Title : Refraction World
Author : dita-cHun © 2011
Type : Multichapter
Part : 1
Genre : Fantasy, Friendship
Rating : G [General, All Age]
Theme Song : Hey! Say! JUMP – Hurry Up!
Cast :
*Quinn
*Klorofa
*Linn
*Frea
*Zight
*Glee
*Chase
*Jimbledon
*Swon
Language : Indonesian
Disclaimer : All character belong to me. This
story is from my own feeling. So, enjoy! ^^
Warning : ~gaje binti abal~ segala
kekurangan adalah punya saya
“Mama!! Aku mau ikut camping!” pinta
Quinn pada Mamanya. Ia terus menggenggam lengan Mamanya dengan kuat sambil
mengayun-ayunkannya.
“Tidak, Quinn! Sekali Mama bilang tidak,
tetap tidak! Jangan membuat pendirian Mama goyah, Quinn.” ucap Mama lalu
melepaskan tangan kecil Quinn.
“Mama jahat!!!” teriak Quinn sejenak sebelum
ia berlari ke kamarnya. Ia menangis dan meraung-raung. Terus mengoceh tentang
Mamanya yang tidak mengizinkannya ikut camping ke hutan. Jemari kecil lentik
itu memainkan keypad yang ada di ponselnya. Ia mencoba mengirim pesan singkat
pada sahabatnya, Frea.
“Mama tetap kukuh dengan pendiriannya, Frea.
Aku tidak diijinkan ikut camping. Maaf ya,” bunyi pesan itu. Sedetik setelah
laporan pengiriman muncul, ia menghantamkan ponselnya ke ranjang. Gadis yang
kini masih berusia 11 tahun dan duduk di bangku SD itu hanya bisa menangisi
nasibnya yang harus tinggal dengan Mamanya setelah perceraian Mama dan Papanya
dua tahun lalu. Kini kakinya melangkah ke arah perapian. Dia sendiri pun tak
tahu apa yang diinginkan oleh tubuhnya. Yang pasti, ia ingin sekali ke
perapian. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu menggelitik kakinya yang dibalut kaos
kaki putih selutut itu.
“Tikus!!!” teriaknya histeris melihat makhluk
yang sedari tadi menggelitikinya tersebut. Bukannya ia takut dengan tikus itu,
gadis itu malah mengejarnya sambil menggenggam sepatu baletnya di kedua
tangannya. Ia hendak memukul tikus nakal itu.
“Kemari kau tikus nakal! Aku ini sedang
sedih, tahu! Kenapa kau malah menggangguku?! Tak akan kuberi ampun kau!” seru
Quinn dengan semangat berkobar. Tikus itu terus berlari mengelilingi kamar
Quinn yang cukup luas. Hingga akhirnya, tikus itu sampai di sudut ruangan.
“Hahaha, kau mau kemana tikus nakal?!” ucap
Quinn hendak memukul tikus itu. Namun sayang sekali, kakinya terantuk kaki
kursi yang menyebabkannya menabrak dinding bercat old rose itu. Tapi, dinding
itu tidak melukai Quinn. Justru dinding itu seperti bertekstur lunak. Quinn
yang kini terduduk di lantai mengamati dinding itu dengan serius. Matanya
melacak tiap inchi dinding.
“Ada apa di balik sana?” tanya Quinn dalam
hati. Ia meraih sepatu violet di samping dinding dan mengenakannya pada kaki
mulusnya. Dia kukuhkan tubuh mungilnya. Jemari-jemari lentiknya menjelajahi
kulit dinding. Terasa geli sejenak, tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang
ganjil pada dinding itu.
“Gadis manis, kau ingin masuk kesana?” sebuah
suara mengagetkan Quinn.
“Kyaa!!” ia menjauh dari dinding tersebut
beberapa langkah. Perlahan tapi pasti ada sesuatu yang timbul dari dinding
tersebut. Wajah manusia. Namun seluruh tubuhnya berwarna old rose seperti warna
dinding tersebut.
“Si… Siapa kau?” Quinn memberanikan diri
bertanya meski tergagap.
“Aku? Hahaha. Kau menanyakan siapa aku?”
terdengar suara orang tersebut melengking diselingi tawanya yang aneh.
“Hmh… Aku adalah Klorofa,” lanjutnya.
“Klorofa? Seperti unsur pada daun. Klorofa,
klorofil… Tapi, tubuhmu tidak hijau. Apa yang kau inginkan?” tanya Quinn lagi.
“Aku? Tidak ada yang kuinginkan. Yang bisa
memiliki keinginan, hanyalah anak-anak yang masih suci sepertimu. Hanya, jika
itu menjadi nyata, akankah kau bisa mempertahankannya? Hahaha.” tawanya makin
menjadi-jadi.
“Kau tinggal di dinding?” tanya Quinn dengan
polosnya.
“Eh? Hm. Aku tinggal di dinding ini selama
puluhan tahun. Jika musim panas, di sini panas. Jika musim dingin, di sini juga
dingin. Yah, sama sajalah sepertimu. Tapi, ada satu bagian dari tempat ini.
Yang tak akan pernah kau duga sebelumnya. Magic! Hahaha.” ucap Klorofa.
Quinn mulai melangkahkan kakinya mendekati dinding tempat Klorofa menempel.
“Bagian yang tak pernah kuduga? Apa itu
indah?” mata Quinn berbinar.
“Mungkin saja!” Klorofa mengangguk.
“Apa lebih indah dari camping di hutan
bersama teman-teman?” tanya Quinn lagi.
“Tentu. Dan di dalam sini… Semua tak bisa
selalu sesuai dengan terkaanmu. No real world. Tapi, Refraction World!!
Hahaha.” ucap Klorofa yang membuat Quinn semakin penasaran. Bayangan keindahan
dunia di balik dinding itu merasuk ke dalam pikiran Quinn. Mengkonstruksikan
alam bawah sadarnya sesuai dengan pikirannya.
“Aku ingin kesana!” seru Quinn. Ia bergegas
mendekati Klorofa lebih dekat. Klorofa membentangkan tangannya.
“Eits! Tapi, ada satu hal yang harus kau
ingat gadis manis!” sergah Klorofa.
“Apa kau seperti Ibu Peri dalam dongeng
Cinderella? Apa kau akan mengatakan, ‘keajaiban akan berakhir pukul 12 tepat’.
Apakah begitu?” ucap Quinn.
“Bukan. Sudah kubilang di dalam sini bukan
seperti yang kau pikirkan. Saat kau masuk kesana, maka kau tidak akan pernah
bisa keluar,” ucap Klorofa yang membuat Quinn tercengang.
“Apa?”
“Ya. Kecuali kau menemukan kunci pintu keluar
dunia ini.” ucap Klorofa penuh makna. Namun, si kecil Quinn yang tak mengerti
malah semakin bingung.
“Ya, ya, terserah. Aku akan menemukannya! Aku
pasti akan menemukan kunci itu. Lagipula aku hanya perlu mengingat letak
dinding kamar ini saja, aku sudah kembali kesini!” ucap Quinn. Klorofa
tersenyum.
“Tidak semudah yang kau pikirkan, Nak.” ucap
Klorofa lalu ia kembali menyusup ke dalam dinding itu.
“Hm? Klorofa! Hei! Klorofa! Bagaimana caraku
masuk kalau kau menghilang?!” teriak Quinn memanggil teman semunya tersebut.
Tangannya kembali meraba dinding. Dirasanya ada sesuatu yang kembali timbul. Ia
pikir itu Klorofa. Namun, memang tak seperti yang dipikirkannya.
“Bel?” gumam Quinn begitu melihat sebuah bel
di depan matanya. Tanpa ragu Quinn menekan bel tersebut.
“Sebutkan namamu untuk memasuki Refraction
World!” ucap sebuah suara dari bel tersebut.
“Quinn!” seru Quinn mantap. Bel itu
menghilang. Tiba-tiba dinding retak, seluruh rumah bergetar hebat. Kedua tangan
Quinn menyusup masuk melalui celah retak tersebut. Menggeser dinding bertekstur
lunak tersebut. Lubang itu semakin menganga lebar. Gelap. Tak tampak apapun
dari luar.
“Mungkin akan lebih jelas jika aku masuk!”
gumam Quinn.
.Refraction World
.to be continue~
kurang diksi.
BalasHapuskeren,!
BalasHapusUwah~! ><
BalasHapusKeren... =3
Fantasi nih, fantasi~ ^^
xD
Klorofa itu bener-bener kata lain dari klorofil, Ci? o.O
Wah~ Lanjut yah~ xD
Penasaran nih! x3
Oh iya, mau bilang, =3
Kalau beberapa percakapan itu dikahiri dengan koma.. =D
Mis:
“Tidak, Quinn! Sekali Mama bilang tidak, tetap tidak! Jangan membuat pendirian Mama goyah, Quinn,” ucap Mama lalu melepaskan tangan kecil Quinn.
=3
Lain lagi kalau:
“Mama!! Aku mau ikut camping!” pinta Quinn pada Mamanya.
=D
Itu aja~ Selebihnya... Keren~~ ^^ ><
sangkYu udah tag... ^^
Ganbatte ne~ xD
-Anna