Sabtu, 28 April 2012

Perfect~


Title         : Perfect~

Author        : dita-cHun

Type          : Oneshot

Genre         : Friendship

Rating        : PG+12

Music         : Thank You—Bokutachi Kara Kimi e by Hey! Say! JUMP

POV           : Author

Cast          : All Member of Hey! Say! JUMP (Yamada Ryosuke, Chinen Yuuri, Nakajima Yuto, Okamoto Keito, Morimoto Ryutaro, Yabu Kota, Yaotome Hikaru, Takaki Yuya, Inoo Kei, Arioka Daiki)

Disclaimer    : Member JUMP adalah milik Tuhan, demo, cerita ini sepenuhnya milik author. Peraturan milik opa Johjohn (Johnny) tidak berlaku, yang ada hanya peraturan author. Titik. So, no bashing. Mau bashing? Silahkan~ author gak peduli dengan bash-bash-an macam apapun~ XD

Warning       : gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~





   “Lima, enam, tujuh, delapan… Dua, tiga, empat, lima…” seorang bocah berusia sekitar empat belas atau lima belas tahunan berdiri di depan cermin. Ia masih asyik meliukkan tubunya seiring lantunan lagu kesukaannya. Bocah itu tampak lincah sekali dalam tiap gerakannya. Bakat dalam dirinya seolah bertubi-tubi keluar dari dalam dirinya.

“Langka”

Mungkin kata itulah yang cocok untuk melukiskan dirinya. Jarang sekali ada bocah sehebat dirinya. Hal itu pun membuat dia dikenal oleh seluruh penjuru dunia dalam waktu singkat. Membuatnya tenar di usianya yang baru akan menginjak lima belas tahun itu.

Juara kelas setiap tahun, penyanyi dengan suara terbaik, aktor cilik dengan ekspresi terbaik, artis terimut se-Asia, totalitas dalam segala pekerjaan. Itulah dirinya—Yamada Ryosuke.

“Perfect”

Kata itulah yang sering terlantun di tiap bibir para penggemar bocah itu. Sebuah kata yang selalu terucap, ketika sosoknya melintas di tiap chanel televisi.

Betapa… hebatnya…!

Bahkan teman-teman seprofesinya mengaku sosok Yamada Ryosuke adalah bocah yang luar biasa. Namun, seperti biasa, seorang Yamada hanya menanggapinya dengan senyuman mautnya. Sengaja atau tidak, senyum itu seolah mampu melelehkan es di Kutub dan meremukkan batu-batu dalam hati. Senyum ketulusan~ itulah yang ditunjukkannya…

Namun, bagaimana kau bisa menjamin kebahagiaannya? Kebahagiaan seorang bocah ‘perfect’?

Tak ada. Tak ada jaminan kebahagiaan untuknya, karena ia sama saja dengan manusia yang lain. Ia seorang manusia normal~ Yang pernah berkeluh kesah dan jatuh pada waktunya.

   “Yama-chan!” sebuah suara memekik dari arah luar—membuat Yamada seketika menghentikan aktivitasnya. Ia lekas mengecilkan volume tape yang baru saja menemaninya di ruangan itu.
  
   “Ah, Yuto. Nani? (ada apa?)” Yamada tampak sesekali mengelap peluhnya dengan handuk yang melingkar di lehernya. Tampak sekali ia usai latihan keras. Latihan untuk konser musim semi tahun ini.

   “Kitagawa-san menunggumu di ruangannya,” jawab Yuto.

   “Eh? Memangnya ada masalah apa?” tanya Yamada lagi. Kali ini Yuto mengangkat kedua bahunya, pertanda tak tahu. Yamada menautkan kedua alisnya, berpikir sejenak. Sedetik kemudian ia melangkahkan kaki ke arah ruangan Johnny Kitagawa.

.

Tok, Tok, Tok!

.

Tak butuh waktu lama membuat Yamada terpaku di depan pintu. Karena sang pemilik ruangan sudah mempersilahkannya masuk begitu ketukan itu usai.

   “Yama-chan, duduklah…” ucap Kitagawa mempersilahkan.

   “Hai’ (baik),” jawab Yamada lalu duduk di salah satu kursi di sana.

   “Konser musim semi tahun ini~ Kau kembali menjadi maskot~ Omedetou~ (selamat)” ucap Kitagawa. Sebuah senyum terukir di wajahnya.

   ‘Lagi…’ batin Yamada.

   “Kitagawa-san…” Yamada hendak menyela pembicaraan mereka. Namun, ia menimang-nimang kembali kalimat apa yang sekiranya pantas untuk diucapkannya.

