Title : Evil [You’re My Doll]
Author : dita-cHun © 2012
Length : Multichapter
Part : 1
Genre : AU, Romance, Thriller, Angst
Rating : PG-15
Theme
Song : Yamashita Tomohisa – Ero
Main
Cast :
*Wu
Chun [Wu Zun]
*Zhang
Shao Han [Angela Zhang]
*Wang
Da Dong [Jiro Wang]
POV : Author
Language : Indonesian
Disclaimer : All cast punya Tuhan! Tapi, Wu Chun
adalah calon milik saya *dihajar chunnies*
Warning : gaje binti abal ~segala kekurangan
adalah punya saya~
Note : Ok, saya nggak tahan vakum
lama-lama! *Plak* Saya kembali bawa FF Evil! Padahal banyak ff yang belum
selesai, tapi gimana yah, ide nggak sejalan ama cerita ff-ff saya, jadinya
bikin yang baru *dihajar* Yaps, sesuai ratingnya yang meningkat *tunjuk rating*
ff ini tentu berisi hal yang agak ero binti gak feel. Awalnya mau dikasih
rating PG-17, tapi apa itu gak kejauhan? *Plak* Yah biarlah ff ini ratingnya
meningkat sendiri~ *readers gak nyantee* Tapi, tenang~ ff ini nggak akan
menjurus ke NC yang ‘begitu’, kok xD Jadi, positif thinking aja~ *author minta
digiling* Adanya ff ini… Salahin YAMAPI! *dibunuh Yamapi* Ok, happy reading! ^^V
“Aku butuh pelayan, kau punya calon yang
bagus?” seorang pria tiba-tiba muncul dari balik pintu bar. Dengan lancang ia
duduk, mengambil posisi di depan pria lain berlabel Wang Da Dong dan merebut
minuman yang sedang digenggam pria itu.
“Ayolah,” sekali lagi pria di hadapan Da
Dong mencuri minumannya yang hendak masuk ke kerongkongannya kala itu.
“Tanya saja pada Ya Lun atau Yi Ru,” Da
Dong mengedik pada dua orang pria yang tengah duduk di salah satu sofa bersama
empat orang gadis seksi.
Pria itu mengabaikannya dan kembali
berbicara, “Aku ingin kau memilih yang bagus untukku.” Sebuah senyum penuh arti
terukir di wajah tampannya. Da Dong bergidik melihat ekspresi kawannya itu.
“Wu Chun, kau benar-benar iblis…” kali ini
Da Dong yang tersenyum, menatap kedua bola mata onyx dihadapannya.
“Eh, tunggu. Kalau kau menginginkan pelayan
baru berarti—kau sudah mendepaknya?" tanya Da Dong.
“Tidak juga,” pria bernama Wu Chun itu
memutar kedua bola matanya malas. “Aku hanya melakukan sesuatu yang lain dari
sekedar mendepaknya. Ya… seperti biasa.”
“Gila, kau benar-benar—iblis sejati,” ucap
Da Dong kemudian tersenyum meledek.
“…dan itu berarti kau pengikut iblis,”
jawab Chun ringan, kemudian lekas meneguk minuman di genggamannya.
**
“Kau mau bekerja di sini? Kau yakin?” tanya
Da Dong pada gadis di hadapannya. Sekitar beberapa menit yang lalu gadis itu
tiba-tiba datang dan meminta pekerjaan padanya. Gadis yang sempat dikenalnya
beberapa tahun silam. Tidak ada yang istimewa, hanya teman SMA yang tidak
terlalu dekat dengannya.
“Ya, aku tidak tahu lagi harus bekerja
bagaimana. Aku tidak punya banyak keterampilan dan mungkin cuma kau yang bisa
membantuku…” jawab gadis itu.
“Tapi, di keluarga kami tidak bisa membayar
terlalu banyak upah,” ucap Da Dong menolak halus.
“Aku tidak masalah. Dapat upah sekecil apa
juga tidak apa, asal aku bisa bekerja di sini. Kumohon…” pintanya. Terdengar
sungguh-sungguh memang. Dan itu sukses membuat Da Dong luluh pada akhirnya.
Sejenak Da Dong menatap gadis itu dari
kepala hingga kaki kemudian ke kepala lagi. ‘Tidak buruk,’ pikirnya.
“Baiklah. Kusarankan sebaiknya kau bekerja
pada temanku. Ia sedang membutuhkan seorang pelayan pribadi. Uang yang ia
miliki pun lebih banyak. Kemungkinan kau akan dapat gaji yang lebih besar di
sana. Kau mau?” tawar Da Dong panjang lebar.
