Minggu, 03 Juni 2012

Promise. . .


Title                     : Promise. . .

Author                : dita-cHun

Length                :Oneshot [10 Page Ms. Word 1.967 word]

Rating                 : PG+12

Genre                  : AU, Romance, Friendship, Fantasy [relatif]

Language           : Indonesian – Bahasa Indonesia

Theme Song       : Aoyama Thelma – Wasurenaiyo

Cast                     : Shida Mirai, Yamada Ryosuke [Hey! Say! JUMP], Chinen Yuuri [Hey! Say! JUMP], Fukuchi Ishida [OC]

POV                    : Shida Mirai

Disclaimer          : Shida Mirai belongs to Ken-On Entertainment, Yamada Ryosuke and Chinen Yuuri belongs to Johnny’s Entertainment, Fukuchi Ishida belongs to author. The story originally from my own imagination ^^

Warning             : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya xD

Note                    : akhirnya saya balik lagi dengan ff yang kembali abal-abal xD mungkin dari segi cerita ff ini membuat saya keinget sama ff Reincarnation, gara-garanya masih ada sangkut pautnya tentang kematian *PLAK, gakjelas* Oh ya, bagi yang udah baca jangan lupa tinggalkan komen, ok? Sankyuu ^^







     Kematian. Itu merupakan hal lumrah yang akan terjadi pada setiap manusia. Tidak ada yang tahu kapan, dimana, dan bagaimana kematian itu akan menjemput tiap-tiap insan yang hidup. Yang pasti, setiap yang hidup pasti akan mati. Aku percaya itu. Tapi, entah kenapa ketika seseorang yang sangat berharga dalam hidupku itu menghadapi kematian, aku tidak ingin percaya. Aku tidak ingin percaya bahwa dia telah mati dan tidak akan kembali.

     Sebuah janji anak-anak terkadang luput dari ingatan kita saat kita mulai beranjak dewasa. Janji itu seolah hanyalah permainan anak-anak yang tidak perlu ditepati suatu hari kelak. Janji itu hanya akan tetap berupa janji tanpa ada sedikitpun realisasi. Mungkin sudah lupa atau dengan alasan yang dinilai lebih rasional untuk membatalkan janji tersebut. Apalagi janji anak-anak adalah janji yang paling ajaib semasa hidup. Dan tanpa sadar, janji itu akan tetap abadi terukir dalam ingatan yang terselip pada tiap-tiap diri manusia.

     “Ryosuke, berjanjilah padaku kau tidak akan meninggalkanku, hm?”

     “Kenapa begitu?”

     “Aku ingin kau berjanji saja…”

     “Tapi, suatu saat kita akan mati. Kita akan berpisah saat itu, kan?”

     “Kalau begitu berjanjilah kau tidak akan mati…”

     “Mana bisa begitu, hei?”

     “Tuhan akan mendengarnya, kan? Kalau Tuhan mendengar keinginanku maka kita tidak akan berpisah. Kalaupun kita harus mati, ayo mati bersama, Ryosuke…”

     Janji memang lebih lemah dari kuasa Tuhan. Sekalipun aku berjanji di hadapan Tuhan bahwa aku dan Ryosuke tidak akan berpisah, tetap saja itu bukan apa-apa. Jeritan kecil berupa janji itu mungkin sampai pada Tuhan, tapi Ia berkehendak lain. Pada akhirnya, aku dan Ryosuke berpisah. Sebuah kecelakaan maut yang sukses merenggut nyawa Ryosuke berhasil memisahkan kami. Kini, aku dan Ryosuke terpisah antara garis terjauh cakrawala. Dunia kami masih sama, sama-sama di dunia kehidupan. Hanya saja, satu kata yang membuat dunia kami begitu berbeda, yaitu kematian. Aku berada di dunia kehidupan dan Ryosuke berada di dunia kehidupan setelah kematian. Tapi, aku tidak akan menyerah. Aku akan menagih janji Ryosuke malam itu, sepuluh tahun yang lalu, bahwa kami tidak akan pernah berpisah sekalipun maut menjemput kami.

