Senin, 16 Juli 2012

A Little Story of Ballerina [Part I]


Title                   : A Little Story of Ballerina

Author               : dita-cHun

Type                   : Minichapter

Part                    : 1

Rating                : PG [Parent’s Guidance]

Genre                 : AU, Romance, Angst

Music                 : Cindy Wang [Wang Xin Ling]—Little Star [Xiao Xing Xing]

Main Cast          :

*Yamada Ryosuke

*Shida Mirai

*Nishiuchi Mariya

*Matsumoto Tsuki

POV                    : Author

Language          : Indonesian

Disclaimer       : Semua cast punya Tuhan, titik. Saya cuma punya plot! ^^V

Note                   : FF ini udah terlantar berbulan-bulan di draft saya. Baru sempet ngelanjutin dan dapet ide xD kalo soal feel yang kurang dapet maaf banget! >/\< itu penyakit saya yang udah kronis. Oke, buat tante Tsuki gomen ne namamu ikut ngeksis! Karena aku nggak tau harus pake siapa. Lagipula ff rekuesanmu yang “What?” belum selesai karena lagi malas ngerjain banyak-banyak, jadinya dicicil dulu. Ok, happy reading! ^^d









     Kaki jenjang itu terus menerus bergerak beriringan di atas lantai. Dengan sepatu tipis dan rok setinggi lutut, tubuh itu terus berarah kesana kemari. Melompat dengan indah dan mendarat kembali dengan sempurna. Jantungnya berdegup kencang, ia tahu bagian berikutnya adalah bagian yang paling sulit baginya, Butterfly.

BRUKH!

     “Ah, ittai!” tubuh gadis itu tersungkur sempurna di atas lantai sebelum ia sempat menyelesaikan tariannya. Ia sudah menduga sejak sebelumnya bahwa hal ini akan terulang lagi.

     “Apa begitu sulit dilakukan? Kenapa kau selalu terjatuh di bagian sepenting ini?” seorang wanita paruh baya tampak menyimpulkan kedua lengannya di depan dada. Ia berbicara ketus sembari melemparkan pandangan tajam ke arah gadis itu.

     Sumimasen…”

     “Sudahlah, kalau kau memang tidak menginginkan kontes internasional itu, aku bisa mencari penggantimu yang lebih baik…” wanita itu tidak mempedulikan raut gadis di hadapannya yang sudah berlinang air mata sejak baru saja. Ia hanya mengucapkan kalimat-kalimat dingin kemudian beranjak dari ruangan itu.

     “Ei, daijoubu… Kau pasti bisa melakukannya kalau kau lebih giat berlatih, hm?” sebuah suara menelusup ke telinga gadis yang tengah terduduk di lantai itu. Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya, “Ryosuke…”

     Pria yang disebutnya Ryosuke itu lekas membantunya bangkit. Sejurus kemudian ia menuntun gadis itu duduk bersamanya di depan sebuah piano klasik dekat mereka berdiri barusan. “Tekan tuts yang kau inginkan,” ucap Ryosuke.

     “Eh?”

     Ryosuke hanya mengangguk sambil mengulas segaris senyum. Sementara gadis itu mulai menggerakkan jemarinya ke atas tuts di hadapannya. Hanya satu persatu nada kecil yang tercipta. Kali ini Ryosuke bergabung, ia mulai membuat nada harmonis yang selaras dengan yang dilakukan gadis itu. “Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menghiburmu, Hime-sama…”

     TING!

     Nada itu memang terdengar pelan, namun kesan kasar tercipta dari nada tersebut. Permainan gadis itu berhenti, sedangkan Ryosuke yang terkejut seketika ikut menghentikan permainannya. Nadanya fals, tidak tepat.

     Doushita no?” tanya Ryosuke, tidak peduli lagi dengan piano yang masih menggemakan permainannya barusan. Ia menatap wajah gadis itu seksama, dilihatnya buliran air mata jatuh dari pelupuk mata gadis itu.

