Title :
Evil [You’re My Doll]
Author :
dita-cHun © 2012
Length :
Multichapter
Part :
2
Genre :
AU, Romance, Thriller, Angst
Rating :
PG-17
Theme Song :
Yamashita Tomohisa – Ero
Main Cast :
*Wu Chun [Wu Zun]
*Zhang Shao Han [Angela Zhang]
*Wang Da Dong [Jiro Wang]
POV :
Author
Language :
Indonesian
Disclaimer : All
cast punya Tuhan! Tapi, Wu Chun adalah calon milik saya *dihajar chunnies*
Warning : gaje
binti abal ~segala kekurangan adalah punya saya~
Note :
aih, aih, aih! FF ini terlanjur dibuat, yah biarlah tamat! >,< baru part
2 ratingnya sudah naik lagi! *author dirajam* saya juga gimanaaa gitu nulisnya
>//< salahin yamapi dan PV nyooo! *dibakar fansu yamapi* ok, reader
bacanya yang nyantai aja ya~ nanti jadi terlalu ero kalo dipikirin terlalu err…
*Plak* udah deh, yang penting happy reading aja deh! ^^V *dibuang ke jurang*
Shao
Han mematikan shower setelah dirasanya cukup ia membersihkan diri.
Sesegera mungkin ia keluar dari kamar mandi, meraih seragam yang masih terlipat
rapi di atas ranjang. Sejenak ia tertegun mendapati betapa aneh seragam itu.
Meski ragu, pada akhirnya seragam itu
melesak juga, membingkai tubuhnya yang mungil. Ia bercermin. Tawanya nyaris
saja meledak kala itu andai kedua tangannya tak membungkam bibirnya. Baru kali
ini Shao Han merasa aneh dengan dirinya sendiri—dan pakaian itulah yang
membuatnya tampak aneh. Seragam maid berukuran press body dengan
rok setinggi empat inchi di atas lutut. Benar-benar membuatnya tampak seperti
boneka.
“…Tapi, aku bukan mainan.” Shao Han
menghentikan lelucon dalam hatinya yang sedari tadi menggelitik batinnya.
Dilepasnya seragam itu dan digantinya dengan piyama. “Sebaiknya aku menjelaskan
sedikit padanya. Kurasa ia akan mengerti.”
Dengan rapi dilipatnya kembali seragam itu
dan diletakkannya di atas laci di samping tempat tidurnya. Kali ini ia meraih
kertas yang masih tertinggal di atas tempat tidur. Dibacanya seksama kertas
itu, hingga tak ada satu tugas pun yang terlewat.
Tugas :
-Menyiapkan sarapan sebelum pukul 08.00
-Membersihkan rumah
-Mencuci pakaian
-Mencuci piring
-Menyiapkan makan malam sebelum pukul 19.00
-Mematuhi perintah Wu Chun, tanpa kecuali.
“Ha? Apa-apaan itu tugas terakhir?” protes
Shao Han sembari meletakkan kertas itu ke dalam laci. “Semua pekerjaan yang
kulakukan adalah pekerjaan rumah tangga yang umum, kecuali yang terakhir. Wu
Chun itu pasti pria yang sangat keras kepala sekali…”
Shao Han bangkit dari ranjang. Diedarkan
pandangannya sejenak pada benda-benda di sekelilingnya. Rapi dan bersih, itulah
yang terlintas pertama kali kala ia melihat barang-barang di dalam kamar itu.
Lebih dari sekedar layak untuk menjadi kamar seorang pelayan.
“Hmh… Kira-kira kenapa pelayan lamanya
diganti, ya?” desis Shao Han penasaran.
**
Pagi-pagi sekali sekitar pukul enam Shao
Han tampak sudah bangun. Tenaganya sudah terkumpul sejak ia tidur tadi malam.
Hari ini ia siap untuk bekerja. Dibukanya kulkas di dapur dan lekas memasak
dengan bahan-bahan yang didapatinya dari sana. Ia yakin sebelum pukul delapan
masakannya tentu sudah siap.
“Kemana seragammu?” sebuah suara sukses
membuat Shao Han terjingkat dari posisinya semula. Didapatinya majikannya itu
telah berdiri di sisi dapur. Lekas ia mematikan api kompor yang semula menyala
dan meniriskan spaghetti yang sempat direbusnya beberapa menit lalu.