**

     “Mirai-chan, daijoubu?” sebuah suara diikuti sebuah sentuhan lembut mendarat di pundakku. Hampir saja aku terjatuh andai saja pria mungil yang kini dengan posisi menahan tubuhku ini tidak berada di belakangku, Chinen Yuuri. Pertanyaannya barusan kujawab dengan anggukan kecil. “Arigatou…” lanjutku berterima kasih. Ia berdehem kecil membalas kalimatku.

     “Ngomong-ngomong, kau mau kemana? Sepagi ini sudah ada di stasiun…” ucap Chinen sambil menyejajarkan langkahnya di sampingku.

     “Ah, itu. Aku ada perjalanan ke Shizuoka, mau bertemu dengan temanku…” jawabku sembari mengukir segaris senyum. Ia mengangguk paham.

     Aku lekas duduk di kursi tunggu tak jauh dari tempat kami berdiri. Ia hanya mengikuti apa yang kulakukan. Sejenak suasana hening menyergap kami. Sampai akhirnya, Chinen kembali membuka pembicaraan.

     “Oh ya, kudengar kau sudah lama di Shizuoka. Kenapa kau tiba-tiba pindah kesini?” tanyanya.

     “Eh?”

     “Ah? Apa pertanyaanku menyinggungmu?” tanyanya agak panik.

     “Itu… Tidak ada alasan yang istimewa…” jawabku pelan.

     Souka…”

     “Oh ya, aku mau bertanya satu hal padamu,” ucapku.

     “Apa itu?” tanyanya.

     “Bagaimana orang mati bisa hidup kembali? Menurutmu apa hal itu mungkin terjadi?” tanyaku.

     “Ah, aku tidak tau. Kecuali orang itu mati suri,” jawabnya.

     “Mati suri?” ulangku.

     “Un,” ia mengangguk. “Atau reinkarnasi, tapi tentu dalam wujud yang berbeda…”

     Souka… Kalau begitu tidak ada jalan lain…” gumamku.

     “Eh? Apa barusan kau mengatakan sesuatu?” tanyanya. Aku hanya menggeleng.

**

     “Ryosuke, tadaima…”

     Mungkin hanya itu yang mampu aku ucapkan begitu aku menapakkan kaki di Shizuoka. Dengan sangat berusaha kukulum segaris senyum di wajahku. Kedua mataku sudah basah, tapi sekuat mungkin aku mencoba menahan cairan bening itu agar tidak jatuh membasahi pipiku.

     Dengan langkah mantap kutapakkan kedua kakiku bergantian menapaki aspal jalan. Aku mempercepat langkahku, berjalan cepat kemudian berlari. Aku ingin segera sampai disana. Tempat dimana aku sangat merindukan sosok orang yang setiap hari mengusik batin dan pikiranku. Aku sangat merindukannya.

     “Ryo… suke…” ucapku terbata begitu aku sampai di sebuah pemakaman yang aku yakin itu tempat Ryosuke pernah dikuburkan. Nafasku terus memburu, air mataku sudah berlinang sejak aku berlari melawan angin. Pada akhirnya, aku hanya bisa jatuh berlutut sambil mengurai air mataku di samping makam Ryosuke.

     Sekarang aku sudah tidak bisa lagi memeluknya erat saat aku merindukannya. Sekarang aku sudah tidak bisa meraih jemarinya dan membawanya ke atas gunung untuk bermain bersama. Bahkan sekarang aku sudah tidak bisa lagi melihat Ryosuke. Yang tersisa hanya bayang-bayangnya yang masih terekam jelas dalam ingatanku.

     “Ryosuke… hiks… Ryosuke… Tepati janjimu… hiks…” tangisku terus menerus pecah di samping makam Ryosuke. Ya, aku harus menagih janjinya. Aku tidak pernah lupa bahwa janji itu pernah melesat dari bibir kami. Aku datang untuk menagihnya.

