Title :
Promise. . .
Author :
dita-cHun
Length :Oneshot
[10 Page Ms. Word 1.967 word]
Rating :
PG+12
Genre :
AU, Romance, Friendship, Fantasy [relatif]
Language :
Indonesian – Bahasa Indonesia
Theme Song : Aoyama Thelma – Wasurenaiyo
Cast :
Shida Mirai, Yamada Ryosuke [Hey! Say! JUMP], Chinen Yuuri [Hey! Say! JUMP],
Fukuchi Ishida [OC]
POV :
Shida Mirai
Disclaimer : Shida Mirai belongs to Ken-On Entertainment, Yamada
Ryosuke and Chinen Yuuri belongs to Johnny’s Entertainment, Fukuchi Ishida
belongs to author. The story originally from my own imagination ^^
Warning :
~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya xD
Note :
akhirnya saya balik lagi dengan ff yang kembali abal-abal xD mungkin dari segi
cerita ff ini membuat saya keinget sama ff Reincarnation, gara-garanya
masih ada sangkut pautnya tentang kematian *PLAK, gakjelas* Oh ya, bagi yang
udah baca jangan lupa tinggalkan komen, ok? Sankyuu ^^
Kematian.
Itu merupakan hal lumrah yang akan terjadi pada setiap manusia. Tidak ada yang
tahu kapan, dimana, dan bagaimana kematian itu akan menjemput tiap-tiap insan
yang hidup. Yang pasti, setiap yang hidup pasti akan mati. Aku percaya itu.
Tapi, entah kenapa ketika seseorang yang sangat berharga dalam hidupku itu
menghadapi kematian, aku tidak ingin percaya. Aku tidak ingin percaya bahwa dia
telah mati dan tidak akan kembali.
Sebuah
janji anak-anak terkadang luput dari ingatan kita saat kita mulai beranjak
dewasa. Janji itu seolah hanyalah permainan anak-anak yang tidak perlu ditepati
suatu hari kelak. Janji itu hanya akan tetap berupa janji tanpa ada sedikitpun
realisasi. Mungkin sudah lupa atau dengan alasan yang dinilai lebih rasional
untuk membatalkan janji tersebut. Apalagi janji anak-anak adalah janji yang
paling ajaib semasa hidup. Dan tanpa sadar, janji itu akan tetap abadi terukir
dalam ingatan yang terselip pada tiap-tiap diri manusia.
“Ryosuke,
berjanjilah padaku kau tidak akan meninggalkanku, hm?”
“Kenapa
begitu?”
“Aku
ingin kau berjanji saja…”
“Tapi,
suatu saat kita akan mati. Kita akan berpisah saat itu, kan?”
“Kalau
begitu berjanjilah kau tidak akan mati…”
“Mana
bisa begitu, hei?”
“Tuhan
akan mendengarnya, kan? Kalau Tuhan mendengar keinginanku maka kita tidak akan
berpisah. Kalaupun kita harus mati, ayo mati bersama, Ryosuke…”
Janji
memang lebih lemah dari kuasa Tuhan. Sekalipun aku berjanji di hadapan Tuhan
bahwa aku dan Ryosuke tidak akan berpisah, tetap saja itu bukan apa-apa.
Jeritan kecil berupa janji itu mungkin sampai pada Tuhan, tapi Ia berkehendak
lain. Pada akhirnya, aku dan Ryosuke berpisah. Sebuah kecelakaan maut yang
sukses merenggut nyawa Ryosuke berhasil memisahkan kami. Kini, aku dan Ryosuke
terpisah antara garis terjauh cakrawala. Dunia kami masih sama, sama-sama di
dunia kehidupan. Hanya saja, satu kata yang membuat dunia kami begitu berbeda,
yaitu kematian. Aku berada di dunia kehidupan dan Ryosuke berada di dunia
kehidupan setelah kematian. Tapi, aku tidak akan menyerah. Aku akan menagih
janji Ryosuke malam itu, sepuluh tahun yang lalu, bahwa kami tidak akan pernah
berpisah sekalipun maut menjemput kami.
