Title : Refraction World
Author : dita-cHun © 2011
Type : Multichapter
Part : 2
Genre : Fantasy, Friendship
Rating : G [General, All Age]
Theme Song : Hey! Say! JUMP – Hurry Up!
Cast :
*Quinn
*Klorofa
*Linn
*Frea
*Zight
*Glee
*Chase
*Jimbledon
*Swon
Language : Indonesian
Disclaimer : All character belong to me. This
story is from my own feeling. So, enjoy! ^^
Warning : ~gaje binti abal~ segala
kekurangan adalah punya saya
“Mungkin akan lebih jelas jika aku masuk!”
gumam Quinn. Ia menyusupkan tubuh mungilnya ke dalam lubang tersebut. Ia merasa
kakinya tak lagi menapak pada ubin, tapi sesuatu yang lunak. Ia sendiri masih
sangat bingung dengan keadaannya saat ini. Ia menoleh ke belakang, berharap
menemukan kamarnya disana. Namun, tak ada apapun. Kosong. Tak terlihat sesuatu
apapun sampai seberkas cahaya muncul dan menyilaukan matanya.
“Sssshh….!!!” terdengar suara seperti air
mengalir. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Tak ada air terjun atau apapun.
Hanyalah ruangan putih kosong. Kini kepalanya menunduk. Melihat objek di
bawahnya. Seketika ia terjingkat dari tempatnya begitu menyadari apa yang sejak
tadi menjadi penopang kakinya.
“Ular!!!” teriak Quinn sambil mencoba
berlari. Namun ular itu melingkarkan tubuhnya pada tubuh Quinn.
“Hallo!!” ucap ular itu terdengar ramah dari
nada suaranya. Ular itu menggoyang-goyangkan tubuhnya sebagai tanda salam pada
Quinn.
“Hallo, Quinn. Maaf, mengagetkanmu. Aku Chase!”
Chase memperkenalkan dirinya pada Quinn. Perlahan tapi pasti sisik itu
menghilang dari tubuhnya. Kini, yang ada di hadapan Quinn bukanlah ular tapi seorang anak laki-laki seusianya yang
mengenakan pakaian renang.
“Ha? Kyaaaa!!!” teriak Quinn lagi sambil
menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Eits, maaf! Sepertinya aku salah kostum!
Tunggu sebentar ya!” ucap Chase yang menyadari kesalahan kostum yang
dikenakannya.
“Prince stylius!” Chase mengucapkan sebuah
mantra aneh yang mengubah pakaiannya. Kini pakaian Chase sudah berganti menjadi pakaian ala
pangeran.
“Dasar aneh!” Quinn kembali membuka matanya.
“Aneh? Oh, no, no, no! Ini adalah prince
style! It’s cool!” seru Chase sambil meliukkan tubuhnya bak sedang berjalan di
atas catwalk.
“Aih, sudahlah! Sekarang kita ada dimana?”
tanya Quinn.
“Kau ini bagaimana, sih, Quinn? Bukannya kau ingin pergi ke refraction
world? Inilah refraction world!” jawab Chase.
“Jauh berbeda dengan yang kubayangkan!” seru
Quinn.
“Tak ada apapun disini. Tak ada perabotan
atau apapun seperti di ‘Alice in Wonderland’! Apa bagusnya dunia seperti ini?”
gerutu Quinn.
“Kau hanya melihat salah satu dari ribuan
bagian refraction world! Ini adalah gerbang masuk refraction word!” ucap Chase.
“Gerbang? Tempat ini membuatku tersesat.
Semuanya putih dan menyilaukan!” ucap Quinn sambil berjalan mengikuti Chase.
Tiba-tiba Sederet ular nampak di pandangan mereka. Quinn langsung terjingkat
dan bersembunyi di balik tubuh Chase.
“Hai, rakyatku! Kita kedatangan tamu
istimewa! Quinn!” seru Chase memperkenalkan Quinn dihadapan semua ular-ular
berbisa itu.
“Kau…” kalimat Quinn menggantung.
“Aku adalah pangeran! Hohoho!!” Chase tertawa
persis seperti Santa Claus. Seketika seluruh ular tunduk pada mereka.
“Silahkan
masuk ke istanaku!” ucap Chase. Tiba-tiba ruangan serba putih itu
menghilang, bagaikan roll kamera yang bergeser berganti dunia baru yang sangat
berwarna. Ada banyak anak-anak disana. Sesekali mereka berubah menjadi binatang
atau perabotan rumah.
“Hai, Quort!” sapa Chase pada sebatang sapu
yang memiliki kepala manusia dan tangan. Nampak seperti manusia yang sedang
menari. Pemandangan aneh itu membuat Quinn tersenyum.
“Inilah dunia yang kuimpikan!” seru Quinn.
“Whoaaa…. Awass…. Licin!!!” seru seekor tikus
yang membawa kain pel dan mengepel lantai seperti sedang naik scooter. BRUKH!!
Quinn dan tikus itu bertabrakan. Tinggi tikus itu jauh lebih besar dari
bayangan Quinn.
“Kau baik-baik saja?” Quinn berusaha membantu
tikus itu bangkit.
