Rabu, 30 Mei 2012

Just Married [Just Call My Name, Ok? - Part I]


Title               : Just Married. . .

Sub-Title        : Just Call My Name, Ok?

Author           : dita-cHun

Type               : Multichapter

Part                : 1

Rating            : PG+12

Genre             : Romance, Comedy

Theme Song  : Davichi – My Man

Main Cast      :

*Kim Hyun-Joong

*Jung So-Min

*Heo Young-Saeng

Disclaimer     : All cast punya Tuhan! ^^ Adil, pan? xD

Warning        : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya

Note               : Jang jang! Ini dia ff request.an pairing Kim Hyun-Joong x Jung So-Min. Maaf, ya lama banget! ^/\^ Semoga puas sama ff ini! Bagi yang udah baca, tolong tinggalkan jejak ^^ Comment please :)








     Aku kembali melirik jam yang masih melingkar manis di pergelangan tanganku. Kemudian kembali kualihkan pandanganku pada pria yang masih duduk diam di hadapanku. Seorang pria lain di sampingnya berdehem sekilas hingga membangunkan pria tersebut dari lamunan.

     “Mianhae. Tapi, apa tidak bisa dipikirkan ulang? Ini terlalu ekstrim untuk jadi pilihan, Heo-sshi…” ucap pria berlabel Kim Hyun Joong itu dengan suara begitu pelan.

     “Tidak bisa. Bagaimanapun kau sudah tidak mungkin bisa membayar hutang-hutangmu yang sudah lebih dari air yang mengalir di sungai Han itu!” tolak pria yang disebut Heo-sshi barusan itu. Menurut catatan kelahiran, pria ini memiliki nama asli Heo Young Saeng. Sejak usia dua puluh dua ia sudah menggantikan posisi ayahnya yang tak lain adalah seorang rentenir ulung. Dan kali ini ia tengah berhadapan dengan kedua korbannya yang sudah tak mampu lagi membayar hutangnya. Dua orang itu tak lain adalah Kim Hyun Joong dan aku. Astaga…

     “Menurutku, pernikahan juga bukan hal yang main-main…” ucap Hyun Joong lagi. Kali ini ucapannya disambut dengan suara meja yang baru saja dipukul Heo keras-keras. “Kau pikir aku main-main, huh?!” bola mata Heo nyaris saja keluar anda saja ia tak menutup kembali kelopak matanya.

     Sejak tadi mereka terus bergelut alibi. Sementara aku yang tidak tahu harus bagaimana menolak hal ini hanya diam dengan perasaan bergemuruh hebat. Pasalnya, kali ini ia menyuruhku menikah dengan pria di hadapanku ini! Bayangkan saja bagaimana nanti menderitanya aku begitu aku menikah dengan orang yang sama sekali belum pernah kukenal?!

     “Jung So Min-sshi,” suara berat itu kembali menyapaku secara mendadak. Sontak aku mengangkat pandanganku yang semula tertunduk. “Kelihatannya kau terima-terima saja atas keputusanku kali ini…”

     Aku menghela nafas singkat, “Mau bagaimana lagi, kan? Hutangku terlalu banyak dan aku tidak punya alibi yang bagus untuk membuatmu berubah pikiran.”

     “Kau lihat, Kim Hyun Joong-sshi? Calon istrimu orang yang blak-blakan sekali, kan?” goda Heo pada lelaki di sampingnya.

     Aku mendengus kesal, “Kau menghina, ya?”

     “Bukan, aku memuji, kok.” Ucap Heo singkat tanpa menunjukkan ekspresi apapun.

     “Ck…”

     “Tenang saja. Kenapa wajah kalian berdua begitu kusut? Aku kan hanya ingin kalian menikah, bukannya menyuruh kalian mati,” ucap Heo lagi.

     “Rasanya lebih baik kau bunuh aku saja daripada aku harus menikah dengan orang yang sama sekali belum pernah ku kenal,” ucapku.

     “Namanya Kim Hyun Joong.”

     “Bukan itu maksudku! Kenal yang lebih—aaah, pokoknya yang seperti itulah!”

     “Apa keuntunganku kalau aku menikah dengannya?” sela pria bernama Kim Hyun Joong itu.

     “Aku akan memberikan diskon secara cuma-cuma. Hutang kalian masih tersisa tentu saja. Aku tidak ingin bangkrut hanya karena kalian. Aku ingin selama kalian berdua menikah, kalian harus mendapatkan uang lima juta won! Setelah lima juta won di tanganku, aku akan menyerahkan semua keputusan pada kalian. Kalian mau berceraipun terserah!” ucap Heo dengan ringannya.

     “Lima juta…won?! Tapi, itu jumlah yang besar!” protesku.

     “Tapi, hutangmu sudah lebih dari lima kali lipat jumlah itu!” telak Heo.

     “Mana ada?”

     “Ada, ditambah bunga yang belum pernah kau lunasi.”

     “Aaaah, sudahlah. Aku makin pusing. Jadi, kapan kami harus menikah?” ucap Hyun Joong tiba-tiba. Aku terbelalak mendengar keputusannya barusan.

     “Besok siang. Aku sudah menyiapkan semuanya!”