**
“Mirai-chan,
daijoubu?” sebuah suara diikuti sebuah sentuhan lembut mendarat di
pundakku. Hampir saja aku terjatuh andai saja pria mungil yang kini dengan
posisi menahan tubuhku ini tidak berada di belakangku, Chinen Yuuri.
Pertanyaannya barusan kujawab dengan anggukan kecil. “Arigatou…”
lanjutku berterima kasih. Ia berdehem kecil membalas kalimatku.
“Ngomong-ngomong,
kau mau kemana? Sepagi ini sudah ada di stasiun…” ucap Chinen sambil
menyejajarkan langkahnya di sampingku.
“Ah,
itu. Aku ada perjalanan ke Shizuoka, mau bertemu dengan temanku…” jawabku
sembari mengukir segaris senyum. Ia mengangguk paham.
Aku
lekas duduk di kursi tunggu tak jauh dari tempat kami berdiri. Ia hanya
mengikuti apa yang kulakukan. Sejenak suasana hening menyergap kami. Sampai
akhirnya, Chinen kembali membuka pembicaraan.
“Oh
ya, kudengar kau sudah lama di Shizuoka. Kenapa kau tiba-tiba pindah kesini?”
tanyanya.
“Eh?”
“Ah?
Apa pertanyaanku menyinggungmu?” tanyanya agak panik.
“Itu…
Tidak ada alasan yang istimewa…” jawabku pelan.
“Souka…”
“Oh
ya, aku mau bertanya satu hal padamu,” ucapku.
“Apa
itu?” tanyanya.
“Bagaimana
orang mati bisa hidup kembali? Menurutmu apa hal itu mungkin terjadi?” tanyaku.
“Ah,
aku tidak tau. Kecuali orang itu mati suri,” jawabnya.
“Mati
suri?” ulangku.
“Un,”
ia mengangguk. “Atau reinkarnasi, tapi tentu dalam wujud yang berbeda…”
“Souka…
Kalau begitu tidak ada jalan lain…” gumamku.
“Eh?
Apa barusan kau mengatakan sesuatu?” tanyanya. Aku hanya menggeleng.
**
“Ryosuke,
tadaima…”
Mungkin
hanya itu yang mampu aku ucapkan begitu aku menapakkan kaki di Shizuoka. Dengan
sangat berusaha kukulum segaris senyum di wajahku. Kedua mataku sudah basah,
tapi sekuat mungkin aku mencoba menahan cairan bening itu agar tidak jatuh
membasahi pipiku.
Dengan
langkah mantap kutapakkan kedua kakiku bergantian menapaki aspal jalan. Aku
mempercepat langkahku, berjalan cepat kemudian berlari. Aku ingin segera sampai
disana. Tempat dimana aku sangat merindukan sosok orang yang setiap hari
mengusik batin dan pikiranku. Aku sangat merindukannya.
“Ryo…
suke…” ucapku terbata begitu aku sampai di sebuah pemakaman yang aku yakin itu
tempat Ryosuke pernah dikuburkan. Nafasku terus memburu, air mataku sudah
berlinang sejak aku berlari melawan angin. Pada akhirnya, aku hanya bisa jatuh
berlutut sambil mengurai air mataku di samping makam Ryosuke.
Sekarang
aku sudah tidak bisa lagi memeluknya erat saat aku merindukannya. Sekarang aku
sudah tidak bisa meraih jemarinya dan membawanya ke atas gunung untuk bermain
bersama. Bahkan sekarang aku sudah tidak bisa lagi melihat Ryosuke. Yang
tersisa hanya bayang-bayangnya yang masih terekam jelas dalam ingatanku.
“Ryosuke…
hiks… Ryosuke… Tepati janjimu… hiks…” tangisku terus menerus pecah di samping
makam Ryosuke. Ya, aku harus menagih janjinya. Aku tidak pernah lupa bahwa
janji itu pernah melesat dari bibir kami. Aku datang untuk menagihnya.