Kemudian ia menghampiri majikannya dengan beberapa pertanyaan yang siap melesat
dari bibirnya kala itu.
“Dui bu qi,” itulah yang pertama
kali melesat dari bibir Shao Han. “…Kurasa seragam itu terlalu kecil untukku,
jadi aku tidak memakainya dulu.”
Pria di hadapannya tersenyum, penuh arti. “Kukira
ukuran itu pas untuk tubuh mungilmu. Aku tidak tahu jika akan kekecilan. Aku
akan menggantinya nanti jika aku merasa pakaian itu tidak cocok untukmu. Jadi,
kau bisa mencobanya ke hadapanku dulu?”
“Eh?”
“Apa aku perlu mengulangi permintaanku?”
sahut Chun melihat Shao Han yang masih diam setelah ber-‘eh’ ria barusan.
“Baiklah, tunggu sebentar…” Shao Han
bergegas menuju kamarnya dan lekas mengganti pakaiannya.
Sementara Shao Han tengah mengganti
pakaiannya di dalam sana, Chun justru dengan sejuta imajinasinya membayangkan
akan seperti apa jadinya gadis itu dengan pakaian yang diberikannya kemarin.
Sibuk bermain dengan fantasinya sendiri, ia hampir tidak sadar kalau Shao Han
telah berdiri di hadapannya saat ini. Chun tertegun. Hasilnya memang tidak
lebih luar biasa dari hasil imajinasi otaknya. Tapi, itu cukup melegakan Chun
karena hasilnya ‘lumayan’. Ia tampak
sangat… seksi.
“Bagaimana? Kekecilan, kan?” suara Shao Han
membuyarkan Chun dari lamunannya barusan.
“Tidak juga,” jawab Chun cepat. “Itu tampak
bagus untukmu. Lebih baik kau menggunakan yang ini. Aku khawatir jika kuberikan
yang lebih besar akan tampak kedodoran untukmu,” ucapnya beralasan.
Shao Han mengerutkan dahinya, tidak
sepaham. “Tapi, aku merasa sesak memakainya.”
“Lama-lama pasti akan terbiasa, kok.” Ucap Chun
sekenanya.
Saat ini ia tak peduli apapun alasan Shao
Han untuk menolak seragam yang diberikannya. Ia hanya ingin melihat gadis itu
memakai seragamnya. Baginya, itu tampak lebih baik dibanding kaos dan celana
jeans yang tadi melekat di tubuhnya.
‘Sedikit lebih pendek mungkin akan tampak
lebih bagus!’ Chun kembali berimajinasi. Pikiran mesum sudah merasuk jauh
merongrong otaknya. Andai Shao Han tahu apa isi otak pria ini, mungkin ia akan
lari dari tempat ini dan tak berniat kembali untuk selamanya. Benar-benar
iblis.
“Bagaimana jika—?”
“Aku tidak menggajimu dengan uang recehan,
kuharap kau paham. Ini termasuk aturan bekerja di sini,” potong Chun cepat
sebelum Shao Han berhasil menyelesaikan kalimatnya. Tatapannya kali ini tampak
berbeda dari sebelumnya. Agak dingin.
Shao Han menghela nafas singkat, kemudian
menjawab. “Baiklah. Kuharap seragam ini segera longgar.”
Chun mengangguk, ia menang. “Kalau begitu
kau bisa menyelesaikan masakanmu. Aku ingin sarapan lebih awal.”
Shao Han mengangguk kemudian berjalan
menuju dapur, melanjutkan kegiatannya yang semula tertunda karena masalah
barusan. Masalah seragam yang pada akhirnya ia tetap harus mengenakannya sekali
pun hatinya tidak bersedia. Demi uang dan satu hal lain yang ia inginkan sejak
lama.
**
Shao Han merasa kegiatannya belum lama
berlangsung. Tapi, berkali-kali ia menangkap basah sepasang mata yang terus-menerus
menatapnya dari samping kulkas dapur. Gadis mana yang tidak merasa risih jika
ditatap demikian dengan orang yang baru dikenalnya? Ia merasa sangat jijik saat
mendapati tatapan majikannya itu terarah ke arahnya. Bukan tatapan hangat,
melainkan tatapan dengan makna lain yang bahkan ia pun tak ingin memikirkannya.