     Doushita no, Hime-sama?” Ryosuke kembali mengulang pertanyaan yang sama. Tapi, lagi-lagi gadis itu hanya diam menatap Ryosuke dengan wajah berlinang air mata.

**

     “Kau tidak latihan?” tanya Ryosuke pada gadis di hadapannya. Gadis itu menggeleng, “Aku merasa lelah…”

     “Tapi, dua minggu lagi ada kontes, kan? Kau tidak cemas kalau kalah?” tanya Ryosuke lagi. Lagi-lagi gadis itu menggeleng, “Aku ingin istirahat, Ryosuke.” Ia mengalihkan pandangannya pada pemandangan di luar jendela.

     “Meskipun aku tidak ikut, Tsuki-sama bisa memilih orang lain yang akan menggantikanku,” ia terdiam sejenak kemudian melanjutkan, “Mariya misalnya. Kurasa ia lebih bertekad daripada aku.”

     “Mariya?”

     “Un,” gadis itu mengangguk mantap. “Aku bukannya tidak menginginkan kontes itu, aku hanya merasa tidak sanggup…”

     “Tidakkah terlalu awal untuk menyerah?” tanya Ryosuke.

     “Aku sudah berusaha sekuatnya, Ryosuke!” kali ini nada bicara sang tuan putri naik seperempat oktaf. Ia menghela nafas ringan kemudian kembali berbicara, “...Jadi, biarkan aku menyerah sejauh ini.”

     Ryosuke menatap lekat-lekat ke arah gadis dengan dress mewah di hadapannya itu. Ia diam cukup lama, hingga kemudian mencoba membuka pembicaraan kembali, “Sangat disayangkan bahwa itu adalah keputusanmu, Hime-sama.”

     “Berhentilah memanggilku demikian atau aku akan memecatmu,” gadis itu beringsut dari posisinya semula. Meraih gelas di meja kemudian menuangkan minuman dari teko di sampingnya. “Mirai, panggil aku demikian. Ini perintah.”

     Ryosuke kembali membuka mulutnya, hendak meluncurkan kalimat protes seperti biasanya. Tapi, ia memutuskan untuk kembali bungkam begitu Mirai menyela, “Tidak ingin mendengar protes apapun.” Mendengar itu Ryosuke menghela nafas kemudian mengangguk meski ragu-ragu.

**

     “Mariya! Bagian ini adalah anti-klimaks! Kau tidak boleh melupakannya!” suara itu terdengar kuat memekakkan telinga. Ryosuke melangkahkan kaki memasuki ruangan  di hadapannya. Dialihkan pandangannya ke arah gadis bernama Mariya dan seorang wanita paruh baya bernama Matsumoto Tsuki itu bergantian.

     “Ada apa kau kemari?” tanya Tsuki ketus.

     “Aku hanya ingin melihat Mariya menari, kudengar ia sering melupakan bagian anti-klimaks tarian ini…” ucap Ryosuke, pelan namun terdengar tegas. “Aku hafal tarian ini. Waktu kecil aku pernah melakukannya dengan Hime-sama…”

     Gadis bernama Mariya itu masih terpaku di tempatnya. Ia hanya menatap ragu ke arah Ryosuke. “Kau tidak keberatan, kan, kalau aku berusaha membuatmu mengingat bagian itu, Mariya-san?” suara Ryosuke sukses membuat jantung Mariya berhenti beberapa mili detik lamanya. Jujur saja, ia terkejut.

     “Menarilah bersamaku. Kudengar Hime-sama juga mengetahui bakatmu. Jadi, izinkan aku membantumu sedikit,” Ryosuke mengulurkan jemarinya ke arah Mariya. Masih dengan perasaan antara percaya dan tidak Mariya mengulurkan tangannya, menyambut setiap inchi jemari Ryosuke yang dalam sekejap menutup jarak di antara mereka.

     Ryosuke menuntun Mariya menuju tengah lingkaran di tengah ruangan. Kali ini ia kembali mengulurkan tangannya yang lain pada Mariya. Dengan tanggap gadis yang tingginya nyaris menyerupai Ryosuke itu mengulurkan tangannya yang lain, tentu saja untuk menyambut tangan Ryosuke kembali.

