Title :
A Little Story of Ballerina
Author :
dita-cHun
Type :
Minichapter
Part :
1
Rating :
PG [Parent’s Guidance]
Genre :
AU, Romance, Angst
Music :
Cindy Wang [Wang Xin Ling]—Little Star [Xiao Xing Xing]
Main Cast :
*Yamada Ryosuke
*Shida Mirai
*Nishiuchi Mariya
*Matsumoto Tsuki
POV :
Author
Language :
Indonesian
Disclaimer :
Semua cast punya Tuhan, titik. Saya cuma punya plot! ^^V
Note :
FF ini udah terlantar berbulan-bulan di draft saya. Baru sempet ngelanjutin dan
dapet ide xD kalo soal feel yang kurang dapet maaf banget! >/\<
itu penyakit saya yang udah kronis. Oke, buat tante Tsuki gomen ne
namamu ikut ngeksis! Karena aku nggak tau harus pake siapa. Lagipula ff
rekuesanmu yang “What?” belum selesai karena lagi malas ngerjain banyak-banyak,
jadinya dicicil dulu. Ok, happy reading! ^^d
Kaki jenjang itu terus
menerus bergerak beriringan di atas lantai. Dengan sepatu tipis dan rok
setinggi lutut, tubuh itu terus berarah kesana kemari. Melompat dengan indah
dan mendarat kembali dengan sempurna. Jantungnya berdegup kencang, ia tahu
bagian berikutnya adalah bagian yang paling sulit baginya, Butterfly.
BRUKH!
“Ah, ittai!” tubuh gadis itu
tersungkur sempurna di atas lantai sebelum ia sempat menyelesaikan tariannya.
Ia sudah menduga sejak sebelumnya bahwa hal ini akan terulang lagi.
“Apa begitu sulit dilakukan? Kenapa kau
selalu terjatuh di bagian sepenting ini?” seorang wanita paruh baya tampak
menyimpulkan kedua lengannya di depan dada. Ia berbicara ketus sembari
melemparkan pandangan tajam ke arah gadis itu.
“Sumimasen…”
“Sudahlah, kalau kau memang tidak
menginginkan kontes internasional itu, aku bisa mencari penggantimu yang lebih
baik…” wanita itu tidak mempedulikan raut gadis di hadapannya yang sudah
berlinang air mata sejak baru saja. Ia hanya mengucapkan kalimat-kalimat dingin
kemudian beranjak dari ruangan itu.
“Ei, daijoubu… Kau pasti bisa
melakukannya kalau kau lebih giat berlatih, hm?” sebuah suara menelusup ke
telinga gadis yang tengah terduduk di lantai itu. Perlahan gadis itu mengangkat
wajahnya, “Ryosuke…”
Pria yang disebutnya Ryosuke itu lekas
membantunya bangkit. Sejurus kemudian ia menuntun gadis itu duduk bersamanya di
depan sebuah piano klasik dekat mereka berdiri barusan. “Tekan tuts yang kau
inginkan,” ucap Ryosuke.
“Eh?”
Ryosuke hanya mengangguk sambil mengulas
segaris senyum. Sementara gadis itu mulai menggerakkan jemarinya ke atas tuts
di hadapannya. Hanya satu persatu nada kecil yang tercipta. Kali ini Ryosuke
bergabung, ia mulai membuat nada harmonis yang selaras dengan yang dilakukan gadis
itu. “Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menghiburmu, Hime-sama…”
TING!
Nada itu memang terdengar pelan, namun
kesan kasar tercipta dari nada tersebut. Permainan gadis itu berhenti,
sedangkan Ryosuke yang terkejut seketika ikut menghentikan permainannya.
Nadanya fals, tidak tepat.
“Doushita no?” tanya Ryosuke, tidak
peduli lagi dengan piano yang masih menggemakan permainannya barusan. Ia
menatap wajah gadis itu seksama, dilihatnya buliran air mata jatuh dari pelupuk
mata gadis itu.
“Doushita no, Hime-sama?”
