Selasa, 13 Agustus 2013

Come Back [Chapter VIII]



Title               : Come Back . . .

Author           : dita-cHun © 2013

Type               : Multichapter

Part                : 8

Rating            : PG-15

Genre             : Romance

Music             : Beat Line by Hey! Say! JUMP

Cast                :

Kanazawa Yuuri (OC)

Mizuhara Karin (OC)

Yamada Ryosuke

Chinen Yuuri

Arioka Daiki

Disclaimer    : Seluruh tokoh milik Tuhan, kecuali plot adalah milik saya XD, no bashing. Mau bash? Silahkan, saya tidak peduli bash-bash-an  macam apapun

Warning        : Gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~

Note               : Ah! FF ini sudah mau tamat aja, nih! Sepanjang ngerjain ini FF dari chapter 7 sampe chapter 8 ini saya selalu dihantui mimpi-mimpi aneh. Memang mimpinya sih nggak ada hubungannya, tapi pas bangun saya tiba-tiba dapet mood dan ide untuk garap kelanjutan ini FF meskipun beberapa paragraf sekali. Akhirnya, chapter 8 bisa rilis juga! Yatta! \^O^/ Entah kenapa secara pribadi saya ngerasa kalo cara nulis saya kadang udah balik kayak masa lalu *nengok* Feelnya pelan-pelan terasa lagi, secara opini loh, ya. Ehehe. Meskipun konfliknya gini-gini aja, saya tetep pengen ini FF segera tamat karena pegel juga ngelihat ini FF gak tamat-tamat =___=’ *disepak readers* Ok, kepanjangan note-nya. Kalo gitu, happy reading! ^^ Jangan lupa komen yah!

Summary      : Mizuhara menceritakan perihal penyakit Ryosuke kepada Chinen dan Yuuri. Ia menjelaskan bahwa mungkin Ryosuke tidak akan bertahan lebih dari enam bulan. Chinen yang terdengar shock memutuskan untuk melupakan Yuuri dan membiarkan gadis itu di sisi Ryosuke. Yuuri meminta Chinen mengantarnya ke rumah sakit Jonan untuk menanyakan seputar kanker Ryosuke pada seorang dokter ahli, namun jawaban yang mereka peroleh tidak cukup memuaskan. Chinen dan Yuuri kembali dan berunding untuk mengabarkan perihal memberitahukan Ryosuke tentang penyakitnya.








     Aku mengantar Yuuri sampai setengah jalan. Ia bilang tidak perlu mengantar sampai ke rumahnya karena itu akan memakan sepuluh menit lebih lama untuk mengambil jalan memutar. Aku mengiyakan saja mengingat kondisi Yuuri masih cukup lemah setelah menghadapi beberapa minggu terakhir bersama keadaan Yamada yang kudengar semakin memburuk.

     Aku meninggalkan Yuuri di persimpangan jalan dan berjalan menuju rumah dalam perasaan tidak tenang. Aku berbalik sejenak untuk memastikan bahwa gadis itu cukup baik untuk pulang sendirian dan keputusan itu memang tidak salah sama sekali. Belum sampai seperenam jalan, tubuh Yuuri tiba-tiba jatuh tanpa siapapun sempat menghentikannya. Sudah kuduga, ia selalu begitu saat tertekan. Ia memang tidak sedang baik-baik saja untuk sekedar pulang ke rumahnya.

     Aku mengambil langkah lebih cepat ke arah Yuuri. Gadis itu terbaring lemah di atas trotoar pejalan kaki. Aku menarik lengannya dan menggendongnya hati-hati. Tubuhnya sudah lebih kurus dari sebelumnya dan aku tahu ini pasti bukan diet. Tentu saja itu karena terlalu banyak hal yang dipikirkannya.

     Gomen ne, Chii...,” ucapnya lemah. Aku hanya diam, mengabaikan ucapannya yang berulang dan semakin melemah.

     Sepanjang lima menit aku berjalan menggendong gadis itu menuju kediamannya. Kehadiran kami lekas disambut ramah oleh ibunya. Ia mengucapkan terima kasih dan meminta maaf karena kadang Yuuri memang mudah ambruk saat banyak beban pikiran.

