Sabtu, 07 Juli 2012

Collapse . . . [Little Tears] - Part IV


Title               : Collapse. . .

Author           : dita-cHun © 2012

Type               : Multichapter

Part                : 4

Sub-title         : Little Tears

Genre             : Hurt/Comfort, Darkfic, Deathfic, Friendship, AU, Fantasy

Inspired         : Collapse cover © Abimanyu Surya

Idea                 : Abimanyu Surya and dita-cHun

Music             : Seijaku by Ooshima Michiru

Language        : Indonesian

POV               : Author

Warning        : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya

Note               : Saya kembali bawa part 4! Setelah memutar otak kanan-kiri saya putuskan buat nge-post part ini. Dipikir-pikir sebenarnya fic ini nggak terlalu dark, kok.  Cuma saya-nya aja yang terlalu lebay pas ngetiknya *nyadar*. Entah kenapa setiap saya ngetik ini ff di rumah, bawaannya malah rumah saya suasananya dark banget. Saya jadi takut keluar kamar *penakut*. Dan saya baru tau kalo ff ini sebenarnya cuma cerita tentang mimpi/cita-cita gitu. Mungkin rada nggak sesuai sama ide yang punya cover awal (baca : penyu lautan), tapi biar deh. Toh, ini kan storyline ala saya, suka-suka saya *kurang ajar*. Do’akan aja semoga ff ini cepat tamat xD *bener-bener minta dihajar* Ok, happy reading!








     Goresan-goresan sketsa terakhir Kei semakin lama tampak semakin buram. Keragu-raguan itu entah kenapa tiba-tiba merayap dalam batin Kei, mengguncang perasaannya, dan dalam waktu singkat meredupkan keinginannya melanjutkan lukisan yang masih belum apa-apa itu. Kei menghela nafas singkat kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan lukisannya kali ini. Mood-nya sudah ambruk.

     “Ck,” hanya itu yang belakangan sering terlontar dari bibir seorang Inoo Kei. Ia tak banyak bicara akhir-akhir ini. Meskipun pada kenyataannya Kei memang bukanlah orang yang banyak bicara, tapi belakangan ini pasokan kata-kata dalam otaknya seolah mengelupas. Yang ia ucapkan tak lebih panjang dari sekedar, “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja.” Ia banyak diam, tanpa ada seorang pun yang mengerti apa yang tengah mengusik pikirannya hingga sedemikian rupa.

     Bayangan peristiwa yang terjadi seminggu lalu masih terasa segar di ingatan Kei. Seolah baru terjadi kemarin, bayangan itu terus berkelebat di pikiran Kei. Ia masih dapat mengingat betul bagaimana kejadian tragis itu menyita perhatiannya. Ia dapat mengingat bagaimana seorang Nakajima Saki tewas terjatuh dari ketinggian sepuluh meter. Dan ia juga masih mengingat bagaimana tubuh Saki yang sudah remuk dengan cairan kental berwarna merah segar yang mengalir dari kepalanya itu menguarkan aroma anyir, khas darah.

     Kei bangkit dari posisinya semula, diraihnya sebuah kanvas di sudut ruangan yang sengaja ia balik posisinya sejak kejadian itu. Di balik sana tersembunyi satu lukisan. Ya, itu bukan lain lukisan diri Nakajima Saki yang sempat dipesan oleh ayahnya sendiri, Nakajima Matsuda sensei. Sampai saat ini Kei masih menyimpan lukisan itu tanpa sempat memberikannya pada Matsuda sensei. Trauma itu terlalu menyakitkan bagi Kei. Ia benar-benar berniat melenyapkan lukisan itu, namun tubuhnya terkadang berkehendak lain dengan otaknya. Entah mengapa sering seperti itu.

     Kuso… (sialan)” ucap Kei dengan volume pelan, sangat pelan bahkan itu dapat dikategorikan sebagai bisikan. Kali ini ia tak kuasa lagi membendung air matanya yang telah membanjir di kelopak matanya sejak tadi, pikirannya kacau.

**

     Rintik hujan baru saja usai mengguyur kota. Embun-embun sisa hujan yang turun tanpa henti sejak tadi malam masih tampak segar di tiap-tiap jendela rumah dan dedaunan pohon. Aroma khas wewangian hujan menguar di setiap sudut kot dan masih terasa meski samar-samar, hembusan angin musim gugur yang baru saja berakhir . Ya, hari ini sudah memasuki musim panas. Musim yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap remaja seusia Kei—entah itu untuk berselancar atau hanya untuk sekedar berenang di pantai. Namun, kali ini Kei sama sekali tidak tertarik akan hal itu. Ia tengah memikirkan hal lain, bukan tentang pergantian musim atau permainan. Hal lain yang sudah dapat dibilang cukup lama mengusik batinnya.

