Kamis, 01 Maret 2012

Oh, My Ghos~t!


Title      : Oh, My Ghos~t!

Author  : Dita d’Chapbi ‘cHun’ Meii a.k.a ^^dita-cHun^^

Type     : Oneshot

Genre   : Romance, Horror

Music    : Seijaku~Ooshima Michiru

Rating   : PG +13

POV      : Kamenashi Kazuya

Cast     :

#Sawajiri Erika

#KATTUN~Kamenashi Kazuya

Maaf hanya melampirkan si Kazuya-kun disini… hehehe… karena author klo bikin oneshot ga bisa banyak pemeran… gomen na~





.

GRAAAK~!

.

Suara derik ganas itu kembali menyerang telingaku. Ingin rasanya aku mencelanya di hadapan semua orang, mengatakan bahwa aktivitasnya itu sangat menggangguku. Tapi, niat itu kugagalkan juga akhirnya. Mana mungkin aku berteriak padanya sementara teman-temanku yang lain sama sekali tidak protes akan aktivitasnya itu. Mau tak mau aku harus mengalah padanya setiap hari.

   “Kazuya, doushita no? (ada apa?) Kenapa wajahmu tampak begitu kesal?” aku mendengar suara Yuichi setengah berbisik, namun berhasil membuyarkan lamunanku. Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kecil.

Pandanganku kembali tertuju pada gadis yang tempat duduknya tepat di samping bangkuku itu. Ia sedang menatap ke luar jendela sambil menyandarkan kepalanya di atas tangan kirinya. Ia tampak begitu santai. Tak lama setelah itu ia berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Tanaka sensei yang sedang menulis di papan tulis.

   “Sumimasen, sensei. (permisi, pak) Saya ingin ke toilet,” ucapnya.

   ‘Lagi…’ pikirku. Untuk kesekian kalinya ia melakukan aktivitas yang nyaris sama di kelas ini. Membuka jendela dengan keras, menatap ke luar sambil menyandarkan kepalanya, lalu izin ke toilet. Lima belas menit lagi pasti dia baru kembali. Entah apa yang dilakukannya di dalam sana.

.

5 menit

.

10 menit

.

15 menit

.

Tak ada tanda-tanda kemunculan gadis itu. Gadis yang masuk ke sekolah ini dua minggu silam. Dia bilang bahwa ia pindah dari Shizuoka. Tapi, entah apa kejelasan tentang gadis aneh itu aku tidak tahu. Bahkan selama jam istirahat ia hanya menghabiskan waktu dengan diam dan menatap ke luar jendela.

Aneh. Sudah 20 menit, tapi gadis itu belum juga kembali. Ada apa?

   “Sumimasen, sensei. Aku ingin ke toilet,” dustaku pada Tanaka sensei.

   ‘Penasaran,’ satu kata yang memotivasiku keluar dari ruang kelas yang begitu kaku. Apa yang sebenarnya di lakukannya di dalam sana? Kenapa begitu lama?

Aku hanya berdiri di depan toilet wanita dengan perasaan setengah cemas dan setengahnya lagi marah.

   ‘Mana mungkin aku mengikutinya sampai kemari seperti orang bodoh! Dia bukan siapa-siapa bagiku,’ pikirku kemudian. Aku hendak kembali ke kelas, namun niat itu kuurungkan kala aku mendengar sebuah suara.

   “Uhuk! Hmp… Hoeekk… Uhuk… Uhuk!”

Tak ayal aku segera masuk ke dalam toilet wanita. Tidak ada siapapun selain gadis itu. Gadis berambut hitam legam sepunggung itu menyandarkan kedua telapak tangannya di atas wastafel. Keringat dingin mengucur di segala penjuru wajahnya. Ia tampak lelah sekali.

   “Hmmp… Hoeekk...” sekali lagi ia memuntahkan isi perutnya yang nyaris habis. Hanya gumpalan air dan asam lambung yang keluar. Tapi, sepertinya itu belum juga usai meredakan rasa mualnya.

   “Da… daijobu desu ka? (kau baik-baik saja?)” tanyaku terbata. Sekelumit rasa khawatir menyergapku. Ia masih diam menahan mual. Yang terdengar hanya bunyi air yang keluar dari kran membersihkan sisa muntahannya dari wastafel cobalt blue itu.

