Sabtu, 12 Mei 2012

Umbrella. . .


Title               : Umbrella. . .

Author           : dita-cHun

Type               : Ficlet [1.382 words—9 halaman Ms. Word]

Rating            : PG+12

Genre             : AU, Romance, Angst

Theme Song  :

Main Cast      :

*Yamada Ryosuke

*Nishiuchi Mariya

*Hongo Kanata

Disclaimer     : All cast punya Tuhan, tapi saya nyewa buat ff ini! >w< *diblender*

Warning        : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya













     Hari ini mendung sudah hampir setengah hari menghiasi langit Tokyo. Di siang musim panas seperti ini tidak biasanya langit tiba-tiba mendung tanpa titik hujan. Seharusnya beberapa ratus orang saat ini sedang asyik berjemur di pantai menghabiskan liburan musim panas. Namun, perkiraan cuaca hari ini tidak bagus. Ombak di pantai lebih tinggi dari biasanya sehingga tidak banyak orang yang pergi ke sana, selain penyuka olahraga surfing tentu saja.


     Aku sendiri, Yamada Ryosuke, tengah duduk di halte kurang lebih seperempat jam demi menunggu bus tujuanku pulang. Tidak banyak yang kulakukan di sini sepanjang seperempat jam terakhir. Aku hanya mendengarkan siaran radio berita tentang cuaca hari ini lewat headset yang tersambung dengan ponselku.

     Kurang lebih lima menit kemudian aku mendapati bus tujuanku telah sampai di hadapanku. Dengan sigap kulangkahkan kakiku menpaki tangga pertama bus. Sampai di dalam aku lekas mengedarkan pandanganku, mencari tempat duduk yang pas untukku menopang rasa lelah sepulang sekolah. Rupanya semua bangku bus nyaris terisi, kecuali satu bangku nomor delapan pada baris ke empat. Kulihat seorang wanita tengah duduk pada bangku nomor tujuh, tepatnya di samping bangkuku.

     “E, permisi. Apa bangku ini kosong?” tanyaku sesopan mungkin. Wanita itu menoleh, membuat sekilas pandangan kami bertemu. Sialan, wanita ini sangat cantik, pikirku.

     “Kurasa begitu,” jawabnya kemudian.

     “Souka,” aku mengangguk paham dan lekas duduk pada bangku tersebut.

     Diam-diam aku mencuri pandang pada gadis itu. Dari jarak sekian sentimeterpun aku dapat mencium aroma parfumnya yang menyeruak sampai ke hidungku, olive fragrance. Kelihatannya wanita ini beberapa tahun lebih tua dariku. Dari dandanannya yang cukup berlebihan, aku menyimpulkan demikian.

     Demi apapun, wanita ini benar-benar cantik!

     “Ah, konnichiwa. Yamada Ryosuke desu. Anda?” tanyaku mencoba berbasa-basi. Bagaimanapun aku harus tahu siapa nama wanita ini.

     “Nishiuchi Mariya desu,” jawabnya diiringi segaris senyum di wajahnya.

     “E, Nishiuchi-san—” kalimatku terpotong. “Panggil saja aku Mariya…”

     “Eh? Hai’, Mariya-san… Kalau boleh tahu, kau mau pergi ke mana?” tanyaku.

     “Ke rumah kerabatku, kau sendiri?”

     “Eh, aku mau pulang… Hehe,” ucapku sembari menggaruk tengkukku yang sebenarnya tidak ada masalah sedikitpun.

     “Berapa usiamu?” tanyanya lagi.

     “Dua hari lagi sembilan belas tahun, kau?” tanyaku mencoba memberanikan diri.

     “Aku dua puluh satu,” jawabnya mantap.

     “Souka…” aku kehabisan kata-kata. Entah kenapa rasanya nyaman sekali duduk di sisi Mariya-san. Apa aku jatuh cinta? Pada Mariya-san? Secepat ini? Tidak masuk akal!

     Sepanjang perjalanan aku terus ribut dengan pikiran dan khayalanku. Suasana di antara kami hening sejak pembicaraan terakhir kami. Sesungguhnya aku ingin berbicara lagi, tapi aku tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan. Apakah sopan menanyakan alamat e-mail? Arrrgghh~ Rasanya aku mau menelan beton saja saat ini!

