Rabu, 04 Juli 2012

Collapse. . . [Finally, I Meet Her-The Last Birthday] - Part III

Title               : Collapse. . .

Author           : dita-cHun

Type               : Multichapter

Part                : 3

Sub-title         : Finally, I Meet Her [The Last Birthday]

Genre             : Hurt/Comfort, Darkfic, Deathfic, Friendship

Inspired         : Collapse cover © Abimanyu Surya

Idea                 : Abimanyu Surya and dita-cHun

Music             : Seijaku by Ooshima Michiru

Language        : Indonesian

POV               : Author

Warning        : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya

Note               : nyahahaha xD akhirnya part 3 release! *keliling lapangan bola* saya bikin dengan penuh perjuangan dan saya harap kripik & komen tetap ada, itung-itung bayar perjuangan saya *BUAGH* part 3 ini banyak banget geje-nya.. Sebenernya part 3 ini udah ada dari dulu, tapi karena saya males posting akhirnya baru diposting sekarang xP Ok, happy reading! *PLAK






     Pagi-pagi sekali Kei sudah sampai di sekolah. Dengan segera diletakkannya tas ransel yang semula bergelayut di lengan dan punggungnya ke atas meja. Setelah itu ia lekas menuju ruang guru karena kemarin Matsuda sensei (guru Matsuda) memintanya kesana pagi-pagi sekali. Kei tidak sempat menanyakan ada hal apa senseinya itu tiba-tiba memanggilnya. Ia hanya menjawab dengan anggukan dan disambut kepergian gurunya itu dari hadapannya.

     “Ah, sumimasen… (permisi)” salam Kei begitu dijumpainya Matsuda sensei di hadapannya.

     “Kau Inoo Kei yang kusuruh menemuiku kemarin, bukan?” tanya Matsuda sensei memastikan. Mungkin ingatan guru satu ini sudah semakin buruk seiring berjalannya waktu yang menggerogoti usianya. Ia bahkan lupa bagaimana wajah anak didiknya satu itu. Yang diingatnya hanyalah bahwa ia pernah membuat janji dengan siswa bernama Inoo Kei.

     “Hai’… (ya)” jawab Kei mantap. Berselang setelah itu Matsuda sensei mempersilahkan Kei duduk.

     “Kudengar kau pandai melukis…” ucap Matsuda sensei kemudian menyeruput kopi yang semula berada di mejanya.

     “Ah, aku tidak pandai… Aku cuma melakukannya di waktu luang…” ucap Kei merendah.

     “Maukah kau melakukan sesuatu untukku? Satu hal…” ucap Matsuda sensei, terdengar memohon.

     “E… Apa itu, sensei?” tanya Kei mencoba menjaga bicaranya.

     “Buatkan lukisan anakku… Ia sangat suka seni, tapi ia tidak pandai. Dia pasti akan sangat senang kalau kau mau membuat lukisan dirinya dengan baik. Bukankah kau bilang kau suka melakukannya di waktu luang, hm?”

     “Demo (tapi), aku sudah berhenti melukis manusia…” ucap Kei berusaha menolak halus.

     “Kenapa?”

Deg!

Bagaimana Kei harus menjawabnya?

     “Itu… ada sesuatu hal yang terjadi. Dan maaf aku tidak bisa mengatakannya pada sensei…” ucap Kei. “Ah, atau aku buatkan lukisan pemandangan saja? Bagaimana, sensei?” tawar Kei mencoba membelokkan pembicaraan sedikit.

     “Onegai… (please)” ucapan itu tiba-tiba meluncur dari bibir Matsuda sensei. “Sekali ini saja… Demi anakku…”

     Kei menundukkan kepalanya mencoba berpikir sejenak. Sebenarnya ia tak ingin menolak permintaan gurunya itu. Tapi, kejadian tentang Amai dan ayahnya sudah membuatnya begitu terpukul. Bagaimana ia harus memberikan keputusan sebijaksana mungkin? Sementara ada dua pilihan yang sama-sama beresiko untuk diambilnya. Kei menghela nafas pelan, mencoba menenangkan diri dan menimbang-nimbang kembali.

