Title : Collapse. . .
Author : dita-cHun
Type : Multichapter
Part : 3
Sub-title : Finally, I Meet Her [The Last
Birthday]
Genre : Hurt/Comfort, Darkfic, Deathfic,
Friendship
Inspired : Collapse cover © Abimanyu Surya
Idea : Abimanyu Surya and dita-cHun
Music : Seijaku by Ooshima Michiru
Language : Indonesian
POV : Author
Warning : ~gaje binti abal~ segala kekurangan
adalah milik saya
Note : nyahahaha xD akhirnya part 3
release! *keliling lapangan bola* saya bikin dengan penuh perjuangan dan saya
harap kripik & komen tetap ada, itung-itung bayar perjuangan saya *BUAGH*
part 3 ini banyak banget geje-nya.. Sebenernya part 3 ini udah ada dari dulu,
tapi karena saya males posting akhirnya baru diposting sekarang xP Ok, happy
reading! *PLAK
Pagi-pagi sekali Kei sudah sampai di
sekolah. Dengan segera diletakkannya tas ransel yang semula bergelayut di
lengan dan punggungnya ke atas meja. Setelah itu ia lekas menuju ruang guru
karena kemarin Matsuda sensei (guru Matsuda) memintanya kesana pagi-pagi
sekali. Kei tidak sempat menanyakan ada hal apa senseinya itu tiba-tiba
memanggilnya. Ia hanya menjawab dengan anggukan dan disambut kepergian gurunya
itu dari hadapannya.
“Ah, sumimasen… (permisi)” salam Kei
begitu dijumpainya Matsuda sensei di hadapannya.
“Kau Inoo Kei yang kusuruh menemuiku
kemarin, bukan?” tanya Matsuda sensei memastikan. Mungkin ingatan guru
satu ini sudah semakin buruk seiring berjalannya waktu yang menggerogoti
usianya. Ia bahkan lupa bagaimana wajah anak didiknya satu itu. Yang diingatnya
hanyalah bahwa ia pernah membuat janji dengan siswa bernama Inoo Kei.
“Hai’… (ya)” jawab Kei mantap.
Berselang setelah itu Matsuda sensei mempersilahkan Kei duduk.
“Kudengar kau pandai melukis…” ucap Matsuda
sensei kemudian menyeruput kopi yang semula berada di mejanya.
“Ah, aku tidak pandai… Aku cuma
melakukannya di waktu luang…” ucap Kei merendah.
“Maukah kau melakukan sesuatu untukku? Satu
hal…” ucap Matsuda sensei, terdengar memohon.
“E… Apa itu, sensei?” tanya Kei
mencoba menjaga bicaranya.
“Buatkan lukisan anakku… Ia sangat suka
seni, tapi ia tidak pandai. Dia pasti akan sangat senang kalau kau mau membuat
lukisan dirinya dengan baik. Bukankah kau bilang kau suka melakukannya di waktu
luang, hm?”
“Demo (tapi), aku sudah berhenti
melukis manusia…” ucap Kei berusaha menolak halus.
“Kenapa?”
Deg!
Bagaimana
Kei harus menjawabnya?
“Itu… ada sesuatu hal yang terjadi. Dan
maaf aku tidak bisa mengatakannya pada sensei…” ucap Kei. “Ah, atau aku
buatkan lukisan pemandangan saja? Bagaimana, sensei?” tawar Kei mencoba
membelokkan pembicaraan sedikit.
“Onegai… (please)” ucapan itu
tiba-tiba meluncur dari bibir Matsuda sensei. “Sekali ini saja… Demi
anakku…”
Kei menundukkan kepalanya mencoba berpikir
sejenak. Sebenarnya ia tak ingin menolak permintaan gurunya itu. Tapi, kejadian
tentang Amai dan ayahnya sudah membuatnya begitu terpukul. Bagaimana ia harus
memberikan keputusan sebijaksana mungkin? Sementara ada dua pilihan yang
sama-sama beresiko untuk diambilnya. Kei menghela nafas pelan, mencoba
menenangkan diri dan menimbang-nimbang kembali.