     “Kau siap?” Ryosuke kembali berbicara setelah sekian detik silam ia diam. Sedangkan Mariya hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Ryosuke baru saja. “Kita akan mulai dalam hitungan ke tiga. Aku akan melakukannya dengan tempo cepat, jadi kau harus menyesuaikan, ok?”

     Mariya kembali mengangguk tanpa sepatah kata pun melesat dari bibirnya. Bisa dikatakan gadis ini tengah kehabisan kata-kata dalam sekejap sejak kemunculan Ryosuke tadi. Ia hanya mampu diam dan mencoba memahami tiap kata yang keluar dari mulut Ryosuke.

     “Satu…”

     Ryosuke mendekat beberapa inchi lebih dekat ke arah Mariya. Mariya melakukan hal serupa. Dieratkan sedikit genggamannya pada jemari Ryosuke. Dan kali ini jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya.

     “Dua…”

     Ketika ia menyadari bahwa jaraknya dan Ryosuke makin mengecil dadanya terasa begitu sesak. Tapi, segelintir rasa senang agaknya memenuhi sudut-sudut batin gadis tersebut. Ia berdo’a, ‘Aku belum ingin mati sekarang…’ Dan Ryosuke sama sekali tak menyadari perubahan yang terjadi pada diri Mariya kala itu. Ia hanya kembali berhitung untuk yang ke sekian kalinya, “Tiga!”

     Dalam sekejap saja jarak di antara mereka tak dapat di ukur. Itu nol, kah? Atau bahkan minus, tak ada yang berniat untuk mengukurnya. Yang pasti tubuh mereka saat ini sangat rapat. Dapat dikatakan, kala ini mereka tengah berpelukan, meskipun itu tak lebih dari dua detik.

     Ryosuke melepas kuat tangannya dari Mariya. Sedangkan gadis itu dengan sigap mulai melakukan gerakan berputar dengan satu kaki bergantian dan kedua tangannya melingkar di depan dadanya, membentuk jarak yang cukup stabil dari tubuhnya. Kanan, kiri, kanan, kiri. Kedua kaki itu berjinjit dan berputar cantik bergantian. Setelah sampai di ujung lingkaran Mariya melompat dalam sekali hentak, mengambil langkah lebar kemudian mendarat sempurna dan kembali berputar dua kali di tempatnya kemudian melompat kembali ke arah Ryosuke yang siap menggapai pinggang rampingnya.

     Hap!

     “Lompat!” perintah Ryosuke dengan volume pelan namun berhasil dipahami gadis di hadapannya. Mariya lekas melakukan gerakan lompatan yang dimaksud. Hasilnya, cukup stabil.

     Butterfly, Mariya-san!” Mariya menjawab perintah Ryosuke barusan dengan gerakan luar biasa hebat. Sebuah gerakan yang cukup rumit untuk dijelaskan dengan sekedar kata-kata. Gerakan dengan tempo lambat kemudian perlahan semakin cepat, lompatan yang cukup tinggi dan gerakan memutar di tempat dalam lima detik kemudian melompat lagi dan kembali ke tempo lambat. Sangat cantik!

     “Sempurna…” decak kagum melesat begitu saja dari bibir Ryosuke. Segaris senyum manis terukir di wajahnya. Ia lekas menyusul Mariya dengan beberapa gerakan ballet yang diingatnya. Begitu ia sampai di hadapan Mariya, mereka membentuk gerakan lambat melingkar dan kedua tangan yang silih berganti saling mengisi kekosongan. Mereka terus menari hingga hitungan mundur Ryosuke terus berjalan. Sesaat lagi mereka selesai, tak lama. Tiga detik lagi.

     “Tiga…”

     “Dua…”

     Ryosuke menyelesaikan ayunannya, memperlambat tempo tariannya, kemudian memperlonggar genggaman jemarinya dari Mariya. Mereka berhenti tepat ketika Ryosuke menyebut hitungan terakhirnya, “Satu.”