     Jemari lentik Kei masih setia menggores kaca jendela yang terasa dingin itu. Embun-embun yang menguap tersapu halus oleh jemari Kei yang menari-nari di sana. Matanya menatap ke arah luar, tapi itu hanya pandangan kosong. Sejatinya, ia tak sedang menatap apapun. Tubuh Kei memang masih di sini, tapi jiwanya entah sedang berada di mana saat ini.  Mungkin ke tempat yang sangat ingin ia tuju sekarang. Mungkin jiwanya sedang berada di sana.

     “Kei…” suara itu sontak mengembalikan jiwa Kei ke dalam tubuhnya dalam waktu sekian mili detik. Jemarinya berhenti bergerak, pandangannya beralih pada asal suara itu. Ia mengenal baik pemilik suara lembut itu. “Okaa-san,” ia melangkah mendekat ke arah wanita paruh baya yang kini tengah berdiri di ambang pintu kamar Kei yang masih terbuka lebar itu.

     Daijoubu?” suara itu kembali menyergap indra pendengaran Kei.

     Kei mengukir senyum lembut pada sosok di hadapannya, “Hai’.”

     Wanita itu tersenyum jauh lebih lembut dari Kei, “Kei, tinggal kau yang kumiliki saat ini. Jadi, berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi…” Pandangan kedua keempat bola mata onyx itu bertemu, saling menyelami kedua bola mata lawan bicaranya dalam-dalam.

     Kei kembali mengukir senyum, “Aku janji, Okaa-san.”

     Wanita itu mundur sedikit dari posisinya semula, “Sarapan sudah siap, Kei. Sebaiknya  kau cepat turun sebelum makanannya dingin…”

     Hai’…”

     Berselang sejenak setelah Kei menjawab, wanita paruh baya itu keluar meninggalkan kamar Kei. Kei kembali menatap ke luar jendela. Suasana di luar masih sama seperti sebelumnya, hanya saja lebih terang semenjak cahaya matahari mulai menerobos masuk atmosfer. Kei kembali diam, kemudian bergumam kecil, “Ini hari ke sembilan, ya…”

**

     Gadis itu masih terduduk diam di lantai, tangannya memeluk kedua kakinya yang terasa dingin akibat lantai ruangan yang tak beralas apapun. Matanya kembali mengembun setelah beberapa menit yang lalu baru mengering. Ia tak kunjung meringsek  dari posisinya meski kegiatannya itu sudah dapat dihitung puluhan menit. Hanya menangis dengan mulut tetap terkunci rapat.

     Suara riuh dari beberapa penghuni lain di ruangan itu tak membuat pandangannya teralih. Ia hanya diam, tak peduli, dan tak ada yang peduli padanya. Jajaran jeruji besi yang belum terbuka sejak sembilan hari yang lalu itu adalah saksi bisu atas keadaan gadis yang tengah mendekam di dalam ruangan kumuh beraroma tak sedap ini. Seorang gadis yang terkurung di dalam tempat ini atas tuduhan pelaku pembunuhan berencana, Yajima Maimi.

     “Hei, kau!” suara berat itu sukses mengejutkan Maimi yang masih bergeming. Disusul berikutnya terdengar suara derikan besi yang bergesekan dengan ubin di bawahnya. Pagar besi itu menganga, meski tidak sempurna. “Ada yang menjengukmu! Cepat keluar!”

     Maimi beringsut dari posisinya semula. Kini ia mampu melihat jelas sosok pria yang baru saja memanggilnya dengan kasar. Tak lain dan tak bukan adalah seorang polisi bertubuh tegap, dengan postur tubuh sedang, dan kumis tebal menghiasi kulit antara hidung dan bibirnya. Ah, ia tak peduli lagi dengan polisi itu. Kini yang ada di pikirannya adalah siapa yang mendadak menjenguknya. Ibunya, adalah hal yang mustahil untuk kemari dengan keadaan tidak stabil. Mungkin, ketiga sahabatnya—Airi, Chisa, Mai. Ya. hanya mereka yang mungkin dalam keadaan seperti sekarang ini peduli dan mampu datang meski hanya untuk sekedar berkunjung. Namun, kenapa baru sekarang?

     Sementara pikiran dan batin Maimi tengah bergelut hebat di dalam sana, akhirnya kedua kakinya sampai di sebuah ruangan khusus. Ruangan tanpa celah kecuali satu pintu besi yang hanya sesekali terbuka saat seseorang berkunjung ke sana. Maimi tertegun melihat sosok pemuda di hadapannya. Bukan orang yang istimewa memang, hanya seorang siswa yang baru dikenalnya sembilan hari yang lalu, Inoo Kei.

     “Yajima-san, apa kabar?” sapa Kei lembut.