“Ryosuke,
tepati janjimu!” jeritku. “Ryosuke, kenapa kau hanya diam?! Tepati janjimu!!”
aku merasakan tubuhku bergetar. Rintik-rintik hujan yang baru saja mengguyur
tubuhku terasa begitu dingin. Aku menggigil sambil terus menangis.
“Ryosuke,
tepati janjimu, baka!!”
**
“Gomen
kudasai. Fukuchi Oba-san, kau ada di rumah?” tanyaku sembari
mengetuk pintu kayu berornamen klasik itu. Berselang kemudian kulihat pintu itu
dibuka oleh seorang wanita paruh baya yang sangat familiar dalam ingatanku.
“Mirai-chan,
bagaimana kau bisa ada disini? Dan kenapa pakaianmu basah begitu?” wanita
bermarga Fukuchi itu memburuku dengan dua pertanyaan sekaligus.
Aku
mengulas segaris senyum, sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya, “Aku datang
berkunjung, tapi aku kehujanan...”
“Souka…
Kalau begitu lebih baik kau cepat masuk. Di luar udaranya dingin sekali, kau
bisa flu nanti,” ucap Bibi Fukuchi sembari menuntunku masuk ke dalam rumahnya.
“Ini,
pakailah. Mungkin agak kebesaran untukmu, tapi hanya itu satu-satunya pakaian
yang paling kecil yang masih kumiliki…” ujar Bibi Fukuchi sembari menyodorkan
dress di genggamannya. “Arigatou…” ucapku. Lekas itu aku segera ke kamar
yang ditunjukkan Bibi Fukuchi untuk berganti pakaian. Dipikir-pikir pakaianku
benar-benar basah saat ini. Mungkin aku akan terkena flu andai aku tidak cepat
berkunjung ke rumah ini.
“Oh
ya, sejak Ryosuke meninggal, Oba-san tinggal dengan siapa?” tanyaku.
“Aku
tinggal sendiri. Tapi, liburan ini keponakanku akan kesini. Mungkin malam ini
dia baru tiba…” jelas Bibi Fukuchi singkat.
“Hmm…
begitu, ya… Syukurlah kalau begitu, setidaknya Oba-san tidak akan
kesepian liburan ini,” ucapku. Kulihat ia mengukir segaris senyum.
Cklek!
“Fukuchi
Oba-san, tadaima…” kudengar suara pria dari arah luar menggema
hingga nyaris ke seluruh penjuru ruang tamu. Aku menoleh, mencari sosok pemilik
suara. Aku ingin tahu bagaimana sosok sepupu Ryosuke yang dikatakan Bibi
Fukuchi. Ah, itu dia!
“Ehh?!”
Aku
baru sadar ternyata dunia ini begitu sempit, seperti yang dikatakan Ryosuke.
**
“Ternyata
dunia ini sempit sekali, ya?” ucapku membuka pembicaraan. Pria yang notabene
adalah sepupu Ryosuke itu mengangguk mengiyakan. “Bahkan ketika kita sama-sama
tidak tahu bahwa kita akan saling mengenal dan bertemu dengan keadaan seperti
ini,” lanjutku. Pria bermarga Chinen itu tersenyum simpul.
“Ya,
aku juga berpikir demikian.” Ucapnya. “Oh ya, siapa teman yang akan kau
kunjungi itu?” tanyanya.
“Ryosuke.
Yamada Ryosuke,” jawabku mantap.
“Eh?
Tapi, kan—?”
“…Dia
sudah mati, begitu?” potongku. “Semua orang berkata bahwa di dunia ini
perpisahan yang paling adil adalah kematian. Tapi, bagiku perpisahan tetap
perpisahan. Tidak ada bentuk perpisahan yang paling adil, karena semua bentuk
perpisahan itu sangat menyakitkan…”
Aku
menatap Chinen tajam, “Aku tidak akan mengampuni Ryosuke…”
“Mirai-chan,
apa yang kau katakan?” tanya Chinen masih menatapku datar.