Ryosuke kembali mengulang pertanyaan yang sama. Tapi, lagi-lagi gadis itu hanya
diam menatap Ryosuke dengan wajah berlinang air mata.
**
“Kau tidak latihan?” tanya Ryosuke pada
gadis di hadapannya. Gadis itu menggeleng, “Aku merasa lelah…”
“Tapi, dua minggu lagi ada kontes, kan? Kau
tidak cemas kalau kalah?” tanya Ryosuke lagi. Lagi-lagi gadis itu menggeleng,
“Aku ingin istirahat, Ryosuke.” Ia mengalihkan pandangannya pada pemandangan di
luar jendela.
“Meskipun aku tidak ikut, Tsuki-sama
bisa memilih orang lain yang akan menggantikanku,” ia terdiam sejenak kemudian
melanjutkan, “Mariya misalnya. Kurasa ia lebih bertekad daripada aku.”
“Mariya?”
“Un,” gadis itu mengangguk mantap. “Aku
bukannya tidak menginginkan kontes itu, aku hanya merasa tidak sanggup…”
“Tidakkah terlalu awal untuk menyerah?” tanya
Ryosuke.
“Aku sudah berusaha sekuatnya, Ryosuke!”
kali ini nada bicara sang tuan putri naik seperempat oktaf. Ia menghela nafas
ringan kemudian kembali berbicara, “...Jadi, biarkan aku menyerah sejauh ini.”
Ryosuke menatap lekat-lekat ke arah gadis
dengan dress mewah di hadapannya itu. Ia diam cukup lama, hingga
kemudian mencoba membuka pembicaraan kembali, “Sangat disayangkan bahwa itu
adalah keputusanmu, Hime-sama.”
“Berhentilah memanggilku demikian atau aku
akan memecatmu,” gadis itu beringsut dari posisinya semula. Meraih gelas di
meja kemudian menuangkan minuman dari teko di sampingnya. “Mirai, panggil aku
demikian. Ini perintah.”
Ryosuke kembali membuka mulutnya, hendak
meluncurkan kalimat protes seperti biasanya. Tapi, ia memutuskan untuk kembali
bungkam begitu Mirai menyela, “Tidak ingin mendengar protes apapun.” Mendengar
itu Ryosuke menghela nafas kemudian mengangguk meski ragu-ragu.
**
“Mariya! Bagian ini adalah anti-klimaks!
Kau tidak boleh melupakannya!” suara itu terdengar kuat memekakkan telinga.
Ryosuke melangkahkan kaki memasuki ruangan
di hadapannya. Dialihkan pandangannya ke arah gadis bernama Mariya dan
seorang wanita paruh baya bernama Matsumoto Tsuki itu bergantian.
“Ada apa kau kemari?” tanya Tsuki ketus.
“Aku hanya ingin melihat Mariya menari,
kudengar ia sering melupakan bagian anti-klimaks tarian ini…” ucap Ryosuke,
pelan namun terdengar tegas. “Aku hafal tarian ini. Waktu kecil aku pernah
melakukannya dengan Hime-sama…”
Gadis bernama Mariya itu masih terpaku di
tempatnya. Ia hanya menatap ragu ke arah Ryosuke. “Kau tidak keberatan, kan,
kalau aku berusaha membuatmu mengingat bagian itu, Mariya-san?” suara
Ryosuke sukses membuat jantung Mariya berhenti beberapa mili detik lamanya. Jujur
saja, ia terkejut.
“Menarilah bersamaku. Kudengar Hime-sama
juga mengetahui bakatmu. Jadi, izinkan aku membantumu sedikit,” Ryosuke
mengulurkan jemarinya ke arah Mariya. Masih dengan perasaan antara percaya dan
tidak Mariya mengulurkan tangannya, menyambut setiap inchi jemari Ryosuke yang
dalam sekejap menutup jarak di antara mereka.
Ryosuke menuntun Mariya menuju tengah
lingkaran di tengah ruangan. Kali ini ia kembali mengulurkan tangannya yang
lain pada Mariya. Dengan tanggap gadis yang tingginya nyaris menyerupai Ryosuke
itu mengulurkan tangannya yang lain, tentu saja untuk menyambut tangan Ryosuke
kembali.
