Kamis, 02 Agustus 2012

Evil... [Part II]


Title                   : Evil [You’re My Doll]

Author              : dita-cHun © 2012

Length              : Multichapter

Part                    : 2

Genre                : AU, Romance, Thriller, Angst

Rating               : PG-17

Theme Song   : Yamashita Tomohisa – Ero

Main Cast        :

*Wu Chun [Wu Zun]

*Zhang Shao Han [Angela Zhang]

*Wang Da Dong [Jiro Wang]

POV                   : Author

Language        : Indonesian

Disclaimer      : All cast punya Tuhan! Tapi, Wu Chun adalah calon milik saya *dihajar chunnies*

Warning          : gaje binti abal ~segala kekurangan adalah punya saya~

Note                   : aih, aih, aih! FF ini terlanjur dibuat, yah biarlah tamat! >,< baru part 2 ratingnya sudah naik lagi! *author dirajam* saya juga gimanaaa gitu nulisnya >//< salahin yamapi dan PV nyooo! *dibakar fansu yamapi* ok, reader bacanya yang nyantai aja ya~ nanti jadi terlalu ero kalo dipikirin terlalu err… *Plak* udah deh, yang penting happy reading aja deh! ^^V *dibuang ke jurang*









      Shao Han mematikan shower setelah dirasanya cukup ia membersihkan diri. Sesegera mungkin ia keluar dari kamar mandi, meraih seragam yang masih terlipat rapi di atas ranjang. Sejenak ia tertegun mendapati betapa aneh seragam itu.

     “Apa ini? Memangnya aku boneka?” celetuknya sembari membolak-balik seragam di genggamannya. Seragam itu memang tampak imut dengan dominasi warna pink dan putih di hampir setiap sudutnya. Tapi, tidak untuk melekat di tubuhnya.

     Meski ragu, pada akhirnya seragam itu melesak juga, membingkai tubuhnya yang mungil. Ia bercermin. Tawanya nyaris saja meledak kala itu andai kedua tangannya tak membungkam bibirnya. Baru kali ini Shao Han merasa aneh dengan dirinya sendiri—dan pakaian itulah yang membuatnya tampak aneh. Seragam maid berukuran press body dengan rok setinggi empat inchi di atas lutut. Benar-benar membuatnya tampak seperti boneka.

     “…Tapi, aku bukan mainan.” Shao Han menghentikan lelucon dalam hatinya yang sedari tadi menggelitik batinnya. Dilepasnya seragam itu dan digantinya dengan piyama. “Sebaiknya aku menjelaskan sedikit padanya. Kurasa ia akan mengerti.”

     Dengan rapi dilipatnya kembali seragam itu dan diletakkannya di atas laci di samping tempat tidurnya. Kali ini ia meraih kertas yang masih tertinggal di atas tempat tidur. Dibacanya seksama kertas itu, hingga tak ada satu tugas pun yang terlewat.

Tugas :
-Menyiapkan sarapan sebelum pukul 08.00
-Membersihkan rumah
-Mencuci pakaian
-Mencuci piring
-Menyiapkan makan malam sebelum pukul 19.00
-Mematuhi perintah Wu Chun, tanpa kecuali.

     “Ha? Apa-apaan itu tugas terakhir?” protes Shao Han sembari meletakkan kertas itu ke dalam laci. “Semua pekerjaan yang kulakukan adalah pekerjaan rumah tangga yang umum, kecuali yang terakhir. Wu Chun itu pasti pria yang sangat keras kepala sekali…”

     Shao Han bangkit dari ranjang. Diedarkan pandangannya sejenak pada benda-benda di sekelilingnya. Rapi dan bersih, itulah yang terlintas pertama kali kala ia melihat barang-barang di dalam kamar itu. Lebih dari sekedar layak untuk menjadi kamar seorang pelayan.

     “Hmh… Kira-kira kenapa pelayan lamanya diganti, ya?” desis Shao Han penasaran.

**

     Pagi-pagi sekali sekitar pukul enam Shao Han tampak sudah bangun. Tenaganya sudah terkumpul sejak ia tidur tadi malam. Hari ini ia siap untuk bekerja. Dibukanya kulkas di dapur dan lekas memasak dengan bahan-bahan yang didapatinya dari sana. Ia yakin sebelum pukul delapan masakannya tentu sudah siap.

