Title : Collapse. . .
Author : dita-cHun © 2012
Type : Multichapter
Part : 4
Sub-title : Little Tears
Genre : Hurt/Comfort, Darkfic, Deathfic,
Friendship, AU, Fantasy
Inspired : Collapse cover © Abimanyu Surya
Idea : Abimanyu Surya and dita-cHun
Music : Seijaku by Ooshima Michiru
Language : Indonesian
POV : Author
Warning : ~gaje binti abal~ segala kekurangan
adalah milik saya
Note : Saya kembali bawa part
4! Setelah memutar otak kanan-kiri saya putuskan buat nge-post part ini.
Dipikir-pikir sebenarnya fic ini nggak terlalu dark, kok. Cuma saya-nya aja yang terlalu lebay pas
ngetiknya *nyadar*. Entah kenapa setiap saya ngetik ini ff di rumah, bawaannya
malah rumah saya suasananya dark banget. Saya jadi takut keluar kamar
*penakut*. Dan saya baru tau kalo ff ini sebenarnya cuma cerita tentang
mimpi/cita-cita gitu. Mungkin rada nggak sesuai sama ide yang punya cover
awal (baca : penyu lautan), tapi biar deh. Toh, ini kan storyline
ala saya, suka-suka saya *kurang ajar*. Do’akan aja semoga ff ini cepat tamat
xD *bener-bener minta dihajar* Ok, happy reading!
Goresan-goresan sketsa terakhir Kei semakin
lama tampak semakin buram. Keragu-raguan itu entah kenapa tiba-tiba merayap
dalam batin Kei, mengguncang perasaannya, dan dalam waktu singkat meredupkan
keinginannya melanjutkan lukisan yang masih belum apa-apa itu. Kei menghela
nafas singkat kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan lukisannya kali ini. Mood-nya
sudah ambruk.
“Ck,” hanya itu yang belakangan sering
terlontar dari bibir seorang Inoo Kei. Ia tak banyak bicara akhir-akhir ini.
Meskipun pada kenyataannya Kei memang bukanlah orang yang banyak bicara, tapi
belakangan ini pasokan kata-kata dalam otaknya seolah mengelupas. Yang ia
ucapkan tak lebih panjang dari sekedar, “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja.”
Ia banyak diam, tanpa ada seorang pun yang mengerti apa yang tengah mengusik
pikirannya hingga sedemikian rupa.
Bayangan peristiwa yang terjadi seminggu
lalu masih terasa segar di ingatan Kei. Seolah baru terjadi kemarin, bayangan
itu terus berkelebat di pikiran Kei. Ia masih dapat mengingat betul bagaimana
kejadian tragis itu menyita perhatiannya. Ia dapat mengingat bagaimana seorang
Nakajima Saki tewas terjatuh dari ketinggian sepuluh meter. Dan ia juga masih
mengingat bagaimana tubuh Saki yang sudah remuk dengan cairan kental berwarna
merah segar yang mengalir dari kepalanya itu menguarkan aroma anyir, khas
darah.
Kei bangkit dari posisinya semula,
diraihnya sebuah kanvas di sudut ruangan yang sengaja ia balik posisinya sejak
kejadian itu. Di balik sana tersembunyi satu lukisan. Ya, itu bukan lain
lukisan diri Nakajima Saki yang sempat dipesan oleh ayahnya sendiri, Nakajima
Matsuda sensei. Sampai saat ini Kei masih menyimpan lukisan itu tanpa
sempat memberikannya pada Matsuda sensei. Trauma itu terlalu menyakitkan
bagi Kei. Ia benar-benar berniat melenyapkan lukisan itu, namun tubuhnya
terkadang berkehendak lain dengan otaknya. Entah mengapa sering seperti itu.
“Kuso… (sialan)” ucap Kei dengan
volume pelan, sangat pelan bahkan itu dapat dikategorikan sebagai bisikan. Kali
ini ia tak kuasa lagi membendung air matanya yang telah membanjir di kelopak
matanya sejak tadi, pikirannya kacau.
**
Rintik hujan baru saja usai mengguyur kota.
Embun-embun sisa hujan yang turun tanpa henti sejak tadi malam masih tampak
segar di tiap-tiap jendela rumah dan dedaunan pohon. Aroma khas wewangian hujan
menguar di setiap sudut kot dan masih terasa meski samar-samar, hembusan angin
musim gugur yang baru saja berakhir . Ya, hari ini sudah memasuki musim panas.
Musim yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap remaja seusia Kei—entah itu untuk
berselancar atau hanya untuk sekedar berenang di pantai. Namun, kali ini Kei
sama sekali tidak tertarik akan hal itu. Ia tengah memikirkan hal lain, bukan
tentang pergantian musim atau permainan. Hal lain yang sudah dapat dibilang
cukup lama mengusik batinnya.