“Kau siap?” Ryosuke kembali berbicara setelah
sekian detik silam ia diam. Sedangkan Mariya hanya mengangguk menanggapi
pertanyaan Ryosuke baru saja. “Kita akan mulai dalam hitungan ke tiga. Aku akan
melakukannya dengan tempo cepat, jadi kau harus menyesuaikan, ok?”
Mariya kembali mengangguk tanpa sepatah
kata pun melesat dari bibirnya. Bisa dikatakan gadis ini tengah kehabisan
kata-kata dalam sekejap sejak kemunculan Ryosuke tadi. Ia hanya mampu diam dan
mencoba memahami tiap kata yang keluar dari mulut Ryosuke.
“Satu…”
Ryosuke mendekat beberapa inchi lebih dekat
ke arah Mariya. Mariya melakukan hal serupa. Dieratkan sedikit genggamannya
pada jemari Ryosuke. Dan kali ini jantungnya berdegup lebih kencang dari
sebelumnya.
“Dua…”
Ketika ia menyadari bahwa jaraknya dan
Ryosuke makin mengecil dadanya terasa begitu sesak. Tapi, segelintir rasa
senang agaknya memenuhi sudut-sudut batin gadis tersebut. Ia berdo’a, ‘Aku
belum ingin mati sekarang…’ Dan Ryosuke sama sekali tak menyadari perubahan
yang terjadi pada diri Mariya kala itu. Ia hanya kembali berhitung untuk yang
ke sekian kalinya, “Tiga!”
Dalam sekejap saja jarak di antara mereka
tak dapat di ukur. Itu nol, kah? Atau bahkan minus, tak ada yang berniat
untuk mengukurnya. Yang pasti tubuh mereka saat ini sangat rapat. Dapat
dikatakan, kala ini mereka tengah berpelukan, meskipun itu tak lebih dari dua
detik.
Ryosuke melepas kuat tangannya dari Mariya.
Sedangkan gadis itu dengan sigap mulai melakukan gerakan berputar dengan satu
kaki bergantian dan kedua tangannya melingkar di depan dadanya, membentuk jarak
yang cukup stabil dari tubuhnya. Kanan, kiri, kanan, kiri. Kedua kaki itu
berjinjit dan berputar cantik bergantian. Setelah sampai di ujung lingkaran
Mariya melompat dalam sekali hentak, mengambil langkah lebar kemudian mendarat
sempurna dan kembali berputar dua kali di tempatnya kemudian melompat kembali ke
arah Ryosuke yang siap menggapai pinggang rampingnya.
Hap!
“Lompat!” perintah Ryosuke dengan volume
pelan namun berhasil dipahami gadis di hadapannya. Mariya lekas melakukan gerakan
lompatan yang dimaksud. Hasilnya, cukup stabil.
“Butterfly, Mariya-san!”
Mariya menjawab perintah Ryosuke barusan dengan gerakan luar biasa hebat.
Sebuah gerakan yang cukup rumit untuk dijelaskan dengan sekedar kata-kata.
Gerakan dengan tempo lambat kemudian perlahan semakin cepat, lompatan yang
cukup tinggi dan gerakan memutar di tempat dalam lima detik kemudian melompat
lagi dan kembali ke tempo lambat. Sangat cantik!
“Sempurna…” decak kagum melesat begitu saja
dari bibir Ryosuke. Segaris senyum manis terukir di wajahnya. Ia lekas menyusul
Mariya dengan beberapa gerakan ballet yang diingatnya. Begitu ia sampai
di hadapan Mariya, mereka membentuk gerakan lambat melingkar dan kedua tangan
yang silih berganti saling mengisi kekosongan. Mereka terus menari hingga
hitungan mundur Ryosuke terus berjalan. Sesaat lagi mereka selesai, tak lama.
Tiga detik lagi.
“Tiga…”
“Dua…”
Ryosuke menyelesaikan ayunannya,
memperlambat tempo tariannya, kemudian memperlonggar genggaman jemarinya dari
Mariya. Mereka berhenti tepat ketika Ryosuke menyebut hitungan terakhirnya, “Satu.”
