Minggu, 29 Juli 2012

Evil [Part I]

Title                    : Evil [You’re My Doll]

Author               : dita-cHun © 2012

Length               : Multichapter

Part                    : 1

Genre                 : AU, Romance, Thriller, Angst

Rating                : PG-15

Theme Song     : Yamashita Tomohisa – Ero

Main Cast         :

*Wu Chun [Wu Zun]

*Zhang Shao Han [Angela Zhang]

*Wang Da Dong [Jiro Wang]

POV                    : Author

Language          : Indonesian

Disclaimer        : All cast punya Tuhan! Tapi, Wu Chun adalah calon milik saya *dihajar chunnies*

Warning            : gaje binti abal ~segala kekurangan adalah punya saya~

Note                   : Ok, saya nggak tahan vakum lama-lama! *Plak* Saya kembali bawa FF Evil! Padahal banyak ff yang belum selesai, tapi gimana yah, ide nggak sejalan ama cerita ff-ff saya, jadinya bikin yang baru *dihajar* Yaps, sesuai ratingnya yang meningkat *tunjuk rating* ff ini tentu berisi hal yang agak ero binti gak feel. Awalnya mau dikasih rating PG-17, tapi apa itu gak kejauhan? *Plak* Yah biarlah ff ini ratingnya meningkat sendiri~ *readers gak nyantee* Tapi, tenang~ ff ini nggak akan menjurus ke NC yang ‘begitu’, kok xD Jadi, positif thinking aja~ *author minta digiling* Adanya ff ini… Salahin YAMAPI! *dibunuh Yamapi*  Ok, happy reading! ^^V











     “Aku butuh pelayan, kau punya calon yang bagus?” seorang pria tiba-tiba muncul dari balik pintu bar. Dengan lancang ia duduk, mengambil posisi di depan pria lain berlabel Wang Da Dong dan merebut minuman yang sedang digenggam pria itu.

     “Lagi?” seolah paham, Wang Da Dong menanggapi ucapan pria itu dengan santai. Diraihnya gelas kosong dan dituangkan cairan wyne dari botol di sampingnya—sampai minuman itu mengisi gelas dengan takaran setengah.

     “Ayolah,” sekali lagi pria di hadapan Da Dong mencuri minumannya yang hendak masuk ke kerongkongannya kala itu.

     “Tanya saja pada Ya Lun atau Yi Ru,” Da Dong mengedik pada dua orang pria yang tengah duduk di salah satu sofa bersama empat orang gadis seksi.

     Pria itu mengabaikannya dan kembali berbicara, “Aku ingin kau memilih yang bagus untukku.” Sebuah senyum penuh arti terukir di wajah tampannya. Da Dong bergidik melihat ekspresi kawannya itu.

     “Wu Chun, kau benar-benar iblis…” kali ini Da Dong yang tersenyum, menatap kedua bola mata onyx dihadapannya.

     “Eh, tunggu. Kalau kau menginginkan pelayan baru berarti—kau sudah mendepaknya?" tanya Da Dong.

     “Tidak juga,” pria bernama Wu Chun itu memutar kedua bola matanya malas. “Aku hanya melakukan sesuatu yang lain dari sekedar mendepaknya. Ya… seperti biasa.”

     “Gila, kau benar-benar—iblis sejati,” ucap Da Dong kemudian tersenyum meledek.

     “…dan itu berarti kau pengikut iblis,” jawab Chun ringan, kemudian lekas meneguk minuman di genggamannya.

**

     “Kau mau bekerja di sini? Kau yakin?” tanya Da Dong pada gadis di hadapannya. Sekitar beberapa menit yang lalu gadis itu tiba-tiba datang dan meminta pekerjaan padanya. Gadis yang sempat dikenalnya beberapa tahun silam. Tidak ada yang istimewa, hanya teman SMA yang tidak terlalu dekat dengannya.

     “Ya, aku tidak tahu lagi harus bekerja bagaimana. Aku tidak punya banyak keterampilan dan mungkin cuma kau yang bisa membantuku…” jawab gadis itu.

     “Tapi, di keluarga kami tidak bisa membayar terlalu banyak upah,” ucap Da Dong menolak halus.

     “Aku tidak masalah. Dapat upah sekecil apa juga tidak apa, asal aku bisa bekerja di sini. Kumohon…” pintanya. Terdengar sungguh-sungguh memang. Dan itu sukses membuat Da Dong luluh pada akhirnya.

     Sejenak Da Dong menatap gadis itu dari kepala hingga kaki kemudian ke kepala lagi. ‘Tidak buruk,’ pikirnya.

     “Baiklah. Kusarankan sebaiknya kau bekerja pada temanku. Ia sedang membutuhkan seorang pelayan pribadi. Uang yang ia miliki pun lebih banyak. Kemungkinan kau akan dapat gaji yang lebih besar di sana. Kau mau?” tawar Da Dong panjang lebar.

