Selasa, 27 Desember 2011

My Lovely Friend~


Title           : My Lovely Friend~

Subtitle        : First Snow

Author         : Dita d’Chapbi ‘cHun’ Meii

Type           : Oneshot

Genre           : Friendship, Romance (?)

Rating          : G (General)

Music           : Tommorow Fragrance by Fahrenheit

POV            : Fukuda Kanon

Main Cast      :

#Fukuda Kanon

#Morimoto Ryutaro

Disclaimer      : Kanon dan Ryutaro adalah milik Tuhan. Sedangkan segala setting disini adalah milik author. So, no bashing. Mau bash? Silahkan. Saya gak peduli dengan bash-bash an macam apapun. XD

Warning        : gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~





.

   “Ka-chan, jangan duduk di tepi jendela. Nanti kau sakit… Udara hari ini sedang dingin, kau tahu, kan?”

   “Daijoubu (tidak apa-apa), Okaa-san, aku sedang menunggu salju…” ucapku kukuh.

   “Ahh~ kau ini! Selalu saja. Tiap musim dingin yang kau lakukan adalah menunggu salju. Apa gunanya, sih? Salju pasti turun, kan? Kau bisa melihatnya setiap hari…” Okaa-san mulai dengan ocehannya.

   “Tapi, aku ingin merasakan salju pertama… Merasakannya sebelum terlambat lagi…” ucapku.

   “Baiklah, setelah itu cepat masuk. Okaa-san tidak mau ribut denganmu lagi hanya karena kau demam. Mengerti?” ucap Okaa-san mulai mengalah—kalah tepatnya.

   “Hai’. (baik)” jawabku singkat. Kualihkan pandanganku pada halaman luas diluar. Menyisir barisan pohon di pandanganku. Aku merindukannya. Sangat rindu.

   Andai hari itu aku melihat salju pertama. Andai aku tidak terlambat, mungkin aku tidak akan semenyesal ini…

.

TES!

.

Setetes air mata jatuh dari pelupuk mataku. Aku merasakannya… Begitu dingin… Aku menyesal…

.

.

   “Ka-chan, lihat! Salju!” seru seorang bocah yang berdiri tak jauh dari tempatku. Bocah laki-laki yang sedikit lebih tinggi dariku. Ia tampak senang sekali begitu salju turun dari langit. Tangannya tampak menengadah menunggu sebutir salju menyentuh tangannya.

   “Haa~ dingin…” gumamnya begitu ia mendapatkan saljunya.

   “Ryu-chan, bukankah salju akan datang setiap hari? Kenapa kau begitu senang?” tanyaku sembari menutup manga favoritku yang sudah habis kubaca. Aku menghampiri bocah itu—Ryutaro Morimoto. Ia masih sangat asyik dengan salju-saljunya.

   “Karena ini… Salju pertama…”

   “Eh?”

*****************FIRST SNOW*****************

   “Ryu-chan, chotto matte! (tunggu sebentar)” teriakku kesal ke arah bocah berusia sekitar sembilan atau sepuluh tahunan itu. Seenaknya ia meninggalkanku sementara aku masih pusing dengan sepatuku yang nyaris tak muat lagi.

   “Cepatlah, Ka-chan! Salju pertama akan turun!” seru Ryutaro berhenti sejenak dari larinya.

   “Hai’ (baik). Aku akan kesana!” seruku yang sudah berhasil memasukkan kakiku ke dalam sepatu putih polos itu. Aku lekas berlari menghampirinya yang sudah sampai duluan di hutan.

   “Salju belum turun ya…?” gumamku kecewa sambil menatap langit-langit.

.

Ketika salju tak datang seperti biasa~

Ketika langit tertutup awan itu tak menurunkan salju~

Ia menangis~

.

   “Ka-chan, salju belum datang ya?” Ryutaro menengadahkan tangannya. Binar matanya menghilang saat itu. Aku menengok jam tangan milikku. Sudah malam.

   “Belum… Atau mungkin… Tidak datang…” gumamku. Ia menundukkan pandangan, setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.

   “Ryu-chan, jangan menangis. Mungkin salju akan datang besok…” aku menepuk pundah Ryutaro. Menenangkannya sedikit—kuharap dia lebih baik.

   “Tapi, tidak akan sama… Rasanya tidak akan sama…” ucap Ryutaro mengisak. Ia menghapus buliran air matanya.