Mariya mundur selangkah demi selangkah
menjauh dari Ryosuke. Menciptakan jarak lebih luas di antara mereka. Hingga
mereka sama-sama berada pada titik di ujung lingkaran, masih dalam posisi
saling berhadapan. Sejenak suasana hening, hingga suara tepuk tangan menggema
membuyarkan lamunan mereka.
“Bagus, Mariya.” Ujar wanita yang
keberadaannya nyaris tak dianggap selama kurang lebih lima belas menit itu. “Kalau
kau bisa mempertahankannya, kau pasti bisa memenangkan kontes itu.”
“Kau dengar itu, Mariya-san? Kau
tinggal berusaha sedikit lagi, sebentar lagi.” Ryosuke berjalan mendekat ke
tempat Mariya masih berdiri. “Jadi, jangan menyerah,” pria itu kembali mengukir
segaris senyum pada Mariya. Senyum itu benar-benar membuat Mariya nyaris tak
mampu mengucapkan apapun.
“A-aku… Aku akan berusaha,” ucap Mariya
mantap.
“Ah, kalau begitu aku pergi dulu, Mariya-san,
Matsumoto-san.” Ryosuke mohon diri dari kedua wanita di hadapannya.
Begitu Ryosuke sampai di depan pintu Mariya
lekas melangkahkan kaki ke arah pria itu. Menyusul pria itu sebelum sempat
keluar dari ruangan tersebut. Ia rasa harus mengucapkan hal ini sebelum pria
itu meninggalkan ruangan. “Ryosuke-san,” panggilnya begitu jemari Ryosuke
siap menggapai knop pintu.
Suara itu berhasil membuat Ryosuke
menengok. Mariya lekas menghentikan langkahnya yang sudah cukup dekat dengan
Ryosuke. “Nande, Mariya-san?” tanya Ryosuke lembut.
“A-a… Arigatou,” ucap Mariya.
“Hm, tidak usah memikirkannya,” jawab
Ryosuke. “Ada lagi tidak?”
Mariya menggeleng. Pipinya bersemu
kemerahan, namun siapa peduli? Gadis ini selalu seperti ini setiap hari. Setiap
selesai memasak, menari, dan setiap bertemu Ryosuke tepatnya. Bisa dibilang
gadis ini menyukai Ryosuke sejak waktu yang cukup lama. Namun, sama sekali tak
ada yang menyadarinya karena kebiasaannya itu.
“Baiklah kalau begitu. Jaa,” kali
ini Ryosuke benar-benar meninggalkan ruang ballet tanpa siapapun
mencegahnya kembali. Mariya hanya mampu memandang setengah punggung Ryosuke
yang tampak dari jendela bening yang memisahkan ruang mereka.
**
“Ryosuke,” sebuah suara sukses membuat
perhatian Ryosuke teralih. Senyumnya mengembang begitu ia menyadari siapa
pemilik suara lembut itu. “Hime-sa—ah, maksudku Mirai-san. Ada
apa?”
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Apa
aku mengganggumu?” tanya gadis itu sembari
kembali melangkah mendekat ke arah Ryosuke, memperkecil jarak di antara
mereka.
“Tidak juga. Ada apa?” tanya Ryosuke ramah.
Mirai menyibak bagian belakang rok dress-nya kemudian memposisikan
dirinya duduk di samping Ryosuke. “Setiap hari kau datang kemari?” tanya Mirai
memulai pembicaraan.
“Lumayan,” jawab Ryosuke sembari kembali
menabur biji-bijian di genggamannya. Detik berikutnya ratusan merpati datang
menyambar biji-biji yang sudah melebur bersama pasir-pasir di hadapan Ryosuke
dan Mirai.
“Wah, kirei…” celetuk Mirai. “Bagaimana
bisa mereka tahu biji-biji itu telah datang, ya?”
“Kau mau tahu?” tanya Ryosuke pada Mirai.
