Senin, 14 Mei 2012

Sayonara~ [Good Bye]


Title                      : Sayonara~ (Good Bye~)

Author                 : dita-cHun

Type                     : Oneshot

Genre                   : Romance, Angst

Rating                   : PG+12

Alur                      : Mundur—tapi begitu sampai di akhir, alur akan kembali maju #mungkin akan membingungkan#

Music                   : Sayonara no Kioku by Oku Hanako

POV                     : Author

Main Cast             :

#Yamada Ryosuke

#Mizusawa Sayuri (OC)

Disclaimer            : Yamada Ryosuke adalah milik Tuhan, sedangkan Mizusawa Sayuri adalah murni milik saya #plak# Adil, pan? Oya, no bashing. Mau bashing? Boleh~ Karena saya gak takut dengan bash-bash-an macam apapun… Syalalalalala~ XD

Warning               : gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~






.

.

     “Sayuri-chan, kumohon jangan pergi~” ucap Ryosuke terisak. Ia sudah ratusan kali memohon pada Sayuri. Memohon agar gadis itu membatalkan keputusannya untuk pergi. Namun, seolah semilir angin, tiada gubrisan apapun dari Sayuri atas permohonan Ryosuke.

     “Sayuri-chan, kumohon…” suara itu sudah mulai serak. Sayuri masih saja diam—menundukkan kepalanya. Ia tak mampu berucap, meski itu sepatah kata. Ia takut air mata yang susah payah ditahannya itu pecah. Ia ingin menunjukkan ketegarannya atau setidaknya mengatakan, “Daijoubu, Ryo-chan~” Namun, kalimat itu tak pernah terucap. Sampai kereta itu tiba.

Ryosuke hanya terus memohon pada—mantan—kekasihnya itu. Mana rela ia kehilangan orang yang dicintainya. Sayuri melangkah gontai memasuki salah satu pintu kereta. Samar-samar Ryosuke mendengar suaranya.

     “Sayonara~ Ryo-chan…” akhirnya tangis gadis itu pun benar-benar pecah saat itu. Ia segera masuk ke bagian kereta yang lebih dalam. Menjauh dari pandangan Ryosuke—mantan—kekasih yang juga sangat dicintainya. Sampai sekarang pun cinta itu tidak sama sekali redup. Hanya kesempatan yang membuat mereka berpisah. Sayuri mengerti benar itu. Sesungguhnya, ia tak rela membuat kepastian yang telah diucapkannya sekitar 17 menit yang lalu. Tapi, ia tak mungkin juga pergi dengan menggantungkan segala keputusan. Atau meninggalkan janji-janji yang tak pasti ia dapat menepatinya. Janji-janji palsu. Mana rela?

.

.

     Ryosuke masih diam terpaku di tempatnya, berdiri dengan tubuh gemetar. Airmatanya masih terus mengalir, kian lama kian deras, seiring menghilangnya kereta tujuan Osaka itu dari pandangannya. Airmata itu… Tangisan itu… Bukanlah sama dengan tangisan yang meluap ketika balon tak bulat lagi. Ketika seluruh isinya menguap dari kulitnya yang sudah tak berbentuk lagi. Ketika tangkainya sudah melemah dan menyentuh tanah. Tak sama dengan keperihan itu. Kali ini sangat menyakitkan. Lebih sakit daripada saat kau jatuh dari sepeda saat usiamu masih balita.

     “Sayuri-chan…” gumam Ryosuke di sela-sela tangisnya. Ia tahu bahwa dirinya adalah seorang pria. Pria yang keinginannya bukan hanya sekedar bola sepak yang mengasyikkan itu. Tapi, pria juga seorang manusia, bukan?

Setiap tetes airmata yang melesat turun, membasahi kemejanya, adalah tiap kepingan harga dirinya. Dan entah sudah berapa tetes airmata itu jatuh dari pelupuk matanya. Ia tak peduli lagi dengan lirikan tajam dari setiap mata disisi kanan dan kirinya, yang memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Ia tak peduli lagi. Ia hanya ingin satu hal.

     “Kembalilah… Sayuri-chan… Aishiteru… Aishiteru…” gumam Ryosuke pelan.

**********************************************************************************

     “Eh? Sayuri-chan, nani? (ada apa?)” tanya Ryosuke yang baru tiba di depan pintu stasiun kereta. Dengan senyum mengembang seperti biasanya tentunya. Pria itu sudah tak sabar ingin tahu penyebab kekasihnya—Sayuri—mengajaknya ke stasiun tiba-tiba. Memang sesuatu yang tidak biasa…

     Gadis bernama Sayuri itu perlahan tapi pasti menundukkan kepalanya—memejamkan matanya sejenak. Sebelum ia melontarkan kalimatnya, ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Berharap batinnya bisa diajaknya berkompromi.