     Aku meninggalkan Yuuri dalam balutan selimut di atas ranjangnya. Ibunya menyiapkan segelas teh hangat sebelum aku pamit pulang. Ia memintaku tinggal sebentar untuk minum teh. Aku mengiyakan tanda sopan santun pada pihak yang lebih tua.

     “Maaf aku membawa Yuuri pulang dalam keadaan seperti itu,” ucapku.

     Iie. Aku yang merasa tidak enak membuatmu repot seperti itu,” ucap Ibu Yuuri tidak enak. “Oh ya, sudah lama Chinen-kun tidak main ke rumah. Apa Yuuri membuat masalah akhir-akhir ini?”

     Iie. Tidak sama sekali. Aku bersyukur Yuuri baik-baik saja selama ini,” jawabku.

     “Eh? Kalian sedang bertengkar?” Tanya Ibu Yuuri.

     “Kami sudah putus. Apa Yuuri belum mengatakannya?” Tanyaku balik.

     “Eh? Maaf, tapi sejak kapan?”

     “Sudah cukup lama, sekitar dua minggu.” Jawabku. “Mungkin Oba-san pernah mendengar tentang Yamada Ryosuke sebelumnya. Sekarang Yuuri sedang menjalin hubungan dengannya.”

     “Ya-Yamada? Anak itu kembali lagi?” Ibu Yuuri tampak sedikit terkejut.

     Aku mengangguk, “Kuharap hubungan mereka akan terus membaik.”

     “Chinen-kun...”

     Aku tersenyum mengerti dengan isyarat Ibu Yuuri barusan, “Oba-san tidak perlu khawatir. Kami semua akan baik-baik saja.” Aku lekas meneguk seperempat gelas teh yang telah disajikan sejak tadi.

©©©©©©Yuuri’s POV©©©©©©

     Aku membuka mata. Hal yang pertama kali kulihat adalah langit-langit kamarku. Kepalaku terasa pening, sejenak aku mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Belum genap dua menit aku sadar denga apa yang terjadi sebelumnya. Ya, aku pingsan dan Chinen menggendongku ke rumah.

     Aku menoleh ke arah jam di dinding. Jarum panjangnya menunjuk angka sepuluh sementara jarum yang lebih pendek menyentuh kepala angka dua. Sudah jam dua pagi. Aku tidur begitu lama. Apa kabar Chinen? Sedikitnya aku merasa tidak enak membuatnya membawaku begitu. Aku pasti berat dan ia tentu lelah membawaku sampai ke rumah. Ah...

     Kutengok ponsel di samping ranjangku. Ada pemberitahuan lima belas panggilan tak terjawab. Tiga belas di antaranya adalah Ryosuke, sedangkan dua sisanya adalah Chinen. Mungkin aku harus menelepon kembali, setidaknya mengabari bahwa aku tertidur.

     Nomor yang kutelepon pertama kali adalah Chinen karena memiliki abjad lebih awal daripada Ryosuke. Nada tunggu terdengar sebentar sebelum seseorang mengangkat telepon dari seberang sana.

     Moshi-moshi.” Itu suara Chinen.

     Aku terdiam agak lama sampai ia mengulang kembali salamnya. “Ano... Ini aku.”

     Hai’.” Chinen menjawab dengan volume pelan.

     “Kau sudah tidur?” Tanyaku.

     “Belum. Ada sedikit catatan yang harus kusalin,” jawabnya.

     “Oh,” aku mengangguk paham. “Kejadian sore ini... Maaf. Dan terima kasih juga.”

     “Ah,” jawabnya mengiyakan. “Aku hanya kebetulan melihatmu. Jadi, tidak perlu minta maaf dan berterima kasih.”

     “Chii,” panggilku. Aku diam agak lama, sedangkan Chinen masih menungguku berbicara. “Ah, tidak. Aku akan menelepon Ryosuke.”

     “Hm,” jawab Chinen dari seberang. Pembicaraan kami berakhir setelah itu dan aku lekas menelepon Ryosuke. Ryosuke tidak menjawab. Aku meneleponnya hingga lima kali, tapi ia tetap tidak menjawabnya. Mungkin dia sudah tidur, aku akan meneleponnya lagi besok.

