Title :
Come Back . . .
Author :
dita-cHun
Type :
Multichapter
Part :
6
Rating :
PG-15
Genre :
Romance
Music :
Beat Line by Hey! Say! JUMP
Cast :
Kanazawa Yuuri (OC)
Mizuhara Karin (OC)
Yamada Ryosuke
Chinen Yuuri
Arioka Daiki
Disclaimer : Seluruh tokoh milik Tuhan, kecuali
plot adalah milik saya XD, no bashing. Mau bash? Silahkan, saya tidak peduli
bash-bash-an macam apapun
Warning : Gaje binti abal ~segala kekurangan adalah
milik saya~
Note : Chapter kali ini akan sangat pendek
DX ! Saya ngerjainnya nglindur abis! Selain terserang WB, saya juga lagi
terserang wabah ero gara-gara ngeliat piku Yama yang gak bisa buat dijelaskan
blak-blakan disini xD alhasil, di sini saya mulai ero deh~ *digampar*
Tuh, liat, ratingnya nambah jadi PG-15 T___T hiksu~ ero~ ero~ *dansu
supa derikato (?)*
Summary : Setelah putus dari Yuuri, Chinen mencoba
menjaga jarak dengannya. Ia mencoba mencari kesibukan lain yang dapat
mengalihkan perhatiannya dari Yuuri. Sementara Karin sedang gelisah memikirkan
masalah lain, Daiki mencoba menghiburnya sedikit. Yuuri yang mulai membuka hati
kembali untuk Yamada mulai merasakan sesuatu yang ganjil terjadi pada Ryosuke.
Tapi, apa itu? *summary-nya jelek banget* xD
“Eh?”
aku meraih sebuah kotak yang tak begitu asing. Berusaha mengingat-ingat,
kutimang-timang kotak itu sejenak. Sepertinya aku pernah menjumpainya di suatu
tempat. Hmm…
“Eh?
I-ini, kan—Apakah—?”
“Yuuri-chan?”
aku menoleh begitu kudengar sebuah suara memanggil namaku. Kulihat Yamada berdiri
tak jauh dari tempatku. Sejenak aku terdiam, kemudian aku segera menyapanya.
“Ryo-chan, kenapa kau kesini?”
“Kau
terlalu lama. Ah, vitaminku!” Yamada meraih kotak di genggamanku sembari
tersenyum. “Eh? Vita…min?”
“Un,
kau tidak tahu? Mereka bilang daya tahan tubuhku lemah, makanya aku harus rutin
minum vitamin ini.” Ucapnya sembari menimang-nimang kotak itu. “Ikou
(ayo),” Yamada merangkul pundakku sembari menuntunku ke ruang tamu. Aku hanya
mengikutinya.
“Ryo-chan,
apa kau sering sakit kepala?” tanyaku menyelidik. Aku masih tidak percaya bahwa
Yamada mengatakan obat itu sebagai vitamin. Ini benar-benar aneh, untuk apa
menggunakan obat keras sebagai vitamin?
“Un,
nande?” jawab Yamada singkat.
“Iie,
nandemonai, (nothing)” jawabku singkat.
“Yuuri-chan…”
tiba-tiba Yamada menggenggam kedua tanganku. “…Kalau ada sesuatu yang ingin kau
katakan, aku akan mendengarnya.”
“Un,”
aku mengangguk sembari mengukir segaris senyum. “Boleh aku tinggal lebih lama?
Sampai Mizu-chan datang? Ada yang ingin kutanyakan padanya…”
“Tentu,”
jawab Yamada kemudian.
Sebenarnya
aku tidak ingin menarik kesimpulan lebih awal. Tapi, entah kenapa jantungku
berdebar lebih banyak dari biasanya. Aku benar-benar cemas kalau-kalau apa yang
kupikirkan ini ternyata benar. Yamada mengidap penyakit itu? Apa benar dugaanku
ini?
©©©©©© Mizuhara’s POV ©©©©©©
“Mizu-chan, doushita no?”
suara pria di sampingku sukses mengejutkanku dari lamunan. Aku menoleh padanya,
mengukir segaris senyum. Aku ingin meyakinkannya kalau aku baik-baik saja.
Meskipun sebenarnya tidak begitu.
“Daijoubu (tidak apa),” jawabku.
Tiba-tiba
ia bangkit dari kursinya, berpindah ke
hadapanku. Ia berjongkok sedikit sampai posisi kami sama tinggi. Digenggamnya
sandaran bangku di sisi kanan dan kiriku, mengunci posisi dan pandanganku
seketika.
“Nani?
(what?)” tanyaku, menatap kedua bola mata onyx itu dalam-dalam.
Kali
ini senyumnya mengembang meskipun samar-samar, “Aishiteru yo.”
Didekatkan wajahnya padaku perlahan. Sedekat ini aku mampu merasakan
karbondioksida yang berhembus keluar dari hidungnya yang hampir menempel pada
hidungku. Meski samar, aku mendengar alunan detak jantungnya yang terasa
menenangkan hatiku. Mataku sudah kututup rapat sejak tadi, tapi aku masih
terjaga.
Cup!
Kurasakan
sesuatu yang lembut menyentuh pipi kiriku. Ini memang sudah kesekian kalinya
Dai-chan menciumku. Tapi, ciumannya kali ini terasa lebih lembut dan
nyaman dari sebelumnya.