**

     Bus terus melaju kencang, membawa kami melewati setiap sudut kota Tokyo. Tiba-tiba kurasakan hawa dingin menyeruak. Perlahan aku membuka mataku dari tidur lelapku barusan, kutengok ke samping kiri. Mariya-san masih ada di sini, di sampingku. Mungkin, rumah kerabatnya masih agak jauh.

     “Kau bangun?” ucapnya begitu melihatku menguap. Aku mengangguk pelan.

     “Eh? Hujan?!” jeritku sejenak. Membuat suasana di sekitarku hening seketika. Beberapa pasang mata di dalam bus tengah melihat ke arahku. Aku lekas meminta maaf atas tindakanku barusan pada mereka.

     “Kenapa sepanik itu?” tanya Mariya.

     “Rumahku masih cukup jauh dari halte…” jelasku singkat.

     Kulihat Mariya merogoh tasnya, “Kebetulan aku bawa payung, pakailah…” ia menyodorkan sebuah payung lipat yang masih menangkup.

     “Lalu kau?”

     “Aku akan menelepon kerabatku agar menjemputku di halte berikutnya,” ucapnya lembut. “Kau tidak perlu mengembalikannya, kok.”

     “Tidak, aku pasti akan mengembalikannya padamu dua hari lagi!” ucapku semangat.

     “Eh?”

     “Aku akan mengembalikannya pada Mariya-san dua hari lagi…”

     Alasan kenapa aku akan mengembalikan payung ini bukan karena aku sungkan pada Mariya. Melainkan, aku ingin…

     “Tidak perlu, kok.”

     “Berikan saja alamat e-mailmu, nanti akan kuhubungi lagi. Ok?” aku mengeluarkan ponselku sesegera mungkin dan segera memberikan padanya. Tampak ia mengetik beberapa angka dan huruf disana kemudian memberikannya padaku.

     “Itu alamat e-mailku,” ucapnya.

     Aku ingin… Ada pertemuan berikutnya dari pertemuan ini. Pertemuan antara aku dan Mariya-san…

     “Baiklah, nanti kuhubungi lagi dimana kita akan bertemu lagi…”

     Aku lekas turun dari bus begitu aku sampai di halte tujuanku. Kubuka payung abu-abu tersebut dan segera membawanya pulang ke rumah bersamaku. Kuharap di pertemuan berikutnya masih akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya lagi. Karena aku ingin bertemu Mariya-san… Lagi.

**

     Dua hari setelah hari itu aku mengirim e-mail pada Mariya-san. Kuputuskan untuk menemuinya di kediamannya. Ia pun tidak keberatan sama sekali dengan hal itu. Sekitar lima menit setelah ia mengirimkan alamatnya aku bergegas pergi kesana. Namun, sampai di tengah perjalanan, ponselku berdering.

     “Ah, e-mail dari Mariya-san!”

.

KLIK

.

From               : nishiuchi-mariya@docomo.ne.jp
Mail                : Yamada-san, maaf mendadak mengabarimu. Bisakah kau mengembalikannya ke gereja? Aku sedang ada di gereja sekarang.

From               : yamadaryosuke@docomo.ne.jp
Mail                : Souka, baiklah, aku akan kesana. Arigatou sudah mengabari.

     Aku lekas mengambil langkah besar menuju arah gereja yang dimaksud. Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Mariya-san. Dengan setengah berlari aku pergi ke halte bus tak jauh di depanku. Aku ingin cepat sampai di gereja dan menemui Mariya-san. Yosh!

     Begitu sampai di gereja begitu banyak orang-orang berlalu lalang. Tumben sekali, pikirku. Hari ini bukan paskah ataupun natal. Tapi, kenapa gereja tampak ramai dengan orang-orang berpakaian rapi? Lalu apa yang dilakukan Mariya-san disana, ya?

     Terus membatin kurasa sama sekali tidak memecahkan masalah di dalam kepalaku. Kuputuskan untuk melangkah masuk ke dalam gereja. Kulihat beberapa orang yang baru datang lekas mengisi kursi-kursi gereja yang masih tampak kosong. Perlahan aku mengikuti apa yang mereka kerjakan.

