Title : Byeolbinoonmool (Starlight Tears)
Author : dita-cHun
Type : Multichapter
Part : I
Rating : PG+13
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Music : Starlight Tears by Kim Yoo-Kyung
Cast :
#Goo Hye-Sun as Sugisawa Dytha
#Aaron Yan as Sugisawa Dave
#Calvin Chen as Sugisawa Anasaki
#Rainie Yang as Vivian Liu
#Jiro Wang as Im Min-Yeon
#Wu Zun as Shin Ik-Jin
#Suzuki Airi as Kamio Akiyuki
Disclaimer: All cast punya tuhan, plot punya saya! So, no bashing, ok?
Warning : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya
“Sugisawa Dytha,” sebuah suara terdengar nyaring di telingaku. Aku segera bangkit dari kursi yang semula menopang tubuhku. Kutarik secarik kertas putih dengan beberapa huruf hangul tertera disana. Kulihat nilai A+ dengan tinta senada di salah satu sudut kertas itu. Aku tersenyum tipis. Sesuatu yang cukup biasa bagiku, nilai A+, tidak benar-benar istimewa.
“Selamat, kau mendapat poin tertinggi lagi kali ini.” Kulihat pria berkacamata tebal yang bukan lain adalah dosenku itu tersenyum sumringah. Aku hanya membalas senyumnya ringan, kemudian kembali ke bangkuku.
“Chukahae (selamat),” suara kecil itu menyita perhatianku. Gadis berwajah polos di samping bangkuku itu menunjukkan sederet gigi rapinya. Ia tampak sumringah kala itu, ia tahu aku mendapat A+ lagi kali ini. Aku membalas senyumnya lebih lebar, “Gomawoh… (terima kasih)”
**
Namaku Sugisawa Dytha, 18 tahun, mahasiswa jurusan administrasi bisnis, kediamanku tentu saja di Seoul, ibukota Korea Selatan yang eksistensinya dikenal baik nyaris di seluruh penjuru dunia. Sebuah keluarga kecil yang mengasuhku hingga sedewasa ini. Merekalah yang terbaik bagiku. Bersama saudara terkecilku, Dave, aku tinggal berdua sejak aku menginjak usia 15 tahun. Kedua orang tuaku begitu sibuk, sampai kadang sudah tidak sempat lagi menengok kami. Kami tinggal terpisah, baik kota maupun negara. Korea Utara dan Korea Selatan. Memerlukan paspor untuk berpindah tujuan, meskipun negara kami masih satu daratan, aku dan Dave nyaris tidak bertemu dengan Mama dan Papa hampir sepanjang dua tahun terakhir. Kesibukan memisahkan kami.
**
“Dy-san, memangnya kita mau kemana?” gadis disampingku yang tidak lain adalah Kamio Akiyuki, sahabatku, terus menanyakan hal yang sama sejak lima belas menit kami berjalan.
“Kau akan tahu begitu kita sampai,” jawabku masih mencoba merahasiakan tempat tujuan kami. Aku memang sengaja tidak memberitahunya. Hei, ini kejutan.
Mungkin ia terlalu lelah bertanya, akhirnya ia diam sepanjang perjalanan. Sekitar sepuluh menit kemudian kami sampai di depan sebuah restaurant sederhana. Aku lekas menginstruksikan padanya untuk masuk bersamaku. Ia hanya menurut.
“Bagaimana?” tanyaku begitu kami sampai di dalam.
“Ah, sugoii…(menakjubkan)” ucapnya dengan logat Jepangnya yang masih begitu kental. “Dari luar kelihatan sangat sederhana, ternyata dari dalam tempat ini cukup luas, ya. Hmm, menarik.”
“Arigatou,” ucapku mencoba melafalkan terima kasih dalam bahasa Jepang.
“Eh?”
“Restaurant ini milik keluargaku, kebetulan aku dan adikku yang mengelolanya sedikit. Belakangan terakhir aku tidak bisa bertemu dengan orang tuaku, mereka menyuruhku mengurus sebagian masalah di restaurant ini…”jelasku singkat. Ia mengangguk mengerti.
