesau lebih cepat dari sebelumnya.
Udara dingin masuk lewat celah-celah jendela dan ventilasi yang belum tertutup.
Gui Gui memutar mata kemudian beringsut dari posisinya semula. Tampaknya suhu
yang tiba-tiba turun drastis itu sukses membuat Gui Gui kembali dalam akalnya.
Ia kedinginan, tapi tubuhnya tak butuh selimut. Yang ia butuhkan adalah Yan Ya
Lun. Ia ingin mendengar suara Ya Lun yang selalu membuat darahnya berdesir
hebat. Suara Ya Lun yang membuat tubuhnya menghangat. Tapi, di mana Ya Lun?
Ia yakin Ya Lun pasti ada di sekitarnya
saat ini. Ya, pasti.
“Ya Lun…” suara itu terdengar parau dengan
volume cukup rendah. Ia berusaha mengeluarkan suaranya lebih keras, namun
selalu gagal. Bibirnya terasa membeku, kaku.
Gui Gui beranjak turun dari ranjang.
Pelan-pelan ia mencoba berjalan menggapai besi pembatas balkon. Sesekali
pandangannya menyisir baris dan deret rumah juga pepohonan di sekitarnya.
“Ya Lun… Kau di mana?” suara itu kembali
berkumandang dengan nada yang sama, namun dengan volume yang lebih tinggi.
Ting~
Itu suara petikan gitar.
Ting~ Ting~ Ting~ Ting~ Ting~ Ting
“Happy birthday to you…” suara itu
terdengar lembut berbaur bersama desau angin. Nadanya sederhana, namun ada
kesan tersendiri akan lagu itu. Lembut dan hangat.
Gui Gui mencari dari mana suara itu
berasal. Tiba-tiba seorang pria setinggi kurang dari dua meter muncul di lantai
bawah. Kedua bola mata onyx miliknya fokus menatap Gui Gui. Sedangkan
kedua tangannya berkutat dengan gitar akustik di pelukannya.
“Happy birthday to you, happy birthday
to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you…” lantunan
lirik demi lirik lagu yang tidak terlalu istimewa itu terdengar sangat nyaman
di telinga Gui Gui. Ia sangat merindukan suara ini. Suara kekasihnya, Yan Ya
Lun.
“Gui, jangan menangis. Maaf, ini semua
salahku. Aku tidak bisa menjagamu lagi seperti dulu. Tapi, kau tahu ini bukan
kuasaku…”
“...” Gui Gui diam, namun air matanya
kembali berlinang, sesekali ia terisak. Rasa haru dan rindu beraduk dalam
batinnya, membaur, kemudian meluap menjadi buliran bening yang kala ini terjun dari kedua kelopak
matanya.
Ya Lun menghilang untuk sejenak, kemudian
ia kembali muncul dengan keadaan tanpa gitar di tangannya. Ia muncul tepat di
hadapan Gui Gui dan dengan sigap menghapus tiap buliran bening yang melesat
turun dari kedua mata gadis itu.
“Dui bu qi o, bao bei…” Ya
Lun terus menghapus buliran demi buliran yang terus melesat membasahi pipi
gadis di hadapannya. “Maaf, aku tidak bisa di sampingmu lagi. Tapi, aku ingin
kau tetap hidup bahagia, meskipun tanpaku. Kau bisa memulai hidup baru yang
lebih baik, Gui. Kau boleh mengenangku, tapi kenanglah aku dengan cara yang
baik. Tersenyumlah. Kelak, akan ada hari di mana kita akan berjumpa kembali di
tempat yang lain. Percayalah…”
“Ya Lun…” kali ini suara Gui Gui kembali
berkumandang, lengkap dengan isakannya yang membaur. “…Xie xie ni.”
Segaris senyum terukir pada wajah putih
pucat Ya Lun.
“Aku… Aku selalu ingat saat-saat bahagia
kita di masa lalu. Kencan, pesta ulang tahun, dan menunggu bus berdua saat
hujan hari itu. Entah kenapa semua itu membuat dadaku nyeri, rasanya sangat
menyakitkan. Aku ingin berhenti menangis, tapi… Aku hanya tidak bisa. Entah
kenapa itu semua menjadi menyakitkan dalam waktu yang singkat. Setiap tahun aku
tidak tahu lagi bagaimana caraku melewatkan hari ulang tahunku tanpa seorang
seperti dirimu lagi. Aku merasa semuanya berubah, jadi begitu berbeda. Dan aku
takut… Bahwa sampai kelak pun kita tidak akan bertemu kembali.” Tangis gadis
itu kembali pecah, namun dengan volume yang diusahakan sangat minim.
Ya Lun bergerak lebih dekat ke arah Gui
Gui, menutup jarak di antara keduanya. Dingin tiba-tiba menjalar pada tiap
inchi kulit gadis itu. Ya Lun memang tengah memeluknya kala ini, tapi perbedaan
alam yang begitu kontras membuat mereka merasakan sensasi yang lain dalam
dekapan masing-masing. Dingin, begitu dingin hingga mereka nyaris melepaskan
pelukannya.
“Aku merindukan ini. Tapi, kenapa rasanya
begitu dingin, hiks?” gumam Gui Gui sambil sesekali masih terisak.
“Karena dunia kita sudah berbeda, Gui…”
jawab Ya Lun pelan, tepat di telinga gadis itu.
Gui Gui mempererat pelukannya. Berselang
kemudian suara Ya Lun kembali berkumandang, “Dui bu qi, ini untuk
terakhir kalinya…”
“Aku harus kembali,” lanjutnya sembari
berusaha melepaskan pelukannya dari Gui Gui.
“Kemana?” Gui Gui tampak belum rela
pelukannya dilepaskan begitu saja oleh Ya Lun.
“Ke tempat di mana kita akan bertemu lagi,”
Ya Lun mengukir segaris senyum. “Zhu ni sheng ri kuai le, Gui…” Sebuah
ciuman singkat mendarat pada bibir Gui Gui, tentu saja Ya Lun yang
melakukannya. Gui Gui tertegun sejenak.
“Wo ai ni, Ya Lun…”
“Wo ye ai ni, Gui…”
Pandangan mereka bertemu, cukup lama.
Hingga akhirnya, kepingan tubuh Ya Lun mulai saling memisahkan diri, menjadi
partikel-partikel sejenis debu. Kemudian menghilang. Yang tertinggal hanya Gui
Gui yang masih terpaku di balkon. Ia diam, membiarkan angin menghempas tubuhnya
yang kian melemah, hening seketika. Semuanya meremang, kemudian gelap.
.the end.
Silahkan terdiam—ceritanya
terlalu aneh, kan ?
Glossarium :
*Xie xie : terima kasih
*Wo ai ni : aku mencintaimu
*Wo ye ai ni : aku juga mencintaimu
*Dui bu qi : maaf
*Baobei : sayang
*Zhu ni sheng ri
kuai le : selamat ulang tahun
keren ffnya, bikin mewek krna hmpir mirip ama crta realku xD 4 jempol dh buat ff nya jie :D jarang bgt bisa dapat ff indo yg cast nya yalun :( btw, keep going :)
BalasHapus