Perlahan
kurasakan air mataku terjun membasahi kedua pipiku. Aku mengisak pelan, mencoba
menahan rasa perih di dadaku. “Janji tetap janji, Chinen. Sekalipun itu janji
anak-anak, itu harus ditepati. Ryosuke sudah berjanji bahwa kami tidak akan
berpisah sekalipun maut menjemput kami. Tapi, ia mengingkarinya tiga bulan
lalu…”
“Eh?”
“Ia
meninggalkanku ke tempat yang jauh dan semua orang berkata bahwa ia tidak akan
kembali…” lanjutku masih dengan tatapan tajam ke arah Chinen.
“Yamete,
Mirai-chan…” ucap Chinen.
Kurasakan
bibirku bergetar. Tidak, seluruh tubuhku serasa menggigil. Kurasa lebih baik
aku melakukannya sekarang. Aku ingin luka ini segera berakhir. Aku sudah lelah
menagih janji pada Ryosuke, sedangkan Ryosuke tidak pernah menggubrisku.
Mungkin, lebih cepat aku harus datang pada Ryosuke. Aku tidak ingin ia
mengingkari janjinya…
Kuraih
sebuah pisau dapur di atas nampan dan lekas kusodorkan pada Chinen yang masih
terdiam. Tubuhnya makin membeku ketika ia melihatku menyodorkan pisau yang
tampak baru diasah itu.
“Apa
maksudmu, Mirai-chan?”
“Bunuh
aku, Chinen. Onegai…” ucapku. “Kalau Ryosuke tidak kembali, aku akan
pergi mencarinya. Aku akan menagih janji itu padanya. Kami akan bersama-sama
lagi di tempat Ryosuke sekarang… Onegai, Chinen…”
Sejenak
kulihat Chinen menatap kosong ke arah pisau di genggamanku sebelum akhirnya ia
berkata, “…Aku tidak bisa.”
“Doushite?”
tanyaku.
“Aku
hanya tidak ingin…” ia diam sejenak. “Membunuh orang yang sangat Ryosuke
cintai…”
“Eh?”
“Ryosuke
pernah mengatakan sesuatu padaku…” ucap Chinen, matanya menerawang jauh entah
kemana.
“Aku
tidak takut pada kematian. Tapi, aku takut jika orang yang kucintai mati karena
hal bodoh. Karena sekarang aku sedang menyukai seorang gadis yang cukup bodoh.
Dia tidak takut kematian, bahkan dia ingin agar aku melawan kematian. Dia
bilang… Ia ingin aku berjanji untuk terus ada di sampingnya sampai maut
menjemput kami berdua. Itu konyol, tapi aku menyukai tiap kata-katanya yang
lucu itu.”
“Eh?”
“Maka
dari itu… Jangan melakukan hal bodoh seperti itu…” ucap Chinen.
Aku
membalik mata pisau itu ke arahku, “Kalau kau tidak bisa melakukannya. Biar aku
yang lakukan sendiri…”
“Apa
yang kau lakukan?!” Pisau itu nyaris menghunus jantungku andai Chinen tak
menampiknya. “Arrgh!” jeritku. Kurasakan bahuku begitu nyeri. Aku baru sadar
pisau itu berhasil merobek bahuku.
“Sudah
kubilang, kan, jangan melakukannya!” bentak Chinen.
“Aku
tidak percaya padamu!” ucapku. Aku merangkak turun dari sofa, mencoba meraih
pisau itu kembali. Namun, aku merasakan sesuatu menggenggam tanganku. Dingin.
Siapa?
“…Jangan
melakukannya,” ucap pemilik suara itu. Aku menoleh, “Dare?”
“Aku
sudah bilang, kan? Jangan melakukan hal bodoh seperti ini.”