   “Kau pasti senang, bukan? Aku sangat beruntung memiliki investasi sebagus kau~” puji Kitagawa.

   “Demo… (tapi)” Yamada kembali menyela pembicaraan.

   “Aku tahu kau sangat terkejut~ Itu wajar. Ini tahun ketigamu menjadi maskot~ Aku percaya padamu, nak…” ucap Kitagawa mantap. Kalimat itu pula yang seketika menciutkan nyali Yamada untuk mengutarakan kalimatnya.

   “Kau boleh kembali latihan…” ucap Kitagawa mempersilahkan. Yamada mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu.

   “Yama-chan, apa yang dikatakan Kitagawa-san?” begitu sampai di depan, Yamada diburu oleh kesembilan temannya yang berada di grup yang sama dengannya—Hey! Say! JUMP.

   “Ini cuma tentang maskot konser musim semi tahun ini…” jawab Yamada. Nadanya sedikit melemah.

   “Eh? Hontou? (sungguh?) Lalu siapa yang terpilih sebagai maskot tahun ini?” seorang senpainya bernama Yabu mulai aktif bicara.

   “Minna, gomennasai! Hontou ni gomennasai! (semuanya, maaf! Sungguh maaf!)” ucap Yamada yang seketika membungkukkan badannya di hadapan kesembilan rekannya.

Sebagian di antara kesembilan orang itu menggaruk kepala atau menautkan alis tanda tak mengerti, sementara yang sebagian lagi langsung meninggalkan tempat itu dengan wajah dingin.

   “Eh, kalian mau kemana?” tanya Hikaru pada kelima rekannya yang sudah berjalan melewati koridor.

   “Untuk apa kita bertanya padanya lagi kalau sudah tahu jawabannya,” seru Inoo sambil melemparkan pandangan tajam pada Yamada. Sedetik kemudian ia melanjutkan langkahnya.

Jawaban Inoo langsung dimengerti keempat member yang kini masih terpaku di tempatnya. Memfokuskan pandangan mereka pada satu bocah—Yamada Ryosuke.

   “Yama-chan, apakah artinya… kau lagi yang menjadi maskot tahun ini?” tanya Yuto. Yamada hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil. Membuat suasana di tempat itu menjadi dingin seketika. Hening beberapa menit.

   “Ah, sudahlah! Pasti Dewi Fortuna sedang berpihak pada bocah perfect kita!” ucap Daiki sambil merangkul pundak Yamada. Setidaknya, ia ingin mencairkan suasana yang sudah membeku beberapa menit lamanya. Namun, tak ada tanggapan apapun dari ketiga temannya. Kembali hening—itulah yang terjadi. Ketiga member itu mengikuti langkah kelima teman sebelumnya—meninggalkan Yamada dan Daiki.

   “Yama-chan…” Daiki melepaskan rangkulannya. Yamada menoleh. Raut wajah Daiki tak seperti biasa—ikut mendingin.

   “Gomen… (maaf) Tapi, aku tidak mungkin membohongi perasaanku sendiri. Jujur saja, aku sedikit kecewa. Meski aku tahu ini bukan sepenuhnya kesalahanmu…” ucap Daiki.

   “Gomen… (maaf) Aku sudah berusaha menolaknya… Demo (tapi)—“ kalimat Yamada terputus.

   “Kau tidak perlu menolaknya. Kau adalah investasi terbesarnya. Makanya, mungkin denganmu, bisa membuat ketenaran agency ini menjadi lebih… Aku tahu,” ucap Daiki.

   “Dai-chan…”

   “Daijoubu… (tidak apa) Suatu saat pasti Dewi Fortuna juga akan berpihak padaku. Ganbatte, Yama-chan!” ucap Daiki. Yamada hanya menatap senpainya datar. Tak tahu harus terharu, menangis, atau tertawa dan berterima kasih.

   “Eh, sekarang sudah jam 3. Kita harus latihan! Ikou! (ayo)” seru Daiki mengajak Yamada ke ruang latihan.

**************************************************************************

   “Tujuh, delapan… Dua, tiga, empat…” seluruh member Hey! Say! JUMP kembali latihan untuk persiapan konser musim semi tahun ini. Seperti biasa, Yamada berada di tengah panggung sebagai center. Sejak hari itu, suasana latihan tak lagi seramai beberapa waktu  lalu. Tentu saja ini semua karena seorang bocah ‘perfect’ itu—Yamada Ryosuke.

   “Baiklah, kurasa latihan cukup sampai disini. Sekarang kita boleh pulang,” ucap Yabu mengakhiri—selaku leader di grup itu.

