Selasa, 28 Februari 2012

Bye Bye Love [Part III]


Title      : Bye Bye Love
Author  : dita-cHun
Part      : 3
Genre   : Romance
Rating   : PG+13
Music    : Calling Out by Luna and Krystal
Cast     :
Han Ah-Ram (OC)
Wu Zun as Kim Jin-Hoon




   “Oppa, kita… berpisah saja…” ucap Ah-Ram.
   “Ne? (apa?)” Jin-Hoon nyaris menyemburkan cappuccino di dalam mulutnya andai saja ia tidak berbicara.
   “Apa sudah ada laki-laki lain yang kau sukai?” lanjutnya.
   “Anhi~ (tidak)”
   “Lalu?”
   “Aku sudah tidak tahan lagi, Oppa. Mianhaeyo… (maaf)” ucap Ah-Ram. Kali ini ia sudah tak mampu membendung airmatanya. Ia menangis. Mengisak pelan.
   “Ini semua milikmu… Gomawoh sudah pernah mengisi hariku. Gomawoh (terima kasih), Oppa.”
Ah-Ram menyodorkan kotak itu pada Jin-Hoon. Jin-Hoon membuka kotak itu sejenak lalu menutupnya lagi.
   “Apa kau merasa selama bersamaku itu menyakitkan?” tanya Jin-Hoon.
   “Ne~ Mianhaeyo (iya, maaf), Oppa… Sudah terlalu menyakitkan,” tanpa sadar Ah-Ram meremas ujung meja di hadapannya.
   “Mianhae, Ah-Ram… Mianhae… (maaf)” ucap Jin-Hoon.
   “Apa kau pernah tahu perasaan mencintai sendirian? Apa kau tahu seberapa sakitnya, Oppa?” ucap Ah-Ram. Jin-Hoon menatap Ah-Ram bingung.
   “Rasanya sakit sekali. Sakit sekali hingga membuat dadamu sakit dan kepalamu berat. Kau tidak pernah mencintaiku sama sekali sementara aku berusaha membuatmu sedikit saja menoleh padaku. Rasanya sangat menyakitkan, Oppa… Sakit sekali…” kali ini tangis Ah-Ram pecah. Ia menatap Jin-Hoon nanar.
   “Saranghaeyo (aku mencintaimu), Oppa… Kukatakan itu setiap hari. Tapi, kau hanya menjawab dengan ‘ne’ atau bahkan tidak menjawab sama sekali. Betapa kau tahu seberapa kasihan diriku ini, Oppa…?” lanjutnya.
   “Ah-Ram…” sela Jin-Hoon.
   “Tapi, aku berterima kasih padamu… Terima kasih sudah mengisi hari-hariku sebelumnya. Aku pasti tidak akan melupakannya…” ucap Ah-Ram.
   “Oppa, selamat tinggal…” lanjutnya lalu pergi begitu saja dari café.
Ah-Ram segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang. Tanpa disadarinya sebuah mobil hitam metallic mengikutinya dengan kecepatan yang nyaris sama. Ia tahu persis bahwa itu mobil Jin-Hoon. Ia segera menambah kecepatannya. Jin-Hoon pun melakukan hal yang sama. Begitu mobil Ah-Ram tersusul, ia segera merapatkan mobil itu ke sisi kiri, mengunci mobil Ah-Ram. Tanpa di duga, Ah-Ram membanting setir ke arah kiri.
.
BRRRAAKK!!!
.
   “AH-RAM!!” teriak Jin-Hoon panik. Bagaimana tidak? Mobil Ah-Ram menabrak pembatas jalan dan terjun ke bawah karena jalan yang mereka lewati adalah di bagian jembatan dengan jalan raya di bagian bawahnya.
Remuk. Hanya kata itu yang bisa menjelaskan keadaan mobil Ah-Ram saat itu. Jin-Hoon segera menghampiri tempat mobil Ah-Ram jatuh.
   “Ah-Ram! Ah-Ram!” kedua tangan Jin-Hoon gemetar saat ia menurunkan tubuh Ah-Ram dari mobilnya. Jin-Hoon menepuk-nepuk pelan pipi Ah-Ram berharap Ah-Ram bangun dan memarahinya. Tidak bergerak. Tidak sama sekali. Jin-Hoon segera menekan bagian nadi Ah-Ram. Tidak ada detak disana. Tidak ada lagi.
   “Anhi~ (tidak) Ah-Ram! Ah-Ram!” sekali lagi Jin-Hoon menepuk-nepuk Ah-Ram. Namun, tak ada respon sama sekali.
   “Ah-Ram, kumohon bangunlah~ Jebal~ (kumohon)” ucap Jin-Hoon sambil menangis.