     “Anoo, Ryo-chan… Kita… Berpisah saja…”

.

DEG!

.

Ryosuke terbelalak mendengar kalimat Sayuri. Ia benar-benar tak percaya kekasihnya itu mengatakan hal itu.

     “Demo, Sayuri-chan… Doushite? (tapi, Sayuri-chan… Kenapa?)” tanya Ryosuke, protes  akan keputusan Sayuri yang sangat tiba-tiba.

     “Aku harus memperjuangkan cita-citaku, Ryo-chan~ Cita-cita yang sudah kuinginkan sejak kecil… Gomen… (maaf)” ucap Sayuri lalu merendahkan tubuhnya sedikit.

     “Hontou ni gomennasai~” lanjutnya.

.

TES!

.

Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Sayuri. Buru-buru ia menghapusnya. Ia tak ingin Ryosuke semakin sedih dengan kepergiannya. Setidaknya menunjukkan setitik ketegarannya yang sudah merapuh.

     “Demo, Sayuri-chan~ Bukankah tanpa berpisahpun kau bisa?” Ryosuke pantang menyerah. Ia berargumen, menahan kepergian Sayuri.

     “Tidak bisa. Tidak bisa, Ryo-chan~ Gomennasai… (maaf)” ucap Sayuri. Suaranya turun satu oktaf.

     “Jangan minta maaf! Aku bukannya ingin maafmu!” kali ini justru Ryosuke yang mulai emosi. Airmatanya ikut mengalir bersama kecemasan dalam batinnya.

     “Berjanjilah… Berjanjilah kita akan berjumpa lagi… Apa sesulit itu?” Ryosuke menggenggam kedua pundak Sayuri kuat.

     “Ittai ne~ Ittai, Ryo-chan… (sakit~ sakit, Ryo-chan)” rintih Sayuri pelan.

     “Berjanjilah, Sayuri-chan!” teriak Ryosuke. Tangisnya makin deras. Sedetik kemudian ia menelungkupkan kepalanya di bahu Sayuri.

     “Aku… tidak bisa, Ryo-chan…” Sayuri melepaskan pelukan Ryosuke.

     “Kumohon~” ucap Ryosuke.

     “Sayonara… (selamat tinggal)” ucap Sayuri sembari memasuki pintu masuk stasiun.

***********************************************************************************

     “Ryo-chan, kalau suatu saat kita menikah… Kau mau kita punya berapa anak?” tanya Sayuri sambil tiduran di atas pangkuan kekasihnya itu.

     “Hm? Menurutmu bagaimana? Kau ingin punya berapa anak?” tanya Ryosuke balik.

     “Aku? Kalau aku ingin kita mempunya tiga anak!” ucap Sayuri semangat sambil mengacungkan tiga jarinya ke hadapan Ryosuke. Ryosuke yang melihatnya hanya terkekeh kecil.

     “Wah… banyak sekali…” ucap Ryosuke.

     “Eh? Bukankah itu cuma tiga anak! Harusnya kau bersyukur aku tidak bilang meminta sebelas anak untuk tim kesebelasan sepak bola!” Sayuri menggembungkan pipinya, protes akan kalimat Ryosuke barusan. Ryosuke hanya tertawa kecil.

     “Memangnya kau bisa melahirkan sebelas anak untuk timku?” goda Ryosuke. Sayuri lekas bangun dari tempatnya dan mengambil posisi yang pas untuknya duduk.

     “Aku tidak mau!” ucap Sayuri.

     “Hahaha… Makanya, jangan bilang begitu…” ucap Ryosuke.

     “Ryo-chan, kalau suatu saat aku harus pergi bagaimana? Apa kau akan menungguku? Hm?” tanya Sayuri.

     “Tentu. Aku akan menunggumu,” ucap Ryosuke mantap diikuti senyuman Sayuri.

     “Arigatou, Ryo-chan~” ucap Sayuri lembut sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ryosuke.

**********************************************************************************

     “Ryo-chan, capek sekali kencan hari ini!” gerutu Sayuri.

     “Apa kau tidak senang?” tanya Ryosuke.

     “Iie… (tidak) Aku senang, kok… Aku hanya merasa hari ini lebih melelahkan dari hari biasanya…” ucap Sayuri.

     “Ahh~ souka… (ahh~begitu) Baiklah, cepat istirahat, ya~” ucap Ryosuke.

