Selasa, 03 April 2012

Collapse . . . [Painting and Accident] - Part I


Title               : Collapse. . .

Author           : dita-cHun

Type               : Multichapter

Part                : 1

Sub-title         : Painting and Accident

Genre             : Hurt/Comfort, Darkfic, Deathfic, Friendship

Inspired         : Collapse cover © Abimanyu Surya

Idea                 : Abimanyu Surya and dita-cHun

Music             : Seijaku by Ooshima Michiru

Language        : Indonesian

POV               : Author

Warning        : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya

Note               : awalnya saya menolak bikin ini story… tapi, tiba-tiba saya dapet ilham sarap sampe-sampe jadi bikin story ini. Awalnya, saya ngerasa, ah, pasti gak bisa… sulit banget ciptain aura suram kayak cover punya si penyu a.k.a cover collapse © Abimanyu Surya. Tapi, tiba-tiba saya jadi pengen bikin, mengingat saya suka banget tantangan.. Entah saya akan menyelesaikan story ini dengan baik atau nggak saya masih belum bisa menjamin… Yang pasti kelihatannya ini story suram saya yang kesekian setelah sekian-sekian cerita suram punya saya xD mungkin akan terasa membosankan, tapi saya akui story ini cukup menarik bagi saya yang lumayan penggila darkfic & deathfic xD *author dibantai* hahaha, kayaknya note saya banyak banget.. yaudahlah.. segini aja deh.. xD Happy Reading! ^^
 







     Kaki-kaki jenjang itu terus berpijak pada aspal basah akibat hujan deras yang terus mengguyur kota sepanjang hari. Pemilik kaki itu tidak mengurangi kecepatan langkahnya sekalipun hujan masih terus berlanjut.  Ditangannya tergenggam sebuah payung hitam yang sejak tadi melindungi kepalanya dari percikan hujan yang terus menghantam tubuh tegapnya.  Meski payung beraura suram itu mampu melindungi bagian kepala dan sebagian tubuhnya, kedua bahu berbalut jaket itu tampak basah kuyup. Tubuhnya setengah menggigil merasakan dinginnya udara malam berbalut hujan yang serasa menusuk sampai ulu hatinya. Belum lagi kedua kakinya yang sudah terasa nyeri setelah berjalan kurang lebih lima kilometer.

     Setelah kecepatan langkahnya melemah, kaki-kaki itu berjalan pelan menuju halte bis tak jauh dari tempatnya berdiri.  Perlahan didudukkan tubuhnya pada sebuah kursi  besi yang kaki-kakinya sudah melekat pada akar-akar halte entah sejak kapan.  Kedua mata tajam miliknya kini mulai menelisik setiap detil pemandangan di hadapannya, sembari udara berkabut keluar dari hidung dan mulutnya berselingan. Kali ini tangan kekarnya merayap pada kantong belakang celana jeansnya yang sudah basah sejak tadi. Begitu didapatkan apa yang dicarinya, ia kembali menghela nafas. Namun, kali ini tidak sepanjang nafas sebelum-sebelumnya.

     Sebuah foto saku berukuran 4 x 6 di dalam dompet hitam kumal itu terus menyita pandangannya. Ia tidak peduli lagi dengan udara malam yang dingin dan rintikan hujan yang telah berubah menjadi titik-titik gerimis. Hanya ada yang satu hal yang mengganjal pikirannya saat ini. Yaitu, adiknya yang menghilang sejak dua hari yang lalu.

Piipp… Piiip…

     Bukan bunyi-bunyian istimewa memang. Itu hanya suara ringtone ponsel yang usianya sudah memasuki tahun kedua sebulan yang lalu.  Tangan-tangan kekar itu kali ini merogoh saku kemejanya. Sebuah nama tak asing muncul di balik layar LCD yang terus berkedip seiring suara ringtone yang bertumbukan dengan suara gerimis.

     “Moshi-moshi (hallo),” ponsel itu kini sudah berpindah tempat di samping telinga kanan sang pemilik.