Gadis itu mengangguk yakin, senyum di
wajahnya terukir sempurna. Gadis ini benar-benar… cantik. “Xie xie ni,
Da Dong!” ia membungkuk sejenak ke hadapan Da Dong, mengucapkan terima kasih,
kemudian bangkit. Da Dong mengangguk
singkat menanggapinya.
‘Dui bu qi, Shao Han. Aku hanya
kasihan padamu,’ batin Da Dong.
**
Ke empat kaki itu melangkah beriringan.
Melewati koridor sebuah apartemen mewah. Shao Han merasakan jantungnya berdetak
lebih kencang dari sebelumnya. Ia gugup. Pagi ini ia akan menemui majikan
barunya. Dari letak apartemen yang strategis dan keadaan apartemen yang begitu
memukau, Shao Han menyimpulkan bahwa majikannya yang baru itu tentu orang yang
sangat kaya.
“Kau tidak perlu gugup,” suara Da Dong
memecah keheningan. Seolah tahu apa yang tengah dipikirkan Shao Han, ia kembali
berucap, “Hanya saja ada sesuatu yang harus kusampaikan tentang temanku itu
padamu sebelum kita sampai.”
Mereka berhenti berjalan. Shao Han mencoba
mencerna tiap kata yang diucapkan Da Dong kala itu.
“Kuberitahu saja, ya.” Da Dong menghela
nafas singkat kemudian melanjutkan, “Ia memiliki koleksi yang tidak boleh kau
sentuh. Jadi, jangan pernah menyentuhnya sekali pun. Tidak boleh sekali pun.”
“A-apa itu?”
“Gadis. Temanku itu seorang penggila
wanita. Jadi, kusarankan hati-hati.” Ucap Da Dong. Terdengar menakut-nakuti
memang, namun memang begitulah kenyataannya. Ia mengatakan yang sebenarnya.
“Nyalimu menciut?” tanya Da Dong melihat
perubahan air muka Shao Han.
“Sedikit,” jawab Shao Han jujur.
“Tidak usah khawatir. Ia akan membayarmu
sesuai dengan hasil kerjamu, kok. Dia itu termasuk adil juga. Tidak terlalu
buruk, sih…” ucap Da Dong menenangkan. Ia menepuk pundak Shao Han singkat,
kemudian menuntun gadis itu untuk kembali mengikutinya masuk jauh lebih dalam
ke dalam apartemen.
**
“Chun, aku membawa pelayan untukmu!” teriak
Da Dong sembari membawa Shao Han menyusuri sebuah kamar beraroma strawberry
itu. Tidak seperti kamar pria memang, tapi begitulah kenyataannya. Ini adalah
kamar utama seorang pria bermarga Wu itu.
Sang pemilik nama, tanpa malu-malu keluar
dari kamar mandi dengan balutan handuk pada tubuhnya dan satu lagi yang
melingkar di lehernya. Shao Han yang terkejut karena pria itu muncul dalam
keadaan demikian sontak mengalihkan pandangannya cepat.
“Hmm, dia?” Chun mengedik pada Shao Han
yang masih melihat ke arah luar kamar dengan blushing. Da Dong
mengangguk membenarkan. Sekali lagi Chun menatap gadis itu intens. Dari atas ke
bawah hingga sebaliknya.
“Lumayan,” ucap Chun berkomentar.
“Baiklah, kau bisa menyuruhnya tunggu di
ruang tamu. Aku akan ganti baju dulu,” ucap Chun sembari membuka lemari di
sampingnya.
“Ok,” jawab Da Dong, kemudian menuntun Shao
Han menuju ruang tamu. Gadis itu hanya menurut.
Mereka lekas duduk di sofa, mengambil
posisi saling berhadapan. Da Dong mengambil sebutir strawberry dari
dalam toples di atas meja dan mengangsurkannya pada Shao Han. Gadis itu
menerimanya masih dalam diam.
“Makanlah,” ucap Da Dong terdengar
memerintah. “Chun itu sangat suka strawberry, lebih dari ia menyukai
wanita. Kusarankan untuk membiasakan segala macam aroma strawberry melekat
di dirimu. Karena bagaimana pun, ia akan memaksamu terbiasa dengan buah itu.”
Shao Han menagangguk, kemudian melahap strawberry
di genggamannya. Buah ini benar-benar masam. Cukup sulit menelannya tanpa gula,
karena Shao Han merupakan penggila coklat. Tentu hal yang sangat berbeda,
bukan? Strawberry dan coklat.
Tak lama kemudian, seorang pria dengan
balutan kemeja putih dan vest coklat menghampiri Shao Han dan Da Dong.