     “E, sumimasen. Apa ada acara tertentu hari ini?” tanyaku pada seorang wanita paruh baya di sampingku.

     “Ne, ini kan pernikahan putri keluarga Nishiuchi dan putra keluarga Hongo…” jawab wanita itu ringan. Sejenak aku tertegun. Apa ini pernikahan kerabat Mariya-san?

     Sudah sekitar sepuluh menit aku duduk di kursi ini. Aku mencari keberadaan sosok Mariya-san. Namun, aku sama sekali tidak menjumpainya. Apa boleh mengikuti upacara pernikahan orang yang sama sekali tidak kukenal?

     “Yamada-san, kau sudah datang?” suara lembut itu dalam sekejap menyita perhatianku. Kulihat Mariya-san berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Di sampingnya berdiri seorang laki-laki tegap yang sama sekali tak ku kenal.

     “Ah, Kanata, aku lupa menceritakan anak ini padamu. Dia Yamada Ryosuke,” ucap Mariya-san memperkenalkanku pada pria itu. Aku mengangguk memberi salam pada pria itu.

     “Hongo Kanata desu,” ucapnya membalas anggukanku.

     “Ne, Mariya-san, siapa yang akan menikah? Kerabatmu, kah?” tanyaku.

     “Bukan. Itu… Aku yang akan menikah. Tepatnya dengan Kanata, kekasihku…” kalimat itu mengalir begitu saja dari bibirnya dengan begitu lancar. Matanya berbinar ketika kalimat itu meluncur dan tentu segaris senyum itu tidak pernah luput dari wajah cantiknya.

     Aku diam sejenak sebelum akhirnya kembali berucap, “Aah… Souka.”

     Meski dalam hati kecilku mungkin aku tidak rela…

     “Omedetou.”

     Kata itu pada akhirnya tetap keluar dari bibirku.

     “Semoga kalian berbahagia selamanya…”

     Dengan senyum yang sengaja kupaksakan, aku mengukirnya di hadapan calon pasangan pengantin itu.

     “Arigatou, Yamada-san…” ucap mereka berdua nyaris bersamaan. Aku mengangguk, menahan air mataku yang nyaris tumpah.

     “Ne, aku ada satu permintaan pada Mariya-san…”

     “Eh? Apa itu?”

     “Boleh aku memiliki payung ini?”

     “Eh, kenapa tiba-tiba? Tapi, itu sama sekali bukan masalah. Ambilah, Yamada-san…”

.

TES!

.

     Air mata itu mengalir keluar dari pelupuk mataku. “Arigatou. Ureshii desu.”

     “Yamada-san, doushita no?” kurasakan jemari lembut Mariya-san menghapus air mataku.

     “Iie. Daijoubu desu.” Jawabku. “Ne, sayonara…”

     Aku lekas melangkahkan kaki keluar gereja. Sesekali kudengar Mariya-san memanggil namaku, namun aku tak menoleh sama sekali. Pasti menyedihkan sekali wajahku saat ini. Dan aku tidak ingin ia melihatku yang seperti ini.

     Pada akhirnya, aku menginginkan payung ini menjadi milikku. Pulang kembali bersamaku. Bukan berarti aku plin-plan. Ini hanya sekelumit cara agar aku mampu mengobati sakit hatiku. Mariya-san memang sudah membuat hatiku membuncah hebat dan dalam seketika ia telah mematahkan hatiku.

     Alasan kenapa aku ingin payung ini kumiliki adalah karena sudah tidak akan ada lagi pertemuan berikutnya setelah ini. Aku tidak akan bertemu kembali dengan sosok sempurna Mariya-san. Lewat payung ini aku melihat bayang-bayang Mariya-san. Sekalipun aku tidak dapat bertemu dengan Mariya-san, aku masih ingin bertemu dengannya. Sekalipun itu hanya bayangannya dari payung lipat ini.






__the end__







Glosarium :

*Souka            : begitu…
*Konnichiwa  : selamat siang/hallo
*Arigatou       : terima kasih
*Sumimasen   : permisi/maaf
*Omedetou    : selamat
*Ureshii desu : aku senang
*Iie                  : tidak
*Daijoubu      : tidak apa-apa
*Sayonara       : selamat tinggal/sampai jumpa
*Doushita no : ada apa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar