Title : Gomennasai…
Author : Dita d’Chapbi ‘cHun’Meii
Type : Multichapter
Part : 7
Rating : PG+13
Genre : Romance, Action, Thriller (maybe)
Cast :
Kazuki Mao [OC]
Chinen Yuuri (Hey! Say! Jump!) as Chinen Yuuri/Chii
Wu Chun (Fahrenheit) as Kyozou Yama
Nakajima Yuto (Hey! Say! Jump!) as Nakajima Yuto
Hashizawa Megumi [OC]
Disclaimer : Seluruh cast adalah milik Tuhan, sedangkan segala karakter mereka adalah milik saya! XDD
Warning : Typo, gaje binti abal—segala kekurangan adalah milik saya—Tapi, bagi yang uda baca wajib komen! #dibuangkelaut# XD
“Mereka curang… Meskipun ini disebut pertempuran berdarah, tidak ada yang boleh melukai limpa dan jantung! Dia akan…” Kyozou menggantung kalimatnya.
“Kalah…” ucap Chii menebak diikuti anggukan Kyozou.
“Kalau tiga puluh orang itu mengincar limpa Kazuki, tentu dalam waktu kurang dari sejam mereka bisa membunuh Kazuki. Mereka tidak boleh membunuh Kazuki!” seru Kyozou tiba-tiba.
“Kyozou-kun?” tanya Chii bingung.
“Dia mangsaku! Mana boleh mati setengah jalan?!” teriak Kyozou.
“Jadi, Kyozou-kun, apa yang akan kau lakukan?” tanya Chii mencoba menelisik isi pikiran ketuanya itu.
“Baka (bodoh)! Bukan aku! Tapi, kau!” ucap Kyozou.
“Hah? Aku?” Chii menelisik maksud Kyozou. Kyozou memberi kode pada Chii untuk segera keluar dari tempat persembunyiannya.
“Sudah, sana! Aku yang akan mengatur kamera ini!” ucap Kyozou. Dengan wajah malas Chii keluar dari tempat persembunyiannya. Tampak di depan mata Chii sebuah pertempuran berdarah. Ia tidak langsung terjun ke arena, melainkan mengawasi gerak-gerik semua orang dalam arena.
“Aissh… Pasti aku akan pulang dengan luka… Okaa-san, ampuni aku…” gumam Chii sambil menepuk-nepuk kedua tangannya seperti akan berdo’a. Sedetik kemudian ia berjalan santai ke arena.
“Minna!!! (kalian)” teriak Chii lantang. Pertarungan berdarah itu berhenti sejenak. Mereka semua diam terpaku melihat orang yang barusan berteriak. Kodaishi memperhatikan seragam yang tampak mewah yang tengah dikenakan Chii.
“SMA Fahrenheit?” gumam Kodaishi.
“Kau?” Kazuki tak kalah terkejut. Ia mengatur nafasnya sejenak.
Chii segera melepas jas dan rompi yang dikenakannya. Ia tersenyum evil. Perlahan di lipat lengan kemejanya setinggi siku.
“Gomen, mengacaukan permainan kalian. Aku di pihak Kazuki Mao sekarang,” ucap Chii lalu berdiri tepat di belakang Kazuki dengan membelakanginya. Tiga puluh siswa itu mulai berdiri membentuk ring mengelilingi Chii dan Kazuki.
“Benar, kan dugaanku? Jadi, pria mungil ini pasukanmu, Nona?” ucap Kodaishi.
“Tidak! Dia bukan siapa-siapa! Aku tidak sepengecut itu memakai pelayan!” protes Kazuki keras.
“Hei, kau! Sebaiknya kau pergi saja dari sini! Jangan sok pahlawan! Kau hanya akan merusak permainan ini!” ucap Kazuki tajam pada Chii. Masih dalam posisi saling membelakangi.
“Aku tidak akan maju tanpa tujuan, Nona! Sebaiknya kau diam saja! Atau pertempuran ini tidak akan berakhir,” ucap Chii. Kazuki terpaksa diam. Ketiga puluh siswa itu maju bersamaan. Chii mencari tumpuan untuk tangannya, namun tak ada apapun di belakangnya selain Kazuki. Chii segera melompat, tangannya menumpu pada kedua pundak Kazuki dan segera ia tendang horizontal siswa yang maju ke hadapannya.
“Arrghh…!!” racau Kazuki merasakan pundaknya nyeri dijadikan tumpuan oleh Chii. Chii segera melepaskan
tumpuannya. Kazuki menatap Chii dengan emosi meluap.
“Gomen (maaf)! Sepuluh!” ucap Chii agak menghindar. Kazuki melihat sepuluh siswa yang tadi maju ke hadapan Chii telah jatuh terkapar.
‘Dia kecil, tapi tendangannya lumayan juga…’ batin Kazuki. Ia masih menatap Chii serius. Tanpa sadar Hikaru mengambil kesempatan itu untuk menyerang Kazuki dari belakang. Chii yang mengetahui hal itu segera menarik tubuh Kazuki dan tanpa sengaja membuat Kazuki berada dalam pelukannya. Ditangkisnya pukulan tongkat Hikaru dan dengan gerakan cepat ia menarik balik tongkat itu dan memukulnya hingga tepat mengenai leher kiri Hikaru.