Dengan kurang ajar ia duduk tepat di samping Shao Han. Baiklah, duduk di
sampingnya bukanlah hal yang kurang ajar. Namun, pria itu duduk merapat di
samping gadis itu, menutup jarak di antara keduanya dalam waktu sekian mili
detik. Hal itu sukses membuat Shao Han kemudian menghindar, membuat jarak lebih
luas dengan pria itu.
Pria itu memutar kedua bola matanya malas.
Kemudian jemarinya meraih toples bening di hadapannya dan segera mengambil dua butir strawberry dari dalam sana.
Ia melahapnya satu dan menyodorkannya pada Shao Han butir yang lainnya.
Seperti yang dikatakan Da Dong beberapa
menit lalu, majikan barunya ini benar-benar penggila strawberry. Dan ia
memang akan memaksanya terbiasa dengan buah merah ranum itu. Terbukti dari
tindakannya barusan. Ditambah sebuah kata terlontar dari bibirnya, “Makanlah.”
Shao Han mengambil strawberry itu
dari tangan pemuda di sampingnya, kemudian melahapnya. Wu Chun dapat melihat
betapa lucu ekspresi Shao Han ketika berusaha mengecap cairan masam itu di
bibirnya. Bibirnya mengukir senyum kemenangan.
“Baiklah, Chun. Aku harus pergi,” Da Dong
bangkit dari posisinya semula, kemudian menghampiri Shao Han. “Shao Han, aku
pergi dulu. Kalau ada apa-apa kau bisa menghubungiku,” ia mengangsurkan sebuah
kartu nama pada Shao Han. Dengan cepat Shao Han meraihnya.
“Ok, bye!” pamit Da Dong kemudian
berlari kecil keluar. Kelihatannya ia memang agak terburu-buru.
“Baiklah kalau begitu… aku akan
memberitahumu tugas-tugas yang harus kau kerjakan selama bekerja di sini,” ucap
Chun kembali membuka pembicaraan.
“Dan peraturan di sini adalah harus memakai
seragam saat bekerja,” lanjutnya.
Wu Chun beranjak dari sofa, masuk ke
kamarnya kembali. Tak sampai dua menit ia sudah tiba kembali di ruang tamu
dengan sebuah seragam yang masih terlipat rapi dan sebuah kertas menumpuk di
atasnya. Ia menyerahkannya pada Shao Han.
“Kamarmu ada di sana,” ucap Chun menunjuk
sebuah kamar di samping kiri kamarnya. Shao Han mengangguk paham.
“Kau bisa istirahat untuk hari ini dan
mulai bekerja besok,” lanjutnya. Lagi-lagi Shao Han hanya menjawabnya dengan
anggukan, kemudian bangkit dari sofa dengan tumpukan seragam dan kertas itu di
tangannya. Ia bergegas menuju kamarnya.
“Ah, tunggu!” sergah Chun sebelum gadis itu
melangkah lebih jauh meninggalkan sofa. Shao Han menoleh. “Katakan dulu apa
alasanmu bekerja di sini.”
Shao Han diam sejenak, kemudian menjawab.
“Aku membutuhkan uang, cukup banyak.”
Untuk kali pertama Chun mendengar suara
selembut kapas itu keluar dari bibir gadis itu. Ia tersenyum penuh arti,
kemudian mengangguk. “Ok, kau bisa istirahat sekarang err—bagaimana aku harus
memanggilmu?”
“Shao Han, namaku Zhang Shao Han.” Jawab
Shao Han kemudian memberi salam sebelum melangkah kembali menuju kamarnya.
‘Shao Han, ya? Suaranya benar-benar lembut.
Sayang sekali ya… Ia harus jatuh ke dalam sarang iblis…’ batin Chun, kemudian
tiduran di sofa dan menyalakan televisinya sembari melahap strawberry.
.Evil
.to be continue~
Emm... belum dibikin penasaran, soalnya baru introduction .. hehe.. cepet bikin part II nya ya, biar penasaran xD *ditabok author
BalasHapusHehe,
Hapusiya, soalnya aku lmyn srg buka dashboard blog, jd lsg ktauan low ada yg update xD
gpp kok, wlupun lg saum, bcnya dibts nrmal kok xD
oke, masama. Dtnggu next chapter ny ^^
ayo mei lanjut...
BalasHapuspengen tau nasib nya Shao Han di tangan Chun yang evil itu...
Hehehe....
BalasHapussiap mei, jie tunggu....
wah kayaknya seru nih!
BalasHapusdemo, aku msh ragu evilnya chun itu seperti apa <~lemot as always|
apakah evil keeroan*plak* atau evil yg lainnya(?)
hehe, update lanjutannya yg cepat yah, penasaran nih xD
copy dulu yah...
BalasHapusbaru ntar baca'y... :)
lanjutkan.. *dah kyak sby aje*
BalasHapuswaduh, Chun parah bget, nih..