“Oh, maafkan aku,” ucap tikus itu.
“Dia adalah Glee, pelayan di kerajaan ini.
Setiap hari kerjanya mengepel lantai istana.” ucap Chase.
“Pelayan? Apakah ada hal semacam ini juga di
negeri ini?” tanya Quinn.
“Kami meniru gaya manusia dari real world…
Dunia mu berasal. They are so cool!” ucap Chase sambil menjentikkan kedua jarinya.
Perlahan-lahan, tikus bernama Glee itu berubah. Tubuhnya berubah menjadi
manusia. Seperti seorang pangeran tampan. Hanya saja pakaiannya sedikit lebih
sederhana dibanding pakaian mewah milik Chase.
“Keren! Bagaimana kalian bisa berubah-ubah
seperti itu?” tanya Quinn penasaran. Tiba-tiba mereka berdua diam.
“Eh? Kalian kenapa? Bukankah yang kukatakan
itu benar? Bisa berubah-ubah seperti itu bukannya sangat keren, ya?” ucap Quinn
mencoba mencairkan suasana yang mulai membeku tersebut. Akhirnya, Glee dan
Chase memahatkan sebuah senyum indah pada wajah mereka pada Quinn.
“Selain bekerja sebagai pelayan disini, Glee
juga sahabat terbaikku, Quinn.” ucap Chase.
“Hm. Sudah terlihat jelas di mataku! Eh, ayo
kita lihat pemandangan la…” kalimat Quinn terpotong karena tiba-tiba Chase dan
Glee membungkam mulutnya.
“Glee… Aku merasakan keberadaannya… Apa kau
juga?” tanya Chase pada Glee. Glee mengangguk mantap pada Chase.
“Diamlah. Sebentar lagi ada seseorang yang
akan datang…” bisik Glee di telinga Quinn.
“Siapa?” tanya Quinn penasaran.
Tiba-tiba
istana menjadi sangat gaduh. Alarm istana berbunyi. Dimensi seolah-olah telah
terdistorsi. Namun, mereka bertiga tetap terdiam di tempat mereka. Mereka hanya
memperhatikan ke sekeliling yang begitu riuh dan sibuk sekali. Si sapu
mempercepat gerakannya, kompor segera menyalakan api birunya untuk memasak
masakan di atas panci yang menopang padanya. Serta hewan-hewan semua sangat
sibuk.
“Apa yang terjadi? Memangnya siapa yang
datang?” tanya Quinn dalam hati sambil matanya terus menyelidik ke seluruh
bagian ruangan. Terompet istana berbunyi amat nyaring di telinga. Sayup-sayup
terdengar suara derap langkah kaki yang begitu banyak.
“Kau ikut kami, jangan katakan apapun, ok?”
ucap Chase. Quinn hanya diam masih terus menyelidik siapa gerangan yang akan
tiba. Seluruh penghuni istana berbaris rapi, semuanya berubah bentuk menjadi
manusia. Chase dan Glee menggandeng Quinn yang berada di tengah-tengah mereka.
Mereka bertiga ikut berbaris rapi. Segerombolan manusia memasuki ruangan. Tiba-tiba
pandangan Quinn tertuju pada seorang wanita di barisan tengah. Seorang wanita
anggun dengan gaun berwarna old rose serta mahkota di atas kepalanya. Serentak
seluruh penghuni istana membungkuk begitu wanita itu lewat. Wanita itu kini
berada di depan Quinn.
“Ma…ma?” ucap Quinn nyaris tak percaya dengan
pandangannya. Wanita itu menghentikan langkahnya mendengar suara gadis kecil
itu. Ia menolehkan pandangannya. Dilihatnya seksama gadis yang disangkanya
memiliki nyali besar karena tidak membungkukkan tubuhnya sedikitpun walau
mereka telah bertemu pandang. Tampak raut wajah cemas menghiasi wajah Chase dan
Glee.
“Siapa kau?” tanya wanita itu dingin dan
dengan suara keras menggelegar.
“Maaf, Ibunda Ratu. Dia adalah tamu negeri
kita. Dia berasal dari dunia nyata,” ucap Chase angkat bicara pada wanita yang
disebutnya Ratu tersebut.
“Mama… Kau adalah Ratu, kah?” tanya Quinn
dengan berani.
“Mama?! Aku ini bukan Ibumu!” teriakan Sang
Ratu menggema ke seluruh ruangan.
“Ratu, saya selaku pangeran memohon maaf atas
ketidaksopanannya. Kumohon maafkan dia,” ucap Chase memohon.
“Hmh… Baiklah. Nak, siapa namamu?” Ratu
kembali mengalihkan pandangannya pada Quinn.
“Quinn. Namaku Quinn,” jawab Quinn.
“Aku akan mengingatmu,” ucap Ratu sejenak
sebelum ia berlalu dari hadapan Quinn. Chase dan Glee menghela nafas lega.
******
“Sudah kubilang jangan katakan apapun, kan?”
ucap Chase ketika mereka bertiga sedang duduk di sofa antik di kamar Chase.