Merasa kesabarannya sudah sampai di puncak
ubun-ubun, akhirnya Shao Han memberanikan diri untuk menegur majikannya yang
sedari tadi mengobral pandangan pada dirinya. “Dui bu qi, kenapa kau
menatapku seperti itu sejak tadi?”
Sosok yang ditegur itu hanya mengumbar
senyumnya yang kesekian kali untuk hari ini. “Jangan terlalu percaya diri. Aku
bukan sedang menatapmu. Aku sedang minum kopi,” ucap Chun beralasan.
“Aku tahu kau sedang minum kopi, tapi
matamu sedang di mana?” ucap Shao Han kesal.
“Mataku mau melihat kemana, itu terserah
padaku. Jangan menuduh sembarangan. Kau bukannya bisa menuduh orang yang sedang
melamun, kan?” Chun tidak kehabisan kata-kata.
Shao Han makin kesal, tapi ia tidak tahu
harus mengatakan apa lagi untuk memenangkan pendapatnya. Akhirnya, ia
memutuskan diam. Setidaknya, itu bisa lebih baik dari pada merusak hubungannya
dengan majikannya sebelum hari pertama usai. Ia perlu sedikit lebih sabar.
“Makanannya sudah selesai. Sebaiknya kau ke
ruang makan. Aku akan mengantarkan semuanya ke sana,” ucap Shao Han. Chun
mengangguk mengiyakan kemudian beranjak dari dapur menuju ruang makan.
Dengan nampan terakhir Shao Han masuk ke
ruang makan. Ia lekas memindahkan piring-piring di atas nampan itu ke atas meja
makan. Chun masih diam tak menyentuh satu pun peralatan makannya. Shao Han
hendak meninggalkan ruang makan andai Chun tak memanggilnya.
“Shao Han,” panggil Chun. Shao Han menoleh.
Didapatinya Chun sudah berdiri di hadapannya saat ini.
“Aku merasa…” tangan kanan Chun mulai
bergerilya tanpa sepetahuan Shao Han. “…Kita akan melewati hari-hari yang
panjang setelah ini,” jemari Chun berhenti tepat di pipi kiri Shao Han.
Senyumnya mengembang. Senyum yang lagi-lagi sama, penuh arti. Namun, Shao Han
tak pernah mampu menangkap makna dari senyuman itu.
“Kurasa aku harus membersihkan dapur,” Shao
Han mencari alasan untuk menghindari pembicaraan
yang dirasanya mulai aneh ini. Chun dengan tenang membiarkan Shao Han
menghambur keluar ruang makan dan lekas menyantap makanan di atas meja.
“Manis…” Chun mengusap tepi bibirnya dengan
ibu jarinya. Senyumnya terukir sempurna di wajah tampannya. Ia tidak peduli
dengan coklat cair yang baru saja membasahi bibirnya dan kini melekat di ibu
jarinya. Ia hanya sedang memikirkan hal lain yang lebih menyenangkan baginya,
dibanding sekedar manisnya krim coklat. Lebih manis.
**
Shao Han meraih ponselnya dari saku
seragamnya kemudian mengeluarkan secarik kertas mungil dari dalam tasnya. Ia
ingat bahwa kertas itu baru saja masuk ke sana kemarin. Itu kartu nama milik Da
Dong yang ditinggalkan untuknya. Tampak deretan angka di bagian paling bawah
kertas itu. Shao Han lekas menyalin angka-angka itu ke dalam kontak ponselnya.
Ia pikir ia perlu menghubungi Da Dong sewaktu-waktu. Pasti ia akan membutuhkan
Da Dong lagi lain hari. Oleh karenanya, ia harus menyimpan nomor itu.
“Wei,” sebuah suara menelusup ke
dalam telinga Shao Han. Ia ingat, ia tengah menelepon Da Dong kali ini.
“Wei, Da Dong. Ini aku Shao Han,”
jawab Shao Han.
“Ah, Shao Han. Ada apa?”
“Tidak, aku cuma ingin berterima kasih
padamu. Xie xie ni. Bisa bekerja di tempat temanmu, terima kasih, Da
Dong. Aku tidak tahu akan meminta bantuan pada siapa lagi selain padamu,” ucap
Shao Han panjang lebar.
