Kamis, 01 Maret 2012

One Two Three...

Title         : One, Two, Three . . .

Author      : dita-cHun

Type         : Oneshot

Rating      : PG+13

Genre       : Romance, Angst

Music       : Momo by Fahrenheit

Cast         :

*Gui Gui

*Yan Ya Lun

*Yang Cheng Lin

POV          : Gui Gui

Disclaimer        : Seluruh tokoh milik Tuhan, kecuali plot adalah milik saya XD, no bashing. Mau bash? Silahkan, saya tidak peduli bash-bash-an  macam apapun

Warning    : Gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~




.

Satu dua tiga… Aku menginginkanmu…

.


     “Cheng Lin!” aku mendengus kesal sambil berlari ke arah Cheng Lin, temanku. Kulihat sekilas ia menatapku bingung, matanya seolah bertanya ‘ada apa?’ Tapi, aku hanya menatapnya sambil mengatur nafas. “Sepertinya kau butuh minuman, hm?” ia menyodorkan botol berisi minuman buah. Tak butuh waktu lama sampai kusambar botol itu dan kuteguk seperempat bagiannya.

     “Katakan, apa yang terjadi?” Cheng Lin melipat kedua tangannya di depan dada. Dengan suara lembut dan tenang ia bertanya seperti itu—khas Cheng Lin yang biasa kulihat. “Ini semua tentang Yan Ya Lun!” dengusku sekali lagi.

     “Dia memergokimu mengintipnya lagi?” ucap Cheng Lin sembarangan.

     “Arrghh~ Itu tidak akan terjadi untuk kesekian kalinyaaaaa!!” teriakku lalu duduk di atas gundukan batu yang letaknya tak jauh dari tempatku berdiri.

     “Jadi, memang ketahuan lagi?” tampak sekali Cheng Lin berusaha keras menahan tawanya yang akan meletup kala itu. “BINGO!” seru Cheng Lin tiba-tiba.

     “Apa lagi?!” dengusku kesal.

     “Ya Lun ada disana, lho!” Cheng Lin menunjuk ke suatu arah. Aku segera mengikuti jemarinya mengarah. Kulihat seorang cowok keren sedang berdiri di antara beberapa mahasiswa tak jauh dari tempatku.

     “Oh My God, kenapa begitu silau~?” aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku.

     “Dasar!”

     “Pokoknya aku harus mendapatkannya!” seruku mantap.

.

Satu dua tiga… Aku mendekatimu…

.

     Kulihat beberapa orang mahasiswa menengok ke arahku, diikuti Ya Lun kemudian. Entah semerah apa wajahku kali ini, aku tidak tahu. Aku hanya mengukir senyum ragu-ragu pada wajahku. Apalagi beberapa kejadian memalukan yang selalu mempertemukan kami berdua. Rasanya, dia pasti enggan meskipun sekedar menyebut namaku.

     Kulihat Ya Lun memisahkan diri dari teman-temannya, namun pandangan teman-temannya masih fokus pada laki-laki tegap itu. Ya Lun berjalan… ke arahku?

     “Wei!” ia tampak melambaikan tangan. “Kemarilah!” ia memberikan isyarat agar menuju ke arahnya. Sekilas aku menengok ke samping kanan-kiri dan ke belakang. Sepertinya ia memang memanggilku. “Aku?” aku menunjuk diriku sendiri. Ia mengangguk sekali. Aku menyegerakan langkahku ke arahnya. Jarak di antara kami terus memendek dan memendek, hingga jarak itu tak sampai dua meter.

     “Ni! (Kau!)” ia menunjukku sambil menatapku tajam dibalik kacamata segi empat yang membingkai indah kelopak matanya. “Kembalikan kaosku!” serunya tiba-tiba.

     “Hah?”

     “Atau kau mau seisi kampus tahu kalau dirimu adalah…” ia menggantung kalimatnya sambil terus berjalan mendekat ke arahku. “Penguntit,” bisiknya di telingaku.

DUKH!

     “Aduh!” teriaknya usai kakiku menginjak kaki yang berbalut sepatu miliknya. “Enak saja kau menuduhku! Aku tidak selera dengan kaosmu!” protesku. Sejenak ia merilekskan kakinya, lalu kedua tangannya bertepuk mantap dengan ritme konstan.

     “Eh, siapa tahu, kan? Penguntit sepertimu bisa saja tiba-tiba mengambil kaosku kemudian menyembunyikannya di suatu tempat. Lalu kau berbohong untuk menutupinya,” ucapnya lagi. Yang selalu kutanyakan dalam hatiku adalah…

     “Kenapa kau suka sekali menuduh orang, huh?! Dan ucapanmu tidak bisakah tidak setajam itu?” ucapku penuh penekanan.

     “Hei, guys!” ia menengok ke arah kerumunan mahasiswa tadi. “Apa kalian tidak tahu kalau gadis ini adalah pengun—hmmpp—” sesegera mungkin aku segera membekap mulutnya yang super ember itu. Dengan sedikit tenaga yang aku miliki aku lekas menariknya menjauh dari kerumunan mahasiswa itu. Kalau tidak, dia akan menjatuhkan reputasiku! Huh!

     “Ayo, kembalikan!” tangannya kanannya menengadah padaku. Ah, terpaksa…

     “Nih, aku cuma mengambil ini…” aku mengeluarkan sehelai kain, tepatnya saputangan yang sempat ku ambil dari tas pria satu ini. “Dan ini…” aku mengeluarkan lagi sebuah kacamata gelap dari tasku. “Lalu ini…” sekali lagi aku mengeluarkan handbody yang selalu dibawanya kemana-mana. “Cuma itu, lainnya aku tidak ambil!” gerutuku.

     “Selain penguntit ternyata kau juga pencuri ya?” ucap Ya Lun lagi. “Un, dui bu qi…(maaf),” ucapku. “Tapi, aku sama sekali tidak berniat buruk, kok…”

     “Tidak, katamu? Hei, mencuri juga melanggar hukum! Kalau kau tinggal di Arab, mungkin tanganmu sudah dipotong sekarang,” ucapnya. Aku lekas menyembunyikan kedua tanganku ke belakang punggungku. Mana mau aku hidup dengan satu tangan? Tidak mau.

.

Satu dua tiga… Aku mengejarmu…

.

     “Ya Lun!” teriakku dari kejauhan begitu kulihat pria itu hendak masuk ke dalam mobilnya. Aku segera berjalan ke arahnya. “Nih!” aku menyodorkan lollipop strawberry padanya.

     “Apa ini?” tanyanya. “Kau berniat meracuniku, ya?”

     “Bisakah kau tidak bersikap menyebalkan, hah?!” gerutuku. “Itu permen biasa! Tapi, isinya luar biasa!” ucapku.

     “Ckckck, ini bom, ya?” protesnya lagi sambil mengamati tiap inchi permen itu.

     “Ya! Itu bom!” gerutuku keras. “Itu ancaman,” lanjutku.

     “Ancaman? Ancaman apa?” ia menatapku bingung. “Ancaman tutup mulut!” jawabku. “Kau harus merahasiakan semuanya, sebagai gantinya aku akan membelikan sebutir  lollipop setiap hari,” lanjutku lagi.

     “Kalau ini sih… Permainan anak-anak,” ucapnya lalu memasukkan permen itu ke dalam saku jaketnya. “Maksudmu?”

     “Tidak semudah itu,” gumamnya. “Kau harus mengabulkan 3 permintaanku,” lanjutnya.

     “Tidak mau,” protesku. “Itu terlalu menguntungkan pihakmu,” ucapku.

.

Satu dua tiga… Terus mengikutinya…

.

     “Terserah, sih…” ucapnya santai. “Besok kabar baru tentang mahasiswi sastra, Gui Gui, yang bekerja sambilan sebagai penguntit akan tersebar, “ ia bergegas masuk ke dalam mobilnya.

     “Eh, eh, eh! Tunggu!” cegahku spontan. “Huh… Baiklah. 1 permintaan!”

     “Ti-ga!” ejanya. “Iya, dua~” kedua matanya membelalak ke arahku. “Sekali tiga, tetap tiga!” ucapnya kokoh. “Ahh~ sialan! Baiklah, tiga…” Tak butuh lama setelah jawabanku, mobilnya sudah melesat jauh meninggalkanku.

     Meski aku selalu kesal dibuatnya… Tapi, perasaanku tidak (belum) berubah sejak hari itu. Dia meminta tiga permintaan, itu artinya, ada banyak waktu untuk mendekatinya!

.

     “Pertama!” serunya keras. “Aku ingin kau memanjat ke atas sana!” ia menunjuk ke arah sebuah pohon mangga yang cukup tinggi di sisi kampus. “Dan kau harus mengambil mangga itu! Tidak boleh salah! Harus yang… ITU!” serunya sambil menunjuk ke arah mangga yang entah dimana letaknya. “Cepat!” teriaknya. “Iya, iya!”

     Aku segera memanjat pohon itu. Meski dengan perasaan yang tidak ikhlas sama sekali. Aku tidak rela mati disini! Dasaaar!! Ya Luuun!
 Ben dan!! (bodoh)

     “Aku tidak akan menangkapmu kalau kau jatuh, lho… Jadi, hati-hati!” kulihat pria itu melambaikan tangan ke arahku. Ia bahagia sekali melihatku menderita!