     Gadis itu mengangguk yakin, senyum di wajahnya terukir sempurna. Gadis ini benar-benar… cantik. “Xie xie ni, Da Dong!” ia membungkuk sejenak ke hadapan Da Dong, mengucapkan terima kasih, kemudian bangkit. Da  Dong mengangguk singkat menanggapinya.

     Dui bu qi, Shao Han. Aku hanya kasihan padamu,’ batin Da Dong.

**

     Ke empat kaki itu melangkah beriringan. Melewati koridor sebuah apartemen mewah. Shao Han merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Ia gugup. Pagi ini ia akan menemui majikan barunya. Dari letak apartemen yang strategis dan keadaan apartemen yang begitu memukau, Shao Han menyimpulkan bahwa majikannya yang baru itu tentu orang yang sangat kaya.

     “Kau tidak perlu gugup,” suara Da Dong memecah keheningan. Seolah tahu apa yang tengah dipikirkan Shao Han, ia kembali berucap, “Hanya saja ada sesuatu yang harus kusampaikan tentang temanku itu padamu sebelum kita sampai.”

     Mereka berhenti berjalan. Shao Han mencoba mencerna tiap kata yang diucapkan Da Dong kala itu.

     “Kuberitahu saja, ya.” Da Dong menghela nafas singkat kemudian melanjutkan, “Ia memiliki koleksi yang tidak boleh kau sentuh. Jadi, jangan pernah menyentuhnya sekali pun. Tidak boleh sekali pun.”

     “A-apa itu?”

     “Gadis. Temanku itu seorang penggila wanita. Jadi, kusarankan hati-hati.” Ucap Da Dong. Terdengar menakut-nakuti memang, namun memang begitulah kenyataannya. Ia mengatakan yang sebenarnya.

     “Nyalimu menciut?” tanya Da Dong melihat perubahan air muka Shao Han.

     “Sedikit,” jawab Shao Han jujur.

     “Tidak usah khawatir. Ia akan membayarmu sesuai dengan hasil kerjamu, kok. Dia itu termasuk adil juga. Tidak terlalu buruk, sih…” ucap Da Dong menenangkan. Ia menepuk pundak Shao Han singkat, kemudian menuntun gadis itu untuk kembali mengikutinya masuk jauh lebih dalam ke dalam apartemen.

**

     “Chun, aku membawa pelayan untukmu!” teriak Da Dong sembari membawa Shao Han menyusuri sebuah kamar beraroma strawberry itu. Tidak seperti kamar pria memang, tapi begitulah kenyataannya. Ini adalah kamar utama seorang pria bermarga Wu itu.

     Sang pemilik nama, tanpa malu-malu keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk pada tubuhnya dan satu lagi yang melingkar di lehernya. Shao Han yang terkejut karena pria itu muncul dalam keadaan demikian sontak mengalihkan pandangannya cepat.

     “Hmm, dia?” Chun mengedik pada Shao Han yang masih melihat ke arah luar kamar dengan blushing. Da Dong mengangguk membenarkan. Sekali lagi Chun menatap gadis itu intens. Dari atas ke bawah hingga sebaliknya.

     “Lumayan,” ucap Chun berkomentar.

     “Baiklah, kau bisa menyuruhnya tunggu di ruang tamu. Aku akan ganti baju dulu,” ucap Chun sembari membuka lemari di sampingnya.

     “Ok,” jawab Da Dong, kemudian menuntun Shao Han menuju ruang tamu. Gadis itu hanya menurut.

     Mereka lekas duduk di sofa, mengambil posisi saling berhadapan. Da Dong mengambil sebutir strawberry dari dalam toples di atas meja dan mengangsurkannya pada Shao Han. Gadis itu menerimanya masih dalam diam.

     “Makanlah,” ucap Da Dong terdengar memerintah. “Chun itu sangat suka strawberry, lebih dari ia menyukai wanita. Kusarankan untuk membiasakan segala macam aroma strawberry melekat di dirimu. Karena bagaimana pun, ia akan memaksamu terbiasa dengan buah itu.”

     Shao Han menagangguk, kemudian melahap strawberry di genggamannya. Buah ini benar-benar masam. Cukup sulit menelannya tanpa gula, karena Shao Han merupakan penggila coklat. Tentu hal yang sangat berbeda, bukan? Strawberry dan coklat.

     Tak lama kemudian, seorang pria dengan balutan kemeja putih dan vest coklat menghampiri Shao Han dan Da Dong. Dengan kurang ajar ia duduk tepat di samping Shao Han. Baiklah, duduk di sampingnya bukanlah hal yang kurang ajar. Namun, pria itu duduk merapat di samping gadis itu, menutup jarak di antara keduanya dalam waktu sekian mili detik. Hal itu sukses membuat Shao Han kemudian menghindar, membuat jarak lebih luas dengan pria itu.