“Duduklah,”aku mempersilahkannya duduk di salah satu bangku tak jauh dari tempat kami berdiri.
“Pesan apapun yang kau inginkan,” aku menyodorkan sebuah buku menu masakan padanya. “Aku memberikan gratis untuk porsi sahabat…” ucapku terkekeh kecil. Ia menyusul tawaku sekilas.
Mungkin ia memang membuka buku menu itu, tapi ia tak tampak membacanya, kemudian ia menutup buku itu kembali. Dilipat kedua tangannya di atas meja kemudian menatapku. “Aku ingin ramyeon, ada, kan?”
“Kukira kau akan memesan masakan Perancis atau Jepang… Ramyeon rasanya biasa saja, lho…” ucapku sambil membolak-balik buku menu.
“Aku… ingin mengenal Korea lebih dekat, Dy-san…” jawabnya sembari mengukir segaris senyum.
“Ahh~ souka…” ucapku mencoba meniru logat Jepang Akiyuki. Mungkin memang terdengar memaksa, tapi, apa salahnya belajar, kan?
“Baiklah, kau tunggu disini, ok?” aku bangkit dari kursi dan segera menuju dapur. “Aleumdaun yolisa… (Beautiful chef)” ucapku begitu sampai di dapur. Kulihat seorang chef perempuan dengan tinggi semampai tersenyum ke arahku. Ia terlihat sibuk mencuci sayur di wastafel.
“Kau lagi-lagi menggodaku, Aleumdaun sonyeo… (beautiful girl)” ucapnya lalu meniriskan sayur-sayur itu ke atas nampan.
“Aish, Eun-Cha, berhentilah memanggilku begitu…” protesku.
“Kau duluan yang menggodaku, babo! (bodoh)” protes gadis berlabel Kim Eun-Cha itu.
“Aish, baiklah, aku tahu…” ucapku menyerah. Kulihat Eun-Cha melongokkan kepalanya ke arah luar. Kemudian ia berbalik menatapku, “Eh, orang spesial, ya?” ucapnya sembari menyungging senyum. “Ne (ya), begitulah,” jawabku singkat.
“Sahabatmu?” tanyanya sekali lagi. Aku mengangguk.
“Baguslah! Sekarang aku tidak terlalu khawatir kau akan kesepian lagi di kampus,” ucap Eun-Cha lalu memotong beberapa sayur segar yang ditiriskannya tadi.
“Aku tidak kesepian, kok…” ucapku sambil menyandarkan tubuhku ke dinding. Eun-Cha kembali menengok ke arahku, “Tapi, dalam hatimu kau itu sangat kesepian. Kau, sih selalu jaga jarak pada orang lain...”
Aku menghampiri Eun-Cha kemudian melahap sepotong wortel yang baru saja diirisnya. “Kau selalu saja berkata begitu, aku capek tahu mendengarnya.”
“Hmm, oh ya, aku sampai lupa. Buatkan 2 ramyeon untuk kami, ok?” ucapku kemudian bergegas meninggalkan dapur.
Kata-kata Eun-Cha mungkin tidak salah. Aku mungkin terlalu memaksakan diri untuk menghindar dari lingkungan pergaulanku. Sejak kecilpun aku sangat sulit bergaul dengan teman-teman seusiaku. Aku hanya bermain dengan adik dan kakakku atau kadang Eun-Cha saat aku bermain ke restaurant. Eun-Cha adalah kepala chef di restaurant ini. Sejak ibunya meninggal, ia harus menggantikan posisi ibunya semaksimal mungkin, ia tampak bekerja keras dibalik senyumnya yang selalu merekah di hadapanku itu.
“A-chan,” aku menepuk salah satu pundak Akiyuki. Mungkin terkejut, ia jadi sedikit terlonjak dari posisinya semula. “Ada yang ingin kutunjukkan padamu, hm?”
Aku menuntun A-chan yang terus mengekorku sejak baru saja. Aku terus berjalan ke kebun di belakang restaurant. Tempat paling rahasia yang kumiliki di restaurant ini.
“Kau lihat pohon itu?” aku menunjuk sebuah pohon cukup tinggi di antara semak belukar di sekelilingnya. Akiyuki mengangguk mengiyakan.