   “Percayalah… Semoga salju pertama datang esok hari…” jawabku. Kami segera pulang, meski dengan sejuta perasaan kecewa. Salju tidak datang hari ini…

.

Saat kau menengok kembali~

Ia tidak datang lagi…

Bagaimana?

.

   “Ryu-chan! Kita pergi lebih awal! Kuharap salju turun! Lihatlah, langit sudah gelap,” ucapku menunjuk ke langit.

   “Ahh~ kau benar!” seru Ryutaro girang. Kami kembali ke hutan hari itu. Berharap salju turun hari itu.

   “Kenapa belum turun?” tanya Ryutaro. Ia tampak ragu.

   “Mungkin sebentar lagi…” hiburku. Padahal dalam hati aku juga cemas menanti langit gelap itu menurunkan buliran salju. Aku dan Ryutaro terus menunggu sambil bermain. Tanpa sadar, hari sudah malam.

   “Ryu-chan… Anoo… Bagaimana jika salju tidak datang hari ini?” tanyaku ragu, sembari sesekali menengok jam tanganku.

   “Tidak datang lagi? Tidak mungkin, Ka-chan. Salju pasti datang! Kau harus percaya itu! Tunggulah sebentar lagi! Salju pasti segera datang!” ucap Ryutaro.

   “Tapi, sudah sangat gelap… Bagaimana jika Okaa-san mu mencarimu?” ucapku.

   “Pulang saja kalau kau pulang! Aku bisa menunggu salju sendiri!” dengus Ryutaro lalu pergi dari hadapanku.

   “Ka-chan! Sudah malam! Cepat pulang…!” kudengar suara Okaa-san yang mencariku.

   “Demo (tapi), Okaa-san… Ryu-chan—“

   “Ka-chan, pulanglah… Nanti Okaa-san akan bilang pada orang tua Ryu supaya mencarinya…” ucap Okaa-san. Aku mengangguk. Okaa-san menggandengku erat, membawaku pulang, ke tempat yang jauh dari Ryutaro saat itu.

**************FIRST SNOW*************

.

TOK TOK TOK

.

Kudengar ketukan pintu mengganggu tidurku. Aku yang masih mengantuk mencoba bangun, menstabilkan pandanganku. Tidak. Itu bukan dari pintu kamarku. Lalu?

   “Ka-chan! Ka-chan!” samar-samar kudengar suara Ryutaro memanggilku. Ia sedang berdiri di luar. Di luar jendela kamarku. Aku menghampirinya, lekas membuka jendela kamarku.

   “Ryu-chan, doushita  no? (ada apa?) Ini sudah jam satu malam… Kenapa kau ada di sini? Hoaahhmm…” rasa kantukku masih terus menyergap kala itu.

   “Keluarlah~ Salju pertama akan datang… Percayalah padaku!” gumam Ryutaro pelan.

   “Eh?”

Aku terus mengikuti langkah Ryutaro, masuk ke dalam hutan yang gelap, meski hanya di terangi sebuah lampu senter berukuran sedang yang kini kugenggam. Aku menyandarkan tubuhku pada salah satu batang pohon.

.

Dan ketika dia benar-benar datang~

Maka, seulas senyum tergores di wajahnya…

.

   “Ah, dingin!” jeritku merasakan sesuatu menyentuh lenganku. Aku cepat-cepat menggosok kedua mataku. Mencoba bangun dari tidur.

   “Ryu-chan! Salju pertama!! Aku mendapatkannya!” teriakku pada Ryutaro. Namun, tak kudengar sama sekali balasan gembira dari Ryutaro.

   “Ryu-chan, kau masih disana?” tanyaku sambil memutar senter ke sekeliling. Aku melihatnya tertidur pulas di bawah pohon.

   ‘Ah~ kawaii ne~ (manisnya)’ batinku melihat Ryutaro yang tidur dengan begitu manisnya. Temanku satu ini memang sangat imut. Bahkan keimutannya bisa membuat para anak gadis seusiaku iri. Dia cantik~ Menurutku dia cantik~ Cowok cantik…

   ‘Hihihi… cowok cantik…’ aku terkekeh dalam hati.

   “Mmh~ salju…” aku tertegun sejenak mendengar suaranya. Ah, dia mengigau.

   “Ne Ryu-chan… Salju pertama sudah datang…” ucapku pelan. Dalam tidurnya ia tersenyum. Ya… senyum yang sangat manis.

***************FIRST SNOW**************

.

BUGH!

.

   “Huwaaa… ittai desu! (sakit) Kenapa kau memukulku, baka! (bodoh) Huwaa…” kudengar sebuah suara tak jauh dari sekolah. Seperti suara Ryutaro. Ah, benar! Itu Ryutaro! Aku segera menghampirinya yang tengah duduk di aspal jalan.

   “Ryu-chan, apa yang kau lakukan? Kenapa menangis?” tanyaku sambil membantu Ryutaro bangkit.

   “Hiks… Dia memukulku… Hiks…” ucap Ryutaro sembari menunjuk ke arah seorang bocah pria seusia kami.

   “Yama-chan! Kenapa kau memukul, Ryu-chan?!” bentakku tak terima. Aku menghampiri bocah bernama Yamada—Yamada Ryosuke—itu.

   “Dasar anak cengeng! Bisanya Cuma mengadu! Pada perempuan pula! Hahahaha! Pantas dia tidak punya teman! Lihat saja wajah cantiknya itu! Bukan laki-laki!” seru Yamada menertawakan Ryutaro yang masih terisak.

   “Yama-chan, kau keterlaluan! Bukankah dia temanmu?! Harusnya kalian berteman baik, kan? Kenapa kau malah melakukan itu pada Ryu-chan, huh?” bentakku marah.

   “Kenapa kau membelanya? Kau suka padanya ya?” goda Yamada. Seketika wajahku memerah—aku memang menyukai Ryutaro.

   “Aku tidak membelanya! Aku hanya marah karena kau bersikap buruk pada temanmu!” bantahku.

   “Aish, pasti kau menyukainya, kan? Katakan saja… Hahaha!”

.

BUGH!

.

   “Kuso! (sialan) Kesabaranku sudah habis, Yama-chan! Pergi saja kau ke neraka!” teriakku usai memukul Yamada sampai jatuh ke jalan.

   “Kuso! (sialan) Gadis sialan!” teriak Yamada.

   “Aku tidak menyesal! Ryu-chan, ikou! (ayo)” aku menarik Ryutaro pergi.

   “Sudah, jangan menangis lagi! Kau laki-laki, kan?” aku menghapus air mata Ryutaro.

   “Hai’ (ya). Gomen ne (maaf), Ka-chan…” jawabnya.

   “Tidak apa… Memang seharusnya kan aku membela temanku? Kau tidak salah, kan?” ucapku sembari meneguk sekaleng jus dari tasku. Kuberikan satu untuk Ryutaro. Ia meneguknya sebagian.

   “Ka-chan… Sugoii ne~ (keren)” ucapnya.

   “Eh?”

   “Ka-chan perempuan tapi berani memukul Yama-chan yang laki-laki. Sugoi ne~ (keren)” ucap Ryutaro.

   “Ryu-chan, percayalah, aku akan melindungimu. Jangan takut, hm?”

   “Tapi, aku kan laki-laki… Harusnya aku yang melindungi Ka-chan…”

   “Daijoubu… (tidak apa) Berlindunglah padaku… Tidak memalukan, kok,” ucapku.

   “Eh? Hontou? (sungguh?)” tanyanya. Aku mengangguk yakin.

   Mulai hari itu—ahh, tidak. Sejak lama… Aku sudah berjanji ingin melindungi Ryutaro. Meskipun dia laki-laki yang sedikit cengeng, tapi aku tetap menyukainya. Ryutaro…

**************FIRST SNOW***************

   “Ka-chan, besok sudah mau masuk musim dingin loh~” ucap Ryutaro mengingatkan.

   “Mau menunggu salju pertama lagi, bukan?” tebakku cepat. Aku segera mengenakan jaketku.

   “Hai’! (ya)” ia tersenyum.

   “Semoga salju datang tepat waktu yah~” gumamku.

   “Hai’ (ya). Ka-chan janji akan datang, kan? Kita merasakan salju pertama bersama-sama?” tanyanya semangat.

   “Hai’ (ya). Aku janji!” seruku yakin.

.

Menunggu kembali~

Hari yang sama~

Entah akan datang lagi atau tidak…

.

