Title : Blood…
Author : dita-cHun
Type :Oneshot
Genre : Friendship, Family, Hurt/Comfort
Rating : PG+13
Music : Sha Sha De Yong Qi by Fahrenheit
Cast :
*Arioka Daiki
*Yamada Ryosuke
*Nakajima Yuto
*Takaki Yuya
Disclaimer : all cast adalah punya Tuhan, saya cuma punya plot. So, no bashing, ok?
Warning : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya
“Ohayou, Dai-chan! (selamat pagi, Dai-chan)” sebuah suara cukup familiar menelusup ke dalam telinga Daiki. Ia menoleh. Dilihatnya Ryosuke tengah berlari kecil ke arahnya. Ia tidak sendiri, melainkan ada orang lain yang mengiringinya, Nakajima Yuto.
“Oi, Dai-chan, hisashiburi ne~ (sudah lama, ya~)” ucap Yuto begitu jarak mereka tak lebih dari dua meter. Daiki mengangguk, menyungging satu senyuman untuk temannya yang baru saja pulang dari Perancis itu.
“Bagaimana pertandinganmu?” tanya Daiki.
“I’m still number 1,” ucap Yuto dengan gaya bahasa Inggrisnya yang khas. Ryosuke dan Daiki terkekeh sekilas mendengar logat Yuto yang mereka anggap lucu itu.
“Lalu kau sendiri, Dai-chan? Bagaimana pertandinganmu?” tanya Yuto balik. Daiki terdiam sejenak, kemudian bibirnya kembali mengutarakan beberapa kata. “Aku gagal… hehehe.”
Mungkin Daiki memang tertawa, namun tidak terdengar lucu sama sekali. Hambar. Ryosuke bergerak cepat, ditepuknya pundak Daiki pelan, “Ganbatte ne~! (semangat ya)” Disusul Yuto kemudian.
“Berusahalah, Dai-chan! Kami akan mendukungmu, bagaimanapun.” Ucap Yuto, Ryosuke mengangguk mengiyakan.
“Un, ganbarimasu! (I will do my best)” ucap Daiki sembari mengukir segaris senyum. “Arigatou, minna (terima kasih, semua)”
**Blood**
“Eeeh? Kau sudah beli majalah edisi minggu ini?” sebuah suara menyita perhatian Daiki. Ia melirik pada seorang gadis yang tadi berteriak kencang pada teman di sampingnya.
“Eh, memangnya ada apa?”
“Edisi spesial Takaki Yuya, lho! Temanku dari Tokyo semalam mengubungiku. Dia bilang ada poster dan stiker Takaki Yuya juga, lho! Kyaa!”
“Ehh? Hontou ni? (sungguh?)”
“Un! Nanti kita beli di toko buku disana itu, bagaimana?”
“Ah, baik-baik!”
Gadis itu, tidak, bukan gadis itu. Daiki sama sekali tidak tertarik padanya. Tapi, pembicaraan gadis itu yang menarik perhatian Daiki. Dan sebuah nama yang mereka sebut-sebut itu bukanlah sesuatu yang asing didengar oleh telinga penduduk Jepang. Ya, Takaki Yuya. Tentu sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang Takaki Yuya yang kepopulerannya melejit sejak pertandingan musim panas lalu itu menjadi bahan incaran utama media massa.
Bagi Daiki, Takaki Yuya adalah sosok pria yang cukup beruntung di antara kesekian banyak orang beruntung di dunia. Karirnya yang melejit di bidang atletik itu tentu sempat membuat seorang Arioka Daiki terkesima. Tapi, waktu menunjukkan segalanya. Siapa Takaki Yuya yang sebenarnya.
Dulu, dulu sekali. Ia sempat dekat dengan sosok yang kini tengah digunjingkan masyarakat luas itu. Sampai akhirnya, sebuah peristiwa kecil menjauhkan hubungan mereka. Kehilangan kontak, itulah yang terjadi pada masa ini, sekarang.
Daiki bangkit dari posisinya semula. Dilingkarkannya tas selempang yang semula terdiam di atas meja. Bel pulang baru saja berbunyi, ia bergegas pulang.
“Dai-chan!” sebuah suara berhasil menghentikan langkah Daiki begitu ia sampai di gerbang depan. “Ke toko buku disana, yuk!”
“Memangnya ada apa?” tanya Daiki pada pria di hadapannya itu.
“Kudengar ada majalah edisi khusus Takaki Yuya, lho! Nah, aku akan membelinya, secepatnya!” ucap pria itu memasang wajah polos. Daiki menghembuskan nafas kuat-kuat, perasaannya campur aduk antara penasaran dan jengkel. Pertama, ia heran kenapa temannya satu ini mudah sekali terbawa arus manusia seperti itu. Dan kedua, ia jengkel mendengar nama itu untuk kesekian kali. Entah sejak kapan, nama itu sudah dibencinya.