Jemari lentik Kei masih setia menggores
kaca jendela yang terasa dingin itu. Embun-embun yang menguap tersapu halus
oleh jemari Kei yang menari-nari di sana. Matanya menatap ke arah luar, tapi
itu hanya pandangan kosong. Sejatinya, ia tak sedang menatap apapun. Tubuh Kei
memang masih di sini, tapi jiwanya entah sedang berada di mana saat ini. Mungkin ke tempat yang sangat ingin ia tuju sekarang.
Mungkin jiwanya sedang berada di sana.
“Kei…” suara itu sontak mengembalikan jiwa
Kei ke dalam tubuhnya dalam waktu sekian mili detik. Jemarinya berhenti
bergerak, pandangannya beralih pada asal suara itu. Ia mengenal baik pemilik
suara lembut itu. “Okaa-san,” ia melangkah mendekat ke arah wanita paruh
baya yang kini tengah berdiri di ambang pintu kamar Kei yang masih terbuka
lebar itu.
“Daijoubu?” suara itu kembali
menyergap indra pendengaran Kei.
Kei mengukir senyum lembut pada sosok di
hadapannya, “Hai’.”
Wanita itu tersenyum jauh lebih lembut dari
Kei, “Kei, tinggal kau yang kumiliki saat ini. Jadi, berjanjilah kau tidak akan
meninggalkanku apapun yang terjadi…” Pandangan kedua keempat bola mata onyx
itu bertemu, saling menyelami kedua bola mata lawan bicaranya dalam-dalam.
Kei kembali mengukir senyum, “Aku janji, Okaa-san.”
Wanita itu mundur sedikit dari posisinya
semula, “Sarapan sudah siap, Kei. Sebaiknya
kau cepat turun sebelum makanannya dingin…”
“Hai’…”
Berselang sejenak setelah Kei menjawab,
wanita paruh baya itu keluar meninggalkan kamar Kei. Kei kembali menatap ke
luar jendela. Suasana di luar masih sama seperti sebelumnya, hanya saja lebih
terang semenjak cahaya matahari mulai menerobos masuk atmosfer. Kei kembali
diam, kemudian bergumam kecil, “Ini hari ke sembilan, ya…”
**
Gadis itu masih terduduk diam di lantai,
tangannya memeluk kedua kakinya yang terasa dingin akibat lantai ruangan yang
tak beralas apapun. Matanya kembali mengembun setelah beberapa menit yang lalu
baru mengering. Ia tak kunjung meringsek
dari posisinya meski kegiatannya itu sudah dapat dihitung puluhan menit.
Hanya menangis dengan mulut tetap terkunci rapat.
Suara riuh dari beberapa penghuni lain di
ruangan itu tak membuat pandangannya teralih. Ia hanya diam, tak peduli, dan
tak ada yang peduli padanya. Jajaran jeruji besi yang belum terbuka sejak
sembilan hari yang lalu itu adalah saksi bisu atas keadaan gadis yang tengah
mendekam di dalam ruangan kumuh beraroma tak sedap ini. Seorang gadis yang
terkurung di dalam tempat ini atas tuduhan pelaku pembunuhan berencana, Yajima
Maimi.
“Hei, kau!” suara berat itu sukses
mengejutkan Maimi yang masih bergeming. Disusul berikutnya terdengar suara
derikan besi yang bergesekan dengan ubin di bawahnya. Pagar besi itu menganga,
meski tidak sempurna. “Ada yang menjengukmu! Cepat keluar!”
Maimi beringsut dari posisinya semula. Kini
ia mampu melihat jelas sosok pria yang baru saja memanggilnya dengan kasar. Tak
lain dan tak bukan adalah seorang polisi bertubuh tegap, dengan postur tubuh
sedang, dan kumis tebal menghiasi kulit antara hidung dan bibirnya. Ah, ia tak
peduli lagi dengan polisi itu. Kini yang ada di pikirannya adalah siapa yang
mendadak menjenguknya. Ibunya, adalah hal yang mustahil untuk kemari dengan
keadaan tidak stabil. Mungkin, ketiga sahabatnya—Airi, Chisa, Mai. Ya. hanya
mereka yang mungkin dalam keadaan seperti sekarang ini peduli dan mampu datang
meski hanya untuk sekedar berkunjung. Namun, kenapa baru sekarang?
Sementara pikiran dan batin Maimi tengah
bergelut hebat di dalam sana, akhirnya kedua kakinya sampai di sebuah ruangan
khusus. Ruangan tanpa celah kecuali satu pintu besi yang hanya sesekali terbuka
saat seseorang berkunjung ke sana. Maimi tertegun melihat sosok pemuda di
hadapannya. Bukan orang yang istimewa memang, hanya seorang siswa yang baru
dikenalnya sembilan hari yang lalu, Inoo Kei.
“Yajima-san, apa kabar?” sapa Kei
lembut.
