Kamis, 01 Maret 2012

That Person...

Title           : That Person~

Author         : dita-cHun

Type           : Oneshot

Genre           : Romance, Friendship

Rating          : PG+12

Music           : That Person by Lee Seung-Chul

POV            : Chinen Yuuri

Cast            :

#Chinen Yuuri

#Matsumoto Tsuki

#Okamoto Keito

Disclaimer      : Chinen, Keito, dan Tsuki-chan adalah  milik Tuhan. Seluruh setting disini adalah milik saya. So, no bashing. Mau bash? Silahkan, saya gak peduli dengan bash-bash-an macam apapun XD

Warning        : gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~





.

Setumpuk buku selalu menghiasinya~

Menghiasi parasnya~

Dan menghiasi segala yang ada pada dirinya~

Matsumoto-chan…

Tsuki-chan…

Matsumoto Tsuki…

Yes, that person~

.


   “Matsumoto-chan!” setelah sekian lama aku mengumpulkan kepingan keberanianku, akhirnya terlontar juga kata itu. Meski hanya satu kata, tapi selalu membuatku berdebar, akankah aku mengatakannya?

   “Ah? Chinen-kun? Nande? (kenapa?)” gadis itu mengalihkan perhatiannya dari buku yang baru saja menyita penuh konsentrasinya. Ia tersenyum.

.

Tersenyum~

.

Bahkan membayangkan ia tersenyum ke arahku saja rasanya mendebarkan, kali ini ia benar-benar melakukannya.

.

Baka!

.

Aku memang bodoh. Aku memang pengecut. Nyaliku ciut saat dia benar-benar memandangku dengan tatapan itu. Demi apapun, kuharap ia tak melihat kegugupanku!

   “Chinen-kun?” gadis itu bangkit dari bawah pohon yang baru saja melindunginya dari terik matahari siang ini. Astaga! Ia menghampiriku! Kumohon, demi apa saja! Jangan buat dia melihat kegugupanku~

   “Ah… Aku… Aku hanya menyapa! Kukira kau sibuk! Jaa ne~” salamku sebelum aku pergi dari hadapannya. Pasti tampak sekali kalau aku ini seorang pengecut. Terbukti dengan turunnya beberapa tetes peluhku ketika ia menghampiriku.

.

Indah~

.

Kurasa akan lebih baik jika aku hanya mengamatinya dari kejauhan. Akan terasa lebih senang. Ya, menyenangkan menatapnya yang asyik sendiri dengan buku-bukunya dari atas sini~ Dia terlihat sangat menarik. Matsumoto Tsuki~

*******************************************************

   “Oi, Chinen, kau tidak lelah ya memandanginya seharian?” ujar Keito, teman sebangkuku. Mungkin, ia sudah bosan melihat sikapku. Tapi, toh, aku tidak peduli.

   “Bagiku ini mengasyikkan~” ucapku tanpa mengalihkan pandangan.

   “Lama-lama kau bisa gila!”

.

BUGH!
.

   “Ittai!” jeritku merasakan sebuah benda keras menghantam kepalaku. Kamus. Ya, kamus bahasa Inggris yang selalu bertengger di tangan pria bernama Okamoto Keito itu.

   “Kupikir kau tidak akan terpengaruh dan tetap akan menatapnya~ Ternyata kau masih waras~” ucap Keito sembari sesekali menunjuk-nunjuk ke arah objek favoritku itu—Matsumoto Tsuki.

   “Dia menarik~ Indah~” gumamku.

   “Begitulah kalau orang sudah jatuh cinta~ Semuanya dibilang indah, menarik, apalah itu… Love is blind~ Dan itu yang membuatmu semakin gila,” ucap Keito kembali berargumen.

   “Whatever…” balasku berusaha mengakhiri percakapan kami.

.

Cinta~

Apa itu?

.

   Kurasakan benda lembut menyentuh tanganku—dingin rasanya. Ah, aku lupa kalau hari ini adalah awal musim dingin. Butiran putih lembut berjatuhan satu-persatu dari langit—salju. Cepat-cepat kukenakan jaket berwarna gelap yang sempat terselip di tasku. Tidak terlalu tebal, tapi setidaknya mampu meredam dinginnya salju yang menusuk-nusuk kulit.

.

TAP TAP TAP

.

Suara langkah kaki—yang khas. Aku tahu siapa itu. Matsumoto Tsuki… Dia selalu berjalan dengan langkah halus namun pasti. Sekelebat aku melihat sosoknya melewati koridor lalu masuk ke ruang kepala sekolah. Entah apa yang dilakukannya di sana.