     “Baiklah, sensei. Aku akan melakukannya…” itulah keputusan yang akhirnya diambil oleh seorang Inoo Kei. Seketika ucapan Kei disambut senyum sumringah dari gurunya tersebut. “Arigatou, Inoo-kun… (terima kasih)”

**

     Kei masih berkutat dengan peralatan lukisnya sejak dua jam yang lalu. Matanya bergantian memandang objek yang mencuri perhatiannya. Foto seorang gadis seusianya dan tentu saja lukisan yang sedang dikerjakannya. Diperkirakan seperempat jam lagi lukisan itu sudah bisa selesai. Tinggal beberapa polesan lagi yang harus dikerjakannya, maka lukisan itu selesai.

     ‘Aku tidak tahu apa yang membuatku dengan serius mengerjakan ini. Aku tidak tahu bagaimana caranya aku menjelaskan semua ini pada Matsuda sensei. Yang kutahu, akan terjadi sesuatu setelah lukisan ini selesai. Lalu? Aku harus bagaimana? Membuangnya? Membakarnya? Melenyapkannya agar tak ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi? Tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Aku sudah berjanji pada Matsuda sensei untuk memberikan lukisan ini padanya. Aku tidak mungkin melenyapkan lukisan ini… Lalu, aku harus bagaimana?’

     Kei terus membatin tanpa menghentikan aktivitasnya. Beberapa menit yang lalu sesuatu terjadi dalam pikirannya. Semacam bayangan mengerikan seperti sebelum-sebelumnya saat ia melukis orang-orang di sekitarnya. Bayangan itu seolah mengingatkannya kembali pada sosok ayah dan adiknya yang sudah meninggalkannya untuk waktu yang lama. Sangat lama. Tapi, entah bagaimana ia tidak bisa menghentikan pergerakan tangannya di atas kanvas itu. Tangannya seolah bergerak tanpa perintahnya, tangan itu bergerak sesuai keinginannya sendiri. Menyelesaikan setiap lukisan yang sudah terlanjur diawalinya.

     Mungkin bagi Kei hal ini tentu sesuatu dalam dirinya yang paling mengerikan. Suatu sisi yang dimilikinya, sisi istimewa yang membuatnya terus terkungkung dalam ruang hampa. Membuatnya serasa sulit bernafas dan mungkin serasa jiwanya melayang keluar dari tubuhnya. Ibunya tahu benar dengan keistimewaan Kei tersebut, tapi hanya Kei yang tahu bagaimana rasanya memiliki apa yang tidak ingin ia miliki. Entah dari mana ia mendapat keistimewaan ini, sampai sekarang ia tidak tahu. Bahkan tidak mengerti bagaimana caranya mengendalikan semua ini.

**

     “Eeeh? Saki-chan?” seisi kelas 3F tiba-tiba ribut setelah sekian detik yang lalu seseorang di antara mereka membuka sebuah pembicaraan menarik.

     “Un. Apa kalian semua lupa dengan ulang tahun Saki-chan? Hei, kita sudah tiga tahun bersama satu kelas!” protes seorang gadis yang menjabat sebagai ketua kelas 3F, Okai Chisato.

     “Ah, aku benar-benar lupa…” ucap seorang gadis bergingsul—Suzuki Airi—terkekeh  pelan.

     “Ah, kalian ini…” dengus Chisato sembari duduk di depan bangku Airi.

     “Souka (begitu), baiklah. Bagaimana kalau kita rayakan ulang tahun Saki-chan?” ucap Mai mencoba berpendapat. “Kebetulan sekali aku ada ide bagus!”

     “Aku ikut asalkan tidak aneh-aneh, ok?” ancam Maimi sembari membenarkan letak dasinya.

     “Tidak, kok. Sungguh!” ucap Mai mencoba meyakinkan Maimi. “E… Begini…”

     Mereka lekas melanjutkan pembicaraan mengenai ulang tahun Nakajima Saki, salah satu teman mereka yang kala itu belum sampai di sekolah. Mereka harap dapat memberikan kejutan tak terlupakan untuk Saki lebih dari siapapun.