   “Erika-chan? Kau sakit?” tanyaku. Kali ini ia merespon. Ditutupnya sejenak kran air itu lalu ia membalikkan badan menghadapku.

   “Aku… hamil,” ucapnya pelan seraya mengelus perutnya yang masih belum tampak buncit itu. Aku tersentak.

   “Ehh??!”

Ia tersenyum tipis. Nyaris tak terlihat. Setetes air mata jatuh begitu saja dari matanya. Namun, ia tetap menjaga senyumnya.

   “Si… siapa ayahnya?” tanyaku hati-hati.

   “Kau,” ia berdiri tegap sambil telunjuknya di arahkan pada wajahku. Ia masih menjaga senyumnya, bahkan kali ini ia menariknya lebih lebar.

   “Aku?” aku menunjuk pada diriku sendiri. Masih bingung bercampur ragu.

   ‘Apa dia sudah gila?’ pikirku. Aku menatapnya tajam.

   “Jangan marah! Hahaha… Aku hanya bercanda…” kali ini wajahnya berubah. Ia tertawa. Hal yang sangat jarang dilakukannya, atau lebih tepatnya belum pernah dilakukannya sebelum ini.

   ‘Manisnya…’

Ia menghentikan  tawanya. Perlahan-lahan reda dan mulai menghilang kembali. Ia menatapku balik.

   “Apa yang kau pikirkan?” tanyanya. Dari nada bicaranya, ia sedang menggodaku kala itu. Ia berjalan mendekatiku. Dekat… Dan semakin dekat…

   ‘Hei, apa yang akan dilakukannya?’

   “Aku memang bercanda, tapi, tentang hal aku hamil… Itu bukan candaan. Kazuya-kun.”

Aku mendengarnya dengan jelas. Ia membisikkan kalimat itu di telingaku. Saat itu aku hanya bisa mematung. Diam. Tak ada sama sekali komentar yang keluar dari bibirku.

*******************************************************************

.

.

   “Terserah kau mau cerita pada siapapun tentang keadaanku… Aku sudah tidak peduli~”

.

.

Aku masih ingat sekali ketika ia melantunkan kalimatnya itu padaku. Dengan senyum mengembang ia mengucapkannya. Namun, matanya tampak begitu sayu. Itu bukan bahagia. Aku tahu itu. Tapi, aku tak mungkin mengerti karena aku bukan dia.

   “Kau pasti tidak bahagia, kan? Menerima kenyataan pahit seperti itu… Kalau kau sedih karena hal itu, kau boleh bersandar padaku… Erika-chan…”

   “Bahagia, kok… Kenapa kau memaksaku mengatakan hal itu? Aku bukannya sedih, tapi sedikit kecewa dengan diriku…” bantahnya. “Aku tidak mampu menjaga diriku… Harusnya aku belajar… Ya, belajar sedikit demi sedikit dari kesalahanku. Gomen (maaf), Kazuya-kun sudah melibatkanmu sampai disini…”

   “Daijobu… (tidak apa) Anoo, Erika-chan… Ada hal yang ingin kutanyakan. Tapi, jangan tersinggung.” Ia mendongakkan kepalanya. Menatapku.

   “Sejak awal kau tidak mengatakan berapa usia kandunganmu saat ini… Sebenarnya sudah berapa bulan?” lanjutku. Ia tersenyum sejenak sebelum menjawab pertanyaanku.

   “Sekarang masuk bulan kelima… Sebentar lagi dia akan tumbuh dengan cepat! Tinggal menghitung hari saja. Menunggu surat pengunduran diriku dari sekolah,” ucapnya ringan sambil membelai perutnya yang kian hari kian membuncit. Tapi, nada bicara itu… Itu suatu kesedihan mendalam. Pasti sakit sekali rasanya.

   “Erika-chan…”

   “Aahh~ tenang saja! Aku akan baik-baik saja, kok! Pandangan sayumu itu mengejekku sekali! Aku bukan orang yang lemah… Kazuya-kun!”  ia menepuk pundakku sambil menatapku dengan senyuman. Senyuman yang lama-lama meluluh lantakkan seluruh tulang-tulang rusukku. Menyakitkan rasanya. Apalagi saat kau menyadari… Begitu pucat wajahnya saat ini. Dia sudah bertahan sejauh ini. Omedetou (selamat)… Selamat untuknya~ Sawajiri Erika.