   “Bangunlah, Ah-Ram!!! Ah-Ram!!! Aku akan mengatakan Saranghaeyo padamu!! Bangunlah!! Saranghaeyo, Ah-Ram… Saranghae, chagi… Saranghae…” ucap Jin-Hoon. Tak lama setelah itu polisi segera datang menghambur ke tempat kejadian perkara. Membawa jenazah Ah-Ram untuk di otopsi di rumah sakit. Jin-Hoon hanya sempat meraung-raung, menangis melihat jenazah Ah-Ram. Saat ini ia benar-benar kacau.
.
.
   “Jin-Hoon Oppa, bisa kita bicara sebentar?”
   “Mworago? (ada apa?)”
   “Sebenarnya… Aku menyukaimu! Maukah kau menjadi namjachingu-ku? (kekasihku)”
   “Baiklah~”
   “Ah? Benarkah?”
   “Ne.”
   “Gomawoh, Oppa! (terima kasih)”
   “Sampai kapan?”
   “Mwo? (apa?)”
   “Sampai kapan kita akan bersama?”
   “Tentu saja sampai mati.”
   “Anhi (tidak). Aku tidak bisa.”
   “Wae geurae? (kenapa?)”
   “Aku hanya mau kau menyebutkan waktunya. Bukan sampai mati. Satu tahun? Dua tahun?”
   “Ah, kau saja yang memutuskan.”
   “Baiklah~ Kuputuskan. Saat karirku berhenti, maka saat itu pula kita berpisah.”
   “Eh?”
   “Kau bilang aku yang putuskan. Aku sudah putuskan. Bye.”
.
.
   “Apa kau pernah mencintaiku meski sedikit saja?”
   “Kumohon~ kau yang memintaku dalam permainan ini, apa kau pernah dengar aku berkata bahwa aku mencintaimu? Sadarlah~”
   “Padahal… Aku berharap kau mengatakan ‘iya’. Meskipun itu cuma sekali…”
   “Jangan terlalu banyak berharap. Karena bagaimana pun, suatu hari kita akan berpisah~”
   “Apa kau tidak bisa bilang kau cinta padaku meskipun bohong?”
   “Anhi~ (tidak)”
   “Wae? (kenapa?)”
   “Karena kenyataannya aku tidak punya rasa itu terhadapmu.”
.
.
   “Oppa! Saranghaeyo! (aku mencintaimu)”
   “Ne. Arasseo. (ya. aku mengerti)”
.
.
   “Oppa, kalau kita menikah, aku ingin kita punya banyak anak!”
   “Jangan terlalu banyak berkhayal.”
   “Tidak apa! Meski mengkhayal, siapa tahu suatu saat jadi kenyataan?”
   “Dasar… Kau percaya hal begitu?”
   “Tentu!”
.
.
   “Ada apa?”
   “Saranghaeyo… (aku mencintaimu)”
   “Ne. Lalu?”
   “A… Anhi~ (tidak)”
.
.
   “Oppa, aku akan belajar memasak dengan baik sekarang! Kalau nanti kita sudah menikah, aku akan membuat masakan terenak di dunia!”
   “Ada-ada saja. Dasar pengkhayal!”
.
.
   “Selamanya… Namja (laki-laki) yang kusukai adalah Oppa! Kim Jin-Hoon Oppa!”
   “Kau bisa bilang sekarang. Suatu saat?”
   “Meski suatu saat kita berpisah, aku pasti akan tetap mencintai Oppa!”
.
.
   “Ada apa?”
   “Oppa, kita… berpisah saja…”
   “Ne? Apa sudah ada laki-laki lain yang kau sukai?”
   “Anhi~ (tidak)”
   “Lalu?”
   “Aku sudah tidak tahan lagi, Oppa. Mianhaeyo… (maaf)”
.
.
   “Saranghaeyo, Ah-Ram… Saranghae…” ucap Jin-Hoon pelan.
   “Cepat! Sidang untukmu akan segera dimulai! Aku tahu kau dulu artis terkenal, tapi, sekarang kau hanyalah sampah! Pembunuh~” ucap seorang polisi yang menjaga sel tahanan Jin-Hoon.
   “Bisa saja kau akan mati hari ini… Hahaha!” ejek polisi di sampingnya. Jin-Hoon hanya diam tak menanggapi. Sejak kejadian itu, melalui CCTV terbukti bahwa Jin-Hoon lah pihak yang bersalah. Sudah sekitar setahun ia mendekam di tahanan. Hari ini adalah sidangnya. Sidang yang akan menentukan hidupnya berikutnya.
   “Mianhae, Ah-Ram… Aku akan bertanggung jawab… Mianhae…” ucap Jin-Hoon dalam hati sejenak sebelum sidang dimulai.



____the end____

Tidak ada komentar:

Posting Komentar