Title : Gomennasai…
Author : dita-cHun
Type : Multichapter
Part : 12
Rating : PG+13
Genre : Romance, Action
Cast :
Kazuki Mao [OC]
Chinen Yuuri (Hey! Say! Jump!) as Chinen Yuuri/Chii
Wu Chun (Fahrenheit) as Kyozou Yama
Nakajima Yuto (Hey! Say! Jump!) as Nakajima Yuto
Hashizawa Megumi [OC]
Disclaimer : Seluruh cast adalah milik Tuhan, sedangkan segala karakter mereka adalah milik saya! XDD
Warning : Typo, gaje binti abal—segala kekurangan adalah milik saya—Tapi, bagi yang uda baca wajib komen! #dibuangkelaut# XD
“Guk!” suara Moi tiba-tiba mengagetkan Chii yang sedang asyik berkutat dengan selembar foto di tangannya. Chii mengalihkan pandangannya pada Moi, sedetik kemudian Moi sudah berada dalam pelukan Chii.
“Moi-chan, kau ingat dia?” Chii menunjuk pada selembar foto di genggamannya itu. Moi tak menanggapi sama sekali. Chii kembali menatap foto itu. Dalam sekali. Bermain dengan dunia khayalnya. Sejenak kemudian ia tersenyum simpul lalu segera beranjak dari tempatnya, mengambil beberapa alat lukis. Segera di buat sketsa tipis di atas kanvas besar itu. Perlahan tapi pasti garis-garis dan titik-titik tipis itu membentuk objek.
“Sebaiknya kuwarnai di sekolah saja~” gumam Chii lalu menutup kanvasnya.
“Moi-chan, kau juga tidak sabar melihat hasilnya bukan?” tanya Chii.
“Guk!” kali ini Moi merespon lalu secepat kilat turun dari pelukan Chii. Ia pergi. Meninggalkan Chii yang masih mematung di kamarnya.
“Aku pasti akan mendapatkan hasilnya~ Dia pasti bisa kutemukan… Demi Okaa-san… Ganbatte, Chii! (good luck, Chii)” batin Chii pada dirinya sendiri.
******
“Dimana ya…? Apa tertinggal di sekolah?” batin Kazuki usai mengacak-acak isi tas dan dompetnya. Ia segera mengenakan jaketnya ala kadarnya. Lalu bergegas keluar rumah.
“Ittekimasu!” seru Kazuki sambil berlari keluar rumah disusul suara dentuman pintu.
“Kazu-chan, mau kemana?”
Terlambat… Tak ada respon sama sekali dari Kazuki yang sudah kian menjauh. Ibu hanya bisa menghela nafas panjang.
Terlambat… Tak ada respon sama sekali dari Kazuki yang sudah kian menjauh. Ibu hanya bisa menghela nafas panjang.
“Aku akan menyusulnya…” Megumi segera meninggalkan peralatan dapurnya dan berlari mengejar Kazuki.
Megumi terus berlari menyusuri koridor SMA Heisei, nafasnya tersengal sejak tadi mengejar Kazuki yang bayangnya semakin menghilang. “Astaga, Kazu-chan… Ada apa, sih?” gerutu Megumi masih terus menyusuri koridor, mencoba menemukan adik kesayangannya itu.
“Ukh!” sebuah suara mengejutkan Megumi. Ia berlari mencari sumber suara itu berasal. Dilihatnya seorang gadis tengah tengkurap di atas lantai. Megumi segera menyapanya, “Kazu-chan…”
Gadis itu, yang tak lain adalah Kazuki menoleh, lalu mencoba bangkit dari tempatnya terjatuh semula. Megumi segera mengulurkan tangan kanannya ke arah Kazuki, “Daijoubu? Kau kuat, kan?”
“Tentu saja,” jawab Kazuki sembari meraih tangan Megumi, kemudian bangkit.
“Kenapa kau tiba-tiba kemari? Ada yang kau cari?” Megumi berusaha memancing Kazuki.
“Kau lihat foto itu?” tanya Kazuki, menatap lekat kedua manik mata Megumi.
“Foto apa?” tanya Megumi tak mengerti.
“Foto anak laki-laki itu… Yang pernah kutunjukkan padamu. Kau ingat, kan?” Kazuki tampak terburu-buru, sekilas wajahnya tampak gelisah.