**

     Chinen menyodorkan sebuah buku catatan bersampul coklat padaku. Aku tidak mengerti dengan apa yang baru saja diisyaratkannya. Aku menelengkan kepalaku tanda tidak mengerti dan memohon sedikit penjelasan.

     “Aku yakin kau tidak mencatat pelajaran dengan benar akhir-akhir ini. Lusa akan ada ulangan harian, semoga kau bisa mengerti dengan isi catatanku.” Chinen melempar seulas senyum padaku.

     “Chii...”

     Chinen menepuk pundakku, “Aku tidak bermaksud menggodamu setelah mengetahui keadaan Yamada. Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan sebagai seorang teman. Jadi, kau tida perlu sungkan.”

     “Aku akan mengembalikannya besok!” ucapku.

     Chinen menggeleng, “Kau pelajari dengan baik saja. Aku sudah memilikinya di sini.” Chinen menunjukkan sebuah buku catatan lain di genggamannya.

     “Eh?” Aku terpaku melihat buku di genggamannya. “...Jadi, salinan catatan yang kau maksud itu—”

     “Sudah kubilang tidak perlu sungkan. Tidak perlu membahasnya lagi,” ucap Chinen. “Oh ya, siang ini kau akan pergi ke rumah Yamada lagi?”

     “Ah,” aku mengangguk membenarkan.

     “Bisa pergi bersama? Ada yang ingin aku bicarakan dengannya,” terangnya.

     Un, tidak masalah.”

**

     Seperti kesepakatan kami sebelumnya aku menunggu Chinen dua puluh menit di gerbang sementara ia akan mengerjakan sedikit tugas OSIS yang tidak bisa ditunda. Aku tidak merasa keberatan karena Daiki senpai dan Mizu-chan menawarkan untuk mengobrol di kantin sekolah. Setidaknya aku tidak akan mati bosan untuk menunggu.

     Ne, Mizu-chan. Bagaimana kabar, Yamada? Kudengar dia absen tiga hari terakhir,” Daiki senpai mulai membuka pembicaraan.

     “Ah, dia. Dia baik, kok. Cuma belakangan dia agak sedikit demam,” jawab Mizuhara. Daiki senpai mengangguk paham sementara aku hanya ikut-ikutan saja. Masalah penyakit Ryosuke hanya aku, Mizuhara, dan Chinen yang tahu. Selain itu, mungkin Mizuhara tidak akan membahasnya secara gamblang.

     “Ah, Yuuri-chan selalu minum minuman strawberry, ya? Setiap melihatmu aku tidak pernah melihatmu minum minuman rasa lain,” Daiki senpai mulai menanyakan tentang minuman di hadapanku.

     “Ah, ini. Aku memang agak fanatik dengan strawberry. Jadi, aku agak ragu untuk meminum rasa yang lain. Mungkin kedengarannya aneh, tapi aku memang menyukai strawberry lebih dari buah apapun,” jawabku asal.

     Daiki senpai dan Mizuhara tertawa bersamaan mendengar jawabanku. “Itu terdengar seperti rasisme?”

     Mizuhara mengangguk setuju pada pernyataan kekasihnya barusan. Aku hanya tertawa mendengarnya, tak tahu harus menjawab bagaimana.

     “Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana dengan hubungan para senpai?” Aku menunjuk sepasang kekasih di hadapanku ini. Seketika pipi keduanya bersemu merah mendengar pertanyaanku barusan.

     “Hubungan kami sudah lebih jauh dari apa yang kau bayangkan, lho...” Mizuhara menjawab lebih dulu.

     “A-ano... Itu tidak terlalu jauh, kok!” Sangkal Daiki senpai. Pipinya masih agak merah daripada Mizuhara yang mulai membaik kembali ekspresinya.

     “Daiki senpai benar-benar pemalu seperti yang dibicarakan, ya!” Aku menggodanya lebih jauh. Mizuhara tertawa mendengarnya. Ia jadi ikut-ikutan membuat kekasihnya itu semakin malu.