“Baiklah, sensei. Aku akan
melakukannya…” itulah keputusan yang akhirnya diambil oleh seorang Inoo Kei.
Seketika ucapan Kei disambut senyum sumringah dari gurunya tersebut. “Arigatou,
Inoo-kun… (terima kasih)”
**
Kei masih berkutat dengan peralatan lukisnya
sejak dua jam yang lalu. Matanya bergantian memandang objek yang mencuri
perhatiannya. Foto seorang gadis seusianya dan tentu saja lukisan yang sedang
dikerjakannya. Diperkirakan seperempat jam lagi lukisan itu sudah bisa selesai.
Tinggal beberapa polesan lagi yang harus dikerjakannya, maka lukisan itu
selesai.
‘Aku tidak
tahu apa yang membuatku dengan serius mengerjakan ini. Aku tidak tahu bagaimana
caranya aku menjelaskan semua ini pada Matsuda sensei. Yang kutahu, akan
terjadi sesuatu setelah lukisan ini selesai. Lalu? Aku harus bagaimana?
Membuangnya? Membakarnya? Melenyapkannya agar tak ada sesuatu yang buruk yang
akan terjadi? Tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Aku sudah berjanji pada
Matsuda sensei untuk memberikan lukisan ini padanya. Aku tidak mungkin
melenyapkan lukisan ini… Lalu, aku harus bagaimana?’
Kei terus membatin tanpa menghentikan
aktivitasnya. Beberapa menit yang lalu sesuatu terjadi dalam pikirannya.
Semacam bayangan mengerikan seperti sebelum-sebelumnya saat ia melukis
orang-orang di sekitarnya. Bayangan itu seolah mengingatkannya kembali pada
sosok ayah dan adiknya yang sudah meninggalkannya untuk waktu yang lama. Sangat
lama. Tapi, entah bagaimana ia tidak bisa menghentikan pergerakan tangannya di
atas kanvas itu. Tangannya seolah bergerak tanpa perintahnya, tangan itu
bergerak sesuai keinginannya sendiri. Menyelesaikan setiap lukisan yang sudah
terlanjur diawalinya.
Mungkin bagi Kei hal ini tentu sesuatu
dalam dirinya yang paling mengerikan. Suatu sisi yang dimilikinya, sisi
istimewa yang membuatnya terus terkungkung dalam ruang hampa. Membuatnya serasa
sulit bernafas dan mungkin serasa jiwanya melayang keluar dari tubuhnya. Ibunya
tahu benar dengan keistimewaan Kei tersebut, tapi hanya Kei yang tahu bagaimana
rasanya memiliki apa yang tidak ingin ia miliki. Entah dari mana ia mendapat
keistimewaan ini, sampai sekarang ia tidak tahu. Bahkan tidak mengerti
bagaimana caranya mengendalikan semua ini.
**
“Eeeh? Saki-chan?” seisi kelas 3F
tiba-tiba ribut setelah sekian detik yang lalu seseorang di antara mereka
membuka sebuah pembicaraan menarik.
“Un. Apa kalian semua lupa dengan ulang
tahun Saki-chan? Hei, kita sudah tiga tahun bersama satu kelas!” protes
seorang gadis yang menjabat sebagai ketua kelas 3F, Okai Chisato.
“Ah, aku benar-benar lupa…” ucap seorang
gadis bergingsul—Suzuki Airi—terkekeh pelan.
“Ah, kalian ini…” dengus Chisato sembari
duduk di depan bangku Airi.
“Souka (begitu), baiklah. Bagaimana
kalau kita rayakan ulang tahun Saki-chan?” ucap Mai mencoba berpendapat.
“Kebetulan sekali aku ada ide bagus!”
“Aku ikut asalkan tidak aneh-aneh, ok?”
ancam Maimi sembari membenarkan letak dasinya.
“Tidak, kok. Sungguh!” ucap Mai mencoba
meyakinkan Maimi. “E… Begini…”
Mereka lekas melanjutkan pembicaraan
mengenai ulang tahun Nakajima Saki, salah satu teman mereka yang kala itu belum
sampai di sekolah. Mereka harap dapat memberikan kejutan tak terlupakan untuk
Saki lebih dari siapapun.
**
Seisi kelas seketika menjadi tenang begitu
seorang siswi berseragam senada dan sedikit polesan jaket kuning di tubuhnya
itu memasuki kelas 3F. Gadis dengan tinggi semampai itu sama sekali tidak sadar
bahwa ada sesuatu hal ganjil telah terjadi pada kelas ini. Ia hanya duduk di
tempatnya kemudian mulai berbicara pada teman-teman sepermainannya yang
kebetulan duduk mengitari tempat duduknya.
“Yosh~ Ohayou, Chisa-chan!
(selamat pagi)” sapa gadis berlabel Nakajima Saki itu sembari mengumbar
senyumnya. Sementara Chisato hanya diam tidak menanggapi, ia kemudian mengambil
beberapa buku dari tasnya tanpa memandang Saki sedikitpun.
“E, nande? (kenapa?)” tanya Saki
bingung. Sementara Chisato masih bergeming.
“Mai-chan, kau tahu kenapa Chi—”
kalimat itu terputus begitu dilihatnya Mai yang baru saja disapanya malah pergi
begitu saja dari hadapannya, bersama Airi dan Maimi tentunya. Ia semakin
bingung melihat tingkah aneh teman-temannya. Bukannya apa-apa, ia hanya heran
karena biasanya pasti mereka sudah ribut di kelas bersama. Tapi, hari ini
mereka tampak begitu dingin. Ada apa?
Saki meraih cermin yang sempat
diselipkannya pada salah satu ruang di tasnya. Ia berkaca sedikit, mencoba
mencerna, apa ada sesuatu yang salah pada dirinya? Setelah memastikan tidak ada
yang salah pada wajahnya, ia ganti menatap pakaiannya di segala sisi. Namun, ia
tak menjumpai keanehan apapun pada dirinya. Ini masih Saki, penampilan Saki
yang dulu. Tapi, kenapa tanggapan teman-temannya jadi begitu aneh terhadap
dirinya?
“Salah apa aku?” ujar Saki pada dirinya
sendiri.
**
Bel pulang baru saja berbunyi. Nyaris
seluruh siswa Heisei Middle School berhamburan meninggalkan sekolah yang
menurut mereka membosankan itu. Sepanjang jam pelajaran dan jam istirahat Saki
terus tampak murung. Ia bingung kenapa keempat temannya tiba-tiba
mengacuhkannya, ditambah mayoritas teman-teman kelas 3F juga memperlakukannya
serupa. Dengan malas Saki meraih tas miliknya kemudian membawanya keluar kelas,
bergegas pulang seperti teman-temannya yang lain. Ia menghela nafas sekilas,
kemudian kembali berjalan menyusuri koridor lantai empat.
“SURPRISE!”
suara itu tentu saja mengejutkan Saki yang tengah berjalan dalam diam. Tampak
keempat temannya melemparkan tepung ke arah Saki. Kemudian mereka saling beradu
melempar tepung satu sama lain.
“Psst, Ai-chan, kau cepat siapkan
kuenya! Aku, Mai, dan Chisa akan mengalihkan perhatian Saki…” bisik Maimi pada
Airi, diikuti anggukan dari Airi kemudian.
“Kyaaa…! Kalian benar-benar, deh!” ucap
Saki sambil menghindari lemparan tepung dari Mai dan Chisa. Sementara itu Maimi
berlari lebih cepat dari Saki dan menghadangnya, kemudian dengan sigap
dilemparkannya genggaman tepung pada tangannya ke arah Saki.
“Uhuk!”
“Ayo, Saki-chan! Kau kalah, ya?”
goda Maimi kemudian.
“Uhuk!”
BLUSH!
Maimi kembali menyerang Saki yang mencoba
menghindar darinya. Maimi bertubi-tubi melemparkan tepung ke arah Saki.
“Kena ka—” kalimat Maimi terputus seketika
begitu dilihatnya tubuh Saki yang tiba-tiba oleng dan jatuh ke lantai satu.