Quinn masih diam tak menanggapi kalimat Chase. Pandangannya sama sekali tak
teralih dari aquarium dengan puluhan ikan berwarna emas di dalamnya. Matanya
masih terus konsentrasi dengan objek di depannya itu.
“Kenapa Mama bisa ada disini?” tanya Quinn.
“Mama? Apa maksudmu?” tanya Chase tak
mengerti.
“Emm… Wanita yang kau sebut Ratu tadi,” jawab
Quinn.
“Oh, dia adalah Ibundaku. Ratu kerajaan ini.
Ratu Linn,” ucap Chase.
“Lalu kenapa kau menyebutnya ‘Mama’?” tanya
Chase.
“Di dunia nyata, dia adalah Ibuku. Aku
memanggilnya Mama. Tapi, Mama yang kulihat disini tidak seperti Mamaku,” tampak
nada kekecewaan dari bibir Quinn.
“Ah, sudahlah. Ayo kita makan malam. Ratu
pasti sudah menunggu kita,” ucap Chase sambil menarik tangan Quinn keluar dari
kamar.
“Glee?” Quinn mengalihkan pandangannya pada
Glee yang masih terdiam. Glee yang tersadar segera menyahut.
“Aku? Aku ini pelayan istana. Mana pantas
aku…” belum tuntas kalimat Glee Quinn segera menyahut.
“Aku tidak makan tanpa Glee,” ucap Quinn
diselingi senyuman manis.
“Sudahlah, Quinn. Ini aturan kerajaan.
Sekarang adalah saatnya aku bekerja. Selamat makan,” Glee segera merubah
dirinya kembali menjadi tikus. Quinn menatap Glee sedikit sayu.
“Kami makan dulu ya, Glee,” ucap Chase lalu
mengajak Quinn ke ruang makan. Quinn hanya menurut dan segera duduk di salah
satu kursi disana. Ratu Linn, Chase, dan Quinn telah duduk di kursi mereka
masing-masing.
“Whoaa~ Maaf aku terlambat!” seorang gadis
berwajah manis masuk ke ruang makan dengan menggunakan sepatu roda, satu inchi
lagi dia tak mengerem, maka hancur sudah meja makan istana. Ia terkulai lemas
di lantai, sejuta kelegaan membasahi perasaannya.
“Nyaris!” ucap Chase tak kalah terkejutnya.
“FREA!!!” bentak Ratu Linn beringas. Tampak
gadis bernama Frea itu terjingkat karena terkejut.
“Ampun Ibunda Ratu!! Saya tidak akan
mengulanginya lagi!!” Frea segera berdiri dan membungkukkan tubuhnya menghadap
Ratu Linn.
“Kau sudah mengucapkannya sebanyak 28 kali
sejak sepatu roda itu ada di kakimu! Pantaskah dirimu disebut sebagai seorang
putri?!” bentak Ratu Linn pada Frea.
“Ampun!!!” ucap Frea. Tiba-tiba Quinn berdiri
dari kursinya dan menghampiri Frea.
“Kau jahat sekali! Dia kan sudah minta maaf!”
ucap Quinn menghadap Ratu Linn.
“Eh, kau siapa? Imut sekali!!!” seketika Frea
langsung mencubit pipi chubby Quinn begitu melihat gadis cilik itu.
“Frea!!” bentak Ratu Linn. Frea melepaskan
cubitannya sedangkan Quinn mengelus pipinya yang mulai perih dan memerah.
“Gadis kecil, kau berani sekali melawanku!
Kau pikir siapa dirimu?! Apa karena kau berasal dari real world kau bisa
sombong dan menantangku seperti itu?!” pandangan Ratu Linn beralih pada Quinn
yang masih meringis kesakitan.
“Maafkan aku, Ratu! Tapi, aku tidak merasa
diriku salah. Dan aku bukannya menyombongkan diri. Apa kau tidak memakai sistem
demokrasi pada pemerintahanmu? Apa kau hanya memakai sistem pemerintahan sesuai
keinginanmu sendiri? Apa itu bukannya egois? Lalu membentak anak kecil seperti
itu bukannya tindak kejahatan (?) !” seru Quinn.
“Kau…! Pengawal penjarakan gadis kecil
bermulut tajam ini!! Tidak sopan!!” teriak Ratu Linn. Quinn yang terkejut
dengan perlakuan Ratu Linn terus mengoceh saat seorang pengawal membawanya
menuju penjara bawah tanah.
“Awas kau Ratu jahat!! Dasar Ratu egois!! Tidak
tahu diri (?)!! Tidak tahu malu (?)!! Tidak tahu apa-apa (?)!! Awas kau!!!
Ukkkhhh!!!” Quinn terus berusaha memberontak.
.Refraction
World
.to
be continue. . .
Uwah....! >v<
BalasHapusTambah seru nih~ xD
Quinn tipe anak yang tegas yah... ! =D
Eh... Keren...Manusianya bisa jadi benda" lain... ><
Pingin juga jadinya.. wkwk...
YAtta... Semangat ne, Ci! Aku tunggu lanjutannya~
Kerenn.... XD
Sangkyu udah tag... =D
-Anna