Title : Perfect~
Author : dita-cHun
Type : Oneshot
Genre : Friendship
Rating : PG+12
Music : Thank You—Bokutachi Kara Kimi e by
Hey! Say! JUMP
POV : Author
Cast : All Member of Hey! Say! JUMP (Yamada
Ryosuke, Chinen Yuuri, Nakajima Yuto, Okamoto Keito, Morimoto Ryutaro, Yabu
Kota, Yaotome Hikaru, Takaki Yuya, Inoo Kei, Arioka Daiki)
Disclaimer : Member JUMP adalah milik Tuhan, demo,
cerita ini sepenuhnya milik author. Peraturan milik opa Johjohn (Johnny) tidak
berlaku, yang ada hanya peraturan author. Titik. So, no bashing. Mau bashing?
Silahkan~ author gak peduli dengan bash-bash-an macam apapun~ XD
Warning : gaje binti abal ~segala kekurangan
adalah milik saya~
“Lima, enam, tujuh, delapan…
Dua, tiga, empat, lima…” seorang bocah berusia sekitar empat belas atau lima
belas tahunan berdiri di depan cermin. Ia masih asyik meliukkan tubunya seiring
lantunan lagu kesukaannya. Bocah itu tampak lincah sekali dalam tiap
gerakannya. Bakat dalam dirinya seolah bertubi-tubi keluar dari dalam dirinya.
“Langka”
Mungkin kata itulah yang cocok untuk melukiskan dirinya. Jarang
sekali ada bocah sehebat dirinya. Hal itu pun membuat dia dikenal oleh seluruh
penjuru dunia dalam waktu singkat. Membuatnya tenar di usianya yang baru akan
menginjak lima belas tahun itu.
Juara kelas setiap tahun, penyanyi dengan suara terbaik, aktor cilik
dengan ekspresi terbaik, artis terimut se-Asia, totalitas dalam segala
pekerjaan. Itulah dirinya—Yamada Ryosuke.
“Perfect”
Kata itulah yang sering terlantun di tiap bibir para penggemar bocah
itu. Sebuah kata yang selalu terucap, ketika sosoknya melintas di tiap chanel
televisi.
Betapa… hebatnya…!
Bahkan teman-teman seprofesinya mengaku sosok Yamada Ryosuke adalah
bocah yang luar biasa. Namun, seperti biasa, seorang Yamada hanya menanggapinya
dengan senyuman mautnya. Sengaja atau tidak, senyum itu seolah mampu melelehkan
es di Kutub dan meremukkan batu-batu dalam hati. Senyum ketulusan~ itulah yang
ditunjukkannya…
Namun, bagaimana kau bisa menjamin kebahagiaannya? Kebahagiaan
seorang bocah ‘perfect’?
Tak ada. Tak ada jaminan kebahagiaan untuknya, karena ia sama saja
dengan manusia yang lain. Ia seorang manusia normal~ Yang pernah berkeluh kesah
dan jatuh pada waktunya.
“Yama-chan!” sebuah suara
memekik dari arah luar—membuat Yamada seketika menghentikan aktivitasnya. Ia
lekas mengecilkan volume tape yang baru saja menemaninya di ruangan itu.
“Ah, Yuto. Nani? (ada apa?)”
Yamada tampak sesekali mengelap peluhnya dengan handuk yang melingkar di
lehernya. Tampak sekali ia usai latihan keras. Latihan untuk konser musim semi
tahun ini.
“Kitagawa-san menunggumu di
ruangannya,” jawab Yuto.
“Eh? Memangnya ada masalah
apa?” tanya Yamada lagi. Kali ini Yuto mengangkat kedua bahunya, pertanda tak
tahu. Yamada menautkan kedua alisnya, berpikir sejenak. Sedetik kemudian ia
melangkahkan kaki ke arah ruangan Johnny Kitagawa.
.
Tok, Tok, Tok!
.
Tak butuh waktu lama membuat Yamada terpaku di depan pintu. Karena
sang pemilik ruangan sudah mempersilahkannya masuk begitu ketukan itu usai.
“Yama-chan, duduklah…” ucap
Kitagawa mempersilahkan.
“Hai’ (baik),” jawab Yamada
lalu duduk di salah satu kursi di sana.
“Konser musim semi tahun
ini~ Kau kembali menjadi maskot~ Omedetou~ (selamat)” ucap Kitagawa. Sebuah
senyum terukir di wajahnya.
‘Lagi…’ batin Yamada.
“Kitagawa-san…” Yamada
hendak menyela pembicaraan mereka. Namun, ia menimang-nimang kembali kalimat
apa yang sekiranya pantas untuk diucapkannya.
“Kau pasti senang, bukan?
Aku sangat beruntung memiliki investasi sebagus kau~” puji Kitagawa.
“Demo… (tapi)” Yamada
kembali menyela pembicaraan.
“Aku tahu kau sangat
terkejut~ Itu wajar. Ini tahun ketigamu menjadi maskot~ Aku percaya padamu,
nak…” ucap Kitagawa mantap. Kalimat itu pula yang seketika menciutkan nyali Yamada
untuk mengutarakan kalimatnya.
“Kau boleh kembali latihan…”
ucap Kitagawa mempersilahkan. Yamada mengangguk dan segera keluar dari ruangan
itu.
“Yama-chan, apa yang
dikatakan Kitagawa-san?” begitu sampai di depan, Yamada diburu oleh kesembilan
temannya yang berada di grup yang sama dengannya—Hey! Say! JUMP.
“Ini cuma tentang maskot
konser musim semi tahun ini…” jawab Yamada. Nadanya sedikit melemah.
“Eh? Hontou? (sungguh?) Lalu
siapa yang terpilih sebagai maskot tahun ini?” seorang senpainya bernama Yabu
mulai aktif bicara.
“Minna, gomennasai! Hontou
ni gomennasai! (semuanya, maaf! Sungguh maaf!)” ucap Yamada yang seketika
membungkukkan badannya di hadapan kesembilan rekannya.
Sebagian di antara kesembilan orang itu menggaruk kepala atau menautkan
alis tanda tak mengerti, sementara yang sebagian lagi langsung meninggalkan
tempat itu dengan wajah dingin.
“Eh, kalian mau kemana?”
tanya Hikaru pada kelima rekannya yang sudah berjalan melewati koridor.
“Untuk apa kita bertanya
padanya lagi kalau sudah tahu jawabannya,” seru Inoo sambil melemparkan
pandangan tajam pada Yamada. Sedetik kemudian ia melanjutkan langkahnya.
Jawaban Inoo langsung dimengerti keempat member yang kini masih
terpaku di tempatnya. Memfokuskan pandangan mereka pada satu bocah—Yamada
Ryosuke.
“Yama-chan, apakah artinya…
kau lagi yang menjadi maskot tahun ini?” tanya Yuto. Yamada hanya menjawabnya
dengan sebuah anggukan kecil. Membuat suasana di tempat itu menjadi dingin
seketika. Hening beberapa menit.
“Ah, sudahlah! Pasti Dewi
Fortuna sedang berpihak pada bocah perfect kita!” ucap Daiki sambil merangkul
pundak Yamada. Setidaknya, ia ingin mencairkan suasana yang sudah membeku
beberapa menit lamanya. Namun, tak ada tanggapan apapun dari ketiga temannya.
Kembali hening—itulah yang terjadi. Ketiga member itu mengikuti langkah kelima
teman sebelumnya—meninggalkan Yamada dan Daiki.
“Yama-chan…” Daiki
melepaskan rangkulannya. Yamada menoleh. Raut wajah Daiki tak seperti
biasa—ikut mendingin.
“Gomen… (maaf) Tapi, aku
tidak mungkin membohongi perasaanku sendiri. Jujur saja, aku sedikit kecewa.
Meski aku tahu ini bukan sepenuhnya kesalahanmu…” ucap Daiki.
“Gomen… (maaf) Aku sudah
berusaha menolaknya… Demo (tapi)—“ kalimat Yamada terputus.
“Kau tidak perlu menolaknya.
Kau adalah investasi terbesarnya. Makanya, mungkin denganmu, bisa membuat
ketenaran agency ini menjadi lebih… Aku tahu,” ucap Daiki.
“Dai-chan…”
“Daijoubu… (tidak apa) Suatu
saat pasti Dewi Fortuna juga akan berpihak padaku. Ganbatte, Yama-chan!” ucap
Daiki. Yamada hanya menatap senpainya datar. Tak tahu harus terharu, menangis,
atau tertawa dan berterima kasih.
“Eh, sekarang sudah jam 3.
Kita harus latihan! Ikou! (ayo)” seru Daiki mengajak Yamada ke ruang latihan.
**************************************************************************
“Tujuh, delapan… Dua, tiga,
empat…” seluruh member Hey! Say! JUMP kembali latihan untuk persiapan konser
musim semi tahun ini. Seperti biasa, Yamada berada di tengah panggung sebagai
center. Sejak hari itu, suasana latihan tak lagi seramai beberapa waktu lalu. Tentu saja ini semua karena seorang
bocah ‘perfect’ itu—Yamada Ryosuke.
“Baiklah, kurasa latihan
cukup sampai disini. Sekarang kita boleh pulang,” ucap Yabu mengakhiri—selaku
leader di grup itu.
“Eh, minna, apa kalian tidak
berpikir untuk makan bersama? Kita sudah lama tidak makan bersama di kedai
itu,” ucap Daiki tiba-tiba. Kesembilan member lainnya menatap Daiki
bingung—mungkin lebih tepatnya ragu.
“Tapi, Dai-chan, lusa kita
sudah konser. Rasanya, lebih baik kita istirahat saja hari ini,” sahut Ryutaro
diikuti anggukan dari beberapa member yang lain. Mereka rasanya tak menggubris
kekecewaan Daiki—hendak meninggalkan ruangan begitu saja.
“Doushita no? Doushite? (Ada
apa? Kenapa?) Kenapa hanya dengan masalah sekecil ini membuat kita semakin
mendingin? Ada apa dengan kalian semua, huh?!” dari nadanya, terdengar sekali
kekesalan Daiki yang mulai meluap.
“Dai-chan, kau mulai konslet
ya?” Hikaru berniat melawak, namun bukannya suasana itu mereda malah semakin
meradang.
“Dai-chan, berhentilah
membelanya,” ucap Keito.
“Anoo… Minna…” kali ini si
mungil Chinen Yuuri yang berbicara.
“Kurasa tidak ada salahnya
untuk makan di kedai bersama. Kita memang sudah lama sekali tidak kesana…”
lanjutnya. Semuanya diam mendengar si kecil Chinen berbicara. Diam beberapa
detik.
“Kurasa… tidak masalah…
Bagaimana menurutmu, Yabu-kun? Kau leader di sini,” ucap Yuto melemparkan
pandangan pada Yabu yang sudah berdiri di depan pintu keluar.
“Menurutku… tidak ada
salahnya. Bagaimana?” tanya Yabu pada member yang lain. Kali ini yang lain
hanya mengangguk. Semuanya segera melangkahkan kaki, menuju kedai yang
dimaksud. Semuanya—kecuali Chinen dan Yamada.
“Yama-chan, ikou! (ayo)”
ajak Chinen.
“Chinen…”
“Aku tidak seharusnya membencimu.
Bukan salahmu sepenuhnya…” ucap Chinen.
“Gomen… (maaf)” ucap Yamada
pelan.
“Ikou…” ucap Chinen
mempercepat langkahnya, diikuti Yamada berikutnya.
***********************************************************************
Hari ini konser dimulai.
Para member JUMP masih bersiap-siap di ruang ganti.
“Kita harus bisa! Ganbatte,
minna! (semangat, semuanya!)” seru Yuto pada rekan-rekannya.
Begitu mereka memasuki area
panggung, sejenak beberapa dari mereka terpaku ke arah penonton. Nyaris 50% dari
penonton itu memakai kaos bertuliskan Yamada Ryosuke, serta foto Yamada
terpampang jelas disana. Namun, itu hanya berlangsung sejenak, mereka segera
memulai konser tahun ini. Konser yang benar-benar meriah.
Mulanya, konser berlangsung
baik-baik saja. Hingga saat itu tiba… Yaitu saatnya mereka melantunkan lagu
Thank You—Bokutachi Kara Kimi e. Lagu itu…
.
Bokutachi kara kimi e
Kansha no kimochi ni
magokoro wo komete
Todoketai yo kono uta
Kyou kimi to bokutachi wa
ikutsu yume wo mita darou
Kazukazu no bamen ironna omoide
Zenbu hikari kagayaku with you
Kitto minna no egao ya kizuna ga
Asu kara no hagemi ni naru yo
Say goodbye kyou no hi no minna ni
Wakare wa mata au yakusoku sa
Kokoro hitotsu ni naru shunkan wo
Kasaneru tabi ni ai ga umareru
Say goodbye mata sugu aeru kara
Wakare wa kimi omou jikan sa
Kokoro hitotsu ni shite itsumademo
Bokutachi wa tsunagari au
Thank you for your love
Translate :
sebelum mengatakan selamat tinggal
dari kami untukmu
ketulusan perasaan dalam kata-kata itu
kami ungkapkan dalam lagu ini
hari ini kau dan aku
berapa banyak mimpi yang telah kita lihat
begitu banyak adegan, bermacam kenangan
semua cahaya itu, bersinar bersama dirimu
kepastian dari ikatan senyuman semua orang
akan menjadi dorongan penyemangat untuk langkah di hari esok
katakan selamat tinggal, kepada semua orang hari ini
perpisahan, adalah janji untuk bertemu kembali
gambaran kenangan dihati kita menjadi satu
dalam perjalanan (waktu) yang berulang itu, lahirlah cinta...
ucapkan sampai jumpa, (namun) kita akan segera bertemu kembali
perpisahan ini, adalah waktu untuk memikirkanmu
hati (kita) akan menjadi satu untuk selamanya
kita akan (selalu) terhubung (bersama)
terima kasih, untuk cintamu...