     “Kemana seragammu?” sebuah suara sukses membuat Shao Han terjingkat dari posisinya semula. Didapatinya majikannya itu telah berdiri di sisi dapur. Lekas ia mematikan api kompor yang semula menyala dan meniriskan spaghetti yang sempat direbusnya beberapa menit lalu. Kemudian ia menghampiri majikannya dengan beberapa pertanyaan yang siap melesat dari bibirnya kala itu.

     Dui bu qi,” itulah yang pertama kali melesat dari bibir Shao Han. “…Kurasa seragam itu terlalu kecil untukku, jadi aku tidak memakainya dulu.”

     Pria di hadapannya tersenyum, penuh arti. “Kukira ukuran itu pas untuk tubuh mungilmu. Aku tidak tahu jika akan kekecilan. Aku akan menggantinya nanti jika aku merasa pakaian itu tidak cocok untukmu. Jadi, kau bisa mencobanya ke hadapanku dulu?”

     “Eh?”

     “Apa aku perlu mengulangi permintaanku?” sahut Chun melihat Shao Han yang masih diam setelah ber-‘eh’ ria barusan.

     “Baiklah, tunggu sebentar…” Shao Han bergegas menuju kamarnya dan lekas mengganti pakaiannya.

     Sementara Shao Han tengah mengganti pakaiannya di dalam sana, Chun justru dengan sejuta imajinasinya membayangkan akan seperti apa jadinya gadis itu dengan pakaian yang diberikannya kemarin. Sibuk bermain dengan fantasinya sendiri, ia hampir tidak sadar kalau Shao Han telah berdiri di hadapannya saat ini. Chun tertegun. Hasilnya memang tidak lebih luar biasa dari hasil imajinasi otaknya. Tapi, itu cukup melegakan Chun karena hasilnya ‘lumayan’.  Ia tampak sangat… seksi.

     “Bagaimana? Kekecilan, kan?” suara Shao Han membuyarkan Chun dari lamunannya barusan.

     “Tidak juga,” jawab Chun cepat. “Itu tampak bagus untukmu. Lebih baik kau menggunakan yang ini. Aku khawatir jika kuberikan yang lebih besar akan tampak kedodoran untukmu,” ucapnya beralasan.

     Shao Han mengerutkan dahinya, tidak sepaham. “Tapi, aku merasa sesak memakainya.”

     “Lama-lama pasti akan terbiasa, kok.” Ucap Chun sekenanya.

     Saat ini ia tak peduli apapun alasan Shao Han untuk menolak seragam yang diberikannya. Ia hanya ingin melihat gadis itu memakai seragamnya. Baginya, itu tampak lebih baik dibanding kaos dan celana jeans yang tadi melekat di tubuhnya.

     ‘Sedikit lebih pendek mungkin akan tampak lebih bagus!’ Chun kembali berimajinasi. Pikiran mesum sudah merasuk jauh merongrong otaknya. Andai Shao Han tahu apa isi otak pria ini, mungkin ia akan lari dari tempat ini dan tak berniat kembali untuk selamanya. Benar-benar iblis.

     “Bagaimana jika—?”

     “Aku tidak menggajimu dengan uang recehan, kuharap kau paham. Ini termasuk aturan bekerja di sini,” potong Chun cepat sebelum Shao Han berhasil menyelesaikan kalimatnya. Tatapannya kali ini tampak berbeda dari sebelumnya. Agak dingin.

     Shao Han menghela nafas singkat, kemudian menjawab. “Baiklah. Kuharap seragam ini segera longgar.”

     Chun mengangguk, ia menang. “Kalau begitu kau bisa menyelesaikan masakanmu. Aku ingin sarapan lebih awal.”

     Shao Han mengangguk kemudian berjalan menuju dapur, melanjutkan kegiatannya yang semula tertunda karena masalah barusan. Masalah seragam yang pada akhirnya ia tetap harus mengenakannya sekali pun hatinya tidak bersedia. Demi uang dan satu hal lain yang ia inginkan sejak lama.