   “Erika-chan, ngomong-ngomong… Kenapa tiba-tiba mengajakku ke danau ini?” tanyaku sambil mataku terus menelisik tiap objek di hadapanku.

   “Itu karena aku… Ingin membuat kenangan denganmu disini. Kalau suatu saat kau tiba-tiba mengingatku, datanglah kemari… Aku pasti ada disini melihatmu, sekalipun kau tak melihatku.”

   “Nada bicaramu seperti orang mau mati saja!” ucapku sambil terkekeh kecil.

   “Karena manusia itu akan mati juga pada akhirnya~ Percayalah~” ucapnya.

   “Iya, aku percaya! Tanpa kau bilang pun aku sudah tahu!”

*******************************************************************

   “Apa?! Jadi, Erika-chan hamil?! Waah~ padahal dia di luarnya kan pendiam… Bagaimana bisa?”

   “Aku juga hampir tidak percaya! Tapi, memang begitu kenyataannya. Aku mendengar pembicaraannya dengan kepala sekolah.”

   “Lalu bagaimana?”

   “Dia… harus keluar dari sekolah ini.”

   “Sayang sekali… Padahal usianya baru 17 tahun…”

.

BRAKH!

.

   “Hoi!! Apa sih yang daritadi kalian bicarakan! Itu mengganggu telingaku, tahu?!” hardikku kasar pada gadis-gadis penggosip itu.

   “Kazuya-kun, berhentilah bersikap seperti anak-anak begitu!” ucap Fujii.

   “Kalian yang berhentilah bersikap kekanakan! Erika-chan juga manusia! Dia juga menderita! Apa kalian pikir dia bahagia menelan kenyataan itu?! Dimana kalian letakkan otak kalian itu?!” ucapku keras.

   “Kazuya-kun!” kali ini Mitsuhika yang berdiri dari tempat duduknya.

   “Daijobu… (tidak apa) Daijobu, minna… Aku tidak apa-apa… Gomen, sudah membuat kalian bertengkar,” kulihat Erika masuk ke kelas, mengucapkan kalimat itu, membungkukkan badan 90 derajat, lalu bergegas pergi dengan tas miliknya.

   “Erika-chan! Erika-chan! Chotto! (tunggu) Chotto matte! (tunggu sebentar)” aku berusaha meraih lengannya.

.

GREB!

.

   “Kumohon, jangan pergi! Tunggulah sebentar lagi… Bukankah setahun lagi kita lulus?” ucapku.

   “Aku… harus menjadi ibu yang baik kelak. Makanya, beri aku semangat untuk itu, ok? Kazuya-kun…” ucapnya.

   “Bagaimana kau masih bisa mengumbar senyum sementara kau sudah diusir dari sekolah?!” protesku dengan senyumannya untuk kesekian kalinya.

   “Biarkan saja… Bukankah ini yang terakhir?” ucapnya ringan.
Aku menatapnya. Nanar. Bagaimana bisa ada gadis sekuat ini? Bagaimana bisa ia sekuat itu menyembunyikan tangisannya di hadapan semua orang? Erika-chan…

.

TES!

.

Setetes air mata yang jatuh dipipinya berhasil mengejutkanku. Ia menangis. Lama-lama air mata itu turun begitu deras. Pasti luka-luka yang ada di dalamnya mulai mengalir. Kuharap begitu… Biarlah luka-luka itu mengalir keluar…

   “Aku… Aku… hiks… Aku bukan orang lemah… Demo (tapi), kenapa kau membuatku menangis… hiks… Kazuya-kun… hiks…” ia mengusap air matanya yang terus menerus jatuh tak terkontrol lagi.

Aku memeluknya erat. Kubiarkan dia menangis sepuasnya di pelukanku. Setidaknya, hanya ini yang bisa kuberikan padanya. Aku tidak bisa membantu memikulkan beban yang di genggamnya, tapi, aku ingin sedikit meredakannya. Meredakan rasa sakit itu.

   “Kazuya-kun… hiks…hiks…”

*******************************************************************

   “Mmhh~” aku merasakan sesuatu menembus kelopak mataku. Ya… Cahaya matahari. Ah, bukan. Itu cahaya lampu. Cahaya lampu yang amat menyilaukan.

   “Dare? (siapa?)” tanyaku mencoba mencerna sosok di hadapanku.

   “Hoi, ini aku Tatsuya! Ada apa denganmu? Kau amnesia?”