   “Eh, minna, apa kalian tidak berpikir untuk makan bersama? Kita sudah lama tidak makan bersama di kedai itu,” ucap Daiki tiba-tiba. Kesembilan member lainnya menatap Daiki bingung—mungkin lebih tepatnya ragu.

   “Tapi, Dai-chan, lusa kita sudah konser. Rasanya, lebih baik kita istirahat saja hari ini,” sahut Ryutaro diikuti anggukan dari beberapa member yang lain. Mereka rasanya tak menggubris kekecewaan Daiki—hendak meninggalkan ruangan begitu saja.

   “Doushita no? Doushite? (Ada apa? Kenapa?) Kenapa hanya dengan masalah sekecil ini membuat kita semakin mendingin? Ada apa dengan kalian semua, huh?!” dari nadanya, terdengar sekali kekesalan Daiki yang mulai meluap.

   “Dai-chan, kau mulai konslet ya?” Hikaru berniat melawak, namun bukannya suasana itu mereda malah semakin meradang.

   “Dai-chan, berhentilah membelanya,” ucap Keito.

   “Anoo… Minna…” kali ini si mungil Chinen Yuuri yang berbicara.

   “Kurasa tidak ada salahnya untuk makan di kedai bersama. Kita memang sudah lama sekali tidak kesana…” lanjutnya. Semuanya diam mendengar si kecil Chinen berbicara. Diam beberapa detik.

   “Kurasa… tidak masalah… Bagaimana menurutmu, Yabu-kun? Kau leader di sini,” ucap Yuto melemparkan pandangan pada Yabu yang sudah berdiri di depan pintu keluar.

   “Menurutku… tidak ada salahnya. Bagaimana?” tanya Yabu pada member yang lain. Kali ini yang lain hanya mengangguk. Semuanya segera melangkahkan kaki, menuju kedai yang dimaksud. Semuanya—kecuali Chinen dan Yamada.

   “Yama-chan, ikou! (ayo)” ajak Chinen.

   “Chinen…”

   “Aku tidak seharusnya membencimu. Bukan salahmu sepenuhnya…” ucap Chinen.

   “Gomen… (maaf)” ucap Yamada pelan.

   “Ikou…” ucap Chinen mempercepat langkahnya, diikuti Yamada berikutnya.

***********************************************************************

   Hari ini konser dimulai. Para member JUMP masih bersiap-siap di ruang ganti.

   “Kita harus bisa! Ganbatte, minna! (semangat, semuanya!)” seru Yuto pada rekan-rekannya.

   Begitu mereka memasuki area panggung, sejenak beberapa dari mereka terpaku ke arah penonton. Nyaris 50% dari penonton itu memakai kaos bertuliskan Yamada Ryosuke, serta foto Yamada terpampang jelas disana. Namun, itu hanya berlangsung sejenak, mereka segera memulai konser tahun ini. Konser yang benar-benar meriah.

   Mulanya, konser berlangsung baik-baik saja. Hingga saat itu tiba… Yaitu saatnya mereka melantunkan lagu Thank You—Bokutachi Kara Kimi e. Lagu itu…

.

Sayonara wo suru mae ni
Bokutachi kara kimi e
Kansha no kimochi ni
magokoro wo komete
Todoketai yo kono uta



Kyou kimi to bokutachi wa
ikutsu yume wo mita darou
Kazukazu no bamen ironna omoide
Zenbu hikari kagayaku with you


Kitto minna no egao ya kizuna ga

Asu kara no hagemi ni naru yo

Say goodbye kyou no hi no minna ni
Wakare wa mata au yakusoku sa
Kokoro hitotsu ni naru shunkan wo
Kasaneru tabi ni ai ga umareru


Say goodbye mata sugu aeru kara

Wakare wa kimi omou jikan sa
Kokoro hitotsu ni shite itsumademo
Bokutachi wa tsunagari au
Thank you for your love


Translate :
sebelum mengatakan selamat tinggal
dari kami untukmu
ketulusan perasaan dalam kata-kata itu
kami ungkapkan dalam lagu ini

hari ini kau dan aku
berapa banyak mimpi yang telah kita lihat
begitu banyak adegan, bermacam kenangan
semua cahaya itu, bersinar bersama dirimu

kepastian dari ikatan senyuman semua orang
akan menjadi dorongan penyemangat untuk langkah di hari esok

katakan selamat tinggal, kepada semua orang hari ini
perpisahan, adalah janji untuk bertemu kembali
gambaran kenangan dihati kita menjadi satu
dalam perjalanan (waktu) yang berulang itu, lahirlah cinta...

ucapkan sampai jumpa, (namun) kita akan segera bertemu kembali
perpisahan ini, adalah waktu untuk memikirkanmu
hati (kita) akan menjadi satu untuk selamanya
kita akan (selalu) terhubung (bersama)
terima kasih, untuk cintamu...