     Aku lekas memetik sebuah mangga yang cukup besar dan melemparkannya ke arah Ya Lun.

BUGH!

     “Aduh!” teriaknya. “Apakah buah yang itu?” teriakku dari atas. Ia lekas mengambil mangga tersebut, mengamatinya sekilas. “Bukan! Kubilang yang sebelah situ!”

     Ukh! Awas saja kalau ini sudah berakhir!

BUGH!

     Aku melemparkan lagi sebuah mangga pada Ya Lun. “Wei, kau bisa memberikannya lebih sopan tidak?!” protesnya.

     “Dasar, aku malas bolak-balik!” teriakku. “Apa yang itu?” kulihat ia mengamatinya sekilas. “Un, yang ini! Hmm… ini pasti manis!” ia segera berjalan ke arah kampus. “Eh? Wei! Bagaimana denganku?!” teriakku. “Turun saja! Bye! Besok tunggu aku di taman untuk permintaan kedua.”

     UKKKKKKHHHHH!!

.

Satu dua tiga… Meski dia gila, aku tetap menyukainya…

.

     Aku masih duduk di bangku taman menunggu pria bernama Ya Lun itu. Sudah hampir 15 menit aku menunggunya yang tidak nampak sama sekali sejak tadi.

     “Wei,” kudengar sebuah memanggilku. Aku menoleh.

     “Kedua!” serunya. “Aku akan mengatakannya seminggu lagi! Dan selama seminggu itu kau harus membantuku belajar!” ucapnya.

     “Astagaaa!” teriakku kesal. “Kau suruh aku menunggu 15 menit hanya untuk mengatakan itu?!”

     “Kau tidak mau?” ia memutar bola matanya. “Baiklah, baiklah!” ucapku akhirnya. “ Tapi, saat kau mengucapkan permintaan terakhirmu, aku juga akan meminta satu hal darimu. Kau setuju?”

     “Untuk apa aku menyetujuinya? Cih,” gumamnya lalu berlalu dari hadapanku.

.

     Sejak hari itu, aku terus mengikuti tiap ucapannya. Kami banyak bersama sepanjang waktu. Aku dan Ya Lun, mungkin semua ini tanpa disadarinya. Kami semakin dekat. Setiap hari kami pergi ke perpustakaan atau toko buku, makan bersama. Meskipun ucapannya tidak berubah, sih. Tetap tajam seperti biasanya. Hari ini, ia akan mengutarakan permintaan kedua.

.

Satu dua tiga… Aku membawa cintanya sampai ke langit…

.

     “Ketiga!” serunya. “Eh? Bukankah harusnya ini permintaan kedua?” gumamku. “Tanpa sadar, permintaan kedua sudah selesai! Nilaiku, 90!” ia menunjukkan sebuah kertas ujian padaku. “Wah!! Akhirnya! Kau pintar juga!”

     “Maksudmu?” ia melipat kertas itu sambil menatapku tajam. “Ah? Apa aku mengatakan sesuatu?” bantahku.

     “Ketiga!” serunya lagi. “Aku ingin—hmmpp—“ aku membekap mulutnya cepat. “Aku yang akan membuat permintaan duluan! Setelah itu kau!” ucapku sambil melepaskan bekapanku. “Hao la (baiklah). Apa itu?”

     “Apa kau pernah mencintaiku? Kalau kau pernah mencintaiku, kau berani mati untukku?” ucapku.

     “Tidak,” jawabnya tegas. “Aku tidak ingin mati untukmu.”

     “Eh?”

     “Ketiga! Apa kau pernah mencintaiku?” ucapnya balik. “Kalau kau pernah mencintaiku, kau berani mati untukku?”

     “Ya! Aku memang pernah mencintaimu, bahkan perasaan itu masih sangat sangat sangat dalam, kau tahu?!” air mataku sudah tak terbendung lagi. Aku terus melangkah mundur dan mundur. “Hei, apa yang akan kau lakukan?”

     “Bye~” aku mengapus air mataku sambil mengukir segaris senyum.

.

BRAKHH!!

.

     “Guuuiiiiiii!!!” samar-samar aku mendengar suara Ya Lun yang kian lama kian jelas.

     “Ya Lun, selamat tinggal~ Aku akan membawa cinta ini sampai ke surga… Meski kau tidak mencintaiku sedikitpun… Bye~” aku segera pergi ke tempat yang jauh dimana suatu saat kami akan bertemu lagi. Sampai jumpa, Ya Lun…


_____the end_____

1 komentar:

  1. looooh......
    kok guigui mati,,???
    aq pikir bakal happy ending.....~

    ^^
    *tiba2 nongol*,,, hay dita mei....
    Wo shi ariek.... ^_^
    akhirnya jie bisa nyempetin datang ke blog nie....

    BalasHapus