“Aaarghh…!!” racau Hikaru.
“Belakang bahu, kan? Lain kali gunakan cara lain!” ucap Chii yang mengetahui bahwa tujuan Hikaru adalah belakang bahu Kazuki. Hikaru terkejut mendengarnya.
“Bagaimana dia tahu?” batin Hikaru.
BUGH!!
Kazuki yang semula berada di pelukan Chii segera melepaskan diri dan memukul keras wajah Chii.
“Jangan menyentuhku! Baka (bodoh)!” seru Kazuki.
“Ukh!” racau Chii terkejut.
“Hei, kalau aku tidak menangkisnya tadi, kau pasti sudah mati! Dasar gadis abnormal!” protes Chii.
“Aku tidak pernah meminta pertolonganmu!” seru Kazuki.
“Diam!” teriak Chii. Mereka saling menghindar, tapi tetap melawan sembilan belas siswa yang tersisa. Dengan berbagai cara Chii menjatuhkan seluruh pasukan SMA Bokurai. Sementara itu Kyozou sedang serius menyaksikan pertempuran berdarah itu melalui laptop milik Chii sambil memakan sebucket pop corn.
“Pertempuran babak kedua lebih menarik dari sebelumnya. Apa ini karena Chii masuk ke arena ya?” gumam Kyozou.
Tujuh belas siswa sudah terkapar, sisanya tinggal Kodaishi Jun sang ketua dan Ryutaro Morimoto yang bertahan di arena. Nafas mereka berempat sudah sangat terengah-engah.
“One on one!” seru Ryutaro.
“Inilah babak penentuan… Siapa yang akan bertahan… Yang bertahan adalah penguasa terkuat di seluruh Tokyo!” seru Kodaishi.
“Kepalaku sudah terlalu nyeri untuk lanjut… Rasanya ingin berhenti saja… Tapi, ini tidak mungkin!” batin Kazuki.
“Keseimbangannya sudah menurun… Pasti sebentar lagi di ambruk… Kazuki Mao… Bertahanlah… Lima sampai sepuluh menit saja… Kau bisa, kan?” batin Chii.
“Bertahanlah lima sampai sepuluh menit lagi… Kau bukan pengecut, kan?” ucap Chii. Pertempuran pun berlangsung dengan keras. Sisa-sisa tenaga yang ada dikerahkan mereka berempat demi mendapatkan gelar “penguasa”.
******
Tes… Tes… Tes…
Cairan infus terus mengalir ke dalam tubuh Kazuki melalui selang yang tersambung pada pembuluhnya. Sudah sekitar dua jam sejak berakhirnya pertarungan itu Kazuki belum juga sadar dari pingsannya. Chii dan Kyozou yang membawa Kazuki sang pemenang ke rumah sakit. Setelah itu mereka meninggalkan Kazuki begitu saja setelah menghubungi keluarganya.
“Chii, kau duluan saja, ok?” ucap Kyozou saat mereka ada di receptionist. Chii hanya mengangguk. Rupanya ada yang mengganggu pandangan Kyozou. Seorang gadis modis yang tengah berdiri di receptionist.
“Sumimasen… (permisi)” ucap Kyozou menyapa gadis itu. Gadis itu menoleh dan memandang Kyozou heran.
“Siapa?” tanya gadis itu.
“Eh? Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya? Aku Kyozou Yama,” Kyozou mengulurkan tangannya ke hadapan gadis itu.
“Emm… Ah, kau orang di belakang gang rumahku itu, kan? Salam kenal. Aku Megumi. Hashizawa Megumi,” Megumi membalas uluran tangan Kyozou dengan senyum mengembang.
“Hashizawa? Margamu Hashizawa?” tanya Kyozou.
“Iya. Memangnya ada masalah?” tanya Megumi.
“Bukankah kau saudara Kazuki Mao?” tanya Kyozou.
“Oh, adikku… Iya. Dia adikku,” jawab Megumi.
“Kau sepupu yang berbeda marga?” tanya Kyozou.
“Dia adik tiriku, makanya marga kami berbeda. Tapi, dia adikku yang paling hebat, lho…” ucap Megumi.
“Adik tiri?” tanya Kyozou.
“Ah, kau dari tadi bertanya terus. Kau sudah menjenguk Kazuki? Katanya dia dirawat di rumah sakit ini,” ucap Megumi.
‘Bukankah aku yang menelepon? Kenapa dia malah tanya aku? Haishhh…’ batin Kyozou.
“Ayo,” Megumi menarik pergelangan tangan Kyozou.
‘Ah, tidak apalah. Yang penting aku bisa digandeng gadis barat seperti dia… hahaha…’ batin Kyozou nakal.
“Iya, kita memang harus menjenguknya… Ayo…” Kyozou semakin semangat. Mereka pun segera berjalan menuju kamar Kazuki.
.TO BE CONTINUED++++++++>>>>
.tolong tinggalkan comment^^
.arigatou gozaimasu^o^
Chun nakal nih...
BalasHapusChii keren juga ya tendangan'a...
hehe...
lanjut mei...
Waaahhh... Chinen hebat deh. XD
BalasHapusjadi makin suki!
#plakk
uwooo... Chun genit sama gadis barat! Kenapa gak gadis timur sih?
*dijitak ka Dita*