.

Harusnya, usai lirik itu Yamada menyanyikan bagian solo miliknya… Musik terus mengalun, namun, tak terdengar suara Yamada Ryosuke. Tak ada. Yamada masih terdiam di tempatnya.

   “Yama-chan, apa yang kau lakukan?” tanya Yuya mencoba menyadarkan Yamada. Ia masih diam. Sejenak kemudian Yamada berlari meninggalkan panggung—masuk ke belakang panggung. Kesembilan member lainnya bertanya-tanya apa gerangan yang sudah terjadi dengan bocah itu.

   Tanpa diduga, tanpa siapapun tahu. Si bocah perfect itu… Menangis di sudut ruangan… Menangis terisak sambil memegang kedua lututnya yang sudah gemetar. Semakin lama tangisnya semakin meradang. Namun, siapa yang tahu? Di ruangan itu hanya ada dia seorang.

   “Gomennasai, minna… Gomen~ (maaf, semuanya… maaf~)” isaknya.

   “Kami tidak membencimu, Yama-chan…” terdengar suara dari luar—Yuya.

   “Yuya-kun?” Yamada lekas mengusap air matanya begitu melihat sang senpai sudah berdiri di hadapannya.

   “Jangan menangis, Yama-chan…” ucap suara lain—Chinen.

   “Te wo nobashite goran~ Kitto koko ni iru kara… (ulurkan tanganmu~ karena aku akan selalu ada disini…)” suara lain muncul sambil melanjunkan beberapa lirik lagu Dreams Come True—Yabu.

   “Kowa ga ranai de~ Dare mo minna hitori ja nai… (tidak ada yang perlu ditakutkan~ Tidak siapapun yang sendirian…)” suara lain mengikuti—melanjutkan lirik lagu tersebut—Hikaru.

   “Yama-chan, kami tahu perasaanmu…” ucap Daiki.

   “Sorry~” ucap Keito.

   “Gomen~ (maaf)” ucap Ryutaro.

   “Maaf kami tidak bisa mengerti dirimu sebelumnya, Yama-chan…” ucap Yuto.

   “Ternyata… Kau juga… Punya luka,” ucap Inoo.

   “Minna… Gomen~ (semuanya… Maaf~)” ucap Yamada kembali terisak.

   “Daijoubu… (tidak apa)” ucap kesembilan member itu serentak.

   “Hontou… Hontou ni arigatou… (sungguh… Sungguh terima kasih…)” ucap Yamada.

   “Ikou! (ayo)” seluruh member mengulurkan tangannya ke hadapan Yamada. Ia segera merangkul kesembilan tangan temannya kemudian bangkit dari duduknya.

   “Setiap orang tentu punya luka… Dan aku bukanlah bocah perfect… Karena aku juga seorang manusia biasa…” ucap Yamada.

   “Hai’, wakatta! (ya, aku tahu)” ucap kesembilan member itu.

.

.

Yume no tsuzuki wa taeru koto naku
Doko made datte afureteiku yo

Say goodbye kyou no hi no minna ni
Wakare wa mata au yakusoku sa
Kokoro hitotsu ni naru shunkan wo
Kasaneru tabi ni ai ga umareru

Say goodbye mata sugu aeru kara
Wakare wa kimi omou jikan sa
Kokoro hitotsu ni shite itsumademo
Bokutachi wa tsunagari au
Thank you for your love

Translate :

mimpi yang terus berlanjut, takkan ada habisnya...
dimanapun itu, akan (selalu) meluap...

katakan selamat tinggal, kepada semua orang hari ini
perpisahan, adalah janji untuk bertemu kembali
gambaran kenangan dihati kita menjadi satu
dalam perjalanan (waktu) yang berulang itu, lairlah cinta...

ucapkan sampai jumpa, (namun) kita akan segera bertemu kembali
perpisahan ini, adalah waktu untuk memikirkanmu
hati (kita) akan menjadi satu untuk selamanya
kita akan (selalu) terhubung (bersama)
terima kasih, untuk cintamu...

.

Lagu itu berlanjut… Hey! Say! JUMP keluar sambil bergandengan tangan. Ya~ Tiada seorang pun manusia yang sempurna. Sekalipun ia disebut…

“PERFECT…”





_____the end_____

Tidak ada komentar:

Posting Komentar