     “Hai’. Ryo-chan, jaa ne… (baik. Ryo-chan, bye)” ucap Sayuri sejenak sebelum memasuki rumah.

     “Jaa… Mimpikan aku, ya?” goda Ryosuke.

     “Tidak akan! Week… :P” seru Sayuri lalu benar-benar masuk ke dalam rumah.

***********************************************************************************

     ‘Aku pasti bisa! Ganbatte, Ryo-chan! (semangat, Ryo-chan)’ seru Ryosuke dalam hati. Ia melangkah mantap melewati koridor sekolah sambil menggenggam sebuah kotak berukuran sedang yang entah apa isinya. Dari ekspresinya, tampak sekali ia sangat bahagia bercampur cemas. Dengan sigap, ia menyembunyikan kotak itu di belakang punggungnya.

     “Eh, Yamada-kun? Kau bukannya kelas 3F? Apa kau mencari seseorang?” tanya seorang siswi yang menghampiri Ryosuke dari dalam kelas.

     “Ah, benar. Itu… Aku mencari Mizusawa-chan…” ucap Ryosuke tersipu.

     “Ah~ sayang sekali! Dia baru saja pergi!” seru siswi itu. Tiba-tiba ia membelalak melihat ke arah belakang Ryosuke.

     “Eh, Sayuri-chan, Yamada-kun mencarimu, nih!” lanjutnya.

     “Eh? Yamada-kun… Ada apa?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang Ryosuke. Tepat. Itu… Mizusawa Sayuri.

     ‘Kusso! (Sialan!) Kenapa jadi begini?’ batin Ryosuke.

     “Eh? Kau membawa kado untuk siapa? Hm?” tanya Sayuri sembari menggores segaris senyum di wajahnya.

     “A… Anoo…” Ryosuke tergagap.

     ‘Ryo-chan no baka! (Ryo-chan bodoh!)’ umpat Ryosuke pada dirinya sendiri.

     “Ada yang ingin kubicarakan, Sayuri-chan! Ikou! (ayo!)” tanpa sadar Ryosuke menggenggam tangan Sayuri, membawa gadis itu ke belakang sekolah.

     “Eh? Nani? (ada apa?)” tanya Sayuri bingung.

     “Aishiteru, Mizusawa-chan!” seru Ryosuke sambil mengulurkan kotak itu ke hadapan Sayuri.

     “EEHH??”

     “Eh? Nande? (kenapa?) Kau… tidak menyukaiku, kah?” tanya Ryosuke ragu.

     “Iie… A… Aishiteru mo~ Yamada-kun…” ucap Sayuri tersipu.

     “Ryo-chan. Mulai sekarang panggil aku Ryo-chan,” ucap Ryosuke.

     “Ha… Hai’… Dan… Panggil aku Sayuri-chan saja…” ucap Sayuri tergagap—masih tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Ryosuke tersenyum lebih lebar dari sebelumnya.

     “Jangan tersenyum begitu… Aku meleleh…” ucap Sayuri polos.

     “Hahaha… Benarkah?” goda Ryosuke.

     “Yamete, Ryo-chan… (hentikan, Ryo-chan)” ucap Sayuri makin tersipu.

     “Kau manis sekali, Sayuri-chan~” ucap Ryosuke—sukses membuat Sayuri berlari ke kelasnya. Ia sudah sangat meleleh saat itu.

***********************************************************************************

     Sejak kepergian Sayuri hari itu… Setiap sore Ryosuke selalu berdiri di stasiun… Ia berharap Sayuri kembali padanya…

     ‘Sayuri-chan… Apa hari ini kau akan datang?’ batin Ryosuke.
Hal itu terus berulang sejak enam bulan lalu. Terus berulang saat ia teringat akan janjinya pada Sayuri hari itu.

.

.

     “Ryo-chan, kalau suatu saat aku harus pergi bagaimana? Apa kau akan menungguku? Hm?”

     “Tentu. Aku akan menunggumu.”

.

.

Dan Sayuri… Tidak pernah kembali sejak hari itu… Sekalipun tidak…






________the end_________

1 komentar:

  1. .... o.O
    Ryo kasihn banget.... ><
    Tapi.. Sayuri ke mana? kok Ga balik-balik? ><
    Kan Ryo udah nunggu lama~.... ><

    ceritanya keren ci! ><
    kapan-kapan bikin yang lebih sedih lagi ya~ xD*plakk
    AKu tunggu lho.. Wkwk....*geplak

    Ganbatte nee~ xD
    -Anna

    BalasHapus