     “Ryosuke, tepati janjimu!” jeritku. “Ryosuke, kenapa kau hanya diam?! Tepati janjimu!!” aku merasakan tubuhku bergetar. Rintik-rintik hujan yang baru saja mengguyur tubuhku terasa begitu dingin. Aku menggigil sambil terus menangis.

     “Ryosuke, tepati janjimu, baka!!”

**

     Gomen kudasai. Fukuchi Oba-san, kau ada di rumah?” tanyaku sembari mengetuk pintu kayu berornamen klasik itu. Berselang kemudian kulihat pintu itu dibuka oleh seorang wanita paruh baya yang sangat familiar dalam ingatanku.

     “Mirai-chan, bagaimana kau bisa ada disini? Dan kenapa pakaianmu basah begitu?” wanita bermarga Fukuchi itu memburuku dengan dua pertanyaan sekaligus.

     Aku mengulas segaris senyum, sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya, “Aku datang berkunjung, tapi aku kehujanan...”

     Souka… Kalau begitu lebih baik kau cepat masuk. Di luar udaranya dingin sekali, kau bisa flu nanti,” ucap Bibi Fukuchi sembari menuntunku masuk ke dalam rumahnya.

     “Ini, pakailah. Mungkin agak kebesaran untukmu, tapi hanya itu satu-satunya pakaian yang paling kecil yang masih kumiliki…” ujar Bibi Fukuchi sembari menyodorkan dress di genggamannya. “Arigatou…” ucapku. Lekas itu aku segera ke kamar yang ditunjukkan Bibi Fukuchi untuk berganti pakaian. Dipikir-pikir pakaianku benar-benar basah saat ini. Mungkin aku akan terkena flu andai aku tidak cepat berkunjung ke rumah ini.

     “Oh ya, sejak Ryosuke meninggal, Oba-san tinggal dengan siapa?” tanyaku.

     “Aku tinggal sendiri. Tapi, liburan ini keponakanku akan kesini. Mungkin malam ini dia baru tiba…” jelas Bibi Fukuchi singkat.

     “Hmm… begitu, ya… Syukurlah kalau begitu, setidaknya Oba-san tidak akan kesepian liburan ini,” ucapku. Kulihat ia mengukir segaris senyum.

     Cklek!

     “Fukuchi Oba-san, tadaima…” kudengar suara pria dari arah luar menggema hingga nyaris ke seluruh penjuru ruang tamu. Aku menoleh, mencari sosok pemilik suara. Aku ingin tahu bagaimana sosok sepupu Ryosuke yang dikatakan Bibi Fukuchi. Ah, itu dia!

     “Ehh?!”

     Aku baru sadar ternyata dunia ini begitu sempit, seperti yang dikatakan Ryosuke.

**
     “Ternyata dunia ini sempit sekali, ya?” ucapku membuka pembicaraan. Pria yang notabene adalah sepupu Ryosuke itu mengangguk mengiyakan. “Bahkan ketika kita sama-sama tidak tahu bahwa kita akan saling mengenal dan bertemu dengan keadaan seperti ini,” lanjutku. Pria bermarga Chinen itu tersenyum simpul.

     “Ya, aku juga berpikir demikian.” Ucapnya. “Oh ya, siapa teman yang akan kau kunjungi itu?” tanyanya.

     “Ryosuke. Yamada Ryosuke,” jawabku mantap.

     “Eh? Tapi, kan—?”

     “…Dia sudah mati, begitu?” potongku. “Semua orang berkata bahwa di dunia ini perpisahan yang paling adil adalah kematian. Tapi, bagiku perpisahan tetap perpisahan. Tidak ada bentuk perpisahan yang paling adil, karena semua bentuk perpisahan itu sangat menyakitkan…”

     Aku menatap Chinen tajam, “Aku tidak akan mengampuni Ryosuke…”

     “Mirai-chan, apa yang kau katakan?” tanya Chinen masih menatapku datar.