     Sepanjang menunggu Chinen kami terus membicarakan hal-hal menyenangkan dan bercanda. Karena terlalu asyik, aku jadi lupa pada janjianku dengan Chinen sebelumnya. Aku terkejut melihat Chinen berlari ke arah kantin menghampiri kami. Kulirik arlojiku sebentar dan menyadari bahwa aku terlambat sepuluh menit dari waktu janjian kami di gerbang.

     “Ah,” aku menatap Chinen dengan pandangan menyesal, benar-benar tidak enak padanya.

     Chinen menghela nafas lega begitu ia sampai di hadapanku. “Ah, ada kalian juga...”

     Daiki senpai menjawab dengan sebuah lambaian tangan dan Mizuhara hanya mengangguk menanggapi pernyataan Chinen barusan.

     Gomen,” ucapku pelan pada Chinen.

     Chinen mengangguk, “Kupikir sesuatu terjadi karena aku tidak menemukanmu di gerbang.”

     “Kalian...,” Daiki senpai menunjuk Chinen dan aku bergantian. “...Bukankah sudah putus?”

     Mizuhara menginjak kaki Daiki cepat dan sukses mendapatkan reaksi dari pihak tertindas barusan. Daiki hanya mengaduh sambil memijat kakinya pelan. “Kenapa menjelaskan dengan kekerasan, sih? Aku kan masih bisa mendengar!” Daiki senpai tampak protes. Aku dan Chinen terkikik melihat pertengkaran singkat Mizuhara dan Daiki senpai.

     “Jadi...,” Chinen menghentikan tawanya dan mengalihkan pandangannya padaku. “...Kita bisa berangkat sekarang?”

     Aku mengangguk, “Un.”

     “Kalian mau kemana?” Mizuhara tiba-tiba menimpali pembicaraan kami.

     “Menemui Yamada. Aku ingin menjenguknya karena kudengar akhir-akhir ini dia absen,” jawab Chinen.

     “Kalau begitu aku ikut!” Mizuhara menyuap sesendok nata de coco dalam minumannya kemudian lekas berkemas.

     “Jadi, aku tidak diajak?” Daiki senpai tampak cengo sendiri sebagai manusia yang sempat terabaikan keberadaannya. Kami bertiga berunding sejenak lewat isyarat dan memutuskan untuk membiarkannya ikut.

     “Tapi, jangan terlalu banyak bertanya.” Mizuhara memberikan sebuah syarat sebelum kami beranjak keluar sekolah.

     “Kenapa?” Tanya Daiki senpai menyelidik.

     “Bukankah aku sudah bilang jangan banyak bertanya?” Mizuhara melirik Daiki dengan tatapan yang tak mampu kuartikan maknanya. “Saa, ikou!”

     Daiki senpai tampak tidak puas dengan jawaban Mizuhara. Tapi, gadis itu lekas menggandeng lengan kekasihnya itu untuk mengembalikan mood pria bertubuh penguin itu.

**

     Kami sampai di rumah bertingkat dua milik keluarga Mizuhara. Dengan ramah gadis itu mempersilahkan kami bertiga masuk ke dalam rumah yang tidak bisa dibilang kecil tersebut. Kamar Ryosuke berada di lantai dua tepat di hadapan kamar Mizuhara. Kami lekas masuk ke dalam sana. Yang kulihat pertama kali adalah ranjang dengan peralatan game yang masih berserakan di atasnya. Namun, kami tidak menjumpai seorang pun di sana. Hanya game yang masih menyala.

     “Aneh,” celetuk Mizuhara. “Biasanya bocah itu menghabiskan waktu di kamar untuk main game.”

     Aku melangkah keluar dan menuruni satu-satu anak tangga. Entah kenapa dalam dadaku tiba-tiba diselimuti perasaan tidak enak. Aku berlari ke arah dapur diikuti ketiga temanku yang lain yang terus mengekor sejak tadi.

     Benar.

     Kulihat Ryosuke terbaring lemah di atas lantai dapur. Obat-obatan dari kotak P3K berceceran tak tentu arah. Tiba-tiba pandanganku menangkap aliran darah segar dari hidung Ryosuke. Apa yang terjadi?!

     “Yama-chan!” Jerit Mizuhara sambil menghambur ke arah sepupunya tersebut. Chinen lekas bertindak cepat. Ia segera menghubungi rumah sakit Jonan untuk mengirimkan ambulans secepat mungkin. Daiki senpai menyeka darah yang terus mengalir dari hidung  Ryosuke sambil berusaha memindahkan pria itu ke sofa ruang tamu.

     “Yamada, Yamada! Bangun!” Daiki senpai menepuk pipi Ryosuke sambil menyeka darah yang terus keluar. Ryosuke bergeming. Tubuhnya enggan merespon meski sedikit.

     “Yuuri-chan, bantu aku menyeka darahnya.” Daiki senpai membuatku sadar dari keterkejutan. Aku lekas menyeka darah yang masih mengalir dari hidung Ryosuke. Sementara Daiki senpai melepas jaket dan rompi yang bersimbah darah dan menggantinya dengan pakaian yang baru saja dibawa Mizuhara dari kamar Ryosuke.

     Kami berempat dilanda kepanikan luar biasa melihat kondisi Ryosuke yang semakin memburuk. Daiki senpai terus bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku dan Chinen memutuskan untuk bungkam, sedangkan Mizuhara mulai menjawab.

     “Yama-chan sedang sakit. Itu parah, tidak bisa disembuhkan lagi.”

     Daiki senpai menatap Mizuhara bingung, meminta penjelasan lebih lanjut dari kekasihnya itu.

     “Dan dia tidak tahu bahwa dia sedang sakit separah itu...”

     “Sakit apa?”

     “Kanker otak stadium akhir,” jawab Mizuhara.

     Sejenak Daiki senpai tampak terkejut. Tapi, kemudian ia mencoba untuk turut bungkam bersama kami yang sudah menghentikan pembicaraan lebih dulu. Ambulans akan segera datang dan kami banyak berdoa untuk keselamatan Ryosuke. Aku ingin... Ryosuke selamat. Ryosuke harus selamat. Harus...

**

     “Siapa yang bertanggung jawab atas pasien?” Seorang dokter keluar dari UGD dan lekas menghampiri kami yang menghambur ke arahnya.

     “Aku. Aku kakaknya,” jawab Mizuhara mantap.

     “Bisa kita bicara di ruanganku?” Tanya dokter berlabel Inoo Kei tersebut. Aku masih sangat mengingat wajahnya. Tapi, mungkin ia cukup sibuk untuk mengingatku dan Chinen yang menjumpainya kemarin.

     Mizuhara dan Dokter Inoo berjalan beriringan melewati lorong dan berbelok ke dalam ruangan yang tidak asing lagi sejak aku pernah masuk ke dalamnya. Itu ruangan Dokter Inoo. Mereka pasti akan membicarakan perihal penyakit Ryosuke lebih dalam lagi.

     “Ah, permisi, suster...,” Chinen menahan seorang suster yang hendak meninggalkan UGD. “Bisa kita menengok pasien?”

     “Tentu. Tapi, setelah pasien dipindah ke ruang rawat,” jawab suster tersebut. Chinen mengangguk paham dan kembali duduk di kursi samping UGD.

     “Kudengar penanganan penyakit di rumah sakit Jonan cukup baik,” ucap Daiki senpai mengisi kekosongan pembicaraan.

     “Ya, aku juga pernah mendengarnya dari sahabat ibuku,” timpal Chinen.

     Chinen beralih menatapku, “Yuuri-chan, daijoubu ka?”

     Aku mengangguk, “Aku hanya agak khawatir.”

     Chinen mengangguk paham.

     Ne, maaf kalau aku menanyakan ini tiba-tiba. Aku mendengar rumor bahwa kalian putus karena Yamada. Apa itu benar?” Daiki senpai mencoba bertanya hati-hati.

     Iie,” jawab Chinen cepat. “Aku tidak tahu akan ada rumor seperti itu. Tapi, kami putus karena keputusan bersama, bukan keputusan sepihak. Iya, kan, Yuuri-chan?”