“Seperti sakura… Tapi, itu bukan sakura, kan?”tanya Akiyuki. Aku menggeleng. Aku kembali menuntunnya, lebih dekat ke arah pohon itu.
“Ini… Byeolbinoonmool,” ucapku sembari memetik salah satu bunga di pohon itu.
“Kenapa namanya Byeolbinoonmool?” tanya Akiyuki penasaran.
“Adikku, Ayumi yang memberi nama pohon ini saat kami melihatnya berbunga… Lihat,” aku membuka sebagian bunga itu.
“Menangis…” gumam Akiyuki tiba-tiba.
“Ya,bunga ini terlihat sangat rapuh. Tapi, pohon ini selalu kuat berdiri di sini sampai sekarang. Ia tetap berbunga setiap Oktober sampai Desember. Kadang, aku ingin sekuat pohon ini…” ucapku lalu duduk di salah satu bangku dekat tempat kami berdiri.
“Pasti…” ucap Akiyuki tak jelas.
“Eh?”
“Dy-san pasti bisa sekuat Byeolbinoonmool. Kalaupun tidak bisa, maka Dy-san masih bisa berusaha, hm?” ucapnya lalu duduk di sampingku.
“Aku tidak tahu apa aku bisa berjuang sekeras itu…” ucapku pelan.
“Aku tahu Dy-san tidak serapuh itu. Makanya, berjuanglah selagi Dy-san bisa.” Ucapnya. “Aku juga… akan berjuang…”
“Ne (ya),” jawabku singkat. “Oh, ya, ngomong-ngomong… Kenapa A-chan tiba-tiba pindah ke Korea?” tanyaku mengubah topik pembicaraan.
“Dy-san sungguh ingin tahu?” tanyanya balik.
“Eh, bukan begitu. Hanya saja, kan, bukankah lebih menyenangkan tinggal di tanah kelahiran sendiri…” ucapku berusaha tak menyinggungnya.
“Hmm… Sebenarnya ada waktu dimana seseorang harus pergi kemudian kembali lagi. Selama apapun ia pergi, ia pasti kembali ke tempat yang seharusnya. Aku selalu percaya dengan kalimat ini,” Akiyuki mulai berceloteh. “Ada satu hal yang membuatku harus pergi ke Seoul. Tapi, aku belum bisa mengatakannya sekarang. Anggap saja… aku berhutang jawaban pada Dy-san, suatu saat aku pasti akan membayarnya.”
Sebenarnya aku tidak mengerti sama sekali dengan apapun yang keluar dari mulut gadis bernama Kamio Akiyuki ini. Terlalu banyak hal yang tidak kumengerti, sekalipun aku sudah dekat dengannya. Ia selalu melontarkan kalimat-kalimat tidak jelas dan berjanji akan menjawabnya suatu saat. Dan suatu saat itu kapan? Aku sungguh tidak tahu.
Aku tidak ingin terlalu memaksanya. Tapi, mungkin diam-diam aku terlihat memaksa mencari tahu tentang gadis Jepang bermarga Kamio ini. Aku selalu ingin tahu lebih banyak tentang dia. Lebih banyak dan lebih banyak. Sampai aku mengerti seberapa dalam misteri dalam dirinya yang mampu aku pecahkan. Suatu saat pasti… Kamio Akiyuki.
To be continued~
Jangan lupa tinggalkan komen & nama ^^ Gomawoh~
Waaahhh..... >w<
BalasHapusDytha kayanya pengen tau banget tentang Aki-chan.
*ganti2 sebutan org* XD
ow. . .bru ingt ne skrg. . .trnyta ne fF mei yg lma. .pntsan rSany pRnh dgr ne fF. . . .hehe. . . :
BalasHapusMaaf komen saya nyasar kesini berhubung kolom komennya gak leuar *eror ka?*
HapusWahh, kalo baca ff ini jd ingat masalalu *Plak, abaikan! >.<
tp hasil edit ulang nya bagus lho!! *thumb up ^^d
Lanjut yah!!
hmm,, kayak'a pernah baca dh...
BalasHapusini prnah di post ya mei??
mana lanjutannya?
BalasHapus