     Perlahan kurasakan air mataku terjun membasahi kedua pipiku. Aku mengisak pelan, mencoba menahan rasa perih di dadaku. “Janji tetap janji, Chinen. Sekalipun itu janji anak-anak, itu harus ditepati. Ryosuke sudah berjanji bahwa kami tidak akan berpisah sekalipun maut menjemput kami. Tapi, ia mengingkarinya tiga bulan lalu…”

     “Eh?”

     “Ia meninggalkanku ke tempat yang jauh dan semua orang berkata bahwa ia tidak akan kembali…” lanjutku masih dengan tatapan tajam ke arah Chinen.

     Yamete, Mirai-chan…” ucap Chinen.

     Kurasakan bibirku bergetar. Tidak, seluruh tubuhku serasa menggigil. Kurasa lebih baik aku melakukannya sekarang. Aku ingin luka ini segera berakhir. Aku sudah lelah menagih janji pada Ryosuke, sedangkan Ryosuke tidak pernah menggubrisku. Mungkin, lebih cepat aku harus datang pada Ryosuke. Aku tidak ingin ia mengingkari janjinya…

     Kuraih sebuah pisau dapur di atas nampan dan lekas kusodorkan pada Chinen yang masih terdiam. Tubuhnya makin membeku ketika ia melihatku menyodorkan pisau yang tampak baru diasah itu.

     “Apa maksudmu, Mirai-chan?”

     “Bunuh aku, Chinen. Onegai…” ucapku. “Kalau Ryosuke tidak kembali, aku akan pergi mencarinya. Aku akan menagih janji itu padanya. Kami akan bersama-sama lagi di tempat Ryosuke sekarang… Onegai, Chinen…”

     Sejenak kulihat Chinen menatap kosong ke arah pisau di genggamanku sebelum akhirnya ia berkata, “…Aku tidak bisa.”

     Doushite?” tanyaku.

     “Aku hanya tidak ingin…” ia diam sejenak. “Membunuh orang yang sangat Ryosuke cintai…”

     “Eh?”

     “Ryosuke pernah mengatakan sesuatu padaku…” ucap Chinen, matanya menerawang jauh entah kemana.

     “Aku tidak takut pada kematian. Tapi, aku takut jika orang yang kucintai mati karena hal bodoh. Karena sekarang aku sedang menyukai seorang gadis yang cukup bodoh. Dia tidak takut kematian, bahkan dia ingin agar aku melawan kematian. Dia bilang… Ia ingin aku berjanji untuk terus ada di sampingnya sampai maut menjemput kami berdua. Itu konyol, tapi aku menyukai tiap kata-katanya yang lucu itu.”

     “Eh?”

     “Maka dari itu… Jangan melakukan hal bodoh seperti itu…” ucap Chinen.

     Aku membalik mata pisau itu ke arahku, “Kalau kau tidak bisa melakukannya. Biar aku yang lakukan sendiri…”

     “Apa yang kau lakukan?!” Pisau itu nyaris menghunus jantungku andai Chinen tak menampiknya. “Arrgh!” jeritku. Kurasakan bahuku begitu nyeri. Aku baru sadar pisau itu berhasil merobek bahuku.

     “Sudah kubilang, kan, jangan melakukannya!” bentak Chinen.

     “Aku tidak percaya padamu!” ucapku. Aku merangkak turun dari sofa, mencoba meraih pisau itu kembali. Namun, aku merasakan sesuatu menggenggam tanganku. Dingin. Siapa?

     “…Jangan melakukannya,” ucap pemilik suara itu. Aku menoleh, “Dare?”

     “Aku sudah bilang, kan? Jangan melakukan hal bodoh seperti ini.”

     “Ryosuke?” aku terbelalak melihat sosok Ryosuke di hadapanku. Ia menggenggam tangan kiriku erat. “Tapi, kenapa? Aku ingin kita bersama-sama lagi! Kalau kau sudah tidak bisa kembali, maka aku akan menemuimu, Ryosuke… Di tempat kita bisa bersama-sama lagi!”