   “Ryu-chan, kelihatannya… Salju tidak akan turun malam ini~” gumamku melihat ke langit-langit.

   “Percayalah, Ka-chan! Salju tidak mungkin terlambat lagi! Tunggulah sebentar!”

   “Hachi! Sepertinya aku mulai flu… Aku tidak mungkin menunggu lebih lama…” ucapku.

.

Penghianatan?

Apakah setitik itu juga sebuah penghianatan?

.

   “Demo (tapi), Ka-chan… Sebentar lagi… Percayalah…” setetes air matanya jatuh.

   “Jangan menangis, Ryu-chan… Bukankah masih ada hari esok?” tanyaku. Aku merasa pusing sekali.

   “Demo… (tapi)”

   “Gomen na~ (maaf) Aku tidak mungkin menunggu… Kepalaku sudah pusing… Jaa ne (bye), Ryu-chan…” ucapku lalu meninggalkan Ryutaro yang masih terpaku di tempatnya. Kulangkahkan kakiku menuju rumah. Aku ingin beristirahat~

.

TOK TOK TOK

.

   “Ka-chan! Ka-chan! Bangunlah! Salju pertama akan tiba! Bangunlah, Ka-chan! Sebelum terlambat!” kudengar samar-samar suara Ryutaro dari luar. Ia kembali mengetuk jendela kamarku. Aku berusaha bangun meski tubuhku rasanya sudah sakit sekali.

   “Ryu-chan, gomen… (maaf) Aku tidak mungkin ikut… Aku demam…” ucapku menolak.

   “Tapi, Ka-chan, ini salju pertama… Salju pertama tahun ini…” nada bicaranya turun 1 oktaf.

   “Gomen, Ryu-chan… Gomen na~ (maaf)” aku menutup jendela. Aku ingin beristirahat sampai kondisiku pulih. Kupikir… Salju pertama bisa saja kulihat tahun depan bersamanya… Kupikir begitu…

Tapi…

.

   “Ryu-chan! Tidak mungkin! Ryu-chan bangunlah!! Ryu-chan!! Ayo kita lihat salju pertama, Ryu-chan! Ryu-chan!” aku menangis di samping tubuh seorang Morimoto Ryutaro yang sudah terbujur kaku. Tiada lagi nyawa dalam tubuhnya. Aku sungguh tidak menyangka…

.

Penghianatan meski sedikit~

Juga adalah kesalahan~

.

   Hari itu… Malam itu… Ryutaro tidak pergi ke hutan. Ia pergi ke tempat lain, ke atas gunung. Ia meninggal karena terjadi badai salju di atas gunung. Mayatnya ditemukan pagi-pagi. Aku sama sekali tidak tahu… Ryutaro sesedih itu aku tidak datang… Semuanya salahku… Ya… Salahku… Kenapa saat itu aku tidak mencegahnya? Kenapa saat itu aku tidak datang? Padahal kakiku masih mampu berjalan… Padahal aku masih bisa… Kenapa bisa-bisanya aku berkhianat…? Pada sahabatku sendiri… Ryutaro…

***************FIRST SNOW**************

Aku menatap foto di genggamanku. Aku dan seorang bocah seusiaku—Morimoto Ryutaro. Foto kami, satu-satunya yang kumiliki… Dan foto terakhirku bersamanya… Adalah fotoku bersamanya enam tahun lalu… Ketika kami masih duduk di kelas empat SD. Ryutaro… Aku sangat merindukannya… Sangat rindu…

   “Ka-chan, kau belum tidur?” kudengar suara Okaa-san masuk ke kamarku.

   “Aku menunggu Ryu-chan, Okaa-san…” air mataku tumpah saat itu juga. Okaa-san hanya menatapku nanar. Perih sekali rasanya…

   “Ryu-chan… Aku merindukanmu…”





_______the end________

1 komentar:

  1. Ne...
    Kanon kan sakit...
    Jadi itu bukan sepenuhnya kesalahannmu... ><
    Ryu kok juga jadi sakit hati begitu? o.O
    Sampai meninggal... T.T

    Kakkoi ne, Ka! XD
    suka sama ceritanya~ XD
    Tapi kok akhirnya gantung gitu ka? o.O
    Buat sekuelnya yah? XD*plak

    Ganbatte ne~! ^^

    -Anna

    BalasHapus