“Aku sibuk, Ryosuke!” ucap Daiki menolak. “Ayolah, Dai-chan… Onegai… (please)”pinta Ryosuke lagi.
“Pergi saja dengan Yuto, kan, bisa?” Daiki menunjuk ke arah Yuto yang tengah berjalan ke arah mereka. “Aku tidak mau, dia sedang sibuk dengan robotnya. Kau tahu, kan, sebentar lagi ada pertandingan baru?” Ryosuke terus merengek, “Ayolah…”
“Hmh… Baiklah, kali ini saja, ok?” Ryosuke mengangguk mantap mendengarnya.
**Blood**
.
PRANG!
.
Suara itu menggema ke seluruh sudut ruang kediaman Arioka. Beberapa sekon setelah suara itu terdengar, ganti suara lain yang menyusul. Gaduh.
“Brengsek! Apa yang kau lakukan, huh?!” mungkin kalimat itu tidak lagi pantas didengar, namun itulah kenyataan. Kenyataan bahwa yang mengucapkannya adalah berlabelkan seorang ‘Ibu’. Bagi Daiki, wanita itu bukanlah ibunya lagi, sejak hari yang terlupakan tepatnya. Baginya, wanita itu hanyalah seorang wanita club malam yang menumpang tinggal bersamanya di kediamannya yang tak pernah tenang ini.
“Kau tidak perlu mengurusiku! Kau pergi bekerja saja sana! Carilah uang yang banyak dari lelaki brengsek diluar sana, ‘Okaa-san’ (ibu)!” ucap Daiki tak kalah kasarnya sembari menekan kuat kata ‘Okaa-san’ pada kalimatnya.
.
PLAK!
.
Sebuah tamparan hebat melesat pada pipi Daiki. Setitik darah mulai tampak menyembul dari bibirnya. “Jaga bicaramu!”
“…Memangnya kenapa? Bukankah kau memang wanita penghibur di klub itu? Jangan kira aku tidak tau!”
Wanita itu angkat kaki dari kamar Daiki. Ia sama sekali tak bisa mengelak apa yang diucapkan oleh anak semata wayangnya tersebut. Ia memanglah… seorang pelacur. “Dasar, brengsek…”
Daiki menatap nanar ke setiap sudut di kamarnya. Tidak rapi lagi seperti dulu. Kamar yang dulu tidak pernah berdebu sama sekali. Sekarang sudah penuh sarang laba-laba dan barang pecah belah yang kapan saja bisa melukai kaki siapapun yang menginjaknya. Selimut dan sprai yang sudah lama tidak diganti itu terlihat acak-acakan di atas ranjang kamar Daiki. Benar-benar berantakan.
Kali ini pandangan Daiki tertuju pada album foto yang menyembul keluar dari kolong ranjang. Ia lekas mengambilnya dan membukanya kembali. Foto masa lalu yang menyenangkan. Masa yang sudah habis saat ini. Ya, itu hanyalah foto masa lalu yang sudah tidak ada artinya lagi. Foto yang tidak akan membuat dunianya kembali seperti dulu, sebelum ayahnya meninggal di sel tahanan yang mengurungnya atas tuduhan pembunuhan.
“Arrggh!!!”
**Blood**
‘Kenapa darah ini yang mengalir dalam tubuhku? Kenapa darah seorang pembunuh? Kenapa darah seorang pelacur? Bukankah akan lebih baik kalau aku lahir dari seorang ayah peraih medali emas marathon internasional? Kenapa aku harus lahir dari rahim wanita itu? Kenapa aku harus menjadi anak mereka?! Kuso! (sialan)’
Buliran-buliran bening itu terus melesat keluar dari kedua kelopak mata Daiki, membasahi kedua pipinya. Ia terus merutuk dalam hati. Menyesali keadaannya yang benar-benar menyedihkan. Dulu, ada tangan lembut yang menghapus air matanya, tapi kini… Semuanya sudah lenyap. Lenyap seketika, membuat dirinya terhenyak, dan percaya bahwa kenyataan hidupnya itu sangat menyedihkan.
‘Takaki Yuya. Bagaimana mungkin pria itu malah memiliki darah seorang pelari? Hei, mimpinya yang sesungguhnya bukan disana! Aku yang menginginkannya! Kenapa malah dia yang mendapatkan segalanya, sementara aku tidak sama sekali?! Aku muak padanya! Muak sekali!’
**Blood**
“Ryosuke, Yuto!” panggil Daiki pada kedua temannya yang asyik mengobrol di kantin. Kedua manusia yang dipanggilnya itu seketika menengok ke arah Daiki.
