Sabtu, 09 Juni 2012

Refraction World [Part II]


Title                    : Refraction World

Author               : dita-cHun © 2011

Type                    : Multichapter

Part                     : 2

Genre                 : Fantasy, Friendship

Rating                 : G [General, All Age]

Theme Song       : Hey! Say! JUMP – Hurry Up!

Cast :

*Quinn
*Klorofa
*Linn
*Frea
*Zight
*Glee
*Chase
*Jimbledon
*Swon

Language            : Indonesian

Disclaimer         : All character belong to me. This story is from my own feeling. So, enjoy! ^^

Warning             : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya











   “Mungkin akan lebih jelas jika aku masuk!” gumam Quinn. Ia menyusupkan tubuh mungilnya ke dalam lubang tersebut. Ia merasa kakinya tak lagi menapak pada ubin, tapi sesuatu yang lunak. Ia sendiri masih sangat bingung dengan keadaannya saat ini. Ia menoleh ke belakang, berharap menemukan kamarnya disana. Namun, tak ada apapun. Kosong. Tak terlihat sesuatu apapun sampai seberkas cahaya muncul dan menyilaukan matanya.

   “Sssshh….!!!” terdengar suara seperti air mengalir. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Tak ada air terjun atau apapun. Hanyalah ruangan putih kosong. Kini kepalanya menunduk. Melihat objek di bawahnya. Seketika ia terjingkat dari tempatnya begitu menyadari apa yang sejak tadi menjadi penopang kakinya.

   “Ular!!!” teriak Quinn sambil mencoba berlari. Namun ular itu melingkarkan tubuhnya pada tubuh Quinn.

   “Hallo!!” ucap ular itu terdengar ramah dari nada suaranya. Ular itu menggoyang-goyangkan tubuhnya sebagai tanda salam pada Quinn.

   “Hallo, Quinn. Maaf, mengagetkanmu. Aku Chase!” Chase memperkenalkan dirinya pada Quinn. Perlahan tapi pasti sisik itu menghilang dari tubuhnya. Kini, yang ada di hadapan Quinn bukanlah ular  tapi seorang anak laki-laki seusianya yang mengenakan pakaian renang.

   “Ha? Kyaaaa!!!” teriak Quinn lagi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

   “Eits, maaf! Sepertinya aku salah kostum! Tunggu sebentar ya!” ucap Chase yang menyadari kesalahan kostum yang dikenakannya.

   “Prince stylius!” Chase mengucapkan sebuah mantra aneh yang mengubah pakaiannya. Kini pakaian  Chase sudah berganti menjadi pakaian ala pangeran.

   “Dasar aneh!” Quinn kembali membuka matanya.

   “Aneh? Oh, no, no, no! Ini adalah prince style! It’s cool!” seru Chase sambil meliukkan tubuhnya bak sedang berjalan di atas catwalk.

   “Aih, sudahlah! Sekarang kita ada dimana?” tanya Quinn.

   “Kau ini bagaimana, sih,  Quinn? Bukannya kau ingin pergi ke refraction world? Inilah refraction world!” jawab Chase.

   “Jauh berbeda dengan yang kubayangkan!” seru Quinn.

   “Tak ada apapun disini. Tak ada perabotan atau apapun seperti di ‘Alice in Wonderland’! Apa bagusnya dunia seperti ini?” gerutu Quinn.

   “Kau hanya melihat salah satu dari ribuan bagian refraction world! Ini adalah gerbang masuk refraction word!” ucap Chase.

   “Gerbang? Tempat ini membuatku tersesat. Semuanya putih dan menyilaukan!” ucap Quinn sambil berjalan mengikuti Chase. Tiba-tiba Sederet ular nampak di pandangan mereka. Quinn langsung terjingkat dan bersembunyi di balik tubuh Chase.

   “Hai, rakyatku! Kita kedatangan tamu istimewa! Quinn!” seru Chase memperkenalkan Quinn dihadapan semua ular-ular berbisa itu.

   “Kau…” kalimat Quinn menggantung.

   “Aku adalah pangeran! Hohoho!!” Chase tertawa persis seperti Santa Claus. Seketika seluruh ular tunduk pada mereka.

   “Silahkan  masuk ke istanaku!” ucap Chase. Tiba-tiba ruangan serba putih itu menghilang, bagaikan roll kamera yang bergeser berganti dunia baru yang sangat berwarna. Ada banyak anak-anak disana. Sesekali mereka berubah menjadi binatang atau perabotan rumah.

   “Hai, Quort!” sapa Chase pada sebatang sapu yang memiliki kepala manusia dan tangan. Nampak seperti manusia yang sedang menari. Pemandangan aneh itu membuat Quinn tersenyum.

   “Inilah dunia yang kuimpikan!” seru Quinn.

   “Whoaaa…. Awass…. Licin!!!” seru seekor tikus yang membawa kain pel dan mengepel lantai seperti sedang naik scooter. BRUKH!! Quinn dan tikus itu bertabrakan. Tinggi tikus itu jauh lebih besar dari bayangan Quinn.