Aku
mulai membuka kedua mataku begitu kurasakan angin musim gugur membelai wajahku.
Ruang di antara kami sudah melonggar. Dai-chan baru saja melepaskan
ciumannya dariku.
“Ne,
sampai sekarang kau hanya berani mencium pipiku ya?” aku terkikik geli
menyadari wajah Dai-chan yang sudah memerah. Padahal, ia hanya mencium
pipiku.
“Hei,
untuk melakukannya tidak mudah tahu!” protesnya dengan gaya khas seorang Arioka
Daiki. Sikap dan sifatnya itu benar-benar kocak. Tapi, itulah yang unik
darinya.
“Hihihi,
Dai-chan, aishiteru mo.”
©©©©©© Chinen’s POV ©©©©©©
“Gomen
kudasai… (permisi)” salamku dengan volume cukup keras di depan sebuah rumah
mewah yang tidak asing lagi bagiku. Rumah kediaman keluarga Mizuhara.
Tak
berselang lama setelah salamku barusan kulihat seorang gadis keluar dari dalam
rumah. Gadis itu tampak familiar bagiku. Ya, tentu saja. Aku sangat
mengenalinya. Kanazawa Yuuri, mantan kekasihku.
“Yuuri-chan,
konnichiwa,” sapaku sebiasa mungkin.
“Chii…”
suara itu pelan, namun terdengar cukup jelas pada indra pendengaranku. Suara
itu belum benar-benar luput dari ingatanku, tepatnya sama sekali belum pernah
luput dari ingatanku. Suara lembut yang setiap hari masih sangat kurindukan.
Kurasakan
jantungku berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Dulu suara itu begitu ramah
menyambutku. Dulu suara itu juga yang selalu membuatku tenang, lepas dari rasa
khawatir. Tapi, itu semua masa lalu. Sesuatu yang sudah berlalu dan tidak bisa
kuharapkan untuk kembali lagi saat ini. Kami sudah berbeda. Jarak kami juga
harus sedikit lebih longgar, karena ini yang terbaik. Ah, bukan… Tepatnya, yang
lebih baik bagi Yuuri.
“Ada
apa?” suara itu kembali menelusup ke dalam telingaku.
“E…
Tidak. Aku ingin menemui Mizu-chan. Makanya, aku kemari…” jawabku agak
gugup.
“Mizu-chan
belum pulang. Kau bisa menunggunya kalau kau mau,” ucap Yuuri membuka pintu
gerbang yang sempat memisahkan kami. Aku mengangguk paham kemudian mengekor
Yuuri yang melangkah lebih dalam ke dalam rumah.
“Bagaimana
rasanya?” celetukku usai kami sampai di ruang tamu. Yuuri tampak mengernyit,
kelihatannya ia tidak paham. “…Kembali ke masa lalu?” sambungku mencoba
memberikan detil pertanyaanku barusan.
“Agak
aneh, tapi cukup menyenangkan.”
Aku
mengangguk paham, “Selamat, ya.”
“Eh?”
“Ne,
meskipun kau sekarang bersama Yamada… Kita masih tetap teman, kan?” tanyaku
sembari mengukir segaris senyum tipis. Ia membalas senyumku lebih ramah, “…Ya.”
. “Tapi,
jangan pernah lupakan bahwa kau pernah mencintai Yuuri-chan.”
Ucapan
Mizuhara kembali terngiang jelas di telingaku. Apa maksudnya itu? Aku sama
sekali tidak mengerti maksud dari kalimat itu. Jangan melupakan… Tapi, kenapa?
“Ah,
Yuuri-chan, ngomong-ngomong… Aku tidak melihat Yamada, dia di mana?” tanyaku
mencoba bangun dari lamunanku. Kuedarkan pandanganku sekilas ke sekeliling. Tak
kujumpai sosok Yamada sejak tadi.
“Dia
baru saja tidur di kamarnya,” jawab Yuuri.
“Souka…”
rasanya aku kehabisan pertanyaan. Entah aku harus membuka topik apalagi setelah
ini. Yuuri juga tampaknya tidak akan merespon bahkan bertanya banyak. Karena
lingkup kami sudah berbeda, maka kami juga harus membuka topik yang berbeda.
Tidak seperti dulu… Saat kami bisa membicarakan semua hal secara blak-blakan.
.Come Back. . .
.To be continued~
Aaargh sumpah sesak napas baca ini *PLAK
BalasHapuslain kali jgn setengah2 ne 'itu'nya!! #diinjak author xD <~an tanpa disadari siapapun, sepertinya virus ero sudah mulai menulari author dr komentar ini DESH
demo, kenapa chii nyariin ane?
wah tanda2 angst mulai tercium nih
Uwah... Ingat... xD*?
BalasHapusRyo sakit apa yah? o.O
Ah..!! Untung cuman pipi... >o<*geplakk
Un.. Chii, balik sama Yuuri gak yah...? o.O
Chapt ini ga pendek-pendek amat kok, Ci! =D
Agak panjang.... ^^!
Ne, Aku penasaran nih, sama Next chaptnya.. xD
Sangkyu udah Tag namenya... =D
Ditunggu lanjutannya~! xD>v<
Ganbatte yo~ xD
_Anna