“Ryosuke?”
aku terbelalak melihat sosok Ryosuke di hadapanku. Ia menggenggam tangan kiriku
erat. “Tapi, kenapa? Aku ingin kita bersama-sama lagi! Kalau kau sudah tidak
bisa kembali, maka aku akan menemuimu, Ryosuke… Di tempat kita bisa
bersama-sama lagi!”
“Kita
akan bersama-sama lagi, Mirai-chan. Percayalah…”
“Kalau
begitu biarkan aku bunuh diri!” jeritku.
“Tidak!”
bentak Ryosuke. “Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya, Mirai-chan!”
“Tapi,
kenapa?! Katakan padaku!” teriakku.
“Karena
kematian itu sangat menyakitkan. Rasanya bahkan lebih sakit dari tusukan ribuan
pedang. Rasanya dingin seperti ribuan es yang mengurung kita sampai membeku di
dalamnya. Percayalah… Kita akan bersama-sama lagi suatu saat. Bukan sekarang…”
ucap Ryosuke panjang lebar.
“Aku
akan menunggu sampai waktu itu tiba. Jadi, kau harus hidup. Kau harus bertahan…
Saat waktu itu tiba, aku akan datang menjemputmu, Mirai-chan. Hiduplah…”
lanjutnya.
“Ryosuke…”
Sosok
Ryosuke menghilang berselang setelah itu. Aku masih terdiam. Logikaku mulai
beradu antara rasa percaya dan tidak. Tadi itu benar-benar Ryosuke?
“Ini.
Ryosuke menyimpannya sejak lama, mungkin kau sudah tahu.” Chinen menyodorkan
sebuah album foto padaku.
[Yamada
& Shida] – [Mirai & Ryosuke] – [YamaShi]
“Eh?”
Kuraih
album foto itu dari genggaman Chinen. Aku sudah hampir lupa, tapi aku tidak
benar-benar lupa. Ini album yang dibuat Ryosuke tujuh tahun lalu. Aku ingat di
dalam sini ada banyak sekali kenangan kami yang sempat tersimpan. Ryosuke, apa
dia benar-benar menyukaiku? Kalau begitu aku juga. Aku sangat menyukainya.
“Kemarilah,
aku akan mengobati lukamu…” ucap Chinen sembari membawa nampan obat ke
hadapanku.
“Gomen…”
“Jangan
melakukan hal-hal bodoh lagi… Kau harus hidup. Kau harus terus bertahan, sampai
waktu itu datang. Ryosuke akan menjemputmu suatu hari kelak, hm?”
“Eh?”
Kalimat itu persis seperti apa yang diucapkan Ryosuke barusan. “Hai’.”
**the end**
Glosarium :
*-chan :
sebutan untuk orang yang lebih muda, teman akrab
*souka :
begitu…
*arigatou : terima kasih
*doushite? : kenapa?
*iie :
tidak
*daijoubu? : baik-baik saja?
*hai’ :
ya
*dare? :
siapa?
*onegai :
kumohon
*gomen kudasai : permisi
*gomen :
maaf
*oba-san :
bibi
*yamete :
hentikan
*baka :
bodoh
.LEAVE A COMMENT PLEASE.
gak ada kata lain, selain: Keren! ^^
BalasHapussamasama banyaaaakkk!^^
Hapus#eh? :D
itu sii ayam jadi hantu ya?
BalasHapuskalo ayam yg jadi hantu aku gak bakal tajut. xD
Kyaaaaa....
BalasHapusCHINEN SANGAT KEREN!
Tapi Yama kasian. T~T
sign,
Lia-chan XD
sugoii, janji yah?
BalasHapushehe *gak tau hrs komen apa lg,
yg pasti bagus deh,
cuma sayangnya feel pas mirai kehilangan ayamnya kurang *gomen* hehehe xD
Eh... *ga tahu mau bilang apa*
BalasHapusTapi.... Kerennn~ xD >v<
Itu, berarti pengganti Ryo itu Chii yah? =D
*Nebak-nebak*
x3
Sangkyu 4 tag...
Tetep keren~! ^^
Fighting~ ^^
-Anna