“Yo~ Dai-chan…” sambut Ryosuke diikuti anggukan Yuto kemudian.
“Kalian membicarakan apa? Kenapa tidak mengajakku?” protes Daiki sembari meneguk minuman di hadapannya. Ryosuke segera menepuk pergelangan tangan Daiki begitu disadarinya, minuman itu miliknya. “Dasar, kau ini! Sifat pelitmu itu tidak pernah hilang!” ungkap Daiki. Yuto yang melihat perkelahian mereka hanya terkekeh.
“Ee… Sebenarnya kita sedang membicarakan Takaki Yuya. Kabarnya dia kecelakaan kemarin lusa,” ucap Yuto membuka pembicaraan serius di antara kami.
“Oh, lalu?” Daiki memutar bola matanya, bosan.
“Dai-chan, kenapa, sih, kau kelihatan tidak suka sama sekali kalau kami membicarakan Takaki Yuya?” protes Ryosuke.
“Aku biasa saja, kok. Kau saja yang berlebihan,” protes Daiki balik. Yuto hanya menepuk keningnya pasrah melihat kedua temannya kembali beradu mulut hanya karena masalah sepele.
“Padahal, kan, dia juga atlet marathon sepertimu. Kenapa kau kelihatan tidak suka? Bukankah lebih baik kau mencontoh hal positif dari Takaki Yuya? Dia panutan,” ucap Ryosuke lagi.
“Aku menghargai semuanya, kecuali mimpinya dan darah yang mengalir dalam tubuhnya! Itu yang membuatku muak!” Daiki mulai naik pitam. Sedangkan Ryosuke sama sekali tidak mau berhenti berceloteh, “Alasanmu itu tidak masuk akal, Dai-chan! Memangnya hanya karena dia memiliki darah ayahnya yang pelari itu dia jadi seperti sekarang ini?! Bukan semudah itu, Dai-chan! Coba kau pikirkan sesuatu yang lebih realistis!”
“Lalu salah siapa dalam tubuhku mengalir darah seorang pembunuh, huh?! Persetan dengan kalian semua!” bentak Daiki lalu beranjak dari hadapan kedua temannya itu.
“Chotto matte, Dai-chan! (tunggu sebentar)” sergah Yuto. Namun, Daiki tak mengurangi kecepatan langkahnya sama sekali. “Aish, Ryosuke, kau, sih…” gerutu Yuto.
“Kenapa kau juga menyalahkanku?” tanya Ryosuke bingung.
“Kau terlalu banyak bicara… Kau tahu sendiri, kan, dia itu bagaimana…” ucap Yuto setenang mungkin. Kali ini ia menyeruput minumannya sedikit. “Sudah, minum sana. Kau jangan ikut kalap begitu…” Yuto menyodorkan minuman Ryosuke yang sempat diminum Daiki tadi.
**Blood**
.
“Yuya-kun, larimu sangat cepat! Kau ingin jadi pelari suatu saat nanti?”
“Ee… Tidak juga. Lari bukan tujuan utamaku, hanya senang-senang saja. Aku lebih tertarik pada dunia arsitektur. Bagaimana denganmu sendiri, Dai-chan?”
“Aku? Tentu saja aku akan berlari sampai akhir! Aku ingin menjadi pelari nasional Jepang…”
“Ganbatte, Dai-chan! (semangat) Kau akan mengalahkanku suatu saat nanti. Hahahaha.”
.
“Gomen, Dai-chan… Gomen ne… (maaf)”
“Kenapa kau berbohong? Kenapa kau tidak mengatakan ini sejak awal!? Kenapa!?”
“Aku… Aku tidak ingin kau patah semangat begitu saja. Demo, Dai-chan… Kupikir sekaranglah waktu yang tepat, bagaimanapun kau harus tahu bahwa sebenarnya ‘darah’ yang kau harapkan itu sudah mengalir di dalam tubuhku selama lima belas tahun. Aku tidak bisa menolaknya, Dai-chan. Harusnya, ada atau tidaknya darah ini tidak akan berpengaruh padaku, kan? Toh, tujuanku bukan lari…”
“Justru itu aku kecewa sekali padamu! Bahkan kau memberitahuku seperti ini, aku jadi seperti orang paling menyedihkan di dunia! Brengsek!”
“Dai-chan, chotto matte! (tunggu sebentar)”
.
Daiki menjejakkan kakinya ke garis start. Hari ini ia harus bertemu kembali dengan sosok yang sudah tidak ingin dijumpainya lagi sejak hari itu. Baginya, semuanya sudah berakhir. Dan saat ini mereka adalah rival. Rival setelah persahabatan itu berakhir sia-sia.