     “Haaaah?!”

**

     Heo benar-benar tidak main-main dengan ucapannya. Pada keesokan hari setelah hari itu, aku dan Hyun Joong benar-benar menikah. Entah apa maksud tersembunyi dari pernikahanku dengan Hyun Joong ini. Aku sama sekali tidak mengerti.

     Sudah sekitar dua puluh menit aku terdiam di tepi ranjang. Sedangkan Hyun Joong tampak asyik dengan bukunya di sisi ranjang yang berlawanan denganku. Aku tidak tahu harus bagaimana kalau sudah seperti ini. Aku bingung harus memulai pembicaraan dari mana untuk mengisi kekosongan yang terjadi saat ini.

     “Ehm…” kudengar suara Hyun Joong meski samar-samar. Aku menengok ke arahnya. Buku itu tak lagi ada di tangannya dan sekarang ia merayap menuju ke arahku. “Jadi, bagaimana kita harus memulainya?”

.

Deg!

.

     Apa-apaan dia itu? Baru berbicara sudah mengatakan hal seperti itu!

     “Me-memulai?” tanyaku agak  tergagap. Ia mengangguk mantap.

     “Memulai membagi tugas kerja agar kita bisa cepat melunasi lima juta won itu…” sahutnya.

     “Eh?”

     “Jangan cuma menjawabnya dengan ‘eh?’. Kita harus bekerja keras, kita tetapkan target. Kita harus berpisah secepat mungkin,” ucap Hyun Joong.

     “Eh? Kenapa?”

     “Pernikahan ini hanya trik Heo-sshi agar kita melunasi hutang kita dengan cepat. Lagipula, aku sudah punya kekasih. Jadi, jangan pernah anggap pernikahan ini hal yang serius. Ini cuma status yang dipaksakan, agar kita mampu melunasi lima juta won.”

     “Ne, kita harus berusaha! Baiklah, besok kita cari pekerjaan yang bagus bersama-sama, hm?” usulku.

     “Ne, lebih baik kita tidur sekarang.” Tanpa banyak kalimat yang diucapkannya, ia meninggalkanku dalam tidurnya yang dalam sekejap kembali membuat suasana disergap keheningan. Aku lekas menyusulnya, kubaringkan tubuhku di sampingnya dan lekas tidur.

**

     Pagi-pagi sekali sebuah suara riuh mengacaukan mimpiku. Aku terbangun, terusik suara di tengah keheningan itu. Dengan malas aku bangkit dari ranjang tempatku semula tidur. Mataku mengerjap melawan penerangan yang masuk lewat celah-celah gordyn putih itu. Ah, benar. Aku lupa kalau aku sudah menikah. Aku tidak lagi tinggal sendirian, tapi aku tinggal bersama seorang lelaki yang baru beberapa kali kutemui. Tiba-tiba saja ia menjadi suamiku. Benar-benar mengejutkan!

     “Kau sudah bangun?” suara itu terdengar familiar. Aku menoleh. Yang pertama menyambutku adalah aroma sabun yang terkuak dari dalam kamar mandi yang pintunya baru saja dibuka. Berselang kemudian seorang pria dengan handuk yang baru saja melilit di lehernya keluar dari dalam sana.

     Aku tersenyum ragu, “Kau sudah selesai mandi, ya? Aku malah belum menyiapkan apapun untuk sarapan. Benar-benar istri yang bodoh, ya?”

     “Tidak perlu sungkan begitu. Lagipula hubungan kita kan hanya status tanpa perasaan sama sekali. Jadi, hidup seperti semula saja. Bedanya, kita harus tinggal bersama,” ucapnya sembari menuang air ke dalam gelas bening di genggamannya.

     “Arasseo…” aku mengangguk paham. “Jadi, kita mulai hari ini, kan?”

     Kulihat ia mengangguk penuh keyakinan. “Kita harus bergerak cepat. Dengan begitu uang kita akan cepat terkumpul.”

     “Baiklah, kalau begitu aku akan siapkan sarapan kemudian mandi, ok? Bagaimanapun aku tidak tega melihat orang sepertimu akan kelaparan bersamaku,” ucapku bergegas menuju dapur.

     “Eh, Jung So Min-sshi!”

     Aku menoleh mendengar namaku dipanggil dengan lantang, “Ada apa?”

     “Gomawoh…” ucapnya mengukir segaris senyum.

     ‘Ah, bagaimana dia bisa setampan itu saat tersenyum?!’ gumamku dalam hati.

     “…So Min-sshi? Jung So Min-sshi?”

     “Eh?”

     “Kau menyimak ucapanku?” tanyanya. Aku mengangguk mengiyakan.

     “Ngomong-ngomong, lain kali lebih baik kita saling memanggil nama saja. Kurasa sebutan –sshi terdengar agak kaku. Bagaimana?” usulku.

     Ia mengangguk, “Aku setuju, So Min…”





.Just Married. . .



.to be continue~




Glosarium     :

*Mianhae       : maaf
*-sshi               : sebutan untuk orang yang dihormati, baru kenal, dsb.
*Arasseo         : aku mengerti
*Ne                 : iya


2 komentar: