Title : Just Married. . .
Sub-Title : Just Call My Name, Ok?
Author : dita-cHun
Type : Multichapter
Part : 1
Rating : PG+12
Genre : Romance, Comedy
Theme Song : Davichi – My Man
Main Cast :
*Kim Hyun-Joong
*Jung So-Min
*Heo Young-Saeng
Disclaimer : All cast punya Tuhan! ^^ Adil, pan? xD
Warning : ~gaje binti abal~ segala kekurangan
adalah milik saya
Note : Jang jang! Ini dia ff
request.an pairing Kim Hyun-Joong x Jung So-Min. Maaf, ya lama banget! ^/\^
Semoga puas sama ff ini! Bagi yang udah baca, tolong tinggalkan jejak ^^
Comment please :)
Aku kembali melirik jam yang masih
melingkar manis di pergelangan tanganku. Kemudian kembali kualihkan pandanganku
pada pria yang masih duduk diam di hadapanku. Seorang pria lain di sampingnya
berdehem sekilas hingga membangunkan pria tersebut dari lamunan.
“Mianhae. Tapi, apa tidak bisa
dipikirkan ulang? Ini terlalu ekstrim untuk jadi pilihan, Heo-sshi…”
ucap pria berlabel Kim Hyun Joong itu dengan suara begitu pelan.
“Tidak bisa. Bagaimanapun kau sudah tidak
mungkin bisa membayar hutang-hutangmu yang sudah lebih dari air yang mengalir
di sungai Han itu!” tolak pria yang disebut Heo-sshi barusan itu. Menurut
catatan kelahiran, pria ini memiliki nama asli Heo Young Saeng. Sejak usia dua
puluh dua ia sudah menggantikan posisi ayahnya yang tak lain adalah seorang
rentenir ulung. Dan kali ini ia tengah berhadapan dengan kedua korbannya yang
sudah tak mampu lagi membayar hutangnya. Dua orang itu tak lain adalah Kim Hyun
Joong dan aku. Astaga…
“Menurutku, pernikahan juga bukan hal yang
main-main…” ucap Hyun Joong lagi. Kali ini ucapannya disambut dengan suara meja
yang baru saja dipukul Heo keras-keras. “Kau pikir aku main-main, huh?!” bola
mata Heo nyaris saja keluar anda saja ia tak menutup kembali kelopak matanya.
Sejak tadi mereka terus bergelut alibi.
Sementara aku yang tidak tahu harus bagaimana menolak hal ini hanya diam dengan
perasaan bergemuruh hebat. Pasalnya, kali ini ia menyuruhku menikah dengan pria
di hadapanku ini! Bayangkan saja bagaimana nanti menderitanya aku begitu aku
menikah dengan orang yang sama sekali belum pernah kukenal?!
“Jung So Min-sshi,” suara berat itu
kembali menyapaku secara mendadak. Sontak aku mengangkat pandanganku yang
semula tertunduk. “Kelihatannya kau terima-terima saja atas keputusanku kali
ini…”
Aku menghela nafas singkat, “Mau bagaimana
lagi, kan? Hutangku terlalu banyak dan aku tidak punya alibi yang bagus untuk
membuatmu berubah pikiran.”
“Kau lihat, Kim Hyun Joong-sshi?
Calon istrimu orang yang blak-blakan sekali, kan?” goda Heo pada lelaki di
sampingnya.
Aku mendengus kesal, “Kau menghina, ya?”
“Bukan, aku memuji, kok.” Ucap Heo singkat
tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
“Ck…”
“Tenang saja. Kenapa wajah kalian berdua
begitu kusut? Aku kan hanya ingin kalian menikah, bukannya menyuruh kalian
mati,” ucap Heo lagi.
“Rasanya lebih baik kau bunuh aku saja
daripada aku harus menikah dengan orang yang sama sekali belum pernah ku
kenal,” ucapku.
“Namanya Kim Hyun Joong.”
“Bukan itu maksudku! Kenal yang lebih—aaah,
pokoknya yang seperti itulah!”
“Apa keuntunganku kalau aku menikah
dengannya?” sela pria bernama Kim Hyun Joong itu.
“Aku akan memberikan diskon secara
cuma-cuma. Hutang kalian masih tersisa tentu saja. Aku tidak ingin bangkrut
hanya karena kalian. Aku ingin selama kalian berdua menikah, kalian harus
mendapatkan uang lima juta won! Setelah lima juta won di tanganku, aku akan
menyerahkan semua keputusan pada kalian. Kalian mau berceraipun terserah!” ucap
Heo dengan ringannya.
“Lima juta…won?! Tapi, itu jumlah yang
besar!” protesku.
“Tapi, hutangmu sudah lebih dari lima kali
lipat jumlah itu!” telak Heo.
“Mana ada?”
“Ada, ditambah bunga yang belum pernah kau
lunasi.”
“Aaaah, sudahlah. Aku makin pusing. Jadi,
kapan kami harus menikah?” ucap Hyun Joong tiba-tiba. Aku terbelalak mendengar
keputusannya barusan.
“Besok siang. Aku sudah menyiapkan
semuanya!”
“Haaaah?!”
**
Heo benar-benar tidak main-main dengan
ucapannya. Pada keesokan hari setelah hari itu, aku dan Hyun Joong benar-benar
menikah. Entah apa maksud tersembunyi dari pernikahanku dengan Hyun Joong ini.
Aku sama sekali tidak mengerti.
Sudah sekitar dua puluh menit aku terdiam
di tepi ranjang. Sedangkan Hyun Joong tampak asyik dengan bukunya di sisi
ranjang yang berlawanan denganku. Aku tidak tahu harus bagaimana kalau sudah
seperti ini. Aku bingung harus memulai pembicaraan dari mana untuk mengisi
kekosongan yang terjadi saat ini.
“Ehm…” kudengar suara Hyun Joong meski
samar-samar. Aku menengok ke arahnya. Buku itu tak lagi ada di tangannya dan
sekarang ia merayap menuju ke arahku. “Jadi, bagaimana kita harus memulainya?”
.
Deg!
.
Apa-apaan dia itu? Baru berbicara sudah
mengatakan hal seperti itu!
“Me-memulai?” tanyaku agak tergagap. Ia mengangguk mantap.
“Memulai membagi tugas kerja agar kita bisa
cepat melunasi lima juta won itu…” sahutnya.
“Eh?”
“Jangan cuma menjawabnya dengan ‘eh?’. Kita
harus bekerja keras, kita tetapkan target. Kita harus berpisah secepat
mungkin,” ucap Hyun Joong.
“Eh? Kenapa?”
“Pernikahan ini hanya trik Heo-sshi
agar kita melunasi hutang kita dengan cepat. Lagipula, aku sudah punya kekasih.
Jadi, jangan pernah anggap pernikahan ini hal yang serius. Ini cuma status yang
dipaksakan, agar kita mampu melunasi lima juta won.”
“Ne, kita harus berusaha! Baiklah,
besok kita cari pekerjaan yang bagus bersama-sama, hm?” usulku.
“Ne, lebih baik kita tidur
sekarang.” Tanpa banyak kalimat yang diucapkannya, ia meninggalkanku dalam
tidurnya yang dalam sekejap kembali membuat suasana disergap keheningan. Aku
lekas menyusulnya, kubaringkan tubuhku di sampingnya dan lekas tidur.
**
Pagi-pagi sekali sebuah suara riuh
mengacaukan mimpiku. Aku terbangun, terusik suara di tengah keheningan itu.
Dengan malas aku bangkit dari ranjang tempatku semula tidur. Mataku mengerjap
melawan penerangan yang masuk lewat celah-celah gordyn putih itu. Ah, benar.
Aku lupa kalau aku sudah menikah. Aku tidak lagi tinggal sendirian, tapi aku
tinggal bersama seorang lelaki yang baru beberapa kali kutemui. Tiba-tiba saja
ia menjadi suamiku. Benar-benar mengejutkan!
“Kau sudah bangun?” suara itu terdengar
familiar. Aku menoleh. Yang pertama menyambutku adalah aroma sabun yang terkuak
dari dalam kamar mandi yang pintunya baru saja dibuka. Berselang kemudian seorang
pria dengan handuk yang baru saja melilit di lehernya keluar dari dalam sana.
Aku tersenyum ragu, “Kau sudah selesai
mandi, ya? Aku malah belum menyiapkan apapun untuk sarapan. Benar-benar istri
yang bodoh, ya?”
“Tidak perlu sungkan begitu. Lagipula
hubungan kita kan hanya status tanpa perasaan sama sekali. Jadi, hidup seperti
semula saja. Bedanya, kita harus tinggal bersama,” ucapnya sembari menuang air
ke dalam gelas bening di genggamannya.
“Arasseo…” aku mengangguk paham.
“Jadi, kita mulai hari ini, kan?”
Kulihat ia mengangguk penuh keyakinan. “Kita
harus bergerak cepat. Dengan begitu uang kita akan cepat terkumpul.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan siapkan
sarapan kemudian mandi, ok? Bagaimanapun aku tidak tega melihat orang sepertimu
akan kelaparan bersamaku,” ucapku bergegas menuju dapur.
“Eh, Jung So Min-sshi!”
Aku menoleh mendengar namaku dipanggil
dengan lantang, “Ada apa?”
“Gomawoh…” ucapnya mengukir segaris
senyum.
‘Ah, bagaimana dia bisa setampan itu saat
tersenyum?!’ gumamku dalam hati.
“…So Min-sshi? Jung So Min-sshi?”
“Eh?”
“Kau menyimak ucapanku?” tanyanya. Aku
mengangguk mengiyakan.
“Ngomong-ngomong, lain kali lebih baik kita
saling memanggil nama saja. Kurasa sebutan –sshi terdengar agak kaku.
Bagaimana?” usulku.
Ia mengangguk, “Aku setuju, So Min…”
.Just Married. . .
.to be continue~
Glosarium :
*Mianhae :
maaf
*-sshi :
sebutan untuk orang yang dihormati, baru kenal, dsb.
*Arasseo :
aku mengerti
*Ne :
iya
arigatou cerita baru nya..
BalasHapusSugoi.. ditunggu kelanjutannya ^^
Chuaa .. <3
BalasHapus