Kamis, 07 Juni 2012

Refraction Wold [Part I]


Title                    : Refraction World

Author               : dita-cHun © 2011

Type                    : Multichapter

Part                     : 1

Genre                 : Fantasy, Friendship

Rating                 : G [General, All Age]

Theme Song       : Hey! Say! JUMP – Hurry Up!

Cast :

*Quinn
*Klorofa
*Linn
*Frea
*Zight
*Glee
*Chase
*Jimbledon
*Swon

Language            : Indonesian

Disclaimer         : All character belong to me. This story is from my own feeling. So, enjoy! ^^

Warning             : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya











   “Mama!! Aku mau ikut camping!” pinta Quinn pada Mamanya. Ia terus menggenggam lengan Mamanya dengan kuat sambil mengayun-ayunkannya.

   “Tidak, Quinn! Sekali Mama bilang tidak, tetap tidak! Jangan membuat pendirian Mama goyah, Quinn.” ucap Mama lalu melepaskan tangan kecil Quinn.

   “Mama jahat!!!” teriak Quinn sejenak sebelum ia berlari ke kamarnya. Ia menangis dan meraung-raung. Terus mengoceh tentang Mamanya yang tidak mengizinkannya ikut camping ke hutan. Jemari kecil lentik itu memainkan keypad yang ada di ponselnya. Ia mencoba mengirim pesan singkat pada sahabatnya, Frea.

   “Mama tetap kukuh dengan pendiriannya, Frea. Aku tidak diijinkan ikut camping. Maaf ya,” bunyi pesan itu. Sedetik setelah laporan pengiriman muncul, ia menghantamkan ponselnya ke ranjang. Gadis yang kini masih berusia 11 tahun dan duduk di bangku SD itu hanya bisa menangisi nasibnya yang harus tinggal dengan Mamanya setelah perceraian Mama dan Papanya dua tahun lalu. Kini kakinya melangkah ke arah perapian. Dia sendiri pun tak tahu apa yang diinginkan oleh tubuhnya. Yang pasti, ia ingin sekali ke perapian. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu menggelitik kakinya yang dibalut kaos kaki putih selutut itu.

   “Tikus!!!” teriaknya histeris melihat makhluk yang sedari tadi menggelitikinya tersebut. Bukannya ia takut dengan tikus itu, gadis itu malah mengejarnya sambil menggenggam sepatu baletnya di kedua tangannya. Ia hendak memukul tikus nakal itu.

   “Kemari kau tikus nakal! Aku ini sedang sedih, tahu! Kenapa kau malah menggangguku?! Tak akan kuberi ampun kau!” seru Quinn dengan semangat berkobar. Tikus itu terus berlari mengelilingi kamar Quinn yang cukup luas. Hingga akhirnya, tikus itu sampai di sudut ruangan.

   “Hahaha, kau mau kemana tikus nakal?!” ucap Quinn hendak memukul tikus itu. Namun sayang sekali, kakinya terantuk kaki kursi yang menyebabkannya menabrak dinding bercat old rose itu. Tapi, dinding itu tidak melukai Quinn. Justru dinding itu seperti bertekstur lunak. Quinn yang kini terduduk di lantai mengamati dinding itu dengan serius. Matanya melacak tiap inchi dinding.

   “Ada apa di balik sana?” tanya Quinn dalam hati. Ia meraih sepatu violet di samping dinding dan mengenakannya pada kaki mulusnya. Dia kukuhkan tubuh mungilnya. Jemari-jemari lentiknya menjelajahi kulit dinding. Terasa geli sejenak, tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang ganjil pada dinding itu.

   “Gadis manis, kau ingin masuk kesana?” sebuah suara mengagetkan Quinn.

   “Kyaa!!” ia menjauh dari dinding tersebut beberapa langkah. Perlahan tapi pasti ada sesuatu yang timbul dari dinding tersebut. Wajah manusia. Namun seluruh tubuhnya berwarna old rose seperti warna dinding tersebut.

   “Si… Siapa kau?” Quinn memberanikan diri bertanya meski tergagap.

   “Aku? Hahaha. Kau menanyakan siapa aku?” terdengar suara orang tersebut melengking diselingi tawanya yang aneh.

   “Hmh… Aku adalah Klorofa,” lanjutnya.

   “Klorofa? Seperti unsur pada daun. Klorofa, klorofil… Tapi, tubuhmu tidak hijau. Apa yang kau inginkan?” tanya Quinn lagi.

   “Aku? Tidak ada yang kuinginkan. Yang bisa memiliki keinginan, hanyalah anak-anak yang masih suci sepertimu. Hanya, jika itu menjadi nyata, akankah kau bisa mempertahankannya? Hahaha.” tawanya makin menjadi-jadi.