     Mariya mundur selangkah demi selangkah menjauh dari Ryosuke. Menciptakan jarak lebih luas di antara mereka. Hingga mereka sama-sama berada pada titik di ujung lingkaran, masih dalam posisi saling berhadapan. Sejenak suasana hening, hingga suara tepuk tangan menggema membuyarkan lamunan mereka.

     “Bagus, Mariya.” Ujar wanita yang keberadaannya nyaris tak dianggap selama kurang lebih lima belas menit itu. “Kalau kau bisa mempertahankannya, kau pasti bisa memenangkan kontes itu.”

     “Kau dengar itu, Mariya-san? Kau tinggal berusaha sedikit lagi, sebentar lagi.” Ryosuke berjalan mendekat ke tempat Mariya masih berdiri. “Jadi, jangan menyerah,” pria itu kembali mengukir segaris senyum pada Mariya. Senyum itu benar-benar membuat Mariya nyaris tak mampu mengucapkan apapun.

     “A-aku… Aku akan berusaha,” ucap Mariya mantap.

     “Ah, kalau begitu aku pergi dulu, Mariya-san, Matsumoto-san.” Ryosuke mohon diri dari kedua wanita di hadapannya.

     Begitu Ryosuke sampai di depan pintu Mariya lekas melangkahkan kaki ke arah pria itu. Menyusul pria itu sebelum sempat keluar dari ruangan tersebut. Ia rasa harus mengucapkan hal ini sebelum pria itu meninggalkan ruangan. “Ryosuke-san­,” panggilnya begitu jemari Ryosuke siap menggapai knop pintu.

     Suara itu berhasil membuat Ryosuke menengok. Mariya lekas menghentikan langkahnya yang sudah cukup dekat dengan Ryosuke. “Nande, Mariya-san?” tanya Ryosuke lembut.

     “A-a… Arigatou,” ucap Mariya.

     “Hm, tidak usah memikirkannya,” jawab Ryosuke. “Ada lagi tidak?”

     Mariya menggeleng. Pipinya bersemu kemerahan, namun siapa peduli? Gadis ini selalu seperti ini setiap hari. Setiap selesai memasak, menari, dan setiap bertemu Ryosuke tepatnya. Bisa dibilang gadis ini menyukai Ryosuke sejak waktu yang cukup lama. Namun, sama sekali tak ada yang menyadarinya karena kebiasaannya itu.

     “Baiklah kalau begitu. Jaa,” kali ini Ryosuke benar-benar meninggalkan ruang ballet tanpa siapapun mencegahnya kembali. Mariya hanya mampu memandang setengah punggung Ryosuke yang tampak dari jendela bening yang memisahkan ruang mereka.

**

     “Ryosuke,” sebuah suara sukses membuat perhatian Ryosuke teralih. Senyumnya mengembang begitu ia menyadari siapa pemilik suara lembut itu. “Hime-sa—ah, maksudku Mirai-san. Ada apa?”

     “Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Apa aku mengganggumu?” tanya gadis itu sembari  kembali melangkah mendekat ke arah Ryosuke, memperkecil jarak di antara mereka.

     “Tidak juga. Ada apa?” tanya Ryosuke ramah. Mirai menyibak bagian belakang rok dress-nya kemudian memposisikan dirinya duduk di samping Ryosuke. “Setiap hari kau datang kemari?” tanya Mirai memulai pembicaraan.

     “Lumayan,” jawab Ryosuke sembari kembali menabur biji-bijian di genggamannya. Detik berikutnya ratusan merpati datang menyambar biji-biji yang sudah melebur bersama pasir-pasir di hadapan Ryosuke dan Mirai.

     “Wah, kirei…” celetuk Mirai. “Bagaimana bisa mereka tahu biji-biji itu telah datang, ya?”

     “Kau mau tahu?” tanya Ryosuke pada Mirai. Tak berselang kemudian Mirai mengangguk mantap. “Tolong ulurkan tanganmu,” pinta Ryosuke. Mirai hanya menurut. Diulurkan tangan kanannya ke hadapan Ryosuke. Kemudian Ryosuke mengambil segenggam biji dari plastik di sampingnya dan meluruhkannya sedikit demi sedikit ke genggaman Mirai.

