Title : Sayonara~ (Good Bye~)
Author : dita-cHun
Type : Oneshot
Genre : Romance, Angst
Rating : PG+12
Alur : Mundur—tapi begitu
sampai di akhir, alur akan kembali maju #mungkin akan membingungkan#
Music : Sayonara no Kioku by Oku
Hanako
POV : Author
Main
Cast :
#Yamada
Ryosuke
#Mizusawa
Sayuri (OC)
Disclaimer : Yamada Ryosuke adalah milik Tuhan,
sedangkan Mizusawa Sayuri adalah murni milik saya #plak# Adil, pan? Oya, no
bashing. Mau bashing? Boleh~ Karena saya gak takut dengan bash-bash-an macam
apapun… Syalalalalala~ XD
Warning : gaje binti abal ~segala
kekurangan adalah milik saya~
.
.
“Sayuri-chan,
kumohon jangan pergi~” ucap Ryosuke terisak. Ia sudah ratusan kali memohon pada
Sayuri. Memohon agar gadis itu membatalkan keputusannya untuk pergi. Namun,
seolah semilir angin, tiada gubrisan apapun dari Sayuri atas permohonan
Ryosuke.
Ryosuke hanya terus memohon pada—mantan—kekasihnya
itu. Mana rela ia kehilangan orang yang dicintainya. Sayuri melangkah gontai
memasuki salah satu pintu kereta. Samar-samar Ryosuke mendengar suaranya.
“Sayonara~
Ryo-chan…” akhirnya tangis gadis itu pun benar-benar pecah saat itu. Ia segera
masuk ke bagian kereta yang lebih dalam. Menjauh dari pandangan
Ryosuke—mantan—kekasih yang juga sangat dicintainya. Sampai sekarang pun cinta
itu tidak sama sekali redup. Hanya kesempatan yang membuat mereka berpisah. Sayuri
mengerti benar itu. Sesungguhnya, ia tak rela membuat kepastian yang telah
diucapkannya sekitar 17 menit yang lalu. Tapi, ia tak mungkin juga pergi dengan
menggantungkan segala keputusan. Atau meninggalkan janji-janji yang tak pasti
ia dapat menepatinya. Janji-janji palsu. Mana rela?
.
.
Ryosuke
masih diam terpaku di tempatnya, berdiri dengan tubuh gemetar. Airmatanya masih
terus mengalir, kian lama kian deras, seiring menghilangnya kereta tujuan Osaka
itu dari pandangannya. Airmata itu… Tangisan itu… Bukanlah sama dengan tangisan
yang meluap ketika balon tak bulat lagi. Ketika seluruh isinya menguap dari
kulitnya yang sudah tak berbentuk lagi. Ketika tangkainya sudah melemah dan
menyentuh tanah. Tak sama dengan keperihan itu. Kali ini sangat menyakitkan.
Lebih sakit daripada saat kau jatuh dari sepeda saat usiamu masih balita.
“Sayuri-chan…”
gumam Ryosuke di sela-sela tangisnya. Ia tahu bahwa dirinya adalah seorang
pria. Pria yang keinginannya bukan hanya sekedar bola sepak yang mengasyikkan
itu. Tapi, pria juga seorang manusia, bukan?
Setiap tetes airmata yang melesat turun,
membasahi kemejanya, adalah tiap kepingan harga dirinya. Dan entah sudah berapa
tetes airmata itu jatuh dari pelupuk matanya. Ia tak peduli lagi dengan lirikan
tajam dari setiap mata disisi kanan dan kirinya, yang memperhatikannya dari
ujung kaki hingga ujung rambutnya. Ia tak peduli lagi. Ia hanya ingin satu hal.
“Kembalilah…
Sayuri-chan… Aishiteru… Aishiteru…” gumam Ryosuke pelan.
**********************************************************************************
“Eh?
Sayuri-chan, nani? (ada apa?)” tanya Ryosuke yang baru tiba di depan pintu
stasiun kereta. Dengan senyum mengembang seperti biasanya tentunya. Pria itu
sudah tak sabar ingin tahu penyebab kekasihnya—Sayuri—mengajaknya ke stasiun
tiba-tiba. Memang sesuatu yang tidak biasa…
Gadis
bernama Sayuri itu perlahan tapi pasti menundukkan kepalanya—memejamkan matanya
sejenak. Sebelum ia melontarkan kalimatnya, ia menarik nafas dalam-dalam dan
menghembuskannya. Berharap batinnya bisa diajaknya berkompromi.