“Ah, foto itu. Bukankah kau yang membawanya? Kurasa aku sama sekali tidak melihatnya sejak hari itu…”
“Souka,” tak lama setelah kata itu terlontar, Kazuki kembali berlari dan segera menghilang dari pandangan Megumi.
“Mencari foto ini… Aku tidak akan memberikannya padamu begitu saja… Hmm… Kazuki Mao…”
******
‘Jatuh dimana, ya? Kenapa aku bisa seceroboh itu… Akh, sial!’ gumam Kazuki sambil mendudukkan tubuhnya yang sudah lelah mencari foto itu. Ia berpikir sejenak, terakhir kali foto itu ada di dompetnya. Jatuh? Mungkin alasan itu begitu janggal dalam batinnya. ‘Seseorang mungkin mengambilnya. Tapi, siapa?’
“Kazuki Mao,” sebuah suara membuyarkan lamunan Kazuki, ia lekas menoleh pada sumber suara tersebut.
“Kau?!” Kazuki bangkit dari posisinya semula. Jemarinya mengatup rapat di samping tubuhnya. Entah kenapa tiba-tiba saja rasa lelahnya hilang, berubah menjadi kepingan kemarahan. Mungkin, masalah lukisan itu belum hilang dari benaknya.
.
HUP
.
Pria itu melemparkan sebuah tongkat kayu pada Kazuki. Dengan sigap Kazuki menangkap tongkat itu. Dipandangnya tongkat itu sekilas kemudian dialihkan pandangannya pada objek di hadapannya.
“Berlatihlah sebelum hari Sabtu, aku tidak akan mengalah sekalipun kau tidak pernah belajar kendo sebelumnya… Bye,” Pria itu melambaikan tangan kemudian berjalan meninggalkan Kazuki yang sejenak masih terpaku.
“Kyozou Yama!” teriak Kazuki.
Mendengar namanya disebut, Kyozou menghentikan langkahnya. Namun, pandangannya sama sekali tidak mengalih pada objek yang sejak baru saja memanggilnya itu.
“Aku tidak akan kalah! Brengsek!” teriak Kazuki lalu melemparkan tongkat itu kuat ke arah Kyozou.
“Ukh, ittai!” jerit Kyozou merasakan sesuatu menghantam punggungnya. Dengan geram ia menoleh pada Kazuki. Dilihatnya Kazuki menatapnya datar.
“Kau yang brengsek! Dasar gadis brutal!” baru saja Kyozou hendak melempar balik tongkat itu pada Kazuki andai sebuah tangan tak menahannya.
“Nakajima?” gumam Kazuki melihat seorang pria berdiri di samping Kyozou.
“Jangan melukainya… Sedikitpun,” ucap Nakajima sambil menatap Kyozou tajam.
“Apa-apaan kau ini!? Lepaskan!” Kyozou memberontak. “Ini tidak ada hubungannya denganmu!”
“Ada atau tidak ada hubungannya, aku harus ikut campur…” jawab Nakajima.
“Kenapa?” tanya Kyozou.
“…” Nakajima diam. Ia melepaskan genggamannya dan segera pergi dari hadapan Kyozou. Kazuki dan Kyozou masih terpaku menatap punggung Nakajima yang lambat laun menghilang ditelan kelokan.
Kazuki beranjak dari posisinya, meninggalkan Kyozou tanpa sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.
******
“Nakajima-kun, seseorang mencarimu!” seru seorang gadis sembari memasuki ruang OSIS SMA Heisei. “Dare?” tanya Nakajima. Ia melangkahkan kaki keluar ruang OSIS. Dilihatnya seorang gadis seusianya berdiri di hadapannya. “Kazu-chan?”
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” ucap Kazuki datar, seperti biasanya.
“Nani? (apa?)” tanya Nakajima menyelidik.
“Kau benar-benar bisa kendo?” tanya Kazuki. Nakajima mengangguk sekilas.
“Ajarkan aku,” ucap Kazuki.
“Ehh?”
“Kau keberatan? Baiklah tidak apa,” Kazuki hendak pergi andai saja Nakajima tidak menahannya kala itu.
“Aku mau!” ucap Nakajima sembari tersenyum sumringah.
“Baiklah, hari ini sepulang sekolah...” ucap Kazuki lalu memasang headsetnya pada kedua telinganya dan segera menghilang dari pandangan Nakajima.