     “Kita akan bersama-sama lagi, Mirai-chan. Percayalah…”

     “Kalau begitu biarkan aku bunuh diri!” jeritku.

     “Tidak!” bentak Ryosuke. “Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya, Mirai-chan!”

     “Tapi, kenapa?! Katakan padaku!” teriakku.

     “Karena kematian itu sangat menyakitkan. Rasanya bahkan lebih sakit dari tusukan ribuan pedang. Rasanya dingin seperti ribuan es yang mengurung kita sampai membeku di dalamnya. Percayalah… Kita akan bersama-sama lagi suatu saat. Bukan sekarang…” ucap Ryosuke panjang lebar.

     “Aku akan menunggu sampai waktu itu tiba. Jadi, kau harus hidup. Kau harus bertahan… Saat waktu itu tiba, aku akan datang menjemputmu, Mirai-chan. Hiduplah…” lanjutnya.

     “Ryosuke…”

     Sosok Ryosuke menghilang berselang setelah itu. Aku masih terdiam. Logikaku mulai beradu antara rasa percaya dan tidak. Tadi itu benar-benar Ryosuke?

     “Ini. Ryosuke menyimpannya sejak lama, mungkin kau sudah tahu.” Chinen menyodorkan sebuah album foto padaku.

     [Yamada & Shida] – [Mirai & Ryosuke] – [YamaShi]

     “Eh?”

     Kuraih album foto itu dari genggaman Chinen. Aku sudah hampir lupa, tapi aku tidak benar-benar lupa. Ini album yang dibuat Ryosuke tujuh tahun lalu. Aku ingat di dalam sini ada banyak sekali kenangan kami yang sempat tersimpan. Ryosuke, apa dia benar-benar menyukaiku? Kalau begitu aku juga. Aku sangat menyukainya.

     “Kemarilah, aku akan mengobati lukamu…” ucap Chinen sembari membawa nampan obat ke hadapanku.

     Gomen…”

     “Jangan melakukan hal-hal bodoh lagi… Kau harus hidup. Kau harus terus bertahan, sampai waktu itu datang. Ryosuke akan menjemputmu suatu hari kelak, hm?”

     “Eh?” Kalimat itu persis seperti apa yang diucapkan Ryosuke barusan. “Hai’.”






**the end**




Glosarium          :

*-chan                 : sebutan untuk orang yang lebih muda, teman akrab
*souka                : begitu…
*arigatou            : terima kasih
*doushite?          : kenapa?
*iie                       : tidak
*daijoubu?         : baik-baik saja?
*hai’                    : ya
*dare?                 : siapa?
*onegai               : kumohon
*gomen kudasai : permisi
*gomen               : maaf
*oba-san             : bibi
*yamete              : hentikan
*baka                  : bodoh




.LEAVE A COMMENT PLEASE.

6 komentar:

  1. gak ada kata lain, selain: Keren! ^^

    BalasHapus
  2. itu sii ayam jadi hantu ya?
    kalo ayam yg jadi hantu aku gak bakal tajut. xD

    BalasHapus
  3. Kyaaaaa....
    CHINEN SANGAT KEREN!
    Tapi Yama kasian. T~T

    sign,
    Lia-chan XD

    BalasHapus
  4. sugoii, janji yah?
    hehe *gak tau hrs komen apa lg,
    yg pasti bagus deh,
    cuma sayangnya feel pas mirai kehilangan ayamnya kurang *gomen* hehehe xD

    BalasHapus
  5. Eh... *ga tahu mau bilang apa*
    Tapi.... Kerennn~ xD >v<

    Itu, berarti pengganti Ryo itu Chii yah? =D
    *Nebak-nebak*
    x3

    Sangkyu 4 tag...

    Tetep keren~! ^^

    Fighting~ ^^
    -Anna

    BalasHapus