     “Kurasa kau bisa melihatnya,” jawab Maimi, suaranya serak setelah sembilan hari lamanya tak berbicara dan hanya terus menangis. Kei mampu melihat jelas betapa menyedihkannya penampilan seorang Yajima Maimi saat ini. Ia cukup berbeda sejak sembilan hari silam. Kedua kantung mata yang membengkak hebat, membuktikan seberapa lama ia mempertahankan dirinya terjaga dan terus menangis. Pakaiannya kumal dan noda-noda debu menutup paras cantiknya, hanya ada segaris vertikal di bawah matanya yang bersih dari debu, terhapus air matanya. Dan dapat dilihat betapa kurusnya Yajima Maimi, entah apa yang dimakannya belakangan ini. Mungkin sesuatu yang amat tak layak, atau bahkan ia tak makan apapun, tak ada yang tahu dan Kei hanya mencoba menerka dalam hati. Dan entah kenapa, keadaan gadis itu yang seperti ini membuat batinnya teriris.

     “Kau tidak bersalah, bukan?” tanya Kei. Pertanyaan ini sukses membuat Maimi tertawa miris, suaranya yang serak membuat irama tawanya benar-benar tak beraturan. “Kalau itu memang benar, lalu aku bisa apa?” tak menjawab, Maimi justru memberikan pertanyaan lain pada Kei.

     Gomen ne…” ucap Kei, terdengar samar namun telinga Maimi menangkapnya cukup jelas. Air muka pemuda itu tampak melunak lebih jauh dari sebelumnya. Maimi hanya menautkan alisnya tidak paham. Kenapa ia malah meminta maaf?

     Gomen…” sekali lagi hanya kata itu yang terlontar dari bibir Kei. Wajahnya tertunduk pasrah, menatap meja yang membentuk jarak antara dirinya dengan gadis di hadapannya.

     “Apa maksudmu?” tanya Maimi, ia merasa butuh penjelasan lebih rinci atas sikap pemuda itu barusan.

     “Mungkin kau tidak akan percaya, tapi aku yang membuat Nakajima Saki meninggal…” jawab Kei sekenanya. Maimi semakin dalam menatap pemuda di hadapannya. Penasaran, ia kembali melontarkan tanggapan berakar pertanyaan, “Aku tidak mengerti…”

     “Aku melukis dan percaya atau tidak aku melihat masa depan dari dalam sana…” kali ini Maimi tertegun mendengarnya. Kalimat itu terdengar seperti lelucon, tapi kelihatannya itu bukanlah sebuah candaan.

     “Kalau begitu bebaskan aku dengan lukisanmu,” entah apa yang telah merasuki diri Maimi hingga ia melontarkan kalimat itu. Kei menatap gadis di hadapannya dalam-dalam, mencoba menyelami pernyataan Maimi. “Bukankah kau melihat masa depan di sana? Kalau begitu buat masa depan yang bagus untukku…”

     “Aku tidak bisa,” tolak Kei.

     “Kenapa?”

     “Karena dia bekerja tanpa perintahku…”

     “Siapa?”

     “Tanganku. Dia melukis masa depan dengan kehendaknya sendiri. Jadi, aku tidak bisa.”

**

     Maimi duduk menyudut tepat di belakang jeruji besi yang menjadi sandarannya saat ini. Kalimat pria bernama Inoo Kei itu terus terngiang dalam indra pendengarannya. Rasanya ia hampir gila dipaksa percaya pada hal-hal berbau magis yang sama sekali tidak sejalan dengan logikanya. Seorang calon dokter mana mungkin percaya begitu saja pada hal-hal di luar nalar seperti itu?

     “Mungkin kau tidak akan percaya, tapi aku yang membuat Nakajima Saki meninggal…”

     ‘Tapi, kalau itu benar kenapa ia mengatakannya padaku? Atau karena alasannya itu tidak logis, sehingga sekalipun aku menuntutnya pada akhirnya tetap aku yang kalah? Inoo Kei… Apa yang ia inginkan sebenarnya?’

     Pikiran dan batin Maimi kembali bergelut. Entah siapa yang akan memenangkan pergelutan itu. Apakah ia akan tetap teguh pada logika atau mencoba percaya pada hal-hal di luar nalar itu, siapa yang tahu? Yang pasti saat ini kehadiran Kei dalam hidupnya membuat dirinya jatuh dalam kerisauan yang dalam secara mendadak. Ia juga tidak mengerti mengapa ia merisaukan ini dan itu, ia hanya tahu bahwa ini benar-benar membuat pikirannya semakin kacau.

     “Aaaaargghhh..!”






.Collapse. . .



.to be continue…

3 komentar:

  1. bagus!
    kasihan maimi nya, Inoo juga...
    ini semua salah tangannya Inoo! *plak, digampar tgnnya(?)

    Gak bisa ngomong apa2 lagi selain Lanjut! xD

    BalasHapus
  2. aku baru baca Collapse (I-IV)
    keren~ ^^
    Tapi, klo cuma nglukis orang ajj jadi bencana iaa?
    jangan2 klo Kei nglukis pemandangan juga jadi bencana >,< #ditampar author

    Oia, pgn liat cover nya dong ^^d

    BalasHapus
    Balasan
    1. Un, dou ita.. ^^ ditunggu kelanjutannya. penasaran.. apa Kei ntar nya gmbar dirinya sndiri biar semuanya beres #eh? makin digampar author >,<

      oke...~

      Hapus