******
“Pertama, lakukan seperti ini. Kemudian begini dan begini…” Nakajima mencoba mengajarkan beberapa teknik bermain kendo pada Kazuki.
“Begini?”tanya Kazuki yang sejak baru saja menghempaskan tongkat kayunya horizontal.
“Err… Sebenarnya bukan begitu, tapi begini…” Nakajima kembali mencontohkan pada Kazuki.
“Baiklah, baiklah. Anggap saja aku mengerti, ajarkan teknik berikutnya! Cepat!” perintah Kazuki.
“Hai’! Kau ikuti baik-baik, ya!” ucap Nakajima.
“Satu! Dua! Tiga! Hyaaat! Begitu…” Nakajima terus mempraktekan teknik kendo lainnya sambil terus menjelaskan pada Kazuki yang masih diam memperhatikan.
“Nakajima,” panggil Kazuki. Seketika Nakajima menghentikan permainannya. “Nande?”
“Aku ingin melakukannya… tanpa ini…” Kazuki melepaskan Men (pelindung kepala) dari kepalanya.
“Eeehh?!”
******
Chii terdiam sejenak melihat objek di hadapannya. Sebuah kanvas yang sudah tidak putih lagi. Sebuah palet dan kuas tengah bertengger pada tangan kanan dan kirinya. Sudah dua jam lalu ia sibuk menggoreskan cat di atas kanvas itu, sketsa awalnya nyaris tak tampak lagi. Sudah ¾ bagian gambar itu selesai, namun, kali ini sesuatu tampak mengganjal batinnya.
“Apa kau masih ingat? Ada janji yang belum selesai…” gumam Chii sambil meletakkan kuas dan paletnya. Jemarinya meraba kanvas yang masih basah itu. “Sampai sekarang… Tidak terlalu banyak yang berubah. Bagaimana denganmu?”
.
CKLEK!
.
“Kuso! (sial)” sebuah suara mengejutkan Chii. Ia menoleh ke belakang, mencari asal suara tersebut. Dilihatnya Kyozou yang masuk dengan rambut berantakan sambil terus mengomel tidak jelas.
“Kyozou-kun, nande?” tanya Chii kemudian bangkit dari duduknya.
“Kau tahu?! Gadis brutal itu melempariku dengan tongkat kayu sebesar ini?!” Kyozou mengepalkan tangannya di depan wajah Chii. Chii menautkan alisnya, “Memangnya apa yang kau lakukan?”
“Aku hanya menyuruhnya berlatih kendo, itu saja! Dasar, sial!” gerutu Kyozou sambil terus memijat kepalanya yang nyeri.
“Kenapa tidak membalasnya saja?” Chinen memutar bola matanya malas.
“Maunya begitu! Andai saja pria itu tidak datang!” Kyozou menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang di kamar Chii.
“Pria bernama Nakajima itu?” tanya Chii memastikan. Kyozou hanya menjawab dengan deheman kecil. “Pria itu kelihatannya…” Chii menggantung kalimatnya.
Merasa tertarik Kyozou bangkit dari tidurnya, menatap Chii lekat-lekat. “…Menyukai Kazuki…” sambung Chii sembari mengulum segaris senyum iblis di wajahnya.
Kyozou menelisik kedua manik mata milik Chii. “Dan… sepertinya aku mengerti maksudmu…” ucap Kyozou sambil tersenyum pahit.
“Sebaiknya kau selidiki pria bernama Nakajima itu juga… Mungkin saja, kan… Dia akan datang hari Sabtu nanti?” ucap Kyozou.
“Tentu,” jawab Chii singkat.
TO BE CONTINUED~
Jangan lupa tinggalkan komen & nama… ^^ Sankyuu~
asyik... asyik...
BalasHapuskompak bgt Chii ama Kyozou...
yg dilukis Chii itu sapa ya??
lanjut mei...
Waahh, seruu!!
BalasHapusPenasaran sama yg dilukis Chii itu,
penasaran sama hari sabtunya juga, wkwkwk
dan ~ itu kakaknya kazuki kenapa??
Yutyut bisa kendo ne? kenapa msh bia kalah sama kazuki di chapter 1? kekeke *PLAK, byk omong
Ayoo, lanjut lanjut!! tambah seru ini xDD
KYAAAA....
BalasHapusChi kesannya keren euy! XD
ah, Kyozou mah rada2(?) ih! =.=
#plakk
kira2 siapa yg menang ya hari Sabtu? XD