“Anoo,
Ryo-chan… Kita… Berpisah saja…”
.
DEG!
.
Ryosuke terbelalak mendengar kalimat Sayuri. Ia
benar-benar tak percaya kekasihnya itu mengatakan hal itu.
“Demo,
Sayuri-chan… Doushite? (tapi, Sayuri-chan… Kenapa?)” tanya Ryosuke, protes akan keputusan Sayuri yang sangat tiba-tiba.
“Aku
harus memperjuangkan cita-citaku, Ryo-chan~ Cita-cita yang sudah kuinginkan
sejak kecil… Gomen… (maaf)” ucap Sayuri lalu merendahkan tubuhnya sedikit.
“Hontou
ni gomennasai~” lanjutnya.
.
TES!
.
Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata
Sayuri. Buru-buru ia menghapusnya. Ia tak ingin Ryosuke semakin sedih dengan
kepergiannya. Setidaknya menunjukkan setitik ketegarannya yang sudah merapuh.
“Demo,
Sayuri-chan~ Bukankah tanpa berpisahpun kau bisa?” Ryosuke pantang menyerah. Ia
berargumen, menahan kepergian Sayuri.
“Tidak
bisa. Tidak bisa, Ryo-chan~ Gomennasai… (maaf)” ucap Sayuri. Suaranya turun
satu oktaf.
“Jangan
minta maaf! Aku bukannya ingin maafmu!” kali ini justru Ryosuke yang mulai
emosi. Airmatanya ikut mengalir bersama kecemasan dalam batinnya.
“Berjanjilah…
Berjanjilah kita akan berjumpa lagi… Apa sesulit itu?” Ryosuke menggenggam
kedua pundak Sayuri kuat.
“Ittai
ne~ Ittai, Ryo-chan… (sakit~ sakit, Ryo-chan)” rintih Sayuri pelan.
“Berjanjilah,
Sayuri-chan!” teriak Ryosuke. Tangisnya makin deras. Sedetik kemudian ia
menelungkupkan kepalanya di bahu Sayuri.
“Aku…
tidak bisa, Ryo-chan…” Sayuri melepaskan pelukan Ryosuke.
“Kumohon~”
ucap Ryosuke.
“Sayonara…
(selamat tinggal)” ucap Sayuri sembari memasuki pintu masuk stasiun.
***********************************************************************************
“Ryo-chan,
kalau suatu saat kita menikah… Kau mau kita punya berapa anak?” tanya Sayuri
sambil tiduran di atas pangkuan kekasihnya itu.
“Hm?
Menurutmu bagaimana? Kau ingin punya berapa anak?” tanya Ryosuke balik.
“Aku?
Kalau aku ingin kita mempunya tiga anak!” ucap Sayuri semangat sambil
mengacungkan tiga jarinya ke hadapan Ryosuke. Ryosuke yang melihatnya hanya
terkekeh kecil.
“Wah…
banyak sekali…” ucap Ryosuke.
“Eh?
Bukankah itu cuma tiga anak! Harusnya kau bersyukur aku tidak bilang meminta
sebelas anak untuk tim kesebelasan sepak bola!” Sayuri menggembungkan pipinya,
protes akan kalimat Ryosuke barusan. Ryosuke hanya tertawa kecil.
“Memangnya
kau bisa melahirkan sebelas anak untuk timku?” goda Ryosuke. Sayuri lekas
bangun dari tempatnya dan mengambil posisi yang pas untuknya duduk.
“Aku
tidak mau!” ucap Sayuri.
“Hahaha…
Makanya, jangan bilang begitu…” ucap Ryosuke.
“Ryo-chan,
kalau suatu saat aku harus pergi bagaimana? Apa kau akan menungguku? Hm?” tanya
Sayuri.
“Tentu.
Aku akan menunggumu,” ucap Ryosuke mantap diikuti senyuman Sayuri.
“Arigatou,
Ryo-chan~” ucap Sayuri lembut sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ryosuke.
**********************************************************************************
“Ryo-chan,
capek sekali kencan hari ini!” gerutu Sayuri.
“Apa
kau tidak senang?” tanya Ryosuke.
“Iie…
(tidak) Aku senang, kok… Aku hanya merasa hari ini lebih melelahkan dari hari
biasanya…” ucap Sayuri.
“Ahh~
souka… (ahh~begitu) Baiklah, cepat istirahat, ya~” ucap Ryosuke.
“Hai’.