   “Kau tinggal di dinding?” tanya Quinn dengan polosnya.

   “Eh? Hm. Aku tinggal di dinding ini selama puluhan tahun. Jika musim panas, di sini panas. Jika musim dingin, di sini juga dingin. Yah, sama sajalah sepertimu. Tapi, ada satu bagian dari tempat ini. Yang tak akan pernah kau duga sebelumnya. Magic! Hahaha.” ucap Klorofa. Quinn mulai melangkahkan kakinya mendekati dinding tempat Klorofa menempel.

   “Bagian yang tak pernah kuduga? Apa itu indah?” mata Quinn berbinar.

   “Mungkin saja!” Klorofa mengangguk.

   “Apa lebih indah dari camping di hutan bersama teman-teman?” tanya Quinn lagi.

   “Tentu. Dan di dalam sini… Semua tak bisa selalu sesuai dengan terkaanmu. No real world. Tapi, Refraction World!! Hahaha.” ucap Klorofa yang membuat Quinn semakin penasaran. Bayangan keindahan dunia di balik dinding itu merasuk ke dalam pikiran Quinn. Mengkonstruksikan alam bawah sadarnya sesuai dengan pikirannya.

   “Aku ingin kesana!” seru Quinn. Ia bergegas mendekati Klorofa lebih dekat. Klorofa membentangkan tangannya.

   “Eits! Tapi, ada satu hal yang harus kau ingat gadis manis!” sergah Klorofa.

   “Apa kau seperti Ibu Peri dalam dongeng Cinderella? Apa kau akan mengatakan, ‘keajaiban akan berakhir pukul 12 tepat’. Apakah begitu?” ucap Quinn.

   “Bukan. Sudah kubilang di dalam sini bukan seperti yang kau pikirkan. Saat kau masuk kesana, maka kau tidak akan pernah bisa keluar,” ucap Klorofa yang membuat Quinn tercengang.

   “Apa?”

   “Ya. Kecuali kau menemukan kunci pintu keluar dunia ini.” ucap Klorofa penuh makna. Namun, si kecil Quinn yang tak mengerti malah semakin bingung.

   “Ya, ya, terserah. Aku akan menemukannya! Aku pasti akan menemukan kunci itu. Lagipula aku hanya perlu mengingat letak dinding kamar ini saja, aku sudah kembali kesini!” ucap Quinn. Klorofa tersenyum.

   “Tidak semudah yang kau pikirkan, Nak.” ucap Klorofa lalu ia kembali menyusup ke dalam dinding itu.

   “Hm? Klorofa! Hei! Klorofa! Bagaimana caraku masuk kalau kau menghilang?!” teriak Quinn memanggil teman semunya tersebut. Tangannya kembali meraba dinding. Dirasanya ada sesuatu yang kembali timbul. Ia pikir itu Klorofa. Namun, memang tak seperti yang dipikirkannya.

   “Bel?” gumam Quinn begitu melihat sebuah bel di depan matanya. Tanpa ragu Quinn menekan bel tersebut.

   “Sebutkan namamu untuk memasuki Refraction World!” ucap sebuah suara dari bel tersebut.

   “Quinn!” seru Quinn mantap. Bel itu menghilang. Tiba-tiba dinding retak, seluruh rumah bergetar hebat. Kedua tangan Quinn menyusup masuk melalui celah retak tersebut. Menggeser dinding bertekstur lunak tersebut. Lubang itu semakin menganga lebar. Gelap. Tak tampak apapun dari luar.

   “Mungkin akan lebih jelas jika aku masuk!” gumam Quinn.






.Refraction World



.to be continue~

3 komentar:

  1. Uwah~! ><
    Keren... =3
    Fantasi nih, fantasi~ ^^
    xD

    Klorofa itu bener-bener kata lain dari klorofil, Ci? o.O

    Wah~ Lanjut yah~ xD
    Penasaran nih! x3
    Oh iya, mau bilang, =3
    Kalau beberapa percakapan itu dikahiri dengan koma.. =D
    Mis:
    “Tidak, Quinn! Sekali Mama bilang tidak, tetap tidak! Jangan membuat pendirian Mama goyah, Quinn,” ucap Mama lalu melepaskan tangan kecil Quinn.
    =3
    Lain lagi kalau:
    “Mama!! Aku mau ikut camping!” pinta Quinn pada Mamanya.
    =D

    Itu aja~ Selebihnya... Keren~~ ^^ ><

    sangkYu udah tag... ^^

    Ganbatte ne~ xD
    -Anna

    BalasHapus