Tak berselang kemudian Mirai mengangguk mantap. “Tolong ulurkan tanganmu,”
pinta Ryosuke. Mirai hanya menurut. Diulurkan tangan kanannya ke hadapan
Ryosuke. Kemudian Ryosuke mengambil segenggam biji dari plastik di sampingnya
dan meluruhkannya sedikit demi sedikit ke genggaman Mirai.
“Kau lempar ke tempat di sebelah sana,”
Ryosuke menunjuk tempat yang ia maksud. “Tapi, coba perhatikan mereka dari
sana. Jangan melihat biji-biji itu.”
“Ah, wakatta,” ucap Mirai kemudian bangkit
menuju tempat yang dimaksud Ryosuke. Sejenak ia mengamati burung-burung yang
masih sibuk memakan biji-biji di tempat dekat Ryosuke. Kemudian dilemparkannya
biji-biji di genggamannya itu tanpa memandang biji-bji itu. Sejenak tak ada
apapun yang terjadi. Hingga ia menyadari sesuatu sebelum ratusan burung itu berpindah
ke tempatnya. “Ah!”
Ryosuke berjalan menghampiri Mirai dan
berdiri tepat di sampingnya. “Sudah paham, Mirai-san?” tanya Ryosuke.
Tanpa menoleh Mirai mengangguk mantap. “Ada yang mengabari, kan?” tebak Mirai.
Ryosuke mengangguk membenarkan.
“Mereka cantik sekali ya, Ryosuke…” ucap
Mirai tak hentinya berdecak kagum.
“…Bagus sekali bisa memiliki teman dan
keluarga seperti itu. Pergi ke tempat yang jauh sekalipun tidak takut karena
bersama-sama,” celetuk Ryosuke.
“Karena mereka saling mencintai. Apapun
juga tidak akan takut jika bersama-sama,” ucap Mirai.
“Eh?”
“Ya, seperti aku menyukai Ryosuke yang
selalu menjagaku…” ucap Mirai. Wajahnya bersemu merah dalam sekejap. Saat
seperti ini ia tak mungkin berani menatap mata Ryosuke dan lebih memilih
menatap pemandangan di hadapannya.
Ryosuke mengacak rambut Mirai lembut, “Ada-ada
saja…”
Mirai meringsek cepat dari posisinya
semula, berbalik menatap Ryosuke. “Aku serius bukannya bercanda, Ryosuke!”
sorot matanya tajam, menunjukkan bahwa kali ini ia memang serius. Tidak ada
tanda kebohongan dari matanya ataupun candaan dari kalimatnya barusan.
Perlahan Ryosuke mengalihkan pandangannya.
Ia terlalu terkejut mendapat pernyataan cinta tiba-tiba seperti ini. Salah
tingkah, mungkin itulah yang menggambarkan sikapnya kali ini. Saat ini ia juga
tidak tahu ia harus mengucapkan kalimat apa lagi untuk menanggapi sang tuan putri.
‘Bagaimana ini?’ batin Ryosuke.
.A
Little Story of Ballerina
.to
be continue. . .
JAHAT >A< masa aku jadi orang tua disini! Aku kan masih remaja, jahat ih nenek...
BalasHapusKenapa harus aku? Kenapa gak Inoo aja /eh /kabur
Ceritanya, entah kenapa feelnya ngatung, gak tepat.
#ngakak liat yg komen diatasku xDDD
BalasHapusbudhe bener2 jd budhe dicerita ini/minta dibunuh
Wah, cinta segitiga nih.
demo, mssa ayam gak suki mirai sih? kukira dy suki mirai, kok pake binmgung segala sih?
dasar playboy tuh ayam bakar(?)
klo feel aku se7 ma budhe. #PLAK
over all, nice story :)
Gomen, nee baru sempat baca #plak XD
BalasHapuswah, kirain tadi One Shot :D
wah, liat pemerannya jadi ingat fic pertama nee. Cinta segi tiga antara Mariya-Yama-Shida.
Penasaran jadinya sama kisah cinta mereka. Oh ya ngakak gara2 Yama jadi bawahan Shida#ditonjok Yama
si Tsuki juga keren disini perannya#kabur XD