“Bu ke qi la. Meskipun kau bekerja
di tempat temanku, kau tetap harus hati-hati, ok?”
“Un. Xie xie ni. Begitu saja, ya. Aku
akan menghubungimu lagi nanti.”
“Hm, bye.”
“Bye.”
Percakapan itu memang tidak sampai lima
menit, tapi Shao Han cukup lega berhasil mengucapkan terima kasih pada temannya
itu. Ia merasa Da Dong begitu hangat padanya meskipun beberapa tahun silam ia
tidak cukup dekat dengannya. Agak berbeda dengan Chun memang. Tapi, ia yakin
Chun juga bukanlah orang yang sangat dingin. Karena Chun teman Da Dong, bukan?
“Ok, saatnya membersihkan rumah! Jia you!”
seru Shao Han semangat lalu bangkit menuju ruang tamu.
**
“Baiklah, kurasa rapat kita sampai di sini.
Desain pakaian ini dan make up ini yang terpilih. Kuharap hasilnya
selesai tepat waktu. Sekian,” Chun menutup rapat yang sejak dua jam lalu
menguras pikirannya. Ia tidak tahan juga jika berlama-lama di kantor hanya
untuk mendengarkan hal-hal tidak penting. Lebih baik ia lekas menuju diskotik
tempat ia biasa berkumpul dengan ketiga sahabatnya.
“Girls, I’m coming,” gumam Chun
sembari mempercepat langkahnya keluar kantor.
Chun masuk ke dalam mobilnya, kemudian
melajukannya dengan kecepatan luar biasa. Tak peduli seberapa ramai jalanan
kota Taipei hari ini. Ia hanya terus mengebut dan mengebut. Hanya satu
alasannya. Ia senang melakukannya, itu saja.
Sebuah parfum beraroma strawberry yang
semula bertengger di dalam laci mobil kini telah berpindah ke tangan Chun.
Disemprotkannya sedikit ke tubuhnya. Selalu dan selalu itu yang menjadi ciri
khas seorang Wu Chun. Aroma strawberry yang tak pernah lepas dari
dirinya.
“Hallo,” seorang gadis yang baru
saja hendak memasuki diskotik tiba-tiba memutar arah jalannya. Ia berjalan ke arah
Chun yang baru saja keluar dari mobilnya. Sebuah kecupan singkat menodai pipi
Chun kala itu. Lipstik merah bercap bibir gadis itu menempel sempurna di pipi
Chun. Dengan sigap diambilnya tissue basah dari saku celananya, lekas menghapus
bekas itu dari pipinya. Ia hanya tidak ingin ketampanannya rusak hanya karena
ciuman gadis murahan itu.
“Kudengar kau pindah lagi,” sambung gadis
itu kemudian. Chun mengangguk membenarkan. Di rangkulnya pinggang gadis itu
dari belakang, kemudian membimbing gadis itu masuk ke dalam diskotik
bersamanya. Ia tidak ingin gadis ini menghambat perjalanannya menuju diskotik.
“Hei, sebaiknya kita masuk,” ucap Chun.
Gadis itu hanya menjawabnya dengan senyuman nakal. Senyum yang biasa ditebarnya
pada ratusan pria di luaran sana. Chun tahu itu. Tapi, ia cukup menyukainya.
Tidak terlalu buruk.
“Da Dong, Ya Lun, dan Yi Ru?” tanya Chun
pada gadis itu setelah ia mengedarkan pandangannya, namun belum juga menjumpai
ketiga sahabatnya.
“Aku sempat menghubungi Yi Ru dan ia
mengatakan akan langsung ke hotel dengan pacarnya yang baru,” jawab gadis itu.
“Lalu Ya Lun dan Da Dong?”
“Entahlah, mungkin mereka belum sampai…”
jawab gadis itu.
“Kalau begitu kita minum dulu, Ariel.”
“As your wish, babe.”
**
Shao Han masih tampak sibuk dengan
pekerjaannya. Ia baru saja usai membersihkan rumah, sekarang yang dilakukannya
adalah menyiapkan makan malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.15. Itu artinya
ia hanya memiliki waktu empat puluh lima menit untuk menyelesaikan tugas
terakhirnya untuk hari ini.
Namun, belum tuntas pekerjaannya itu,
sebuah suara tiba-tiba mengacaukan kegiatannya. Dengan sigap dimatikannya api
kompor yang semula menyala. Ia bergegas menuju pintu. Seseorang baru saja membunyikan
bel dari luar sana. Kalau majikannya, tentu hal yang mustahil karena ia membawa
kunci cadangan saat ke kantor tadi pagi. Lantas siapa?
Cklek!
Diputar knop pintu itu dan dalam sekejap
seorang pria mungil—yang diduganya pelaku pemencetan bel tadi—oleng dari
tempatnya dan ambruk di pelukan Shao Han. Panik, ia lekas mendorong pria itu
agar menjauh dari dirinya. Tampaknya pria itu tengah mabuk. Terbukti dengan
menguarnya aroma alkohol dari mulutnya yang sedikit terbuka. Pria itu limbung
ke lantai.
Shao Han bingung, siapa pria itu? Kenapa
tiba-tiba datang ke apartemen ini? Apakah saudara majikannya? Atau temannya?
Atau hanya orang asing yang tersesat?
Pertanyaan-pertanyaan itu bergulat dalam
otak Shao Han. Ia bingung akan membawa pria itu masuk atau membiarkannya di
luar dan kedinginan. Kalau ia membawanya masuk, ini bukan apartemennya. Tapi,
jika ia membiarkan pria ini kedinginan di luar tentunya sangat tidak pantas. Hei,
ia juga masih memiliki sisi kemanusiaan yang bagus!
Shao Han menengok ke kiri dan kanan. Tak
ada seorang pun yang dijumpainya kala itu. Akhirnya, diputuskan untuk membawa
pria itu masuk ke dalam apartemen. Jika majikannya datang, tentu dia akan
berkata apa adanya. Ia hanya berniat menolong, itu saja.
“Tuan, bangunlah…” Shao Han menepuk pelan
pipi pria itu. Meski samar-samar terdengar suara dengungan dari bibirnya yang
malas terbuka lebih lebar.
“Tuan, bangunlah…” sekali lagi Shao Han
melakukan hal yang sama. Setidaknya, ia hanya ingin tahu identitas pria asing
ini. Pria itu bangun, meski masih dalam keadaan tidak stabil. Matanya
mengerjap-ngerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya kala itu. Pria itu
menatap ke arah lampu dan Shao Han bergantian. Sejurus kemudian pria itu
bangkit dan memeluk Shao Han.
“Tuan, apa yang kau lakukan? Hei, sadarlah!”
Shao Han berusaha lepas dari pelukan pria itu.
“Tenanglah… Aku bukan orang jahat… Namaku
Yan Ya Lun,” ucap pria itu. Sejenak Shao Han diam, mendengarkan orang itu
berbicara lebih lanjut. “Kau pelayan baru Wu Chun?”
“Begitulah…” jawab Shao Han seadanya.
“Kalau begitu kau pasti gadis simpanannya
lagi, kan? Digaji berapa kau? Bagaimana kalau kau bersamaku saja? Tidak ada
bedanya, kan? Aku dan dia sama-sama brengseknya,” pria bernama Ya Lun itu
menyeret Shao Han ke dalam kamar Chun. Berkali-kali Shao Han menolak dan
berusaha melepaskan diri, namun gagal. Tenaga pria itu lebih besar dari
dirinya. Ia terus terseret ke arah kamar Chun, hingga pintu itu menutup rapat.
Yang terdengar hanya suara jeritan Shao Han dari luar. Tidak ada seorang pun
yang mendengarnya kala itu. Sayang sekali.
.Evil
.to be continue~
Parah.. itu shao han diapain coba? O.o
BalasHapus#gak bisa ngomong apa2 lahi
Lanjut!
ak penasaran sama reaksi chun :P
kyaaaa....
BalasHapusjie2 ku diapain mei ama Ya Lun...
hadehhh Chun ge tlongin donk....
lanjut mei...
jiahhh, meimei ketinggalan..
HapusYa lun ge apa yang kau prbuat..
lanjut jie ^^
Aku baru bisa komen..
BalasHapusjyahh~ benaran Evil tuwh ikemen nya xD *dijambak author
lanjuut yah ^^
Good job!