Ya… Aku ingat. Dia Tatsuya, teman mainku sejak kecil. Teman satu sekolahku sejak TK.

   “Ah, gomen (maaf), apa aku tertidur?” tanyaku.

   “Hai’! (ya) Aku sudah lelah menunggumu yang tidur mendengkur begitu! Ayo, pulang!” ia merangkul pundakku sambil tangan kanannya membawa ranselnya.

   “Hai’ (ya).”

Aku bergegas membereskan tasku dan bergegas pulang.

   “Anoo… Tatsuya… Sepertinya, aku memimpikannya lagi…” ucapku sambil berjalan melewati koridor.

   “Memimpikan siapa?”

   “Sawajiri Erika.”

   “Ehh! Berhentilah bercerita tentangnya! Sudah kubilang, kan, dia sudah meninggal 7 tahun yang lalu. Kenapa kau begitu meributkannya?” tampang Tatsuya mulai terlihat malas.

******************************************************************

.

GRAAAK~!

.

   “Sumimasen, sensei, aku permisi ke toilet.”

   ‘Lagi, lagi… Apa dia kesana karena mual ya?’ pikirku.

   “Sumimasen, sensei, aku ingin ke toilet,” dustaku untuk kesekian kalinya. Aku mengikutinya.

   “Kazuya-kun… Arigatou (terima kasih). Arigatou sudah mengasihani orang sepertiku. Kau sampai merelakan waktumu hanya untuk mengurusku. Gomen, aku begitu merepotkanmu.”

Gadis itu… Ia berbicara tanpa menoleh sedikitpun padaku. Tidak biasanya…

   “Erika-chan, doushita no? (ada apa?)” tanyaku.

   “Aku tidak pernah ada, lho… Aku sudah tidak ada… Kenapa kau begitu percaya padaku? Kazuya-kun…” ucapnya. Ia tertawa kecil, terdengar dari nada bicaranya.

   “Eh? Apa maksudmu?” tanyaku tak jelas.

   “Aku sudah bilang, kan, aku tidak ada… Sekali lagi… Arigatou…” ia segera berlalu begitu saja. Menghilang secepat kilat.

   “Kazuya, kau dari toilet atau dari stasiun Tokyo, sih? Kenapa begitu lama?” bisik Jin.

   “Aku hanya mengikuti Erika-chan, kok… hehe…” bisikku balik.

   “Erika-chan? Erika-chan siapa?” tanya Jin balik.

   “Erika-chan…! Dia yang duduk di san~” aku terdiam melihat tiada bekas apapun dari Erika. Dia pergi menghilang begitu saja bagai semilir angin. Tak ada tasnya, ataupun bekas jendela itu dibuka. Tidak ada.

   “Kau mengigau atau mau menakutiku?” bisik Jin. Aku hanya diam.

Dan aku… Tidak pernah menemukannya lagi… Tidak pernah.

*******************************************************************

   “Sumimasen, anda tahu Erika? Sawajiri Erika?” tanyaku pada seorang sensei yang kebetulan berpapasan denganku. Aku ingin menghapus rasa penasaranku.

   “Erika? Dia… sudah meninggal 7 tahun lalu setelah dikeluarkan dari sekolah ini karena ketahuan hamil… Ada apa tiba-tiba bertanya begitu?” tanya sensei itu.

   “Ah, iie (tidak). Arigatou informasinya…” salamku lalu pergi.

Sawajiri Erika atau Erika-chan… Aku pasti sadar bahwa aku pernah mengenalmu. Kau tampak begitu nyata… Nyata sekali… Sampai kau menghilang… Erika-chan… Aku tidak akan melupakanmu… Nah, sayonara… Erika-chan…

   “Kazuya-kun, kenapa tiba-tiba kau mengajakku ke danau ini?” tanya Hana, kekasihku sekarang.

   “Karena… Aku pernah menyimpan kenangan disini… Bersama seseorang… Yang tidak pernah aku lupakan.”

   “Eh?”

   “Jangan cemburu… Kau tenang saja… Karena ‘dia’ juga sudah tenang di tempatnya. Di tempat yang tak mungkin kita raih untuk sekarang ini…”

   “Dasar! Kau bicara apa sih? Tidak jelas!” gerutu Hana.

Erika-chan… Matta ne~ (sampai jumpa)





__the end__





COMMENT PLEASE ^O^

1 komentar: