Sabtu, 10 Maret 2012

Gomennasai... [Part VIII]

Title   : Gomennasai…

Author  : Dita d’Chapbi ‘cHun’Meii

Type    : Multichapter

Part    : 8

Rating  : PG+13

Genre   : Romance, Action, Thriller (maybe)

Cast    :

Kazuki Mao [OC]

Chinen Yuuri (Hey! Say! Jump!) as Chinen Yuuri/Chii

Wu Chun (Fahrenheit) as Kyozou Yama

Nakajima Yuto (Hey! Say! Jump!) as Nakajima Yuto

Hashizawa Megumi [OC]

Disclaimer    : Seluruh cast adalah milik Tuhan, sedangkan segala karakter mereka adalah milik saya! XDD

Warning   : Typo, gaje binti abal—segala kekurangan adalah milik saya—Tapi, bagi yang uda baca wajib komen! #dibuangkelaut# XD




“Tadaima…! (aku pulang)” seru Chii sembari memasuki rumah. Ia segera menutup luka lebam di pipinya dengan rambutnya yang sedikit panjang di depan telinganya itu. Ia tak ingin membuat Ibunya khawatir lagi.


“Chii? Sudah pulang?” Ibu langsung menyambut anak tunggalnya itu. Chii segera memasang tampang semanis mungkin di hadapan Ibunya. Ia tersenyum dengan sangat imut.

“Iya, Okaa-san. Mana Moi-chan?” tanya Chii berusaha mengalihkan pandangan Ibunya dari wajahnya.

“Eh? Kenapa rambutmu berantakan?” tanya Ibu heran melihat rambut anaknya yang terbiasa rapi itu sedikit berantakan. Segera Ibu membantu menyingkapkan poni Chii yang tampak berantakan. Namun, tanpa sengaja menyentuh bekas luka di pipi Chii.

“Ittai! (sakit)” ucap Chii.

“Chii?” Ibu mempertajam pandangannya pada pipi Chii. Dilihatnya luka lebam kebiruan di sekitar pipi Chii.

“Berkelahi lagi? Bukankah Okaa-san sudah melarangmu berkelahi?” tanya Ibu. Chii segera duduk di atas sofa. Dibantu Ibu yang lemah lembut itu, ia mengobati lukanya.

“Gomennasai, Okka-san… (maaf, bu) Luka ini bukan dari lawanku, tapi dari temanku. Tadi tidak sengaja…” ucap Chii berusaha menjelaskan. Ibu tersenyum.

“Syukurlah kau baik-baik saja… Harusnya Ibu tidak boleh terlalu khawatir… Kau kan anak laki-laki… Chii…” ucap Ibu yang tiba-tiba menangis.

“Okaa-san, jangan menangis… Gomennasai, Okaa-san… Aku pasti akan menjaga diri… Lagipula ini biasa, bukan?” ucap Chii menghibur Ibunya. Ia tersenyum.

“Baiklah… Cepat istirahat ke kamarmu…!” perintah Ibu sembari menghapus buliran airmatanya.

******

“Hari ini lagi-lagi aku berkelahi. Padahal kupikir sudah bagus duduk di bangku asisten yang hanya mengawasi dan membuat strategi perang. Rupanya Kyozou-kun tetap menyuruhku berkelahi. Bukan luka yang aku takutkan. Tapi, aku takut melukai hati Okaa-san… Dan benar, hari ini Okaa-san menangis gara-gara aku terluka… Okaa-san, aku tahu kau sangat menginginkan anak perempuan… Aku yang lahir dari rahimmu bukanlah apa yang kau inginkan… Gomennasai, Okaa-san… Aku rela meski kau memperlakukanku seperti anak gadis… Karena aku tidak ingin kau menangis… Tidak apa-apa… Aku rela bersikap lembut seperti gadis demi Okaa-san… Jangan menangis, Okaa-san… Anakmu ada disini…” Chii mencorat-coret buku diary-nya. Ia terpaku sejenak menatap buku diary-nya.

“Sebenarnya… Apa arti anak gadis bagimu, Okaa-san?” gumam Chii.

“Guk!” suara gonggongan Moi menyadarkan Chii dari lamunannya. Ia tersenyum memandang Moi. Digendongnya Moi di atas pelukannya.

“Moi-chan, apa jadi gadis itu menyenangkan? Apa salah menjadi pria?” tanya Chii pada Moi. Moi hanya diam tak menggonggong sama sekali.

“Kau sering diam saat kutanya… Andai kau bisa bicara… Mungkin akan lebih baik…” ucap Chii.

“Guk!”

“Moi-chan, aku mau menelepon Kyozou-kun dulu. Kau jangan keluar rumah!” ucap Chii. Ia segera meraih ponselnya dan menekan nomor ponsel Kyozou.

“Moshi-moshi (hallo)…” terdengar suara jawaban dari seberang.

“Kyozou-kun, kau ada dimana?” tanya Chii pada Kyozou.

“Aku? Aku sedang ada di depan rumah sakit. Ini mau pulang. Memangnya ada apa?” tanya Kyozou.

“Aku sedang malas keluar. Kalau kau mau pulang, tolong belikan aku cat minyak biasa dekat rumahmu. Bagaimana? Lagipula aku sudah babak belur gara-gara tadi…” ucap Chii.

“Oh, baiklah! Besok akan kubawa ke sekolah. Jangan lupa bawakan jawaban PR Biologi untukku!” ucap Kyozou.

“Aishh, kau ini selalu tidak mau berpikir… Baiklah, baiklah. Aku bawa besok… Dah!” salam Chii lalu menutup telepon sembarangan.

******

“Untuk apa sih cat minyak? Apa uangmu tidak habis kau belikan cat minyak setiap dua minggu sekali, hah?” tanya Kyozou sambil memberikan cat minyak pesanan Chii semalam.

“Arigatou, Kyozou-kun! (terima kasih, Kyozou) Aku butuh cat minyak ini untuk hadiah ulang tahun Okaa-san. Aku ingin melukiskan sesuatu untuknya,” ucap Chii ringan.

“Alasan! Kau itu melukis terus tiap waktu luang…! Lama-lama kau akan jadi pelukis nantinya!” ucap Kyozou.

“Tidak apa! Pelukis pun bagus!” ucap Chii tak peduli lalu duduk di bangkunya.

“Tapi, bukankah kau ingin jadi pelari?” ucap Kyozou.

“Tidak apa… Kalau mendapatkan sesuatu, bukankah memang harus merelakan sesuatu?” jawab Chii.

“Kalau aku sih tidak akan melepaskan basket begitu saja…. Aku akan mempertahankannya selama aku bisa…!” ucap Kyozou.

“Karena tiap orang itu berbeda… Kyozou-kun…” ucap Chii. Ia membuka buku catatannya tanda ia ingin menghentikan pembicaraan. Kyozou yang mengerti hanya diam sambil melanjutkan menyalin PR Chii.

******

Matahari sudah sampai di tempat peraduannya. Cahayanya yang menyilaukan mata masuk melalui sela-sela tirai putih di ruangan Kazuki. Ia mulai membuka mata perlahan kemudian mencoba bangun, namun kepalanya terasa nyeri.

“Arggh…! Sial!” gerutu Kazuki. Ia mengurungkan niatnya. Sementara Megumi yang masih setia menunggu di sofa, terkejut dengan suara Kazuki.

“Kazu-chan? Kau sudah sadar?” Megumi meletakkan majalah yang tadi dibacanya ke atas meja. Ia menghampiri Kazuki.

“Ayo, pulang…!” ucap Kazuki.

“Hei, lukamu belum sembuh!” ucap Megumi.

“Aku tidak mau disini!” ucap Kazuki.

“Kita pulang besok saja! Kata dokter kau masih harus menginap! Kau itu kalau dibiarkan keluar dalam keadaan luka begini tetap tidak bisa diam. Kau pasti akan berkelahi lagi!” ucap Megumi. Kazuki diam sejenak.

“Lapar!” ucap Kazuki.

“Iya, iya. Aku akan membelikanmu sushi kesukaanmu. Bagaimana?” tanya Megumi. Kazuki mengangguk. Megumi tersenyum tipis membalasnya. Ia segera keluar membeli sushi untuk Kazuki. CKLEK! Terdengar pintu kamar Kazuki dibuka seseorang. Kazuki menoleh.

“Sumimasen…”





.TO BE CONTINUED+++++++>>>>>


.tolong tinggalkan comment^^
.arigatou gozaimasu^o^

1 komentar:

  1. chii gak usah jdi cewe,, cukup jdi cowo manis and imut2 aja...
    hehehe....
    next mei...

    BalasHapus