Maimi terbelalak hebat melihat Saki yang bergeming di bawah sana dengan darah
yang terus mengalir keluar dari kepala Saki.
“Astaga, Saki-chan!” teriak Chisato
seketika.
Mai dan Chisato lekas berlari menuju lantai
bawah. Sementara Maimi masih terdiam menatap lantai satu. Bibirnya terkatup
rapat, wajahnya berubah pucat seketika. Ia tidak mengerti bagaimana bisa
tindakannya itu membunuh sahabatnya. Ia hanya berniat… Memberi kejutan. Itu
saja. Tapi, kenapa?
“…Sialan! Semuanya sudah terlambat,”
terdengar suara agak berat di telinga Maimi. Ia menoleh, seorang pria jangkung
tengah berdiri tak jauh dari posisinya berdiri sekarang. Pria itu masih menatap
ke lantai satu. Siapa pria itu? Maimi sama sekali tidak merasa pernah
mengenalnya.
Brukh!
Suara itu sukses mengejutkan pria yang kali
ini berdiri tak jauh dari tempat Maimi. Ia bukan lain adalah Inoo Kei yang
sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Kei lekas menghampiri Maimi yang
tiba-tiba pingsan. Diduganya, Maimi adalah saksi kunci bagaimana bisa gadis
bernama Saki, yang dilukisnya itu, jatuh dari lantai empat secara mendadak.
**
Maimi masih berusaha mencoba membiasakan
cahaya-cahaya yang masuk ke matanya. Ia baru sadar setelah sekian puluh menit
silam pingsan. Sepertinya ia masih perlu sedikit lagi waktu untuk bangkit dari
posisinya. Kepalanya masih terasa berat dan ingatannya mulai agak kacau.
“Kau sudah sadar?” seorang pria tiba-tiba
menghampiri Maimi yang baru saja sadar.
“Hn,” jawab Maimi singkat. “Siapa kau?”
“Ah, aku Inoo Kei, siswa kelas 3A. Maaf,
tiba-tiba mengagetkanmu…” ucap Kei pada gadis yang masih belum ia ketahui
namanya tersebut. “E, sebenarnya ada hal yang ingin kutanyakan padamu. Tapi,
mengingat kondisimu begini, sepertinya lain kali saja…”
“Katakan saja,” ucap Maimi pelan.
“Eh?” Kei terdiam sejenak, kemudian
melanjutkan kalimatnya. “Baiklah, sebenarnya ini semua menyangkut masalah
Naka—”
“Sumimasen,” kali ini suara lain
menghentikan pembicaraan mereka. Beberapa orang berseragam senada kini telah
memasuki pintu UKS. Mereka tampak tangguh dengan seragam biru yang membalut
tubuh kekar mereka. “Benar anda Nona Yajima Maimi?” tanya salah seorang di
antara mereka.
Maimi mengangguk pelan, namun mantap. Pria
itu kembali melanjutkan sembari menunjukkan sebuah kartu tanda pengenal, “Kami
dari pihak kepolisian.”
“Eh?”
“Anda harus ikut kami ke kantor polisi.”
“Eh?”
“Menurut keterangan saksi, anda adalah
tersangka akibat meninggalnya Nona Nakajima. Maka dari itu, kami harus membawa
anda ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Mari,” pria itu
menuntun Maimi mengikutinya. Maimi tertunduk lesu, dengan mulut terkunci rapat
ia berjalan mengekor polisi tersebut.
“Yajima… Maimi?”
.Collapse. . .
.to be
continued~
eh? ini pairingnya inoo x maimi yah? *plak
BalasHapusHmm, trnyata gara2 lukisan yah? salahi masuda senseinya tuh, siapa suruh maksa! #sok belain kei xD
tapi seruuu lho!! xDD
ditunggu lanjutannya yah ^^d
Ah.....! o.O
BalasHapusItu - beneran meninggal?*Shock*
Tapi ceritanya makin seru nih! xD
Akhirnya Kei ketemu sama Maimi..^o^*eh
Seru...! xD
next chapt~ <3
Sangkyu udah ditag-in.... ^o^
_Anna