**

     Seisi kelas seketika menjadi tenang begitu seorang siswi berseragam senada dan sedikit polesan jaket kuning di tubuhnya itu memasuki kelas 3F. Gadis dengan tinggi semampai itu sama sekali tidak sadar bahwa ada sesuatu hal ganjil telah terjadi pada kelas ini. Ia hanya duduk di tempatnya kemudian mulai berbicara pada teman-teman sepermainannya yang kebetulan duduk mengitari tempat duduknya.

     “Yosh~ Ohayou, Chisa-chan! (selamat pagi)” sapa gadis berlabel Nakajima Saki itu sembari mengumbar senyumnya. Sementara Chisato hanya diam tidak menanggapi, ia kemudian mengambil beberapa buku dari tasnya tanpa memandang Saki sedikitpun.

     “E, nande? (kenapa?)” tanya Saki bingung. Sementara Chisato masih bergeming.

     “Mai-chan, kau tahu kenapa Chi—” kalimat itu terputus begitu dilihatnya Mai yang baru saja disapanya malah pergi begitu saja dari hadapannya, bersama Airi dan Maimi tentunya. Ia semakin bingung melihat tingkah aneh teman-temannya. Bukannya apa-apa, ia hanya heran karena biasanya pasti mereka sudah ribut di kelas bersama. Tapi, hari ini mereka tampak begitu dingin. Ada apa?

     Saki meraih cermin yang sempat diselipkannya pada salah satu ruang di tasnya. Ia berkaca sedikit, mencoba mencerna, apa ada sesuatu yang salah pada dirinya? Setelah memastikan tidak ada yang salah pada wajahnya, ia ganti menatap pakaiannya di segala sisi. Namun, ia tak menjumpai keanehan apapun pada dirinya. Ini masih Saki, penampilan Saki yang dulu. Tapi, kenapa tanggapan teman-temannya jadi begitu aneh terhadap dirinya?

     “Salah apa aku?” ujar Saki pada dirinya sendiri.

**

     Bel pulang baru saja berbunyi. Nyaris seluruh siswa Heisei Middle School berhamburan meninggalkan sekolah yang menurut mereka membosankan itu. Sepanjang jam pelajaran dan jam istirahat Saki terus tampak murung. Ia bingung kenapa keempat temannya tiba-tiba mengacuhkannya, ditambah mayoritas teman-teman kelas 3F juga memperlakukannya serupa. Dengan malas Saki meraih tas miliknya kemudian membawanya keluar kelas, bergegas pulang seperti teman-temannya yang lain. Ia menghela nafas sekilas, kemudian kembali berjalan menyusuri koridor lantai empat.

     “SURPRISE!” suara itu tentu saja mengejutkan Saki yang tengah berjalan dalam diam. Tampak keempat temannya melemparkan tepung ke arah Saki. Kemudian mereka saling beradu melempar tepung satu sama lain.

     “Psst, Ai-chan, kau cepat siapkan kuenya! Aku, Mai, dan Chisa akan mengalihkan perhatian Saki…” bisik Maimi pada Airi, diikuti anggukan dari Airi kemudian.

     “Kyaaa…! Kalian benar-benar, deh!” ucap Saki sambil menghindari lemparan tepung dari Mai dan Chisa. Sementara itu Maimi berlari lebih cepat dari Saki dan menghadangnya, kemudian dengan sigap dilemparkannya genggaman tepung pada tangannya ke arah  Saki.

     “Uhuk!”

     “Ayo, Saki-chan! Kau kalah, ya?” goda Maimi kemudian.

     “Uhuk!”

BLUSH!

     Maimi kembali menyerang Saki yang mencoba menghindar darinya. Maimi bertubi-tubi melemparkan tepung ke arah Saki.

     “Kena ka—” kalimat Maimi terputus seketika begitu dilihatnya tubuh Saki yang tiba-tiba oleng dan jatuh ke lantai satu. Maimi terbelalak hebat melihat Saki yang bergeming di bawah sana dengan darah yang terus mengalir keluar dari kepala Saki.