“Kurasa kau bisa melihatnya,” jawab Maimi,
suaranya serak setelah sembilan hari lamanya tak berbicara dan hanya terus
menangis. Kei mampu melihat jelas betapa menyedihkannya penampilan seorang
Yajima Maimi saat ini. Ia cukup berbeda sejak sembilan hari silam. Kedua
kantung mata yang membengkak hebat, membuktikan seberapa lama ia mempertahankan
dirinya terjaga dan terus menangis. Pakaiannya kumal dan noda-noda debu menutup
paras cantiknya, hanya ada segaris vertikal di bawah matanya yang bersih dari
debu, terhapus air matanya. Dan dapat dilihat betapa kurusnya Yajima Maimi,
entah apa yang dimakannya belakangan ini. Mungkin sesuatu yang amat tak layak,
atau bahkan ia tak makan apapun, tak ada yang tahu dan Kei hanya mencoba
menerka dalam hati. Dan entah kenapa, keadaan gadis itu yang seperti ini
membuat batinnya teriris.
“Kau tidak bersalah, bukan?” tanya Kei.
Pertanyaan ini sukses membuat Maimi tertawa miris, suaranya yang serak membuat
irama tawanya benar-benar tak beraturan. “Kalau itu memang benar, lalu aku bisa
apa?” tak menjawab, Maimi justru memberikan pertanyaan lain pada Kei.
“Gomen ne…” ucap Kei, terdengar
samar namun telinga Maimi menangkapnya cukup jelas. Air muka pemuda itu tampak
melunak lebih jauh dari sebelumnya. Maimi hanya menautkan alisnya tidak paham.
Kenapa ia malah meminta maaf?
“Gomen…” sekali lagi hanya kata itu
yang terlontar dari bibir Kei. Wajahnya tertunduk pasrah, menatap meja yang
membentuk jarak antara dirinya dengan gadis di hadapannya.
“Apa maksudmu?” tanya Maimi, ia merasa
butuh penjelasan lebih rinci atas sikap pemuda itu barusan.
“Mungkin kau tidak akan percaya, tapi aku
yang membuat Nakajima Saki meninggal…” jawab Kei sekenanya. Maimi semakin dalam
menatap pemuda di hadapannya. Penasaran, ia kembali melontarkan tanggapan
berakar pertanyaan, “Aku tidak mengerti…”
“Aku melukis dan percaya atau tidak aku
melihat masa depan dari dalam sana…” kali ini Maimi tertegun mendengarnya.
Kalimat itu terdengar seperti lelucon, tapi kelihatannya itu bukanlah sebuah
candaan.
“Kalau begitu bebaskan aku dengan
lukisanmu,” entah apa yang telah merasuki diri Maimi hingga ia melontarkan
kalimat itu. Kei menatap gadis di hadapannya dalam-dalam, mencoba menyelami
pernyataan Maimi. “Bukankah kau melihat masa depan di sana? Kalau begitu buat
masa depan yang bagus untukku…”
“Aku tidak bisa,” tolak Kei.
“Kenapa?”
“Karena dia bekerja tanpa perintahku…”
“Siapa?”
“Tanganku. Dia melukis masa depan dengan
kehendaknya sendiri. Jadi, aku tidak bisa.”
**
Maimi duduk menyudut tepat di belakang
jeruji besi yang menjadi sandarannya saat ini. Kalimat pria bernama Inoo Kei itu
terus terngiang dalam indra pendengarannya. Rasanya ia hampir gila dipaksa
percaya pada hal-hal berbau magis yang sama sekali tidak sejalan dengan logikanya.
Seorang calon dokter mana mungkin percaya begitu saja pada hal-hal di luar nalar
seperti itu?
“Mungkin
kau tidak akan percaya, tapi aku yang membuat Nakajima Saki meninggal…”
‘Tapi, kalau itu benar kenapa ia
mengatakannya padaku? Atau karena alasannya itu tidak logis, sehingga sekalipun
aku menuntutnya pada akhirnya tetap aku yang kalah? Inoo Kei… Apa yang ia
inginkan sebenarnya?’
Pikiran dan batin Maimi kembali bergelut.
Entah siapa yang akan memenangkan pergelutan itu. Apakah ia akan tetap teguh
pada logika atau mencoba percaya pada hal-hal di luar nalar itu, siapa yang
tahu? Yang pasti saat ini kehadiran Kei dalam hidupnya membuat dirinya jatuh
dalam kerisauan yang dalam secara mendadak. Ia juga tidak mengerti mengapa ia
merisaukan ini dan itu, ia hanya tahu bahwa ini benar-benar membuat pikirannya
semakin kacau.
“Aaaaargghhh..!”
.Collapse. . .
.to be continue…
bagus!
BalasHapuskasihan maimi nya, Inoo juga...
ini semua salah tangannya Inoo! *plak, digampar tgnnya(?)
Gak bisa ngomong apa2 lagi selain Lanjut! xD
aku baru baca Collapse (I-IV)
BalasHapuskeren~ ^^
Tapi, klo cuma nglukis orang ajj jadi bencana iaa?
jangan2 klo Kei nglukis pemandangan juga jadi bencana >,< #ditampar author
Oia, pgn liat cover nya dong ^^d
Un, dou ita.. ^^ ditunggu kelanjutannya. penasaran.. apa Kei ntar nya gmbar dirinya sndiri biar semuanya beres #eh? makin digampar author >,<
Hapusoke...~