     Aku diam sejenak sebelum menjawab dengan sebuah anggukan.

     “Sebenarnya aku heran sekali bagaimana the best couple tahun lalu bisa putus secepat ini. Tapi, tenang saja. Aku tidak akan menanyakannya. Aku cukup tahu bahwa rumor itu tidak benar saja. Dengan begitu aku tidak akan berpikiran macam-macam tentang Yamada,” ujar Daiki senpai. Aku dan Chinen mengangguk bersamaan.

     Kulihat sebuah ranjang dorong di arahkan keluar oleh tiga orang suster dari dalam ruang UGD. Yamada tampak terbaring lemah di atas sana. Ia masih diam seperti apa yang kami lihat sebelumnya.

     “Apakah pasien akan dipindahkan ke ruang rawat?” Tanya Chinen menyerbu ketiga orang tersebut.

     “Ya,” jawab salah satu di antara mereka.

     “Di kamar nomor berapa?” Tanya Chinen lagi.

     “Kamar nomor 1023,” jawab suster tersebut kemudian melaju ke arah elevator.

     Chinen lekas mengisyaratkan pada kami untuk ikut ke arahnya. Aku dan Daiki senpai terus mengekor Chinen. Kami bertiga naik elevator berikutnya karena Yamada dan ketiga suster tadi sudah masuk ke elevator sebelumnya. Di lantai tujuh bangunan utama kami segera turun dan mencari letak kamar nomor 1023.

     “Apa Mizu-chan sudah tahu?” Tanyaku pada kedua pria di sampingku. Daiki senpai mengambil ponsel biru dari sakunya, “Aku tidak tahu. Tapi, aku akan mengirimkan pesan singkat padanya.”

     Wakatta,” jawabku menutup pembicaraan.

     Kami berjalan beriringan menuju kamar rawat Ryosuke. Dari jendela kaca tampak Ryosuke terbaring di atas ranjangnya dengan sebuah selang menghubungkan cairan infus dengan tangan kirinya. Tanpa aba-aba, kami masuk satu persatu ke dalam ruangan tersebut.

     Wajah pria itu masih tenang seperti saat aku melihatnya pertama kali di UKS. Dibandingkan dengan pingsan atau apapun, ia lebih terlihat sedang tidur pulas. Seperti seorang pangeran yang tidak boleh diganggu masa istirahatnya.

     Bagaimana pun aku melihat Ryosuke. Saat ia melukis, berbicara dengan riang, atau pun sedang tidur seperti ini. Wajahnya selalu tampak bercahaya dan menyilaukan. Seperti seseorang yang kadang begitu jauh dari jangkauan. Tapi, tanpa sadar. Hari ini adalah hari ke tiga belas setelah aku masuk ke dalam lingkarannya. Lingkaran dimana ada aku dan dia tanpa seorang pun yang lain. Kemudian pelan-pelan aku mencoba mengerti bahwa mungkin aku sangat beruntung bisa masuk ke dalam lingkaran tersebut.

     “Yuuri-chan,” Chinen memanggilku dan mengisyaratkan untuk berjalan mendekat. Aku menurut dan lekas berdiri di sisinya. Kedua tangan Chinen meraih pundakku bersamaan, ditepuknya mantap kedua pundakku kemudian mengiringku ke samping ranjang Ryosuke. “Mulai sekarang jangan berbalik lagi. Jangan menoleh lagi ke belakang. Tatap masa depanmu dengan mantap tanpa rasa ragu sedikit pun.”

     Chinen diam sejenak sebelum kembali melanjutkan, “Aku akan selalu berada di belakangmu. Sebaliknya, Ryosuke akan berada di hadapanmu. Dia akan melihatmu saat kau tertawa dan menangis begitu juga sebaliknya denganmu. Kemudian aku akan menangkapmu sesekali saat aku melihatmu rapuh. Tapi, kau harus bangkit lagi dan berlari ke depan.”

     “Chinen...” Aku mendengar suara Daiki senpai dengan volume minimum.