     “Moshi-moshi, Kei. Kau dimana?” tanya suara dari seberang.  Suara serak namun berkesan lembut di telinga.

     “Aku di halte dekat jalan Himawari…” ucap pria berlabel Inoo Kei itu. “Apa sudah ada kabar dari polisi?” lanjutnya memburu pada pemilik suara di seberang.

     “…” lama tidak ada jawaban. Bibir Kei pun masih terkatup, menunggu pemilik suara di seberang menjawab pertanyaannya. Ia terus menunggu, namun tetap tidak ada  respon yang didengarnya.

     “Tidak ada, ya?” Kei kembali berucap, namun suara itu terdengar begitu sendu. “Okaa-san… (Ibu…)”

     “Hm?” kali ini suara di seberang kembali menyahut.

     “Gomen ne… (maaf)” ucap Kei, setitik airmata mulai mengalir di sela-sela ucapannya. “Andai saja aku tidak—”

     “Hentikan, Kei!” suara wanita itu naik seperempat oktaf. “Ini semua bukan salah siapapun…”

     “…”

     Kei masih saja terdiam. Kali ini lidahnya sudah kelu untuk berbicara. Tidak ada satu hurufpun yang keluar dari bibir Kei.  Ia hanya mampu mendengar suara ibunya yang berbicara di seberang telepon.  “Pulanglah. Kita serahkan saja semuanya pada polisi, Kei…”

     Setelah itu terdengar suara sambungan telepon terputus. Kei masih diam. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang. Perlahan kepalanya menengadah, mencoba menatap langit-langit halte kemudian ganti menatap ke arah bulan yang baru saja muncul di balik awan hitam yang sedari tadi menutupinya.

     “Bulan?” gumam Kei tiba-tiba. Ia lekas meraih payung yang semula tergeletak di samping kakinya kemudian berlari keluar dari halte. Kedua kaki jenjang itu membawanya ke arah barat. Sesekali pandangan Kei tertuju pada bulan yang sekarang sudah hampir bulat sempurna itu. Awan-awan hitam itu terus menyingkir menjauhi bulan. Kei mempercepat langkahnya, ia tampak sangat terburu-buru.

     “Nii-chan! (Kakak!)” sebuah suara kecil menghentikan langkah Kei. Ia menoleh pada pemilik suara dikenalnya itu. Tak jauh dari tempatnya, berdiri seorang gadis kecil dengan dress kumal yang membalut tubuhnya. Wajahnya yang semula putih bersih kini sudah bernoda debu-debu halus.

     “Amai-chan…” segaris senyum tipis tampak di wajah Kei. Ia begitu lega melihat sosok adik kecilnya yang sejak kemarin dicarinya, Inoo Amai. “Yokatta… (Syukurlah…)”

     “Nii-chan!” gadis itu berlari ke arah Kei. Memijak aspal jalan raya sepi itu. Namun, sebuah kendaraan berkecepatan tinggi melaju kencang. Menabrak gadis kecil itu hingga terpental sekitar tiga meter. Kei terpaku di tempatnya. Ia seolah masih antara percaya dan tidak dengan apa yang baru disaksikan matanya beberapa milisekon silam.

     Beberapa orang tampak mengerumuni tubuh Amai yang sudah tak berdaya. Kei merasakan kepalanya berdenyut membuat kedua tangannya refleks menjambak rambut Kei. Matanya sayu dan buliran-buliran bening tampak melesat keluar dari kedua kelopak mata Kei. Seluruh pertanyaan dan pernyataan berkecamuk di dada dan otaknya.

     “Aaaarggghh…!!” jerit Kei. Jeritan itu terus berulang seiring denyutan di kepalanya yang kian menjadi. Kakinya melangkah kasar ke arah tubuh Amai yang dipastikan tidak bernyawa lagi. “Amaiiiii….!!!” Jeritnya kuat-kuat. Beberapa orang tampak menenangkan Kei. Namun, Kei sudah tidak dalam akalnya. Tak lama kemudian tubuh Kei ambruk, kesadarannya lenyap seketika.

**

     Kei menatap nanar ke arah peti mati yang siap untuk dikremasi itu. Batinnya luluh lantak mengingat bahwa satu-satunya adik yang ia miliki kini telah meninggalkannya untuk selamanya. Inoo Amai telah berpulang untuk selamanya.
      
     Seorang wanita paruh baya berdiri di samping Kei.  Kerapuhan jiwa yang susah payah disembunyikannya selama ini, pagi ini meluap begitu dilihatnya anak bungsunya telah siap dikremasi. Air matanya terus melesat keluar, membuat kelopak matanya sembab. Tubuhnya bergetar hebat, kaki-kakinya sudah nyaris tak mampu menopang tubuhnya.

     “Amai-chan…” gumamnya sambil kedua tangannya meremas sweater yang membalut tubuhnya.

     “Okaa-san… Gomen ne…” tangis Kei meledak. Ia berlutut di hadapan wanita yang notabene adalah ibunya tersebut. “Semua ini gara-gara aku! Andai aku tidak membuat lukisan itu… Amai--chan tidak akan mati!”

     “Hen…tikan, Kei…” ucap ibunya masih tak menatap anak sulungnya itu.

     “Semua ini salahku… Gomen ne, Okaa-san…”

     “Hentikan, Kei! Jangan membuatku merasa bersalah seperti ini!” teriak ibu tiba-tiba. “Bangkitlah dan berhentilah menyalahkanku yang telah melahirkanmu, Kei!”

     Kei mengangkat kepalanya yang semula tertunduk. Ia melihat ibunya berlari kecil meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Kei yang masih bersimpuh di atas lantai dan meninggalkan Amai yang telah dikremasi.

     “Go…men…” desis Kei pada dirinya sendiri.

**

     Tiga bulan sudah berlalu sejak kematian Amai. Sekarang di rumah tinggal ada Kei dan ibunya. Sementara ayah Kei… Ia sama sekali tidak tahu dimana ayahnya sekarang. Ayahnya meninggalkan mereka tiba-tiba sejak Amai menginjak usia dua tahun. Amai yang masih terlalu kecil untuk mengingat sosok ayahnya tidak terlalu peduli ketika ia tahu ayahnya tiba-tiba tidak ada di sisinya lagi. Tapi, hal itu tentu merupakan pukulan besar bagi Kei dan ibunya yang saat itu harus mencari uang karena uang mereka terus menipis, sementara ayahnya tidak juga kembali.

     Mungkin hanya Kei yang tahu satu hal. Sampai saat ini pun Kei tetap bungkam akan hal itu pada ibunya. Hal yang membuat ayahnya tidak pernah kembali sejak hari itu. Dan hal yang membuat ibunya menangis hampir di setiap malamnya. Itu adalah lukisan Kei. Lukisan yang terjual tepat sehari sebelum ayah Kei menghilang. Kei melukis seorang pria yang ia akui bahwa itu ayahnya. Lukisan itu begitu gelap, nyaris tidak ada yang berminat membeli lukisan itu. Tapi, seorang lelaki kaya raya membeli lukisan itu dengan alasan lukisan itu sesuai dengan seleranya. Hari itu, ya, hari terakhir Kei bisa memeluk ayahnya di rumah ini.

Krek… Krek…

     Bukan suara yang istimewa, itu suara yang biasa terdengar di rumah keluarga Inoo. Suara gesekan pensil yang menggores di atas kanvas dan suara gesekan kuas yang mewarnai kanvas bersketsa itu. Kali ini Inoo tampak menggoreskan pensil ke atas kanvas. Sesekali pandangannya menyisir barisan pohon yang berdiri kokoh tak jauh dari rumahnya.

     ‘Mulai sekarang… Aku tidak akan melukis masa depan, Okaa-san… Aku akan mencoba melukis masa lalu. Amai dan Otoo-san (ayah) juga adalah masa lalu, bukan?’

     Kei menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia meraut sedikit pensil yang semakin tumpul seiring goresannya di atas kanvas. Tak lupa ia mengambil kuas dan cat minyak di dalam laci dekat jendela kamarnya. Sembari duduk menikmati pemandangan mega merah di sisi jendela, tangannya meraih gelas berisi susu kemudian meneguknya sedikit.

     “Ganbarimasu! (I will do my best!)”

     Kei mulai bermain dengan kuas dan cat minyak yang telah disiapkannya. Diwarnainya sketsa yang semula perpaduan hitam dan putih menjadi semakin berwarna. Ya, inilah tujuan Kei. Melukis mega merah yang selalu muncul pada pergantian siang dan malam. Ia mempercepat gerakan tangannya begitu dirasakannya mega merah kian menghilang ditelan gelapnya malam. Hari sudah hampir petang, namun Kei tidak memberikan jeda pada aktivitasnya itu. Ia terlalu sibuk bermain dengan imajinasinya kali ini.

**

     Denting piano menggema nyaris ke seluruh penjuru rumah keluarga Inoo. Kei yang semula tertidur pulas kini mulai membuka matanya. Ia segera bangkit dari ranjangnya, membuka jendela kamarnya, masih gelap. Ia menengok ke arah jam dinding yang melekat di salah satu sudut kamarnya. Jarum panjangnya menunjuk pada angka sembilan, sementara jarum pendeknya nyaris menyentuh kepala angka lima.

     Kei berjalan menuruni setiap anak tangga yang menghubungkan lantai atas dengan lantai dasar. Perlahan matanya menangkap pemandangan yang jarang didapatinya. Ibunya tengah bermain piano pagi-pagi buta seperti ini, ada apa?

     “Okaa-san…” sapa Kei pelan.

     Seketika jemari lembut milik wanita paruh baya itu berhenti menekan tuts piano. Berhenti pada nada yang terdengar ganjil. Karena sesungguhnya lagu itu belum benar-benar selesai. Ada yang mengusik permainannya sehingga ia berhenti tiba-tiba.

     “Ohayou, Kei... (selamat pagi, Kei…)” wanita itu berdiri dari posisinya semula. “Apa Okaa-san mengganggu tidurmu?”

     Kei menggeleng cepat, “Iie. Daijoubu, Okaa-san. (Tidak. Tidak apa, Bu)” Kei mempercepat langkahnya mendekati ibunya. “Aku hanya merasa aneh. Tidak biasanya Okaa-san bermain piano sepagi ini…”

     Wanita itu tersenyum simpul, “Kau mau tahu, Kei?” Mendengar hal itu Kei mengernyitkan dahi. Kedua alisnya nyaris bertautan.

     “Entah kenapa Okaa-san jadi begitu merindukan Otoo-san pagi ini…” jawaban wanita itu membuat Kei tertegun sejenak.

     “Okaa-san tentu sangat mencintai Otoo-san, kan?” ucap Kei akhirnya. Wanita itu mengangguk membenarkan.

     “Okaa-san… sangat mencintai Otoo-san…” ucapnya. Kei tersenyum mendengarnya.





.Collapse. . .



.to be continued~



.comment please ^^

6 komentar:

  1. bagus dit, aku dapet feelnya........!

    BalasHapus
  2. wow, kereen! Feel nya dapet (Y)

    Tapi kayaknya banyak misteri nih!
    ditunggu lanjutannya deh! xD

    BalasHapus
  3. haha,
    dari pada punyaku...? geje binti abal abal

    BalasHapus
  4. crtany bkin pnsaran. .kei bs liat ms dpan y mei? ?
    njuT y mei,tp send k inbox ja. .hehe. . :)

    BalasHapus
  5. Uwah~!
    Kei! >v<
    Keren ne, ka~ XD
    Kei ceritanya bisa ngelukis masa depan nih? 'v'?
    Ah.. Kei... T.T *jadi ikut sedih*

    Ne, bagus banget kata-katanya.. Bermakna~ ^^
    Diterusin ya~! XD*Hehe...
    Ganbatte yo! XD

    -Anna

    BalasHapus