Selasa, 27 Desember 2011

My Lovely Friend~


Title           : My Lovely Friend~

Subtitle        : First Snow

Author         : Dita d’Chapbi ‘cHun’ Meii

Type           : Oneshot

Genre           : Friendship, Romance (?)

Rating          : G (General)

Music           : Tommorow Fragrance by Fahrenheit

POV            : Fukuda Kanon

Main Cast      :

#Fukuda Kanon

#Morimoto Ryutaro

Disclaimer      : Kanon dan Ryutaro adalah milik Tuhan. Sedangkan segala setting disini adalah milik author. So, no bashing. Mau bash? Silahkan. Saya gak peduli dengan bash-bash an macam apapun. XD

Warning        : gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~





.

   “Ka-chan, jangan duduk di tepi jendela. Nanti kau sakit… Udara hari ini sedang dingin, kau tahu, kan?”

   “Daijoubu (tidak apa-apa), Okaa-san, aku sedang menunggu salju…” ucapku kukuh.

   “Ahh~ kau ini! Selalu saja. Tiap musim dingin yang kau lakukan adalah menunggu salju. Apa gunanya, sih? Salju pasti turun, kan? Kau bisa melihatnya setiap hari…” Okaa-san mulai dengan ocehannya.

My Boyfriend is a Gay?! O.O

Title           : My Boyfriend is a Gay?! O.O

Author         : Dita d’Chapbi ‘cHun’ Meii

Type           : Oneshot

Genre           : Romance

Rating          : PG+15

Music           : Trouble is a Friend by Lenka

POV            : Himitsu Meiko

Main Cast      :

#Himitsu Meiko (OC)

#Arioka Daiki

#Yamada Ryosuke

Disclaimer      : Daiki, Yama, dan Meiko-chan adalah milik Tuhan. Sedangkan seluruh setting disini adalah murni milik author. So, no bashing. Mau bash? Silahkan, author gak peduli dengan bash-bash an macam apapun.

Warning        : gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~





   “Meiko-chan, tadaima! (aku datang)” kudengar suara tak begitu asing menelusup ke telingaku. Ya, itu Yama-chan—Yamada Ryosuke, teman sebangkuku. Seperti biasanya, ia datang lebih siang dariku, menyapa  sambil memperlihatkan sederet gigi rapinya, kemudian bergegas duduk di bangkunya, tepat di sampingku. Hari ini tentunya aku lebih malas dari pada hari biasanya. Bagaimana tidak? Peristiwa kemarin seolah terus-menerus mengusik batinku. Bahkan antara percaya dan tidak percaya pun sulit untuk dipastikan.