     “Saat ini Yamada tidak bisa berjalan ke arahmu,” Chinen melanjutkan. “Maka dari itu, kau harus berlari ke arahnya. Kau harus menggenggam tangannya saat ia membutuhkan genggaman itu. Kalian harus saling menguatkan diri satu sama lain. Berjanjilah, Yuuri-chan. Berjanjilah...”

     Air mataku mengalir. Setiap kali aku akan menolehkan wajahku ke arah Chinen, ia selalu menepuk keras pundakku. Ia tidak ingin aku melihatnya. Seperti apa yang baru saja dikatakannya. Ia tidak ingin aku menoleh ke belakang.

     “Berjanjilah padaku,” ucap Chinen lagi.

     Aku mengangguk meskipun berat. Aku tidak mengerti mengapa aku begitu lemah untuk melawan ucapan Chinen yang terdengar sangat sepihak. Keputusan Chinen terlalu berat sebelah dan terdengar tidak adil. Aku sudah meninggalkannya dan berlari ke arah Ryosuke. Setiap aku menoleh ke arahnya, wajahnya selalu terlihat tegang. Dia tentu sudah menderita melihatku menangis dan menimbulkan masalah. Lalu kenapa ia tetap ingin menyiksa dirinya dengan berdiri di belakangku dan menawarkan janji yang akan membuatnya lebih sakit lagi?

     Sampai sekarang mungkin hanya Chinen yang mengerti aku terlalu jauh. Aku masih tertinggal di belakang meski hanya untuk tahu lebih banyak dari sekedar teman. Aku tidak banyak tahu bahkan mengerti. Kemudian aku harap suatu hari aku jadi mengerti, sedikitnya lebih dari yang kutahu hari ini. Yakni, bahwa ia mungkin masih mencintaiku.

     Genggaman Chinen pada pundakku melonggar, lama-lama tidak terasa lagi. Air mataku mengalir lebih deras dari sebelumnya. Aku menatap tubuh Ryosuke dalam buram. Pikiranku melayang tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Rasanya terlalu menyakitkan di dalam dadaku.

     Seseorang menepuk salah satu pundakku. Ini bukan tangan Chinen. Tangan ini terasa lebih luas. Aku menoleh dan hanya menjumpai sosok Daiki senpai di sampingku.

     “Chii?” Aku mengedarkan pandangan mencari sosok Chinen ke sekeliling kamar.

     “Dia sudah pergi sejak tadi,” jawab Daiki senpai. “Mungkin ini bukan urusanku. Tapi, aku melihat Chinen menangis sampai ia keluar.”

     Dadaku bergemuruh, tiba-tiba terasa lebih sakit dari sebelumnya. Aku menangis lebih keras. Daiki senpai hanya menepuk pundakku tanpa mengungkapkan sepatah kata pun. Ia hanya diam melihatku menangis di samping tubuh Ryosuke yang masih terbaring tenang.

     Gomen... Gomennasai...” Kugenggam erat kain yang menjalin kancing kemeja di dadaku. Rasa sakit itu terus memuncak dan aku tidak tahu cara lain untuk membuatnya semakin berkurang selain menggenggam kemejaku lebih dalam dan lebih dalam dari sebelumnya.








.Come Back...




.to be continue~

2 komentar:

  1. haissh, chinenn aishiteru yo! #dikeplak dai
    ska bgt sama karakter chinen disini :'(

    konfliknya sudah memuncak dan feelnya udah dapet lho, lanjutkan Dita-chan!

    BalasHapus
  2. Huwoo... Sudah lama aku tidak melihat updatenya Fic ini! x3
    Tapi aku masih ngat ceritanya walau samar-samar!=D
    Yo! Annabeth desu. =3
    Aduh.. Ini ficnya ngecleb, tapi keren. T.T
    Chii, udah, sama aku aja. ;A;*dihajar
    Ryo juga, fighting! >.< Tapi kalau kanker begini, apa Yama chan masih bisa selamat? o.O
    Semoga aja bisa, keajaiban, atau apa deh namanya. ;A;
    Lanjut Dita ci! ><
    Dai chan...*geret
    kubawa dulu. xD*eh

    Yey!
    Ditunggu update-an next ch nya! xD

    -Annabeth

    BalasHapus