.
Harusnya, usai lirik itu Yamada menyanyikan bagian solo miliknya…
Musik terus mengalun, namun, tak terdengar suara Yamada Ryosuke. Tak ada.
Yamada masih terdiam di tempatnya.
“Yama-chan, apa yang kau
lakukan?” tanya Yuya mencoba menyadarkan Yamada. Ia masih diam. Sejenak
kemudian Yamada berlari meninggalkan panggung—masuk ke belakang panggung.
Kesembilan member lainnya bertanya-tanya apa gerangan yang sudah terjadi dengan
bocah itu.
Tanpa diduga, tanpa siapapun
tahu. Si bocah perfect itu… Menangis di sudut ruangan… Menangis terisak sambil
memegang kedua lututnya yang sudah gemetar. Semakin lama tangisnya semakin
meradang. Namun, siapa yang tahu? Di ruangan itu hanya ada dia seorang.
“Gomennasai, minna… Gomen~
(maaf, semuanya… maaf~)” isaknya.
“Kami tidak membencimu,
Yama-chan…” terdengar suara dari luar—Yuya.
“Yuya-kun?” Yamada lekas
mengusap air matanya begitu melihat sang senpai sudah berdiri di hadapannya.
“Jangan menangis,
Yama-chan…” ucap suara lain—Chinen.
“Te wo nobashite goran~
Kitto koko ni iru kara… (ulurkan tanganmu~ karena aku akan selalu ada disini…)”
suara lain muncul sambil melanjunkan beberapa lirik lagu Dreams Come True—Yabu.
“Kowa ga ranai de~ Dare mo
minna hitori ja nai… (tidak ada yang perlu ditakutkan~ Tidak siapapun yang
sendirian…)” suara lain mengikuti—melanjutkan lirik lagu tersebut—Hikaru.
“Yama-chan, kami tahu
perasaanmu…” ucap Daiki.
“Sorry~” ucap Keito.
“Gomen~ (maaf)” ucap
Ryutaro.
“Maaf kami tidak bisa
mengerti dirimu sebelumnya, Yama-chan…” ucap Yuto.
“Ternyata… Kau juga… Punya
luka,” ucap Inoo.
“Minna… Gomen~ (semuanya…
Maaf~)” ucap Yamada kembali terisak.
“Daijoubu… (tidak apa)” ucap
kesembilan member itu serentak.
“Hontou… Hontou ni arigatou…
(sungguh… Sungguh terima kasih…)” ucap Yamada.
“Ikou! (ayo)” seluruh member
mengulurkan tangannya ke hadapan Yamada. Ia segera merangkul kesembilan tangan
temannya kemudian bangkit dari duduknya.
“Setiap orang tentu punya
luka… Dan aku bukanlah bocah perfect… Karena aku juga seorang manusia biasa…”
ucap Yamada.
“Hai’, wakatta! (ya, aku
tahu)” ucap kesembilan member itu.
.
.
Yume no tsuzuki wa
taeru koto naku
Doko made datte afureteiku yo
Say goodbye kyou no hi no minna ni
Wakare wa mata au yakusoku sa
Kokoro hitotsu ni naru shunkan wo
Kasaneru tabi ni ai ga umareru
Say goodbye mata sugu aeru kara
Wakare wa kimi omou jikan sa
Kokoro hitotsu ni shite itsumademo
Bokutachi wa tsunagari au
Thank you for your love
Doko made datte afureteiku yo
Say goodbye kyou no hi no minna ni
Wakare wa mata au yakusoku sa
Kokoro hitotsu ni naru shunkan wo
Kasaneru tabi ni ai ga umareru
Say goodbye mata sugu aeru kara
Wakare wa kimi omou jikan sa
Kokoro hitotsu ni shite itsumademo
Bokutachi wa tsunagari au
Thank you for your love
Translate :
dimanapun itu, akan (selalu) meluap...
katakan selamat tinggal, kepada semua orang hari ini
perpisahan, adalah janji untuk bertemu kembali
gambaran kenangan dihati kita menjadi satu
dalam perjalanan (waktu) yang berulang itu, lairlah cinta...
ucapkan sampai jumpa, (namun) kita akan segera bertemu kembali
perpisahan ini, adalah waktu untuk memikirkanmu
hati (kita) akan menjadi satu untuk selamanya
kita akan (selalu) terhubung (bersama)
terima kasih, untuk cintamu...
.
Lagu itu berlanjut… Hey! Say! JUMP keluar sambil bergandengan
tangan. Ya~ Tiada seorang pun manusia yang sempurna. Sekalipun ia disebut…
“PERFECT…”
_____the end_____
Tidak ada komentar:
Posting Komentar