   “Dia lagi… Kurasa sebaiknya kau langsung menghampirinya lalu nyatakan cintamu. Daripada kau berdiam diri sambil mengamatinya tanpa hasil apapun,” cetus Keito yang entah sejak kapan ada di sampingku.

   “Suatu saat pasti…” jawabku.

   “Mau menunggu sampai kapan? Sampai dia direbut orang?” ucap Keito seolah mengomporiku.

   “Lagipula, menurutku lebih baik kau langsung bertanya saja tentang perasaannya padamu. Dari pada kau berdiam dan membuang waktu percuma,” lanjutnya mulai mengenakkan jaketnya. Ia menata sedikit bagian kerah jaket yang tak cukup tebal itu.

   “Aku ragu. Bagaimana kalau dia tidak menyukaiku?” ucapku akhirnya.

   “Ya, tinggal menerima keadaan. Memangnya mau bagaimana lagi? Cinta itu kan tidak bisa dipaksakan,” jawabnya.

   “Ikou! (ayo)” ajaknya. Aku masih terpaku di tempatku, menimang-nimang apa yang akan aku lakukan sekarang.

   “Anoo, kau duluan saja. Aku ingin menyelesaikan sesuatu. Jaa! (bye)” seruku pada Keito lalu melangkah masuk ke koridor tanpa menunggu jawaban dari Keito.

.

Ketika waktu terasa begitu lama~

Menunggu adalah sesuatu yang membosankan…

Tapi, tidak untuknya…

Gadis itu~

.

   “Chinen-kun? Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya gadis itu yang tiba-tiba muncul di hadapanku. Mungkin aku terlalu asyik dengan lamunanku sampai tak sadar akan kehadirannya. Saat begini bagaimana?

   “A… Anoo… Iie…” aku jadi gagap sendiri. Kurasa sudah jadi begini… Semuanya sudah terlanjur… Untuk apa menyesalinya… Sebaiknya kulakukan saja…

   “Anoo… Matsumoto-chan…”

   “Panggil saja aku Tsuki-chan… Tidak apa-apa, bukankah kita teman sekelas?” ucapnya diselingi senyuman yang membuat lesung pipit di sisi kanan pipinya tampak jelas.

   “Ah, hai’. (baik) Anoo… Maukah kau pulang bersamaku? Kita searah, bukan?” ajakku. Dalam hati terus berdo’a agar dia menerimanya. Sesekali aku mengumpati diriku yang bodoh ini.

   “Hai’ (ya)” jawabnya singkat.

   “Ahh… emm… i… ikou… (ayo)” ajakku. Ia hanya mengikutiku. Aku yang biasanya berjalan terburu-buru kali ini mencoba menstabilkan langkahku—mengimbangi langkah gadis di sampingku. Aku tak ingin meninggalkannya dan aku juga tak ingin ditinggalkannya. Langkah kami terus kujaga agar sejajar. Betapa indahnya kalau waktu berhenti saat ini, membiarkan aku menatapnya sedekat ini.

   “Matsu—Ahh~ Tsuki-chan, anoo… Bisakah kita berhenti di halte depan? Ada yang ingin kubicarakan sebelum kau sampai di rumah…” ucapku memecah keheningan yang sejenak melanda kami.

   “Ahh~ souka… (begitu) baiklah…” jawabnya. Kami segera mampir ke halte bis yang jaraknya tak lebih dari sepuluh meter di depan kami. Sembari memikirkan—menyusun kalimat yang tepat, kutawarkan padanya segelas kopi hangat yang dijual di kedai dekat saja. Ia hanya menerimanya begitu saja.

   Gugup kembali melandaku kala ia berbicara, menanyakan apa yang ingin kubicarakan—dengan suaranya yang begitu lembut bagaikan kapas.

   “Jadi… ada apa Chinen-kun?” ia meneguk sebagian kopi hangat itu.

   “Anoo… Matsu—Ahh, maksudku Tsuki-chan… Itu sebenarnya… Da… Daisuki! (Aku menyukaimu!)” akhirnya aku mengatakan hal itu. Hal yang sudah lama mengganjal di hatiku. Dan tahukah kau apa yang kudapat setelah itu? Ia hanya menjawab…

   “Eh?”


________the end________

1 komentar:

  1. ...
    *ngakak*
    Lucu... ^^ xD
    Ada Tsuki nee chan di situ... ^^*noel" Tsuki nee

    Kerenn ne~ xD
    Tambah lagi yah? xD

    -Anna

    BalasHapus