     Pria itu memutar kedua bola matanya malas. Kemudian jemarinya meraih toples bening di hadapannya dan segera mengambil  dua butir strawberry dari dalam sana. Ia melahapnya satu dan menyodorkannya pada Shao Han butir yang lainnya.

     Seperti yang dikatakan Da Dong beberapa menit lalu, majikan barunya ini benar-benar penggila strawberry. Dan ia memang akan memaksanya terbiasa dengan buah merah ranum itu. Terbukti dari tindakannya barusan. Ditambah sebuah kata terlontar dari bibirnya, “Makanlah.”

     Shao Han mengambil strawberry itu dari tangan pemuda di sampingnya, kemudian melahapnya. Wu Chun dapat melihat betapa lucu ekspresi Shao Han ketika berusaha mengecap cairan masam itu di bibirnya. Bibirnya mengukir senyum kemenangan.

     “Baiklah, Chun. Aku harus pergi,” Da Dong bangkit dari posisinya semula, kemudian menghampiri Shao Han. “Shao Han, aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa kau bisa menghubungiku,” ia mengangsurkan sebuah kartu nama pada Shao Han. Dengan cepat Shao Han meraihnya.

     “Ok, bye!” pamit Da Dong kemudian berlari kecil keluar. Kelihatannya ia memang agak terburu-buru.

     “Baiklah kalau begitu… aku akan memberitahumu tugas-tugas yang harus kau kerjakan selama bekerja di sini,” ucap Chun kembali membuka pembicaraan.

     “Dan peraturan di sini adalah harus memakai seragam saat bekerja,” lanjutnya.

     Wu Chun beranjak dari sofa, masuk ke kamarnya kembali. Tak sampai dua menit ia sudah tiba kembali di ruang tamu dengan sebuah seragam yang masih terlipat rapi dan sebuah kertas menumpuk di atasnya. Ia menyerahkannya pada Shao Han.

     “Kamarmu ada di sana,” ucap Chun menunjuk sebuah kamar di samping kiri kamarnya. Shao Han mengangguk paham.

     “Kau bisa istirahat untuk hari ini dan mulai bekerja besok,” lanjutnya. Lagi-lagi Shao Han hanya menjawabnya dengan anggukan, kemudian bangkit dari sofa dengan tumpukan seragam dan kertas itu di tangannya. Ia bergegas menuju kamarnya.

     “Ah, tunggu!” sergah Chun sebelum gadis itu melangkah lebih jauh meninggalkan sofa. Shao Han menoleh. “Katakan dulu apa alasanmu bekerja di sini.”

     Shao Han diam sejenak, kemudian menjawab. “Aku membutuhkan uang, cukup banyak.”

     Untuk kali pertama Chun mendengar suara selembut kapas itu keluar dari bibir gadis itu. Ia tersenyum penuh arti, kemudian mengangguk. “Ok, kau bisa istirahat sekarang err—bagaimana aku harus memanggilmu?”

     “Shao Han, namaku Zhang Shao Han.” Jawab Shao Han kemudian memberi salam sebelum melangkah kembali menuju kamarnya.

     ‘Shao Han, ya? Suaranya benar-benar lembut. Sayang sekali ya… Ia harus jatuh ke dalam sarang iblis…’ batin Chun, kemudian tiduran di sofa dan menyalakan televisinya sembari melahap strawberry.





.Evil






.to be continue~

7 komentar:

  1. Emm... belum dibikin penasaran, soalnya baru introduction .. hehe.. cepet bikin part II nya ya, biar penasaran xD *ditabok author

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe,
      iya, soalnya aku lmyn srg buka dashboard blog, jd lsg ktauan low ada yg update xD

      gpp kok, wlupun lg saum, bcnya dibts nrmal kok xD

      oke, masama. Dtnggu next chapter ny ^^

      Hapus
  2. ayo mei lanjut...
    pengen tau nasib nya Shao Han di tangan Chun yang evil itu...

    BalasHapus
  3. Hehehe....
    siap mei, jie tunggu....

    BalasHapus
  4. wah kayaknya seru nih!
    demo, aku msh ragu evilnya chun itu seperti apa <~lemot as always|
    apakah evil keeroan*plak* atau evil yg lainnya(?)

    hehe, update lanjutannya yg cepat yah, penasaran nih xD

    BalasHapus
  5. copy dulu yah...
    baru ntar baca'y... :)

    BalasHapus
  6. lanjutkan.. *dah kyak sby aje*
    waduh, Chun parah bget, nih..

    BalasHapus