   “Kau baik-baik saja?” Quinn berusaha membantu tikus itu bangkit.

   “Oh, maafkan aku,” ucap tikus itu.

   “Dia adalah Glee, pelayan di kerajaan ini. Setiap hari kerjanya mengepel lantai istana.” ucap Chase.

   “Pelayan? Apakah ada hal semacam ini juga di negeri ini?” tanya Quinn.

   “Kami meniru gaya manusia dari real world… Dunia mu berasal. They are so cool!” ucap Chase sambil menjentikkan kedua jarinya. Perlahan-lahan, tikus bernama Glee itu berubah. Tubuhnya berubah menjadi manusia. Seperti seorang pangeran tampan. Hanya saja pakaiannya sedikit lebih sederhana dibanding pakaian mewah milik Chase.

   “Keren! Bagaimana kalian bisa berubah-ubah seperti itu?” tanya Quinn penasaran. Tiba-tiba mereka berdua diam.

   “Eh? Kalian kenapa? Bukankah yang kukatakan itu benar? Bisa berubah-ubah seperti itu bukannya sangat keren, ya?” ucap Quinn mencoba mencairkan suasana yang mulai membeku tersebut. Akhirnya, Glee dan Chase memahatkan sebuah senyum indah pada wajah mereka pada Quinn.

   “Selain bekerja sebagai pelayan disini, Glee juga sahabat terbaikku, Quinn.” ucap Chase.

   “Hm. Sudah terlihat jelas di mataku! Eh, ayo kita lihat pemandangan la…” kalimat Quinn terpotong karena tiba-tiba Chase dan Glee membungkam mulutnya.

   “Glee… Aku merasakan keberadaannya… Apa kau juga?” tanya Chase pada Glee. Glee mengangguk mantap pada Chase.

   “Diamlah. Sebentar lagi ada seseorang yang akan datang…” bisik Glee di telinga Quinn.

   “Siapa?” tanya Quinn penasaran.
Tiba-tiba istana menjadi sangat gaduh. Alarm istana berbunyi. Dimensi seolah-olah telah terdistorsi. Namun, mereka bertiga tetap terdiam di tempat mereka. Mereka hanya memperhatikan ke sekeliling yang begitu riuh dan sibuk sekali. Si sapu mempercepat gerakannya, kompor segera menyalakan api birunya untuk memasak masakan di atas panci yang menopang padanya. Serta hewan-hewan semua sangat sibuk.

   “Apa yang terjadi? Memangnya siapa yang datang?” tanya Quinn dalam hati sambil matanya terus menyelidik ke seluruh bagian ruangan. Terompet istana berbunyi amat nyaring di telinga. Sayup-sayup terdengar suara derap langkah kaki yang begitu banyak.

   “Kau ikut kami, jangan katakan apapun, ok?” ucap Chase. Quinn hanya diam masih terus menyelidik siapa gerangan yang akan tiba. Seluruh penghuni istana berbaris rapi, semuanya berubah bentuk menjadi manusia. Chase dan Glee menggandeng Quinn yang berada di tengah-tengah mereka. Mereka bertiga ikut berbaris rapi. Segerombolan manusia memasuki ruangan. Tiba-tiba pandangan Quinn tertuju pada seorang wanita di barisan tengah. Seorang wanita anggun dengan gaun berwarna old rose serta mahkota di atas kepalanya. Serentak seluruh penghuni istana membungkuk begitu wanita itu lewat. Wanita itu kini berada di depan Quinn.

   “Ma…ma?” ucap Quinn nyaris tak percaya dengan pandangannya. Wanita itu menghentikan langkahnya mendengar suara gadis kecil itu. Ia menolehkan pandangannya. Dilihatnya seksama gadis yang disangkanya memiliki nyali besar karena tidak membungkukkan tubuhnya sedikitpun walau mereka telah bertemu pandang. Tampak raut wajah cemas menghiasi wajah Chase dan Glee.

   “Siapa kau?” tanya wanita itu dingin dan dengan suara keras menggelegar.

   “Maaf, Ibunda Ratu. Dia adalah tamu negeri kita. Dia berasal dari dunia nyata,” ucap Chase angkat bicara pada wanita yang disebutnya Ratu tersebut.

   “Mama… Kau adalah Ratu, kah?” tanya Quinn dengan berani.

   “Mama?! Aku ini bukan Ibumu!” teriakan Sang Ratu menggema ke seluruh ruangan.

   “Ratu, saya selaku pangeran memohon maaf atas ketidaksopanannya. Kumohon maafkan dia,” ucap Chase memohon.

   “Hmh… Baiklah. Nak, siapa namamu?” Ratu kembali mengalihkan pandangannya pada Quinn.

   “Quinn. Namaku Quinn,” jawab Quinn.

   “Aku akan mengingatmu,” ucap Ratu sejenak sebelum ia berlalu dari hadapan Quinn. Chase dan Glee menghela nafas lega.

******

   “Sudah kubilang jangan katakan apapun, kan?” ucap Chase ketika mereka bertiga sedang duduk di sofa antik di kamar Chase. Quinn masih diam tak menanggapi kalimat Chase. Pandangannya sama sekali tak teralih dari aquarium dengan puluhan ikan berwarna emas di dalamnya. Matanya masih terus konsentrasi dengan objek di depannya itu.

   “Kenapa Mama bisa ada disini?” tanya Quinn.

   “Mama? Apa maksudmu?” tanya Chase tak mengerti.

   “Emm… Wanita yang kau sebut Ratu tadi,” jawab Quinn.

   “Oh, dia adalah Ibundaku. Ratu kerajaan ini. Ratu Linn,” ucap Chase.

   “Lalu kenapa kau menyebutnya ‘Mama’?” tanya Chase.

   “Di dunia nyata, dia adalah Ibuku. Aku memanggilnya Mama. Tapi, Mama yang kulihat disini tidak seperti Mamaku,” tampak nada kekecewaan dari bibir Quinn.

   “Ah, sudahlah. Ayo kita makan malam. Ratu pasti sudah menunggu kita,” ucap Chase sambil menarik tangan Quinn keluar dari kamar.

   “Glee?” Quinn mengalihkan pandangannya pada Glee yang masih terdiam. Glee yang tersadar segera menyahut.

   “Aku? Aku ini pelayan istana. Mana pantas aku…” belum tuntas kalimat Glee Quinn segera menyahut.

   “Aku tidak makan tanpa Glee,” ucap Quinn diselingi senyuman manis.

   “Sudahlah, Quinn. Ini aturan kerajaan. Sekarang adalah saatnya aku bekerja. Selamat makan,” Glee segera merubah dirinya kembali menjadi tikus. Quinn menatap Glee sedikit sayu.

   “Kami makan dulu ya, Glee,” ucap Chase lalu mengajak Quinn ke ruang makan. Quinn hanya menurut dan segera duduk di salah satu kursi disana. Ratu Linn, Chase, dan Quinn telah duduk di kursi mereka masing-masing.

   “Whoaa~ Maaf aku terlambat!” seorang gadis berwajah manis masuk ke ruang makan dengan menggunakan sepatu roda, satu inchi lagi dia tak mengerem, maka hancur sudah meja makan istana. Ia terkulai lemas di lantai, sejuta kelegaan membasahi perasaannya.

   “Nyaris!” ucap Chase tak kalah terkejutnya.

   “FREA!!!” bentak Ratu Linn beringas. Tampak gadis bernama Frea itu terjingkat karena terkejut.

   “Ampun Ibunda Ratu!! Saya tidak akan mengulanginya lagi!!” Frea segera berdiri dan membungkukkan tubuhnya menghadap Ratu Linn.

   “Kau sudah mengucapkannya sebanyak 28 kali sejak sepatu roda itu ada di kakimu! Pantaskah dirimu disebut sebagai seorang putri?!” bentak Ratu Linn pada Frea.

   “Ampun!!!” ucap Frea. Tiba-tiba Quinn berdiri dari kursinya dan menghampiri Frea.

   “Kau jahat sekali! Dia kan sudah minta maaf!” ucap Quinn menghadap Ratu Linn.

   “Eh, kau siapa? Imut sekali!!!” seketika Frea langsung mencubit pipi chubby Quinn begitu melihat gadis cilik itu.

   “Frea!!” bentak Ratu Linn. Frea melepaskan cubitannya sedangkan Quinn mengelus pipinya yang mulai perih dan memerah.

   “Gadis kecil, kau berani sekali melawanku! Kau pikir siapa dirimu?! Apa karena kau berasal dari real world kau bisa sombong dan menantangku seperti itu?!” pandangan Ratu Linn beralih pada Quinn yang masih meringis kesakitan.

   “Maafkan aku, Ratu! Tapi, aku tidak merasa diriku salah. Dan aku bukannya menyombongkan diri. Apa kau tidak memakai sistem demokrasi pada pemerintahanmu? Apa kau hanya memakai sistem pemerintahan sesuai keinginanmu sendiri? Apa itu bukannya egois? Lalu membentak anak kecil seperti itu bukannya tindak kejahatan (?) !” seru Quinn.

   “Kau…! Pengawal penjarakan gadis kecil bermulut tajam ini!! Tidak sopan!!” teriak Ratu Linn. Quinn yang terkejut dengan perlakuan Ratu Linn terus mengoceh saat seorang pengawal membawanya menuju penjara bawah tanah.

   “Awas kau Ratu jahat!! Dasar Ratu egois!! Tidak tahu diri (?)!! Tidak tahu malu (?)!! Tidak tahu apa-apa (?)!! Awas kau!!! Ukkkhhh!!!” Quinn terus berusaha memberontak.






.Refraction World


.to be continue. . .

1 komentar:

  1. Uwah....! >v<
    Tambah seru nih~ xD
    Quinn tipe anak yang tegas yah... ! =D

    Eh... Keren...Manusianya bisa jadi benda" lain... ><
    Pingin juga jadinya.. wkwk...

    YAtta... Semangat ne, Ci! Aku tunggu lanjutannya~
    Kerenn.... XD

    Sangkyu udah tag... =D

    -Anna

    BalasHapus