Ryo-chan, jaa ne… (baik. Ryo-chan, bye)” ucap Sayuri sejenak sebelum memasuki
rumah.
“Jaa…
Mimpikan aku, ya?” goda Ryosuke.
“Tidak
akan! Week… :P” seru Sayuri lalu benar-benar masuk ke dalam rumah.
***********************************************************************************
‘Aku
pasti bisa! Ganbatte, Ryo-chan! (semangat, Ryo-chan)’ seru Ryosuke dalam hati.
Ia melangkah mantap melewati koridor sekolah sambil menggenggam sebuah kotak
berukuran sedang yang entah apa isinya. Dari ekspresinya, tampak sekali ia
sangat bahagia bercampur cemas. Dengan sigap, ia menyembunyikan kotak itu di
belakang punggungnya.
“Eh,
Yamada-kun? Kau bukannya kelas 3F? Apa kau mencari seseorang?” tanya seorang
siswi yang menghampiri Ryosuke dari dalam kelas.
“Ah,
benar. Itu… Aku mencari Mizusawa-chan…” ucap Ryosuke tersipu.
“Ah~
sayang sekali! Dia baru saja pergi!” seru siswi itu. Tiba-tiba ia membelalak
melihat ke arah belakang Ryosuke.
“Eh,
Sayuri-chan, Yamada-kun mencarimu, nih!” lanjutnya.
“Eh?
Yamada-kun… Ada apa?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang
Ryosuke. Tepat. Itu… Mizusawa Sayuri.
‘Kusso!
(Sialan!) Kenapa jadi begini?’ batin Ryosuke.
“Eh?
Kau membawa kado untuk siapa? Hm?” tanya Sayuri sembari menggores segaris
senyum di wajahnya.
“A…
Anoo…” Ryosuke tergagap.
‘Ryo-chan
no baka! (Ryo-chan bodoh!)’ umpat Ryosuke pada dirinya sendiri.
“Ada
yang ingin kubicarakan, Sayuri-chan! Ikou! (ayo!)” tanpa sadar Ryosuke
menggenggam tangan Sayuri, membawa gadis itu ke belakang sekolah.
“Eh?
Nani? (ada apa?)” tanya Sayuri bingung.
“Aishiteru,
Mizusawa-chan!” seru Ryosuke sambil mengulurkan kotak itu ke hadapan Sayuri.
“EEHH??”
“Eh?
Nande? (kenapa?) Kau… tidak menyukaiku, kah?” tanya Ryosuke ragu.
“Iie…
A… Aishiteru mo~ Yamada-kun…” ucap Sayuri tersipu.
“Ryo-chan.
Mulai sekarang panggil aku Ryo-chan,” ucap Ryosuke.
“Ha…
Hai’… Dan… Panggil aku Sayuri-chan saja…” ucap Sayuri tergagap—masih tak
percaya dengan apa yang barusan terjadi. Ryosuke tersenyum lebih lebar dari
sebelumnya.
“Jangan
tersenyum begitu… Aku meleleh…” ucap Sayuri polos.
“Hahaha…
Benarkah?” goda Ryosuke.
“Yamete,
Ryo-chan… (hentikan, Ryo-chan)” ucap Sayuri makin tersipu.
“Kau
manis sekali, Sayuri-chan~” ucap Ryosuke—sukses membuat Sayuri berlari ke
kelasnya. Ia sudah sangat meleleh saat itu.
***********************************************************************************
Sejak
kepergian Sayuri hari itu… Setiap sore Ryosuke selalu berdiri di stasiun… Ia
berharap Sayuri kembali padanya…
‘Sayuri-chan…
Apa hari ini kau akan datang?’ batin Ryosuke.
Hal itu terus berulang sejak enam bulan lalu.
Terus berulang saat ia teringat akan janjinya pada Sayuri hari itu.
.
.
“Ryo-chan, kalau suatu saat aku harus pergi
bagaimana? Apa kau akan menungguku? Hm?”
“Tentu. Aku akan menunggumu.”
.
.
Dan Sayuri… Tidak pernah kembali sejak hari
itu… Sekalipun tidak…
________the
end_________
.... o.O
BalasHapusRyo kasihn banget.... ><
Tapi.. Sayuri ke mana? kok Ga balik-balik? ><
Kan Ryo udah nunggu lama~.... ><
ceritanya keren ci! ><
kapan-kapan bikin yang lebih sedih lagi ya~ xD*plakk
AKu tunggu lho.. Wkwk....*geplak
Ganbatte nee~ xD
-Anna