**

     Shao Han merasa kegiatannya belum lama berlangsung. Tapi, berkali-kali ia menangkap basah sepasang mata yang terus-menerus menatapnya dari samping kulkas dapur. Gadis mana yang tidak merasa risih jika ditatap demikian dengan orang yang baru dikenalnya? Ia merasa sangat jijik saat mendapati tatapan majikannya itu terarah ke arahnya. Bukan tatapan hangat, melainkan tatapan dengan makna lain yang bahkan ia pun tak ingin memikirkannya.

     Merasa kesabarannya sudah sampai di puncak ubun-ubun, akhirnya Shao Han memberanikan diri untuk menegur majikannya yang sedari tadi mengobral pandangan pada dirinya. “Dui bu qi, kenapa kau menatapku seperti itu sejak tadi?”

     Sosok yang ditegur itu hanya mengumbar senyumnya yang kesekian kali untuk hari ini. “Jangan terlalu percaya diri. Aku bukan sedang menatapmu. Aku sedang minum kopi,” ucap Chun beralasan.

     “Aku tahu kau sedang minum kopi, tapi matamu sedang di mana?” ucap Shao Han kesal.

     “Mataku mau melihat kemana, itu terserah padaku. Jangan menuduh sembarangan. Kau bukannya bisa menuduh orang yang sedang melamun, kan?” Chun tidak kehabisan kata-kata.

     Shao Han makin kesal, tapi ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk memenangkan pendapatnya. Akhirnya, ia memutuskan diam. Setidaknya, itu bisa lebih baik dari pada merusak hubungannya dengan majikannya sebelum hari pertama usai. Ia perlu sedikit lebih sabar.

     “Makanannya sudah selesai. Sebaiknya kau ke ruang makan. Aku akan mengantarkan semuanya ke sana,” ucap Shao Han. Chun mengangguk mengiyakan kemudian beranjak dari dapur menuju ruang makan.

     Dengan nampan terakhir Shao Han masuk ke ruang makan. Ia lekas memindahkan piring-piring di atas nampan itu ke atas meja makan. Chun masih diam tak menyentuh satu pun peralatan makannya. Shao Han hendak meninggalkan ruang makan andai Chun tak memanggilnya.

     “Shao Han,” panggil Chun. Shao Han menoleh. Didapatinya Chun sudah berdiri di hadapannya saat ini.

     “Aku merasa…” tangan kanan Chun mulai bergerilya tanpa sepetahuan Shao Han. “…Kita akan melewati hari-hari yang panjang setelah ini,” jemari Chun berhenti tepat di pipi kiri Shao Han. Senyumnya mengembang. Senyum yang lagi-lagi sama, penuh arti. Namun, Shao Han tak pernah mampu menangkap makna dari senyuman itu.

     “Kurasa aku harus membersihkan dapur,” Shao Han mencari alasan untuk menghindari  pembicaraan yang dirasanya mulai aneh ini. Chun dengan tenang membiarkan Shao Han menghambur keluar ruang makan dan lekas menyantap makanan di atas meja.

     “Manis…” Chun mengusap tepi bibirnya dengan ibu jarinya. Senyumnya terukir sempurna di wajah tampannya. Ia tidak peduli dengan coklat cair yang baru saja membasahi bibirnya dan kini melekat di ibu jarinya. Ia hanya sedang memikirkan hal lain yang lebih menyenangkan baginya, dibanding sekedar manisnya krim coklat. Lebih manis.

**

     Shao Han meraih ponselnya dari saku seragamnya kemudian mengeluarkan secarik kertas mungil dari dalam tasnya. Ia ingat bahwa kertas itu baru saja masuk ke sana kemarin. Itu kartu nama milik Da Dong yang ditinggalkan untuknya. Tampak deretan angka di bagian paling bawah kertas itu. Shao Han lekas menyalin angka-angka itu ke dalam kontak ponselnya. Ia pikir ia perlu menghubungi Da Dong sewaktu-waktu. Pasti ia akan membutuhkan Da Dong lagi lain hari. Oleh karenanya, ia harus menyimpan nomor itu.

     Wei,” sebuah suara menelusup ke dalam telinga Shao Han. Ia ingat, ia tengah menelepon Da Dong kali ini.

     Wei, Da Dong. Ini aku Shao Han,” jawab Shao Han.

     “Ah, Shao Han. Ada apa?”

     “Tidak, aku cuma ingin berterima kasih padamu. Xie xie ni. Bisa bekerja di tempat temanmu, terima kasih, Da Dong. Aku tidak tahu akan meminta bantuan pada siapa lagi selain padamu,” ucap Shao Han panjang lebar.

     Bu ke qi la. Meskipun kau bekerja di tempat temanku, kau tetap harus hati-hati, ok?”

     “Un. Xie xie ni. Begitu saja, ya. Aku akan menghubungimu lagi nanti.”

     “Hm, bye.”

     Bye.”

     Percakapan itu memang tidak sampai lima menit, tapi Shao Han cukup lega berhasil mengucapkan terima kasih pada temannya itu. Ia merasa Da Dong begitu hangat padanya meskipun beberapa tahun silam ia tidak cukup dekat dengannya. Agak berbeda dengan Chun memang. Tapi, ia yakin Chun juga bukanlah orang yang sangat dingin. Karena Chun teman Da Dong, bukan?

     “Ok, saatnya membersihkan rumah! Jia you!” seru Shao Han semangat lalu bangkit menuju ruang tamu.

**

     “Baiklah, kurasa rapat kita sampai di sini. Desain pakaian ini dan make up ini yang terpilih. Kuharap hasilnya selesai tepat waktu. Sekian,” Chun menutup rapat yang sejak dua jam lalu menguras pikirannya. Ia tidak tahan juga jika berlama-lama di kantor hanya untuk mendengarkan hal-hal tidak penting. Lebih baik ia lekas menuju diskotik tempat ia biasa berkumpul dengan ketiga sahabatnya.

     Girls, I’m coming,” gumam Chun sembari mempercepat langkahnya keluar kantor.

     Chun masuk ke dalam mobilnya, kemudian melajukannya dengan kecepatan luar biasa. Tak peduli seberapa ramai jalanan kota Taipei hari ini. Ia hanya terus mengebut dan mengebut. Hanya satu alasannya. Ia senang melakukannya, itu saja.

     Sebuah parfum beraroma strawberry yang semula bertengger di dalam laci mobil kini telah berpindah ke tangan Chun. Disemprotkannya sedikit ke tubuhnya. Selalu dan selalu itu yang menjadi ciri khas seorang Wu Chun. Aroma strawberry yang tak pernah lepas dari dirinya.

     Hallo,” seorang gadis yang baru saja hendak memasuki diskotik tiba-tiba memutar arah jalannya. Ia berjalan ke arah Chun yang baru saja keluar dari mobilnya. Sebuah kecupan singkat menodai pipi Chun kala itu. Lipstik merah bercap bibir gadis itu menempel sempurna di pipi Chun. Dengan sigap diambilnya tissue basah dari saku celananya, lekas menghapus bekas itu dari pipinya. Ia hanya tidak ingin ketampanannya rusak hanya karena ciuman gadis murahan itu.

     “Kudengar kau pindah lagi,” sambung gadis itu kemudian. Chun mengangguk membenarkan. Di rangkulnya pinggang gadis itu dari belakang, kemudian membimbing gadis itu masuk ke dalam diskotik bersamanya. Ia tidak ingin gadis ini menghambat perjalanannya menuju diskotik.

     “Hei, sebaiknya kita masuk,” ucap Chun. Gadis itu hanya menjawabnya dengan senyuman nakal. Senyum yang biasa ditebarnya pada ratusan pria di luaran sana. Chun tahu itu. Tapi, ia cukup menyukainya. Tidak terlalu buruk.

     “Da Dong, Ya Lun, dan Yi Ru?” tanya Chun pada gadis itu setelah ia mengedarkan pandangannya, namun belum juga menjumpai ketiga sahabatnya.

     “Aku sempat menghubungi Yi Ru dan ia mengatakan akan langsung ke hotel dengan pacarnya yang baru,” jawab gadis itu.

     “Lalu Ya Lun dan Da Dong?”

     “Entahlah, mungkin mereka belum sampai…” jawab gadis itu.

     “Kalau begitu kita minum dulu, Ariel.”

     As your wish, babe.”

**

     Shao Han masih tampak sibuk dengan pekerjaannya. Ia baru saja usai membersihkan rumah, sekarang yang dilakukannya adalah menyiapkan makan malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.15. Itu artinya ia hanya memiliki waktu empat puluh lima menit untuk menyelesaikan tugas terakhirnya untuk hari ini.

     Namun, belum tuntas pekerjaannya itu, sebuah suara tiba-tiba mengacaukan kegiatannya. Dengan sigap dimatikannya api kompor yang semula menyala. Ia bergegas menuju pintu. Seseorang baru saja membunyikan bel dari luar sana. Kalau majikannya, tentu hal yang mustahil karena ia membawa kunci cadangan saat ke kantor tadi pagi. Lantas siapa?

     Cklek!

     Diputar knop pintu itu dan dalam sekejap seorang pria mungil—yang diduganya pelaku pemencetan bel tadi—oleng dari tempatnya dan ambruk di pelukan Shao Han. Panik, ia lekas mendorong pria itu agar menjauh dari dirinya. Tampaknya pria itu tengah mabuk. Terbukti dengan menguarnya aroma alkohol dari mulutnya yang sedikit terbuka. Pria itu limbung ke lantai.

     Shao Han bingung, siapa pria itu? Kenapa tiba-tiba datang ke apartemen ini? Apakah saudara majikannya? Atau temannya? Atau hanya orang asing yang tersesat?

     Pertanyaan-pertanyaan itu bergulat dalam otak Shao Han. Ia bingung akan membawa pria itu masuk atau membiarkannya di luar dan kedinginan. Kalau ia membawanya masuk, ini bukan apartemennya. Tapi, jika ia membiarkan pria ini kedinginan di luar tentunya sangat tidak pantas. Hei, ia juga masih memiliki sisi kemanusiaan yang bagus!

     Shao Han menengok ke kiri dan kanan. Tak ada seorang pun yang dijumpainya kala itu. Akhirnya, diputuskan untuk membawa pria itu masuk ke dalam apartemen. Jika majikannya datang, tentu dia akan berkata apa adanya. Ia hanya berniat menolong, itu saja.

     “Tuan, bangunlah…” Shao Han menepuk pelan pipi pria itu. Meski samar-samar terdengar suara dengungan dari bibirnya yang malas terbuka lebih lebar.

     “Tuan, bangunlah…” sekali lagi Shao Han melakukan hal yang sama. Setidaknya, ia hanya ingin tahu identitas pria asing ini. Pria itu bangun, meski masih dalam keadaan tidak stabil. Matanya mengerjap-ngerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya kala itu. Pria itu menatap ke arah lampu dan Shao Han bergantian. Sejurus kemudian pria itu bangkit dan memeluk Shao Han.

     “Tuan, apa yang kau lakukan? Hei, sadarlah!” Shao Han berusaha lepas dari pelukan pria itu.

     “Tenanglah… Aku bukan orang jahat… Namaku Yan Ya Lun,” ucap pria itu. Sejenak Shao Han diam, mendengarkan orang itu berbicara lebih lanjut. “Kau pelayan baru Wu Chun?”

     “Begitulah…” jawab Shao Han seadanya.

     “Kalau begitu kau pasti gadis simpanannya lagi, kan? Digaji berapa kau? Bagaimana kalau kau bersamaku saja? Tidak ada bedanya, kan? Aku dan dia sama-sama brengseknya,” pria bernama Ya Lun itu menyeret Shao Han ke dalam kamar Chun. Berkali-kali Shao Han menolak dan berusaha melepaskan diri, namun gagal. Tenaga pria itu lebih besar dari dirinya. Ia terus terseret ke arah kamar Chun, hingga pintu itu menutup rapat. Yang terdengar hanya suara jeritan Shao Han dari luar. Tidak ada seorang pun yang mendengarnya kala itu. Sayang sekali.





.Evil




.to be continue~

4 komentar:

  1. Parah.. itu shao han diapain coba? O.o
    #gak bisa ngomong apa2 lahi

    Lanjut!
    ak penasaran sama reaksi chun :P

    BalasHapus
  2. kyaaaa....
    jie2 ku diapain mei ama Ya Lun...
    hadehhh Chun ge tlongin donk....
    lanjut mei...

    BalasHapus
    Balasan
    1. jiahhh, meimei ketinggalan..
      Ya lun ge apa yang kau prbuat..
      lanjut jie ^^

      Hapus
  3. Aku baru bisa komen..
    jyahh~ benaran Evil tuwh ikemen nya xD *dijambak author

    lanjuut yah ^^

    Good job!

    BalasHapus