     “Kau lempar ke tempat di sebelah sana,” Ryosuke menunjuk tempat yang ia maksud. “Tapi, coba perhatikan mereka dari sana. Jangan melihat biji-biji itu.”

     “Ah, wakatta,” ucap Mirai kemudian bangkit menuju tempat yang dimaksud Ryosuke. Sejenak ia mengamati burung-burung yang masih sibuk memakan biji-biji di tempat dekat Ryosuke. Kemudian dilemparkannya biji-biji di genggamannya itu tanpa memandang biji-bji itu. Sejenak tak ada apapun yang terjadi. Hingga ia menyadari sesuatu sebelum ratusan burung itu berpindah ke tempatnya. “Ah!”

     Ryosuke berjalan menghampiri Mirai dan berdiri tepat di sampingnya. “Sudah paham, Mirai-san?” tanya Ryosuke. Tanpa menoleh Mirai mengangguk mantap. “Ada yang mengabari, kan?” tebak Mirai. Ryosuke mengangguk membenarkan.

     “Mereka cantik sekali ya, Ryosuke…” ucap Mirai tak hentinya berdecak kagum.

     “…Bagus sekali bisa memiliki teman dan keluarga seperti itu. Pergi ke tempat yang jauh sekalipun tidak takut karena bersama-sama,” celetuk Ryosuke.

     “Karena mereka saling mencintai. Apapun juga tidak akan takut jika bersama-sama,” ucap Mirai.

     “Eh?”

     “Ya, seperti aku menyukai Ryosuke yang selalu menjagaku…” ucap Mirai. Wajahnya bersemu merah dalam sekejap. Saat seperti ini ia tak mungkin berani menatap mata Ryosuke dan lebih memilih menatap pemandangan di hadapannya.

     Ryosuke mengacak rambut Mirai lembut, “Ada-ada saja…”

     Mirai meringsek cepat dari posisinya semula, berbalik menatap Ryosuke. “Aku serius bukannya bercanda, Ryosuke!” sorot matanya tajam, menunjukkan bahwa kali ini ia memang serius. Tidak ada tanda kebohongan dari matanya ataupun candaan dari kalimatnya barusan.

     Perlahan Ryosuke mengalihkan pandangannya. Ia terlalu terkejut mendapat pernyataan cinta tiba-tiba seperti ini. Salah tingkah, mungkin itulah yang menggambarkan sikapnya kali ini. Saat ini ia juga tidak tahu ia harus mengucapkan kalimat apa lagi untuk menanggapi sang tuan putri.

     ‘Bagaimana ini?’ batin Ryosuke.







.A Little Story of Ballerina





.to be continue. . .

3 komentar:

  1. JAHAT >A< masa aku jadi orang tua disini! Aku kan masih remaja, jahat ih nenek...

    Kenapa harus aku? Kenapa gak Inoo aja /eh /kabur

    Ceritanya, entah kenapa feelnya ngatung, gak tepat.

    BalasHapus
  2. #ngakak liat yg komen diatasku xDDD
    budhe bener2 jd budhe dicerita ini/minta dibunuh


    Wah, cinta segitiga nih.
    demo, mssa ayam gak suki mirai sih? kukira dy suki mirai, kok pake binmgung segala sih?
    dasar playboy tuh ayam bakar(?)

    klo feel aku se7 ma budhe. #PLAK

    over all, nice story :)

    BalasHapus
  3. Gomen, nee baru sempat baca #plak XD
    wah, kirain tadi One Shot :D
    wah, liat pemerannya jadi ingat fic pertama nee. Cinta segi tiga antara Mariya-Yama-Shida.
    Penasaran jadinya sama kisah cinta mereka. Oh ya ngakak gara2 Yama jadi bawahan Shida#ditonjok Yama
    si Tsuki juga keren disini perannya#kabur XD

    BalasHapus