     “Astaga, Saki-chan!” teriak Chisato seketika.

     Mai dan Chisato lekas berlari menuju lantai bawah. Sementara Maimi masih terdiam menatap lantai satu. Bibirnya terkatup rapat, wajahnya berubah pucat seketika. Ia tidak mengerti bagaimana bisa tindakannya itu membunuh sahabatnya. Ia hanya berniat… Memberi kejutan. Itu saja. Tapi, kenapa?

     “…Sialan! Semuanya sudah terlambat,” terdengar suara agak berat di telinga Maimi. Ia menoleh, seorang pria jangkung tengah berdiri tak jauh dari posisinya berdiri sekarang. Pria itu masih menatap ke lantai satu. Siapa pria itu? Maimi sama sekali tidak merasa pernah mengenalnya.

Brukh!

     Suara itu sukses mengejutkan pria yang kali ini berdiri tak jauh dari tempat Maimi. Ia bukan lain adalah Inoo Kei yang sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Kei lekas menghampiri Maimi yang tiba-tiba pingsan. Diduganya, Maimi adalah saksi kunci bagaimana bisa gadis bernama Saki, yang dilukisnya itu, jatuh dari lantai empat secara  mendadak.

**

     Maimi masih berusaha mencoba membiasakan cahaya-cahaya yang masuk ke matanya. Ia baru sadar setelah sekian puluh menit silam pingsan. Sepertinya ia masih perlu sedikit lagi waktu untuk bangkit dari posisinya. Kepalanya masih terasa berat dan ingatannya mulai agak kacau.

     “Kau sudah sadar?” seorang pria tiba-tiba menghampiri Maimi yang baru saja sadar.

     “Hn,” jawab Maimi singkat. “Siapa kau?”

     “Ah, aku Inoo Kei, siswa kelas 3A. Maaf, tiba-tiba mengagetkanmu…” ucap Kei pada gadis yang masih belum ia ketahui namanya tersebut. “E, sebenarnya ada hal yang ingin kutanyakan padamu. Tapi, mengingat kondisimu begini, sepertinya lain kali saja…”

     “Katakan saja,” ucap Maimi pelan.

     “Eh?” Kei terdiam sejenak, kemudian melanjutkan kalimatnya. “Baiklah, sebenarnya ini semua menyangkut masalah Naka—”

     “Sumimasen,” kali ini suara lain menghentikan pembicaraan mereka. Beberapa orang berseragam senada kini telah memasuki pintu UKS. Mereka tampak tangguh dengan seragam biru yang membalut tubuh kekar mereka. “Benar anda Nona Yajima Maimi?” tanya salah seorang di antara mereka.

     Maimi mengangguk pelan, namun mantap. Pria itu kembali melanjutkan sembari menunjukkan sebuah kartu tanda pengenal, “Kami dari pihak kepolisian.”

     “Eh?”

     “Anda harus ikut kami ke kantor polisi.”

     “Eh?”

     “Menurut keterangan saksi, anda adalah tersangka akibat meninggalnya Nona Nakajima. Maka dari itu, kami harus membawa anda ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Mari,” pria itu menuntun Maimi mengikutinya. Maimi tertunduk lesu, dengan mulut terkunci rapat ia berjalan mengekor polisi tersebut.

     “Yajima… Maimi?”







.Collapse. . .




.to be continued~

2 komentar:

  1. eh? ini pairingnya inoo x maimi yah? *plak

    Hmm, trnyata gara2 lukisan yah? salahi masuda senseinya tuh, siapa suruh maksa! #sok belain kei xD

    tapi seruuu lho!! xDD
    ditunggu lanjutannya yah ^^d

    BalasHapus
  2. Ah.....! o.O
    Itu - beneran meninggal?*Shock*

    Tapi ceritanya makin seru nih! xD

    Akhirnya Kei ketemu sama Maimi..^o^*eh

    Seru...! xD

    next chapt~ <3

    Sangkyu udah ditag-in.... ^o^

    _Anna

    BalasHapus