“Dai-chan…” suara itu menelusup ke dalam telinga Daiki. Ia tak menengok sama sekali, hanya melirik sedikit, kemudian mengalihka pandangannya ke depan kembali.
“Kau harus berjuang… Dan aku akan melepaskan semuanya…” ucap Yuya.
“Eh?” kali ini ucapan Yuya membuat Daiki mengalihkan perhatiannya.
“Satu meter sebelum finish, berlarilah secepatnya… Aku akan mengurangi kecepatanku. Aku akan menga—”
.
BUAGH!
.
Satu pukulan kuat mendarat pada pipi Yuya. Itu membuat Yuya yang semula berdiri tegak seketika terjerembab ke lantai. Sekali lagi Daiki meninju wajah Yuya untuk kedua kalinya.
“Ukh! Apa maksudmu, Dai-chan?!” protes Yuya.
“Brengsek! Selamanya kau adalah orang paling brengsek dalam hidupku!”
.
BUAGH!
.
“Gomen… (maaf)”
.
BUAGH!
.
“Ukh!”
“Jangan mengucapkan sepatah katapun atau kubunuh kau!” ancam Daiki. “Kenapa kau tidak mengerti? Apa kau sebodoh itu, huh? Aku tidak ingin kau menyianyiakan apa yang sudah kau miliki, bodoh! Darah seorang pelari! Kau memilikinya! Kau harusnya menghargainya! Bukan mengutuknya, baka (bodoh)! Bahkan kau setega itu membuatku menjadi tersangka selama dua tahun! Kau membuatku merutuk setiap hari dan membuatku muak! Kau memiliki darah atlet tapi kau malah mengharapkan arsitektur! Sekarang kau mau mengalah dan meminta maaf padaku, kenapa kau semakin membuatku menyedihkan?! Brengsek!”
.
BUAGH!
.
“Dai-ch…”
“Diam! Jangan mengucapkan apapun! Berlari saja sekuat tenagamu! Aku akan menyusulmu suatu hari nanti, baka! Ingat itu!”
Yuya tertegun sejenak mendengar ucapan Daiki. Ia hendak mengucapkan sesuatu, namun batal mengingat ucapan Daiki barusan. Meski perlahan, segaris senyum mulai terukir di wajah Yuya. Artinya, semuanya masih bisa diperbaiki, sebelum ia terlambat sekali lagi.
.
DOR!
.
Suara pistol yang melesatkan pelurunya ke angkasa itu menggema ke seluruh penjuru stadion. Seluruh peserta berlari sekuat tenaga, termasuk Yuya dan Daiki. Meski samar-samar, terdengar suara familiar yang tengah berteriak di antara ratusan penonton yang hadir.
“Oi!! DAI-CHAN!! KAU HARUS MENANG!!” teriak Ryosuke.
“Eh? Kenapa kali ini kau mendukung Dai-chan?” tanya Yuto di sampingnya.
“Oi, siapa sahabatku? Tentu saja Dai-chan, baka!”
“Dasar!”gumam Yuto terkekeh. Kemudian mereka terus meneriakkan nama Daiki diantara ratusan penonton lain yang meneriakkan nama Takaki Yuya.
Pertandingan berlangsung tegang. Daiki dan Yuya berlari sekuat tenaga. Satu meter lagi mereka sampai finish. Tidak ada yang peduli lagi apa yang terjadi pada masa lalu, karena masa kini… Adalah yang harusnya mereka pikirkan dan jalani.
.
BUGH!
.
“Apa yang terjadi?” tanya Ryosuke ketika ia mendengar dentuman keras itu.
“Mereka masuk finish bersamaan…” jawab Yuto.
“Eeh?”
**the end**
**the end**
Jangan lupa tinggalkan komen & nama ^^ sankyuu
Jiaahh, sedih bangett pengu disini >.<
BalasHapusoh ya aku hampir lupa, tentang kebiasaan dita-chan,
kalo endingnya bukan angst, pasti gantung *plak xD
wkwkwwkwkk
Gantung ka!!! =.=
BalasHapusini udh end ya??
BalasHapussedih crta'a daiki tpi knapa kyk'a rada ngegantung ya??
hehe...
Uwah~!
BalasHapusKAkkoi ne! kakkoi! >v<
Daiki menang sama Yuya..
Terus? o.O
Akhirnya.....?
o.O*bingung*
XD
Ne, Tetap semangat ne, ka! XD
Bagus banget~!
-Anna
ini sad ending dita-chan....
BalasHapussoalnya ga ada bunuh2an nya,,,,,, hahaha...
*Tabokdehgue
wah,.... ini mah gantung.,.....